[LBP2020] A Road To Guidance


Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-26

Topik: Pearls of Al-Kahfi

Jum’at, 17 Juli 2020

Materi LBP Hari ke-26 Pagi | Dua Langkah Awal

Ditulis oleh: Heru Wibowo

Minggu lalu kita telah belajar tentang dua realitas yang berbeda. Realitas adalah kenyataan. 

Sebelum belajar Al-Qur’an, kenyataannya adalah A. Kenyataannya adalah seperti ini. Dan setelah belajar Al-Qur’an, setelah belajar Al-Qur’an dengan sikap sebagai seeker, sebagai seseorang yang mencari petunjuk-Nya, pola pikir dan pola mental kita berubah. Kenyataannya tidak lagi A, melainkan B. Kenyataannya tidak lagi seperti ini, tapi seperti itu.

Sesuatu yang bernilai, sesuatu yang valuable, biasanya akan kita kejar habis-habisan. Sesuatu yang enggak ada gunanya, sesuatu yang useless, biasanya cukup kita cuekin aja. Begitulah. Cara berpikir kita tentang sesuatu yang valuable dengan sesuatu yang useless, itu beda. Benar, kan?

Begitulah Al-Qur’an. Al-Qur’an mengubah persepsi kita. Al-Qur’an mengubah cara kita berpikir tentang hal-hal yang ada di sekitar kita. Yang tadinya valuable, mungkin bergeser menjadi “agak valuable”, atau bahkan bergeser lebih jauh menjadi useless. Demikian pula sebaliknya.

Hmmm. Itu tadi barusan bahasa dari planet mana ya? Kok lumayan abstrak. Ada contohnya enggak sih? 

Contoh sederhananya adalah tanaman yang keluar dari dalam bumi. 

Hmmm (lagi). Apakah aku harus belajar Al-Qur’an dulu, supaya paham bahwa ada tanaman yang keluar dari dalam bumi? Tanpa Al-Qur’an, kita sudah tahu kan? Kenyataannya memang begitu. Tanaman yang keluar dari dalam bumi itu memang ada.

Yang barusan tadi adalah pertanyaan yang sahih. Tapi agak sedikit apatis sebenarnya. Kurang menempatkan diri sebagai seorang seeker

Seorang seeker akan tertarik untuk memahami, apa bedanya? Apa bedanya sekarang? Apa bedanya, setelah kita tahu bahwa Al-Qur’an bicara tentang tanaman yang keluar dari dalam bumi? 

Al-Qur’an bilang, setiap kali kita lupa tentang Hari Kebangkitan, cukup ingat-ingat saja tanaman yang keluar dari dalam bumi. 

Wow! Bentar, bentar, bentar. Bentar ya, mau coba memahami dulu nih. Jadi, tanaman yang keluar dari dalam bumi adalah sebuah pengingat (reminder) akan Hari Kebangkitan. Gitu kan ya? Tapi apa hubungannya? Apa hubungan antara tanaman yang keluar dari dalam bumi dengan Hari Kebangkitan?

Oh, mungkin nih ya, mungkin begini hubungannya. Mungkin saat kita meninggal nanti, kita dikubur, masuk ke dalam tanah, lalu tereduksi menjadi semacam benih, atau lebih kecil dari itu, lalu Allah membawa kita kembali keluar, menyembul ke atas permukaan tanah, maksudnya seperti itu?

Tanaman itu tidak berubah tapi cara kita berpikir tentang tanaman itu bisa berubah.

Tanaman di halaman rumah saya tidak berubah, masih sama seperti kemarin.

Tanaman di Kebun Raya Bogor tidak berubah, masih sama seperti kemarin.

Rerumputan di Texas tidak berubah, masih saja sedikit, seperti sebelum-sebelumnya.

Tapi cara kita berpikir tentang tanaman itu, cara kita berpikir tentang rerumputan itu, bisa berubah. 

Sekarang, kita lupakan sejenak soal tanaman. Sejenak kok. Insya Allah tidak lama melupakannya. Kita akan membahas kembali tanaman setelah yang satu ini.

Rasulullah SAW dan para sahabat, dahulu hidup berdampingan. Yang berdampingan bukan hanya Rasulullah SAW dan sahabat. Yang berdampingan bukan hanya antara sesama sahabat. Tapi mereka semua hidup berdampingan dengan Al-Qur’an. Mereka semua hidup berdampingan dengan guidance. Apa yang terjadi setelah mereka secara intensif hidup berdampingan dengan guidance?

Guidance brings different kinds of goodness.

Pedoman/petunjuk (guidance) membawa kebaikan yang berbeda jenisnya.

Apakah para sahabat kebaikannya sama semua?

Tidak. Tidak sama. Beberapa sahabat hebat dalam mengorbankan hartanya di jalan Allah. Beberapa sahabat yang lain hebat di medan perang. Beberapa sahabat lainnya hebat dalam urusan taklim dan kajian. 

So, sahabah has different areas of excellence.

Jadi, setiap sahabat memiliki keunggulan di area keahliannya masing-masing.

Apa yang Allah lukiskan terkait hal ini? Terkait kehebatan yang berbeda-beda antara sahabat yang satu dengan sahabat yang lain. Terkait keunggulan yang berbeda-beda antara sahabat yang satu dengan sahabat yang lain.

Allah melukiskannya secara ilustratif sebagai berikut: Allah mengirimkan hujan dari langit. Dan berbagai warna yang indah dari berbagai tanaman keluar dari permukaan bumi. 

Air hujan yang sama, tanah yang sama, tanaman yang keluar beda warnanya.

Al-Qur’an yang sama, manusia yang sama, kebaikan yang keluar beda jenisnya.

Jadi saat kita melihat berbagai macam bunga yang berwarna-warni, yang semuanya indah, yang semuanya sedap dipandang mata, yang ada di sebuah kebun raya (botanical garden) misalnya, apa yang seharusnya kita lihat?

Pertama, sudah pasti, kita melihat keindahan keanekaragaman hayati ciptaan Allah itu. Tapi itu adalah cara melihat dengan kedua indera penglihatan kita, secara fisik. Yang seharusnya kita lihat juga adalah berbagai macam amal kebaikan yang dilakukan manusia (different kinds of goodness that people do). Berbagai macam upaya yang hebat yang dilakukan manusia (different kinds of great efforts that people make). Yang terakhir ini melihatnya adalah dengan mata batin kita, secara spiritual.

Ayat ini juga menyadarkan kita, betapa amal kebaikan setiap manusia itu tidak harus sama (how not all of us has to be the same). Amal saya dan Anda tidak harus sama, untuk layak mendapat penghargaan Allah (to be worthy of appreciation of Allah). Subhaanallaah.

Itulah yang dimaksud dengan “Qur’an mengubah cara kita memandang sesuatu”. 

Jika kita sedang berada di dalam sebuah kendaraan, dan kita melihat di sebelah kiri kita sebuah hamparan ladang penuh dengan bunga yang berwarna-warni, dan tidak ada hal lain yang kita pikirkan selain warna-warni bunga, maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah berada di jalan menuju petunjuk-Nya (on the road to guidance).

Pernyataan barusan terdengar sedikit mengerikan ya, tapi itulah yang seharusnya terjadi ketika Qur’an menggenggam kita. Bukan kita menggenggam Qur’an. Al-Qur’an seharusnya mengubah cara kita memandang dunia di sekitar kita.

Itulah gunanya Qur’an. Itulah yang Qur’an bilang tentang gunung. Dan pohon. Dan burung-burung. Jadi, saat Anda melihat seekor burung, Anda ingat apa yang Allah katakan. Saat Anda melihat gunung, Anda bertanya, “Apa yang Allah katakan tentang gunung?” Dan Anda juga bertanya, “Apa yang Allah ingin kita pikirkan saat kita melihat gunung?”

That’s a road to guidance.

Itu adalah sebuah jalan menuju petunjuk-Nya.

Sekarang, kita masuk ke langkah berikutnya. 

Modifying what is most important and what is least important to you. Mengubah apa yang paling penting dan paling tidak penting buat Anda. Ini adalah tentang prioritizing. Tentang mendahulukan sesuatu yang lebih utama. 

يُنَبَّؤُا الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍۢ بِمَا قَدَّمَ وَاَخَّرَۗ

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.” (QS Al-Qiyamah, 75:13)

Apa yang telah kita prioritaskan selama hidup kita? 

Dan apa yang telah kita kesampingkan?

Setiap hari, kita membuat keputusan tentang apa yang didahulukan dan apa yang bisa dilakukan belakangan. Kita bilang, “Yang ini, ini, dan ini, harus hari ini.” Atau, “Yang ini, harus sekarang!” Dan kita juga bilang, “Yang itu, ntar aja. Besok juga bisa.” 

Di pagi hari, saat Anda sedang terburu-buru supaya tidak telat masuk kantor, supaya tidak telah masuk ruang kuliah, supaya tidak telat masuk kelas, dan Anda belum selesai sarapan, Anda mungkin bilang, “Enggak perlu dihabisi sekarang, taruh di kulkas dulu, ntar juga bisa diangetin.” 

Mengapa Anda membuat keputusan seperti itu? Karena Anda punya disiplin yang tinggi. Karena Anda tidak mengizinkan diri Anda sendiri untuk telat masuk kantor atau kelas. Jadi Anda telah membuat keputusan tentang apa yang lebih penting. Bahwa tidak telat lebih penting daripada menghabiskan semua makanan yang terhidang.

Dan begitulah kehidupan ini. Urusan prioritizing ini berlaku untuk semua aspek kehidupan kita, sebenarnya. Semuanya adalah rangkaian keputusan demi keputusan yang kita ambil. Sekolah yang mana yang kita pilih untuk kita sendiri. Sekolah yang mana yang kita pilih untuk anak-anak kita. Atau yang dipilih oleh anak-anak kita. Di mana kita membeli rumah. Kapan kita menikah. Menikah dengan siapa. Semua hal tadi adalah keputusan yang kita ambil, yang mempertimbangkan apa yang lebih penting dan yang dianggap kurang penting. 

Pengambilan keputusan adalah urusan rutin manusia. Terjadinya bisa setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun, setiap lima tahun, atau sepanjang hayat bahkan. Al-Qur’an, fungsinya adalah untuk mengubah yang ada di dalam diri kita, tentang apa yang paling penting hingga apa yang paling tidak penting. 

Apa yang harus menjadi prioritas Anda di siang hari? Apa yang harus menjadi prioritas Anda di malam hari? Apa yang bisa menunggu besok, atau minggu depan, atau bulan depan, atau tahun depan. 

Jangan pernah punya keinginan untuk menguasai Al-Qur’an. Tapi pasrahkan diri kita untuk dikuasai oleh Al-Qur’an. Untuk dibimbing oleh Al-Qur’an. Untuk diarahkan oleh Al-Qur’an. Termasuk dalam hal keputusan-keputusan yang kita ambil.

Al-Qur’an seharusnya membuat kita sadar, atau dalam kalimat yang mungkin lebih tepat, kita – setelah belajar Al-Qur’an – seharusnya menyadari, bahwa ada hal-hal yang membuat kita terobsesi tapi sebenarnya kurang memiliki nilai. Dan ada juga hal-hal yang tidak pernah kita perhatikan, padahal itu adalah yang paling bernilai. Baik bernilai untuk kehidupan di dunia saat ini, maupun untuk kehidupan kita di akhirat nanti.

Itulah yang seharusnya dilakukan oleh Al-Qur’an. Atau, kita seharusnya merasakan pengaruh yang positif dari Al-Qur’an. Mengubah prioritas-prioritas kita. Prioritas harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Itulah road to guidance, jalan menuju petunjuk-Nya.

By the way, dua hal yang sudah kita bahas tadi, yakni (a) mengubah cara kita berpikir, dan (b) mengubah apa yang paling penting dan paling tidak penting, kedua hal ini semuanya adalah di dalam diri kita. They’re all inside. Keduanya adalah sikap. Attitude. Dan karena masih ada di dalam diri, belum ada langkah nyata apa-apa. There is no action yet.

Keduanya, (a) dan (b) di atas, belum menghasilkan langkah nyata. Tangan kita, kaki kita, belum bergerak ke mana-mana. Tapi keduanya memegang peranan yang penting. Melalui (a) dan (b), jika kita ingin mendapatkan guidance dari Al-Qur’an, yang sungguh-sungguh diminta dari kita adalah perubahan sikap. A change in attitude.

Masih ingin mendapatkan guidance dari Al-Qur’an? Ikuti dua langkah pertama itu dulu. Ubah cara berpikir kita, dan ubah apa yang paling penting dan paling tidak penting. Menyesuaikan pelajaran-pelajaran dari Al-Qur’an. 

Setelah kedua langkah ini, apa langkah ketiganya?


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-26 Pagi | Dua Langkah Awal

Hafni:

MashaAllah. What a superb, great inspiring choice of words! It’s inspiring.👍🏾✍️

That’s what the language should be, namely to build the bridge between one’s heart to another.

Frankly speaking, I’m really impressed by the choice of words used by you and Ustadh Nouman Ali Khan. Thank you very much Ustadh Heru and all the LBP Warriors. 

May Allah SWT bless all of you and your famies. Aamiiin. 🤲🤲🤲

🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Just came crossing to my mind. 

If the words chosen by Ustadh Nouman and Ustadh Heru really touch my heart, there must be no doubt that  the choice of words chosen by Allah SWT in His Book is incomparable to any other words and any other languages.

الله أعلم باصواب 

لا اله الا انت سبحانك اني كنت من الظالمين

May Allah SWT lead us closer and closer to His Book. Aamiiin. 🤲🤲🤲

🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Nana:

Jazakillah khairan bu ⁨Hafni⁩ atas seluruh apresiasi dan support nya ☺️🙏 begitu pula utk semua member disini. Saya juga sangat impressed, alhamdulillah, dengan semua tulisan dan keistiqamahan ibu dalam membagikan artikel “daily learning arabic (how to tell)” ☺️ Saya bisa mendapat artikel ini dimana lagi ya bu selain di group Dream Sister? Karena ibu sudah tidak di grup tersebut lagi…🙏

Hafni:

Alhamdulillah. 

How To Tell  di posted di group IDW 2 dan group IDW 3.

😊🙏🏼


Materi LBP Hari ke-26 Siang | Langkah Ketiga (Part 2)

Ditulis oleh: Heru Wibowo

Langkah ketiganya adalah ini: seeking strengths for your heart to withstand life tests. Mencari kekuatan agar hatimu mampu bertahan menghadapi ujian kehidupan. Berat nih, kedengarannya.

Setiap hari, kita diuji. Kadang-kadang ujiannya ringan. Mudah, simpel, gampang diatasi. Misalnya mendapatkan sms yang tiba-tiba mengabarkan bahwa kita mendapatkan hadiah sekian juta. Tinggal block number, dan delete conversation. Urusan selesai. 

Tapi kadang-kadang ujiannya berat. 

Mari kita bicara tentang ujian yang berat. Contohnya apa ya, ujian yang berat itu?

Pertanyaan ini aslinya ditujukan oleh Ustaz Nouman kepada murid-muridnya di kampus Bayyinah Institute di Dallas, Texas. “Call them out,” kata Ustaz, mempersilakan murid-muridnya untuk menjawab pertanyaan.

Ada yang menjawab, “Kematian”. Langsung ditanggapi, “Ya, kematian adalah ujian yang berat. Kematian yang terjadi di keluarga. Kematian yang terjadi terhadap orang-orang yang kita cintai. Kematian dari seorang teman.” Ustaz masih ingin mendengar contoh yang lain, “Other tests?

Maka jawaban-jawaban pun bermunculan.

Money-related, money problems. Ujian yang berhubungan dengan uang. Atau ujian berupa uang.

Sickness. Illness. Ujian berupa sakit. 

Failure. Kegagalan.

Disappointment. Kekecewaan. 

Tiba-tiba ada jawaban yang terdengar aneh, “Bayyiinah’s exam.” 🙂🙂

Spontan Ustaz dan murid-murid yang lain tertawa. Ujian di kampus Bayyinah dijadikan contoh ujian yang berat. Ternyata murid Ustaz Nouman ada yang suka melucu juga. 

Masih ada lagi yang menjawab, “Natural disaster.” Ya. Bencana alam memang ujian yang berat. Jawaban ini mendapat tanggapan yang lucu dari Ustaz Nouman, “Natural disaster is also the exam on Friday.” 🙂🙂

Gantian Ustaz yang melucu. Memberitahu para muridnya bahwa mereka akan menghadapi “bencana alam” di hari Jumat, saat mereka mengerjakan soal-soal ujian Bayyinah Institute. 

Keluarga dan anak-anak juga bisa menjadi ujian yang berat. Relationships bisa menjadi ujian yang berat. Kadang-kadang kita juga bisa punya masalah dengan orang tua, dengan pasangan, dengan saudara kandung, dengan teman-teman. Semua itu bisa menjadi ujian yang berat.

Kesendirian dan isolation juga bisa menjadi ujian yang berat. Kita merasa sendirian. Kita merasa seperti tidak ada satu orang pun yang memahami diri kita. Kita merasa bahwa semua orang membenci kita. Itu juga ujian yang berat.

Kecanduan atau addiction juga bisa menjadi sebuah ujian yang berat. 

Untuk apa Ustaz menanyakan tentang contoh-contoh ujian yang berat tadi?

Karena ada pertanyaan sambungannya: saat manusia berjuang menghadapi ujian yang berat tadi, apa yang mereka perlukan? “Again, call it out.” Sekali lagi, Ustaz meminta murid-muridnya untuk menjawab pertanyaan kedua ini.

Jawaban-jawaban bermunculan. Penenang jiwa. Dukungan (support). Seseorang yang bisa diajak bicara (someone to talk to). Seseorang untuk curhat (someone to vent to).

Kadang-kadang ada orang yang menemui Ustaz dan bilang, “Saya perlu bicara dengan Anda. Dua menit saja.” Ustaz meladeninya. Ternyatanya dua menit enggak cukup. Ternyata butuh waktu dua jam. Dan kejadian seperti itu biasanya berulang. Awalnya minta waktu dua menit. Tapi selesainya baru dua jam kemudian.

Ada juga yang datang dengan perilaku yang cukup unik. Bicaranya patah-patah. Terbata-bata. “Aku punya masalah. Dan aku cuma ingin bicara sama kamu. Ya, kamu aja. Bukan yang lain. Di planet ini. Tidak ada yang akan paham. Masalah saya ini. Kecuali kamu. Karena kamu ada di YouTube.” Orang itu memang bicaranya gitu. Sedikit-sedikit berhenti. Dan tentu saja, Ustaz dengan sabar melayaninya.

Itulah realitasnya. Masalah yang dihadapinya, ujian yang menimpanya, mungkin berat, dan mungkin tidak selesai. Tapi, yang pasti, setiap orang butuh teman curhat. Butuh orang yang memberinya harapan. Memperlihatkan cahaya di ujung terowongan. Meyakinkannya bahwa dia akan mampu melewati ujian yang berat ini. Bahwa dia lebih kuat dari ujian yang sedang dihadapinya. Bahwa apapun yang sedang dialaminya, pasti ada kebaikan yang tersembunyi di dalamnya. 

Orang yang mengalami masalah atau ujian yang berat, butuh itu semua. Dia butuh seseorang yang memberinya penghiburan. Seseorang yang hatinya dipenuhi rasa cinta dan kebaikan. Seseorang yang pintar membuat orang lain merasa nyaman.

Tapi tidak selalu begitu. Orang yang pintar membuat orang lain nyaman, tidak selalu berhasil membuat orang lain nyaman. Kenapa begitu ya? 


Materi LBP Hari ke-26 Sore | Mencari Penguat Hati (Part 3)

Ditulis oleh: Heru Wibowo

Orang yang pintar membuat orang lain nyaman, tidak selalu berhasil membuat orang lain nyaman, karena mungkin orang yang ingin dibuat nyaman adalah kakaknya sendiri hehehe.

Bayangkan Anda adalah seorang kakak. Yang tentu saja sangat bertanggung jawab. Sehingga Anda juga membantu mengganti popok adik Anda saat dia masih bayi. Lalu suatu ketika Anda punya masalah yang berat. Dan adik Anda, yang dulu popoknya Anda yang gantiin, mencoba membuat Anda merasa nyaman. Adik Anda mengatakan sesuatu yang indah, mencoba menghibur Anda. Lalu Anda teringat saat-saat Anda mengganti popoknya. 

Maka, ada kemungkinan, Anda akan segera memeluk adik Anda itu, saking sayangnya, dan saking terenyuhnya hati Anda, “Bisa-bisanya anak kecil yang dulu popoknya aku gantiin itu, sekarang menghiburku di saat hatiku terluka.” Atau kemungkinan lainnya, Anda merasa geli sendiri. Dan merasa kata-katanya enggak ngefek sama sekali. 

Jadi ada subjektivitas yang bermain di sini. Ketika “kata-kata penenang” itu datang dari yang sebaya dengan kita, atau bahkan lebih muda, yang pengalaman hidupnya sama-sama belum seberapa, maka bisa jadi jiwa Anda masih belum tenang.

Tapi saat “kata-kata penenang” datang dari seseorang yang jauh lebih senior, yang jauh lebih berpengalaman, yang jauh lebih “berkuasa dan berwibawa”, atau dengan kata lain, yang memiliki more authority, maka perasaan kita bisa berubah menjadi tenang. Atau jauh lebih tenang.

Saat kakek Anda yang mengucapkan “kata-kata penenang” itu, rasanya “sesuatu” banget. Atau saat ayah Anda yang mengucapkan itu. Atau saat guru Anda yang mengucapkan itu. Atau orang-orang yang sangat Anda hormati lainnya. Apakah itu seorang syekh, ustaz, imam, atau siapapun, yang Anda hormati.

Perasaan kita menjadi jauh lebih tenang.

Tapi kadang-kadang terjadi juga hal yang lucu. Seorang istri mengalami ujian yang berat. Suaminya berinisiatif untuk memberikan penghiburan. Semua perbendaharaan kalimah thayyibah dan jurus-jurus penenangan sudah suaminya keluarkan. Tapi istrinya tetap saja muram. Sampai tiba saatnya sang istri mendengarkan kajian dari seorang syekh. Yang membuatnya seperti menikmati segarnya air zam-zam di tengah gurun di siang hari yang terik. Mata istrinya berkaca-kaca. Mata hati istrinya lebih-lebih lagi. Istrinya telah mendapatkan pencerahan. 

Suaminya ikut happy. Tapi ada yang bikin suaminya sewot, “Yang diomongin syekh itu kan sama persis dengan yang selama ini aku omongin. Dan aku udah ngomong begitu sejak sebulan yang lalu, tapi buatmu enggak ada artinya. Begitu syekh yang ngomong gitu, kamu langsung tercerahkan. Gelapmu berubah terang.” Suaminya sebenarnya senang istrinya sudah enggak cemberut lagi. Tapi ada “mekanisme” atau “proses habis gelap terbitlah terang” yang bikin suaminya jengkel. 

Sang istri tidak begitu ambil pusing. “Ooohhh, I feel so much better.” Sang istri bilang bahwa ia merasa jauh lebih baik. He-he-he. Istrinya cuek aja, enggak ngerti perasaan suaminya yang masih dongkol. “Yang penting,” pikir istrinya, “perasaanku sudah jauh lebih lega sekarang.”

Kenapa bisa begitu? Karena seseorang dengan posisi authority yang lebih tinggi membuat kita nyaman, bahkan the comforting itself is authoritative. Kenyamanan itu sendiri bersifat otoritatif. Dan inilah salah satu peran Al-Qur’an dalam kehidupan orang beriman. 

Jadi saat kita bilang, “Aku lagi punya masalah nih. Aku butuh someone yang bisa bikin aku nyaman.” Silakan tebak. Apa yang bisa bikin kita nyaman? 

Kata-kata Allah akan bikin kita nyaman. Kita buka Al-Qur’an, kita baca, dan Al-Qur’an akan membawa kenyamanan yang secara jitu menjawab ujian yang sedang kita hadapi. 

Salah satu sahabat Ustaz saat di New York, yang berasal dari Bedford, Long Island, dua belas tahun yang lalu nanya ke Ustaz, “Jadi, gimana dong kita bisa dapat guidance dari Al-Qur’an? Aku butuh nih, butuh banget guidance dari Al-Qur’an! Gimana cara mulainya?! Apakah Al-Qur’an ada indeksnya?”

Maksud sahabat ustaz, kalau Al-Qur’an ada indeksnya, kan enak. Jika kita punya masalah dengan topik tertentu, misalnya topik A, tinggal kita cari topik A itu di indeks. Dari situ, lantas indeks mengarahkan kita ke ayat-ayat yang berhubungan dengan topik A itu.

Apa respons Ustaz Nouman?

Cobain yang ini. Bener ya. Cobain ya. Kalo kamu punya masalah, ambil mush-haf Al-Qur’an, buka satu halaman. Acak aja. Halaman berapa, tidak jadi soal. Halaman yang mana aja. Dan mulailah membaca. Tapi bacalah dengan niat bahwa kamu sedang mencari petunjuk dari Allah, supaya bikin kamu nyaman. Ingat, ya. Supaya Allah memberimu petunjuk. Ini adalah guidance untuk hatimu. Baca aja. Lihat apa yang terjadi.”

Dua minggu berturut-turut, setiap malamnya, Ustaz bertemu dengan sahabatnya itu di masjid. Karena sama-sama shalat ‘Isya’ di situ. Apa kata sahabatnya? “Hei yow Bro! Berhasil, Bro! Berhasil, Bro! Gila, ya. Banyak yang enggak tahu nih, Bro! Gile bener! Aku tuh ya, buka Qur’an. Lalu aku baca. Pas di ayat ketiga, wow! Itu persis yang aku cari! Itu persis yang aku rasakan!”

Ustaz Nouman cuma senyum-senyum aja. 

Al-Qur’an seharusnya begitu. Atau, lebih tepatnya, karena kita tidak bisa “mengharus-haruskan” Al-Qur’an, dan seharusnya kita “mengharus-haruskan” diri kita sendiri, kita, kita lah yang seharusnya “bersahabat” dengan Al-Qur’an seperti itu. 

Tapi Al-Qur’an tidak akan memberikan persahabatan yang indah seperti itu jika kita datang kepadanya sebagai seorang kritikus. As a critic. Masih ingat, kan? Al-Qur’an hanya akan memberikan keindahan persahabatan itu saat kita datang kepadanya sebagai apa? Sebagai seorang pencari hidayah. As a seeker. Dengan begitu, Allah akan memberikan kenyamanan. Dengan begitu, Al-Qur’an akan menjadi sahabat sejati kita.

Al-Qur’an itu bak seorang konselor. Seorang penasihat. Kita mendatanginya sebagai seorang yang butuh dinasihati. Yang siap menerima nasihatnya. Dan Al-Qur’an akan menjalankan fungsinya: menasihati kita. Menguatkan hati kita. Untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan. 


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Lessons from Bayyinah’s Production

One thought on “[LBP2020] A Road To Guidance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s