[LBP2020] How to Approach the Quran


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-19
Topik: Pearls from Al-Kahfi
Jum’at, 10 Juli 2020

Materi LBP Hari ke-19 Pagi | How to Approach the Quran (Part 1)

Diterjemahkan oleh: N. Anbarsanti dengan penyesuaian bahasa

Jika kita mendekati Al-Qur’an untuk mencari petunjuk, maka, kita harus siap untuk mengubah pikiran-pikiran kita. Ketika kita menghadapi Al-Qur’an, usahakan kita siap untuk mengubah pikiran kita agar sesuai dengan Al-Qur’an.

Ada satu contoh di negara tempat Ust Nouman Ali Khan berasal, yaitu Pakistan. Di Pakistan, negara yang – menurut Ust Nouman, fantastis karena terdapat hal-hal yang luar biasa – terdapat banyak keluarga yang punya kepercayaan bahwa para suami punya hak untuk meminta uang dari para istri. Di sana, para suami berhak meminta istri untuk membayar keperluan makanan sehari-hari dari uang pribadi istri. Para suami juga berhak menuntut istri untuk pergi ke orangtuanya atau saudara laki-lakinya untuk meminta mereka membantu membayar kontrakan dan pengeluaran keluarga lainnya. Para suami bisa saja berkata begini kepada istri mereka, “Kamu coba tanya deh ke saudara laki-laki kamu, coba tanya mama kamu, coba tanya ayah kamu. Keluarga kamu kan punya uang, punya klub, kalau kamu minta, mereka juga bisa kasih kamu mobil,” dan seterusnya. Jadi, di Pakistan, para suami menyuruh istri agar mendapat banyak uang dari ipar-ipar suami tersebut. 

Padahal, Al-Qur’an menggambarkan bahwa pada dasarnya, para istri benar-benar tidak punya kewajiban finansial sama sekali atas suami mereka. Tidak ada sama sekali. Seharusnya, satu-satunya hal yang memberikan kepada para suami otoritas untuk menjadi kepala rumah tangga dan pemelihara rumah tangga adalah karena para suami telah memberikan nafkah atau uang dari harta mereka. Seperti difirmankan dalam QS An-Nisa 4:34:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari harta mereka.”

Sebenarnya, arti kata قَوَّامٌ (qowwam) adalah penjaga atau pemelihara (caretaker). Jadi, jika para suami meminta uang kepada para istri, maka suami telah memindahkan, atau menggeser, atau menghilangkan peran mereka sebagai  قَوَّامٌ (qowwam) atas rumah tangga mereka.

Ini adalah contoh kepercayaan yang telah banyak dianut di seluruh daerah di dunia ini. Akan sulit bagi seseorang untuk mencerna apa yang ayat-ayat Allah katakan karena ia telah memiliki kepercayaan-kepercayaan yang  berbeda sebelumnya. Ketika orang-orang mulai mendengarkan dan memahami ayat dengan jelas, ada kemungkinan mereka akan mengatakan, “Nggak, nggak, kamu salah”. Kita jawab, “Ya, saya bisa saja salah, kamu yang benar. Tapi, apa yang tidak mungkin salah? Kitab Allah tidak mungkin salah kan. Coba jelaskan kepada saya apa yang kamu pikirkan tentang ayat ini. Oke lah, saya bisa saja salah, interpretasi saya bisa saja salah. Saya bisa saja seluruhnya salah atau bahkan sesat. Tapi kitab Allah adalah kitab Allah. Kamu orang mu’min kan, orang yang percaya pada ayat-ayat Allah? Jadi, apa artinya ayat ini bagi kamu? Apa kamu mau bilang bahwa ayat-ayat ini tidak ada artinya untuk kamu?”. Pikiran-pikiran yang selalu membenturkan kepercayaan lama dengan Al-Qur’an adalah sebuah masalah.

Ada banyak sekali kepercayaan atau pikiran yang telah kita miliki. Contoh di atas adalah salah satu pikiran yang tidak islami. Ada beberapa jenis kepercayaan dan prasangka lain. Contoh lainnya adalah, bisa saja kita menganggap bahwa ada sesuatu yang sangat penting dalam Islam. Sesuatu tersebut menjadi prioritas dalam kehidupan spiritual kita. Lalu, Al-Qur’an mengatakan bahwa sesuatu tersebut bukan sesuatu yang penting sama sekali dan tidak perlu diprioritaskan karena ada hal-hal lain yang lebih sepatutnya diprioritaskan. Hal yang berat kan ya untuk merombak pikiran kita secara drastis.

———

to be continued إنْ شا الله  ba’da Zhuhur


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-19 Pagi | How to Approach the Quran (Part 1)

Wening :

🙏🏻 semoga kita tergolong orang-orang yang tercelup oleh Celupan Allah, ya pikirannya, ya perasaannya, ya perilakunya, ya prinsip hidupnya… aaamiin

Materi LBP Hari ke-19 Siang | How to Approach the Quran (Part 2)

Diterjemahkan oleh: N. Anbarsanti dengan penyesuaian bahasa

Kebanyakan orang terbiasa melaksanakan Islam dengan cara tertentu dan sulit berubah. Tapi, sebaiknya kita tidak seperti itu. Kita harus siap mengubah apapun dalam hidup agar sesuai dengan Al-Qur’an. Kehidupan finansial kita, kehidupan sosial kita, dan bahkan kehidupan religius kita. Kita harus siap berubah untuk Allah ﷻ. Alasan-alasan duniawi tidak cukup powerful bagi kita untuk berubah. Kita harus siap menerima guidance atau hidayah dari Allah ﷻ.

Kita harus siap secara mental. Kita mungkin sudah belajar Al-Qur’an bertahun-tahun, tapi tetap saja kita harus siap secara mental. Mungkin saja besok kita belajar sesuatu dari Al-Qur’an yang membuat kita harus mengubah banyak praktek dalam diin Islam kita. Jika ada suatu hal yang pernah kita pikirkan dengan cara tertentu, setelah mempelajari Al-Qur’an, kita mungkin tidak bisa lagi memikirkannya dengan cara yang lama itu. Setelah kita mengerti ayat-ayat Allah ﷻ, kita harus siap mengubah opini-opini kita seluruhnya agar sesuai dengan Al-Qur’an. Pemahaman kita, pelaksanaan ritual keislaman kita, ketakwaan kita yang sekarang tidak akan pernah sempurna. Akan selalu dapat ber progress. Sehingga, setiap murid Al-Qur’an, akan selalu ber progress dalam keislamannya. Siap kan? Kesiapan dan keinginan untuk berubahlah yang membuat kita belajar banyak. 

Selanjutnya, poin kedua adalah ‘mengejar hidayah’ (to pursue guidance). Ust Nouman pernah terlibat dalam banyak diskusi dengan para mahasiswa, aktivis masjid dan kelompok masyarakat lainnya. Ust Nouman sering dikomentari, “Eh jangan bilang begitu”. “Kita harus membaca Al-Qur’an, kita harus menerapkan setiap ayat dalam Al-Qur’an ke dalam kehidupan kita, pokoknya kita harus melaksanakannya.” Oke deh siap. Mari kita menerapkan setiap ayat dalam kehidupan kita. Harus ada aksinya. Yuk mulai. 

“Alif Laam Miim”.

Nah, aksi apa yang bisa dilakukan dari ayat ini? Atau ayat berikut ini (QS Adz-Dzariyat 51:39):

فَتَوَلّٰى بِرُكْنِهٖ وَقَالَ سٰحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ

Tetapi dia (Fir‘aun) bersama bala tentaranya berpaling dan berkata, “Dia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.”

Fir’aun menyebut Nabi Musa AS gila. Yuk laksanakan ayat ini. Harus ada aksi nyatanya ya. Nah, lalu bagaimana melaksanakan ayat ini ke dalam aksi nyata? 

Apa ide yang kita dapat dari diskusi ini? Sebagian ayat memang menuntut aksi nyata. Apakah setiap ayat menuntut aksi nyata? Tidak. Ini penyederhanaan yang berlebihan. Jadi, ketika kita melihat ayat-ayat dengan lebih dalam, kita harus coba merenung, sebenarnya apa sih yang Al-Qur’an inginkan dari kita? Lalu, coba juga renungkan, apakah kita benar-benar mencari petunjuk?

Mencari petunjuk tidak selalu sama dengan menuntut aksi nyata. Ini adalah penyederhanaan yang berlebihan yang sangat populer. Banyak orang berpikir seperti ini. Padahal, maksudnya tidak selalu begitu. Mari kita explore lebih dalam apa maksudnya.

———to be continued إنْ شا الله  ba’da Ashar


Materi LBP Hari ke-19 Sore | How to Approach the Quran (Part 3)

Diterjemahkan oleh: N. Anbarsanti dengan penyesuaian bahasa

Terutama sekali, modifikasilah cara berpikir kita. Lalu pahamilah dunia sekitar kita dengan cara berpikir yang baru tersebut. Ini akan menjadi perubahan yang besar dalam hidup. Kita akan membahas ini lebih detail lagi pada bahasan kata demi kata dan ayat demi ayat dalam Surat Al-Kahfi. Jalan menuju petunjuk di dalam Al-Qur’an, adalah bahwa Al-Qur’an menggambarkan realita dengan cara yang berbeda dengan cara berpikir kita yang sebelumnya. Kita bisa saja memandang sebuah kejadian dengan pendapat tertentu, namun setelah mempelajari Al-Qur’an, kita bisa memiliki pendapat yg sangat berbeda atas kejadian yang sama. Bisa saja kita menganggap sesuatu itu sangat bernilai dari sudut pandang yang satu, namun berubah menjadi sangat tidak berguna dari sudut pandang yang lain. Jadi, Al-Qur’an benar-benar mengubah persepsi kita dan mengubah cara berpikir kita tentang segala hal yang terjadi di sekitar kita.

Satu contoh yang sederhana, Al-Qur’an bercerita tentang tanaman yang tumbuh dari tanah. Walaupun Al-Qur’an tidak bercerita tentang tanaman, kita tentu sudah tahu bahwa tanaman itu ya pasti tumbuh dari tanah. Apa bedanya untuk kita, Al-Qur’an bercerita tentang tanaman atau tidak? 

Al-Qur’an mengatakan, setiap kali kita lupa terhadap akhirat, ingatlah bagaimana tanaman tumbuh dari tanah. Nah, jadi, tanaman itu jelas tumbuh dari tanah. Tapi berdasarkan Al-Qur’an, tanaman tersebut mengingatkan kita tentang akhirat atau Yaumul Hisab (Judgment Day). Kok bisa, dari mana? Apa hubungannya tanaman yang tumbuh dari tanah dengan Yaumul Hisab

Ya. Kehidupan setelah kematian. Setelah kita mati, kita akan berada di bawah tanah. Tubuh kita akan hancur menjadi sesuatu yang ukurannya atau fungsinya mirip dengan benih-benih. Bahkan kurang dari itu (yaitu menjadi tanah saja, red). Lalu, Allah ﷻ akan membangkitkan kita dari dalam tanah. Jadi, kapanpun kita ragu terhadap kebangkitan setelah kematian, lihat saja bagaimana tanaman bisa tumbuh dari tanah.

Nah setelah mempelajari Al-Qur’an, persepsi kita terhadap tanaman dan tumbuhan berubah selamanya. Misal setiap ketika melihat rumput di luar rumah, persepsi kita berubah. Saat menjelaskan hal ini, Ust Nouman berceletuk, “Oh iya, rumput di Texas kan sedikit ya. Jadi jumlah pengingat kita terhadap akhirat di sini (Texas) sedikit dong. Hehehe.”

Wallahu a’lam.

———

to be continued إنْ شا الله  next week


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-19 Sore | How to Approach the Quran (Part 3)

Nina :

MasyaAllah. Beberapa kali selesai membaca grup ini lalu ngucapin “oo begitu yaa” “indahnya Al-Qur’an” ato “oh hebat bener” yang membuat makin sadar ternyata masih banyak yang belum saya ketahui. Makin berasa manfaat grup ini. Meskipun saya sering disibukkan mengejar duniawi yang membuat  lupa menambah ilmu akhirat yg kekal. Astaghfirullah  😭

Firman:

Ah ayat ini kok begini?

Ayat ini membingungkan.

Gak masuk akal.

Bagaimana jika sikap tersebut adalah keingintahuan yang makin membuatnya penasaran untuk mencari lebih dalam petunjuk-petunjuk lainnya. Bukankah nabi Ibrahim AS juga sempat dalam masa pencarian tentang “Tuhan” matahari yg tenggelam pada saat sudah sore dan “Tuhan” bulan hilang ketika sudah siang hari.

Patricia:

Betul.. dulu saya seperti ini. Tapi malah itu alhamdulillah yang menjadi pintu hidayah untuk saya.

Firman:

Saya dulu heran kenapa di terjemahan Quran Indonesia kadang menggunakan kata ganti “Aku” dan kadang “Kami” bukankah Allah itu esa. Terjawab kemudian di salah satu tulisan blog NAK. Alhamdulillah sy bersyukur bertemu dengan orang-orang yang haus akan jawaban di NAK juga 😀

Mita:

Apakah mengkritisi disini berniat untuk mencari kesalahan dalam Al-Qur’an? Sedangkan jika bertanya-tanya, atau penasaran, murni ingin mencari penjelasan yang sebenarnya, tidak apa-apa?

Nadia:

Afwan kak izin bertanya. Dalam hadis surat al-kahfi saat kita membaca saat malam akan disinari antara dia dan Ka’bah.

Maksud dari Ka’bah ini apakah bisa di gambarkan seperti apa kak gitu. Karena saya belum menemukan jawabanya kak. Terimakasih.

Gilig:

https://umma.id/article/share/id/1002/471656

Gustya:

Copas pembahasan dari grup sebelah yg berhubungan dengan pertanyaan di atas.

1. Yang kami lihat perlu memahami kondisi psikologis ketika muncul pertanyaan tersebut

2. Mencari solusi sesuai dengan kondisi psikologis

The Nature

Ayat ini membingungkan” beda dengan “Saya masih bingung dengan ayat ini“.

Sama-sama bingung tapi beda.

Yang pertama adalah attitude as a critic.

Yang kedua adalah attitude as a seeker.

Possible Solutions

Yang perlu ditambahkan dalam usaha untuk meredam kebingungan:

  1. Sebelum kemana-mana, as a seeker, minta bantuan langsung sama Allah first. “Ya Allah, aku masih bingung sama ayat-Mu ini. Aku lah yang bingung Ya Allah. Berikan pemahamanku untukku Ya Allah.” Atau doa-doa sejenis itu. Zaman old dulu saya pernah ngaji tilawah dan ada puji-pujian yang isinya seputar itu. Termasuk doa supaya dijauhkan dari setan yang kemungkinan ikut-ikutan ngerecokin kita saat kita berusaha memahami kalam-Nya.
  2. Tanya ke guru. Face to face kalo bisa. Ustadz Nouman sendiri juga punya guru. Diantaranya Dr. Abdus Samie dan Dr. Akram Nadwi.
  3. Dengerin Bayyinah TV di Deeper Look dan/atau Concise Commentary yang bahas ayat tersebut. Kadang Ustadz Nouman bahas ayat secara dalam ayat tertentu, justru di surah yang lain. Artinya, makin rajin atau makin banyak kita dengerin Bayyinah TV, insya Allah makin kelar urusan kebingungan terhadap suatu ayat, bi-idznillaah.
Gilig:

Menarik.

Gustya:

Betul 😊

Pertanyaan dan diskusi yang mirip ternyata muncul juga di grup lain. Jadi kita sama-sama belajar terus ya, insya Allah.

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,
The Miracle Team
Lessons from Bayyinah’s Production

One thought on “[LBP2020] How to Approach the Quran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s