Review Buku Revive Your Heart - Nouman Ali Khan


Bila diterjemahkan langsung dalam bahasa Indonesia Revive Your Heart: Putting Life in Perspective berarti “Menghidupkan Kembali Hatimu: Menempatkan Hidup dalam Sebuah Sudut Pandang”.

Judul ini diambil dari salah satu subbab dalam buku. Pada akhir subbab tersebut penulis menerangkan sudut pandang yang dimaksud adalah Al-Qur’an. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai cermin dalam memandang diri kita yang sebenarnya, kita akan lebih mudah untuk konsisten mengevaluasi diri dan melakukan perbaikan secara terus-menerus. Prinsip-prinsip perbaikan inilah yang dipaparkan oleh penulis melalui lima bab dalam buku ini.

Connecting to Allah Through Dua

Bagian pertama berjudul “Connecting to Allah Through Dua” (terhubung dengan Allah melalui doa). Pada bagian ini pembaca diajak untuk memahami lebih dalam hikmah di balik doa Nabi Musa as. dan doa Nabi Zakaria as.

Pada bab pertama ini, doa Nabi Musa as diambil dari QS Al Qasas, ayat 24. Pada dasarnya setiap doa yang dipanjatkan oleh nabi dalam Al-Qur’an selalu dilatarbelakangi oleh peristiwa yang menguji keimanan mereka.

Pada doa ini, peristiwa yang melatarbelakanginya terjadi ketika Musa as. belum diangkat menjadi nabi. Musa pergi ke Madyan dalam pelarian setelah sebelumnya tanpa sengaja membunuh seorang prajurit dengan satu pukulan tangan. Ia pergi dari Kota Mesir sebagai buronan dan tiba di sebuah oase padang pasir bernama Madyan.

Di oase tersebut setiap orang dapat memberi minum binatang ternaknya. Ia melihat ada dua orang perempuan yang menahan tali kekang binatang peliharaannya. Kedua perempuan itu bermaksud untuk memasuki oase setelah penggembala lain (mayoritas laki-laki) sudah pergi. Hal tersebut disebabkan para lelaki selalu mengganggu dan tidak menghargai perempuan.

Melihat peristiwa tersebut, Musa as. membantu kedua orang perempuan untuk memberi minum hewan ternaknya dan mengusir para penggembala lelaki. Penulis mengilustrasikan, Musa As. mengusir mereka seperti menyingkirkan segerombolan lalat. Musa As. memiliki fisik yang sangat kuat dan gagah sehingga laki-laki mana pun pasti ketakutan. Kekuatan fisiknya dapat dilihat dari kemampuannya mencabut nyawa seorang prajurit hanya dengan sekali pukulan tangan tanpa disengaja.

Setelah membantu dua perempuan tersebut, Musa As. memilih untuk duduk di bawah sebuah pohon dan memanjatkan doa,

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.

Tidak lama setelah doa tersebut dipanjatkan, datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu sambil berjalan dengan malu-malu. Perempuan itu berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Tatkala Musa mendatangi bapak perempuan itu (Syu’aib) dan menceritakan dirinya, Syu’aib berkata “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.”

Peristiwa ini secara eksplisit terdapat dalam QS Al Qasas, ayat 23-25. Penulis menjelaskan dalam keadaan terjepit, Musa As. memanjatkan doa yang paling pasrah. Musa As. menerima kejadian apapun yang menimpanya sebagai kebaikan.

Dalam keadaan sendirian di tengah gurun pasir, tanpa perbekalan yang cukup, dengan pakaian seadanya, Musa menjadikan peluang untuk membantu dua orang perempuan Madyan ini sebagai sebuah kebaikan yang datang dari Allah Swt.

Setelah berdoa, salah satu dari dua perempuan Madyan tadi mendatangi Musa As. Ia kembali menerimanya sebagai kebaikan yang datang dari Allah Swt. Pada bagian ini, penulis menambahkan awal ayat 25 yang menceritakan kedatangan sang perempuan fajaathu ihdahuma (datanglah kepadanya –Musa As- salah satu di antara dua perempuat tersebut). Penggunaan kata fa sebagai kata penghubung memperlihatkan peristiwa yang serta-merta. Setelah Musa As. selesai berdoa, serta-merta perempuan itu datang sebagai jawaban doa dari Allah Swt. Musa As. menerimanya sebagai jawaban doa dari Allah Swt.

Pada kondisi sulit, sekecil apapun kebaikan yang datang dari orang di sekitar kita, perlu dimaknai sebagai kebaikan yang datang dari Allah Swt.

Penulis mencontohkan ada orang yang sedang kehilangan pekerjaan, kemudian temannya menawari pekerjaan baru dengan gaji yang lebih rendah dari pekerjaan sebelumnya. Karena gengsi, dia tidak mau menerima pekerjaan itu. Ia menganggap tawaran itu hanya sebagai kebaikan yang datang dari manusia.

Padahal di balik peristiwa tersebut, ada Allah Swt yang berkehendak menggerakkan hati orang yang menawarkan pekerjaan. Dalam kondisi sulit, kita tidak boleh “memilih” ketika menerima kebaikan yang datang. Keteladanan inilah yang dicontohkan oleh Musa as. melalui doa yang dipanjatkannya.

Inspirasi selanjutnya doa dari Nabi Zakaria As. Doa tersebut terdapat pada QS Maryam, ayat 4.

“Ia berkata ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.’”

Bagian terpenting yang disoroti oleh penulis adalah sikap Nabi Zakaria As. dalam berdoa. Dalam doa yang dipanjatkan, Zakaria memastikan dirinya belum pernah kecewa ketika berdoa. Doa ini dapat dipahami bila melihat kisah yang ada dibaliknya.

Pada saat berdoa, Nabi Zakaria As. berada pada usia lanjut, fisiknya sudah lemah dan rambutnya sudah beruban. Dalam keadaan demikian, hal yang sedang ia minta adalah kehadiran seorang keturunan. Bila dipahami dengan perspektif logika, sangat mustahil doa tersebut dikabulkan. Dapat dipastikan pula, doa itu sudah dipanjatkan berkali-kali sejak ia dalam kondisi muda dan segar-bugar.

Sebagai bukti kesabaran dan kepasrahan Nabi Zakaria As. berucap “Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku.” Ia khawatir dengan masa depan generasinya bila dirinya tidak memiliki keturunan. Padahal sang istri sudah divonis mandul. Namun, ia tetap meminta kehadiran seorang anak.

Pada saat ini, apa yang menimpa Nabi Zakaria As. mungkin dianggap nasib terburuk bagi pasangan suami-istri. Bagi pasangan tua yang difonis mandul, perlu kesabaran ekstra dan keyakinan penuh dalam berdoa. Alasan inilah yang membuat kehadiran kisah Nabi Zakaria As. dalam Al-Qur’an menguatkan posisi Al-Qur’an sebagai perkataan Tuhan (kalamullah).

Allah Swt selalu mencontohkan situasi ekstrem untuk membangun keyakinan hamba-Nya. Ketidakmungkinan hanya otoritas Allah Swt sebagai Tuhan yang Maha Berkehendak. Tugas manusia sebagai makhluk hanya berdoa dan yakin Allah Swt tidak pernah mengecewakan hamba- Nya. Allah Swt mengabulkan doa Nabi Zakaria As. dengan kelahiran Nabi Yahya As.

Pada bagian pertama buku ini, penulis menekankan agar doa menjadi penguat hubungan dengan Allah Swt, kepasrahan merupakan hal terpenting. Manusia selayaknya tidak berdoa seperti seorang pemesan makanan dan berharap makanan yang dipesan yang akan diterima. Sebagai makhluk Allah Swt, manusia berada pada posisi membutuhkan dan Allah Swt memiliki otoritas untuk memberikan pengabulan dengan cara apapun dan kapan pun.

Creating a Cohesive Muslim Community

Bagian kedua mengupas tema yang lebih luas, Creating a Cohesive Muslim Community(membangun komunitas muslim yang kompak). Bab ini membahas criticism (kritik), assumptions (prasangka), dan leadership (kepemimpinan).

Dengan mengelola tiga hal ini, komunitas muslim di mana pun dapat bertahan dengan baik. Tema kritik dilandasi dengan pemaparan QS Al Asr, ayat 1 s.d. 3. Ayat yang menghubungkan empat hal, yaitu

  1. orang beriman,
  2. amal saleh,
  3. saling menasihati dalam kebenaran, dan
  4. saling menasihati dalam kesabaran.

Frasa saling menasihati dalam ayat ini menggunakan kata tawasaw yang dalam bahasa Arab berasal dari kata wasiyyah (mewasiatkan). Penulis menjelaskan, wasiat tidak pernah disampaikan seseorang kepada orang asing. Setiap orang pasti berwasiat kepada orang- orang yang dicintai. Cinta ini yang perlu ditanamkan dalam komunitas muslim. Saat menasihati sesama muslim yang harus melatarbelakanginya adalah cinta.

Dalam bahasa Arab, kata wasiyyah juga memiliki makna lain. Orang Arab sering berkata wasiyat al ard: ittasal al nabat biha ketika rumput dan pohon tumbuh di dalam tanah secara berdampingan, akarnya tertancap ke dalam tanah dan sulit untuk dicabut.

Menurut penulis, kekuatan hidup berdampingan inilah yang menjadi implikasi dari tawasaw (saling menasihati). Bila komunitas muslim dapat menjadikan nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran sebagai budaya yang dilandasi cinta, kekompakan akan terwujud.

Hal berikutnya yang perlu diwaspadai dalam komunitas muslim adalah prasangka. Dalam QS Al Hujurat, ayat 12, Allah Swt berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.”

Pada pemaparan ayat ini, penulis menyoroti verba ijtinab yang menjadi akar kata dari kata perintah ijtanibu (jauhilah). Kata ijtinab berarti menjauhi sesuatu yang berada tepat di sampingmu. Kata ijtinab memiliki pola dasar iftial yang berarti sesuatu yang memerlukan usaha untuk melakukannya. Ijtinab atau menjauh dari sesuatu tidak terjadi secara natural, perlu upaya keras untuk melakukannya.

Dari analisis dua akar kata ini dapat disimpulkan, prasangka merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan dari sebuah komunitas, termasuk komunitas muslim. Menjauhi prasangka merupakan sikap yang memerlukan upaya keras untuk membangun komunitas muslim yang solid.

Faktor yang penting dalam membangun komunitas muslim yang solid adalah kepemimpinan. Pada bagian ini penulis menmbahas QS Ali Imran ayat 159. Peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat ini adalah kekalahan pada Perang Uhud. Kekalahan terjadi akibat ketidakpatuhan pasukan pemanah.

Pada perang ini setidaknya ada 70 sahabat yang terbunuh. Rasulullah Saw mengalami luka parah, giginya patah, dan wajahnya bersimbah darah. Dalam situasi yang kacau tersebut beredar kabar bahwa Rasulullah Saw wafat. Pada saat itu, pasukan muslim kehilangan semangat. Pasukan muslim berlari ke atas bukit dan meninggalkan Rasulullah saw.

Dalam keadaan ini, kepemimpinan Rasulullah ﷺ sedang diuji. Sebagai pemimpin, Rasulullah ﷺ pasti kecewa terhadap ketidakpatuhan pasukannya. Namun, Allah Swt menurunkan wahyu tentang sikap yang harus diambil untuk menghadapi prajuritnya yang mengecewakan tersebut.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang- orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali Imran ayat 159).

Pada saat itu, pasukan muslim sedang mengalami rasa bersalah yang mendalam. Pengikut yang melakukan kesalahan pasti merasa takut, siap menerima teguran, bahkan siap menjalani hukuman. Dalam kondisi psiko- logis seperti ini, sangat tidak tepat bila seorang pemimpin memarahi atau me- nyalahkan pengikutnya.

Allah Swt justru memerintah Rasulullah ﷺ untuk bersikap lemah lembut, memaafkan, dan bermusyawarah dengan pasukannya. Kekuatan kepemimpinan seperti inilah yang perlu dirawat untuk membangun komunitas muslim yang solid.

Our Financial Dealing

Bagian ketiga “Our Financial Dealing” (Urusan Keuangan Kita). Bab ini membahas bagaimana kita menggunakan uang, bagaimana kita memandang harta, membelanjakan, dan mengeluarkan uang. Transaksi keuangan merupakan bagian yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan seorang muslim.

Penulis mengutip QS An Nisa, ayat 29 sebagai acuan.

“Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.”

Budaya yang harus dibangun dalam perniagaan seorang muslim adalah kesepakatan dan keadilan. Tidak layak seorang muslim melakukan penipuan atau korupsi.

Cara pandang seorang muslim terhadap harta dikaitkan dengan QS Al Isra ayat 26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Setelah menggunakan harta untuk kebutuhan hidup yang perlu diperhatikan oleh seorang muslim adalah saudara/kerabatnya. Apabila hak keluarga sudah terpenuhi, harta yang masih berlebih merupakan hak orang miskin dan orang dalam perjalanan. Pada buku ini penulis menjelaskan secara detail kriteria keduanya. Dibahas pula larangan menghambur-hamburkan harta atau bersikap boros.

Some Contemporary Issue

Bagian keempat berjudul “Some Contemporary Issue” (Beberapa Isu Kontemporer). Isu yang dibahas dalam bab ini adalah komentar Al-Qur’an menghadapi masyarakat Arab dan negara-negara muslim yang merasa kurang beruntung dengan kelahiran bayi perempuan.

Dibahas pula sikap terbaik muslim terhadap pembuatan komik Nabi Muhammad Saw di Paris. Pada bagian akhir bab ini disisipkan komentar singkat penulis tentang efek negatif mendengarkan musik-musik.

Focusing on the Akhirah

Bagian terakhir adalah pengikat dan simpulan dari narasi buku ini. Bab lima berjudul “Focusing on the Akhirah” (Berfokus pada Akhirat). Subbab pertama digunakan sebagai judul buku ini yaitu “Putting Life in Perspective.” Bagian kedua berjudul “Small Beginnings” dan bagian ketiga berjudul “Nasiah in Breaf: The Afterlife”.

Pada subbab “Putting Life in Perspective” (Menempatkan Hidup dalam Sebuah Sudut Pandang) penulis mengajak pembaca untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai cermin dalam kehidupan. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai cermin, seorang muslim dapat menemukan dirinya dari perspektif Allah Swt –pencipta yang mengetahui detal makhluk-Nya. Pada bagian ini, penulis meyakinkan pembaca segala sesuatu yang ada dalam Al-Qur’an adalah petunjuk khusus bagi manusia dari Tuhannya.

Al-Qur’an seperti buku panduan mengoperasikan sebuah mesin yang ditulis langsung oleh pencipta mesin tersebut. Pembuatnya pasti tahu hal baik dan hal buruk bagi ciptaannya. Pencipta tidak akan membuat panduan yang salah tentang ciptaanya. Oleh sebab itu, bila makhluk (ciptaan) menjadikan buku panduan –dalam hal ini Al-Qur’an– ia akan mampu melakukan perbaikan secara konsisten.

Secara keseluruhan bagian-bagian dari buku ini menambah wawasan pembaca tentang bagaimana cara mendalami makna ayat Al-Qur’an melalui metode semantik.

Penulis memaparkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan pendekatan semantik dikaitkan dengan kultur Arab. Model analisis ini membuat pembaca semakin yakin bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk (huudan) dan penjelasan atas petunjuk yang terdapat di dalamnya (bayyinat minal huda). Sebagai pelengkap, pada bagian akhir buku ini memuat glosarium.


Nouman Ali Khan merupakan founder dan CEO Bayyinah Institute. Ia mendedikasikan diri untuk mengajar bahasa Arab dan Studi Al-Qur’an. Ia merupakan salah satu dari 500 muslim paling berpengaruh di dunia menurut Pusat Studi Strategis Islam Kerajaan Yordania.

Ia membangun bayyinah. TV untuk menghadirkan perpustakaan digital yang menyajikan secara lengkap mengenai bahasa Arab dan kajian Al-Qur’an. Ceramah-ceramahnya juga dipublikasikan secara resmi pada akun youtube Bayyinah Institute. Pada era digital menemukan ceramahnya sangat mudah.

Pada Mei 2018 Nouman Ali Khan hadir di masjid Istiqlal, Jakarta. Lebih dari 14 ribu peserta hadir untuk mendengarkan ceramahnya. Bagi pendengar setianya, buku Revive Your Heart: Putting Life in Perspective ini menjadi incaran untuk dikoleksi.

Pembaca yang sering mendengarkan ceraman Nouman Ali Khan secara online tidak akan asing dengan semua bagian dari buku ini. Setiap bab dalam buku ini merupakan penulisan ulang ceramah-ceramah atau khutbah yang telah disampaikan Nouman Ali Khan secara verbal. Setiap subbab dalam buku ini dapat disaksikan melalui akun Youtube dengan judul yang sama.

Ditulis oleh: Linda Handayani Sukaemi

Sumber: Jurnal Sosioteknologi | Vol. 17 No 2, Agustus 2018 http://journals.itb.ac.id/index.php/sostek/article/view/8657


Bagi teman-teman yang ingin memiliki buku ini, Alhamdulillah sudah tersedia di Tokopedia Bayyinah Store.

Alhamdulillah, kami –Yayasan Bayyinah Quran Indonesia– telah mendapatkan lisensi resmi dari Kube Publishing untuk mencetaknya di Indonesia sehingga harganya lebih terjangkau dengan kualitas yang sama. Berikut link untuk memesan: http://bit.ly/orderRYH

Jazakumullahu khairan 🙂

Tulisan ini juga di-publish di: https://medium.com/@bayyinahindonesia/review-buku-revive-your-heart-nouman-ali-khan-1b538f1c9069

One thought on “Review Buku Revive Your Heart - Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s