[VoB2020] Masih tentang Koherensi


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-68 

Topik: Pearls from Al-Kahfi 

Jum’at, 28 Agustus 2020 

Materi VoB Hari ke-68 Pagi | Masih tentang Koherensi 

Oleh: Rendy Noor Chandra 

#FridayAlKahfiWeek10Part1 

Part 1 

Mungkin bagi teman-teman yang baru bergabung akan bertanya-tanya, kenapa sih kita harus membahas (koherensi) ini dulu? Kenapa tidak langsung to the point ke pembahasan ayatnya? Kali ini Ustaz Nouman mau mengajarkan bagaimana step by step metodologi yang beliau gunakan dalam mempelajari Al-Qur’an, sekaligus memberikan pemahaman bagaimana akhirnya beliau mencapai kesimpulan tertentu. 

Seperti yang kita ketahui, ada 3 langkah yang dibahas Ustaz Nouman, terkait metodologi mempelajari Al-Qur’an: 

1.Koherensi dalam surat 

2.Analisis ayat demi ayat 

3.Koherensi antar surat 

Kita masih di bagian pertama, yaitu koherensi dalam surat. Pekan lalu kita telah membahas tentang konteks tekstual dan historis dalam mempelajari Al-Qur’an.  

Sebelumnya, kita juga sudah membahas apa itu koherensi? Mengapa harus mempelajari struktur surat? Lalu, mengapa sahabat tidak membicarakan koherensi? Prinsip apa yang harus kita pegang? 

Sekarang kita akan membahas langkah selanjutnya dalam memahami koherensi dalam sebuah surat. 

🍕🍕🍕 

*Menemukan pembagian partisi dalam sebuah surat* 

Untuk surat Al-Kahfi itu cukup mudah. Surat Al-Kahfi dapat dibagi menjadi 8 bagian/partisi  yang dapat dilihat dari perubahan subjek yang dibahas.  

Apakah surat berikutnya, yaitu surat Maryam, dapat dibagi menjadi 8 bagian juga? Tidak. Apakah surat berikutnya dapat ditemukan dengan mudah jumlah bagian-bagiannya? Belum tentu.  

Sebagaimana sebuah kota yang satu dengan yang lainnya, masing-masing punya ciri khas tersendiri. Surat Al-Kahfi tentu punya ciri yang berbeda dengan surat lainnya, walaupun mungkin ada kesamaan. 

Agak mudah sebenarnya dalam surat Al-Kahfi untuk aspek ini.  

🧩🧩🧩 

Menemukan hubungan antar bagian tertentu dalam surat apakah ia linear atau tidak. 

Sebagai contoh, beberapa ayat pertama dalam Surat Al-Kahfi isinya adalah ceramah/nasihat dari Allah. Kemudian ceritanya bermula. 

Apakah ada hubungan antara ceramah tersebut dengan cerita yang dikisahkan? Jika ada, apakah hubungannya? Apakah ada petunjuk yang Allah berikan kepada kita? Seperti apa ia mengalir? 

🌊🌊🌊 

Al-Qur’an disebutkan seperti aliran air yang membentuk sungai dan sungai yang mengalir ke samudra dan kemudian samudra kembali membentuk aliran air dan sungai lagi. 

Salah satu analisis tentang makna dari kata Qur’an adalah berasal dari qarn, sesuatu yang mengalir. Alirannya dari satu bagian ke bagian yang lain.  

Kembali ke surat Al-Kahfi, relasi/hubungan antara 1 bagian dengan bagian yang lain mungkin tidak linier, tapi mungkin sequential. Bahkan, kita juga bisa menemukan kesamaan antara bagian satu dengan bagian ketiga, misalnya. Jadi selain sequential, tapi bisa juga ada hubungan nonsequential. Nah, kita akan menemukan hal tersebut dalam surat Al-Kahfi. 

Apa lagi yang bisa kita ambil hikmah dari koherensi ini? 

Nantikan di part-2 insya Allah 

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Al-Kahf > 02. Methodology of Studying the Quran – Al-Kahf – A Deeper Look (24.28-26.14) 

(bersambung in syaa Allaahu ta’aalaa ba’da Zhuhur


🔗🔗🔗🔗 

Materi VoB Hari ke-68 Siang | Masih tentang Koherensi 

Oleh: Rendy Noor Chandra 

#FridayAlKahfiWeek10Part2 

Part 2  

📣📣📣 

Menemukan koherensi internal dari setiap bagian 

Bagian pertama dari surat Al-Kahfi adalah 9 ayat pertama. Sebut saja seperti itu. Nah, sekarang bagaimana 9 ayat ini terorganisir? Apa yang pertama disebutkan? Apa yang kedua? Apa yang ketiga? Apa manfaatnya dari kejadian-kejadian tersebut? Bagaimana struktur ayat-ayat tersebut? 🤔 

Apa manfaatnya untuk kita? Sesuatu yang keren.😮😲  Yaitu membantu kita memahami bagaimana Allah ﷻ membangun argumen. Ketika Allah ﷻ menyampaikan pidato/khutbah, yang mana adalah Al-Qur’an, bagaimana Allah ﷻ Mengorganisir argumen dan poin-poin pembahasan? Dan organisasi Al-Qur’an bukanlah organisasi bacaan yang biasa.  

📌📌📌📌📌📌📌📌📌 

Setiap bagian Al-Qur’an terdapat metode organisasi yang unik, dan ketika kita menginternalisasinya dan menghargainya, itu akan membuat kita memahami pidato yang nendang itu seperti apa. Atau bagaimana sebuah pidato seharusnya diorganisir.😎 

🏛️🏛️🏛️ 

Menemukan tema mengikat yang membantu dalam surat 

Tema yang mengikat akan kita temukan ketika kita membaca suatu surat sampai akhir. Maksudnya,  dalam surat Al-Kahfi, ada beberapa ide yang kerap muncul. Nah, itulah tema yang dominan dari surat ini. Ide ini yang Allah ﷻ sebutkan berulang kali dalam berbagai cara dan kesempatan. Seperti pilar yang menopang yang mempertahankan bangunan agar tetap kokoh. Pemahaman akan tema suatu surat akan kita temukan ketika kita menjelajahinya.  🚶🏼🚶🏼🚶🏼🚶🏼‍♂️ 

⚓⚓⚓ 

Menemukan hubungan antara awal dan akhir sebuah surat 

Teori ini dianut oleh banyak ulama. Dimana Allah ﷻ memulai dan dimana Allah ﷻ mengakhiri ada korelasi yang jelas. Secara umum, pembuka dan penutup surat itu saling melengkapi dan dosisnya besar. 😵 Seperti di surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, awal dan akhir surat ini merupakan anchor atau penanda dari surat tersebut.  

Oke, sekarang kita telah selesai membahas tentang koherensi. Lalu bagaimana dengan langkah selanjutnya? 

Nantikan di part-3 insya Allah 😁😁😁 

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Al-Kahf > 02. Methodology of Studying the Quran – Al-Kahf – A Deeper Look (29.08-32.32) 

(bersambung in syaa Allaahu ta’aalaa ba’da Ashar


🔬🔬🔬 

Materi VoB Hari ke-68 Sore | Analisis Ayat per Ayat 

Oleh: Rendy Noor Chandra 

#FridayAlKahfiWeek10Part3 

Part 3 

Disini Ustaz akan menjelaskan intro bagaimana kita mempelajari tafsir klasik. Seperti seorang sahabat yang punya pendapat tentang suatu ayat. Seperti Ibnu Abbas yang membuat tafsir suatu ayat. 

Perkataan Allah tidak bisa dibatasi oleh pikiran manusia. Termasuk diantaranya pikiran Abu Bakr ash-Shiddiq, Ibnu Abbas, Umar bin Khattab . Mereka adalah pelajar Qur’an terbaik. Dan orang-orang ini biasanya sangat padat perkataannya, mereka tidak berbicara panjang lebar. 😅 

Ketika menafsirkan suatu ayat, Ibnu Abbas radhiyallahuanhu mampu merangkumnya menjadi satu atau dua kata. Hebat sekali kalau sampai tiga. Hal ini dikarenakan Ibnu Abbas radhiyallahuanhu mampu merefleksikan secara mendalam dan menghasilkan satu kata yang orang dapat memahaminya sebagai satu paragraf. 

Akan tetapi, makna yang terkandung di dalamnya hanyalah satu mutiara dari samudra ayat tersebut.. Sekali lagi samudra ayat bukan samudra Al-Qur’an. Jadi interpretasi sebuah surat tidak berhenti di sana tapi dimulai dari sana. 

🥽🥽🥽 

Para sahabat juga punya pandangan yang berbeda akan suatu ayat.  Kok bisa? Karena yang satu bukan melihat hal yang berbeda, tetapi melihat makna tambahan akan suatu ayat.  

Pemahaman yang berbeda dari Al-Qur’an tidaklah tidak mungkin karena saat Rasulullah ﷺ masih hidup, para sahabat tersebar di berbagai penjuru tempat dan bisa saja satu sama lain tidak saling mengetahui penafsiran oleh yang lainnya, tapi itu tidak berarti mereka kehilangan petunjuk Allah ﷻ. 

💦💦💦 

Dengan mencoba mempelajar tafsir, kita bukan berarti merusak tafsir para sahabat. Akan tetapi, kita juga tidak mengatakan bahwa ketika seorang sahabat menafsirkan suatu ayat, maka tafsirnya berhenti di situ. Itu tidak adil terhadap ayatnya, maupun terhadap sahabat yang melakukan penafsiran. Karena para sahabat sendiri tidak berpikir seperti itu, (penafsirannya berhenti, pen) justru kalau kita tidak melanjutkan tafsir, maka itu adalah bentuk kita tidak menghargai ayat itu sendiri.😮 

Contohnya Arrahmaan dan Arrahiim. Ibnu Abbas radhiyallahuanhu mengatakan Arrahmaan adalah untuk dunia sedangkan Arrahiim untuk akhirat. Kenapa untuk dunia? Apakah hal ini terbuka untuk diskusi? Tentu saja. 

Salah satu insight yang paling kuat menurut Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, makna Arrahmaan adalah Allah ﷻ sangat-sangatlah cinta dan sayang kepada hamba-Nya. Salah satu nya Allah ﷻ tetap memberikan karunia, walaupun kita sering ingkar, tidak patuh selama di dunia. Tetapi, cinta Allah setelah Yaumil Akhir hanyalah untuk orang yang beriman saja. 

❤️💕 

Terdapat perbedaan besar antara Rasulullah ﷺ dan sahabat ketika menafsirkan ayat. Ketika Rasulullah ﷺ yang menafsirkan, maka tafsirnya selesai. Tidak ada yang lebih komprehensif daripada perkataan Rasulullah ﷺ. Akan tetapi ketika para sahabat tidak menyatakan itu dari Rasulullah ﷺ maka ayat tersebut terbuka untuk diskusi. Kita tidak bisa menyamakan mereka dalam satu keranjang yang sama.  

Oleh karena itu, kita memiliki budaya tafsir yang sangat kaya. Mencoba untuk menyelam lebih dalam. Ahli syariah mungkin melihat sesuatu, ahli sejarah mungkin menemukan hal yang lain, ahli bahasa memandang sesuatu yang lain lagi. 

👓👓👓

Yang menjadi masalah adalah ketika kita menginterpretasikan Al-Qur’an tanpa dasar- whimsical opinion – pendapat yang aneh menurut Ustaz Nouman. Bahasa tidak mendukung, konteks juga tidak, sejarah pun, ayat lain apalagi. 😅 

Kita tidak bisa menafsirkan Al-Qur’an hanya berdasar pendapat pribadi. Walaupun para sahabat juga punya pendapat masing-masing, tetapi mereka punya basis, entah itu bahasa, sejarah, konteks, maupun analisis. Tapi apakah sudah sempurna? Tidak. Tafsir itu masih terbuka untuk diskusi.  

Akan ada yang tidak setuju? Iya, tentu saja. Sah-sah saja. Para sahabat juga berbeda pendapat. 😁 

Justru ketika kita menggunakan akal kita alias berpikir itulah rahmat dari Allah ﷻ. Karena Allah ﷻ sendiri yang memerintahkan agar kita berpikir, merenungi, dan mentadaburi Al–Qur’an. 

Sementara itu, kita yang hidup di zaman sekarang, ketika ada yang berbeda pendapat tentang Islam, bukan hanya Al-Qur’an, dengan mudahnya kita memberi label akidahnya rusak, kafir, dan lain sebagainya. Lalu ketika ada yang punya pendapat yang aneh, kita harus bagaimana? Jawablah dengan cerdas. 😉 Sama seperti ketika Nabi Ibrahim alayhissalam membalas Raja Namrud yang mengaku bisa menghidupkan dan mematikan.  

✅✅✅✅ 

Semoga kita tidak termasuk ke dalam orang yang dengan mudahnya memberi label kafir pada orang lain. Semoga kita mampu untuk berpikir dan menjawab dengan cerdas. Aamiin.🤲🏻 

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Al-Kahf > 02. Methodology of Studying the Quran – Al-Kahf – A Deeper Look 

(bersambung in syaa Allaahu ta’aalaa pekan depan


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya. 

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya. 

Jazakumullahu khairan 

Salam, 

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s