[VoB2020] Simpul Lidah


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-67

Topik: Divine Speech

Kamis, 27 Agustus 2020

Materi VoB Hari ke-67 Pagi | Simpul Lidah

Oleh: Muchamad Musyafa’

#ThursdayDivineSpeechWeek10Part1

Hari ini kita akan membahas satu ungkapan lainnya. Mungkin beberapa dari kita familier dengan ungkapan ini. Sebuah ungkapan yang ada di dalam doa Musa alayhissalam ketika akan berhadapan dengan Firaun.

وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي  

Dan lepaskanlah simpul (kekakuan) dari lidahku (QS. Taha, 20:27)

Sebuah simpul, kita tahu bahwa ia tidak ada di lidah. Simpul biasanya kita temukan di tali, di benang, di dasi, di tali sepatu, di sebuah pita, dan lainnya. Tidak akan kita temukan sebuah simpul di lidah. 

Jadi simpul lidah memang sebuah ungkapan / verbal idiom.

Lalu apa makna dari ungkapan ‘simpul dari lidahku’ ini?

Pertama-tama, mari kita bayangkan. Kita mempunyai sebuah benang senar. Benang itu ruwet, kusut.  Dari satu simpul lalu membuat simpul dengan simpul lainnya. Simpul di dalam simpul. 

Seperti kabel earphone kita. Kita taruh kabel earphone itu di dalam saku kita. Hanya dalam hitungan detik, dengan segala konspirasi alam, ketika kita mengambilnya lagi dari saku maka kita akan menemukan kabel earphone tersebut dalam keadaan kusut.

*

Kabel itu membuat gulungan-gulungan. Lalu kedua ujung kabel itu masuk secara acak ke dalam gulungan-gulungan kabel tadi. Jika kita tarik asal-asalan kabel itu maka akan terbentuk simpul-simpul dari kabel earphone itu. Lalu dengan rasa dongkol di dalam hati, kita harus mengurai kabel earphone itu dengan perlahan-lahan.

Sama seperti perumpamaan kabel tadi, sebuah simpul lidah terjadi karena kekusutan dalam memproses dan menyampaikan informasi-informasi di dalam otak. Untaian-untaian informasi di pikiran itu telah tergulung secara tak beraturan. 

*

Untaian informasi tersebut sudah terlanjur kusut, hanya tampak gulungan yang tak beraturan. Tidak diketahui urutan informasi yang sesungguhnya. Kondisi ini membuat sulit bagi seseorang untuk menyampaikan gagasannya secara berurutan.

Informasi yang harus disampaikan di awal malah baru disampaikan di pertengahan sesi pembicaraan. Informasi yang harus disampaikan di akhir malah disampaikan terburu-buru di pertengahan penyampaian. Terkadang ada beberapa ide disampaikan berulang, Terkadang ada ide yang malah lupa disampaikan sama sekali.

*

Satu-satunya cara dalam menghadapi kondisi ini adalah dengan menguraikan untaian-untaian kusut itu dengan sabar satu-persatu. Ia harus bisa mengurai simpul-simpul informasi yang ada di otaknya. Sehingga jelas baginya urutan untaian inforamasi yang ingin ia sampaikan itu.

*

Dengan kusutnya lidah, maka penyampaian informasi akan menjadi putus-putus. Pembicara harus berhenti berucap untuk bisa sejenak mengurai ide-ide kusut yang ada di pikirannya tadi.

Sehingga bagi pendengar, mereka akan sulit memahami rangkaian informasi tersebut. Kesinambungan dari satu sub-ide ke sub-ide lainnya akan terasa melompat-lompat, putus-putus dan tergagap.

Begitu juga Musa alayhissalam yang khawatir tergagap ketika akan berhadapan dengan Firaun. 

Sumber Bayyinah TV > Course > Divine Speech > 02. Verbal Idioms in the Quran.

Bersambung in syaa Allah ba’da zhuhur.


Materi VoB Hari ke-67 Siang | Simpul Lidah (Part 2)

Oleh: Muchamad Musyafa’

#ThursdayDivineSpeechWeek10Part2

Dari pembahasan sebelumnya, bisa disimpulkan bahwa melepaskan simpul dari lidah adalah usaha untuk mengurai kumpulan informasi yang kusut, mengurutkannya lalu menyampaikannya secara urut dari awal sampai akhir.

Meminta kepada Allah ﷻ untuk melepaskan simpul dari lidah maksudnya adalah meminta Allah ﷻ untuk dilancarkan dalam berbicara, agar apa yang disampaikan jelas dan mudah dipahami.

🌀🌀🌀🌀🌀

Terkadang ketika kita mendengarkan khotbah, di akhir khotbah itu kita tidak paham apa yang disampaikan khatib.  Antara penyampaian khotbahnya berputar-putar di tempat, atau penyampaiannya lompat-lompat. Khatib sudah berbicara banyak hal, tapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan itu. Pasti banyak dari kita mengalaminya. Mendengarkan pidato dari menteri, gubernur, politikus, selama lebih dari 1 jam, tapi tetap saja kita tidak paham.

Atau mungkin di sekeliling kita sendiri, kita punya teman dekat yang seperti itu. Teman kita berapi-api bercerita kepada kita selama setengah jam, tapi kita enggak paham dengan apa yang disampaikannya.  Dalam hati, ingin sekali kita menanggapi “Ngomong apa sih, bro?” Tapi kita takut menyampaikannya karena bisa jadi dia akan mengulang ceritanya yang sama selama setengah jam lagi. hehe

*

Ungkapan melepaskan simpul lidah, selain bermakna berharap agar apa yang kita sampaikan jelas, juga bisa bermakna berharap agar kita bisa mengucapkannya dengan lancar. Tidak gagap.

Orang yang gagap dalam berbicara akan merasa seakan-akan pangkal lidahnya terikat, tersangkut, tidak bisa bergerak. 

Ketika orang gagap marah, maka gagapnya makin parah. Ketika orang gugup di bawah tekanan, maka gagapnya makin memburuk. 

Saat itu Musa alayhissalam berada di bawah tekanan, ia di minta Allah ﷻ untuk pergi menghadap Firaun, ayah angkatnya. Sedangkan saat itu Musa alayhissalam adalah buronan kerajaan, lalu Allah ﷻ meminta Musa menghadap Firaun. Yang artinya ketika Musa alayhisalam kembali ke kerajaan Mesir, sama halnya seperti ia menyerahkan dirinya ke kandang singa buas.

Tidak hanya masuk ke dalam kandang singa yang buas, tapi Musa alayhissalam harus melawan raja singa itu. Allah ﷻ meminta Musa alayhissalam untuk mengingatkan Firaun bahwa ia telah melampaui batas. Musa alayhissalam harus berdebat secara verbal dengan Firaun. Mendebat seorang raja tidak lah hal yang mudah. Seorang raja selevel Firaun sudah pasti memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik.

Tidak berhenti di situ saja, tapi singa itu sangat tahu akan kelemahan Musa alayhissalam. Sebagai ayah angkatnya, pastinya Firaun sangat tahu sekali kebiasaan Musa alayhissalam. Ia tahu titik-titik kelemahan Musa _alayhissalam_. Sangat mudah bagi Firaun untuk membanting harga diri nabi Musa alayhisalam dari segala sisi di depan para menterinya. Secara perkiraan saja, pasti mudah bagi Firaun untuk memutar balikkan perkataan-perkataan dari nabi Musa alayhissalam. Mudah bagi Firaun untuk mempermalukan nabi Musa alayhissalam.

*

Sumber Bayyinah TV > Course > Divine Speech > 02. Verbal Idioms in the Quran.

Bersambung in syaa Allah ba’da asar.


Materi LBP Hari ke-67 Sore | Simpul Lidah (Part 3)

Oleh: Muchamad Musyafa’

#ThursdayDivineSpeechWeek10Part3

Coba kita bayangkan, bagaimana kondisi psikologis nabi Musa alayhissalam pada saat itu? Musa alayhissalam gugup, ia gelisah, ia takut. 

Ketika kita maju di depan banyak orang, lalu merasa gugup, apa yang ada di pikiran kita?

Apa yang akan terjadi nanti di panggung?

Orang-orang akan menatap padaku.🤢

Aku khawatir melakukan kesalahan. 🥶

Orang-orang pasti akan menertawakan kebodohanku. 😰

Aku pasti akan mempermalukan diriku sendiri. 😧

Bisa mati aku. 😣

Mungkin seperti itu perumpamaan gambaran apa yang ada di hati nabi Musa alayhissalam. Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah meminta pertolongan Allah ﷻ untuk membantunya melancarkan apa yang akan diucapkan nabi Musa alayhissalam nanti. Agar Firaun paham apa yang akan dia sampaikan, Semuanya jelas dari awal sampai akhir.

*

Secara khusus, ustaz Nouman mengatakan bahwa doa ini adalah salah satu doa favorit baginya. Alasannya karena doa ini membantunya dalam berbicara di depan umum.

Pernah di suatu awal pengalamannya dalam berbicara di depan umum, ustaz tidak membaca doa ini, ia merasa tulisan teks khotbah yang ia siapkan seakan-akan merangkak pergi dari kertas. Ia merasa orang-orang tidak bisa memahami apa yang ia sampaikan. Lalu di akhir khotbah, ketika membaca surat Al-Fatihah di dalam salat, ustaz Nouman melakukan kesalahan. Ketika salat dan khotbah selesai, orang-orang mendatangi ustaz seraya berkata,

 It’s okay, enggak apa-apa.

Seakan-akan mereka menyampaikan ucapan belasungkawa terhadap apa yang dihadapi ustaz hari itu. 😭🥀

Sumber Bayyinah TV > Course > Divine Speech > 02. Verbal Idioms in the Quran.

Bersambung in syaa Allah pekan depan.


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-67 Sore | Simpul Lidah (Part 3)

Siti:

Hari ini belajar tentang idiom simpul lidah…kekakuan lidah  dalam menyampaikan informasi-informasi dari otak… yang dialami Nabi Musa …. Ternyata Nabi mengalami banyak masalah dengan dirinya sendiri juga ya

***


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s