[Resume Diskusi Grup] Doa Nabi Sulaiman


Resume Video

Silakan buka aplikasi Google Anda, dan coba cari dengan kata kunci ‘doa supaya cepat kaya’. Besar kemungkinan Anda akan menemukan teks doa berikut ini di hasil pencariannya:

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”

Apa yang ada di benak Anda ketika ada seseorang memanjatkan doa seperti itu? 

Doa tersebut nampak seperti doa yang dipanjatkan oleh orang yang sangat mencintai dunia, tampak seperti doa orang yang gila harta, dan itu adalah doa yang seringkali dijadikan amalan untuk meraih kekayaan secara instan.

Sejatinya itu adalah doa yang dipanjatkan oleh seorang Nabi mulia yaitu Nabi Sulaiman عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ di Surat Shad ayat 35. 

Rasanya tidaklah pantas bagi seorang Nabi mulia memanjatkan doa hanya untuk kepentingan dunianya saja, hanya untuk meraih kekayaan secepat mungkin.

Lalu apa maksud dari doa yang sekilas terlihat janggal tersebut? 

Di video ini Ustaz Nouman Ali Khan membahas makna dari doa tersebut.

Nabi Sulaiman عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ sebagaimana yang mungkin kita tahu, ia diberikan kerajaan oleh Allah, ia bahkan sanggup menjadikan golongan jin sebagai bala tentaranya.

Bukan sesuatu yang mudah untuk tetap berjalan dalam kebenaran apabila kita memiliki kekuasaan dan kekayaan. Biasanya semakin berkuasa maka semakin cenderung berbuat kerusakan.

Tapi itu tidak terjadi dengan Nabi Sulaiman عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ, 

Ia memiliki kemampuan yang unik, dia memiliki kerajaan namun dia pun paham bagaimana menggunakannya dalam kebaikan.

Waktu kita hidup di dunia ini tidaklah banyak. Kita diberikan sedikit waktu di dunia untuk beramal solih guna meraih ampunan dan ridho-Nya sehingga kelak Dia akan memasukan kita ke Surga-Nya.

Lalu bagaimana caranya supaya peluang mendapatkan ampunan dan ridho Allah itu semakin besar sementara waktu kita terbatas?

Jika seseorang meninggal, maka terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara yakni anak yang sholih, sedekah jariyah, dan ilmu yang bermanfaat.

Melalui amal jariyah, ini yang akan menjadi fokus pembahasan kita.

Yang saya pahami dari penjelasan Ustaz Nouman Ali Khan, yang dikejar oleh Nabi Sulaiman عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ di doa tersebut sebenarnya adalah ampunan Allah, ridho Allah. 

Inilah mengapa ada kalimat ‘ampunilah aku’ diawal pembukaan doa ini. Karena inilah sejatinya yang ia ingin raih.

Di doa tersebut sebenarnya Nabi Sulaiman عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ ingin menjadikan kelebihannya sebagai seorang pemimpin itu sebagai amal jariyahnya. 

Ayah dari Nabi Sulaiman عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ adalah Nabi Daud عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ. Allah menjadikan Nabi Daud sebagai khalifa, penguasa.

“Wahai Daud, sesungguhnya kami telah mengangkatmu sebagai khalifa” (Surat Shad ayat 26)

Tentu saja kemampuan memimpin yang dimilki oleh Nabi Sulaiman ini merupakan legacy dari Nabi Daud, sehingga dari sini Nabi Sulaiman paham bahwa ia pun harus memiliki legacy, meneruskan amal baik.

Nabi Sulaiman melihat kesempatan untuk kepentingan akhiratnya dengan memanfaatkan telenta yang dimilikinya itu, sebagai jalan untuknya meraih ridho Allah.

“Ya Allah perluaslah kerajaanku “

“Berikan kerajaan besar yang tak akan Engkau beri pada orang lain”

“Karena aku paham bagaimana cara menggunakannya di jalan kebaikan”

“Jadikan aku yang terbaik di bidang ini, dan pasti akan kuberikan yang terbaik di jalan-Mu guna meraih ampunanmu”

Kira kira seperti itu terjemahan bebas dari ayat ke 35 dari surat Shad ini.

Kita boleh kok meminta hal-hal duniawi kepada Allah, asalkan tujuannya adalah untuk kepentingan akhirat.

Silahkan meminta setinggi-tingginya, minta diperkuat kelebihan-kelebihan yang kita miliki, silahkan “tamak” dengan rahmat Allah, karena kita meminta kepada Dzat Yang Maha Kuasa.

Lalu apa yang akan Allah berikan bagi hamba-Nya yang meminta diberikan tambahan kekuatan atas kelebihan yang dimilikinya?

Apa yang diberikan oleh Allah atas doa Nabi Sulaiman tadi?

“Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya”

“dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam”

“dan (setan) yang lain yang terikat dalam belenggu”

Masya Allah ….

Allah benar benar memfasilitasi kelebihan yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman jika kita melihat ayat 36-38 di surat Shaad ini. Ia diberikan kemampuan mengendalikan angin dan jin.

Sekuat apapun kemampuan militer, mereka tak akan berdaya apabila di serang oleh angin.

Kita ingat di kisah perang Khandaq, 10.000 orang pasukan koalisi Yahudi dan Quraish luluh lantah hanya karena angin puting beliung

Kita bisa bayangkan betapa powerful-nya kerjaan Sulaiman apabila tentaranya adalah jin dan pemimpinnya dapat mengirim angin puting beliung kemanapun ia kehendaki.

Masya Allah….

Kita mungkin iri bila melihat para ustaz berdakwah dengan ilmu keislamannya. Betapa besar pahala amal jariyah yang akan mereka raih.

Tapi kita tidak boleh hanya berhenti di rasa iri saja, masa iya kita diam saja melihat orang lain kebanjiran pahala?

Kita pun bisa mendayagunakan kelebihan kita, meskipun sekilas terlihat bahwa kemampuan kita itu di bidang duniawi, tapi jika kita jaga hati dan niat kita untuk meraih ampunan-Nya maka kita pun bisa mendapatkan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun kita sudah meninggal.

Yuk, coba kita aplikasikan doa Nabi Sulaiman dalam kehidupan kita. Kita mulai dengan membuat list kelebihan apa saja yang kita miliki.

Jangan terpaku dengan kemampuan yang kita dapati dari pendidikan formal saja. Kemampuan menulis, programming, design, kemampuan mengorganisir, apapun itu, sekalipun kecil kita catat dulu.

Selanjutnya kita tentukan satu, mana di antara kelebihan-kelebihan kita itu yang bagus hasilnya, yang kita enjoy melakukannya.

Lalu coba kita luruskan niat, kita niatkan agar kelebihan kita itu untuk mengejar akhirat, mengejar ridho-Nya.

Lalu kita minta supaya Allah memfasilitasi kelebihan kita ini. Supaya kita dijadikan yang terbaik di bidang ini.

Apabila kita jujur kepada-Nya, Mudah – mudahan Dia mengijabah doa kita dan menjadikannya sebagai sarana pahala yang akan terus mengalir. Amin


Diskusi dan Tanggapan

RL Kamarudin:

Dalam video tersebut, saya tertarik dengan kira-kira 30% pembukaan oleh Ustaz Nouman (sekitar 5.5 menit pertama); yang saya tangkap adalah tentang 3 hal:

  • Qur`an & Sunnah yang men”dikte” kita, bukan pemahaman kita men”dikte” Qur`an & Sunnah
  • apa yang dinyatakan dalam Qur`an & Sunnah lebih utama daripada fatwa ulama tertentu yang dihormati
  • Islam terbuka & transparan terhadap pertanyaan apapun

Ustaz Nouman sebut bahwa proses belajar Qur`an adalah: ayat-ayat Allāh dalam Qur`an mendorong kita untuk melihat & mempelajari ayat-ayat Allāh di alam, lalu ayat-ayat Allāh di alam mendorong kita untuk melihat & mempelajari ayat-ayat Allāh dalam Qur`an.

Shafiq:

Saya juga ingin sedikit sharing dari apa yang saya dapat dari video ini disamping yang sudah disampaikan pada resume ini.

Ada satu pesan yang saya tangkap bahwa intinya jadikanlah apapun permintaan kita kepada Allah SWT itu adalah means, atau jalan agar kita mendapatkan ampunan dari Allah SWT sebagaimana awal do’a.

Ini prinsip penting yang perlu kita catat menurut saya karena orang boleh memang tidak akan tahu apa niat kita ketika meminta kepada Allah SWT.

Sama seperti do’a Nabi Sulaiman tersebut, jika kita hanya sepintas membaca begitu saja, maka besar kemungkinan kita akan menyalahartikan makna dari do’a tersebut.

Dan yang kedua yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana kemudian permasalahan mengenai meminta sesuatu yang menjadi kemampuan kita ini juga Allah SWT tunjukkan dalam kisah Nabi Yusuf a.s. ketika beliau meminta diangkat menjadi bendaharawan negara.

Dan justru kalau saya lihat saling melengkapi. Dimana dalam kisah Nabi Sulaiman adalah permintaan kepada Allah SWT dan dalam kisah Nabi Yusuf adalah permintaan kepada sesama manusia dalam hal ini kepada Raja atau bisa dibilang kepada orang yang memang punya wewenang untuk menetapkan itu.

Artinya menurut saya adalah hikmah dari 2 sisi yang bisa kita ambil.

  • Pertama, dari sisi kitanya adalah kita WAJIB mengenali apa bakat, kemampuan atau skill yang telah Allah SWT titipkan kepada kita.
  • Dan kedua, kita tidak boleh berdiam diri ketika berada dalam kondisi dimana kita tau we can do something or even better than what already done. Gak boleh diam hanya karena takut dibilang sombong. Back again ke do’a Nabi Sulaiman, bahwa permintaan kita diawali dengan niat agar mendapatkan ampunan Allah SWT.
Heru:

Dari video itu, selain berbagai pelajaran yang sudah dibagi oleh rekan-rekan yang lain, saya juga belajar tentang “itik”.

Itik adalah unggas yang hidupnya di darat, pandai berenang, badannya seperti angsa, tetapi lebih kecil, termasuk binatang piaraan. Itu adalah pengertian itik yang kita semua sudah tahu.

Tapi “itik” yang saya maksud adalah sebuah gembok. Saya memberinya nama “ITIK-Padlock”, singkatan dari “I-Think-I-Know-Padlock”. Kadang-kadang saya adalah seorang pemegang ITIK-Padlock. Belum mempelajari berita atau informasi lebih dalam, sudah buru-buru membaginya ke orang lain. Atau ke grup lain. Dalam hal ini, saya berpikir saya tahu bahwa berita itu benar.

Saya lebih suka untuk memperbaiki diri sendiri, tapi saya juga mengamati bahwa akhir-akhir ini ada rekan-rekan kita yang terjebak dalam gembok ITIK ini.

Terutama rekan-rekan yang “memperjuangkan” dibukanya kembali masjid tanpa peduli bahwa wilayahnya termasuk zona merah. Ada yang sampai “tega” mengirimkan klip video yang isinya memberitakan seolah-olah Masjidil Haram sudah dibuka kembali untuk umum.

Padahal setelah saya pelajari dengan bertanya kepada rekan saya yang tinggal di Makkah, berita itu tidak benar sama sekali. Kembali ke introspeksi diri, saya harus lebih berhati-hati dan lebih disiplin untuk mengelola gembok yang satu ini dalam hidup saya.

Esal:

Izin share untuk menambahkan juga dari apa yang pernah saya denger ceramahnya Ustaz Yahya, kalau kita habis berbuat baik disunahkan untuk beristighfar sebagai upaya untuk mengharap ridha Allah SWT, juga sebagai pengingat kalau apa yang sudah kita lakukan itu belum seberapa, sekalipun dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan oleh para sahabat, upaya kita belum seberapa. Dan sebagai pengingat juga apa yang kita lakukan itu nggak sepenuhnya usaha kita, ada faktor bantuan yang lebih besar dari Allah SWT.

Rizka:

Jadi teringat pembahasan Ust. Nouman mengenai surat Ar Rahman. Dalam pembahasannya tersebut Ust. Nouman menjelaskan juga hubungan antara ayat pertama dan ayat terakhir surat Ar Rahman.

Yang saya pahami dari pembahasan Ust. Nouman tersebut (mohon dikoreksi yah jika ada yang salah), yaitu:

Tabārakasmu rabbika żil-jalāli wal-ikrām

(Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran (jalal) dan Karunia) 

Nama Allah yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Ar Rahman yang terdapat di ayat pertama surat ini. jadi dalam surat ini seperti menjelaskan bahwa Ar Rahman = is full of “Barakah” .

Nama Allah “Ar Rahman” ini disebutkan salah satu nya pada بسم الله الرحمن الرحيم,  pada saat kita melakukan sesuatu yang baik dari apa yang telah Allah anugrahkan kepada kita, kita dianjurkan membaca basmalah sehingga apapun yang kita lakukan insya Allah akan menghasilkan barakah dari Allah.

Selain itu Ust. Adi Hidayat juga pernah menjelaskan di salah satu kajiannya menurut yang saya pahami) bahwa dalam melakukan kegiatan apapun didahului dengan membaca basmalah agar aktivitas yang dilakukan tidak hanya bersifat baik di dunia saja tetapi menjadi amal shaleh (yang insya Allah dinilai ibadah) dan mendapat keberkahan dari Allah SWT.

Karena tujuan kita di dunia ini adalah beribadah, jadi mestinya selama kita hidup adalah beribadah, terus bagaimana aktivitas lain yang kita lakukan seperti minum, makan dll?

Nah Ust. Adi Hidayat menjelaskan bahwa agar kegiatan yang kita lakukan bernilai ibadah maka kita dapat membaca basmalah diaktivitas kita tersebut.

Membaca basmalah ini juga sekaligus jadi reminder saat sedang melakukan aktivitas kita bahwa aktivitas kita tersebut disertai oleh Allah SWT sehingga jadi kayak ngingetin kalo mau lakuin sesuatu bahwa yang kita lakukan ini diawasi oleh Allah SWT.

Andi:

Nonton video minggu ini jadi inget pelajaran dari Concise Commentary tafsir surat Al-Fath 29 di Bayyinah TV.

Pas Ustaz Nouman pas bahas kalimat:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang BERSAMA dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

Beliau bilang (terjemahannya kira-kira begini), “Kata BERSAMA (ma’a) di sini punya arti khusus. Jangan langsung merasa bila kita beriman kepada Allah dan kepada Rasulullah, maka otomatis kita BERSAMA dengan beliau saw.”

Terus terang pas denger kalimat di atas, agak kaget juga. 

“Jangan langsung merasa bila kita beriman kepada Allah dan kepada Rasulullah, maka otomatis kita BERSAMA dengan beliau saw.”

Wow, wow, Whaat…! 

(Dalam hati, ada kagetnya tapi ada gembiranya juga, karena kalo saya terusin nontonnya, bakal dapat ilmu baru lagi dari Qur’an nih)

Singkat kata, setelah dijelaskan panjang lebar oleh Ustaz kata MA’A (bersama) disini artinya orang yang tidak hanya percaya kepada Rasulullah, tapi orang yang juga percaya kepada MISI beliau saw, dan berusaha sepenuh hati mengerahkan segala potensi dan apapun yang dimilikinya untuk membantu mewujudkan hal tersebut.

Bahkan hingga di satu titik ketika Allah menempatkan dirinya dalam situasi dan kondisi di mana ia harus berkorban hingga jiwanya sekalipun, maka ia pun siap demi melanjutkan misi agung Muhammad Rasululllah saw.

Menurut Ustaz Nouman, tahapan umumnya orang yang belajar Islam (yang dengan tulus dan penuh kerendahan hati memohon terus agar ditunjukkan-Nya ke jalan yang lurus) adalah:

  1. Awalnya, memandang islam baru sebatas RELIGION. Jadi setelah mulai belajar Islam, dia semakin rajin menjalankan berbagai perintah Allah dan menjauhi larangannya. Akhlaknya makin mulia, ibadahnya makin rajin. That’s it, baru sebatas itu.
  2. Kemudian semakin lama ia belajar Islam, perlahan-lahan ia mulai menyadari, bahwa ternyata agama (RELIGION) Islam ini bukan sekedar ritual belaka, tapi ia memiliki MISI tertentu. Tapi baru sadar soal ini doang, belum ikut berjuang.
  3. Tahapan selanjutnya, setelah ia menyadari bahwa Islam bukan sekedar ritual dan ada misi yang agung, ia mulai mengaitkan dirinya terhadap misi tersebut, belajar mengabdikan dirinya dan berkorban sedikit demi sedikit untuk ikut mewujudkan misi tersebut. 
  4. Tahapan berikutnya, setelah hidayah Allah makin menerangi hatinya, ia bisa menempatkan upaya mewujudkan misi agung tersebut di atas segalanya, mencurahkan segala potensi diri dan semua yang dimilikinya untuk misi tersebut, bahkan siap mengorbankan seluruh harta hingga jiwanya bila Allah menempatkannya dalam situasi dan kondisi di mana pengorbanan tadi menjadi keniscayaan.

Nah, dari sini mulai nyambung ke bahasan tentang doa nabi Sulaiman as di atas. 

Jadi ketika baru di tahap pertama, mungkin berdoa agar diberi kekayaan dan kelebihan yang tidak pernah dimiliki orang lain, seolah-olah kesannya egois dan agak arogan. 

Tapi bila sampai tahap sudah mengaitkan dirinya dengan misi mulia tadi, dan ikut menjadi perpanjangan Rasulullah saw (seperti yang diucapkan Umar bin Khattab ra, “I am the messenger of messenger of Allah”) mewujudkan yang Allah SWT bebankan kepada beliau saw, maka malah timbul kesan yang ignoran bila kita sebagai orang yang berjuang di jalan Allah tidak meminta Allah agar dioptimalkan potensinya sampai nilai yang tidak ada batasnya. Doa yang malah sangat jauh dari kesan egois, karena bila Allah kabulkan, toh semua potensi tadi bukan untuk kepentingannya pribadi. 

Doa di atas menjadi simbol permohonan tulus seorang hamba, agar Allah SWT memaksimalkan seluruh potensi unik miliknya (yang notabene Allah juga yang karuniakan), agar bisa memberikan manfaat semaksimal mungkin dalam membantu segala upayanya mewujudkan misi Rasulullah saw tersebut.

Doa yang sekilas egois bila diminta seorang hamba, malah bisa menjadi doa yang self-less dan sangat humble bila dipanjatkan oleh orang yang tujuan hidupnya berbeda.

Atik Ummu Furqon:

Bismillah, izin sharing sedikit, gimana aplikasi surah Shad ayat 35 itu sebagai pembolehan untuk minta sama Allah supaya kita kaya, toh sekaliber nabi Sulaiman aja minta dunia,

Berawal dari cerita seorang teman yang sharing kalau mentor bisnisnya memotivasi beliau dengan ayat ini, sebenernya gak salah sih ya minta kaya (kalau biar supaya bisa banyak sedekah), cuma kalau hanya untuk kepentingan dunia pun untuk diri sendiri, bukan itu esensinya.

Saya dengan keterbatasan ilmu (kebetulan juga baru nyimak video ini), hanya mampu meluruskan bahwa maksud doa nabi Sulaiman di sini adalah meminta Allah menambahkan potensi yang beliau punya agar bisa digunakan untuk kebaikan dalam menolong agama Allah, agar lebih luas manfaat serta jariyahnya. Apalagi doanya dimulai dengan permohonan ampun, kalau sudah diampuni Allah, mau minta apa saja ya mangga.

Sayang sekali kalau maksud ayatnya dipenggal begitu ya.

Alhamdulillah si teman welcome dengan paparan singkat tadi.


Resume Diskusi

  1. Tidaklah mudah untuk tetap berada dalam kebenaran apalagi ketika kita diberikan kekuasaan dan kekayaan. Biasanya semakin berkuasa maka akan semakin cenderung berbuat kerusakan.
  2. Jadikanlah ampunan dari Allah SWT sebagai tujuan utama. Walaupun konteksnya kita sedang meminta dunia. Tapi jadikanlah permintaan tersebut sebagai jalan agar mendapatkan ampunan dan keridhoan Allah SWT.
  3. Kenalilah kelebihan kita dan mintalah kepada Allah SWT agar memperkuat kelebihan tersebuat sebagai bentuk pengabdian kita kepada Allah SWT. Sadarilah bahwa kemampuan kita adalah karunia dari Allah SWT sehingga tidak menjadikan kita takabur. 
  4. Ingatlah bahwa ilmu itu ada pajaknya, dan pajaknya adalah berbagi. Maka jangan biarkan ilmu kita hanya berhenti di kita. Sebarkan ilmu itu sebagai bentuk pemanfaatan kemampuan kita sesuai dengan skill yang kita miliki dengan menggunakan berbagai media yang ada.
  5. Jangan berharap balasan dari manusia ketika kita sedang mengimplementasikan kemampuan kita. Luruskan niat dan belajar untuk ikhlas.
  6. Jika kita tidak memiliki skill secara langsung untuk terlibat dalam dakwah, upayakanlah terlibat dalam hal-hal yang mendukung pelaksanaan dakwah.
  7. Salah satu kunci agar kita tetap lurus adalah dengan ilmu. Maka dalam menghadapi tantangan apapun, kita perlu tahu ilmunya. Bagaimana ilmu ikhlas, bagaimana ilmu tawadhu, dsb. 
  8. Kita boleh saja mengakui kelebihan kita jika memang benar-benar sudah mengenali bakat dan kemampuan kita. Namun tidak ada salahnya juga jika kita minta masukan atau pandangan orang lain terhadap kelebihan kita. Namun apapun cara yang digunakan, pastikan kelebihan kita itu kita gunakan di jalan Allah SWT.

والله أعلمُ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s