[VoB2020] Konsekuensi Dari Beriman Kepada Yang Gaib


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-65

Topik: Pearls of Al-Baqarah

Selasa, 25 Agustus 2020

Materi VoB Hari ke-65 Pagi | Konsekuensi Dari Beriman Kepada Yang Gaib

Oleh: Rizka Nurbaiti

#TuesdayAlBaqarahWeek10Part1

Minggu lalu kita telah mempelajari bagaimana contoh aplikasi dari beriman kepada yang gaib.

Menurut Ustaz Nouman, beriman kepada hal yang gaib sangat diperlukan oleh umat Islam, terutama di era modern seperti saat ini. Mengapa?

Karena zaman sekarang, hal-hal yang berkaitan dengan Islam telah menjadi bahan candaan, telah diolok-olok.

Nabi kita shalallahu ‘alaihi wasallam diolok-olok. Orang-orang muslim pun diejek.

Agama Islam dan Al-Qur’an dijadikan bahan candaan.

Hari kiamat, surga dan neraka yang kita imani pun dijadikan lelucon.

Hal apa yang tidak dijadikan lelucon? 

Hal apa yang tidak diktritik?

Seakan-akan candaan mengenai agama adalah hal yang ringan dan lucu.

Seperti kalimat “mo meninggal” yang lagi viral saat ini, yang merupakan pelesetan dari “mau meninggal”. 

Kalimat ini diucapkan untuk mengungkapkan makanan yang enak banget. 

Tapi apakah kalimat tersebut pantas diucapkan? 

Emangnya harus banget, yah? Mengungkapkan kekaguman terhadap kelezatan makanan dengan kata “mau meninggal”.

Apakah ucapan “mau meninggal” seremeh itu?

***

Menurut Ustaz Nouman, saat ini muslim seakan memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah. 

Anak-anak yang berada di sekolah menengah atas (SMA), merasa malu memberi tahu orang-orang bahwa mereka muslim. Mereka merasa malu dengan fakta tersebut.

Walaupun mungkin kejadian di atas tidak terjadi di Indonesia, karena di sini muslim menjadi agama mayoritas.

Tapi di Indonesia perasaan malu terhadap agama Islam pun terjadi, meski “malunya” di sini bukan malu terhadap status agama yang dianut.  

Contohnya, muslimah yang masih malu mengenakan hijab secara syar’i.

Mereka takut dianggap sok alim, sok suci, atau bahkan takut dianggap aneh dan tidak keren. 

Banyak muslim yang diam terhadap kezaliman yang terlihat di depan matanya.

Ketika mendengar orang lain menghina agama Islam, atau membuat candaan terkait Al-Qur’an. Kita sebagai muslim malah diam saja tidak berani bersuara.

Kita tidak berani menyatakan kebenaran, dan menentang kemungkaran. Itu adalah tanda bahwa muslim saat ini memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah (low self-esteem). 

***

Mungkin, kita akan dipermalukan atau diejek oleh orang lain karena mengikuti syariat Islam. 

Misalnya, karena kita menutup aurat, menjaga pandangan, atau karena kita menolak berjabat tangan dengan yang bukan mahram kita.

Tapi ingatlah bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk beriman kepada yang gaib. Untuk mempraktikkan iman kepada yang gaib yang dibahas di QS Al-Baqarah,2:3

ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ

Artinya: (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. 

Tidak peduli apa yang terlihat. Dignity (kehormatan) yang terlihat dari luar. Ejekan yang mungkin kita terima. 

Itu semua tidak akan masalah bagi orang-orang beriman.

Ingatlah bahwa, kemuliaan itu hanyalah bagi Allah ﷻ, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin. 

Seperti Firman Allah ﷻ pada QS Al-Munafiqun, 63:8

يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَآ إِلَى ٱلْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ ٱلْأَعَزُّ مِنْهَا ٱلْأَذَلَّ ۚ *وَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلْمُؤْمِنِينَ* وَلَٰكِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita (orang-orang munafik) telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya”. *Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin,* tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

Sehingga, Allah ﷻ adalah satu-satunya yang dapat mengangkat derajat seseorang. Yang dapat memberikan kemuliaan untuk seseorang.

Sebanyak apapun ejekan yang kita terima, tidak apa-apa. 

Karena rasul-rasul pun telah diolok-olok dengan jauh lebih buruk dari apa yang kita terima.

وَلَقَدِ ٱسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍۢ مِّن قَبْلِكَ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُوا۟ مِنْهُم مَّا كَانُوا۟ بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ

Artinya: Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu (Rasulullah), maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka. (QS Al-An’am, 6:10)

فَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل رَّبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍۢ وَٰسِعَةٍۢ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُۥ عَنِ ٱلْقَوْمِ ٱلْمُجْرِمِينَ

Maka jika mereka mendustakan kamu (Rasulullah), katakanlah: “Tuhanmu mempunyai rahmat yang luas; dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa”. (QS Al-An’am, 6:147)

Menurut ustaz, dengan memahami ayat tersebut maka kita akan mengerti bahwa dipermalukan dan diolok-olok saat berada pada kebenaran adalah suatu kehormatan. Mengapa?

Karena jika kita diolok-olok, maka berarti kita sedang menjalani sunnah nabi. 

Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  pun telah diolok-olok, karena menjalankan perintah Allah  ﷻ.

So, itulah kemuliaan yang kita bisa dapatkan jika kita dipermalukan dan diolok-olok oleh orang lain.

Al-Qur’an mengubah perspektif kita. Ia membuat kita dapat melihat sesuatu dari yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

***

Kita melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Itulah “al-ghoib”. Itulah yang dimaksud dari ”yu’minuuna bil ghaib” (beriman kepada yang ghaib).

Kemudian Ustaz Nouman memberikan contoh mengenai ‘husbanu hayyin’. Apa itu ‘husbanu hayyin’?

Misal kita terlibat dalam perbincangan dengan teman-teman kita. 

Kemudian dalam perbincangan tersebut salah seorang teman kita membicarakan kepribadiaan buruk orang lain, dan melakukan fitnah terhadapnya.

Perbuatan ini adalah masalah yang besar, kan?

Tapi untuk seseorang yang tidak menghadirkan iman di waktu itu, maka mereka akan menganggapnya sesuatu yang ringan “ تَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا “

Padahal dalam Al-Qur’an telah dijelaskan,

إِذْ تَلَقَّوْنَهُۥ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan *kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.* (QS An-Nur, 24:15)

So ketika dia berkata, “kita kan cuma ngomong aja”. Padahal itu adalah perkara yang besar dihadapan Allah ﷻ.

Perkataan tersebut adalah perkara yang sangat besar yang dilakukan melalui lisannya.

Jadi, kita harus sangat berhati-hati dengan apa yang keluar dari mulut kita. 

Kita mungkin tidak dapat melihat bahwa Allah ﷻ mengawasi dan melihat kita ketika kita sedang gibah atau melakukan fitnah. 

Kita juga tidak dapat melihat malaikat yang mencatat perbuatan buruk kita tersebut. 

Ini adalah perkara yang tidak terlihat. So, ini adalah bukti apakah kita dapat menghadirkan iman kepada yang gaib dalam perbuatan kita atau tidak.

Selanjutnya, ustaz menjelaskan suatu ayat yang dapat memberikan kita ‘hope’ (harapan).

Allah ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu lah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Bagaimanakah kita bisa mendapatkan ‘harapan’ dengan ayat tersebut?

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. Al-Baqarah (Ayah 3-4) – A Deeper Look (22:26 – 24:28) 

Bersambung in syaa Allah ba’da zhuhur.


Materi VoB Hari ke-65 Siang | Optimisme Dalam Kesulitan 

Oleh: Rizka Nurbaiti

#TuesdayAlBaqarahWeek10Part2

Ustaz Nouman membagikan suatu ayat yang menurutnya dapat memberikan ‘hope’ atau ‘harapan’ untuk kita.

Memberikan harapan kepada umat Islam yang sedang berada dalam masa sulit.

Harapan di saat kita merasa kesulitan itu semakin bertambah dari hari ke hari.

***

Ustaz berkata, “ketika Allah ﷻ sudah berjanji, maka saya tidak peduli dengan apa yang saya lihat dengan mata saya.”

“Apa yang saya lihat dengan hati saya akan lebih saya yakini, daripada apa yang saya lihat dengan mata saya”.

Sehingga apa pun yang Allah ﷻ katakan kepada kita di dalam Al-Qur’an maka perkataan tersebut 100% benar.

Apa pun yang Allah ﷻ janjikan maka 100% akan Dia ﷻ  tepati.

Tidak peduli seberapa mustahilnya menurut manusia, itu tetap akan terjadi atas seizin Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu lah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.(QS Ali ’Imran, 3:139)

Dengan kata lain pada ayat ini Allah ﷻ mengatakan bahwa jika kita benar-benar beriman, maka kita memiliki derajat yang tertinggi.

Tidak masalah jika kita menderita kekalahan demi kekalahan.

Tidak mengapa bila umat Islam di seluruh dunia mendapatkan berita duka bertubi-tubi. 

Selama kita sebagai umat Islam memiliki iman, maka kita tetap memiliki derajat tertinggi dimata Allah ﷻ.

Surat Ali ’Imran ayat 139 ini adalah harapan yang Allah  ﷻ berikan untuk orang-orang yang beriman. 

Allah ﷻ akan memberikan kemenangan kepada orang yang beriman, sepanjang dia memiliki iman.

Mungkin orang-orang kafir dapat mengambil semua hal dari orang-orang yang beriman.

Mereka bisa membuat kita seakan-akan telah kehilangan harapan.

Tapi hal tersebut tidak boleh membuat kita depresi. Kita tidak boleh putus harapan. 

Karena dalam pandangan Allah ﷻ, orang-orang berimanlah yang memiliki derajat tertinggi.

***

Ketika kita membaca Al-Qur’an, hal pertama yang kita ucapkan di hadapan Allah ﷻ adalah “alhamdulillah”.

Karena kata “alhamdulillah” ini berada pada awal surat Al-Fatihah.

Kita mengucapkan “segala puji dan syukur bagi Allah”. Ucapan tersebut bermakna bahwa kita selalu melihat segala sesuatu pada sisi positif. 

Alhamdulillah” tidak hanya sebuah ungkapan tapi juga ekspresi. 

Kita tidak bisa mengucapkan “alhamdulillah” ketika pikiran kita dipenuhi dengan keluhan, kan?

Karena jika semua yang ada di pikiran kita adalah hal negatif, maka artinya kita tidak sungguh-sungguh dalam mengucapkan “alhamdulilah”.

Kita hanya bisa mengucapkan “alhamdulillah”, atas nikmat dan karunia yang Allah ﷻ berikan kepada kita.

Kita mengucapkan “alhamdulillah” atas berkah dan rahmat yang Allah ﷻ telah berikan. 

Lalu,  bagaimana kita bisa berpikir positif saat berada dalam kesulitan?

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. Al-Baqarah (Ayah 3-4) – A Deeper Look (24:28 – 26:18)

Bersambung in syaa Allah ba’da asar.


Materi LBP Hari ke-65 Sore | Kesempatan Untuk Meraih Cinta Allah

Oleh: Rizka Nurbaiti

#TuesdayAlBaqarahWeek10Part3

Surat Ali ’Imran ayat 139 dan kata “alhamdulillah” telah mengajarkan kepada kita untuk dapat memiliki sikap optimis dan positive thinking.

Lalu,  bagaimana kita bisa berpikir positif saat berada dalam kesulitan?

Faktanya, beberapa orang terbaik dalam sejarah peradaban manusia, seperti para rasul, nabi, dan solihin, mengalami masa yang sulit. 

Mereka yang kemuliaannya telah disebutkan di dalam Al-Qur’an pun berada di zaman yang kelam.

Mereka hidup pada zaman yang dipenuhi dengan syirik dan kufur.

Zaman di mana banyak orang yang mempersekutukan Allah ﷻ.

Masa di mana korupsi dan kejahatan merajalela. 

Dan mereka adalah satu-satunya yang mendapatkan petunjuk dari Allah ﷻ. 

Mereka tidak menjadi golongan mayoritas. Mereka selalu berada pada golongan minoritas. 

Bahkan kekufuran semakin menjadi-jadi saat mereka mulai berdakwah.

Tapi apakah mereka mundur ketika menghadapi banyak rintangan tersebut?

Tidak. Mereka tetap berjuang.

Itulah yang membuat mereka luar biasa. Mereka bisa menghadirkan iman bahkan pada masa dan kondisi yang sulit.

Dengan kata lain, ketika kita hidup pada masa yang sangat sulit maka itu berarti Allah ﷻ memberikan kita kehormatan. 

Mengapa kesulitan bisa menjadi kehormatan?

Kesulitan merupakan suatu kehormatan karena ketika kita menjalaninya berarti kita sedang mengikuti perjuangan yang dilakukan oleh orang-orang yang mulia tersebut.

Ini adalah kesempatan yang diberikan Allah ﷻ kepada kita. 

Seperti Firman Allah ﷻ berikut ini:

لَا يَسْتَوِى مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ ٱلْفَتْحِ وَقَٰتَلَ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُوا۟ مِنۢ بَعْدُ وَقَٰتَلُوا۟

…tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu… (QS Al-Hadid, 57:10)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang mengalami kesulitan dan berjuang sebelum kemenangan datang, akan memiliki derajat yang lebih tinggi. 

Derajatnya tidak sama dengan orang-orang yang datang di saat keadaannya sudah mudah, saat Islam sudah berjaya.

Jadi jika kita berharap hidup di masa yang mudah dan tidak ada rintangan.

Dan berharap bisa melihat Islam di setiap waktu dan di setiap tempat. 

Atau berharap dapat melihat semua orang bersama-sama berjalan menuju masjid saat azan berkumandang.

Yang intinya berharap hidup di zaman yang dipenuhi dengan kedamaian, dan lingkungan yang islami.

Adalah harapan yang tidak sepenuhnya tepat. Mengapa?

Karena orang-orang yang hidup di masa yang dipenuhi kebahagiaan tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang dan membuat Allah ﷻ bangga, seperti halnya orang-orang yang hidup di masa-masa sulit.

Keduanya memiliki derajat yang berbeda.

Jadi jika kita berharap hidup di zaman yang mudah, berarti kita menghilangkan kesempatan tersebut.

Hal ini sangat menarik karena, bagi orang-orang yang tidak beriman, hidup pada masa yang sulit menjadi alasan yang membuat mereka depresi. 

Tapi sebaliknya, bagi orang yang beriman hidup di masa yang sulit adalah alasan untuk bersyukur kepada Allah ﷻ. 

Allah ﷻ telah menunjuk kita untuk menghadapi tantangan kehidupan yang Ia berikan. Ini adalah sebuah kesempatan untuk meraih cinta-Nya ﷻ.

Jika kita tidak mampu menghadapinya, Allah ﷻ sangat mampu untuk  mengambil roh yang ada di dalam diri kita dan meniupnya ke dalam rahim seorang ibu pada masa yang lebih mudah bagi muslim.

Allah ﷻ bisa saja membuat kita hidup di zaman yang segalanya mudah. Zaman di mana Islam sedang berjaya.

Tetapi faktanya, Allah ﷻ  memilih roh kita dan menaruhnya ke dalam rahim ibu kita di zaman ini.

Allah ﷻ menciptakan kita untuk hidup di zaman ini. 

Allah ﷻ menunjuk kita untuk dapat menghadapi rintangan yang ada pada zaman dan generasi ini.

Jadi kita tidak boleh rendah diri dan berputus asa. Karena itu adalah bagian dari ‘iman bil ghaib’

***

Setelah kita dapat menghadirkan iman kepada yang gaib, lalu bagaimana kita bisa terus menjaganya?

Bagaimana agar kita bisa mempertahankan iman kita, yang bahkan kita sendiri pun tidak dapat melihatnya?

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. Al-Baqarah (Ayah 3-4) – A Deeper Look (24:28 – 28:41)

Bersambung in syaa Allah pekan depan.


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s