[VoB2020] Dua Jenis Konteks dalam Al Qur’an


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari Ke-61

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Hari, tanggal: Jum’at, 21 Agustus 2020

Materi VoB hari ke-61 Pagi | Dua Jenis Konteks dalam Al-Qur’an

Oleh: Indri Djangko

#FridayAlKahfiWeek9Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Pekan lalu kita sudah bahas bahwa nazhm atau koherensi jenis pertama adalah textual context. Konteks yang berkenaan dengan kata demi kata. Berkenaan dengan kalimat demi kalimat.

Bicara soal konteks dalam al-Qur’an, biasanya diasosiasikan dengan konteks sejarah, historical context.

Ketika ada yang berbicara soal konteks dalam sebuah ayat, maka pada umumnya yang mereka maksud adalah historical context.

Tapi kita harus sadar dan ingat-ingat betul, baik textual maupun historical, dua-duanya eksis di dalam Al-Qur’an.

Kita bahas dulu textual context.

Mari kita kembali pada ayat QS Al-Ma’un, 107:4

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ                   

Kemudian, ayat setelahnya

الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ              

Allah bisa saja menggabungkan dua ayat ini ke dalam satu ayat saja. Fa waylullil musholliinalladziina hum ‘ansholatihim saahuun.

Tapi Allah memilih untuk tidak menjadikannya satu ayat.

Ketika Allah memilih untuk menyatukan dalam satu ayat, atau memisahkannya, itu adalah bagian dari kebijaksanaan-Nya.

Apa hikmah yang datang dari contoh pemisahan ayat 4 dan 5 pada QS Al-Ma’un?

Hikmahnya adalah, kita tidak bisa melihat dan mengisolasi sebuah ayat, atau menggunakan kacamata kuda dan fokus pada ayat tersebut saja.

Sama seperti contoh di pekan lalu ketika Ustaz bermain dengan anaknya dan bilang ‘aku akan memakanmu’, kan?

Jika hanya dilihat dari redaksi ‘aku akan memakanmu’, jadi serem, padahal aslinya bercanda.

Untuk benar-benar memahami satu ayat, kita perlu melihat apa yang disebutkan di ayat selanjutnya, ataupun di ayat sebelumnya.

___

Ustaz Nouman memberi contoh lagi, maaliki yawmiddiin pada QS Al-Fatihah.

Nah kita belajar bahasa arab sedikit ya.

Untuk memahami penjelasan Ustaz, gampangnya kita ingat-ingat dulu, bahwa bunyi akhiran pada satu kata dalam bahasa Arab menunjukkan status dari kata tersebut.

Jadi kita enggak bisa sembarangan mengganti a, i, u pada sebuah kata di dalam Al-Qur’an. Nanti jadi beda artinya, secara gramatikal juga akan jadi kacau.

Kata ‘maaliki’ berbunyi akhiran -i, statusnya menjadi jarr.

Nah, jarr ini selalu memiliki alasan kenapa dia jadi jarr, artinya dia tidak independen.

Alasannya selalu bisa ditemukan di kata atau kalimat sebelumnya.

Seharusnya sebuah kalimat tidak dimulai dengan jarr, tapi jika ada case seperti ini, maka kita harus kembali ke ayat-ayat sebelumnya.

Pada contoh maaliki ini, dari manakah muara jarr nya?.

Ternyata kita harus balik lagi ke dua ayat sebelumnya.

Muara jarr ada di ayat ‘ Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.

Pada Alhamdu lillahi, kata ‘Allah’ adalah jarr untuk Alhamdu ( majruur ).

Disinilah alasan kenapa maalikii bisa jadi jarr dan berakhiran -i.

Alhamdulillahi, jarr

Rabbi, jarr

ar-Rahmaani, jarr,

ar-Rahiimi, jarr

Maaliki, jarr.

Semua mengikuti pola jarr dari kata ‘Allah’ pada ‘Alhamdulillahi’, dan semua berakhiran -i.

Hehe, intinya, untuk menemukan konteks, secara gramatikal kita tidak bisa melihat QS Alfatihah ayat 3, Maaliki yawmiddin secara independen tanpa melihat ayat pertamanya.

Mempelajari nazhm atau koherensi membantu kita memahami textual context pada sebuah ayat.

Demikian penjelasan tentang textual context.

Historical context sebenarnya akan banyak dibahas pada tahap selanjutnya setelah tahap koherensi, tapi Ustaz akhirnya menyinggung sedikit soal konteks sejarah ini.

Penasaran? Sudah siap tersinggung? Eh 😅, maksudnya sudah siap menyimak Ustaz menyinggung konteks sejarah? 

Kita bahas di _part_ 2 ya _insyaa Allah_

🔎🔎🔎

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Al-Kahf > 02. Methodology of Studying the Quran – Al-Kahf – A Deeper Look (16.18-18.37)

(bersambung in syaa Allaahu ta’aalaa ba’da Zhuhur)

🗿🎞️⏳


Historical Context in Some Surahs in the Qur’an

Oleh: Indri Djangko

#FridayAlKahfiWeek9Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ustaz Nouman melanjutkan pembahasan metodologi beliau belajar Al-Qur’an, pada subtopik berjudul:

 Exploring the historical context and narrations of any of the surah that may lead an insight into the overaching themes and subjects of the surah.

Ketika membacakan judul subtopik di atas, Ustaz merasa bahasa judul tersebut aneh dan membingungkan. Mungkin karena beliau menulis saat larut malam.

usually i write it in human but sometimes, i write like this, hehe‘, tambah beliau.

Intinya, beberapa surat dalam Al-Qur’an dilatarbelakangi kisah yang menarik.

Hanya beberapa surat saja, tidak semuanya.

Tidak semua surat punya kisah yang melatarbelakanginya, atau mungkin semua punya kisah, tapi kita belum mengetahuinya.

Ada beberapa surat yang bisa diketahui persis kisah di balik surat tersebut.

📜📜📜

Misalnya QS al-Fath, surat ke-48, memiliki kisah menarik yang cukup rumit mengenai Perjanjian Hudaibiyah.

Masih ingat dengan peristiwa tersebut?

Jika kita tidak paham tentang Perjanjian Hudaibiyah, kita akan mengalami kesulitan dalam memahami QS al-Fath ini.

Kita perlu mempelajari detail dari perjanjian tersebut sebelum mendapatkan penjelasan Allah pada QS al-Fath. Itu penting.

🕋🕋🕋

Contoh lain dari Ustaz, QS at-Taubah, surat ke-9 berkaitan dengan kejadian penaklukan Makkah.

Jika kita tidak tahu apa yang terjadi pada Bangsa Romawi dan penduduk Makkah saat itu,

Jika kita tidak tahu tentang  sayyidina Ali ra dan Abu Bakar as-Shiddiq dalam perjalanan haji mereka,

Jika kita tidak tahu tentang itu semua, maka kita akan melewatkan dan kehilangan makna dari apa yang Allah katakan pada QS at-Taubah.

🕯🕯🕯

Beberapa surat memiliki sejarah yang cukup rumit, dan sebaiknya kita punya gambaran utuh tentang apa yang terjadi dalam kisah tersebut.

Kita akan memasuki pembahasan sebuah surah dari perspektif tersebut.

Kita akan mempelajari dan mengekplorasi QS al-Kahf, insyaa Allah.

Satu hal yang sangat mempesona dari QS al-Kahf adalah bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallaam mendapat semacam pertanyaan kuis untuk membuktikan apakah Beliau benar-benar seorang rasul.

Beliau ditanyai bagaimana kisah orang-orang di dalam gua.

⛰⛰⛰

Meskipun historical context akan dibahas mendalam di bagian-bagian selanjutnya, Ustaz Nouman akan memberikan sedikit petunjuk tentang kisah orang orang di dalam gua ini.

Bagaimana ‘bocoran’ kisahnya?

🗿🎞️⏳

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Al-Kahf > 02. Methodology of Studying the Quran – Al-Kahf – A Deeper Look (18:37-20:48)

(bersambung in syaa Allaahu ta’aalaa ba’da Ashar)

📽️📽️📽️


A Little Hint about Historical Context of Suratul Kahf

Oleh: Indri Djangko

#FridayAlKahfiWeek9Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Jacobite Christianity atau Syrian Christianity menganggap bahwa pemuda di dalam gua adalah para santo/ saints (atau orang suci/kudus dalam kepercayaan kristen).

Mereka percaya bahwa para pemuda dalam gua ini ditemukan sekitar 120 tahun sebelum kedatangan Rasulullah shallalaahu ‘alayhi wa sallaam .

(Di tengah-tengah penjelasan, Ustaz kembali mengingatkan bahwa ini hanya bocoran, jadi fokuslah untuk mendengarkan Ustaz. Dengan kata lain jika masih ada penjelasan yang dirasa kurang atau loncat sana loncat sini, itu karena bagian ini hanya pengantar saja).

Perlu kita ingat, ini adalah catatan versi kristen ya, this is not the islamic records.

Kisah pemuda dalam gua adalah perkara besar bagi umat kristen. Tersiar kabar juga di antara mereka bahwa seorang raja kristen dari negeri yang jauh, seperti Yunani, datang untuk memberikan penghargaan bagi pemuda-pemuda gua ini ketika mereka ditemukan.

Perkara besar lainnya terjadi sekitar 100 tahun sebelum kelahiran Rasulullah shallalaahu ‘alayhi wa sallaam, bahwa pemuda-pemuda dalam gua ini ‘dibuatkan’ lagu dalam bahasa Yunani.

Melalui lagu-lagu itu, bangsa Yunani menutup cerita versi sebelumnya, menggantinya sehingga hilang sepenuhnya dari versi orang-orang kristen di Arab. 

Dan sekitar 2 tahun sebelum Rasulullah lahir, seorang rahib kristen menerjemahkan lagu-lagu Yunani tersebut ke dalam bahasa Arab supaya orang kristen Arab bisa menyanyikannya.

Di dinding gereja-gereja saat ini, juga terdapat lukisan 7 pemuda yang tidur di dalam gua.

Ternyata kisah pemuda dalam gua ini adalah perkara besar juga ya di kalangan umat Kristen.

Mungkin sekilas kita pernah tahu bahwa umat Kristen juga punya versi cerita tentang pemuda di dalam gua.

Tapi kita tidak tahu secara detil apa yang mereka yakini tentang pemuda di dalam gua, lagu-lagu apa yang mereka nyanyikan, mengapa kisah ini jadi penting dalam kepercayaan mereka.

Ustaz Nouman sendiri sangat tertarik untuk mencari tahu hal-hal tersebut.

Kira-kira kita sendiri bagaimana setelah mengetahui sejarah dan potongan yang hilang dari kisah pemuda dalam gua ini?

Jika kita mengetahui sejarah versi kristen, kemudian melihat penjelasan Allah dalam Al-Qur’an, wowwww maasyaa Allaah, Allah dengan begitu akuratnya mengoreksi kisah pemuda dalam gua ini.

📚📚📚

Jika kita tidak tahu sejarah versi Kristen, kita tidak akan tahu bahwa ada yang bisa kita bandingkan.

Mempelajari sejarah dari sisi Islam itu keren, tapi jika kita mau mempelajari historical context ini lebih luas, maka kita akan menemukan sesuatu yang keren dan awesome.

Well, ini hanya sedikit kudapan pembuka saja soal historical context. Hehe, jadi kita perlu sabar untuk menyimak detil sejarah lainnya, ya hehe.

📚📚📚

Kita lanjut sedikit lagi.

Orang kristen percaya bahwa para pemuda ini beserta anjingnya ditangkap. Mereka bahkan tidak bisa tidur. Mereka mencoba bersembunyi di dalam gua tetapi tetap tertangkap oleh raja pada masa itu.

Raja tersebut mengubur mereka hidup-hidup di dalam gua, menutup gua dengan bebatuan.  Dan mereka mati di dalam gua.

Dalam versi kristen juga, setelah 40 tahun (berdasarkan asumsi mereka), bukan 309 tahun, terdapat penggembala yang datang ke gua, memindahkan bebatuan dan menemukan para pemuda ini, dan mereka terbangun.

Apakah kisah di atas sama dengan kisah yang kita dapati di dalam Al-Qur’an?

No.

Al-Qur’an datang membela dan menjelaskan kejadian aktual dari para pemuda dalam gua ini, karena mereka adalah muslim.

Bagi orang-orang kristen, para pemuda ini adalah santo kristen, yang mengakui Yesus sebagai tuhan, padahal tidak begitu ceritanya.

Jadi Allah mengoreksi riwayat yang keliru ini dan meluruskannya kepada riwayat yang benar.

📚📚📚

Dari penjelasan pengantar ini, Ustaz Nouman mencoba memberi tahu bahwa ketika kita berbicara historical context, kadang kita perlu mempelajari juga sumber-sumber di luar Islam untuk memahami sejarahnya. 

Dalam metode mempelajari al-Qur’an a la Ustaz Nouman, beliau tidak segan untuk menggali sumber nasrani, yahudi, dan sumber non-muslim lainnya.

Apa tujuan Ustaz?

📚📚📚

(bersambung in syaa Allaahu ta’aalaa pekan depan)

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Al-Kahf > 02. Methodology of Studying the Quran – Al-Kahf – A Deeper Look (20:48:24:28)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s