[Transkrip Indonesia] Izinkan Mereka Menikah 1 – Nouman Ali Khan


Pelajari seluruh Qur’an bersama ustaz Nouman Ali Khan.

WWW.BAYYINAH.TV

(الحمد لله)
(الحمد لله ، خالق الوجود من العدم)
(و جاعل النور من الظلم)
(و مخرج الصبر من الالم)
(و ملقي التوبة على الندم)
(فنشكره على المصائب كما نشكره على النعم)
(و نصلي على رسوله الاكرم)
(ذي الشرف الاشم ، و النور الاتم)
(و الكتاب المحكم)
(و كمال النبيين و الخاتم ، سيد ولد آدم)
(الذي بشر به عيسى بن مريم)
(و دعا لبعثته ابراهيم عليه السلام)
(حين كان يرفع قواعد بيت الله المحرم)
(فصل الله عليه وسلم و على اتباعه ، خير الامم)
(الذين بارك الله بهم كافة الناس العرب منهم و العجم)
(الحمد لله)
الذي لم يتخذ ولدا ولم يكن له شريك في الملك
ولم يكن له ولي من الذل وكبره تكبيرا
الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب
(ولم يجعل له عوجا)
(والحمد لله)
(الذي نحمده و نستعينه و نستغفره)
(و نؤمن به و نتوكل عليه)
(و نعوذ به من شرور انفسنا و من سيئات اعمالنا)
(من يهد الله فلا مضل له, ومن يضلل فلا هادي له)
(و نشهد ان لا اله الا الله وحده لاشريك له)
(و نشهد ان محمدا عبده ورسوله)
(أرسله الله تعالى بالهدى ودين الحق)
(ليظهره على الدين كله)
(وكفى بالله شهيدا)
(فصل الله عليه و سلم تسليما كثيرا كثيرا)
(عم بعد)
(فإن أصدق الحديث كتاب الله)
(وخير الهدي هدي محمد ﷺ)
(وإن شر الأمور محدثاتها)
(فإن كل محدثة بدعة)
(وكل بدعة ضلالة)
(وكل ضلالة في النار)
(قال الله عز و جل في القرآن الكريم)
(بعد أن أقول)
(أعوذ بالله من الشيطان الرجيم)
(وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَـٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّـٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ) (QS. An-Nur: 32)
(إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ) (QS. An-Nur: 32)
(وَلْيَسْتَعْفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا) (QS. An-Nur: 33)
(حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ) (QS. An-Nur: 33)
(وَٱلَّذِينَ يَبْتَغُونَ ٱلْكِتَـٰبَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ) (QS. An-Nur: 33)
(فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًۭا ۖ) (QS. An-Nur: 33)
(وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِىٓ ءَاتَىٰكُمْ ۚ) (QS. An-Nur: 33)
(وَلَا تُكْرِهُوا۟ فَتَيَـٰتِكُمْ عَلَى ٱلْبِغَآءِ) (QS. An-Nur: 33)
(إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًۭا لِّتَبْتَغُوا۟ عَرَضَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ) (QS. An-Nur: 33)
(وَمَن يُكْرِههُّنَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ مِنۢ بَعْدِ إِكْرَٰهِهِنَّ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ) (QS. An-Nur: 33)
(وَلَقَدْ أَنزَلْنَآ إِلَيْكُمْ ءَايَـٰتٍۢ مُّبَيِّنَـٰتٍۢ) (QS. An-Nur: 34)
(وَمَثَلًۭا مِّنَ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُمْ) (QS. An-Nur: 34)
(وَمَوْعِظَةًۭ لِّلْمُتَّقِينَ) (QS. An-Nur: 34)
(رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِي) (QS. Taha: 25)
(وَيَسِّرْ لِى اَمْرِي) (QS. Taha: 26)
(وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِّسَانِى) (QS. Taha: 27)
(يَفْقَهُوا قَوْلِى) (QS. Taha: 28)
(اللَّهُمَّ ثَبِّتْنا وَاجْعَلْنا عند الموت بِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ)
(اللَّهُمَّ جْعَلْنامِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ)
(وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ)
(آمين يا رب العالمين)

Pada khutbah hari ini, apa yang akan saya bahas dengan Anda… Insya Allah wa ta’ala satu, mungkin dua ayat dari Surat An-Nur, surat ke–24 dari Al-Qur’an. Saya pernah membahas surat ini beberapa kali. Terdapat beberapa ajaran dalam surat ini yang sangat mendasar bagi komunitas untuk bertahan dan tak kehilangan petunjuk Allah.

Jadi, ada beberapa tempat di Al-Qur’an, Allah memberi kita petunjuk sebagai umat. Pada tempat–tempat lainnya di dalam Al-Qur’an, Allah memberi kita petunjuk sebagai individu atau sebagai keluarga. Dan di beberapa tempat lainnya di Al-Qur’an, Allah memberi kita petunjuk sebagai komunitas, masyarakat, keluarga yang saling mendukung, hidup berdampingan, dan bagaimana mereka saling membutuhkan satu sama lain. Tidak keluar dari jalan yang Allah hendaki.

Jadi, bagian dari petunjuk itu adalah apa yang ingin saya bahas hari ini. Namun sebelumnya saya akan berbagi beberapa pengamatan, dan mencoba mengkaji beberapa hikmah dari ayat ini, dan saya ingin Anda mengetahuinya sendiri, saat Anda dan saya keliru.

Perbedaan Budaya

Anda tahu, tentunya kita memiliki perbedaan budaya, kita berasal dari negara yang berbeda, sebagian besar kita berasal dari Asia, dari Afrika, dan dari Eropa, bagian dari dunia yang berbeda. Dan setiap tempat memiliki tradisi yang berbeda, budaya yang berbeda.

Keluarga Anda memiliki cara tersendiri dalam melakukan sesuatu. Terkadang budayanya sangat berbeda, bahwa orang-orang, cara mereka melakukan sesuatu di satu tempat sangat berbeda dengan cara orang-orang di tempat lain, ya kan?

Ketika orang-orang dikenali dari keluarga, suku, budaya tertentu, kemudian dari nilai-nilai, norma, dari semuanya. Dari cara kita makan, berpakaian, bicara, semua itu, acara, perayaan. Semuanya sangat dipengaruhi dari tempat kita berasal, dan budaya dari mana kita berasal, ya kan?

Ini tentunya berbeda jika kita datang ke suatu negara seperti Amerika Serikat, atau ketika orang-orang berpindah dari berbagai belahan dunia ke Eropa, Australia, atau beberapa tempat di negara Barat, yang mereka masih mempertahankan tradisi budayanya.

Namun sekarang mereka menjadi bagian dari budaya baru, dan anak-anaknya terpapar oleh dunia yang berbeda. Jadi, di dalam rumah ada budaya briyani, namun di luar, ada budaya hamburger. Jadi, ini dunia yang benar-benar berbeda, dan mereka harus mencari tahu cara hidup di dua dunia ini, Anda paham? Dan terkadang ketika orang-orang datang, dan pindah ke negara yang berbeda, mereka ingin mengenang bagaimana segalanya dilakukan seperti di rumah, ya kan?

Jadi, bahkan, Anda dapat temukan contohnya, misalnya di Amerika Serikat, ada banyak tempat di Amerika Serikat, yang masjidnya… khutbahnya dibacakan, tidak dalam bahasa Inggris. Khutbahnya disampaikan, terkadang dalam bahasa Urdu, Bangla, Arab, atau bahasa lainnya. Meskipun setiap gedung sekitar masjid berbahasa Inggris, dan semua orang berbahasa Inggris. Itulah Amerika.

Ada beberapa orang di sana yang ingin mengenang bagaimana sesuatu biasanya dahulu dilakukan di kampung halaman. Jadi, kita harus mempertahankan hal itu di sini, seperti dulu. Saya tahu masjid di New York yang sudah berdiri selama 50 tahun, dan mereka menyampaikan khutbahnya dalam bahasa lokal. Tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang tua. Bahkan cucu mereka sendiri tidak memahami. Karena mereka telah pindah, dan telah menjadi lebih Amerika dari kakek-neneknya, ya kan? Itu tidak masalah, kita dapat mempertahankan hal-hal seperti dulu.

Budaya Merupakan Kekuatan Yang Sangat Kuat

Hal pertama yang ingin saya bagi adalah bahwa budaya merupakan kekuatan yang sangat kuat. Budaya bukan kekuatan jahat, tetapi kekuatan yang sangat kuat. Anda tahu, manusia memiliki kebiasaan yang terbentuk dari waktu ke waktu. Kita berbicara tentang kebiasaan yang telah terbentuk di dalam keluarga, dari generasi ke generasi. Itu bukan hal yang kecil, dan keluar dari kebiasaan itu bukan hal yang mudah. Allah tidak memberi kita Islam, untuk menghancurkan budaya, atau meninggalkan budaya.

Bagi sebagian orang, mereka memiliki pemikiran yang keliru dalam benaknya bahwa Islam bertentangan dengan budaya. Itu sepenuhnya salah. Ajaran Allah (عز و جل) tidak datang untuk menghilangkan perbedaan budaya. Faktanya, apa yang Allah berikan kepada kita dalam ajaran-Nya, dan apa yang Dia berikan kepada kita dalam warisan Nabi-Nya (ﷺ) adalah cara untuk membawa petunjuk Allah ke dalam setiap budaya.

Anda masih bisa berpakaian sesukanya, makan sesukanya. Anda masih bisa merayakan pesta, sebagaimana yang Anda suka. Namun ini hal haram yang bisa Anda hilangkan darinya. Ini penindasan yang bisa Anda lenyapkan darinya. Mungkin sebagian budaya kita memberatkan. Mungkin sebagian budaya kita tidak adil. Mungkin sebagian budaya kita menyusahkan orang-orang. Agama kita datang untuk menghilangkan sebagian budaya yang menyulitkan orang-orang dan mempertahankan sebagian budaya lainnya.

Sekedar memberi Anda contoh kecil, bahkan pada zaman Nabi (ﷺ), sebagian dari budaya mereka adalah… Memiliki anak perempuan sangat memalukan. Jika seorang anak perempuan lahir di rumah Anda, itu seperti, “Wow, kamu tidak cukup jantan memperoleh seorang putra?”

“Kamu punya anak perempuan?”

Ketika seseorang mendapat kabar bahwa seorang anak perempuan lahir di rumahnya, mereka akan mengalami depresi.

(ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّۭا وَهُوَ كَظِيمٌۭ) (QS An-Nahl: 58)

Anda tahu, Allah menjelaskan, itu seperti, “Wajahnya menjadi menghitam pekat, dan dia menahan rasa kekecewaannya.”

Dia menghindari kontak mata dengan orang-orang. Itulah budaya jahil yang dulu mereka miliki. Nabi kita (ﷺ) memberi petunjuk, memberi kita kabar baik ini.

“Siapa di antara kalian yang memiliki tiga anak perempuan, atau tiga saudara perempuan, dan berbuat baik kepadanya, maka Allah akan menjamin mereka Jannah.”

Lalu seseorang bertanya bagaimana jika dua? Bagaimana jika satu? Dan Nabi terus menurunkan jumlahnya. Allah akan memberimu Jannah. Artinya, memiliki anak perempuan, memiliki saudara perempuan akan menjadi tiket ke surga.

Nabi membalikkan budaya itu, Nabi mengubah budaya itu. Meskipun petunjuk Nabi tidak diikuti oleh kebanyakan Muslim, bahkan hingga saat ini; Saya ingat ketika memiliki anak perempuan kedua. Saya sangat senang, saya pergi ke masjid dengan banyak donat. Dan saya bagi-bagikan donatnya; saya punya anak; dan seseorang bertanya, seorang kawan, saya tidak akan menyebutkan nama negaranya, namun hampir semua negara muslim sekarang sama saja, ya’ kan?

Dia bertanya, “Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki, ya kan?”

Dan saya jawab, “Bukan, dia perempuan.”

Dia berkata, “Oh… insya Allah, lain kali.”

[Tertawa]: Anda paham, kan?

Karena bukanlah kabar baik memiliki anak perempuan.

“Apa? Agama apa ini?”

Inilah sebenarnya yang agama kita perbaiki, tapi sekarang sudah 1400 tahun, dan gagasan, bahwa anak laki-laki lebih baik, adalah sebelum Islam. Ini dari sebelum Islam. Namun meskipun Islam datang, dan Islam adalah kekuatan yang kuat.

Bagi sebagian orang, mereka tidak bisa melepaskan sebagian budayanya yang berasal dari sebelum Islam. Meskipun mereka menjadi Muslim, sebagian budaya yang tidak sejalan dengan Islam tetap ada. Budaya itu tetap ada, masih berjalan, dan terus berlanjut.

Sebagian Budaya Berlawanan Dengan Agama Kita

Jadi, Anda memiliki agama, dan kemudian memiliki sebagian budaya yang benar-benar berlawanan dengan agama kita. Kita harus memutuskan yang mana darinya yang lebih penting. Mana yang lebih berpengaruh? Terkadang, kita tidak harus meninggalkan budaya, tidak ada yang salah antara budaya kita dan Islam.

Cara saya berpakaian sekarang, adalah bagian dari… ini bagian dari budaya asal saya – dari beragam budaya asal saya. – Tidak ada yang lebih Islami atau tidak Islami tentang itu. Misalnya Nabi kita (ﷺ) pada acara-acara khusus, biasanya memakai sorban. Tapi tahukah Anda? Abu Jahal juga mengenakan sorban pada acara-acara khusus.

Apa Anda tahu? Abu Lahab juga mengenakan sorban pada acara-acara khusus. Mengenakan sorban atau berpakaian seperti orang Arab bukanlah Islam. Itu sudah ada bahkan sebelum Nabi dilahirkan, (ﷺ). Tapi tidak ada yang salah dengan itu. Itu boleh-boleh saja. Jadi, Nabi (ﷺ) mempertahankan bagian-bagian budaya yang tidak bertentangan dengan agama. Namun ada sebagian budaya, yang terdapat kekeliruan, dan harus dihilangkan.

Standar Manusia

Sekarang, dengan pemahaman ini, yang bukan merupakan subjek khutbah saya. Saya terlalu lama menyampaikan pembukaannya, mungkin tema ini membutuhkan beberapa khutbah untuk dijelaskan. Namun bagaimanapun juga, Saya ingin mengambil satu bagian saja dari budaya ini. Di seluruh dunia, saat saya bepergian, atau orang-orang menulis di media sosial, mereka mengirim email, berbicara kepada saya.

Satu masalah umum yang dibicarakan, banyak orang menyampaikan: Saya tidak bisa menikah – pria dan wanita – saya tidak bisa menikah. Dan kemudian Anda mengatakan pertanyaan sederhana:

“Kenapa Anda tidak bisa menikah?”

“Yah, orang tua bilang saya terlalu muda.”

Atau, jika dia perempuan, “Saya tidak bisa menikah karena secara kultural terlalu tua.”

“Saya sudah kelewat tua.”

Atau, “Saya menemukan seseorang yang ingin saya nikahi, tapi dia dari suku lain.”

Atau, “Dia dari suku yang berbeda, orang tua saya tidak akan menerimanya.”

Atau, “Mereka bukan dari status ekonomi yang sama.”

Bisa jadi mereka berasal dari negara yang sama, berbicara bahasa yang sama, tapi sayangnya, mereka dari desa sebelah, 10 mil lebih.

“Nah… bukan orang-orang itu.”

“Kita tidak bisa membuat keluarga kita tercemar oleh orang-orang itu.”

Jadi, pernikahan ini harus dari dalam lingkungan dekat kita sendiri, atau, orang tua saya sudah sejak lama memutuskan dengan siapa saya akan menikah meskipun saya tidak ingin menikahinya, dan sekarang mereka mengatakan saya tidak punya pilihan.

Ini hanya beberapa di antaranya… atau saya bercerai dan sekarang tidak ada yang menginginkan saya, karena perceraian seperti yang Anda tahu, lebih buruk dari virus corona. Anda tidak ingin mendekati orang-orang yang bercerai karena Anda mungkin akan tertular virus itu. Jangan pernah mengundang mereka ke pesta Idulfitri karena Anda tahu, mereka orang yang tercemar, ya kan?

Jadi, kita menciptakan nilai-nilai ini, standar ini. Atau kadang-kadang seorang gadis atau pemuda datang dan mengatakan, “Saya siap menikah, seorang anggota keluarga ingin menikah, namun orang tua saya mengatakan, tapi kamu memiliki kakak laki-laki, atau kamu memiliki kakak perempuan, atau saudara kandung yang lebih tua, dan mereka belum menikah, dan sampai mereka menikah, kamu perlu menunggu, tenanglah.”

Sekarang, prinsip ini, aturan-aturan yang kita miliki dalam keluarga, dalam budaya kita, tidak ada satupun yang ada hubungannya dengan Islam. Apa yang Allah katakan tentang mengizinkan orang menikah ketika mereka ingin menikah dan dengan siapa mereka ingin menikah.

Pernikahan Nabi Musa (عليه السلام)

Allah memberi kita petunjuk tentang siapa yang bisa Anda nikahi. Sebagai orang tua kita punya pendapat. Saya ingin kita membahasnya segera dengan… satu-satunya pernikahan yang disebutkan Al-Qur’an. Setidaknya satu, yang ingin saya soroti dengan Anda di Al-Qur’an.

Musa (عليه السلام) tidak sengaja membunuh seseorang. Kalian semua tahu ini. Dia melarikan diri dari Mesir. Seluruh militer, dan polisi mencarinya. Dan jika mereka menemukannya, pasti akan membunuhnya di tempat. Dia lari ke padang pasir, dia menemukan sepasang wanita muda, dia membantu mereka.

Nabi Musa mengalami dehidrasi, hampir mati, tetapi tetap membantu mereka. Dan setelah membantunya, dia kembali duduk di bawah pohon. Wanita-wanita ini biasanya bekerja di tengah masyarakat non-Muslim. Semua laki-laki di sekitar mereka adalah orang-orang mesum. Mereka memperhatikan pria ini membantu, dan tidak menatap mereka. Dia tidak berbuat senonoh terhadap mereka.

Jadi, ketika mereka kembali ke ayahnya, mereka mengatakan kepadanya bahwa kami bertemu dengan orang yang sangat baik. Sang ayah berkata, “Panggil dia.”

Jadi, salah satu dari mereka kembali dan memanggilnya. Nabi Musa menceritakan seluruh kisahnya kepada sang ayah. Nabi Musa sekarang di Madyan, Musa (عليه السلام) berasal dari bani Israel, oke?

Jadi, dia orang Israel. Dia berada di Madyan yang merupakan tanah Arab. Dia berada di tanah Arab, jadi Nabi Musa berada di – ini orang Israel yang berbicara dengan orang Arab. – Dia mengatakan kepada ayah perempuan Arab itu, “Ya, saya dahulu tinggal di Mesir, Saya membunuh seseorang, seorang buronan, sekarang saya tunawisma, itulah kisahnya.”

“Jadi, begini – Saya membunuh seseorang, tunawisma, dan tidak punya makanan.”

Sang ayah mendengarkannya dan berkata, “Saya rasa harus menikahkan salah satu putri saya denganmu.”

“Bagaimana bila kamu menikah dengan salah satu putri saya?”

“Kamu bisa tinggal di sini selama sepuluh tahun.”

“Delapan tahun, sepuluh tahun jika kamu mau.”

Dan Nabi Musa berkata, “Tunggu sebentar, rasanya ibu saya tidak akan setuju.”

“Izinkan saya berbicara dengannya dulu, izinkan saya menemuinya di…”

Tidak! Mereka hanya… “Oke, baiklah, kesepakatan bagus.”

(هَـٰذَا بَيْنِى وَبَيْنَك)

“Inilah perjanjian antara kamu dan saya.”

Itu boleh-boleh saja. Allah mengajarkan kita sesuatu. Pertama-tama, apakah ini pernikahan antar suku yang sama? Tidak.

Apakah ini pernikahan saat pemuda itu siap, mampu secara finansial, dengan resume yang mengesankan sebelum menikah? Tidak.

Faktanya, resumenya bahkan tidak termasuk, “Ngomong-ngomong, saya seorang Nabi Allah.”

Tidak. Karena itu terjadi di gunung bertahun–tahun kemudian. Nabi Musa bahkan belum menjadi seorang Nabi. Jadi, satu-satunya resumenya adalah, “Saya jujur, orang baik, dan tidak punya tempat tujuan bepergian.”

Hanya itu resumenya. Allah menjelaskan bagaimana Nabi Musa menikah.

Itulah Musa (عليه السلام).

Anda tahu, secara kultural, ngomong-ngomong… Secara budaya, benar-benar buruk jika Anda tinggal dengan mertua, bukankah begitu? Jika seorang pria tinggal dengan ibu mertuanya atau ayah mertuanya: pria macam apa Anda? Selama sepuluh tahun Musa (عليه السلام) tinggal bersama ayah mertuanya. Sepuluh tahun. Adakah yang mau menantang kedewasaannya?

“Anda tidak cukup dewasa untuk tinggal sendiri?”

“Ada apa dengan Anda?”

Anda paham?

Izinkan Mereka Menikah

Tapi kita tidak berpikir seperti itu. Itu bahkan bukan topik bahasan saya. Mari kita mulai topik pembicaraannya, ayat yang ingin saya diskusikan. Dengarkan ini dengan seksama. Ini kata-kata Allah. Dan firman Allah ada di atas budaya saya dan Anda. Firman Allah di atas keinginan keluarga saya dan Anda. Ini kata-kata Allah, Yang tahu lebih baik untuk kita, daripada kita sendiri.

Allah berkata kepada kita sebagai sebuah komunitas,

(وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ) (QS. An-Nur: 32)

“Biarkan yang belum menikah di antara kamu menikah.”

“Biarkan orang-orang yang membujang di komunitas kalian menikah.”

Ini berarti, izinkan mereka untuk menikah. Artinya, jangan tempatkan penghalang pada mereka. Allah membuat sesuatu halal, Anda dan saya tidak bisa membuatnya haram. Anda dan saya tidak bisa mengatakan, “Tidak, tidak, belum saatnya.”

Jika Allah tidak memiliki masalah dengan itu, maka Anda dan saya tidak punya masalah dengan itu. Anda tidak bisa mengatakan, “Tidak, tidak, tidak! Selesaikan gelar Master dan Ph.D kamu.”

“Ketika kamu menjadi sangat tertekan karena sendirian dan kesepian.”

“Nanti kami akan melihat karena pada saat itu, kamu akan memiliki masalah-masalah psikologis.”

“Kami nanti akan menikahkanmu dengan seseorang, sehingga kamu bisa memberinya masalah-masalah psikologis.”

“Ayo mari kita lakukan itu.”

“Tidak, tidak, tidak!”

“Bagaimana jika kamu tetap di kampus, dan terus menjaga pandangan dari melihat yang haram.”

“Kemudian ada lawan jenis selalu mendatangimu sepanjang waktu, dan kamu hanyalah manusia.”

“Kamu akan menghadapi godaan–godaan itu.”

“Tapi apa kamu tahu?”

“Kamu anak yang baik, jadi kamu tinggal di lingkungan yang sama selama enam, tujuh, delapan, sepuluh tahun.”

“Kemudian ketika tabunganmu sudah mencukupi, sudah membeli rumah, dan juga telah membelikan kami rumah, karena kamu juga bank kami.”

“Lalu ketika kami telah mengambil cukup uangmu, maka kamu bisa pergi dan menikah, karena kami tidak ingin ada perempuan yang masuk ke dalam hidupmu, dan mengambil semua uang yang kami harapkan.”

“Kami memberi banyak uang kepada kamu. Kami perlu mendapatkan pengembalian uangnya dahulu. Kami tidak bisa membiarkanmu menikah.”

Apa itu? Apa masalahnya? Tidak bisa mengendalikan diri? Lalu Anda merasa tidak masalah melakukan itu.

Beberapa keluarga tidak masalah jika putra dan putrinya melakukan apapun karena mereka – “Itu bukan masalah, tidak apa-apa mereka masih muda.”

“Tapi pernikahan? Tidak.”

“Haram okay.”

“Halal tidak bagus.”

Saya bahkan pernah mendengar orang tua berkata, “Saya tidak punya masalah jika kamu ingin punya pacar, tapi urusan pernikahan ini sebaiknya kamu berhenti.”

Benarkah? Biarkan saya terjemahkan untuk Anda. “Saya baik-baik saja jika kamu tidak taat kepada Allah.”

“Tapi melakukan sesuatu yang halal?”

“Budaya kita lebih penting dari itu.”

Berani–beraninya kita mengatakan firman Allah yang tertinggi saat kita tidak dapat mengizinkan hamba Allah, ketika itu halal bagi mereka, termasuk mengizinkan anak-anak kita. Kita tidak memiliki anak-anak kita. Mereka amanah yang diberikan Allah kepada kita. Mereka amanah yang diberikan Allah untuk kita.

Ketika mereka bertanya pilihan yang tepat – dan jika mereka bukan anak-anak – Saya tidak mengatakan jika anak Anda yang berumur 13 tahun berkata, “Saya mendengar khutbah ustaz Nouman, dan rasanya saya sudah siap menikah.”

Tidak, saya tidak mengatakan itu.

(مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ) (Sahih al–Bukhari 5066)

“Anda yang mampu, jika Anda menghasilkan uang sendiri, dan jika sekarang Anda mandiri, jika Anda berada pada tingkat kedewasaan tertentu, Anda siap.”

Dan itu tidak diputuskan oleh orang tua Anda, karena terkadang orang tua Anda… Anda bisa berusia 40 tahun dan mereka bilang Anda belum siap.

“Kamu belum siap.”

Atau, “Kamu tidak bisa menyukai orang yang itu.”

“Kami ingin kamu menyukai orang yang itu.”

Anda tidak bisa memutuskannya demikian.

Anda tidak bisa memutuskan itu terhadap seseorang. Jika mereka telah membuat keputusan, dan ingin menikahi seseorang, maka, jika itu halal, kita seharusnya tidak membuat penghalang.

Jadi, kadang–kadang masalah suku, terkadang masalah status kekayaannya.

“Tidak, kamu seorang dokter, hanya bisa menikahi dokter,” atau, “Yang ini terlalu tua, yang ini terlalu muda,” atau, “Kakakmu belum menikah,” atau, “Bagaimana jika kamu harus mapan secara finansial dahulu.”

Nikahkan Mereka Walau Budak Sekalipun

Perhatikan bagian selanjutnya ayat ini. Luar biasa. Ini di Madinah, ya kan? Dan Madinah bukan daerah yang kaya. Jadi, sekarang ini ketika kita memikirkan pernikahan, kita memikirkan memesan aula, katering, mengundang orang–orang dari berbagai belahan benua, karena jika mereka tidak datang dan menari di pesta pernikahan, lalu bagaimana pernikahan ini halal? Ya kan?

Jadi, kita harus menghabiskan pengeluaran ribuan dolar ini, – pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu, – akhirnya pesta pernikahan ini menjadi masalah besar karena semua orang harus melakukan, pastinya… jika Anda tidak memamerkan kemewahan, maka pernikahan ini tidak diadakan? Jika Anda tidak mengadakan pesta, apakah pernikahan ini terjadi?

Jadi, semua ambisi dari budaya ini yang membuat pemuda dan pemudi berhutang, dan keluarga mereka berhutang bahkan sebelum mereka memulai kehidupannya. Tapi itulah standar kita. Kita harus melakukannya karena mereka melakukannya, dan mereka, dan mereka, dan mereka.

Tahukah Anda, Madinah adalah daerah yang miskin. Madinah tempat yang sangat miskin. Allah berfirman, kaum Ansar, pertama–tama, kaum Muhajirun tidak memiliki rumah, ya kan? Mereka meninggalkan Makkah, mereka tidak mempunyai rumah. Orang-orang yang memberikan mereka rumah, kaum Ansar, apa yang Allah katakan mengenai mereka?

(وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ) (QS. Al–Hasyr: 9)

“Mereka mengutamakan orang lain daripada mereka sendiri, meskipun mereka sendiri sangat kesusahan.”

Artinya para penolong kesusahan, bukan para pengungsi. Para penolong tidak memiliki cukup makanan. Itulah Madinah. Kemudian Allah berfirman, dengarkan ini.

(وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ) (QS. An-Nur: 32)

“Nikahkan di antara kamu yang belum menikah, baik mereka muda atau tua, bercerai.”

Anda tahu, mereka ingin menikah, beri mereka kesempatan menikah – izinkan, bolehkan, dorong, bantu mereka menikah.

Lalu, “Pilihlah yang baik di antara hamba-hamba sahayamu, laki-laki dan perempuan.”

Hamba-hamba sahaya artinya para budak. Anda tahu, perbudakan masih ada pada saat itu dan para budak-budak ini berada di kasta ekonomi terendah dalam masyarakat. Mereka tidak memiliki rumah atas namanya. Mereka tidak memiliki properti dengan namanya. Mereka tidak punya apa-apa. Namun Allah berfirman seharusnya mereka tidak membujang. Mereka sebaiknya tidak melajang.

Artinya, Qur’an mengajarkan kita, situasi keuangan Anda, meskipun itu penting, jika Anda menciptakan budaya yang kecuali apabila Anda mapan secara finansial, hanya dengan begitu Anda bisa menikah. Ketika Anda membuat batasan itu, Anda menutup pintu halal, dan membuka lebar pintu haram. Terbuka lebar.

Anda harus ingat, setan, ketika dia mendatangi orang tua kita di Jannah, setiap pohon di surga halal dan hanya satu pohon yang haram. Dan setan mampu mendekatinya, cukup dengan membisiki mereka, untuk pergi ke pohon yang haram, ya kan?

Dan apa yang Muslim lakukan? Muslim tidak akan pergi ke satu pohon yang haram; Muslim membuatnya haram untuk diri mereka sendiri. Setiap pohon, haram. Setiap pohon yang haram, kita buka, dan pohon-pohon yang halal, kita menebangnya. Demi anak-anak kita sendiri. Demi putra-putri kita sendiri.

Ini tidak baik untuk kita lakukan. Ini bentuk penindasan. Ini menciptakan kekacauan di masyarakat. Bahkan terhadap para budak disebutkan dalam Al-Qur’an, izinkan mereka menikah. Kemudian Allah berfirman, okay, lalu orang-orang bertanya, bagaimana para budak dapat melakukannya? Bagaimana mereka bisa menikah?

Allah berfirman, ini kata-kata Allah, bukan saya.

(إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ) (QS. An-Nur: 32)

“Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.”

Artinya ini lebih penting daripada uang. Menikahkan mereka bahkan lebih penting daripada uang. Lalu Allah berkata,

(وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ) (QS. An-Nur: 32)

“Allah tahu yang terbaik.”

“Allah mengetahui.”

Allah tahu apa yang dikatakannya lebih dari Anda dan saya. Jadi, ketika Allah mengatakan ini perbuatan yang benar, maka Dia mengetahuinya. Dia mengetahui keuangan lebih baik daripada Anda dan saya. Dia mengetahui psikologi lebih baik dari Anda dan saya. Dia mengetahui sosiologi lebih baik dari Anda dan saya. Dia mengetahui hubungan singkat dan hubungan jangka panjang lebih baik dari Anda dan saya ketika Dia memberikan petunjuk ini.

(وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا)
(حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ) (QS. An-Nur: 33)

Di ayat berikutnya,

“Dan orang-orang yang belum menemukan seseorang untuk dinikahi hendaknya mencoba menahan diri sebaik mungkin hingga Allah memampukan mereka.”

Jika mereka mungkin tidak menemukannya, – bukan itu masalahnya, bukan itu yang ingin saya katakan. – Jika Anda belum menemukannya, bersabarlah. Semua orang sudah tahu itu. Tetapi kenyataannya, begitu banyak remaja putra dan putri kita, pria dan wanita yang siap menikah, yang mampu menikah, yang memilih jalan halal untuk menikah, pintu mereka ditutup. Dan sayangnya, pintu mereka ditutup oleh Muslim, bukan non-Muslim. Dan itu benar-benar masalah besar melanggar apa yang dikatakan Allah di ayat ini. Inilah yang dikatakan Allah pada ayat ini.

Kesimpulan

Omong-omong, ayat ini, tepat sebelumnya, karena akan saya simpulkan sekarang, tepat sebelumnya ayat tentang wanita yang harus menjaga pandangannya dan menutupi diri mereka, serta laki-laki harus menjaga pandangannya. Tepat sebelum ayat ini.

Jadi, pertama-tama Allah berfirman jaga diri Anda, bahkan, Allah juga berfirman Anda tidak bisa menjaga diri selamanya. Setiap hawa nafsu, Allah masukkan ke dalam manusia. Dia memberi hawa nafsu ini jalan halal.

Jadi, Dia berkata jaga diri Anda sebaik mungkin, namun sebenarnya, akhirnya rasa aman Anda adalah dengan apa? Menikah.

Biarkan orang-orang menikah. Biarkan anak-anak muda menikah. Biarkan orang-orang dewasa menikah. Biarkan para wanita menikah lagi. Tidak mengapa. Ini budaya sahabat.

Anda mengira Madinah, saya membicarakan tentang realitas keuangan Madinah – ini bukan sekedar realitas keuangan, ketika Anda mempelajari kehidupan di Madinah sebelum Nabi (ﷺ) pindah ke sana, dan bahkan setelah Nabi pindah ke sana, perhatikan baik-baik, Anda akan menemukan Madinah memiliki prostitusi. Madinah memiliki prostitusi terbuka. Madinah adalah tempat yang gila. Qur’an datang untuk membersihkan kota yang sangat liar.

Madinah seperti Las Vegas saat itu. Madinah ketika itu bukan kota yang normal. Maksud saya Anda mempelajari konteks sejarah kota Madinah dan budayanya, Anda akan terkejut. Dan Qur’an juga datang untuk membersihkan hal itu.

Sahabat tidak tahu harus bagaimana dan inilah sebabnya para sahabat diberi petunjuk ini. Jika Anda tidak dapat menemukan seseorang, Allah bahkan membicarakan mereka yang tidak mampu menikah. Apa yang Allah katakan kepada komunitas?

Dia berkata, (وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ ۚ) (QS. An-Nur: 33)

“Berikan kepada mereka harta yang Allah berikan kepadamu – dari harta yang Allah berikan kepadamu.”

Allah tidak mengatakan berikan mereka dari harta Anda. Dia mengatakan berikan mereka dari harta-Nya yang Dia berikan kepada Anda sehingga mereka bisa menikah. Ini perintah Allah. Allah berfirman harta-Nya yang Dia berikan kepada Anda, paling baik digunakan, membantu orang menikah. Itulah apa yang paling baik digunakan.

(ءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِىٓ ءَاتَىٰكُم)
(وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ) (QS. An-Nur: 33)

“Dan jangan paksa anak perempuanmu menjadi pelacur.”

Itulah yang Allah katakan selanjutnya. Dan (بِغَاء) juga berarti pemberontakan. Meskipun ada masalah pelacuran pada saat itu, sekarang ada masalah lain. Kita memaksa remaja putra dan putri kita ke dalam dosa. Anda dan saya tahu seperti apa media sosial itu. Anda dan saya tahu seperti apa Snapchat dan Instagram – kita tahu seperti apa itu. Anda tahu seperti apa godaan itu. Godaan ini menyerang anak muda kita dari segala arah.

Jika ada satu hal yang kita inginkan, demi menjalani hidup dan keluar dari godaan ini serta sukses bertemu dengan Allah, maka kita harus menjaga cahaya yang Allah tempatkan dalam diri kita. Cara terbaik untuk menghancurkan cahaya itu adalah dengan membuang rasa malu manusia. Cahaya itu diserang setiap hari.

Siapa pun yang memiliki perangkat seluler diserang – itulah kenyataannya. Jika Anda memiliki perangkat seluler dan terhubung ke internet, yeah, setan terus-menerus menggodamu. Anda dapat memiliki aplikasi Qur’an, itu tidak berpengaruh. Itu tidak berpengaruh. Anda dapat memiliki video YouTube Islami, itu tidak berpengaruh. Setan juga ada di sana. Ini merupakan perpanjangan dari diri kita sendiri dan membuat godaannya lebih mudah menyertai kita. Itulah kenyataannya.

Di lingkungan seperti ini ketika Anda menutup pintu halal, atau Anda mempersulitnya, maka hal haram hanya satu atau dua ketukan jari jauhnya, ya kan? Itu kenyataan pahit, lalu apa? Kita mengatakan orang-orang harus lebih kuat melawan godaan.

Jika Allah ingin mengatakan orang-orang harus lebih kuat, mereka harus menunggu, Allah akan mengatakannya – Allah tahu siapa yang Ia ciptakan. Dia yang memberikan petunjuk ini. Bukan Anda dan saya. Kita tidak boleh menganggap diri kita lebih unggul atau menganggap diri kita lebih benar daripada Allah yang menciptakan kita.

(فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ) (QS. An-Najm: 32)

“Jangan menganggap dirimu paling bertakwa, jangan menganggap dirimu paling suci.”

Dia lebih tahu siapa yang bertakwa atau siapa yang tidak. Dia tahu kelemahan kita. Dia berbicara kepada kita. Dia memberi petunjuk ini sebab mengetahui kelemahan kita. Mengetahui kekurangan kita. Itulah kunci untuk memahami ayat ini, pertama-tama mengakui kita tidak lebih baik dari orang lain, dan firman Allah berada di atas kesombongan pribadi kita, firman Allah di atas keluarga kita, firman Allah di atas budaya kita, firman Allah di atas prasangka kita,

Pertama dan terutama kita tidak ingin membiarkan siapapun jatuh ke dalam dosa. Pada khutbah saya yang lain, insya Allah saya akan berbicara tentang kedewasaan – mari kita menggali lebih jauh hadis Nabi ini (ﷺ), ketika dia mengatakan Anda yang mampu, karena saya tidak ingin kata-kata ini disalahgunakan.

“Yeah, Anda tahu kan, ada… tonton video ini dan izinkan saya menikah sekarang.”

Nah, apakah Anda mampu? Karena Nabi berkata siapa pun di antara kamu yang mampu.

(فَلْيَتَزَوَّجْ)

“Maka mereka harus menikah.”

Jadi, apa itu ba-a, istilah yang digunakan Nabi (ﷺ) dan bagaimana Qur’an merujuk pada istilah itu? Sifat-sifat apa yang harus kita miliki? Mungkin pembicaraan itu akan terjadi. Insya Allah wa ta’ala minggu depan.

(بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْحَكِيْمِ)
(وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ)

Semoga Allah (عز و جل) melindungi kita dan anak-anak kita, dan komunitas dari segala bentuk fitnah, memperkenankan kita mengikuti jalan halal, dan menutup pintu ke jalan haram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s