[BMW2020] Anakku, Janganlah Engkau Bercerita


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Allah sangat selektif dalam pemilihan kata di al-Qur’an. Ambil sejenak jeda dan berusahalah memahami maksud Allah dalam ayat-ayat al Quran. Reflects deeply. Belajar untuk mentadabburi serta selalu penuh rasa ingin tahu bagaimana kita bisa mengambil nasihat, hikmah yang terkandung di dalamnya, baik dari scene, frase, ataupun kata-kata di dalam al-Qur’an.

Kisah anbiya adalah teladan bagi kita. Termasuk salah satu satu kisah yang diprasastikan dalam al Qur’an adalah kisah parenting  Ya’qub dalam surah Yusuf. Surah Yusuf disebut dalam al-Quran sebaik-baik kisah. Bermula dari Yusuf yang menceritakan mimpinya kepada Ya’qub. Yusuf bermimpi sebelas bintang, bulan dan matahari bersujud padanya. Sebuah mimpi yang tidak wajar baginya itu, ia ceritakan kepada orang yang dipercayainya: sang ayah.

Ya’qub memanggil Yusuf dengan kata ya bunayya (dear my son, my beloved son) sebelum memberitahu Yusuf apa yang harus dilakukan. Sesuatu yang mulai jarang kita dapati. Seringkali, orang tua menyebut nama anak ketika mereka saling berjauhan. Misalnya si anak di ruang tamu dan orang tua sementara berada di dapur. Pun kadang, justru orang tua memanggil anak dari jauh tetapi tidak menyebut nama,“Heh, apa itu yang di ruang tamu, berantakan!”

Ya’qub mengajarkan kita bagaimana berkomunikasi dengan anak. Dalam scene Yusuf bercerita tentang mimpinya ini, mereka saling berdekatan dan Ya’qub memanggilnya dengan kata ya bunayya. Bukankah memang akan lebih mudah bagi anak untuk menyerap apa yang disampaikan orang tuanya jika diawali dengan kata yang memang ditujukan baginya?

Cara berkomunikasi dengan memanggil nama lawan bicara menggunakan intonasi yang tepat akan membuat perbedaan signifikan dibanding secara langsung memberikan instruksi. Sayangnya level sopan santun komunikasi kita berbeda pada tingkatan lawan bicara. Ada beberapa level misalnya: saat wawancara pekerjaan yang kita idamkan, menghadapi penjual, dan keluarga. Kita ini, jangan-jangan justru kurang menghargai keluarga?

Padahal sabda Rasulullah,
“yang terbaik dari kamu adalah yang terbaik bagi keluarga.”

Ya bunayya… sungguh santun sekali cara Ya’qub menjawab kegundahan Yusuf. Ayat sebelumnya diceritakan ketakutan Yusuf, ia memanggil ayahnya ya abati karena Yusuf takut akan respon ayahnya terhadap ceritanya. Maka ketika sang ayah mengawali panggilannya dengan kata ya bunayya, kata-kata itu dapat menenangkannya. Pastinya hal ini akan terekam dalam memorinya dan ia akan melakukan hal yang sama ketika ia dewasa atau bahkan ketika menjadi ayah.

Parenting is all about wiring, kata psikolog Elly Risman. Otak anak terdiri dari sambungan syaraf yang terus bertumbuh menjadi sambungan yang lebih kuat dan tetap. Maka dari itu untuk membentuk pembiasaan yang baik pada anak, tentu diperlukan pola asuh yang baik sedari dini.

Apa yang terjadi pada orang tua masa kini? Seakan ada sekat antara orangtua dengan anak dengan penggunaan bahasa orang tua yang cenderung kaku. Padahal hal ini bisa merusak kepercayaan diri anak. Sedangkan orang tua berpikir jika mereka tidak keras pada anak, anak-anak tidak akan bisa menghadapi kerasnya dunia.

Al Qur’an mematahkan hal ini. Yusuf yang dibesarkan dengan baik yang kemudian ia dipenjara, ia bisa mengurus dirinya sendiri. Peristiwa ketika istri al-Aziz mengajaknya berzina, bahkan ia bisa menjaga dirinya sendiri. Karena ia diasuh dan dibesarkan dengan kecintaan yang utuh yang ia dapat dari orangtuanya. Pola asuh Ya’qub ini menyelamatkan beberapa generasi bahkan sampai negara Mesir berpuluh-puluh tahun kemudian terhindar dari kelaparan.

Ibarat sebuah tanaman yang tumbuh dari sebuah benih.. Berapa banyak hal telah kita rusak dengan tidak memvalidasi perasaan anak-anak kita?Seberapa sering kita mengabaikan perasaannya  tanpa empati sama sekali? Lalu akan seperti apa tanaman kita berwujud? Dan sebaliknya, pencapaian apa yang akan mereka raih jika kita mengasuh dan membesarkan mereka dengan sebaik-baik pengasuhan?

Dalam surah Yusuf ayat 4, Yusuf menceritakan mimpinya tentang sebelas bintang, bulan dan matahari bersujud padanya. Ya’qub menyadari bahwa kenabian itu dilanjutkan Yusuf. Setelah Ya’qub menenangkan Yusuf melalui kata ya bunayya, ia melanjutkan perkataannya pada Yusuf untuk tidak menceritakannya pada saudara-saudaranya. Ya’qub paham apa yang bisa diceritakan atau tidak terutama jika terkait keluarga.

Terkadang dalam keluarga, ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol. Seperti misalnya karakter. Banyak kisah dalam al-Qur’an memperingatkan kita akan hal ini. Kisah anak Nabi Nuh, Ibrahim dengan ayahnya, termasuk Yusuf dengan saudara-saudaranya. Peran kita sebagai orang tua harus mampu memberikan warning pada anak kita jika memang kita mendapati sesuatu yang ganjil pada keluarga kita.

Betapa banyak kekerasan justru dilakukan oleh pihak keluarga. Data tahun 2019 di Indonesia, menurut hasil laporan yang masuk ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), pelaku kekerasan seksual terhadap anak 80,23 persen adalah orang terdekat atau yang dikenal korban. Sisanya (19,77 persen) adalah orang yang tidak dikenal. Dan bahkan 32 persen dari 80,23 persen pelaku adalah keluarga inti dari korban. Anak-anak justru rusak dengan orang yang mereka merasa aman dengannya.

Sebagai orang tua kita harus waspada. Jangan sampai justru muncul persepsi: jangan rusak nama baik keluarga.

Atau mungkin ada perasaan segan atau tidak enak karena masih keluarga dekat.

No.. you just need to protect your child.

Bahkan dari kisah Ya’qub kita belajar bahwa Ya’qub mengingatkan Yusuf untuk berhati-hati atas saudara-saudara kandungnya sendiri. Melalui kisah Ya’qub kita belajar bahwa bisa jadi ada anggota keluarga sendiri yang tidak sejalur. Dan Al-Qur’an mengajarkan orang tua, untuk mengingatkan anak akan bahaya. Karena tidak mungkin role model parenting dalam Al Qur’an tidak adil pada anak-anaknya. Ya’qub tahu hal ini karena ia mengenal anak-anaknya. Hingga akhirnya Ya’qub berpesan pada Yusuf agar ia tidak menceritakan mimpinya ke saudara-saudaranya. Sebab bisa jadi mereka tersenyum setelah mendengarkan cerita tapi mereka mempunyai rencana buruk.

Al-Qur’an setiap hurufnya adalah mukjizat dan kisahnya adalah panduan.
Ayat kelima surah Yusuf ini, ditutup dengan kalimat Ya’qub: Setan itu musuh yang nyata bagi manusia. Ya’qub tidak mengatakan bahwa saudara-saudara Yusuf yang buruk. Ya’qub masih berharap saudara- saudara Yusuf berubah dan kembali pada Allah. Tetapi, tetap, setan itu tidak akan berubah. Ialah musuh yang nyata.

Setan dapat berwujud kecemburuan, kecurigaan, nafsu, ketamakan. Setan akan menggunakan segala cara untuk menjerumuskan manusia. Setan akan menggoda manusia dari empat penjuru: kiri, kanan, depan, belakang. Tujuan utamanya sudah jelas yaitu untuk memenuhi neraka dengan manusia. Setan akan membuat manusia terus berprasangka buruk hingga perasaan itu akan memenuhi pikirannya. Cara setan bisa berubah setiap harinya. Dan Ya’qub mengingatkan Yusuf untuk tidak lupa bahwa setan itu adalah musuh yang nyata.

Belajar dari ayat kelima ini, kita mendapatkan pelajaran bahwa tidak ada keluarga yang bebas dari ujian, suka atau tidak suka. Ya’qub dan Yusub dan saudara-saudaranya bagaikan kepingan puzzle yang mismatch. Tetapi, jangan sampai kita membenci seseorang karena perbuatan buruk mereka. Karena sesungguhnya mereka tidak menyadari adanya kebencian setan dan setan berhasil memanfaatkan mereka dengan apa yang mereka perbuat.

Everyone has to take their own steps. Ujian itu tidak akan memilih apakah kita berasal dari keturunan keluarga yang baik-baik. Al Qur’an berulang kali mengisahkan kita hal ini. Dalam keturunan Nabi Isa, ada Nabi Muhammad, tetapi ada juga Abu Jahl. Pun ada anak Nabi Nuh yang tidak bersesuaian dengan ayahnya. Bahwa iman tak dapat diwarisi.

Ditulis oleh: Vivin Ardiani

Referensi:

https://republika.co.id/berita/pv5bti409/lpsk-80-persen-pelaku-kekerasan-seksual-anak-dikenal-korban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s