[VoB2020] Kecenderungan Perilaku Organisasi Nirlaba


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-70

Topik: Leadership

Minggu, 30 Agustus 2020

Materi VoB Hari ke-70 Pagi | An-Naas: Bukan Sekadar Umat Manusia

Ditulis oleh: Nurfitri Anbarsanti

#SundayLeadershipWeek10Part1

Sebelumnya, kita telah membahas tentang pentingnya enrichment dalam komunitas Islam. Sekarang, mari kita bahas bagaimana mengeksekusinya.

Baru-baru ini Ust. Nouman melakukan riset tentang kenapa sih, organisasi nirlaba (non-profit) itu cenderung stagnan. Mereka cenderung tidak bergerak, tidak punya motivasi, tidak punya momentum. Mereka cenderung membiarkan proyek dibiarkan begitu saja.

Menurut Anda, apakah ini hanya terjadi pada organisasi nirlaba islami?

Misal begini. Ada seseorang yang membuka usaha toko pizza. Tapi, pizza yang dibuat itu tidak enak dan kacau banget rasanya. Kira-kira toko pizza ini akan berumur panjang atau tidak?

Lalu, misal ada seseorang yang membangun masjid baru. Atau sekolah baru. Lalu, masjid dan sekolah itu benar-benar kacau isinya. Perilaku pegawainya buruk, kamar mandinya kotor, guru-gurunya menyebalkan sekali sampai kita ingin memenjarakan mereka (hehe).

Kira-kira masjid dan sekolah nirlaba itu akan bertahan sampai 20 tahun ke depan tidak?

Ya bisa saja. Tapi kenapa? Karena, setiap ramadhan, mereka akan bilang “Jika anda mau masuk surga, lebih baik anda berdonasi ke sini ya”.

Jadi, mereka mendapatkan uang bukan karena masjidnya berkembang dengan baik, bukan karena kualitas pendidikan di sekolahnya semakin baik, bukan karena mereka benar-benar terus-menerus bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan customer, klien, para orangtua siswa dan pendatang.

Tetapi, mereka mendapatkan uang dari penggalangan dana (fund raising) dan berpikir usaha penggalangan dana itu bisa menyelamatkan organisasi mereka.

Menurut Ust. Nouman, organisasi nirlaba ini cenderung berperilaku seperti ini hampir setiap waktu. Mereka tidak memiliki dorongan dan motivasi untuk mendapatkan kepercayaan dari customer, karena mereka tidak mendapatkan uang dari customer, tapi mereka mendapatkan uang dari para donatur.

Jadi, yang mereka lakukan cukup ‘menyenangkan’ para donatur. Para donatur punya motivasi religius sehingga organisasi nirlaba ini cukup ‘mengaktifkan’ tombol religi dan mengatakan, “Jika anda ingin masuk surga, anda bisa kok. Tinggal tanda tangani cek ini ya.” Lalu para donatur pun menggelontorkan uang cukup besar dengan mudah. Delapan juta, 10 juta, 10 milyar pun akhirnya masuk ke kas organisasi nirlaba mereka.

“Ayo ayo siapa yang ingin menyumbang.. siapa yang ingin masuk minimal level kedua di surga.. Ayo ayo siapa yang mau”.

Mari kita perhatikan strategi yang dilakukan oleh mereka bertahun-tahun. Seperti ini kan?

Menurut Ust. Nouman, fenomena ini terjadi secara nasional (di U.S.), tidak spesifik di organisasi tertentu saja. Dan sebenarnya sifat dan perilaku organisasi nirlaba ini bisa menjadi relevan juga untuk komunitas-komunitas Islam nirlaba di Indonesia.

Lalu bagaimana?

———————————-

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Leadership – 02. Leadership Workshop (17:30-24:00)

Bersambung insya Allah ba’da Zuhur 🏡🏡🕌🕌


Materi VoB Hari ke-70 Siang | Kondisi Volunteers dalam Organisasi Non-Profit

Ditulis oleh: Nurfitri Anbarsanti

#SundayLeadershipWeek10Part2

Menurut Ust. Nouman, perilaku ‘terlalu tergantung pada donasi ini bukanlah perilaku yang baik bagi organisasi non-profit. Namun ini terjadi, terjadi lagi, terjadi lagi, lagi dan lagi.

Kenapa ini terjadi terus-menerus? Ini terjadi karena, kita tidak mengerti fenomena nomor satu yang terjadi di organisasi non-profit. Organisasi non-profit tidak bisa bertahan seperti toko pizza yang kita bahas sebelumnya.

Bagi pemilik toko pizza, dia adalah pemilik seluruh bisnis pizza tersebut. Jika pemilik toko pizza tidak mengembangkan diri dan usahanya, maka bisnis pizza nya akan terdampak, sehingga pemilik toko pizza tersebut akan merasakan sense of emergency.  Sedangkan organisasi non-profit cenderung tidak memiliki sense of emergency.

Ada juga faktor lainnya. Organisasi non-profit biasanya dibangun oleh para volunteers kan ya. Sehingga, perkembangan organisasi non-profit tidak berbanding lurus dengan perkembangan gaji CEO-nya, dan tidak berbanding lurus juga dengan perkembangan gaji bagi seluruh pegawai organisasi.

Dalam organisasi non-profit, tidak ada bonus dan penghargaan bagi pegawai. Organisasi non-profit juga tidak punya uang insentif bagi para volunteers. Yang penting kerjaan beres aja. Jadi, karena hanya diisi oleh para volunteers, coba pikirkan deh. Apakah mungkin seorang volunteer akan selalu semangat untuk terus memberi lebih, lebih dan lebih?

Di zaman Rasulullah SAW, itu memungkinkan terjadi. Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah generasi terbaik Islam. Mereka adalah volunteers yang sungguh bersemangat dalam memberi dan memberi, berkorban dan berkorban, harta dan jiwa untuk membela agama Islam, agama yang benar.

Bagi para volunteers di zaman Rasulullah SAW, tidak ada rasa takut miskin dan tidak juga ada rasa cinta pada dunia, walaupun para sahabat yang menonjol pengorbanannya adalah para pengusaha kaya. Bukannya mencari insentif, mereka malah memberi ‘insentif’ bagi perjuangan dakwah Rasulullah SAW.

Sedangkan kita? Kita hidup di akhir zaman.

Di akhir zaman seperti sekarang, akan sangat sulit kita temukan seorang volunteer yang punya energi dan semangat yang sama besarnya seperti seorang akuntan di masa penagihan pajak. Atau seperti toko-toko yang semangat menjajakan produknya di masa lebaran. Sulit sekali menemukan volunteer yang punya semangat yang tinggi di akhir zaman seperti sekarang.

Bukan berarti kita semua adalah pribadi-pribadi yang buruk. Tapi kita semua sebagai manusia memiliki hawa nafsu. Itu sangat manusiawi, karena kita semua memilikinya.

Sehingga, bagaimana caranya menangani masalah stagnansi di dalam organisasi non-profit?

Menurut Ust. Nouman, organisasi non-profit harus belajar untuk membangun mental kewirausahaan di dalamnya.

Wah, bagaimana tuh membangun entrepreneurship di dalam organisasi non-profit?

———————————-

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Leadership – 02. Leadership Workshop (17:30-24:00)

Bersambung insya Allah ba’da Ashar  🏡🏡🕌🕌


Materi VOB Hari ke-70 Sore | Entrepreneurial Mentality within the Non-Profit

Ditulis oleh:  Nurfitri Anbarsanti

#SundayLeadershipWeek10Part3

Bagaimana sih, entrepreneurial mentality within the non-profit itu?

Misalnya, kita ingin membuat sebuah program kerja di masjid. Program kerja ini sangat valuable, sehingga ketika sudah terdanai, bukan hanya telah terdanai saja, tapi orang-orang akan terus mendanai tanpa para volunteers sibuk meminta-minta donasi.

Sekali saja terdanai, program kerja dapat bisa berjalan dengan sangat baik. Bahkan tanpa harus meminta-minta ke orang lain pun, orang-orang akan inisiatif lebih dulu untuk mendanai. “Eh, saya boleh nyumbang lagi untuk proyeknya?”

Nah inilah cara berpikir wirausaha (entrepreneurial way of thinking).

Nah, kalau cara berpikir non-profit, maka biasanya, akan langsung berdoa “Ya Allah, mohon sukseskan program kerja ini..” tapi tanpa adanya business plan, tanpa ada perencanaan keuangan, tanpa ada strategi marketing, tanpa terpikir sedikitpun bagaimana cara branding, tanpa tahu bagaimana meraih audiens baru.

Tidak ada usaha sedikitpun untuk mengerti sedikitpun tentang ini, tapi langsung saja “Ya Rabb, ini kan bulan Ramadhan, mohon sukseskan ya Rabb..”

Padahal, berdoa kepada Allah itu akan bernilai baik ketika kita telah berikhtiar maksimal dalam mengerahkan seluruh daya upaya yang kita mampu. Kita harus bersikap ihsan dalam setiap apapun yang kita lakukan. Setelah itu, baru kita meminta kepada Allah.

Kita harus melakukan segala yang kita bisa dalam melakukan sesuatu. Jika kita tidak melakukan apapun dan langsung minta ke Allah begitu saja, maka kita pada hakikatnya tidak mengerti apa maksud doa kita.

Para sahabat Rasulullah SAW melakukan sesuatu secara maksimal dulu, lalu baru berdoa. Begitu juga para Nabi dan Rasul, melakukan yang terbaik semaksimal mungkin dulu, baru meminta kepada Allah. Tidak ada di antara mereka yang hanya modal ‘bicara’ lalu berdoa setelahnya.

Sehingga, Ust. Nouman berpendapat bahwa cara berpikir entrepreneur dalam membuat program kerja adalah sangat penting. Benar-benar penting.

Jika kita ingin melakukan penggalangan dana untuk program non-profit, maka cara terbaik yang harus dilakukan – menurut Ust. Nouman, tapi tetap Allah yang paling tahu – adalah menggalang dana untuk ‘memulai dan memodali’ program kerja, bukan sekadar ‘menjalankan’ program kerja.

Jadi, harus ada business plan yang kuat. Begitu kita sudah menggalang modal, maka kita putar modalnya di dalam program kerja sehingga program bisa berkembang terus.

Lalu yang kedua, modal awal harus diperoleh dari orang-orang yang benar-benar terlibat dalam program kerja tersebut. Modal awal diperoleh dari orang-orang yang juga mengusahakan suksesnya program kerja tersebut.

Bagaimana contohnya?

———————————-

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Leadership – 02. Leadership Workshop (17:30-24:00)

Bersambung insya Allah minggu depan. 🏡🏡🕌🕌

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s