[LBP2020] Al-Qur’an dan Kebenaran Kitab Terdahulu


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِ

Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-52

Topik: Pearls of Ali-Imran

Rabu, 12 Agustus 2020

Materi LBP Hari ke-52 Pagi | Al-Qur’an dan Kebenaran Kitab Terdahulu

Ditulis oleh: Icha Farihah

Sumber Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. ‘Ali ‘Imran > Ayah 3-6 Ramadahan 2018 (00:00-02:52)

Sekarang kita memasuki topik yang cukup berat. (Semoga Allah mudahkan pemahaman kita tentang bahasan ini)

Pembahasan pertama adalah tentang hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik dari kata mushaddiqan.

نَزَّلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ *مُصَدِّقٗا* لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ

Dia menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil. (QS Ali-‘Imran, 3: 3)

Pertama, kata mushaddiqan (مُصَدِّقٗا) dalam ayat ini berarti “membuktikan atau memvalidasi suatu kebenaran yang tersisa dari kitab sebelumnya.”

Bagaimana maksudnya?

Kitab Injil dan Taurat telah menyampaikan banyak hal. 

Beberapa di antaranya adalah sesuatu yang benar. 

Dan beberapa di antaranya adalah sesuatu yang salah. 

Kata mushaddiqan (مُصَدِّقٗا) berarti memvalidasi kebenaran yang masih ada dan tersisa di dalam Injil dan Taurat. 

Dengan melakukan validasi kebenaran, secara otomatis, kesalahan dan kebohongan di dalam kedua kitab tersebut juga terungkap. It automatically invalidates what isn’t true.

Tapi, cara pembuktian kesalahan dari kitab Injil dan Taurat tidak dijelaskan secara gamblang atau eksplisit.

Misalnya, bagian ini di dalam Injil salah. Bagian itu di dalam Taurat salah. Tidak seperti itu.

Validasi ini memisahkan antara kebenaran yang tersisa dengan kebohongan yang dibuat-buat dalam Taurat dan Injil.

***

Selain itu, di dalam kitab Taurat dan Injil terdapat banyak pelajaran, kisah, dan hikmah yang salah interpretasi.

Sehingga sekalipun kisahnya tetap ada, cara memandang kisah atau frasa di dalamnya berubah. 

Sebagai contoh, di dalam Injil, Isa ‘alayhis salam merupakan firman Tuhan. The word of God.

Awalnya, interpretasi itu benar dan murni. Lambat laun, terdapat perubahan pemahaman tentang frasa ini. Hingga akhirnya, hasil interpretasi itu menjadi keliru secara total.

Nabi Isa ‘alayhis salam adalah kalimatun mina Allah, firman Allah, the word of God. Al-Qur’an sendiri yang mengatakan itu. 

Tapi, versi yang ada di dalam Al-Qur’an merupakan bentuk klarifikasi dari kesalahan dan kekeliruan kitab Injil terhadap nabi Isa ‘alayhis salam

إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ

(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). (QS Ali-‘Imran, 3: 45)

Jadi, terkadang ada ayat di masa lalu yang aslinya adalah sebuah kebenaran. Namun, interpretasi ayat  tersebut bergeser. Membuatnya salah dan keliru.

Adapun kata tashdiq (تصدق) memiliki arti “inilah makna ayat / kisah / frasa yang sesungguhnya dari wahyu-wahyu yang  terdahulu.”

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡقَصَصُ ٱلۡحَقُّۚ 

Sungguh, ini adalah kisah yang benar… (QS Ali-‘Imran, 3:62)

***

Seorang ulama bernama Hamiduddin Farahi juga menambahkan tentang makna penting dan menarik lainnya dari mushaddiqan (مُصَدِّقا). 

Yaitu, pemenuhan terhadap ramalan kenabian. Fulfillment of prophecy. Ramalan tentang apa? Dalam ayat ini tentang adanya wahyu dan rasul terakhir. 

Makna mushaddiqan (مُصَدِّقا) ini sama dengan apa yang diturunkan pada Surat Al-Fath: 

لَّقَدۡ *صَدَقَ* ٱللَّهُ رَسُولَهُ ٱلرُّءۡيَا بِٱلۡحَقِّۖ لَتَدۡخُلُنَّ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمۡ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَۖ فَعَلِمَ مَا لَمۡ تَعۡلَمُواْ فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَٰلِكَ فَتۡحٗا قَرِيبًا

Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat. (QS Al-Fath, 48: 27)

Ayat ini menjelaskan tentang mimpi yang Rasulullah shallahu ‘alayhi wa salam alami tentang penaklukan Makkah saat itu. 

Mimpi itu memang ada. Tapi, apa yang membuat mimpi tersebut menjadi nyata? 

Bukan karena mimpinya, bukan sekadar dreams come true saja.

Inti dari pemenuhan ramalan mimpi itu adalah turunnya ayat.

Maksudnya, turunnya ayat Al-Fath ini menjadi bukti bahwa Allah akan memenuhi ramalan yang ada dalam mimpi tersebut. 

Ayat ini mengonfirmasi bahwa ramalan itu benar-benar akan terjadi.

Ayat ini yang menjadi fulfillment of prophecy dari Fathu Makkah. 

***

Nah, selain kedua makna di atas, ada makna lain lagi dari perspektif grammar tentang mushaddiqan (مُصَدِّقا). Apa itu?

Bersambung in syaa Allaah ba’da Zhuhur


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari Ke-52 Pagi | Al-Qur’an dan Kebenaran Kitab Terdahulu

Siti:

Benar …. topik memahami kebenaran dan beriman kepada Kitab-kitab Allah sebelum AL Quran ini memang agak sulit untuk dipelajari … Karena saya sendiri pun belum pernah membaca kitab Injil juga .. paling melalui kutipan-kutipan atau dialog antar tokoh agama …

Hafni:

I sometimes read Injil :

1. Injil Barnabas. I have it with me.

2. (Before  the year 2000). Anytime  staying in the hotel overseas, if the only holly book available in that hotel room is Injil.

✍️🙏🏼

I never see Taurah yet✍️

Siti:

Me neither Bu … 

Dulu saya baca ayat injil begitu takutnya .. Tapi Alhamdulillah sy sekarang sudah berani baca dari penggalan-penggalan ayat nya… kadang sy juga nonton sekilas mimbar agama di TVRI utk hindu, kristen, budha untuk sekedar knowledge selintas …

Hafni:

Yup dear Sister. 

It’s time for us  to spend more for the Book of Allah. 

Our esteemed Teacher Ustadh Nouman Ali Khan has shown us how he is connecting his life 24 hours a day and 7 days a week  with The Holy Book in all aspects.

May Allah SWT bless him and grant him & his family Jannah. Aamiiin.

🤲🤲🤲


Materi LBP Hari ke-52 Siang | Cara Membuktikan Kebenaran Al-Qur’an

Ditulis oleh: Icha Farihah

Sumber Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. Ali Imran > Ayah 3-6 Ramadahan 2018 (02:52-04:15)

Kata mushaddiqan (مُصَدِّقٗا) secara tata bahasa (grammatical) adalah haal (حال).

Berdasarkan aturan tata bahasa, haal ( حال) berbeda dengan ash-shifah (الصفة).

Ustaz Nouman memberikan contoh sederhana tentang perbedaan ini,

Contoh dari ash-shifah (الصفة):

1. Mobil biru (blue car)

Warna biru merupakan kualitas dari mobil. Ia tidak bergerak, tidak aktif, atau dormant.

Warna biru merupakan bagian dari mobil tersebut.

2. Seorang pria yang tinggi (a tall man). 

Tinggi merupakan bagian dari pria itu. 

Tinggi merupakan kualitas dan bersifat tidak aktif.

Sedangkan contoh dari haal (حال):

1. Seorang pria yang sedang berjalan (a man walking). 

Kata walking menunjukkan keadaan yang sedang dilakukan atau dialami oleh pria itu.

Dengan kata lain, keadaan ‘berjalan’ itu terjadi ketika pria itu masih aktif berjalan. Ketika keadaan ‘berjalan’ itu tidak ada, maka ia menjadi dormant kembali. 

Sehingga perbedaanya adalah haal (حال) memiliki ciri terkadang ada, terkadang tidak ada.

Sedangkan, ash-shifah (الصفة) selalu ada.

Haal (حال) harus dihidupkan dan diaktifkan. Ia tidak bisa dengan sendirinya atau secara otomatis ada.

Coba kita lihat kembali ayat ini,

نَزَّلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ *مُصَدِّقٗا* لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ

Dia menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil. (QS Ali-‘Imran, 3: 3)

Al-Qur’an memiliki potensi untuk menjadi mushaddiqan (مُصَدِّقٗا).

Lalu, apa konsekuensinya?

Konsekuensinya adalah kalau kita tidak melihat dan mempelajari Al-Qur’an dengan cara yang benar, 

Al-Qur’an tidak akan ada sebagai pembuktian dengan sendirinya.

Kata mushaddiqan (مُصَدِّقٗا)  menunjukkan bahwa ia bukan kualitas yang konstan ada pada Al-Qur’an. Mushaddiqan (مُصَدِّقٗا) memerlukan peran secara aktif.

Kita sendiri yang harus melihatnya (تصد يق). Kita sendiri yang harus mencarinya. Kalau tidak, validasi atau pembuktian itu tidak akan ada yang menemukan.

Al-Qur’an hanya menjadi pajangan di lemari buku kita. Ia tidak akan menunjukkan apa-apa jika kita tidak berusaha aktif mencarinya.

Al-Qur’an menuntut kita untuk terlibat dalam mempelajarinya, untuk mencari tashdiiq (تصد يق) itu. 

Dan itulah satu-satunya cara untuk memainkan peran Al-Qur’an agar benar-benar hadir dalam kehidupan kita.

Bersambung in syaa Allaah ba’da ‘Ashar


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari Ke-52 Siang | Cara Membuktikan Kebenaran Al-Qur’an

Heru:

Mungkin kita sudah sering mendengar:

Alhamdulillaahi ‘alaa kulli haal.

Kita memuji Allah, berterima kasih sama Allah di setiap haal. Di segala keadaan.

Suka maupun duka.

For better or worse.

Karena suka dan duka hanyalah permukaan.

Just a surface.

Kesejatian terletak di lessons learned yang bersembunyi di balik permukaan suka dan duka.

Semoga Allah ‘azza wa jall beri kita kemudahan untuk menangkap hikmah di balik semua peristiwa.

🤲🏻


Materi LBP Hari ke-52 Sore | Koneksi Al-Qur’an dengan Kitab Terdahulu

Ditulis oleh: Icha Farihah

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. Ali Imran > Ayah 3-6 Ramadahan 2018 (04:15-06:42)

Secara singkat, Al-Qur’an digambarkan dalam surat Ali ‘Imran ayat tiga ini sebagai bentuk konfirmasi, pemenuhan dari janji kenabian atau prophecy, dan validasi dari kitab-kitab sebelumnya.

Allah ta’ala menyebutkan, kitab-kitab terdahulu itu adalah Taurat dan Injil.

…وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ

… Dan menurunkan Taurat dan Injil. (QS Ali-‘Imran, 3: 3)

Jika kita melangkah ke belakang. Melihat dengan kaca mata sejarah kenabian. 

Ada dua ‘ahli waris’ utama dari Nabi Ibrahim ‘alayhis salam yaitu Musa ‘alayhis salam dan Rasulullaah shallallahu ‘alayhi wa salam.

Setelah Nabi Ibrahim memanjatkan doa kepada Allah ta’ala, wahyu-wahyu diturunkan kepada Nabi Musa ‘alayhis salam. dalam kitab Taurat.

Setelah Musa ‘alayhis salam, para nabi yang diutus kepada Bani Israil juga mendapat wahyu.

Tapi, semua wahyu itu hanya berupa penegasan kembali dari apa yang diturunkan Allah ta’ala kepada Musa ‘alayhis salam.

Kemudian, setelah sekian lama, satu-satunya yang mendapatkan pusaka lagi dari doa nabi Ibrahim ‘alayhis salam adalah Rasulullaah shallallahu ‘alayhi wa salam.

Pada dasarnya, semua nabi menjadi bagian dari warisan tersebut. 

Tapi, ada dua pilar utama yaitu Taurat dan Al-Qur’an. Kepada Musa ‘alayhis salam dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa salam.

Kita juga dapat menyadari ada hubungan erat antara Nabi Ibrahim ‘alayhis salam dan Nabi Musa ‘alayhis salam di dalam Al-Qur’an. 

Contohnya pada beberapa ayat berikut:

(إِنَّ هَٰذَا لَفِي ٱلصُّحُفِ ٱلۡأُولَىٰ)

(صُحُفِ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ)

18. Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, 

19. (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa. 

(QS Al-A’la, 87: 18-19)

(أَمۡ لَمۡ یُنَبَّأۡ بِمَا فِی صُحُفِ مُوسَىٰ)

(وَإِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ ٱلَّذِی وَفَّىٰۤ)

36. Ataukah belum diberitakan (kepadanya) apa yang ada dalam lembaran-lembaran (Kitab Suci yang diturunkan kepada) Musa?

37. Dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?

(QS An-Najm, 53: 36-37)

Tentu ada alasan kenapa nama Nabi Ibrahim ‘alayhis salam dan Musa ‘alayhis salam disebut secara spesifik dan simultan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Penyebutan ini menandakan bahwa sebenarnya Al-Qur’an dan pesan yang terkandung di dalamnya sudah ada pada kitab-kitab terdahulu. Yaitu, kitab Ibrahim ‘alayhis salam dan Musa ‘alayhis salam.

Sehingga, kedatangan Al-Qur’an menjadi tonggak sejarah terakhir. The final milestone.

Lalu, di manakah letak dan peran Injil?

Jika kita perhatikan kembali pada surat Ali ‘Imran.

Kitab Injil tidak lain adalah bentuk konfirmasi dari apa yang telah diturunkan kepada Musa ‘alayhis salam.

Jadi, Injil bukanlah wahyu yang terpisah dari Taurat. 

Bahkan saat Isa ‘alayhis salam datang, ia mengatakan secara langsung bahwa sebenarnya ia membawa kitab Injil sebagai bentuk penegasan terhadap Taurat.

Hukum di dalam Injil bukanlah hukum yang baru. 

Itulah sebabnya ketika menjelaskan nabi Isa ‘alayhis salam, Allah mengatakan:

وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ

Dan Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. (QS ‘Ali-‘Imran, 3: 48)

Melalui ayat ini, kita tahu bahwa Isa ‘alayhis salam tidak hanya mendapatkan Injil. Ia juga mendapatkan Taurat. Jadi, ia memiliki dua: Taurat dan Injil.

Bagian menariknya adalah terdapat  makna yang sejajar dan saling terhubung dari “kitab, hikmah, Taurat, dan Injil” pada ayat ini. 

Taurat adalah kitab.

Injil adalah hikmah.

Penjelasan ini juga nantinya berkorelasi dengan keberadaan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadis).

Bagaimana penjelasannya?

Insyaallah bersambung pekan depan.


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari Ke-52 Sore | Koneksi Al-Qur’an dengan Kitab Terdahulu

Rishine:

Mau nanya .. dulu waktu sekolah pernah di ajarin salah satu kitab yang Allah turunkan yaitu kitab  Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud .. apakah itu ada hubungannya juga dengan Taurat Injil dan Al Quran kak? 😁🙏 Terimakasih sebelumnya

Hain:

Semoga artikel di bawah ini bs jd jawaban sementara dari pertanyaannya, mba. 

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/12/19/p17ssj313-menelusuri-kitab-suci-zabur

Rishine:

Baik terimakasih kak.

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Lessons from Bayyinah’s Production

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s