[VoB2020] Komunitas Islam dan Olahraga


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Voice of Bayyinah (VoB)

Hari Ke-56

Topik: Leadership

Minggu, 16 Agustus 2020

Materi VoB Hari Ke-56 Pagi | Komunitas Islam dan Olahraga

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

Sebelumnya, Ust. Nouman menekankan bahwa nggak mungkin ada satu komunitas Islam yang menaungi semua hal dalam Islam.

Sehingga pada sesi kali ini, Ust. Nouman menganjurkan agar komunitas Islam sebaiknya fokus pada dua sampai empat hal. Tapi, jangan sampai sebuah komunitas Islam hanya fokus pada satu hal aja. Kenapa? Supaya komunitas Islam tersebut bisa menyentuh dua populasi yang berbeda.

Misalnya, kita ingin membuat komunitas yang peduli pada islamic school. Di luar sana, ada banyak komunitas yang enggak peduli hal apapun pada islamic school. Memang faktanya seperti itu.

Kita tidak bisa menyalahkan orang-orang yang nggak peduli pada islamic school. Kita nggak bisa mengubah mereka juga. Kebanyakan orang tersebut lebih care pada program-program olahraga. Mereka suka datang ke acara-acara olahraga, bersosialisasi, lalu mereka bilang, “Wah, komunitas-komunitas Islam tuh bukan tempat untuk kami.”

Lalu, Ust. Nouman pun bertanya kepada audiens, apa kira-kira alasan beliau pindah ke Dallas.

Alasannya, apakah karena banyak space yang luas di Dallas? Apakah karena gedung-gedung di Dallas yang keren? Ternyata, bukan itu alasannya.

Alasan beliau pindah ke Dallas adalah karena ada ‘sesuatu’ di setiap masjid di Dallas. Alasan Ust. Nouman pindah ke Dallas bukan karena banyak orang yang sholat dan berdoa di masjid, karena Ust. Nouman sih sudah sering melihat orang sholat dan berdoa.

Suatu malam, Ust. Nouman sedang mengajar kelas bahasa Arab di Dallas, yang dihadiri kurang lebih seratusan orang. Lokasinya di lantai atas sebuah gedung. Nah, ketika Ust. Nouman dan murid-muridnya turun ke lantai bawah saat sesi break, Ust. Nouman melihat keluar dan melihat sesuatu yang mencengangkan.

Ada sekitar 200-an orang yang sedang nonton pertandingan voli. Lalu ada juga sekumpulan orang yang lagi main sepak bola dengan lampu stadion yang menyala. Ada segerombolan orang yang main cracket. Ada juga segerombolan orang yang main bola basket. Ada yang jualan makanan di luar stadium. Tempat itu benar-benar seperti sirkus.

Lalu kalau tempat tersebut kayak sirkus, so what?


Materi VoB Hari Ke-56 Siang | ’Niche’ yang Membuat Anggota Komunitas Merasa ‘Enriched’

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

Lalu, Ust. Nouman dan adik iparnya, Harun, terkaget-kaget. 

“Kok suasananya kayak hari raya ya? Ini kan hari Rabu? Lagi ada apa sih di sini?”

“Wow, tempat ini keren banget, yuk kita pindah ke sini!!!”

Akhirnya, Ust. Nouman dan keluarganya pindah ke daerah tersebut. Nah, kira-kira poin apa yang membuat Ust. Nouman pindah? Apakah karena poin education?

Bukan, bukan karena education. Karena education sudah ada di komunitas Islam di mana-mana. Bukan juga karena poin awareness.

Poin yang membuat Ust. Nouman pindah ke Dallas untuk membesarkan anak-anak adalah poin enrichment. Kita semua membutuhkan enrichment. Karena enrichment membuat jiwa kita bersemangat. Enrichment adalah hal yang menarik banget bagi kita. Hal inilah yang membuat kita betah berada di sebuah tempat.

Ada satu hal yang pernah membuat Ust. Nouman ‘patah hati’ selama beberapa waktu lamanya. Yaitu, di saat-saat ketika Ust. Nouman ke masjid di Dallas, lalu melihat ke sebelah kanan, ke lapangan basket. Ust. Nouman setiap melihatnya selalu hampir menangis.

Di lapangan itulah Ust. Nouman sempat banyak menghabiskan waktu di sana, dan memainkan seluruh jenis olahraga di sana.

Di lapangan tersebut ada banyak anak-anak, banyak anak muda. Semuanya bermain dan olahraga di sana. Bahkan kadang Ust. Nouman bisa berolahraga di jam 2 pagi dini hari di lapangan itu. Ust. Nouman juga mengajak banyak orang lain untuk olahraga juga di sana. 

Dari sini, kita bisa melihat bahwa olahraga bisa menjadi ‘wadah sosial’ yang menarik. ‘Niche’ seperti inilah yang membuat ‘wadah’ ini menjadi keren. 

Dan hal-hal yang enriching ini jarang sekali disentuh oleh komunitas-komunitas Islam dan komunitas-komunitas masjid. Kebanyakan komunitas Islam enggak bisa melakukan hal-hal yang membuat orang merasa enriched. 

Karena sebuah komunitas Islam juga adalah wadah sosial, maka sebaiknya komunitas Islam punya sebuah niche atau beberapa bidang yang menjadi prioritas dan tetap dipertahankan jadi prioritas. 

Niche inilah yang membuat sebuah komunitas Islam bisa menjadi keren juga. Jangan sampai komunitas Islam kehilangan bidang-bidang prioritas atau niche ini.

Dan juga, sebaiknya niche yang dipilih oleh komunitas-komunitas Islam adalah hal-hal yang membuat orang-orang di dalamnya merasa enriched.

Contoh niche untuk komunitas Islam itu seperti apa ya?


Materi VoB Hari Ke-56 Sore | Wahai Komunitas Islam, Pilih Dua atau Tiga Bidang Saja

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

Seperti kita tahu, ada orang-orang tertentu yang sangat fokus di bidang islamic school. Mereka percaya sekali dengan islamic school ini dan sangat ingin memperjuangkannya.

Sebenarnya enggak apa-apa sih. That’s fine. Tapi jika kita hanya fokus ke satu topik itu aja, akhirnya nanti kita bisa membuat orang lain merasa asing dengan kita. Lalu jangan sampai kita menghakimi mereka (yang merasa asing dengan bidang sekolah Islam tadi) sebagai orang yang nggak peduli dengan topik-topik keislaman lainnya.

Kebanyakan anak kita tidak sekolah di sekolah Islam kan? Ust. Nouman juga bercerita bahwa kebanyakan anak beliau tidak sekolah di sekolah Islam. Ust. Nouman memiliki 6 anak, dua di antaranya bersekolah di sekolah Islam, dan empat di antaranya bersekolah di sekolah umum.

Jika kita hanya fokus di topik tentang ‘anak-anak muslim yang bersekolah di sekolah Islam’, jangan sampai nanti kita malah bikin kampanye yang bunyinya, “Jika anak-anak anda enggak sekolah di sekolah Islam, maka pasti ada yang salah dengan diri anda. Ada yang salah dengan keislaman anda. Anak-anak anda enggak sekolah di sekolah Islam sih. Jadi mereka hanya belajar pelajaran-pelajaran orang kafir.”

Coba bayangkan deh, ketika mendengar hal itu, kita merasa ‘enriched’ atau tidak? Merasa itu adalah statement yang menggugah kah atau tidak? Enggak kan.

Kita tidak tahu situasi setiap orang, kita juga tidak tahu hambatan-hambatan apa saja yang setiap orang alami. Kita juga tidak tahu masalah-masalah mereka. Kita tidak tahu seberapa besar peluang mereka untuk menerima Islam lebih jauh. Jadi jangan sampai lah, kita menghakimi orang seperti itu. Itu nggak adil.

Bahkan justru, sikap mudah menghakimi adalah cara paling mudah untuk mendorong orang semakin menjauh, bukannya semakin mendekat ke sekolah Islam atau kepada Islam secara umum.

Jadi, Ust. Nouman menyarankan, jika misal ada komunitas Islam yang ingin memprioritaskan bidang pendidikan Islam, bisa juga mulai merambah ke satu atau dua topik lainnya, misalnya bidang keluarga atau bidang pemberdayaan perempuan. Sehingga komunitas Islam tersebut bisa menjadi lebih universal dan inklusif.

Atau, bisa juga bidang kepemudaan (youth). Kita bisa menyatakan bahwa kita cinta generasi muda, dan lalu membuat program-program untuk anak muda dan remaja. Kita bisa membuat kegiatan menjelajah gunung di Lembang, misal, lalu membuat kegiatan-kegiatan yang mungkin ‘gila’ tapi memiliki nilai edukasi.

Atau bisa juga di bidang balita dan anak-anak. Kita ajak anak-anak sekolah untuk main bola. Kita booking stadium bola, kita ajak mereka semua ke sana.

Jadi, kegiatan komunitas Islam nggak melulu harus selalu di masjid. Memang semua harus dimulai dari masjid, tapi tidak semua kegiatan harus dilakukan di masjid kan? Masjid adalah tempat untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu saja, namun tidak semua kegiatan harus dilakukan di masjid.

Jadi, sekali lagi Ust. Nouman menganjurkan untuk memilih dua atau tiga bidang (area of focus). Bisa rekan-rekan tentukan sendiri, kira-kira dua atau tiga ‘niche’ atau ‘area of focus’ ini apa saja…

Misal, kita ingin fokus ke bidang keperempuanan. Jika kita sudah ‘memenangkan’ komunitas perempuan, maka kita sudah bisa dianggap berhasil. Atau misal kita ambil bidang keluarga dan keperempuanan, lalu berhasil keduanya, maka itu sudah cukup. Jika kita ambil bidang keluarga dan bidang keperempuanan tapi malah tidak berhasil keduanya, maka kita harus pilih salah satu.

Oh iya, dan jangan sampai kita membuat komunitas perempuan hanya untuk memperoleh uang. Ada seorang saudari kita yang bercerita begini. Jangan sampai ya. Jangan sampai mengumpulkan para perempuan untuk alasan uang, karena mereka tidak akan datang. Aktivitas sosial untuk perempuan itu sangat krusial.

Bagaimana tentang kelompok remaja dan pra remaja?

Bersambung إنْ شاء الله  minggu depan 😊 

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

One thought on “[VoB2020] Komunitas Islam dan Olahraga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s