[LBP2020] Leadership Workshop


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-28
Topik: Leadership
Ahad, 19 Juli 2020

Materi LBP Hari ke-28 Pagi | Leadership Workshop (Part 1)

Diterjemahkan oleh: Icha Farihah

Grand Vision 2: Awareness (kesadaran)

Kita lanjutkan pembahasan Grand Vision kedua dari sebuah komunitas Islam yaitu awareness (kesadaran). Pada tahapan ini, kita membuat sebuah program dengan asumsi orang-orang yang hadir adalah mereka yang tidak tahu apa-apa. Kita mencoba menyampaikan Al-Qur’an, sirah nabi, dan program lainnya dengan beranggapan bahwa para pendengar adalah orang-orang yang awam, layaknya non-muslim. Kita membuat program yang sederhana dan mudah diterima oleh semua orang sehingga mereka bersedia untuk datang. 

Meski beragama Islam, kebanyakan muslim tidak tahu apa-apa tentang agamanya, mereka tidak tahu Bahasa Arab, tidak bisa membaca Al-Qur’an, tidak mengerti istilah sirah, fikih, akidah, iman, tauhid, dan lain-lain. Mereka sama sekali tidak punya pemahaman tentang itu. Akan tetapi, masih ada rasa ingin tahu dalam diri mereka tentang Islam. Itulah objek dakwah yang termasuk dalam tahapan awareness.

Di sisi lain, kegiatan dakwah yang sekarang tersedia kurang memfasilitasi kebutuhan orang-orang yang ada di tahap awareness ini. Sebagai contoh, ketika memasuki masjid dan mendengar ceramah, terkadang isi khotbah terlalu berat dan dipenuhi kata-kata dalam Bahasa Arab. Akhirnya, mereka tidak paham dan merasa minder. Ibarat, sebuah level pendidikan. Mereka merasa baru ada di tingkat sekolah dasar, sedangkan orang-orang di dalam masjid sudah berada di tingkat perkuliahan. Keadaan inilah yang seharusnya kita ubah. Jika kita ingin menggunakan Bahasa Arab dalam sebuah ceramah, kita juga harus menerjemahkannya. Kita buat menjadi sederhana dan mudah dicerna. 

Menurut Ustaz Nouman, dakwah yang paling mudah dalam tahapan awareness adalah melalui khotbah Jumat. Dalam ceramah Jumat ini, kita bisa mencampur pesan antara enrichment dan awareness. Kita harus ingat bahwa khotbah yang disampaikan bukan untuk orang-orang berilmu saja. Khotbah juga diperuntukkan untuk mereka yang tidak tahu apa-apa. 

Melalui tahapan awareness ini, kita harus menyadari bahwa sebuah persoalan yang perlu dibahas di kalangan umat Islam, bukan hanya sesuatu yang menjadi perhatian kita saja. Melainkan yang menyangkut perhatian orang lain. 

Misalnya, kita ingin membuat program tentang cara mendidik anak yang memasuki fase remaja. Kita membuat program itu karena memiliki pengalaman pribadi di masa lalu saat menjadi seorang remaja. Lalu, kita menambahkan judul program tersebut dengan istilah-istilah yang kurang dimengerti seperti, “Parenting Remaja Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Judul seperti itu malah membuat pertanyaan baru, “Apa itu As-Sunnah?”. Lagi-lagi, kita perlu ingat bahwa target dakwah kita adalah orang-orang yang tidak mengerti. Jadi, cukup buat kegiatan dengan judul yang lebih umum dan bisa diterima khalayak ramai seperti “Belajar cara mengasuh dan mendidik seorang remaja (Parenting: How to raise a teenager)”. Judul seperti ini akan mudah dipahami. Mereka akan tertarik dan berpikir bahwa program ini bisa jadi memberikan manfaat. 

Ada satu catatan penting lain yaitu tentang isi kegiatan. Jangan sampai, ketika orang-orang ini telah hadir,  kegiatan tersebut malah membosankan. Sehingga membuat mereka enggan hadir kembali. Intinya, buatlah program semenarik mungkin, gunakan bahasa yang lebih umum, isi kegiatan dengan sesuatu yang penuh makna, sangat menggembirakan, dan menyenangkan (insightful, super welcoming, and exciting). Itulah awareness.

Bersambung In syaa Allaah ba’da zhuhur


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-28 Pagi | Leadership Workshop (Part 1)

Rendy Saputra Al Banjari :

MasyaAllah.. Siap mbak… 🙏

Anthon Ritonga:

Terimakasih Pak Ivan sudah diajak bergabung , semoga membawa  berkah buat kita semuanya, Aamiin Ya Rabb 🤲


Materi LBP Hari ke-28 Siang | Leadership Workshop (Part 2)

Diterjemahkan oleh: Icha Farihah

Grand Vision 3: Education (pendidikan)

Saya sangat terpesona dengan materi ini. Saya ingin mempelajarinya lebih dalam

Saya ingin memulai perjalanan mengenal Islam secara serius

Tahapan ini adalah education. Tahap terakhir setelah melewati enrichment dan awareness. Orang-orang yang sudah ada di tahap ini biasanya kagum dengan keindahan Islam, mereka mau belajar tentang Islam secara serius dan lebih intens. Akan tetapi, menurut Ustaz Nouman, 99.9% dakwah yang dilakukan di Amerika Serikat malah dimulai dari tahap ini. 

Organisasi dakwah biasanya membuat program halaqah tentang tafsir, akidah, fikih, bahasa Arab, dan program-program lain yang sebenarnya masuk ke dalam kategori tahapan education. Alhasil, orang-orang tidak tertarik dan tidak mau bergabung ke dalam program. Para aktivitis dakwah kemudian mengeluh, 

Kenapa tidak ada yang mau ikut program ini?

Astaghfirullah, orang-orang ini sungguh tidak peduli dengan ilmu

Bukan. Mereka bukannya tidak peduli. Mereka hanya belum peduli karena tahapan enrichment dan awareness belum dilalui.

Itulah permasalahan terbesar komunitas dakwah saat ini, kita terlalu fokus pada tahap education yang merupakan tahapan terakhir. Education memang penting, tapi kita perlu memastikan orang-orang melewati enrichment kemudian awareness secara urut. Karena dengan mengikut tahapan yang benar dan konsisten, mereka dengan sendirinya akan tertarik ke tahap education.

Bersambung  in syaa Allah ba’da asar


Materi LBP Hari ke-28 Sore | Leadership Workshop (Part 3)

Diterjemahkan oleh: Icha Farihah

Membenarkan Tahapan dalam Dakwah

Ustaz memberikan contoh tentang dakwah yang dimulai dari enrichment.

Diawali dengan pertanyaan, “Apa yang membuat orang-orang mau datang ke masjid?”. Tentu jawabannya adalah sebuah kegiatan yang tidak membosankan. Ustaz memberikan usulan untuk mengadakan kegiatan barbeque pada malam hari, tepatnya malam sabtu. Sebuah pesta barbeque yang besar, tanpa ceramah maupun perlombaan, termasuk lomba Qira’ah Al-Qur’an yang biasanya diselenggarakan pada tingkat anak-anak. Kenapa tidak perlu ada perlombaan ini? Karena anak-anak yang akan hadir hanya mereka yang tahu qira’ah. Para orang tua yang tidak mengerti apa itu qira’ah tidak akan mengharapkan anak-anaknya untuk datang. Ingat bahwa kita berfokus pada urutan enrichment. Kita harus membuat kegiatan semenarik mungkin dan tidak berkaitan dengan program education. Anak-anak yang hadir nantinya juga dapat disuguhi kegiatan menarik, seperti menonton film kartun atau semacamnya bersama-sama. 

Beberapa orang di masjid, terutama yang sudah sepuh, pasti akan terkejut melihat kegiatan ini. Tapi begitulah, kita harus memutuskan, apakah kita ingin menahan amarah para tetua sementara kita kehilangan hal-hal tertentu dalam Islam karena cara dakwah yang kurang tepat? Atau apakah kita ingin membuat perubahan yang serius untuk menyelamatkan generasi berikutnya? Acara seperti ini pasti tidak akan mulus, ada pihak-pihak yang tidak menyetujuinya. Kita harus terima konsekuensinya. Ini akan terjadi, tapi tidak apa. Kita harus menghadapinya dan tidak perlu takut. Karena kegiatan yang kita lakukan tidak salah. Lagipula, kita tentu lebih memilih anak-anak menonton sesuatu bersama kita, berkenalan dengan anak-anak muslim lainnya, dan termasuk para orang tua yang tidak saling mengenal dapat memanfaatkan momen ini. Tempat interaksi dan perkenalan kita adalah masjid. Bukankah itu lebih baik?

Orang-orang ini akan merasa nyaman. Mereka dapat merencanakan kembali ke masjid minggu depan. Ketika azan Isya berkumandang, kegiatan menonton film ditunda dan mereka bergegas masuk ke dalam masjid untuk shalat berjamaah. Kegiatan yang mungkin saja sudah tidak pernah mereka lakukan selama tiga tahun terakhir. Mereka merasa ini menyenangkan dan mengagumkan. Anak-anak juga merasa bahagia dan menyukai kegiatan ini. Anak-anak yang dulu merasa asing dan tidak tahu tentang masjid, kini berharap untuk bisa tinggal di sana. Kegiatan seperti ini merupakan proses untuk memulai dan menuju tahapan-tahapan berikutnya. Enrichment is neccessary!

Coba kita bandingkan jika program yang dibuat adalah materi-materi ‘berat’ seperti ‘Fikih Haji’, ‘Tafsir Ayat Tentang Perceraian’, dan lain-lain. Apakah ada yang mau datang? Hmm, mungkin ada sekitar tiga orang. Tiga orang panitia penyelenggara, maksudnya. Jadi, mereka yang mengadakan, mereka yang mengundang, dan mereka sendiri yang mendengarkan ceramah tersebut. 

Ingat! Enrichment adalah hal vital dalam dakwah.

(In syaa Allah berlanjut minggu depan)

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊
Salam,
The Miracle TeamLessons from Bayyinah’s Production

One thought on “[LBP2020] Leadership Workshop

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s