[LBP2020] Kita Bukanlah Konsumen Al-Qur’an


 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-47

Topik: Pearls of al-Kahf

Jumat, 07 Agustus 2020

Materi LBP Hari ke-47 Pagi | Kita Bukanlah Konsumen Al-Qur’an

Ditulis oleh: Muchamad Musyafa

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Al-Kahf > 01. How to Approach the Quran – Al-Kahf – A Deeper Look

Jika samudra Al-Qur’an yang indah itu bisa diselami oleh siapa saja. Lalu, kenapa Allah turunkan dalam bahasa Arab? Kenapa tidak diturunkan dalam berbagai macam bahasa? Allah Maha Berkehendak, bukan? Bisakah Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Indonesia?

Ada tanggapan yang sangat mendasar untuk paragraf di atas. Dan itu berkaitan dengan yang kita sebut dengan kerendahan hati, humility

Saat ini kita hidup di dalam masyarakat konsumen. Maksudnya, saat ini kita hidup di masyarakat di mana semuanya berperan menjadi konsumen.

Ada juga ungkapan yang populer di masyarakat kita bahwa, pembeli adalah raja, pelanggan selalu benar.

Jadi siapa yang menciptakan permintaan, demand? Konsumen.

🚗 Aku ingin beli mobil ini, tapi aku ingin interiornya diubah.

🥣 Mau beli bubur ayam, enggak pakai kacang, pakai daun bawang, sambalnya dipisah.

Dengan kondisi sketsa di atas, pelanggan tentunya dalam posisi paling berkuasa. Sedangkan posisi penjualnya ada di bawah. Memang penjual harus melayani kebutuhan si pelanggan. Jika kebutuhan pelanggan tidak terpenuhi, maka ia akan pindah ke penjual lain. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kondisi ini. Wajar.

Tapi sikap seperti ini tidak pantas kita tunjukkan ketika kita berhadapan dengan Al-Quran, firman Allah ﷻ. 

Sebagai pelanggan, kita bisa saja berkata seperti ini : Aku enggak suka bahasa Arab, aku maunya bahasa Indonesia.

Tapi nyatanya kita bukan sedang menjadi pelanggan dari Allah ﷻ. Kita tidak sedang membeli ayat-ayat Allah ﷻ. 

Siapa yang seharusnya dalam posisi lebih berkuasa di sini?

Dia yang menciptakan kita, Dia yang menciptakan alam semesta, Dia yang menurunkan manusia ke bumi.

Siapa yang dalam posisi lebih lemah di sini? Kita.

Ketika kita memiliki kecenderungan untuk memilih ayat-ayat dari Allah ﷻ berdasarkan apa-apa yang kita suka, maka kita berasumsi bahwa kita dalam posisi lebih kuat dari Allah. Padahal dasar pemikiran dari keseluruhan Al-Qur’an adalah menempatkan diri kita sebagai seorang abdi, kita adalah seorang hamba. Allah ﷻ lah yang berkuasa.

Coba kita bayangkan, kita seorang pekerja. Lalu suatu saat bos kita datang ke kita dan meminta :

👨🏻‍💼 : Saya mau pekerjaan ini selesai hari Jumat, pekan ini.

👨🏻‍💻 : Sori, Apa maksud Bapak Jumat ini?

👨🏻‍💻 : Saya butuh 3-4 minggu untuk mengerjakannya. Hmm, sebenarnya bisa-bisa saja saya melakukannya. Tapi itu tidak mengenakkan jika saya harus bekerja berjam-jam untuk menyelesaikan semua ini. Saya mau mengerjakannya hanya 30 menit per harinya. Jadi 3 minggu ya pak?

Apa kita bisa bertingkah seperti itu ketika berhadapan dengan pak bos? Dia yang berkuasa di kantor?

Jika jawabannya iya, maka kita harus siap-siap dipecat.

Jadi sudah seharusnya kita tahu sikap yang pantas yang harus kita tunjukkan ketika berhadapan dengan Allah ﷻ dan Al-Qur’an.

Rendah hati,

Humility.


Materi LBP Hari ke-47 Siang | Di Balik Layar Pembelajar Al-Qur’an

Ditulis oleh: Muchamad Musyafa’

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Al-Kahf > 02. Methodology of Studying the Quran – Al-Kahf – A Deeper Look

Untuk sesi kedua pada hari ini, ust. Nouman berpikir bahwa ada baiknya jika beliau menceritakan kepada kita  proses yang beliau jalani selama mempelajari Al-Qur’an. 

Sehingga kita semua paham dan jelas dari mana asal beliau belajar Al-Qur’an. Proses belajar yang tidak mudah itu selalu ada tiap kali beliau memberikan pelajaran tentang Al-Qur’an. Hanya saja kita tidak melihat kegiatan di balik layarnya.

Beberapa dari kita mungkin berasal dari sekolah teknik. Jika kita melihat ponsel genggam kita, kita bisa lihat tampilan akhir dari sebuah aplikasi atau sebuah situs web. Di balik tampilan tersebut, kenyataannya banyak tersimpan kode-kode bahasa pemrograman. Dan kode-kode tersebut akan terlihat membingungkan bagi sebagian besar pengguna aplikasi atau situs web tersebut. Karena apa yang dilihat pengguna akhir adalah tampilan akhirnya saja.

Begitu juga ceramah yang disampaikan oleh Ustaz, khotbah yang disampaikan Ustaz memang dibuat semaksimal mungkin agar mudah dipahami oleh para pendengar atau para pembacanya.

Tapi ada proses belajar di baliknya, ada proses analisis di baliknya. Proses di balik layar ini sulit dan bisa jadi jauh lebih rumit dan kompleks. Bisa jadi jika ust. Nouman mulai menyampaikannya ke khalayak umum, maka orang-orang akan bilang :

Ustaz ngomong apa ya?

Maksud tulisan ini apa?

Ah, enggak mengerti.

Dan sebagainya.

Karena ketika berbicara hal tersebut, maka pembahasannya akan menjadi terlalu akademis.

Tapi karena anggota LBP di sini insyaAllah akan mengikuti serial pembahasan Al-Kahfi dalam waktu yang lama, maka sudah selayaknya anggota LBP bisa memahami beberapa hal teknis darinya, beberapa hal yang lebih menyentuh sisi akademisnya. Dan ini akan menjadi penting ke depannya, insyaAllah. 

Kenapa bisa jadi penting?

Karena menurut pendapat pribadi ust Nouman, bahwa pendekatan dangkal kepada Al-Qur’an berpotensi menyeret umat ke dalam banyak masalah. Akan banyak orang yang akan berpikir melompat dan terburu-buru. Mereka akan menginterpretasikan sendiri apa yang dikatakan di dalam Al-Qur’an. Lalu mereka membuat klaim bahwa hasil interpretasi mereka itu adalah maksud sebenarnya dari Al-Qur’an. Ini bukanlah suatu hal yang bagus.

Ust Nouman sendiri tidak mengklaim bahwa apa yang ia sampaikan nanti adalah metode yang sudah sempurna. Ust Nouman hanya mencoba menyampaikan metode terbaik yang mampu diperoleh dan ajarkan oleh Ustaz sampai saat ini.

Tidak menutup kemungkinan jika di beberapa tahun depan Ust Nouman akan menambahkan beberapa penjelasan atau metode tambahan untuk bagian ini dan bagian itu.

Sebab Ust Nouman sendiri sadar bahwa cara ust Nouman berpikir dan memandang Al-Qur’an beberapa tahun lalu berbeda dengan cara ust Nouman saat ini. Pola pikir dan sudut pandang tersebut akan terus berevolusi. 

Dan bagi ust. Nouman bahwa hal itu bukan suatu hal yang buruk, tapi malah sesuatu yang bagus. Justru akan menjadi suatu hal yang buruk jika ust Nouman atau kita sampai berpikir :

Ya saya sudah mencapai titik akhir, saya sudah mendapatkan apa yang saya butuhkan.

Ungkapan seperti di atas ini bermasalah, itu adalah tanda arogansi seseorang atas ilmu yang dia miliki.

Setiap orang akan ada di posisi murid lebih sering dibanding berada di posisi guru. Tentu saja termasuk diri ust Nouman sendiri. Bahkan ulama-ulama yang lebih tinggi ilmunya di atas ust Nouman banyak yang menghabiskan waktu untuk belajar. Seperti ulama yang sangat dihormati oleh ust Nouman, Dr Akram Nadwi namanya. 

Dr Akram biasanya bisa memberikan 10 kali ceramah tiap minggunya. Tapi beliau juga menghabiskan enam sampai dengan tujuh jam per harinya untuk menulis dan membaca. 

Enam jam itu tidak seperti diri kita yang mungkin terpakai untuk melamun, bengong, tertidur dan lain-lain. Bagi Dr Akram ia benar-benar menghabiskan 6 jam untuk belajar, berturut-turut 7 hari seminggu. 

Jadi memang kenyataannya beliau jauh lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menjadi pelajar dibanding berdiri di mimbar menjadi seorang penceramah. Kebiasaan untuk terus belajar inilah yang menjadikan beliau sebagai seorang guru yang luar biasa.


Materi LBP Hari ke-47 Sore | Koherensi Di Dalam Surat

Ditulis oleh: Muchamad Musyafa’

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Al-Kahf > 02. Methodology of Studying the Quran – Al-Kahf – A Deeper Look

Melalui pengalaman mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an di berbagai negara dan benua, Ustaz Nouman mendapatkan tiga langkah yang dianggap efektif sebagai bagian dari metodologi untuk mempelajari Al-Qur’an.

1️⃣ Koherensi di dalam surat.

2️⃣ Analisis ayat per ayat.

3️⃣ Koherensi antar surat. 

Mari kita bicara tentang gagasan atau ide dari koherensi ini. Istilah bahasa Arab yang digunakan untuk koherensi ini adalah nazhom (النظم)  

Koherensi atau nazhom adalah sebuah gagasan tentang bagaimana sesuatu terikat, teratur dan tersusun seksama. 

Sebagai contoh, sebuah pidato yang koheren adalah sebuah pidato yang mampu membuat kita (pendengarnya) paham poin-poin ucapan penuturnya. Dan poin-poin tersebut menggiring para pendengar untuk memahami inti pidato tersebut, 

Sedangkan inkoheren adalah seperti ketika seseorang berbicara satu hal, lalu berpindah ke hal lain, lalu berpindah lagi ke hal lain. Dan semua itu tidak dapat bersatu menjadi kesatuan cerita yang saling terkait.

Salah satu kritik dunia barat terhadap kitab Al-Qur’an adalah mereka menganggap Al-Qur’an adalah kitab yang susunannya tidak koheren. Inilah kritik yang paling populer dari dunia barat terhadap kitab Al-Qur’an.

Mereka berpendapat seperti itu setelah mereka melihat pembahasan di Al-Qur’an sering kali bergonta-ganti topik pembahasan. Dalam satu surat saja, bisa jadi tersusun banyak topik pembahasan. Dan tiap topik pembahasan bisa saling berganti tanpa aba-aba. Begitulah akhirnya mereka menyebut Al-Qur’an sebuah kitab yang tidak koheren.

Tetapi kemudian hal ini menjadi subjek keingintahuan dan penyelidikan bagi para ulama hampir sejak awal pembahasan tafsir itu sendiri.

Untuk membuktikan koherensi di dalam Al-Qur’an, ada 2 area yang akan membahasnya yaitu : langkah 1. koherensi di dalam surat dan langkah 3. koherensi antar surat.

Untuk sementara kita akan bahas koherensi di dalam surat terlebih dahulu.

Mari kita cari tahu apa itu surat di dalam Al-Qur’an. 

Kata “surat” bersinggungan dengan kata صور yang memiliki arti batas luar tembok yang ada di sebuah kota kuno.

Bagi pembaca yang pernah memainkan permainan Assasin’s Creed, ada sebuah tembok di batas terluar sebuah kota yang susah didaki. Sekalinya kita bisa memasuki kota tersebut, kita akan bisa menemukan bangunan pemerintahan, pasar, rumah sakit, rumah penduduk beserta segala macam hal sedang terjadi di dalam kota itu.

Jadi kota tersebut tidak terbentuk dari sejenis bangunan saja, tapi berbagai macam bangunan. Dan kenyataannya masing-masing bangunan yang berbeda itu bekerja satu sama lain, saling melengkapi satu sama lain. Bersama-sama mereka membentuk identitas dari kota tersebut.

Demikian sepintas penjelasan terkait apa itu surat di dalam Al-Qur’an. insyaAllah bersambung pekan depan.


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Lessons from Bayyinah’s Production

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s