[LBP2020] Petunjuk Itu Nyata


Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-29

Topik: Last Ayahs of Fatiha

Senin, 20 Juli 2020

Materi LBP Hari ke-29 Pagi | Berawal Dari Al-Fatihah

Disarikan oleh: Muchamad Musyafa

Sumber :

     1. Bayyinah TV > Quran > Surahs > Deeper Look > Al-Fatihah

Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan minggu lalu, yaitu ayat ke-7. Tapi coba kita mundur sebentar ke ayat sebelumnya, ayat ke-6.

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ  

[1:6] Tunjukilah kami jalan yang lurus

Di ayat ke-6 ini, kita memanjatkan doa untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Jalannya orang mustaqim. Yaitu jalannya orang yang istiqomah. Jadi kita meminta sebuah petunjuk di sini, kita meminta sebuah guidance

Sering kita mengucapkan surat Al-Fatihah, secara sadar atau tidak kita telah berulang-ulang berdoa meminta petunjuk. Dan barangkali sampai saat ini kita masih menunggu, kita masih kebingungan, di mana petunjuk itu. Atau bisa jadi bentuk petunjuk ini masih sangat abstrak dalam benak kita.

Jika pembaca menyimak artikel pembahasan surat Al-Baqarah, di situ dijelaskan bahwa inilah Al-Qur’an, petunjuk itu. Disebutkan di Al-Baqarah ayat 2 : Itulah buku (Al-Qur’an) yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Jadi apa petunjuknya? Apa guidance yang kita cari selama ini?

Al-Qur’an

Jika kita sudah memahami hal mendasar di atas, maka kita akan paham bahwa selanjutnya dengan Al-Qur’an kita akan diberi petunjuk mana golongan orang yang diberi nikmat (Al-Fatihah ayat 6). Dan dengan Al-Qur’an juga kita akan diberi petunjuk siapa orang yang dimurkai di antara kaumnya dan siapa orang-orang yang sesat itu (Al-Fatihah ayat 7)

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

[1:7] (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Al-Qur’an memberi kita petunjuk atas hal itu.

Lanjut..

Dengan susunan istimewa dari Al-Qur’an, tak perlu jauh-jauh bagi kita untuk mengetahui penjelasan dari mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat itu.

Ternyata penjelasan terkait mereka yang dimurkai ini bisa kita temukan secara detail di surat Al-Baqarah. Surat yang persis mengikuti surat Al-Fatihah.

Lalu penjelasan terkait mereka yang sesat ini bisa kita temukan secara detail di surat ‘Ali-‘Imran. Surat yang mengikuti Al-Baqarah.

1️⃣ Al-Fatihah ⏩ 2️⃣ Al-Baqarah ⏩ 3️⃣ ‘Ali-‘Imran

Di dalam surat Al-Baqarah akan kita temukan banyak ayat yang membahas hubungan orang Yahudi dengan Rasulullah ﷺ dan juga hubungan bani Israil dengan nabi-nabi mereka. Dari sana kita bisa tahu ciri-ciri dan karakter dari mereka yang dimurkai.

Sedangkan di dalam surat ‘Ali Imran, akan bisa kita temukan banyak ayat yang membahas hubungan orang Nasrani dengan Rasulullah ﷺ. Dari sana kita bisa tahu ciri-ciri dan karakter mereka yang sesat.

Sekali lagi, 🏁 berawal dari Al-Fatihah ⏩ lalu dijelaskan secara urut dari Al-Baqarah ⏩ lalu lanjut ke ‘Ali-‘Imran

SubhanAllah, begitu menakjubkan susunan Al-Qur’an bagi mereka yang mengetahuinya.

Jadi, untuk memahami siapa itu mereka yang dimurkai, pelajarilah perilaku kaum Yahudi. Tapi bukan serta merta orang Yahudi yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari tapi perilaku orang Yahudi yang dicerminkan di dalam Al-Qur’an.

Lalu untuk memahami siapa itu mereka yang sesat, pelajarilah perilaku kaum Nasrani. Tapi bukan serta merta orang Nasrani yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari tapi perilaku orang Nasrani yang dicerminkan di dalam Al-Qur’an.

Apa yang dilakukan orang Yahudi di Al-Qur’an, sampai mereka disebut sebagai orang yang dimurkai?

Apa yang dilakukan orang Nasrani di Al-Qur’an, sampai mereka disebut sebagai orang yang sesat?

Dengan Al-Qur’an, Allah ﷻ telah menunjukkan kepada kita mana jalan yang baik. Dengan Al-Qur’an, Allah ﷻ telah menunjukkan kepada kita mana jalan yang buruk.

Untuk menilai apakah jalan yang kita lewati baik atau buruk, maka kita bisa membandingkannya dengan jalan yang dipilih oleh kaum Yahudi dan Nasrani di Al-Qur’an. Apakah jalan yang kita tempuh sama ciri-cirinya dengan jalan yang mereka atau tidak.

Bersambung insyaAllah ba’da Zhuhur.


Materi LBP Hari ke-29 Siang | Yang Dimurkai, Yang Tersesat (Part 2)

Disarikan oleh: Muchamad Musyafa

Sumber :

     1. Bayyinah TV > Quran > Surahs > Deeper Look > Al-Fatihah

Perlu kita ketahui, kaum Yahudi memiliki tradisi keilmuan yang luar biasa.

Ust. Nouman bercerita bahwa dia memiliki beberapa teman yang merupakan seorang rabi (mirip seorang ulama di dalam agama Islam).

Para rabi tradisional ini biasanya belajar 12 – 16 jam setiap hari selama bertahun-tahun. Mereka menulis – tidak hanya membaca – berjilid-jilid sampai hari ini. Mereka memiliki pengalaman membaca yang baik di dalam tradisi mereka.

Buku fikih mereka sepuluh, lima belas bahkan dua puluh lima kali lebih besar daripada yang kita miliki. Setiap pendapat seorang rabi mereka perhitungkan. Jika seorang rabi berpendapat, maka itu akan menjadi bagian syariat mereka. Ini adalah tradisi keilmuan yang sangat besar di dalam tradisi Yahudi.

Itu artinya bahwa sebenarnya mereka sangat baik dalam memahami keilmuan mereka, mereka mengetahui hukum-hukum mereka. Dan mereka telah melakukan hal itu telah sejak sekian lama.

Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa mereka telah melakukan pelanggaran, baik terhadap hal yang mereka tidak tahu maupun apa yang sebenarnya mereka tahu. Mereka mengubah firman Allah ﷻ bahkan setelah mereka mengetahuinya, ketika mereka sudah memahaminya sepenuhnya.

تَطۡمَعُونَ أَن يُؤۡمِنُواْ لَكُمۡ وَقَدۡ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ يَسۡمَعُونَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُۥ مِنۢ بَعۡدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ   

[2:75] Maka apakah kamu (Muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya?

Mereka sekelompok orang Yahudi ini sebenarnya paham betul, mereka mengerti dengan baik. Namun mereka dengan sengaja melakukan pelanggaran. Mereka mengubah firman Allah ﷻ setelah mereka memahaminya. Dengan apa yang mereka perbuat ini, Allah ﷻ menyebut mereka sebagai  orang yang pantas dimurkai.

Lalu kenapa di dalam Al-Fatihah dipilih frasa “mereka yang dimurkai” bukan “mereka yang Allah murkai”?

1️⃣ Pertama, Allah ﷻ sangat marah terhadap orang-orang ini. Allah ﷻ marah besar. Allah ﷻ bahkan tidak ingin menyebut namanya bersanding dengan Al-Maghdhubi alayhim, orang-orang yang dimurkai.

Mereka telah melakukan pelanggaran yang sama dengan terus menerus dan tidak peduli dengannya. Bahkan mereka melakukannya setelah memahami bahwa yang mereka lakukan itu sebuah kesalahan. Maka Allah ﷻ tidak ingin menyebut nama-Nya besanding dengan mereka.

2️⃣ Kedua, bukan hanya Allah ﷻ yang marah terhadap mereka.

Ketika seseorang memiliki pengetahuan yang luas, maka ada banyak orang lain bergantung padanya. 

Betul tidak?

Ketika orang-orang berilmu melakukan kesalahan, maka pengikutnya akan mengikuti kesalahan yang sama sehingga pengikutnya menjadi tersesat.

Jadi jika ada seorang yang berilmu melakukan pelanggaran, melakukan kesalahan, maka dapat dipastikan pengikutnya, murid-muridnya akan kacau, mereka akan ikut melakukan kesalahan yang sama dan masuk ke dalam kondisi yang tersesat, Adh-Dhalin. Munculnya satu orang Al-Maghdhubi berpotensi diikuti oleh banyak orang yang Dhallun (jamaknya Adh-Dhalin)

Pada hari pembalasan nanti, tidak hanya Allah ﷻ  yang murka terhadap orang yang berilmu ini, tapi para malaikat juga, orang-orang yang beriman juga akan ikut marah, bahkan para pengikut yang mereka sesatkan akan marah juga terhadap orang yang berilmu ini. Kemurkaan dan kemarahan datang dari berbagai arah untuk golongan Al-Maghdhubi ini.

Jika dikatakan “Seseorang telah dipukul”

Apakah ini berarti ia dipukul oleh 1 orang, sepuluh orang atau ratusan orang?

Kita tidak tahu, ia bisa saja dipukul oleh banyak orang.

Untuk mereka yang dimurkai ini, Allah ﷻ tidak spesifik menjelaskan dimurkai oleh siapa dan berapa banyak.

Bisa kah kita melihatnya disini? Ini berkaitan dengan tanggung jawab mereka.

Itu adalah beban yang harus mereka pikul atas apa yang mereka perbuat ketika pelanggaran yang mereka perbuat telah menyesatkan orang-orang lain.

Bersambung insyaAllah ba’da Ashar.


Materi LBP Hari ke-29 Sore | Yang Dimurkai, Yang Tersesat (Part 3)

Disarikan oleh: Muchamad Musyafa

Sumber :

     1. Bayyinah TV > Quran > Surahs > Deeper Look > Al-Fatihah

Di sesi penutup sore ini, mari kita berdoa kepada Allah ﷻ , Ya Allah jangan jadikan kami menjadi golongan orang-orang yang mengetahui tapi masih melakukan pelanggaran. Dan jangan jadikan kami menjadi golongan orang-orang yang tersesat.

Ini adalah hal yang luar biasa karena Allah ﷻ secara langsung mengajarkan doa ini kepada kita di surat Al-Fatihah.

Ada sebuah masalah besar ketika kita tahu dan paham tapi masih melakukan pelanggaran. Namun ada juga masalah lainnya ketika bahkan kita tidak ingin tahu, sehingga membiarkan diri kita tersesat.

Ini bukanlah keadaan tersesat karena kita tidak mendapatkan petunjuk. Tapi petunjuk itu ada, guidance itu nyata. Al-Qur’an telah disampaikan. Faktanya beberapa orang tersesat ketika petunjuk itu sudah ada. 

Jika sudah begini kondisinya, tanggung jawab siapa kah ini? 

Jawabannya, ini adalah tanggung jawab masing-masing orang.

Karena petunjuk sudah ada, tapi mereka tidak ingin mengetahuinya. Orang-orang tidak ingin mempelajari petunjuknya. Mereka menutup telinga mereka rapat-rapat ketika wahyu disampaikan. Mereka dengan kesadaran sendiri, mereka ingin tetap tersesat saja.

Tidak, jangan kasih tahu saya.”

“Jika kamu kasih tahu saya, maka nanti saya tahu.”

“Jika saya sudah tahu, maka saya berkewajiban ini dan itu.”

“Jika saya melanggarnya, maka saya berdosa.”

“Lebih baik saya menjadi orang bodoh saja yang tidak tahu apa-apa.”

Biarkan saja saya dianggap tersesat.”

Bisa jadi penggalan-penggalan omongan ini tidak asing bagi kita. Ketika kita mencoba berdakwah, akan ada beberapa orang yang tidak mau didakwahi. Mereka memilih menjadi orang yang tidak tahu saja.

Saya tidak ingin menjadi orang yang tahu banyak lalu melanggar banyak, lebih baik saya menjadi orang yang tersesat saja. Adh-Dhaalliin saja”

Jika kita hanya berpikir tentang Al-Maghdhubi saja, maka kita akan khawatir untuk belajar, kita takut mempelajari sesuatu. Sehingga jika kita melakukan pelanggaran padahal kita tahu maka kita akan berdosa lalu Allah ﷻ akan murka.

Tapi tidak begitu, di Al-Fatihah Allah ﷻ melanjutkan ayat 7 dengan berfirman “dan bukan Adh-Dhaalliin” yaitu mereka yang tidak mau mencari tahu, mereka yang tidak mau belajar ketika petunjuk sudah hadir di antara mereka.

Jadi selain tidak boleh menjadi golongan Al-Maghdhubi, kita juga tidak boleh menjadi golongan yang Adh-Dhaalliin.

Jadi kita tetap harus menghargai Al-Qur’an, kita harus menghargai sebuah petunjuk. Lalu mengubah diri kita berdasarkan petunjuk yang diberikan itu.

Itulah keseimbangan yang luar biasa yang ingin disampaikan di penutup surat Al-Fatihah ini. 

Mari kita buka telinga dan hati kita.

Mari kita pahami Al-Quran.

Kita lakukan sebaik mungkin

Semoga Allah ﷻ memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang diberi nikmat.

Aamiin.

Masih bersambung insyaAllah di pekan depan.


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Lessons from Bayyinah’s Production

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s