[LBP2020] Set Our Clear Limits


Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-14

Topik: Leadership

Ahad, 05 Juli 2020

Materi LBP Hari ke-14 Pagi | Leadership Workshop

Ditulis oleh: Heru Wibowo

Di minggu lalu, kita sudah belajar bagaimana menjaga keseimbangan. Jangan sampai kita aktif di kegiatan kemasyarakatan, atau kegiatan keislaman, atau kegiatan dakwah, tapi kita lupa mengurus keluarga. Salah satu solusinya adalah: to set clear limits

Apa maksudnya? 

“Aku siap berkontribusi untuk program ini, sekian jam seminggu.”

Jadi, jelas. 

Jelas, bahwa kita akan berkontribusi. Dan jelas juga, bahwa kita tidak akan mengorbankan keluarga, atau pekerjaan. Karena salah satu trik setan adalah menyuguhkan begitu banyak peluang untuk berbuat baik, yang membuat kita ingin terlibat dalam semua kegiatan itu, yang akhirnya membuat hidup kita kacau balau. Gara-gara kita tidak mengukur diri. Gara-gara kita tidak set our clear limits

Jangan sampai kita jadi kelelahan sendiri. Oke, kita bisa termotivasi dengan kata-kata indah “semoga lelah menjadi lillaah”. Tapi kita harus ta’awudz dulu sebelum “termakan” oleh motivasi itu. Bisa saja setan bersembunyi dibalik kata-kata indah itu. Dan tanpa kita sadari, kita telah “melampaui batas”. Lalu, setelah keadaan menjadi bertambah parah dan kita terkapar, kita akhirnya malah berbalik 180 derajat. Tidak mau lagi, tidak pernah ingin lagi berkontribusi dalam kegiatan apapun, sama sekali!

Lakukan beberapa hal yang bermanfaat. Beberapa saja, jangan terlalu banyak. Secara terukur. Dan lakukan hal-hal itu dengan baik dan benar. Do a few things but do them right

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan ketika kita berkecimpung di organisasi keislaman adalah: bilang “tidak”. Learning to say “no”. Karena kita takut akan melukai perasaan seseorang yang meminta bantuan kita. 

Atau kita merasa enggak enak hati bilang tidak untuk jihad fii sabiilillaah. “Aduh gimana ya, kalau aku bilang tidak, apakah aku dosa sama Allah?” Hmmm. Enggak. Tunggu dulu. Wait a second. Yang kita lakukan adalah: bilang tidak ke seseorang yang meminta kita untuk melakukan sesuatu. Bukan bilang tidak ke Allah. 

You are saying no to somebody who asks you to do something. Not to Allah. You’re not saying “No” to Allah.

“Oh, begitu ya? Kan aku ingin berjuang di jalan Allah. Masa enggak boleh sih?”

Boleh. Sangat boleh. Nambah bekal buat akhirat kok enggak boleh. Tapi jangan lupa keluarga dan pekerjaan utama. Karena saat Anda di rumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga, itu juga fii sabiilillaah. Dan saat Anda bekerja untuk mendapatkan penghasilan yang halal, itu juga fii sabiilillaah. 

Don’t confuse yourself into thinking that only when you’re volunteering at the masjid, that’s for Allah, and everything else is for dunya. No, no, no. Al-kaasibu habiibullaah.

Minggu lalu, di grup LBP, di-posting sebuah lukisan bertuliskan “Al-kaasibu habiibullaah”. Lukisan itu terpampang di Sultan Ahmed Mosque. Alias Blue Mosque. Di Istanbul, Turki. Sebuah lukisan dengan makna yang sangat dalam. Orang yang bekerja keras dan mendapatkan penghasilan, dicintai Allah. Termasuk di dalamnya: orang-orang yang keringatnya bercucuran untuk mendapatkan penghasilan. Office boy, driver, waiter, cleaner, tukang sampah, dan profesi sejenisnya, yang sering tidak dihargai di masyarakat.

Saya belum pernah ketemu dengan seorang sopir, yang menjadi volunter. Dalam kegiatan keislaman. Apakah berarti profesi sopir itu tidak bisa fii sabiilillaah?

Belajar dari al-kaasibu habiibullaah, profesi sopir itu sendiri, ketika dijalani dengan sungguh-sungguh, untuk menafkahi keluarga, adalah fii sabiilillaah.

Ustadz Nouman, kalau kemana-mana, misalnya pas naik taksi, beliau sempatkan untuk ngobrol dengan sopir taksi. Mengenal namanya. Dan sebisa mungkin, membuatnya menjadi “seseorang”. Membuatnya bangga dengan profesinya. Membuatnya bangga dengan usahanya menafkahi keluarganya. Karena Allah menyukai orang-orang yang bekerja keras. 

Sayang seribu satu kali sayang. Ada opini yang dipegang, kira-kira sejak akhir abad yang lalu, bahwa if you wanna do Islamic work, then your family is a fitnah. Your job is a fitnah. Masjid, dakwah, akan membawa kepada kemuliaan akhirat. Keluarga, akan membawa kepada cinta dunia. Hmmm.

Is it? No, no, no. Agama kita tidak memisahkan itu. Keluarga kita adalah bagian dari peluang beribadah yang berpotensi menambah pundi-pundi amal kebaikan untuk akhirat kita. 

Jadi, prioritas kita seharusnya adalah, bukan menomorsatukan kegiatan keislaman di atas kewajiban atas keluarga. Tapi belajar untuk menyeimbangkan. Belajar untuk menyeimbangkan, dan menjaga keseimbangan itu.

Alasan utama kenapa ada aktivis yang berubah menjadi pasivis, atau menarik diri, berhenti menjadi volunteer, adalah karena kelelahan. Burned out. Kelewatan. Di luar batas kewajaran. Can’t do it anymore.

Contohnya tergambar dari cerita seorang aktivis yang istrinya mengomel, “Mas! Sekarang kamu putuskan! Kamu masih mau menikah sama aku atau kamu menikah sama masjid! Kamu yang putuskan!” 

Ini salah siapa? 

“Itu salah istriku. Dia terlalu mencintai dunia. Sementara aku ingin berbakti kepada agama.”

Hmmm. Enggak juga. Bukan itu persoalannya. Masalahnya terletak pada ketidakmampuan untuk menyeimbangkannya. Seorang suami perlu memberi waktu dan perhatian yang cukup kepada istrinya. Sehingga istrinya jadi happy. Itu adalah bagian dari sunnah. 

Apa saja contohnya, sunnah dalam konteks ini? Memberi waktu dan perhatian kepada istri. Memberi waktu dan perhatian kepada suami. Jika kita aktif dalam sebuah kepanitiaan dan waktu kita habis untuk kepanitiaan itu, sementara suami atau istri kita tidak kebagian waktu untuk ngobrol sama kita, adilkah itu? Itu bukanlah diin. Agama tidak pernah mengajarkan hal yang seperti itu. Agama kita adalah tentang keseimbangan. Dan tentang menjaga keseimbangan itu. 

Jadi, poin pertama yang perlu kita perhatikan adalah keseimbangan (balance). Oh ya, ngomong-ngomong, masing-masing orang itu punya balance sendiri-sendiri. Saya punya balance, yang mungkin beda dengan balance yang Anda punya. Karena jenis pekerjaan saya berbeda dengan jenis pekerjaan Anda. Karena jumlah anak saya juga berbeda dengan jumlah anak Anda. Karena usia anak-anak saya berbeda dengan usia anak-anak Anda. Karena tuntutan anak-anak saya berbeda dengan tuntutan anak-anak Anda. 

Masing-masing kita harus memetakan balance kita masing-masing. Dan kita tidak bisa melakukannya jika kita tidak tahu bagaimana mengelola waktu. Oke, mungkin Anda tidak setuju dengan istilah “mengelola waktu” (to manage time) karena yang bisa dikelola adalah diri sendiri untuk menyiasati waktu yang terus berjalan. Iya, oke, oke. Maksudnya ya begitu itu. 🙂🙂 

Jadi kita harus benar-benar berhitung. Kita tuliskan di atas kertas. Di laptop atau di hp juga boleh. Kita bagi-bagi waktu kita. Berapa jam untuk ini, berapa jam untuk itu. Sehingga ketemu, berapa jam untuk jadi volunteer. Dan pekerjaan volunteer bukanlah pekerjaan on call duty. Yang bisa ditelpon setiap saat. Yang siap menerima panggilan mendadak. Berulang-ulang, lagi. Setiap hari on call. Enggak bisa begitu. Boleh on call, tapi sesekali. 

Jadi Anda bisa bilang, misalnya, “Kalau ada Story Night atau Dream, saya bisa on call.” Atau, “Saat Ramadan, saya siap on call.” Anda bisa mengatur waktu, pada “musim” tertentu setiap tahunnya, Anda “siap 86” untuk dipanggil setiap saat jika dibutuhkan. Tapi hanya pada “musim” tertentu. Tidak setiap hari. Tidak setiap minggu. Tidak setiap bulan. 


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-14 Pagi | Leadership Workshop

Ario:

Memang kendala volunteer itu salah satunya pembagian waktu. Sangat menantang membagi waktu kerja, volunteer, keluarga.

Rasanya enggak enak di depan laptop terus sedangkan saya tahu, Allah punya hak, keluarga punya hak, masyarakat/umat punya hak.

Bagaimana membagi-bagi waktu untuk itu masih sulit.

Syafiq:

Huwah masyaAllah Pak Heru, ini cukup ngena sekali di saya Pak (karena relate Pak) & menambah insight baru buat saya. 

Terimakasih banyak yang udah menginisiasi grup ini dan temen-temen volunteers yang udah berjuang mengorbankan waktu+tenaganya untuk mau berbagi dan menyemangati saya khususnya yang masih butuh sekali petunjuk dan ilmu. Semoga senantiasa segera Allah balas semua kebaikannya, disehatkan dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.🙏

Heru:

Alhamdulillah.

Sama-sama, mas Syafiq. Kita sama-sama haus petunjuk-Nya. We are no different. Aamiin aamiin aamiin, jazakallah khayran doanya. 🙏🏻

Dina:

Apakah di dalam kepemimpinan atau amanah harus ada sumpah jabatan? Bagaimana ketika seorang pemimpin yang mungkin dia merasa karena tidak ada sumpah jabatan membuat dia menjadi kurang amanah? Apakah kedua kondisi ini tetap berdosa?

Dessy:

Bismillah, 

Tidak harus. Contohnya kita 🙂. 

Amanah atau tidaknya seseorang adalah bukan karena “sumpah jabatan”, tapi karena “sumpah jiwa”-nya kepada Allah ‘azza wa jall.

Wallaahu ta’aala a’lam.


Materi LBP Hari ke-14 Siang | Leadership Workshop (Part 2)

Ditulis oleh: Heru Wibowo

Menjadi aktivis yang siap on call itu boleh. Tapi sesekali. 

Tapi jika Anda selalu siap on call, tanpa batas “musim” dan waktu, itu tidak baik buat Anda. Sama sekali tidak baik. Itu akan menelantarkan keluarga. Dan jika keluarga Anda terlantar, Anda akan ikutan kacau-balau. Dan jika Anda kacau-balau, Anda tidak lagi menjadi aset buat komunitas. Anda akan jadi beban. Bukannya mengurangi beban, Anda justru menambah beban organisasi. 

Muslim yang menjadi volunteer seharusnya menjadi role model buat umat Islam yang lain. Jika kita memiliki “kesadaran tingkat tinggi” dan ingin memberikan pelayanan kepada umat, itu berarti bahwa urusan keluarga kita sudah harus beres lebih dahulu. 

Dan kita perlu memiliki keterampilan manajemen waktu yang tinggi. Kita perlu memiliki disiplin yang tinggi. Kita harus punya jadwal harian, mingguan, dan bulanan. Precise schedules. Jadwal yang disusun secara tepat dan teliti. Keterampilan untuk menyusun jadwal seperti itu, sungguh-sungguh penting. Dan disiplin untuk menepati jadwal yang telah disusun, tidak kalah pentingnya.

Sekarang, poin yang kedua. Faktanya, setiap orang, jadwalnya beda. Artinya, Anda tidak dapat berharap dari orang lain, seperti apa yang Anda harapkan dari diri Anda sendiri. 

“Akhi, kamu itu gimana sih? Aku kan udah ngorbanin 5 jam seminggu. Masa kamu cuma 20 menit? Apa kamu sudah pernah mendengar ayat wa jaahiduu fillaahi haqqa jihaadih? (22:78) Apakah kamu sudah pernah mendengar hadits tentang bedanya orang yang duduk-duduk saja dengan mereka yang berjuang di jalan Allah? (Bukhari 4606)

Waduh. Ayat-ayat suci digunakan untuk mengintimidasi. Enggak benar itu. Anda bisa meluangkan waktu 5 jam seminggu, ya sudah. Selamat! Anda sudah terampil mengelola waktu. Tinggal Anda menjalankannya dengan disiplin. Tidak bisa Anda “egois”, dalam arti, berharap bahwa yang lainnya harus meluangkan waktu 5 jam juga. Enggak bisa begitu.

Anda sedang memimpin rapat. Membahas sebuah program. Karena program itu perlu diiklankan, maka harus ada yang merancang brosurnya. Maka Anda bertanya, “Siapa nih yang akan mendesain flyer?” Beberapa volunteer tunjuk jari. Anda happy. Anda berkata dalam hati, “Yes! Alhamdulillah! Ada yang bersedia bikin flyer!” Tapi Anda masih perlu untuk mendapatkan konfirmasi, “Bisakah flyer-nya jadi minggu depan?” Dijawab oleh volunteer tadi, “Ya, bisa.” Dan karena volunteer tadi adalah seorang muslim, maka tentu saja flyer-nya belum jadi juga minggu depannya. 😃😃

Anda kesal. Volunteer desainer flyer itu ternyata tidak menepati janji. Maka Anda telpon dia. Dan dengan semangat tawaa shawbil haqqi wa tawaa shawbishshabri, Anda bilang, “Kamu tahu ini kan: aayatul munaafiqi tsalaatsun, idzaa haddatsa kadzaba, wa idzaa wa’ada akhlafa, wa idza’tumina khaana (tanda-tanda munafik itu ada tiga, dusta jika berbicara, mengingkari jika berjanji, berkhianat jika diberi amanat – Bukhari 32). Sudah! Aku cuma mau bilang itu! Jazaakumullaahu khayran! Assalaamu ‘alaykum!” Gagang telepon Anda kembalikan ke tempatnya semula. Suara gagang telepon yang menabrak pesawat dudukannya itu membangunkan kucing Anda yang tidur di sampingnya. Sampai-sampai kucing Anda pun tahu kalau Anda masih kesal. 😃😃

Tentu saja kisah barusan bukan kisah tentang Anda. Karena Anda orangnya enggak baperan, iya kan? 😃😃

Tapi kisah seperti itu bisa terjadi. Sangat bisa terjadi. 

You can’t use religious texts to intimidate volunteers.

Kita tidak boleh menggunakan ayat-ayat dari Al-Qur’an dan Al-Hadits untuk mengintimidasi volunteer. Salah itu. Kita tidak boleh melakukan itu. Volunter itu orang baik-baik. Lalu ayat-ayat yang suci kita “peralat” sehingga volunter tadi berubah menjadi orang yang tidak baik. Atau, tampak tidak baik. 

Oke, kita tinjau lagi pelajaran yang sudah kita bahas sejauh ini. Poin pertama adalah tentang keseimbangan (balance).

Poin kedua adalah tentang ekspektasi. Anda harus membatasi ekspektasi Anda sendiri. Dan Anda tidak boleh berharap lebih banyak dari yang lain. Jangan berharap yang lebih dari yang lain. Bahwa kontribusi yang lain ternyata jauh melebihi kontribusi Anda, alhamdulillah. Patut disyukuri. Tapi jangan mengharapkan itu. 

Dan, ngomong-ngomong, harus kita bedakan ya, antara having expectations dengan having respect. Tidak berharap lebih dari yang lain, tidak berarti bahwa kita tidak menghargai yang lain. Kita menghormati dan menghargai yang lain. Sebagai manusia yang bermartabat. Sebagai manusia yang mulia. 

Bahkan jika di dalam sebuah organisasi, ada seseorang. Yang kita tidak berharap apapun darinya sama sekali. Orang itu tetap kita hormati. Orang itu tetap harus kita hargai. 


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-14 Siang | Leadership Workshop

Ario:

Enrichment salah satu yang banyak dicari anggota komunitas. Menjadi volunteer tidak dibayar, sukarela, meluangkan waktunya dengan senang hati. Ketika tiba-tiba enrichment itu hilang di komunitas. 

Mendadak tidak semangat lagi berkontribusi. Ada yang mulai mencari-cari komunitas lain, ada yang bikin komunitas tandingan. 

Ada yang menyerah. Menyerah, berpikir buat apa berkomunitas bila nanti kejadian seperti itu lagi.

Hanif:

Faktual dan inspiratif. Begitulah kondisi umat ini di mana-mana. Mudah membelah diri daripada menyatukan diri.


Materi LBP Hari ke-14 Sore | Leadership Workshop (Part 3)

Ditulis oleh: Heru Wibowo

Salah satu cara termudah untuk menghancurkan organisasi, bahkan ini terjadi di zaman sahabat Rasulullah SAW, adalah dengan membentuk geng kecil. Some people started to form their little clique. Beberapa orang mulai membentuk geng kecil. Sebuah lingkaran kecil di dalam sebuah lingkaran yang besar. 

Lingkaran kecil ini berisi orang-orang yang satu ide. Terlepas apakah idenya itu baik atau kurang begitu baik. Mereka biasanya sangat kompak. Di lingkaran kecil mereka itu. Kalau mereka ngobrol, biasanya juga seru. Sangat seru, malah. Dan mereka juga memandang rendah yang lainnya, yang ada di dalam lingkaran besar, tapi di luar lingkaran kecil. 

Yang lainnya, yang masih satu atap di lingkaran besar, yang ada di luar lingkaran kecil, sedikit banyak, bisa merasakan “kehadiran” dari lingkaran kecil itu. Terasa ada ketegangan. Dan itu tidak baik. Itu adalah cara termudah untuk menghancurkan organisasi.

Saat menginjak dewasa, Ustadz Nouman menghabiskan waktu cukup banyak tinggal di New York City. Saat ini, ratusan masjid sudah berdiri di New York City. Karena Ustadz Nouman sering menggelar program yang bekerja sama dengan masjid-masjid itu, Ustadz Nouman relatif memahami situasinya. Bahwa jumlah masjid yang menjamur itu, hampir semuanya berasal dari konflik internal di sebuah masjid. Sebagian anggota DKM tidak berhasil menjaga kerukunan. Situasi memanas. Akhirnya sebagian orang itu memisahkan diri. ”We can make our own masjid.”

Lalu muncul satu masjid baru. Umat menyambut gembira. Masjid yang baru makin tumbuh dan berkembang. Ada perluasan lahan. Dan ketika masjid ini makin besar, bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya. Konflik baru. Lagi-lagi ada yang bilang, ”We can make our own masjid.”

Alhamdulillah. Ya, alhamdulillah New York City punya ratusan masjid. Tapi masjid-masjid itu lahir melalui sebuah cerita yang menarik. Sebuah kisah sejarah yang benar-benar menarik. Dan itu tidak hanya terjadi di New York City. 

Ustadz Nouman sudah menggelar program Bayyinah di hampir semua wilayah di Amerika Serikat. Ustadz Nouman sudah melakukan traveling melintasi semua negara bagian. Dan Ustadz Nouman sudah terbiasa mendengar orang yang curhat seperti ini, “Ya akhi. Saya dulu shalat di masjid itu. Lalu ada beberapa orang yang tidak suka karena ini dan itu. Keadaannya semakin buruk. Maka kami membangun masjid ini.”

Lima tahun setelahnya, ada yang curhat lagi tentang masjid yang dibangun lima tahun sebelumnya itu. Singkat cerita, “proses” itu berulang. Muncullah masjid yang baru lagi. 

Alhamdulillah. Ya, alhamdulillah, karena ini adalah bagian dari rencana Allah untuk membangun rumah-rumah Allah di New York City. And kita semua berdoa semoga Allah memberikan barakah untuk semua rumah-Nya itu, semua masjid itu. 

Tapi kisah itu adalah sebuah kisah sedih, betul enggak? Bahwa titik awal dari semua masjid itu, adalah konflik. Bukan kerjasama. Sangat menyedihkan sebenarnya. Jadi, itu, masalah konflik internal itu, atau yang melatarbelakanginya, adalah suatu hal yang perlu ditangani. Sifatnya sangat personal. Dan sangat manusiawi. Bahkan sudah ada sejak awal permulaan manusia. Keturunan pertama dari Nabi Adam AS. Ada sebuah masalah yang mendasar yang menjadi bibit dari semua masalah yang terjadi kemudian. 

Belajar dari pengalaman, Ustadz Nouman melihat pentingnya tiga hal ini, sebagai visi besar (grand vision) dari sebuah komunitas Islam. Yang pertama, enrichment. Yang kedua, awareness. Dan yang ketiga, education.

Ada yang punya stiker Pak Ndul, yang ada gambar Pak Ndul dan di sampingnya ada tulisan “bahasanya very high”? 😃😃

Enrichment?

Awareness?

Education?

Apa itu maksudnya? Bagaimana penjelasannya?

Bersambung ke pekan depan insyaallah.


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team – Lessons from Bayyinah’s Production

One thought on “[LBP2020] Set Our Clear Limits

Leave a Reply to [VoB2020] Berbuat Baik kepada Orangtua, Bagaimanapun Kondisi Mereka – Nouman Ali Khan Indonesia Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s