[VoB2020] Berbuat Baik kepada Orangtua, Bagaimanapun Kondisi Mereka


Voice of Bayyinah’ (VoB) Hari ke-62
Topik: Parenting
Sabtu, 22 Agustus 2020

Materi VoB Hari ke-62 Pagi | Berbuat Baik kepada Orang Tua, Bagaimanapun Kondisi Mereka

Ditulis oleh: Nurfitri Anbarsanti
#SaturdayParentingWeek9Part1

Part 1

————————————————————–
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Salah satu hal yang paling buruk yang kita lakukan adalah membiarkan hubungan kita dengan anak kita hancur dan ‘merasa baik-baik saja’ dengan hal itu.

Anak-anak kita banyak yang tidak punya hubungan yang baik dengan ayah mereka. Ayah mereka mudah sekali marah pada anak-anak mereka, padahal anak-anak itu hanya mengganggu atau bikin kesal sedikit aja. Para ayah mungkin akan bilang bahwa mereka akan berhenti memarahi anak-anak mereka kalau saja anak-anak mereka juga berhenti ‘mengganggu’ mereka.

Lalu karena terlalu sering dimarahi oleh ayah mereka, anak-anak mulai berhenti mengobrol dengan ayah-ayah mereka, mulai ingin pergi dari rumah, dan mulai enggak tahan dengan ayah mereka.

Mari kita renungi ayat berikut ini:

يٰيَحْيٰى خُذِ الْكِتٰبَ بِقُوَّةٍ ۗوَاٰتَيْنٰهُ الْحُكْمَ صَبِيًّاۙ

”Wahai Yahya! Ambillah Kitab itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak,”

وَّحَنَانًا مِّنْ لَّدُنَّا وَزَكٰوةً ۗوَكَانَ تَقِيًّا ۙ

”dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang dari Kami dan sifat bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa,”

وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

”dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka.” (QS Maryam, 19:12-14)

Allah ﷻ mendeskripsikan seorang anak yang baik dalam Al-Qur’an, yaitu Nabi Yahya a.s dengan وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَيْهِ. Yahya a.s. adalah anak yang sangat baik dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Padahal, Nabi Zakariya a.s. adalah sosok yang sudah sangat sepuh saat memiliki anak. Karena itulah ada jarak umur yang sangat jauh antara Nabi Yahya a.s. dan Nabi Zakaria a.s.

Jarak umur mereka sangat jauh, tapi Nabi Yahya a.s. masih saja sangat baik kepada orang tuanya. ‘Perbedaan umur yang jauh’ ini disorot, karena dengan kita semakin tua, maka kita akan semakin berbeda dengan anak kita. Generasinya sangat berbeda, budayanya sangat berbeda, cara berpikirnya juga sangat berbeda.

Jika orang tua kita semakin tua, maka biasanya kita sebagai anak akan merasa asing karena para lansia biasanya tidak terlalu nyambung dengan kondisi kekinian.

Tapi, dengan perbedaan umur yang sangat jauh dengan orang tuanya, Nabi Yahya a.s. masih saja berbuat sangat baik kepada orang tuanya. Nabi Zakaria a.s. membesarkan anaknya sedemikian rupa sehingga bagaimanapun kondisi Nabi Zakaria a.s. sebagai orang tua, Nabi Yahya a.s. masih saja bersikap baik kepada kedua orang tuanya.

Jadi yang seharusnya kita pikirkan sebagai orang tua adalah nilai-nilai apa saja sih yang ingin kita berikan kepada anak-anak kita, sehingga mereka ingin menjadi orang yang baik dan berbakti atas keputusan mereka sendiri. Dan mereka melakukan itu benar-benar karena Allah ﷻ bukan karena karena orang tuanya.

Begitulah وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَيْهِ…

Di sisi lain, Allah ﷻ menjanjikan kita sesuatu jika kita menjalankan peran kita sebagai orang tua dengan baik. Apakah itu?

—————————————————————
Sumber:
Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 04. Children are a Blessing Part 3 – Parenting
(0:18:35- 0:20:00)
Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 05. Children are a Blessing Part 4 – Parenting
(0:00:00- 0:05:00)

Bersambung إنْ شاء الله ba’da Zhuhur 😊

✨👶🏻👦🏻👨🏻🧔🏻👴🏻✨

Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-62 Pagi | Berbuat Baik kepada Orangtua, Bagaimanapun Kondisi Mereka

Ummu Nizzai:
Assalamualaikum…akhi/ukhti bs mnt link terbaru dr grub ini untuk anggota baru, jazakillah

Heru Wibowo:
Wa’alaykum salaam.

Pertama, mohon maaf jika ada yang mencoba masuk ke VoB 7 tapi sudah full tadi malam.

Kedua, menginformasikan bahwa VoB 8 sudah dibuka dan dipersilakan untuk bergabung di grup delapan ini.

https://chat.whatsapp.com/K3wzj1RNdm4DMohA9xyiBH

Arif Kelana:
Klo kita lihat sehari hari, kakek atau nenek yg selisih umur nya jauh dr cucu nya, hubungan mereka lebih dekat dan saling mengisi.
Maaf apakah karena selisih umur itu juga yg menyebabkan Nabi Zakaria dan Nabi Yahya jadi lebih baik? 🙏🏼

Rena Liansari:
Ijin berpendapat ya kak. Menurut saya, kasus ini tidak bisa digeneralisasi dan dijadikan patokan. Banyak hubungan ortu dan anak yg baik2 saja, ada juga hubungan kakek nenek dan cucu yang gak baik. Begitu pula sebaliknya. Tapi, Al Quran memiliki pedoman yang jelas bahwa kalau ingin memiliki anak yang berbakti, maka ortu harus “berbakti” terlebih dahulu pada anak. Sebagai bentuk syukur dan contoh bagi anak2nya. Jadi, ini bukan perkara umur sebenarnya. Tapi perkara kedekatan dengan agama Allah. 🙏🏻

Nf:

Ijin memberi pendapat..
Kemarin sudah dijelaskan mengenai rezeki nenek-cucu yang isinya kurang lebih menggambarkan alasan mengapa cucu-kakeknenek lebih dekat dibanding ortu. Mereka bahkan lebih sayang cucu dibanding anak. Monggo bisa dilihat kembali

Gustya Indriyani:

Masya Allah… terima kasih sudah mengingatkan, Kak Nida.

Saya copas materi tgl 25 Juli lalu ya Kak:

Anak-Anak Adalah Rezeki

Oleh: Icha Farihah

#SaturdayParentingWeek5Part1

Part 1

🏠🏠🏠🏠🏠

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Memaknai Anak dan Cucu Sebagai Rezeki

وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَجَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةٗ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ وَبِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ هُمۡ يَكۡفُرُونَ

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS An-Nahl, 16: 72)

Pada ayat ini, Allah sampaikan bahwa anak dan cucu adalah rezeki. Allah memisahkan kata anak dan cucu karena mereka adalah sesuatu yang berbeda. Rasa memiliki anak dan cucu berbeda. Terkadang seorang nenek / kakek memperlakukan cucu amat baik. Berbeda sekali perlakuannya jika dibandingkan terhadap anak.

Ustaz Nouman menceritakan bahwa beliau sering mengunjungi ibunya bersama anak-anak. Saat berkunjung, anak-anaknya diperlakukan sangat manis. Perlakuan yang sangat berbeda dengan perlakuan ibu kepadanya. Ustaz sampai iri dengan anak-anaknya sendiri. Sebenarnya siapa yang anak dan siapa yang cucu.

Akhirnya, ustaz memprotes dan menanyakan ini kepada ibunya, “Bu, aku itu anak laki-laki, Ibu. Tapi, kenapa Ibu malah lebih baik dan sayang dengan anak-anakku? Kenapa perlakuan Ibu sangat berbeda?” Ibu memberi jawaban yang masuk akal, “Sebuah kebahagiaan bagi Ibu memiliki anak, tanpa perlu memikirkan tanggung jawabnya.”

Seorang nenek / kakek melihat cucu mereka sebagai sosok anak yang manis tanpa tumpukan tanggung jawab. Mereka tidak perlu mengganti popok sang anak yang sudah bau, membantu mengerjakan pekerjaan rumah (PR), memastikan anak-anak sudah tidur di waktu yang seharusnya, dan rentetan tanggung jawab lainnya. Makanya, nenek / kakek merasa bahagia dan sangat baik terhadap cucu-cucunya.

Jadi, dari sini kita mengetahui bahwa Allah berikan rezeki berupa anak, kemudian di usia lebih lanjut rezeki itu juga berupa cucu. Rezeki yang mungkin saja terlewat untuk disyukuri. Jika ada dari pembaca yang sudah memiliki cucu. Maka Allah ingatkan melalui ayat ini untuk bersyukur. Allah berikan kebahagiaan juga lewat cucu-cucu kita.

Berperan Sesuai Porsi

Seorang nenek / kakek harus menyesuaikan perannya dengan benar. Cukup menjadi seorang nenek / kakek. Jangan mencoba untuk menjadi orang tua bagi sang cucu. Jangan menjadi sesuatu yang bukan haknya.

Terkadang, nenek / kakek merasakan ‘cinta buta’ kepada sang cucu. Kita sering mendengar seorang nenek / kakek menasihati anak-anaknya tentang cara mendidik anak dengan benar. Nenek / kakek akan mengatakan, “Jangan terlalu keras mendidik anak-anakmu itu.” Ucapan seperti ini biasanya karena nenek / kakek merasa tidak tega terhadap didikan orang tua kepada sang cucu. Padahal tanggung jawab mendidik memang ada pada orang tua.

Seorang nenek / kakek memang tahu betul tentang anaknya. Tapi pengetahuan tentang sang cucu, mereka hanya tahu sedikit sekali. Mereka mungkin hanya melihat sekilas keadaan sang cucu ketika berkunjung. Sedangkan keseluruhan perilaku dan sifat sang cucu tidak nampak. Hanya orang tualah yang mengerti. Maka, para orang tua memang sudah seharusnya bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anak menjadi sosok yang disiplin dan paham agama.

Jadi, tidak apa memberikan cinta kepada sang cucu. Tapi, tetap mainkan peran sebagai seorang nenek / kakek dengan porsi yang sesuai.

🏠🏠🏠🏠🏠

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Parenting > 03. Children are a Blessing Part 2 – Parenting (00:00:40 – 00:08:50)

(bersambung iA ba’da zhuhur)

Olivia Firdaus CFP:

Terima kasih kak @Gustya Indriani

Gustya Indriani:
Sama-sama, Mbak Olivia 🤗😊
Dewanto Adi Nugroho:
Assalamu’alaikum Min, bila ingin mengajak orang lain masuk grup ini, boleh minta linknya? 🙏🏻

Heru Wibowo:

Wa ‘alaykum salam mas Dewanto.

Mohon maaf sebelumnya, kami menutup grup saat sudah mencapai 250.

Silakan, rekan mas Dewanto bisa bergabung di grup 8.

https://chat.whatsapp.com/K3wzj1RNdm4DMohA9xyiBH

Daun:

Assalamualaikum..

Apakah grup 8 akan memulai pembahasan dr awal min?

Klo iya, apakah lebih baik sy pindah ke sna, supaya bisa dapat materi awal?

Dewanto Adi Nugroho:

jazaakumullaah khairan

Gustya Andriani:
Wa ‘alaykumsalam warahmatullah 😊

Pembahasan di Grup 8 insya Allah akan sama dengan materi di grup 1 s.d. 7. Materi-materi sebelumnya insya Allah dapat diakses di tautan yang dikirimkan oleh kami

Daun:

Baik.. berati ga perlu pindah ya min..

Maaf tautan yg mna ya?

Gustya Andriani:

Iya, tidak perlu pindah grup 😊

Untuk tautannya, sebentar saya cek dulu ya

Untuk saat ini, materi-materi sebelumnya dapat dilihat di:

https://nakindonesia.com/category/voice-of-bayyinah/

Daun:

Alhamdulillah..

Jazakillah khairan bu.. 💖🙏🏻

Gustya Andriani:

Untuk pembahasan per materi, ada yang sudah dapat dilihat pada tautan-tautan berikut:
RESUME MATERI LAST AYAH OF FATIHAH 🌸 :

22 June 2020
https://nakindonesia.com/2020/06/26/lbp2020-tiada-hari-tanpa-petunjuknya/

29 June 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/05/lbp2020-teruslah-berprogres/

6 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/14/deeper-look-al-fatihah/

13 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/21/lbp2020-deeper-look-al-fatihah/

20 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/28/lbp2020-petunjuk-itu-nyata/

27 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/08/07/keseimbangan-dalam-al-quran/

RESUME MATERI PEARLS FROM ALI IMRAN 🌺 :

24 June 2020
https://nakindonesia.com/2020/06/28/lbp2020-pasangan-al-baqarah-ali-imran/

1 July 2020

https://nakindonesia.com/2020/07/08/lbp2020-kemiripan-antara-surah-ali-imran-dan-surah-al-baqarah/

8 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/16/lbp2020-similarities-between-ali-imran-and-al-baqarah/

15 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/23/memaknai-al-hayyu-dan-al-qoyyum/

22 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/30/lbp2020-diturunkan-atasmu/

29 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/08/06/lbp2020-kitab-yang-mengandung-kebenaran/

RESUME MATERI PEARLS FROM AL-BAQARAH 🌹

23 June 2020
https://nakindonesia.com/2020/06/26/gelombang-keterkejutan-dalam-surat-al-baqarah/

30 June 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/07/lbp2020-alif-lam-mim/

7 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/15/lbp2020-ketidaktahuan-yang-membawa-manfaat/

14 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/22/lbp2020-al-kitab-rayb-dan-al-muttaqin/

21 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/29/lbp2020-di-mana-letak-keajaiban-al-quran/

28 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/08/06/lbp2020-kedekatan-kita-dengan-al-quran-jenis-kedua/

RESUME MATERI DIVINE SPEECH 🌼 :

25 June 2020
https://nakindonesia.com/2020/06/29/lbp2020-kalam-ilahi/

2 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/09/lbp2020-pengantar-tentang-al-quran/

9 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/17/the-quran-from-literature-perspective/

16 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/24/lbp2020-the-quran-from-a-literary-perspective/

23 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/31/lbp2020-pentingnya-bahasa-arab-klasik/

30 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/08/07/lbp2020-pendahuluan-mengenai-verbal-idioms/

RESUME MATERI PEARLS FROM AL-KAHFI 💐 :

26 June 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/01/lbp2020-melakukan-pendekatan-kepada-al-quran/

3 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/10/lbp2020-how-to-approach-the-quran-the-first-lesson/

10 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/18/lbp2020-how-to-approach-the-quran/

17 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/26/lbp2020-a-road-to-guidance/

24 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/08/04/menerapkan-al-quran-ke-dalam-praktek/

MATERI RESUME PARENTING 👨‍👩‍👧‍👦

27 June 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/03/lbp2020-parenting-quranic-wisdom/

4 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/11/lbp2020-anak-anak-adalah-keberkahan/

11 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/19/lbp2020-children-are-a-blessing/

18 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/25/children-are-a-blessing-2/

25 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/08/02/lbp2020-anak-anak-adalah-rezeki/

RESUME MATERI LEADERSHIP 👮🏻‍♀️👮🏻‍♂️ :

28 June 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/06/lbp2020-ketika-muslim-bekerja-sama/

5 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/12/lbp2020-set-our-clear-limits/

12 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/20/grand-vision-of-islam-community/

19 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/07/27/lbp2020-leadership-workshop/

26 July 2020
https://nakindonesia.com/2020/08/03/lbp2020-enrichment-itu-sangat-penting/

Daun:

Masyaallah.. 💖

Jazakumullahu khairan buat semua admin & team VoB..

Semoga menjadi pahala jariyah.. aamiin..

Gustya Andriani:
Aamiin.. semoga barokah bagi kita semua 🤲🏼😊


Materi VoB Hari ke-62 Siang | Janji Allah bagi Orang Tua yang Menjalankan Perannya dengan Baik

Ditulis oleh: Nurfitri Anbarsanti
#SaturdayParentingWeek9Part2

Part 2
————————————————————–
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Jika kita menjalankan peran kita sebagai orang tua dengan benar, maka Allah ﷻ tidak hanya menjanjikan kepada kita bahwa kita akan diberikan anak-anak yang baik.

Tetapi Allah ﷻ juga menjanjikan kepada generasi selanjutnya – yaitu generasi yang datang setelah generasi orang-orang yang sholeh – kekuasaan atas bumi.

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

”Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan amal sholeh, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,

dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan diin yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.

Mereka (tetap) mengabdi kepadaKu dengan tidak mempersekutukanKu dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa kafir setelah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nuur 24:55)

Allah ﷻ akan memberikan kekuasaan kepada mereka sehingga mereka bisa hidup dengan menerapkan Islam yang kaffah di atas bumi ini.

“وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ”

Allah ﷻ telah berjanji kepada orang-orang mu’min dan beramal sholeh, bahwa Dia akan menjadikan mereka ‘pengganti’ atau ‘penguasa’ di bumi.

Istikhlaf (اسْتِخْلَفَ ) tidak hanya berarti bahwa merekalah (yaitu orang-orang mu’min dan beramal sholeh tadi) yang akan menjadi ‘pengganti’ atau ‘penguasa’, tetapi generasi selanjutnya juga. Istikhlaf juga digunakan saat kita menjadikan anak-anak kita sebagai generasi ‘pengganti’ kita.

Jadi, di ayat ini, Allah ﷻ berjanji pada orang-orang mu’min dan beramal sholeh, bahwa keadaan mereka itu akan menjadi baik dan begitu pula generasi-generasi pengganti yang melanjutkan mereka.

“وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ”

Allah ﷻ akan menegakkan diin untuk mereka, diin yang Allah ﷻ ridhai dan senangi (yaitu diin Islam, red). Dan Allah ﷻ akan menggantikan rasa ketakutan dan situasi yang pelik pada mereka, menjadi situasi yang aman dan damai.

Seperti misalkan kita hidup dalam situasi yang menakutkan, misal situasi perang atau konflik, seperti yang terjadi pada saudara-saudara kita umat Islam di Palestina, Suriah, Cina, Myanmar dan berbagai belahan dunia lainnya saat ini.

Lalu kita semua secara serentak menjalankan peran kita sebagai orang tua dengan baik, maka kondisi generasi selanjutnya akan terangkat, dan Allah akan memberikan kekuasaan dan otoritas kepada umat Islam untuk menegakkan Islam, sehingga umat Islam tidak berada dalam ketakutan dan ancaman lagi.

Umat Islam akan punya kekuasaan dan kekuatan untuk melindungi umat Islam dari otoritas yang sewenang-wenang. Janji Allah ini berlaku secara kolektif untuk seluruh umat Islam, jika kita serentak menjalankan tugas kita sebagai orang tua dengan baik bersama-sama dan jika kita hanya fokus untuk memperbaiki perbuatan dan amal-amal kita.

Di ayat ini, Allah ﷻ tidak menekankan parenting sebanyak Allah ﷻ menekankan tanggung jawab pribadi. Karena sebenarnya الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ adalah tentang diri kita, bukan tentang anak-anak kita. Karena ini artinya adalah ‘orang-orang yang memiliki iman dan beramal sholeh’, bukan ‘anak-anak yang sholeh’.

Sehingga Allah ﷻ menjanjikan kepada kita generasi yang hebat, jika kita menjadi orang yang memiliki ‘iman dan amal sholeh’.

Tapi, apa yang terjadi saat ini?

—————————————————————
Sumber:
Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 04. Children are a Blessing Part 3 – Parenting
(0:18:35- 0:20:00)
Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 05. Children are a Blessing Part 4 – Parenting
(0:00:00- 0:05:00)

Bersambung إنْ شاء الله ba’da Ashar 😊

✨👶🏻👦🏻👨🏻🧔🏻👴🏻✨

Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-62 Siang | Janji Allah bagi Orang Tua yang Menjalankan Perannya dengan Baik

Rakhmat Irawan:
👍👍
Nur H:

Ya Allah 😭 Saya sedang mendengarkan podcast “seni berbicara dengan anak” dan merasa bahwa saya masih jauuuuh dari yg seharusnya dan sempat merasa down… tapi membaca pesan ini langsung semangat lagi!

Hain:

Afwan….

Ada koreksi sedikit dari penulis,

“istikhlaf seharusnya ditulis استِخْلاَف
🙏🏼”

Dian:

Masya Allah. Jazakumullah khair🥰

Sabrina Rifai:

Alhamdulillah…
Tks admin…yg sdh mengirim semua materi unt kami..smg bermanfaat dan jadi amal jariah bagi admin…Aamiin YRA.

Sumaryati:
Hain:

Jazakumullahu khayron buat teman2 yg senantiasa mendoakan Tim 🙏🏻


Materi VoB Hari ke-62 Sore | Menjadi Teladan bagi Anak-Anak Kita Sendiri

Ditulis oleh: Nurfitri Anbarsanti
#SaturdayParentingWeek9Part3

Part 3
————————————————————–
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Yang terjadi pada kita, umat Islam saat ini, kebanyakan orang tua muslim fokus pada keislaman anak-anak mereka saja. Misalnya, anak-anak harus tahu bagaimana cara berdoa, anak-anak harus hormat pada orang tua mereka, anak-anak harus hafal Al-Qur’an, dan seterusnya.

Tetapi kebanyakan orang tua muslim seperti tidak ada keinginan untuk memperbaiki diri sebagai seorang muslim sama sekali. Padahal, Allah ﷻ berjanji akan memberikan generasi selanjutnya yang hebat jika kita, para orang tua, bersedia mengubah diri kita sendiri.

Kebiasaan kita saat ini, orang tua hanya mengantar anaknya ke sekolah, lalu menjemput mereka setelah sekolahnya selesai. Tapi apakah kita pikir dengan menitipkan anak kita di sekolah Islam, maka semua masalah pendidikan akan selesai?

Inilah fokus kita kali ini. Kita harus berubah. Kita sebagai orang tua harus berubah.

Jika anak-anak melihat orang tuanya menganggap enteng sholat, yang melaksanakan sholat hanya sebagai penggugur kewajiban seperti burung patuk, mana mungkin anak-anak bakal peduli pada sholatnya?

Jika anak-anak melihat orang tuanya saling membentak dan bertengkar terus menerus, mana mungkin anak-anak bisa belajar respect?

Jika ibu mereka enggak respect pada ayah mereka, mereka akan pikir, “Kenapa saya harus respect pada ayah saya?”

Jika anak-anak enggak melihat ayah mereka respect pada ibu mereka, mereka akan pikir, “Kenapa saya harus respect pada ibu saya?”

Jika anak-anak melihat ayah-ayah mereka mantengin handphone terus menerus, mereka akan pikir “Kenapa saya harus sibuk mempelajari Islam dan mencari kebenaran?”

Jika anak-anak melihat ibu-ibu mereka sibuk bergosip dan ghibah membicarakan ibu-ibu lainnya di belakang, mereka akan pikir “Kenapa saya harus sibuk menjauhi ghibah dan gosip?”

Jika kita tidak mengubah diri kita, maka kita tidak berhak berharap anak kita akan menjadi lebih baik dari kita. Bahkan bisa jadi anak kita jadi lebih buruk.

Kita tidak akan dapat teladan dan panutan di Youtube untuk anak kita. Memangnya mau jadikan artis Youtube yang mana yang jadi panutan? Yang pamer kekayaan dan sibuk ngeprank? Yang pakai baju tidak sopan dan sibuk pacaran? Yang bicaranya kasar dan bangga karena hamil di luar nikah?

Naudzubillahi min dzalik. 😔

Kita tahu, algoritma Youtube tidak selalu berpihak pada kebenaran dan pendidikan. Sehingga panutan bagi anak kita ada di rumah kita sendiri. Yaitu kita sendiri.

Tidak akan ada seorang Syekh atau ulama atau da’i yang benar-benar menjadi teladan bagi anak-anak kita apalagi di masa kecil mereka. Kita lah yang harus jadi teladan dan panutan mereka sejak mereka mengenal dunia.

Jika kita menolak menjadi contoh dan teladan bagi anak-anak kita, maka kita akan menjadi lemah. Lalu kita mendatangi para ulama dan meminta kepada mereka, “Pak Ustaz, mohon luangkan waktu untuk anak saya”.

Kenapa para ustaz harus meluangkan waktu untuk anak kita? Kenapa bukan kita yang meluangkan waktu untuk anak kita sendiri?

Dan kebiasaan ini memang sudah membudaya. Kita akhirnya pakai outsource untuk menyelesaikan masalah kita sendiri.

Kita harus lebih peduli pada anak-anak kita. Kita ingin anak-anak kita punya teladan dan contoh yang baik yang hadir dan dekat di sekitar mereka. Kalau kita pikir kita tidak bisa jadi teladan yang baik, kenapa kita tidak memilih untuk menjadi contoh yang baik? Bukankah kita bisa memilih?

Kita harus memilih untuk menjadi teladan yang baik untuk anak kita. Kita harus mengubah diri kita demi kebaikan anak-anak kita. Kita harus segera berangkat sholat begitu dengar adzan untuk kebaikan anak-anak kita.

Sehingga mereka akan dengan mudah melafalkan dan memahami لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ saat mereka dewasa.

Jadi, kenapa ayat ini (An-Nuur 24:55) penting, karena ayat ini adalah tentang janji Allah ﷻ di masa depan, dan janji ini diberikan ketika kita mengubah diri kita sendiri. Semoga Allah memampukan kita untuk berubah menjadi lebih baik.

Wallahu a’lam..

—————————————————————
Sumber:
Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 04. Children are a Blessing Part 3 – Parenting
(0:18:35- 0:20:00)
Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 05. Children are a Blessing Part 4 – Parenting
(0:00:00- 0:05:00)

Bersambung إنْ شاء الله minggu depan 😊

Diskusi dan Tanggapan LBP Hari Ke-62 Sore | Menjadi Teladan bagi Anak-Anak Kita Sendiri

Gustya Indriani:

St. Nur Janah Septiani:
Ya Allah.. jleb bangettt🤧🤧🤧

Nifah:

Allahuakbar..
Jazakumullah khoiron katsiron🌹🤍

***
Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲
Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle TeamVoice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s