[LBP2020] Kitab Yang Mengandung Kebenaran


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-38

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 29 Juli 2020

Materi LBP Hari ke-38 Pagi | Kitab yang Mengandung Kebenaran

Ditulis oleh: Maysaroh Nur

Sumber Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 01. Ali Imran > Ayah 1-3 Ramadahan 2018 (32.00 – 39.57)

Apa yang dimaksud dengan muṣaddiqan limā baina yadaihi?

Nazzala muṣaddiqan memiliki arti bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an  untuk menegaskan suatu kebenaran.

Menegaskan kebenaran yang “ada di depannya”. Menegaskan kebenaran “yang mendahuluinya”.

Sedangkan mā baina yadaihi pernah di bahas oleh ustaz di dalam QS Al-Baqarah. Ustaz memberikan ringkasan singkat tentang makna ma baina yadaihi.

Yang dimaksud dengan ma bayna yadayhi adalah naskah-naskah suci yang terdahulu (previous scriptures). Al-Qur’an mengonfirmasi apapun hal yang baik yang mungkin masih ada di naskah-naskah suci itu.

Siapa pun yang menyimak Al-Qur’an dengan seksama, serta mengimani Taurat dan Injil, akan segera melihat kebenaran di dalam kedua kitab itu. 

Terdapat dua tipe penganut agama. Tipe yang pertama adalah mereka yang memiliki kesetiaan dan ketertarikan terhadap suatu tokoh. Dan tipe kedua adalah mereka yang memiliki ketertarikan dengan kitab suci.

Kita akan membahas tipe penganut agama yang memiliki kertertarikan dengan kitab suci. Nah mereka yang memiliki ketertarikan terhadap naskah kitab suci, adalah penganut agama yang membaca kitab sucinya saat siang dan malam. Mereka yang mencintai kalimat Allah, mempelajari serta mengulang-ulang kalimat Allah. 

Ustaz Nouman menceritakan pengalaman yang pernah dialaminya saat mengundang komunitas gereja ke masjid. Komunitas gereja yang datang saat itu adalah penganut agama yang memiliki ketertarikan terhadap naskah kitab sucinya.

Lalu ustaz dan tamunya bersama-sama membahas surah Maryam. Ustaz membaca surah Maryam apa adanya. Tidak ada upaya untuk menutup-nutupi. Tidak ada kata-kata pemanis untuk menutupi kebenaran. Apa yang ada pada Al-Qur’an, itulah yang dibaca oleh ustaz. 

Saat dibacakan Surah Maryam, mereka duduk dan mendengarkan sambil menangis. Kenapa mereka menangis? 

Kenapa air mata mereka terus bercucuran?

Karena Al-Qur’an membenarkan apa yang mereka miliki. Membenarkan apa yang mereka baca.

Mereka tidak mengetahui persisnya, bagian mana dari Kitab mereka yang masih murni dan bagian mana yang sudah ditambahkan ke Kitab mereka. Namun fithrah mereka menjerit serta mengiyakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an membenarkan sebagian ayat-ayat dari Kitab mereka.

Beberapa ayat, mampu membuat seseorang untuk datang dan mendengar Al-Qur’an. Tentu saja terdapat banyak hal yang bertentangan antara Al-Qur’an dengan Injil. Dan banyak  hal yang benar.

Dan tahukah apa yang mereka katakan setelah mendengarkan Al-Qur’an?

 Innā kunnā min qablihī muslimīn 

“Sungguh, sebelumnya kami adalah orang muslim.” (QS Al-Qasas, 28:53)

“Kami sudah menjadi muslim sebelum ini.”

“Bagaimana mungkin kamu menjadi muslim sebelum ini. Saya pikir kamu Nasrani, Yahudi atau yang lain.”

Ternyata maksud dari kalimat tersebut, ditujukan untuk mereka yang telah mematuhi perintah Allah, akan tetapi tidak menyadarinya. 

Bersambung insyaAllah ba’da Zuhur


Materi LBP Hari ke-38 Siang | Perbedaan Nazzala dan Anzala

Ditulis oleh: Maysaroh Nur

Sumber Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 01. Ali Imran > Ayah 1-3 Ramadahan 2018 (32.00 – 39.57)

Sebelumnya kita telah membahas makna kalimat musaddiqan lima baina yadaihi yang terdapat pada QS Ali-Imran ayat 3. Sekarang kita masuk ke bagian selanjutnya.

Wa anzalat-taurāta wal-injīl (QS Ali-Imran, 3:3)

Pada umumnya, nazzala dan anzala dibedakan berdasarkan waktu. Nazzala berarti diturunkan dari waktu ke waktu. Sebagaimana Al-Qur’an diturunkan dari waktu ke waktu.

Sedangkan anzala berlaku untuk wahyu yang diturunkan satu kali dan tidak berlaku sepanjang waktu. 

Dalam konteks kali ini, anzala dan nazzala memiliki makna yang sama sekali berbeda. Nazzala berarti Allah menurunkan Al-Qur’an secara bertahap dalam beberapa waktu.

Sedangkan anzala, digunakan untuk menjelaskan bahwa Allah menurunkan Taurat dan Injil dalam satu waktu.

Namun hal tersebut tidak sepenuhnya benar. 

Sebagaimana Al-Qur’an, ternyata Injil juga di turunkan secara bertahap dari waktu ke waktu. Lalu bagaimana dengan Taurat?

Nah berbeda dengan yang lain, Sepuluh Perintah Tuhan (Ten Commandments) memang hanya diturunkan dalam satu waktu, tapi Taurat berisi wahyu yang lebih banyak dari itu. Lebih banyak dari keduanya serta sama-sama diturunkan juga secara bertahap.

Diperlukan pendapat yang baik untuk menjelaskan dua kata kerja dengan arti sama tetapi tersusun dari pola yang berbeda. Salah satu implikasinya adalah, dari dua kata tersebut terdapat satu kata yang memiliki kedudukan lebih kuat dibanding yang lain. 

Sehingga nazzala digunakan untuk Al-Qur’an  dan anzala digunakan untuk kata kerja yang lebih lemah, dalam hal ini Taurat dan Injil. Nah, itu adalah penjelasan pertama tentang perbedaan penggunaan nazzala dan anzala.

Kita masih bisa menggunakan nazzala untuk menandakan waktu yang berkelanjutan. Dan menggunakan anzala untuk satu waktu. Tapi ada penjelasan lain.  Saat sesuatu telah selesai dikerjakan dan masih berjalan kita menggunakan af’ala

Akan tetapi saat sesuatu yang telah dikerjakan masih berjalan, maka kita menggunakan fa’ala (فَعَّلَ). Saat sesuatu benar-benar selesai maka kita menggunakan af’ala (أَفْعَلَ).

Allah menurunkan Al-Qur’an secara bertahap dalam beberapa proses. Terdapat beberapa aspek yang masih perlu diungkap ketika Al-Qur’an diturunkan. Berbeda dengan Taurat dan Injil yang saat di turunkan, sudah selesai secara keseluruhan.

Bersambung insyaAllah ba’da Ashar


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-38 Siang | Perbedaan Nazzala dan Anzala

Siti:

Sy jadi bertanya apakah Nazzala dan Anzala itu juga ada pengaruh kalau Nazzala untuk Al-Qur’an itu adalah karena petunjukNya akan berlaku sampai sekarang sampai umat akhir zaman. Tapi jika Anzala untuk Taurat dan Injil adalah untuk petunjuk untuk umat yang terdahulu… 

Jadi penasaran pemilihan Allah menggunakan Nazzala dan Anzala…🙏😊🙏🤗

Sy:

Masih bingung bacanya 😦

Mba Hain:

Jazakillahu khayron atas pertanyaan nya, mba Siti. Saat ini pertanyaan sudah disampaikan kepada Tim research semoga Allah berikan petunjuk untuk teman-teman segera bisa membantu menjawab pertanyaan nya. :)))

Mba Hain:

Halo, kak. Mungkin bisa kami bantu, di bagian apa yang kakak bingungkan? 🙏🏻

Irfan:

Secara garis besar tulisan ini sedang membedakan karakter quran dan kitab lainnya berdasarkan kata yang dipilih Allah untuk menyebut “menurunkan” dengan anzala dan nazzala.

Eny:

Percikan api apakah ini ada hubungannya dengan api yang dilihat nabi Musa AS?

~:

Maaf, ada yang bisa bantu membedakan kedua kalimat tersebut?

Hanif:

Untuk memahaminya butuh pemahaman sharaf wazan.

fa’ala-yufa’ilu dan af’ala yuf’ilu

Contoh mudah qoto’a artinya memotong…tapi kalo menggunakan tasydid (qotto’a) maknanya jadi memotong-motong.

1. fungsi menjadikan kalimat transitif

2. aktivitas yang terus menerus

https://belajarbahasaarabdasar.blogspot.com/2019/03/9-wazan-fiil-dan-maknanya.html?m=1

Penekanan nazzala itu juga “is still going on”….sedangkan anzala is done. 

Al Qur’an menggunakan nazzala…sedangkan kitab suci sebelumnya menggunakan anzala

Nazzala diturunkan berangsur-angsur….anzala diturunkan sekaligus…

wallahu a’lamu bish shawab 🙏


Materi LBP Hari ke-38 Sore | Arti Kata Taurat

Ditulis oleh: Maysaroh Nur

Sumber Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 01. Ali Imran > Ayah 1-3 Ramadahan 2018 (32.00 – 39.57)

Taurat dalam bahasa Ibrani, merupakan transliterasi Arab dari bahasa Ibrani yang keduanya berasal dari huruf wa-ra-ya. Dalam bahasa Arab terdapat huruf wa-ra-ya dan kita bisa menemukan huruf yang setara dalam bahasa Ibrani. Hanya saja dalam bahasa Ibrani huruf tersebut berubah menjadi  ya-ra-alif.

Ya-ra-alif adalah padanan kata yang digunakan dalam bahasa Ibrani. Kata asalnya bermakna proses menggesekkan batu untuk menyalakan api. Percikan api akan muncul saat kedua benda digosokkan secara bersamaan, itulah asal kata ya-ra-alif.

Bahasa Arab memiliki dua makna, abstrak dan yang sebenarnya. Makna sebenarnya adalah, untuk membuat percikan api. Sementara itu makna abstraknya adalah pengetahuan, petunjuk, bukti dan pencerahan. 

Apa bahasa Arab untuk pengetahuan? Ilm

Apa bahasa Arab untuk petunjuk? Hudan.

Sedangkan bukti dalam bahasa Arab adalah bayyan, atau kita juga bisa menyebutnya bayyinah.

Dan yang terakhir pencerahan, dalam bahasa Arab disebut nur.

Allah menggunakan kata Ilmul Kitab untuk menyebutkan Taurat. Apa maknanya? Kenapa Taurat disebut Ilmul Kitab? Dari hal ini kita bisa mengetahui bahwa arti lain dari Taurat adalah pengetahuan.

Kemudian Allah berfirman dalam QS Al Isra, 17:2, “Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk.” Selain sebagai pengetahuan, Taurat bisa diartikan sebagai petunjuk.

Allah telah memberikan kepada Harun dan Musa, Kitab yang penuh dengan bukti nyata. Sehingga Taurat juga dapat diartikan sebagai bukti yang nyata.

Makna selanjutnya arti Taurat adalah cahaya agar dapat melihat kebenaran.

Allah menyebut Taurat dan Injil sebagai petunjuk dan cahaya (hudan wa nur) . Pengertian tersebut dijelaskan di alam Al-Qur’an yang juga menjadi arti dari Taurat.

Bersambung insyaAllah pekan depan.


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Lessons from Bayyinah’s Production

One thought on “[LBP2020] Kitab Yang Mengandung Kebenaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s