[LBP2020] Anak-Anak adalah Rezeki


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Materi LBP Hari Ke-34 Pagi | Anak-Anak adalah Rezeki (Part 1)

Disarikan oleh: Icha Farihah

Memaknai Anak dan Cucu Sebagai Rezeki

وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَجَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةٗ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ وَبِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ هُمۡ يَكۡفُرُونَ

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS An-Nahl, 16: 72)

Pada ayat ini, Allah sampaikan bahwa anak dan cucu adalah rezeki. Allah memisahkan kata anak dan cucu karena mereka adalah sesuatu yang berbeda. Rasa memiliki anak dan cucu berbeda. Terkadang seorang nenek / kakek memperlakukan cucu amat baik. Berbeda sekali perlakuannya jika dibandingkan terhadap anak.

Ustaz Nouman menceritakan bahwa beliau sering mengunjungi ibunya bersama anak-anak. Saat berkunjung, anak-anaknya diperlakukan sangat manis. Perlakuan yang sangat berbeda dengan perlakuan ibu kepadanya. Ustaz sampai iri dengan anak-anaknya sendiri. Sebenarnya siapa yang anak dan siapa yang cucu. 

Akhirnya, ustaz memprotes dan menanyakan ini kepada ibunya, “Bu, aku itu anak laki-laki, Ibu. Tapi, kenapa Ibu malah lebih baik dan sayang dengan anak-anakku? Kenapa perlakuan Ibu sangat berbeda?” Ibu memberi jawaban yang masuk akal, “Sebuah kebahagiaan bagi Ibu memiliki anak, tanpa perlu memikirkan tanggung jawabnya.” 

Seorang nenek / kakek melihat cucu mereka sebagai sosok anak yang manis tanpa tumpukan tanggung jawab. Mereka tidak perlu mengganti popok sang anak yang sudah bau, membantu mengerjakan pekerjaan rumah (PR), memastikan anak-anak sudah tidur di waktu yang seharusnya, dan rentetan tanggung jawab lainnya. Makanya, nenek / kakek merasa bahagia dan sangat baik terhadap cucu-cucunya. 

Jadi, dari sini kita mengetahui bahwa Allah berikan rezeki berupa anak, kemudian di usia lebih lanjut rezeki itu juga berupa cucu. Rezeki yang mungkin saja terlewat untuk disyukuri. Jika ada dari pembaca yang sudah memiliki cucu. Maka Allah ingatkan melalui ayat ini untuk bersyukur. Allah berikan kebahagiaan juga lewat cucu-cucu kita. 

Berperan Sesuai Porsi

Seorang nenek / kakek harus menyesuaikan perannya dengan benar. Cukup menjadi seorang nenek / kakek. Jangan mencoba untuk menjadi orang tua bagi sang cucu. Jangan menjadi sesuatu yang bukan haknya. 

Terkadang, nenek / kakek merasakan ‘cinta buta’ kepada sang cucu. Kita sering mendengar seorang nenek / kakek menasihati anak-anaknya tentang cara mendidik anak dengan benar. Nenek / kakek akan mengatakan, “Jangan terlalu keras mendidik anak-anakmu itu.” Ucapan seperti ini biasanya karena nenek / kakek merasa tidak tega terhadap didikan orang tua kepada sang cucu. Padahal tanggung jawab mendidik memang ada pada orang tua. 

Seorang nenek / kakek memang tahu betul tentang anaknya. Tapi pengetahuan tentang sang cucu, mereka hanya tahu sedikit sekali. Mereka mungkin hanya melihat sekilas keadaan sang cucu ketika berkunjung. Sedangkan keseluruhan perilaku dan sifat sang cucu tidak nampak. Hanya orang tualah yang mengerti. Maka, para orang tua memang sudah seharusnya bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anak menjadi sosok yang disiplin dan paham agama. 

Jadi, tidak apa memberikan cinta kepada sang cucu. Tapi, tetap mainkan peran sebagai seorang nenek / kakek dengan porsi yang sesuai.

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Parenting > 03. Children are a Blessing Part 2 – Parenting (00:00:40 – 00:08:50)

(bersambung iA ba’da zhuhur)

🏠🏠🏠🏠🏠


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari Ke-34 Pagi | Anak-Anak adalah Rezeki (Part 1)

Didiet:

Jazaakillaahu khairaa

Rasanya ini pengalaman kita semua ya.. Tentang anak dan cucu, pas banget 😄

Patricia:

This is so true.. 

Kadang sifat tidak tegaan kakek nenek mendorong adanya intervensi pada gaya pendidikan orang tua, terutama hal disiplin. Padahal ini bukan porsi kakek nenek lagi

Raisa:
Hain:

Maasyaaa Allah..

Saya terpukau dengan jawaban Ibundanya ustadz nouman. Sekarang jadi memahami kenapa kakek-nenek terkesan “lebih sayang” sama cucu dibanding anak sendiri.

Saya jadi teringat tetangga Saya, kalau anak dan cucunya sedang berpamitan pulang kembali ke rumah. Kakeknya bilang, “Nanti ga bs main hape lhooooo“.

Jadi cucunya kalau datang kerap seketika berujar, “Akiiii, Mana hape??“. 

:”(((

Mgkn solusinya, orang tua dr si cucu yg Juga anak dr kakek-nenek ini membangun komunikasi lebih erat terkait metode pengajaran yang ingin dibangun di keluarga nyaaa yaaa

Patricia:

Betul.. Orang tua perlu cerita ke kakek nenek nilai pendidikan seperti apa yg mereka anut di rumah. Disiplin seperti apa. Dan minta bantuan kakek nenek untuk bekerja sama mendidik cucu sejalan. 

Dan selalu minta pertolongan Allah untuk menjaga anak, bukakan pintu hati kakek nenek untuk mau bekerja sama mendidik. Ini harus dijaga sih, selalu minta pertolongan Allah. Apalah kita manusia ini tanpa bantuan Allah 😥


Materi LBP Hari Ke-34 Siang | Anak-Anak adalah Rezeki (Part 2)

Disarikan oleh: Icha Farihah

#SaturdayParentingWeek5Part2

بسم الله الرحمن الرحيم

Anak-Anak: Sebuah Nikmat yang Sering Terlupakan

يَعۡرِفُونَ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ

Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah.” (QS An-Nahl, 16: 83)

Ketika ustaz Nouman membaca ayat ini, beliau mengingat anak-anaknya. Allah katakan bahwa “Mereka tahu nikmat yang telah diberikan oleh Allah, tetapi malah mengingkari dan mengabaikannya.” Mereka bahkan termasuk yang tidak sadar dan tidak mengakui nikmat tersebut. Dan salah satu nikmat itu adalah anak-anak kita. Salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita. 

Anak-Anak Berarti Kebangkitan Umat

ثُمَّ رَدَدۡنَا لَكُمُ ٱلۡكَرَّةَ عَلَيۡهِمۡ وَأَمۡدَدۡنَٰكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ أَكۡثَرَ نَفِيرًا

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. (QS Al-Isra’, 17:6)

Allah menceritakan tentang Bani Israil. Allah memberi kuasa kepada Bani Israil dengan mengembalikan mereka menjadi sebuah bangsa. Padahal sebelumnya mereka tidak sebesar itu. Dengan cara apakah mereka menjadi sebuah bangsa yang besar? Dengan harta kekayaan dan anak-anak. 

Anak-anak bukan hanya sebuah nikmat. Anak-anak juga berarti tanda sebuah bangsa dapat bangkit kembali. Sekarang ketika kita mengatakan bahwa Islam ada di bawah dan terbelakang. Bani Israil juga dahulu seperti itu. Kemudian, Allah bangkitkan mereka melalui anak-anak mereka. Allah sudah melakukannya kepada Bani Israil. Maka, kita juga harus yakin bahwa Islam suatu hari nanti akan bangkit melalui kontribusi dari anak-anak kita.

Anak-Anak dan Sebuah Analogi Investasi

Salah satu hal paling indah di dalam Al-Qur’an adalah ketika Allah menganalogikan anak-anak dengan investasi.

Allah katakan di dalam Al-Qur’an,

نِسَآؤُكُمۡ حَرۡثٞ لَّكُمۡ فَأۡتُواْ حَرۡثَكُمۡ أَنَّىٰ شِئۡتُمۡۖ وَقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّكُم مُّلَٰقُوهُۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah, 2:223)

Dalam ayat ini, topik bahasannya adalah tentang menikah dan cara bergaul yang baik terhadap istri. Tetapi, Allah juga membicarakan di tengah-tengah tentang وَقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُمۡۚ. Penggalan ayat ini artinya adalah untuk mempunyai anak. 

Ketika kita memiliki anak dan dibesarkan dengan benar. Maka setiap kebaikan akan menjadi investasi akhirat kita. Kemudian, ketika anak-anak tersebut memiliki keturunan lagi dan dididik sebagaimana mestinya. Kita sebagai nenek / kakek juga akan mendapat kebaikan itu. Kebaikan menjadi investasi yang mengalir terus-menerus menuju akhirat. Dari anak, ke cucu, ke cicit, dan seterusnya. Semua kebaikan ini akan membangun investasi abadi di negeri akhirat.

Jadi, investasi terbaik kita adalah membesarkan anak-anak dengan benar.

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Parenting > 03. Children are a Blessing Part 2 – Parenting (00:00:40 – 00:08:50)

(bersambung iA ba’da asar)

🏠🏠🏠🏠🏠


Materi LBP Hari Ke-34 Sore | Anak-Anak adalah Rezeki (Part 3)

Disarikan oleh: Icha Farihah

#SaturdayParentingWeek5Part3

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebuah Kultur Tentang ‘Investasi’ Anak

Beberapa negara atau tempat memiliki gagasan bahwa anak-anak adalah sebuah investasi jangka panjang. Namun, bukan investasi untuk urusan akhirat seperti penjelasan sebelumnya. Bagi sebagian orang, anak-anak artinya investasi untuk kehidupan yang bahagia di dunia.

Para orang tua biasanya mengeluarkan ratusan juta untuk dana pendidikan dan karir sang anak.  Sebagian dari kita berharap bahwa anak-anak nantinya akan membantu kita dalam memenuhi kebutuhan finansial di masa depan ketika pensiun. Anak-anak akan membayar tagihan listrik, air, dan kebutuhan lainnya. Secara personal, ustaz tidak menganggap itu sebagai sebuah kesalahan. Itu hal yang sah-sah saja dan merupakan bagian dari kultur di beberapa tempat.

Akan tetapi, beda cerita ketika gagasan ini dibawa ke negara seperti Amerika Serikat. Pandangan seperti ini tidak akan bertahan. Amerika Serikat terkenal dengan kultur kemandirian, independency. Di negeri ini, ada kultur tentang mencintai sebuah kemandirian dalam aspek apapun, termasuk finansial. Ustaz secara pribadi juga menjelaskan bahwa beliau tidak mau bergantung pada anak-anaknya. Ustaz ingin memiliki hubungan dengan mereka secara baik. Ustaz senang membersamai anak-anak. Ustaz menyukai menjadi seorang kakek ketika anak-anaknya memiliki keturunan. Tapi, ustaz tidak ingin menjadi tanggungan hidup bagi mereka. Ustaz tidak ingin mengikuti kultur ekspektasi seperti itu terhadap anak-anaknya.

Mengadopsi kultur ekspektasi ini seperti tidak ada hentinya. Sekarang saat berada di posisi sebagai seorang anak, kita mencukupi kebutuhan finansial orang tua. Kemudian, saat kita berada di posisi menjadi orang tua. Kita juga berharap anak-anak melakukan hal yang sama. It doesn’t work like that

Para orang tua yang memiliki pandangan seperti ini pun tidak sepenuhnya salah. Karena biasanya kultur ekspektasi ini sudah mendarah daging. Tapi, perlu diingat bahwa ini bukan bagian dari ajaran Islam. Islam memang menjelaskan tentang berbuat yang terbaik kepada kedua orang tua. Islam memberikan panduan umum tentang hal tersebut. Namun bentuk implementasinya bisa beragam. Jadi, ketika kita sebagai orang tua sedang mengalami krisis finansial. Jangan terlalu berharap kepada anak-anak.

Lagi pula, jika kita membesarkan anak-anak kita dengan benar. Tanpa diminta, mereka akan memenuhi kebutuhan kita dengan sendirinya. Berbeda sekali, jika mereka diasuh secara asal. Alih-alih berbakti, mereka malah kesal kepada orang tua yang meminta-minta.

Di usia senja, orang tua sudah tidak memiliki hasrat banyak terhadap materi. Kita tidak ingin hidup dengan kekayaan melimpah. Kita tidak ingin rumah baru, tv besar, mobil mewah, dan lain-lain. Semua yang kita inginkan hanyalah menghabiskan waktu bersama mereka: anak-anak, cucu, dan cicit kita. Kita berharap ada di tengah-tengah mereka sebagai seorang teman. Bukan sebagai seorang yang menuntut kekayaan. Oleh karena itu, kita perlu memberikan pengajaran kepada mereka dengan benar. Sehingga mereka menyadari bahwa berbakti kepada orang tua adalah sebuah kebaikan yang dapat mengantar diri masuk ke surga.

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Parenting > 03. Children are a Blessing Part 2 – Parenting (00:00:40 – 00:08:50)

(bersambung iA pekan depan)

🏠🏠🏠🏠🏠


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari Ke-34 Sore | Anak-Anak adalah Rezeki (Part 3)

Nurjanah:

Bener bangettt🤧🤧

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Lessons from Bayyinah’s Production

One thought on “[LBP2020] Anak-Anak adalah Rezeki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s