[VoB 2020] Her Eyes Stay on Him


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-53

Topik: Divine Speech

Kamis, 13 Agustus 2020

Materi VoB Hari ke-53 Pagi | Her Eyes Stay on Him

Ditulis oleh: Muchamad Musyafa’

Sumber Bayyinah TV > Course > Divine Speech > 02. Verbal Idioms in the Quran.

Sebelumnya kita telah mengetahui 2 makna dari qurrota a’yun, penyejuk mata, coolness of the eyes. Dua makna itu adalah:

1️⃣ Air mata kebahagiaan (tears of joy).

2️⃣ Perasaan lega (relief).

Hari ini kita akan mencoba membahas makna ketiga dari penyejuk mata.

Jadi, “Qarra” tidak hanya berarti mendinginkan/menyejukkan. Qarra juga berarti suatu keadaan ketika seseorang tinggal di suatu tempat dalam waktu yang relatif lama.

Dari sinilah kita mendapatkan kata قرار  di surat Al-Mursalat ayat 21, فِى قَرَارٍ مَّكِينٍ (dalam tempat tinggal yang kokoh). 

Qarra adalah ketika seseorang berdiam di suatu tempat dalam waktu yang relatif lama.

Mari kita kembali ke kisah istri Firaun, diceritakan pada minggu lalu bahwa istri Firaun telah menemukan bayi Musa alayhissalam. Ia sangat terpesona dengan paras sang bayi.

😍 “Waaahh, bayi siapa ini, kok lucu sekali”

🥰 “Halo bayi kecil, kamu kok manis banget sih?”

😙 “UwU”

Mungkin begitulah gambaran rasa kagum yang dirasakan istri Firaun ketika melihat bayi Musa alayhissalam. Wallahu’alam.

Istri Firaun telah jatuh hati pada bayi Musa alayhissalam. Dengan keberanian, ia bawa sang bayi ke hadapan Firaun. Ia ingin membujuk suaminya.

وَقَالَتِ ٱمۡرَأَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَيۡنٖ لِّي

Dan istri Firaun berkata, “penyejuk mata bagiku… (QS Al-Qashash, 28:9).

Ya, istri Firaun mengatakan “penyejuk mata”. Ia senang melihat sang bayi. Susah baginya untuk melepas pandangan dari bayi lucu itu. Pandangannya menetap lama pada sosok bayi itu. Istri Firaun tidak bisa mengalihkan pandangannya kepada yang lain.  Ia terpaku dengan sosok bayi Musa alayhissalam.

Her eyes stay on him.

🧐 Omong-omong, berapa banyak dari pembaca di sini yang sudah menikah? 

Jadi ketika Anda sudah menikah, semuanya berjalan luar biasa indah di awal. Sepasang suami istri yang saling mencintai, saling memberikan perhatian. Rasanya diri ini tak ingin lepas menatap kekasih hatinya.  Hehehe.. 🥰

Lalu tibalah waktu sang istri melahirkan seorang bayi. Datanglah seorang bayi di tengah-tengah keluarga kecil itu. 👶🏻

Kemudian apa yang terjadi?

Seketika pusat perhatian rumah itu tertuju pada si bayi.

Kadang kala seorang istri bisa lupa mengurus keperluan suaminya karena terlalu asyik bermain dengan anak bayinya. Begitu juga sebaliknya suami bisa lebih merindukan bayinya dibanding merindukan istrinya sendiri. 

Bukan begitu kondisinya? Wkwkwk… 😅

Jadi mungkin seperti itulah yang dirasakan pada istri Firaun. Ia menganggap bayi Musa alayhissalam sebagai penyejuk mata karena ia sendiri tidak bisa melepaskan pandangannya dari bayi Musa alayhissalam.

Dalam hati istri Firaun, mungkin ia bergumam “Aku butuh bayi ini, ia bisa menyejukkan mataku. Tidak seperti suamiku yang membuat mataku perih melihat perbuatan zalimnya.”

وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ  

.. Dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim, (QS At Tahrim, 66:11)

Itulah makna ketiga dari “penyejuk mata”. Ketika seseorang merasa senang memandang sesuatu sehingga susah berpaling. Berbeda dengan apa yang dirasakan istri Firaun terhadap suaminya.

Terpesona dengan sosok bayi, muncul rasa keberanian dalam dirinya. Istri Firaun memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya pada suaminya Firaun, ia berharap Firaun bisa merasakan rasa yang sama.

🤗 “Papi, lihat bayi ini lucu banget”

🤭 “Aku sangat senang melihatnya”

🤩 “Aku jatuh hati dengan bayi ini”

☺️ “Bayi ini bagaikan penyejuk mata untukku”

🥺 Qurrota Ayn, qurrota ayn

Akhirnya Firaun melihat bayi kecil itu.

Lalu, bagaimana reaksi raja Mesir itu?

Bersambung in syaa Allaah ba’da Zhuhur


Materi VoB Hari ke-53 Siang | Pandangan Pertama Awal Berjumpa

Ditulis oleh: Muchamad Musyafa’

Sumber Bayyinah TV > Course > Divine Speech > 02. Verbal Idioms in the Quran.

Terpesona dengan sosok bayi, muncul rasa keberanian dalam dirinya. Istri Firaun memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya pada suaminya Firaun, ia berharap Firaun bisa merasakan rasa yang sama.

قُرَّتُ عَيۡنٖ لِّي  , قُرَّتُ عَيۡنٖ لِّي  

Penyejuk mata bagiku , penyejuk mata bagiku

Akhirnya Firaun melihat bayi kecil itu. Ia menatapnya, makin lama makin dalam.

وَلَكَ , وَلَكَ

Begitu juga bagimu, begitu juga bagimu.

Istri Firaun mencoba melanjutkan kalimatnya, namun Firaun tidak menjawab.

Firaun masih tenggelam menatap bayi yang ada di depannya.

Mata istri Firaun berbinar, ia tahu bahwa Firaun merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan. Ia yakin kali ini ia bisa membujuk suaminya. 

Para petinggi kerajaan terheran melihat sikap raja mereka. Bagaimana bisa Firaun – seorang raja perkasa yang dengan perintahnya menyebabkan banyak bayi laki-laki terbunuh – tidak berkutik berhadapan dengan seorang bayi kecil. Seorang bayi yang sebenarnya belum jelas asal-usulnya

Kemudian istri Firaun melanjutkan kata-katanya,

لَا تَقۡتُلُوهُ  

Janganlah kamu membunuhnya.

Firaun masih terdiam, 

عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ 

Mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita.

Firaun tak bergeming, 

أَوۡ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدٗا 

Atau kita ambil dia menjadi anak.

Sungguh cerdas istri Firaun, ia bisa memahami perubahan ekspresi mikro dari Firaun dari sebelum bertemu bayi Musa alayhissalam sampai dengan ketika bertemu dengan bayi Musa alayhissalam.

Mengetahui hal itu, istri Firaun melakukan pendekatan lebih agar Firaun memberinya ijin agar ia bisa ikut membesarkan bayi itu.

Dan tentu saja akhirnya Firaun mengizinkannya, karena Firaun sudah jatuh hati sejak pandangan pertama.

💝 Pandangan pertama awal berjumpa.

💘 Love at first sight.

Firaun telah menjadikan bayi Musa alayhissalam sebuah perkecualian bagi perintah yang dia buat sendiri.

Bayi Musa alayhissalam pun akhirnya tidak dibunuh oleh pasukan Firaun. Bahkan Firaun memberikan perlindungan pada bayi Musa alayhissalam. Sebuah perlindungan di sebuah kerajaan Mesir yang dikenal sangat kuat saat itu.

Jadi, perlindungan yang diberikan Firaun pada Musa alayhissalam merupakan berkat dari apa?

Berkat “penyejuk mata” yang dipancarkan oleh bayi Musa alayhissalam.

Coolness of the eyes.

Akhirnya, tentang penyejuk mata ini, ada momen yang paling penting sepanjang hidup nabi Musa alayhissalam.

Momen apa itu? 

Bersambung in syaa Allaah ba’da ‘Ashar


Materi VoB Hari ke-53 Sore | Recuérdame

Ditulis oleh: Muchamad Musyafa’

Sumber Bayyinah TV > Course > Divine Speech > 02. Verbal Idioms in the Quran.

Akhirnya, tentang qurrotu ayn ini, ada momen yang paling penting selama kehidupan nabi Musa alayhissalam.

Apalagi jika bukan momen ketika nabi Musa alayhissalam bertemu dengan Allah ﷻ dan berbicara dengan-Nya.

Sebuah pertemuan yang luar biasa yang bisa kita baca di surat Thaha.

Biasanya, ketika kita bertemu dengan seseorang yang penting maka pertemuan itu akan selalu kita ingat-ingat. Seperti sebuah pertemuan dengan idola kita yang terjadi tidak disangka-sangka. Kenangan itu akan terlalu indah untuk dilupakan begitu saja.

Mungkin kita akan berusaha mengabadikan momen itu. Mengambil beberapa foto atau bahkan membuat rekaman video. Lalu foto itu kita pasang pigura dan kita gantung di ruang tamu rumah kita. Agar orang lain tahu bahwa kita pernah bertemu dengan sang idola. 

Dituliskan di Al-Quran bahwa Musa alayhissalam bertemu dan berbicara dengan Allah ﷻ.

Ya, Musa alayhissalam berbicara dengan Allah ﷻ.

Apakah kita berpikir bahwa pengalaman seperti itu mudah dilupakan begitu saja?

Kita tidak akan pernah berbicara lebih penting daripada berbicara dengan Allah ﷻ.

Jika seluruh manusia di dunia tidak akan bisa melupakannya, bagaimana bisa nabi Musa alayhissalam melupakannya juga?

Di surat Thaha Allah ﷻ berfirman :

فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ  

Maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku. (QS Thaha, 20:14)

Jalan paling nyata untuk mengingat Allah ﷻ adalah dengan mendirikan sholat.

Ada hadis terkenal yang berkaitan dengan tema “penyejuk mata” di sini. Rasulullah ﷺ bersabda :

وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ 

..dan dijadikanlah penyejuk mataku di dalam ibadah sholat.

(HR Sunan an-Nasa’i 3939, Book 36, Hadith 1)

Sebuah hadis yang sungguh indah.

Kini semuanya terhubung, antara Qurrotu Ayn dan Sholat.

Kini, kita harus tahu mengapa sholat bisa menjadi sebuah qurrotu ayn. Dan kenapa semua pembahasan ini diawali dengan kisah Musa alayhissalam.

Musa alayhissalam telah melalui pengalaman sangat indah ketika ia bisa berbicara dengan Allah ﷻ. Lalu dalam percakapan itu Allah ﷻ memerintahkan Musa alayhissalam untuk mendatangi Firaun. Agar Musa alayhissalam bisa berbicara dengan Firaun. Agar Musa alayhissalam bisa mendakwahi Firaun.

Sebuah percakapan sulit bagi Musa alayhissalam yang nantinya kita tahu akan berujung dengan sebuah perdebatan dengan Firaun.

Suatu hal yang sangat berbeda, bukan?

Berbicara dengan Allah ﷻ, lalu berbicara dengan Firaun.

Sekarang, kita pahami bahwa berbicara dengan Allah ﷻ akan mendatangkan rasa lega di hati, akan menyejukkan mata kita, sedangkan berbicara dengan Firaun akan memberikan rasa perih di mata. 

Lalu dengan kondisi Rasulullah ﷺ, setiap hari ia harus berhadapan dengan Quraisy. Ia harus berbicara dengan para pemimpin Quraisy.

Mudahkah itu bagi Rasulullah ﷺ?

Berat, dan makin berat tiap harinya. Kaum Quraisy makin hari makin agresif, makin mencemooh dan menghina Rasulullah ﷺ . 

Rasulullah ﷺ memiliki hati yang sangat lembut, sehingga hinaan dari kaum Quraisy menjadi sangat sensitif baginya.  Beliau ﷺ merasakannya setiap hari, makin hari kian memburuk perlakuan kaum Quraisy.

Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ membutuhkan momen yang bisa meringankan bebannya, melegakan hatinya. Membebaskan dirinya dari badai yang ada di dalam hatinya. 

Dan Rasulullah menemukannya, ia bersabda :

وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ 

.. dan dijadikanlah penyejuk mataku di dalam ibadah sholat

Rasulullah ﷺ menemukan kelegaan di dalam ibadah sholat.

Sering kali Rasullullah  ﷺ meneteskan air mata kesedihan, tapi kali ini beliau ﷺ meneteskan air mata kebahagiaan di dalam sholat.

Semoga penjelasan kali ini bisa mengubah perspektif kita dalam memandang ibadah sholat.

Pemikiran tentang menangis di dalam sholat adalah benar adanya. Tapi tidak terbatas pada menangis karena sedih mendengar ayat-ayat tentang neraka.

Perlu dimengerti bahwa kita perlu menangis di dalam sholat karena qurrota ayn, karena coolness of the eyes, karena sholat bisa menyejukkan mata kita, yang artinya tangisan itu adalah tangisan yang melegakan hati. 

Ketika kita mendengar ayat tentang anak-anak, tentang rezeki, segala yang mengingatkan nikmat yang telah Allah ﷻ berikan kepada kita, seharusnya kita bisa merasakan perasaan haru bahagia di sana. 

Each time you keep up your shalat.

Remember me..

Recuérdame

Insyaallah bersambung pekan depan.

***


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s