[VoB2020] Two in One


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari Ke-64

Topik : Deeper Look Al-Fatiha

Senin, 24 Agustus 2020

Materi VoB Hari Ke-64 Pagi | Two in One

Oleh: Heru Wibowo

#MondayAlFatihahWeek10Part1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Minggu lalu kita telah belajar bahwa ‘alhamdulillah’ punya dua makna. Yakni, praise dan thanks atau, puji dan syukur.

Mungkin kita pernah mendengar ucapan ini: “Puji Tuhan.” Tentu saya pernah mendengarnya. Itu adalah ucapan dari rekan kita yang beragama lain. Saat saya mendengarnya, saya berpikir, sama nih kayaknya dengan ‘alhamdulillah’. 

Tapi ternyata beda. Saya belajar bahwa ‘alhamdulillah’ itu lebih powerful. Kenapa? Karena tidak hanya mengandung ‘puji’, tapi juga ‘syukur’. Two things at the same time

Apa bedanya?

Kita coba memahaminya sekarang. Karena keduanya memang tidak sama. 

Saat Anda berada di salah satu tempat ini: PIK Avenue, PIM, Street Gallery, Sency, Plaza Senayan, Plaza Indonesia, atau Grand Indonesia, cukup besar kemungkinannya Anda akan bertemu dengan mobil sport yang mewah.

Mungkin Anda secara spontan akan bilang, “Wow, mobilnya indah!” Entah suara Anda terdengar oleh orang-orang di sekeliling Anda, atau ucapan itu tersimpan dalam hati saja.

Apa yang baru saja Anda lakukan? Anda memuji mobil itu. Memuji mobilnya ya, bukan pemiliknya, karena akhir tahun lalu seribu seratus mobil mewah di DKI menunggak pajak 🙏

Tapi Anda hanya memuji saja. Anda tidak mengusap-usap mobil itu dengan penuh kasih sayang dan mengucapkan, “Terima kasih ya, BMW.” 

Tidak. Anda tidak melakukan itu. Anda tidak berterima kasih kepada mobil itu. Meski Anda memujinya. 

Jelas kan, bedanya? Anda memujinya karena keindahannya atau karena kinerjanya yang tinggi. 

Anda suka menonton bola. Bisa jadi Anda memuji Lionel Messi yang telah menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa di lima liga top Eropa. Lebih unggul dari Cristiano Ronaldo.

Tapi apakah Anda berterima kasih kepada Messi? Tidak. Anda tidak berterima kasih kepada Messi. Anda hanya memujinya. 

Jadi, beda. Berterima kasih dan memuji itu beda.

Sekarang, sebaliknya, ada ucapan terima kasih. Misalnya, someone does you a favor. Seseorang telah membantu Anda. Apa yang akan Anda lakukan?

Anda mengucapkan terima kasih. 

Jadi konteksnya berbeda.

Kadang-kadang kita memuji, tanpa mengucapkan terima kasih, dan kadang-kadang kita berterima kasih, tanpa memuji.

Memuji tanpa berterima kasih, contohnya gimana tuh? 

Anda bisa memuji keindahan pemandangan Gunung Rinjani, Gunung Semeru, atau Gunung Prau. Tapi Anda tidak berterima kasih kepada gunung-gunung tersebut. Anda berterima kasih kepada Allah. 

Anda bisa memuji kecantikan Pantai Pink di Pulau Komodo, Pantai Nihiwatu di Sumba, atau Pantai Derawan di Kalimantan Timur. Tapi Anda tidak berterima kasih kepada pantai-pantai tersebut. Anda berterima kasih kepada Allah. 

Sebaliknya, Anda bisa berterima kasih kepada seseorang, tapi Anda tidak memujinya. Mungkinkah itu? 

Ya. Mungkin. Itu benar-benar terjadi. Bahkan contoh-contohnya ada di Al-Qur’an.

Sayyidina Musa ’alayhis salam dibesarkan di rumah siapa? Memalukan sebenarnya kalau hanya disebut rumah. Karena ukurannya jauh lebih besar dari sekadar rumah. Lebih tepatnya adalah istana. Istana itu adalah milik Fir’aun.

Fir’aun membesarkan Nabi Musa. Memberinya makan. Memberinya pendidikan. Melindunginya. Setiap waktu. Dari tahun ke tahun. 

Dan saat Nabi Musa kembali ke Fir’aun, apa yang dikatakan Fir’aun?

اَلَمْ نُرَبِّكَ فِيْنَا وَلِيْدًا وَّلَبِثْتَ فِيْنَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِيْنَ

“Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.”

(QS Asy-Syu’ara’, 26:18)

Didn’t we raise you as a newborn?

Fir’aun mengingatkan Musa tentang semua hal yang telah dilakukannya untuk Musa. “Bisa-bisanya ya, kamu ngomong begitu sama aku? Padahal aku sudah melakukan segalanya untuk kamu!” 

Maka Musa ’alayhis salam mengakui dan berterima kasih kepada Fir’aun.

تِلْكَ نِعْمَةٌ تَمُنُّهَا عَلَيَّ

“……. itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku.”

(QS Asy-Syu’ara’, 26:22)

Musa mengakui bahwa Fir’aun telah melakukan banyak kebaikan kepadanya.

Ketika Anda bilang bahwa seseorang telah melakukan banyak kebaikan kepada Anda, apa itu artinya? Artinya, Anda berterima kasih kepada orang itu.

Tapi apakah Anda bisa menemukan Musa ’alayhis salam memuji Fir’aun? Tidak ada. Tidak mungkin. 

Jadi, Musa berterima kasih kepada Fir’aun, tapi tidak memujinya. 

Jadi pujian (praise) dan ucapan terima kasih (thanks) adalah dua hal yang berbeda.

Satu contoh lagi.

Allah bilang di Qur’an, bahwa kita perlu berterima kasih kepada Allah. Tapi Allah juga bilang,

نِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ

Be grateful to Me and be grateful to both of your parents. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.”

(QS Luqman, 31:14)

Sekarang mari kita bicara tentang Ibrahim ’alayhis salam.

Ibrahim ‘alayhis salam memiliki seorang ayah. Ada juga yang bilang, itu sebenarnya paman, bukan ayah. Tapi saat ini kita gunakan argumen bahwa Azar adalah ayahnya. 

Azar adalah pembuat patung. Dia sangat kesal dengan Ibrahim ’alayhis salam karena menolak untuk menyembah patung. 

Padahal Azar adalah ayahanda Ibrahim. Dan kita tahu bahwa setiap orang harus berterima kasih kepada ayahnya, iya kan? 

Ya. Ibrahim ’alayhis salam berterima kasih kepada ayahnya. Tapi tentu saja Ibrahim tidak akan memuji ayahnya. Ibrahim ’alayhis salam tidak bisa memuji apa yang dilakukan ayahnya. 

Jadi poin pertama yang perlu dipahami adalah bahwa hamd (حَمْد) berarti praise and thanks. Pujian dan ucapan terima kasih. Keduanya menyatu dalam satu kata: hamd.

Tapi kita tahu bahwa pujian (praise) itu sendiri, sebagai sebuah kata yang berdiri sendiri, punya makna, dan ucapan terima kasih (thanks) itu sendiri, sebagai sebuah kata yang berdiri sendiri, juga punya makna yang lain.

Jika Qur’an bilang almad-hu lillaah (اَلْمَدْحُ لِلّٰهِ). Maka artinya hanya terbatas pada praise belongs to Allah. Pujian saja, tanpa ucapan terima kasih. Jadi ini mirip dengan ucapan ‘puji Tuhan’.

Terjemahan ‘segala puji bagi Allah’ adalah terjemahan yang oke jika bahasa Arab-nya adalah almad-hu lillaah. Karena almad-hu (اَلْمَدْحُ) artinya memang pujian saja.

Jika Qur’an bilang ats-tsanaa-u lillaah (اَلثَّنَاءُ لِلّٰهِ). Sebuah kata yang lain dalam bahasa Arab untuk pujian yang lebih rinci. Lagi-lagi, tidak masalah jika terjemahannya menjadi praise belongs to Allah. Pujian saja, tanpa ucapan terima kasih. 

Jika Qur’an bilang asy-syukrulillaah (اَلشُّكْرُ لِلّٰهِ). Maka artinya hanya terbatas pada thanks belongs to Allah. Atau thanks to Allah. Ucapan terima kasih saja, tanpa pujian. 

Tapi Al-Qur’an tidak bilang almad-hu lillaah. Tidak juga ats-tsanaa-u lillaah. Tidak juga asy-syukru lillaah. Tapi alhamdu lilaah.

Allah menggabungkan dua kata menjadi satu. 

Presisi. Luar biasa! Itulah Al-Qur’an. Itulah kitab yang paripurna. Setiap kata yang ada di dalamnya telah dipilih dengan begitu sempurna. 

Tapi kenapa ya, Allah menggabungkan kedua kata itu?


Materi VoB Hari Ke-64 Siang | Our Religion Begins with a Positive Attitude

Oleh: Heru Wibowo

#MondayAlFatihahWeek10Part2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Mengapa Allah menggabungkan kedua kata itu?

Akankah kita menjadi hamba-Nya yang hanya memuji-Nya, tapi tidak pernah berterima kasih kepada-Nya?

Just praising Him but not thanking Him?

Atau akankah kita menjadi hamba-Nya yang hanya berterima kasih kepada-Nya, tapi tidak pernah memuji-Nya?

Just thanking Him but not praising Him?

Sikap kita terhadap Allah adalah lebih komprehensif dari itu.

Allah telah memilih kata itu. The best possible word. Kata terbaik yang ada untuk melukiskannya.

Kata alhamdu lillaah ingin memberitahu kita, bahwa apapun yang Allah lakukan, kita harus punya dua sikap pada saat yang sama.

Ada dua hal yang harus terjadi di kepala saya, ketika saya mengucapkan alhamdu lillaah. Apapun alasan saya mengucapkannya.

“Hai, bagaimana penerbanganmu?”

“Alhamdulillah.”

Dua hal. Apa dua hal itu?

Saya memuji Allah atas penerbangannya, dan saya berterima kasih kepada Allah atas penerbangannya.

Tapi kadang-kadang, apa yang kita lakukan dengan mengucapkan alhamdu lillaah?

“Alhamdulillah punggung saya sakit.”

“Alhamdulillah flight attendant yang melayani kami tadi benar-benar enggak sopan.”

Ini adalah contoh-contoh penerapan pengucapan kata alhamdu lillaah yang aneh.

Seakan-akan kita mengucapkan alhamdulillah, lalu buru-buru melakukan undo terhadap ucapan itu. Seakan-akan kita mengucapkan alhamdulillah, lalu membatalkannya seketika.

Atau Anda melihat seseorang yang sedang terserang bad mood. Lalu Anda menyapanya, “Hai, ada apa gerangan?”

Dia pun menjawab, “Ya, beginilah hidup ini, jalanin aja, alhamdulillah.”

Apakah contoh tadi menggambarkan sikap yang tepat dalam mengucapkan alhamdulillah?

Poinnya adalah, Anda harus menemukan alasan untuk memuji Allah. 

Anda harus menyiapkan mental Anda untuk menemukan alasan, alasan yang sebenar-benarnya dan tidak dibuat-buat, untuk memuji Allah dan juga berterima kasih kepada-Nya.

Ada beberapa hal mendasar yang ingin diseberangkan. Dari Bayyinah TV ke para pembaca VoB. Jembatan penyeberangannya adalah media WhatsApp ini.

Yang pertama adalah, ketika Anda memuji sesuatu, Anda tidak bisa memujinya dan sekaligus mengeluhkannya pada saat yang sama.

Bisa? Anda bisa melakukannya? Enggak lah. Sangat-sangat sulit untuk melakukan itu.

Oke. Mungkin ada orang-orang tertentu yang pintar melakukannya. 

“Masya Allah, pidatonya hebat sekali! Begitu berapi-api! Mengingatkanku pada Bung Karno. Atau Bung Tomo. Audiens jadi semangat. Tapi aku tidak setuju sama kamu. Sama sekali tidak setuju. Dan kamu sebaiknya ke laut aja!”

He-he-he. 

Memuji, tapi sekaligus ‘membanting’ orang yang dipuji, atau ‘membuang’ orang tadi ke laut. Artinya, orang yang baru saja kita puji, tidak punya lagi tempat di antara kita di daratan dan layak terkatung-katung, jika perlu tenggelam, di lautan yang sunyi.

Kadang-kadang ada yang menulis email seperti itu juga.

Kalimat-kalimat pertamanya berisi sanjungan dan pujian yang indah-indah yang bisa membuat kita terbuai. Tapi kalimat-kalimat berikutnya berisi hujatan. Seakan-akan melakukan undo terhadap semua kalimat pertama tadi.

Tapi ketika Anda memuji seseorang dengan jujur, dengan sungguh-sungguh, dari lubuk hati yang paling dalam, maka sikap Anda adalah sikap yang positif. Tidak ada keluhan. Anda melihat sisi positifnya. Anda tidak melihat sisi negatifnya.

Jika Anda melihat sisi positifnya, maka akan mudah bagi Anda untuk melakukan hamd. Untuk mengucapkan alhamdulillah.

Tapi jika Anda melihat sisi negatifnya, secara praktis, tidak mungkin Anda melakukan hamd. Tidak mungkin Anda mengucapkan alhamdulillah.

Apa poinnya, yang ingin diseberangkan di sini?

Our religion begins with a positive attitude.

Bahwa agama kita, diawali dengan sikap yang positif.

Optimism is part of our faith.

Sikap selalu mempunyai harapan yang baik dalam segala hal adalah bagian dari agama kita.

Pessimistic people who are always negative, who are always looking at what’s wrong, what’s wrong with our community, what’s wrong with our masjid, what’s wrong with our government, what’s wrong with my friends, what’s wrong with my family, what’s wrong with my in-laws, what’s wrong with me, what’s wrong with my health, what’s wrong with my job, they don’t understand what they’re saying when they stand in front of Allah, and say what? Alhamdu lillaah.”

Apa poinnya?


Materi VoB Hari Ke-64 Sore | Genuine and Sincere Gratitude

Oleh: Heru Wibowo

#MondayAlFatihahWeek10Part3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Poinnya, saat kita berdiri di hadapan Allah dalam solat dan kita mengucapkan atau mendengarkan imam mengucapkan alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin, kita seharusnya memiliki sikap yang positif. Seratus persen positif. 

Tidak bisa kita mengucapkan alhamdulillah tapi dalam benak kita berkecamuk pikiran-pikiran negatif.

Tidak bisa kita mengucapkan alhamdulillah tapi kita selalu melihat apa yang salah dari setiap kejadian atau keadaan.

Apa yang salah dengan masyarakat kita?

Apa yang salah dengan komunitas kita?

Apa yang salah dengan masjid kita?

Apa yang salah dengan pemerintah kita?

Apa yang salah dengan teman-temanku?

Apa yang salah dengan keluargaku?

Apa yang salah dengan mertuaku?

Apa yang salah dengan ipar-iparku?

Apa yang salah dengan diriku?

Apa yang salah dengan kesehatanku?

Apa yang salah dengan pekerjaanku?

Apa yang salah dengan bosku?

Atau, kita bisa bergabung dengan Bu Tejo, pemeran film pendek berjudul Tilik yang viral hingga jutaan viewers di YouTube itu, menyeruak di kerumunan emak-emak yang naik truk kuning AB 9727 GW dan ikut-ikutan berpikir negatif:

Apa yang salah dengan bu Lurah?

Apa yang salah dengan anak laki-laki bu Lurah?

Apa yang salah dengan si wanita penggoda? 

Jika kita memikirkan salah satu, atau bahkan semua, pertanyaan di atas, saat berdiri di hadapan Allah dalam solat, maka kita belum sepenuhnya memahami dan menghayati makna alhamdu lillaah

It’s a change of thought. Ucapan ‘alhamdulillah’ menuntut pikiran kita untuk berubah. Dari berpikir negatif menjadi berpikir positif. Tidak fokus pada sisi negatif sebuah kejadian atau situasi. Tapi fokus pada sisi positifnya.

It’s a complete change in attitude. Ucapan ‘alhamdulillah’ menuntut perubahan sikap kita. Perubahan sikap yang total. 

Itu adalah hal pertama yang perlu dipahami. Perubahan pikiran dan sikap saat mengucapkan alhamdu lillaah. Seratus persen berpikiran positif. Sikap yang juga totally positif.

Ada satu hal lagi yang juga penting. Para ulama berpendapat bahwa kata hamd berarti pujian dan ucapan terima kasih yang tulus. Benar-benar tulus. Tidak dibuat-buat atau sedang bermain watak (genuine). Tidak ada kesenjangan antara kata dan perbuatan (sincere). 

Itu penting sekali.

Jika seorang polisi memberhentikanku, dan aku tahu aku barusan ngebut, melebihi batas kecepatan yang diperbolehkan, dan begitu sang polisi mendekat, aku langsung menyapa, “Wah, seragamnya bagus, Pak.” 

Saya memujinya, tapi saya memujinya sebenarnya bukan karena seragamnya yang bagus. Saya memujinya karena saya ingin menghemat sejumlah uang. Jadi pujian saya tadi sebenarnya bukanlah pujian yang tulus.

Atau contoh lainnya. Seorang suami berjanji kepada istrinya. Pulang kantor jam 8 malam. Ternyata molor tiga setengah jam. Baru nyampe rumah jam setengah dua belas malam. 

Sang suami masuk rumah. Istrinya sudah berdiri di sana. Diliriknya istrinya sekejap. Sepertinya kepala istrinya berasap. Amarahnya sepertinya sudah sampai di kepala. 

Lalu sang suami tersenyum. Menyapa, “Kamu tampak cantik hari ini.” 

Apakah pujian tadi ‘diterima’ oleh istrinya?

”Ehhheeemmmm,” istrinya bereaksi. Bukannya tersanjung. Tapi menganggap pujian itu hanya angin lalu. Masih enggak terima suaminya pulang selarut itu. 😡😡

Hamd necessitates that the praise is genuine. 

Hamd necessitates that the gratitude is genuine. 

Hamd mengharuskan bahwa pujiannya tulus, dan ucapan terima kasihnya juga tulus.

Ada satu hal lagi tentang gratitude yang juga perlu kita pahami. Yaitu bahwa ucapan terima kasih (gratitude) adalah sebuah ‘reaksi’. 

Dengan kata lain, jika saya membantu mereparasi mobil Anda, setelah mobilnya beres dan tokcer, Anda akan bilang terima kasih. 

Jika Anda membutuhkan bantuan saya untuk menerjemahkan sesuatu. Lalu saya melakukannya. Menerjemahkan sekian halaman sesuai permintaan Anda. Maka setelah kelar terjemahannya, Anda akan bilang terima kasih.

Harus ada sesuatu yang dilakukan untukku, dan aku bereaksi dengan mengucapkan terima kasih.

Jadi dapat kita katakan bahwa ucapan terima kasih adalah sebuah reaksi.

Tapi, ucapan terima kasih akan menjadi sebuah reaksi jika saya menerima perbuatan baik yang ditujukan untuk saya itu. 

Jadi, harus ada orang yang berbuat baik kepada saya, lalu saya menerima perbuatan baiknya itu, barulah saya mengucapkan terima kasih.

Bisa saja terjadi, seseorang berbuat baik kepada Anda, seseorang berdoa untuk kebaikan Anda, tapi Anda tidak mengetahui bahwa dia berbuat baik atau berdoa untuk Anda.

Maka Anda tidak akan pernah berterima kasih kepada orang itu yang diam-diam berbuat baik atau mendoakan Anda itu.

Sekarang, kembali ke laptop.

Ketika Allah bilang hamd. Allah tidak menggunakan kata syukr. 

Dan dengan tidak menggunakan kata syukr, sebenarnya ucapan terima kasih untuk Allah memang layak ditujukan untuk Allah, terlepas apakah Anda menyadari apa yang telah Allah anugerahkan untuk Anda atau tidak.

Itu sedikit banyak bedanya antara hamd dan syukr

Jadi bukan hanya pujian tapi juga ucapan terima kasih. Ucapan terima kasih ini tidak terbatas pada ucapan terima kasih sebagai sebuah reaksi.

Bagaimana jika ada orang yang bertanya, “Untuk apa saya harus berterima kasih sama Allah?”

(bersambung in syaa Allaah minggu depan)

One thought on “[VoB2020] Two in One

  1. sangat bagus sekali..

    bagaimana dg kalimat ucapan nabi saw apabila mendapat sesuatu yg tidak beliau senangi beliau ucapkan “alhamdulillah ala kulli haal?”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s