[LBP2020] The Coolness of the Eyes in the Qur’an


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Lessons from Bayyinah Production (LBP) Hari Ke-46

Topik: Divine Speech

Kamis, 06 Agustus 2020

Materi LBP Hari Ke-46 Pagi | The Coolness of the Eyes in the Qur’an

Oleh : Icha Farihah

#ThursdayDivineSpeechWeek7Part1

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

———————————————————-

Sebelumnya kita telah mengetahui makna dari the coolness of the eyes (قُرَّةُ أَعْيُنٍ), yaitu:

1. Air mata kebahagiaan (tears of joy)

2. Pertolongan (relief)

Ada satu lagi nih makna dari the coolness of the eyes (قُرَّةُ أَعْيُنٍ). Apa itu?

Begini penjelasannya.

Zaman dahulu, setiap suku memiliki Assassin atau pembunuh. Boleh dibayangkan seperti Assassin’s Creed di video games. 

Assassin mendapat tugas untuk membunuh suku lain yang menyerang atau mencari masalah dengan sukunya. 

Apabila ada pembunuhan yang terjadi. Misalnya, kepala suku terbunuh. 

Assassin akan mengatakan, 

“Mata suku saya perih (warm). Dan darah dari musuh yang akan menyejukkannya.”

Assassin pun melakukan balas dendam. 

Ketika ia berhasil membunuh musuh tersebut. Mata sukunya berubah. Dari perih menjadi sejuk. 

Artinya, mereka merasa lega. Semua kemarahan dan kesedihan hilang. 

Jadi, makna the coolness of the eyes (قُرَّةُ أَعْيُنٍ) yang ketiga adalah perasaan lega karena kesedihan dan kemarahan yang dialami sudah terbalas.

The Coolness of the Eyes dalam Al-Qur’an

Kata the coolness of the eyes (قُرَّةُ أَعْيُنٍ) juga sering digunakan di dalam Al-Qur’an. 

Salah satunya adalah di dalam doa berikut:

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS  Al-Furqan, 25: 74)

Apa arti the coolness of the eyes (قُرَّةُ أَعْيُنٍ) di sini?

Artinya, anak-anak dan pasangan kita seharusnya dapat menjadi tempat perlindungan dari segala badai yang kita alami. 

Badai dari dunia luar. Badai kesulitan, tekanan, dan masalah.

Entah kesulitan di tempat kerja, tekanan dari teman, maupun masalah di jalan. 

Semua itu melelahkan. 

Membuat mata menjadi perih (warm).

Maka, ketika kita kembali ke rumah dan bertemu pasangan dan anak-anak kita. Kita merasa tenang dan aman. Mata kita tidak lagi menjadi perih (warm).

Rumah menjadi tempat yang menyejukkan mata (cool).

Akan tetapi, beberapa orang malah merasakan sebaliknya. Badai yang mereka alami ada di dalam rumah mereka.

Setiap kali berada di dalam rumah, mata mereka menjadi perih (warm). 

Dan keluar dari rumah adalah solusi untuk menyejukkan mata.

Jadi, melalui ayat ini. 

Allah mengajarkan kita untuk berdoa,

“Ya Allah, saya menginginkan sebuah rumah yang damai.

Rumah yang ketika saya kembali, saya menemukan ketenangan.

Bukan pertikaian atau perdebatan.

Jangan berikan kepada saya anak-anak yang tidak patuh dan tidak dapat menghargai saya dan semua yang ada di dalam rumah.

Jangan berikan kepada saya seorang pasangan yang selalu marah dan memaki.

Berikanlah kepada saya sebuah rumah yang membahagiakan.

Rumah yang ketika saya berada di sana membuat saya bahagia hingga menitikkan air mata (the tears of joy).”

Sebuah doa yang sangat indah, bukan?

Semoga kita semua mendapatkan the coolness of the eyes (قُرَّةُ أَعْيُنٍ) dari pasangan, anak-anak, dan rumah kita.

————————————

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Divine Speech > 02. Verbal Idioms in The Quran (0:08:02 – 0:11:06)


Materi LBP Hari Ke-46 Siang | The Coolness of the Eyes in the Qur’an

Oleh : Icha Farihah

#ThursdayDivineSpeechWeek7Part2

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

—————————————————

Makna the coolness of the eyes (قُرَّةُ أَعْيُنٍ) di dalam Al-Qur’an tidak hanya terdapat di dalam doa yang sebelumnya dijelaskan. 

Ada beberapa contoh penggunaan the coolness of the eyes (قُرَّةُ أَعْيُنٍ) lain ⤵️

🏞 Kisah ibunda Musa ‘Alayhis Salam dan bayinya 🏞

Pecah sudah tangisan ibunda Musa ‘Alayhis Salam ketika ia terpaksa menghanyutkan anaknya sendiri ke sungai Nil.

Ia tahu pilihannya membawa risiko yang besar terkait keselamatan anaknya.

Tapi, cara itu ia pilih untuk menyelamatkan Musa ‘Alayhis Salam dari ancaman lain yang lebih nyata.  Yaitu, kebijakan bengis Fir’aun yang membunuh semua bayi laki-laki.

Setelah berpisah dengan bayinya. Ibunda Musa ‘Alayhis Salam menjalani hidup dengan penuh kesedihan.

Bertanya-tanya tentang bagaimana nasib sang bayi setelah hilang dalam pandangannya di sungai itu.

Hingga akhirnya, tangisan bayi Musa ‘Alayhis Salam kembali ia dengar dari ruangan istana.

Allah ta’ala merekam kejadian ini di dalam Al-Qur’an,

فَرَدَدۡنَٰهُ إِلَىٰٓ أُمِّهِۦ كَيۡ تَقَرَّ عَيۡنُهَا وَلَا تَحۡزَنَ وَلِتَعۡلَمَ أَنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ

Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. (QS Al-Qasas, 28: 13)

Allah menggunakan kata تَقَرَّ عَيۡنُهَا untuk mendeskripsikan mata ibunda Musa ‘Alayhis salam berubah menjadi sejuk (cool).

Sebelumnya, mata itu selalu perih (warm) karena kepergian sang bayi.

Namun setelah bertemu kembali, ia menjadi bahagia. Akhirnya, ia bisa memeluk, menggendong, dan merawat bayinya sendiri. 

Ibunda Musa ‘Alyahis Salam menangis. Menangis. Dan menangis.

Tapi, air matanya kali ini bukan karena kesedihan. Air mata itu adalah air mata kebahagiaan. Itulah the tears of joy.

—————————————–

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Divine Speech > 02. Verbal Idioms in The Quran (0:11:06 – 0:12:23)


Materi LBP Hari Ke-46 Sore | The Coolness of the Eyes in the Qur’an

Oleh : Icha Farihah

#ThursdayDivineSpeechWeek7Part3

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

———————————————————

🏞 Istri Fir’aun dan Bayi Musa ‘Alalyhis Salam 🏞

Asiyah adalah seorang wanita yang menikah dengan Fir’aun.

Ia hidup tanpa kebahagiaan rumah tangga, penuh ketakutan, dan kekerasan.

Ustaz tidak dapat memastikan kekerasan apa yang dialami Asiyah. Bisa jadi kekerasan mental atau fisik.

Al-Qur’an merekam doa tentang bagaimana Asiyah benar-benar meminta pertolongan dari Fir’aun.

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتٗا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim,” (QS At-Tahrim, 66: 11)

Tidak ada tempat mengadu untuk seorang istri Fir’aun.

Mengadu ke polisi? Tidak mungkin. Mereka pasti tunduk dan patuh kepada Fir’aun.

Mengadu ke pemerintah? Tidak mungkin. Fir’aun yang menguasai pemerintahan.

Melarikan diri ke sebuah desa? Tidak mungkin. Semua desa adalah milik Fir’aun.

Asiyah menemukan jalan buntu. 

Hanya Allah ta’ala satu-satunya yang dapat menyelamatkan. 

Pada suatu ketika, Asiyah menemukan seorang bayi di sebuah sungai Nil.

Bayi itu benar-benar membuat matanya sejuk. 

Asiyah menggendong dan membawa pulang bayi tersebut ke istana untuk menemui Fir’aun. 

Ia memang takut kepada Fir’aun.  Tapi, ia lebih takut kehilangan bayi yang digendongnya.

Maka berbekal keberanian yang ia miliki, Asiyah menghadap Fir’aun yang saat itu di kelilingi para petinggi dan pengawalnya. 

Semua orang di dalam ruangan itu sangat heran. 

Istri seorang raja yang memerintahkan pembunuhan bayi malah membawa seorang bayi ke dalam istana.

Ditambah, warna kulit bayi yang ia gendong berbeda dengan bayi-bayi istana. Bisa dikatakan bayi ini hanyalah bayi biasa dan bukan dari kalangan bangsawan.

Setelah langkahnya tepat berada di dekat Fir’aun. Tanpa basa-basi, Asiyah langsung mengatakan kepada Fir’aun,

“Dia menyejukkan mataku”. He cools my eyes.

وَقَالَتِ ٱمۡرَأَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَيۡنٖ لِّي وَلَكَۖ لَا تَقۡتُلُوهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوۡ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدٗا وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ

Dan istri Fir‘aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,” sedang mereka tidak menyadari. (QS Al-Qasas, 28: 9)

Bagaimana kelanjutan kisahnya? 

—————————————————————

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Divine Speech > 02. Verbal Idioms in The Quran (0:12:23 – 0:14:39)

(Bersambung iA pekan depan)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Lessons from Bayyinah’s Production

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s