[VoB2020] Al-Furqan Tidak Hanya Merujuk Kepada Kitab Suci


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-73

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 2 September 2020

Materi VoB Hari ke-73 Pagi | Al-Furqan Tidak Hanya Merujuk Kepada Kitab Suci

Oleh: Rizka Nurbaiti

#WednesdayAliImranWeek11Part1

Minggu lalu kita telah belajar tentang makna ’al-furqaan’ yakni ‘pemisahan yang paling akhir’. Ultimate separation. 

Selanjutnya Ustaz Nouman mengatakan bahwa terdapat hal yang menarik dari letak ayat ini. 

Namun, penjelasan mengenai hal tersebut tidak langsung ustaz sampaikan. Ustaz sepertinya ingin membuat kita menjadi penasaran.

So, ustaz terlebih dahulu menyampaikan tentang bagaimana kata ‘furqaan’ digunakan di dalam Al-Qur’an. 

*

Pada QS Al-Baqarah ayat 53, kata ‘furqaan’ digunakan untuk menggambarkan Taurat.

وَإِذْ ءَاتَيْنَا مُوسَى ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) dan al-furqaan, agar kamu mendapat petunjuk. 

Pada ayat ini Allah ﷻ mengatakan kepada orang Yahudi di masa tersebut bahwa “Kami memberikan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam Al-Kitab (The Book) dan Al-Furqaan (pemisah), sehingga kamu (orang-orang Yahudi) mendapatkan petunjuk.

Dan kata “waw (و)” pada  ayat diatas dapat berfungsi sebagai ‘athaf al-bayan dan sebagai ‘athaf.

Sebagai ‘athaf al-bayan’, artinya adalah ‘pengkhusus’ atau ‘pengungkap makna’. Sehingga ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْفُرْقَانَ berarti ‘Al-Kitab adalah Al-Furqaan’.

Sebagai ‘athaf’, huruf ‘waw (و)’ pada ayat ini berfungsi menyambungkan antara Al-Kitab sebagai ma’thuf dan Al-Furqaan sebagai ma’thuf ilaih. Di mana antara ma’thuf (Al-Kitab) dan ma’thuf ilaih (Al-Furqaan) kedudukannya sama.

Sehingga, jika ‘waw (و)’ dipandang sebagai ‘athaf bayan maka yang dimaksud dengan Al-Kitab, tidak lain adalah Al-Furqaan.

Sedangkan, jika ‘waw (و)’ dipandang sebagai ‘athaf’, maka Al-Kitab beda dengan Al-Furqaan: Al-Kitab is something else, dan Al-Furqan is something else.

Atau dengan kata lain, Allah ﷻ tidak hanya memberikan Al-Kitab kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, melainkan juga memberikan sesuatu sebagai ‘pemisah’ (some kind of separation). 

Apakah maksud dari ‘Al-Furqaan’ disini?

Ustaz menyampaikan bahwa beliau tidak menjawabnya sekarang. 

Tapi  satu hal yang pasti bahwa salah satu implikasinya adalah ‘Al-Furqaan’ juga bisa mengacu pada Taurat. So, Al-Furqaan dapat megacu kepada wahyu terdahulu.

Demikian pula  dengan Al-Qur’an, ’al-furqaan’ juga digunakan untuk menggambarkan Al-Qur’an.

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan Al-Furqaan (pembeda antara yang hak dan yang bathil) … (QS Al-Baqarah, 2:185)

Kata “ٱلْفُرْقَانِ” yang merupakan ‘majrur’, karena sebelumnya terdapat ‘harf Jarr’ yaitu “min (مِّنَ)”.

So, terdapat 2 klarifikasi pada ayat ini. Pertama, بَيِّنَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ yang berarti klarifikasi mengenai pedoman. Kedua, بَيِّنَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلْفُرْقَانِ yang berarti klarifikasi mengenai al-furqaan. 

Sehingga, ‘al-furqaan’ adalah sesuatu yang lebih luas dan Al-Qur’an memiliki ‘furqaan’ di dalamnya. 

Mengapa ’al-furqaan’ dikatakan memiliki makna yang luas?

*

Al-Qur’an juga disebut sebagai ’al-furqaan’. Hal ini dijelaskan di dalam QS Al-Furqan, 25:1

تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَـٰلَمِينَ نَذِيرًا

Artinya: Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam

Pada ayat di atas, Al-Qur’an disebut sebagai the ultimate separation (pemisah terakhir).

Selain merujuk kepada kitab suci seperti Al-Qur’an dan Taurat, ‘al-furqaan’ juga merujuk terhadap sesuatu selain itu. 

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَىٰ وَهَـٰرُونَ ٱلْفُرْقَانَ وَضِيَآءًۭ وَذِكْرًۭا لِّلْمُتَّقِينَ

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun al-furqaan dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Anbiya, 21:48)

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah ﷻ memberikan Nabi Musa dan Harun ‘alaihissalam ’al-furqaan’. 

’Al-furqaan’ yang dimaksudkan di ayat ini jelas tidak merujuk kepada Taurat. Mengapa?

Karena Taurat diberikan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, dan tidak diberikan kepada Nabi Harun ‘alaihissalam. 

Jadi, ketika Allah mengatakan “Kami memberikan Nabi Musa dan Harun ‘al-furqaan’ dan ‘cahaya’. Maka, kata ‘furqaan’ disini memiliki makna yang lebih luas dari hanya Taurat.

Dengan kata lain, al-furqaan tidak hanya bisa merujuk kepada wahyu. Melainkan terkadang juga bisa merujuk kepada sesuatu selain dari scripture dan kitab suci. 

Al-furqaan bermakna “pemisahan”.

Terdapat hal yang menarik mengenai penggunaan kata ‘farq (فرق)’ dalam kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Apakah itu?

Bersambung in syaa ba’da zhuhur.

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. Ali Imran > Ayah 3-6 Ramadan 2018 (21:15-23:19)


Materi VoB Hari ke-73 Siang | Al-Furqan dalam Kisah Nabi Musa AS

Oleh: Rizka Nurbaiti

#WednesdayAliImranWeek11Part2

Dalam kisah Nabi Musa ‘alaihissalam, terdapat suatu hal yang menarik mengenai penggunaan kata ‘pemisahan’ atau  فارق (faariq),  مفارق (mufaariq), serta ٱلۡفرقان (al-furqaan). 

Pertama-tama, Nabi Musa ‘alaihissalam menggambarkan tongkatnya sebagai sesuatu yang memisahkan daun dari pohonnya.

.قَالَ هِىَ عَصَاىَ أَتَوَكَّؤُا۟ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِى وَلِىَ فِيهَا مَـَٔارِبُ أُخْرَىٰ

Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain padanya”. (Qs Ta-Ha, 20:18)

Kemudian dalam ayat yang lain, tongkat Nabi Musa ‘alaihissalam tersebut  memiliki fungsi yang berbeda, 

فَأَلْقَىٰ مُوسَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِىَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ

Artinya: Kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu. (QS Asy-Syu’ara, 26:45)

Pada ayat ini dijelaskan bahwa, ketika Nabi Musa ‘alaihissalam menjatuhkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan semua ular-ular buatan. 

Sehingga dari kejadian tersebut, para ahli sihir mengetahui perbedaan فرق (farq) antara ilmu sihir dan mukjizat dari Allah ﷻ. Itulah yang disebut dengan فارق (faariq) atau ‘pemisah’.

Dalam ayat lain di surat yang sama, tongkat Nabi Musa ‘alaihissalam  tersebut menunjukkan hal yang berbeda lagi,

فَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْبَحْرَ ۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَٱلطَّوْدِ ٱلْعَظِيمِ

Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukul lah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap bagian adalah seperti gunung yang besar. (QS Asy-Syu’ara, 26:63)

Pada ayat di atas terlihat bahwa dua bagian yang terbelah disebut dengan “فِرْقٍ”. Dengan kata lain ‘furqaan’ yang diberikan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam adalah suatu bentuk ‘assa (pertolongan)’ untuk Nabi Musa.

Nabi Musa ‘alaihissalam bahkan tidak menyangka bahwa pemisahan yang dia lakukan dengan tongkatnya tersebut pada akhirnya akan menjadi ’fariiq’ (pemisah) antara ia beserta kaumnya dengan Fir’aun. 

Tetapi meskipun beliau ‘alaihissalam menunjukkan mukjizat yang telah Allah berikan yakni laut yang terbelah dengan tongkatnya kepada Bani Israil. Dan dengan itu mereka semua selamat dari kezaliman Fir’aun.

Tidak menutup kemungkinan Bani Israil menjadi orang-orang yang fasik. Dan ini benar terjadi, beberapa waktu kemudian Bani Israil menjadi  orang-orang yang tidak taat (corrupt people).

Sampai pada akhirnya Nabi Musa  ‘alaihissalam berkata:

قَالَ رَبِّ إِنِّى لَآ أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِى وَأَخِى ۖ فَٱفْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ ٱلْقَوْمِ ٱلْفَـٰسِقِينَ

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”. (QS Al-Ma’idah, 5: 25)

Dengan kata lain Nabi Musa ‘alaihissalam mengatakan bahwa ia ingin berlepas diri dengan Bani Israil.

Ini merupakan pemisahan yang kedua yang terjadi pada Nabi Musa ‘alaihissalam.  

Pemisahan pertama, adalah ketika Allah ﷻ memberikan mukjizat dengan membuat laut terbelah dengan tongkatnya sehingga memisahkan beliau ‘alaihissalam  dengan Fir’aun. 

Dan pemisahan kedua, yaitu pemisahan dengan Bani Israil. 

Beliau ‘alaihissalam meminta untuk dipisahkan dengan Bani Israil. So, beliau ‘alaihissalam  juga ingin tidak berurusan lagi dengan mereka.

Bersambung in syaa ba’da ashar.

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. Ali Imran > Ayah 3-6 Ramadan 2018 (23:19-24:48)


Materi LBP Hari ke-73 Sore | The People Have to Pick a Side When Al-Furqan Comes

Oleh: Rizka Nurbaiti

#WednesdayAliImranWeek11Part3

Allah berfirman dalam QS Al-Anfal, 8:29 sebagai berikut:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًۭا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ

Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)-mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. 

Allah mengatakan bahwa jika kita bersungguh-sungguh dalam beriman kepada-Nya maka Ia ﷻ akan memberikan kepada kita ’furqaan’. 

Dan Allah ﷻ akan menjauhkan diri kita dari dosa-dosa. Dan Ia ﷻ adalah pemilik nikmat tertinggi (ultimate favor). 

By the way, Di dalam Al-Qur’an kata ‘furqaan’ juga digunakan untuk menyebutkan hari Perang Badar. Ayat mengenai hal ini terdapat dalam surat yang sama dengan ayat yang di atas yaitu Surat Al-Anfal.

إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌ

…jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Anfal, 8:41)

Di ayat sebelumnya Allah ﷻ mengatakan bahwa Ia akan memberikan kepada orang-orang yang beriman ’al-furqaan’. 

Kemudian di ayat setelahnya, Allah menyebutkan hari Perang Badar dengan hari Furqaan. 

Apa maksudnya Al-Furqaan di atas?

Pada penjelasan sebelumnya ustaz telah menjelaskan bahwa ’Al-Furqaan’ dapat merujuk kepada ‘kitab suci’. 

Tapi adakah kata lain yang juga berarti ‘Al-Furqaan’? 

’Al-Furqaan’ dalam ayat ini berarti sesuatu yang secara jelas memisahkan antara sesuatu yang berasal dari Allah ﷻ dengan yang selain daripada-Nya. 

Memisahkan dengan jelas antara Rasul utusan-Nya dengan yang bukan utusan-Nya. 

Memisahkan antara wahyu yang benar-benar berasal dari Allah ﷻ dengan sesuatu yang dibuat-buat.

Implikasi lain yang lebih dalam ketika ’furqaan’ muncul adalah akan terjadi ’mufaariq’ (perpisahan) di dalam suatu bangsa. 

’Furqaan’ akan menyebabkan keretakan di suatu negara. Karena orang-orang harus memihak kepada salah satu pihak.

Misal ketika Nabi Musa ‘alaihissalam diutus oleh Allah ﷻ di Mesir, maka bangsa Mesir yang berada di zaman tersebut harus memilih untuk berpihak kepada Musa ‘alaihissalam atau kepada Fir’aun.

Begitu pula ketika Nabi Isa ‘alaihissalam diutus oleh Allah ﷻ kepada bangsa Israel, maka orang-orang Bani Israil, harus memilih untuk mengikuti Nabi Isa ‘alaihissalam atau mengikuti para rabi dari Bani Israil (pendeta agama Yahudi). Intinya akan ada pertentangan di kedua belah pihak. 

‘Furqaan’ menyebabkan farq (pertentangan), menyebabkan perpecahan, keretakan, dan perpisahan. 

Dan hal ini tidak hanya terjadi secara intelektual, seperti mengetahui bahwa ini berbeda dari yang itu secara teori. Tidak sekedar itu.

Tetapi Al-Furqaan juga memisahkan secara fisik atau ada aksi yang terlihat nyata.

Dan siapa pun yang berada di salah satu pihak, maka secara fisik akan terpisah dengan lingkungan atau orang-orang yang berasal dari pihak yang lainnya.

Meski mereka dulunya bersosialisasi di lingkungan yang sama. Mereka akan tetap memisahkan diri, dan saling bertentangan.

Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika Musa ‘alaihissalam dan Nabi Isa ‘alaihissalam diberikan Al-Furqaan, terjadi friksi (pertentangan).

Dan pertentangan itu pun terjadi ketika Al-Qur’an sebagai ’Al-Furqaan’ diberikan kepada Rasulullah ﷺ. 

Padahal sebelum beliau ﷺ diangkat menjadi rasul, beliau ﷺ adalah orang yang dipercaya dan dicintai oleh penduduk Mekah.

Tetapi ketika beliau menyampaikan Al-Furqaan sebagian penduduk Mekah berbalik membencinya. Itulah ‘farq’ yang disebabkan oleh ’Al-Furqaan’.

So, jangan sedih yah ketika sedang mulai berhijrah kemudian ada teman-teman lama kita yang malah jadi menjauh.

Selama kita berada pada kebenaran dan tidak menyakiti perasaannya, berarti itu adalah bentuk ’farq’ yang merupakan hasil dari ’Al-Furqaan’.

Karena ’Al-Furqaan’ akan memisahkan secara jelas antara yang baik dan buruk. Dan itu akan menimbulkan perselisihan.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa Ustaz Nouman merujuk kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, Nabi Isa ‘alaihissalam , dan Rasulullah ﷺ dalam menjelaskan Al-Furqaan?

Bersambung in syaa Allah minggu depan.

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. Ali Imran > Ayah 3-6 Ramadan 2018 (24:48-27:02)

***


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s