[LBP2020] Pengantar Tentang Al-Qur’an


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-11
Topik: Divine Speech
Kamis, 02 Juli 2020

Materi LBP Hari ke-11 Pagi | Pengantar Tentang Al-Qur’an

Ditulis oleh: Icha Farihah

Terdapat dua pendahuluan yang dijelaskan oleh Ustadz Nouman Ali Khan, yaitu:

1️⃣ Pengantar tentang Al-Qur’an

2️⃣ Pengantar tentang Bahasa Arab

Khusus pada hari ini, kita akan membahas pengantar tentang Al-Qur’an.

Surat Tidak Sama dengan Chapter

Kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an terdiri atas 114 surat, kalau diterjemahkan dalam Bahasa Inggris menjadi 114 chapters

Menerjemahkan istilah surat menjadi chapter tidaklah tepat. Ketika membicarakan chapter yang ada di pikiran kita adalah sebuah susunan tulisan linear. Chapter juga tidak mengenal pengulangan materi. Misalnya, jika sudah dibahas di chapter 1 maka saat membaca chapter 4, tidak ada bahasan yang sama. Jika penulis ingin membahas kembali maka tinggal menambahkan catatan kaki (lihat pada chapter 1, red).
Chapter memiliki ciri berurutan antara satu dengan yang lain. Susunan chapter merupakan bentuk gagasan dan argumentasi yang dibangun secara bertahap sehingga pembaca harus membacanya secara urut. Ketika kita membaca chapter secara acak, kita akan kebingungan. Hal ini sangat berbeda dengan Al-Qur’an, kita boleh membaca dan mempelajari Al-Qur’an dari surat manapun, entah dari awal, akhir, atau tengah. Kita boleh memulai dari Surat Al-Kautsar kemudian belajar Al-Baqarah. Hal itu memungkinkan dan tidak akan membuat kita bingung.

🕐 Al-Qur’an tidak disusun berdasarkan urutan turunnya ayat.

Kita tahu bahwa ayat yang pertama turun kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Salam adalah Surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Jika mengikuti urutan tentu saja surat ini akan berada pada awal Al-Qur’an. 

🕐 Al-Qur’an tidak disusun berdasarkan ukuran panjangnya sebuah surat.

Al-Baqarah sebagai surat terpanjang tidak diletakkan pada awal Al-Qur’an, begitu juga dengan Al-Kautsar yang hanya tersusun dari tiga ayat tidak diletakkan pada urutan ke-114.

🕐 Al-Qur’an tidak disusun berdasarkan tema.

Satu surat di dalam Al-Qur’an tidak selalu membahas tentang satu tema saja, kalau cuma membahas satu topik pasti kita akan bingung dengan Surat Al-Baqarah. Surat ini terdiri dari 286 ayat yang di dalamnya tidak hanya bercerita tentang sapi. Ada memang cerita tentang sapi, tapi tidak semua. Begitu juga dengan Surat Ibrahim, penjelasan di dalam surat ini beragam, tidak bercerita tentang kisah Nabi Ibrahim Alayhis Salam saja.

Chapter biasanya didahului dengan sebuah judul yang mendeskripsikan isi dari chapter tersebut, sedangkan di dalam Al-Qur’an tidak seperti itu. Apa yang tertulis pada nama surat tidak selalu menceritakan isi dari surat tersebut.

Jadi, menurut Ustadz Nouman, sebuah kekeliruan apabila seseorang menyamakan chapter dengan surat. Itu berbeda dan tidak sepadan. 

Allahu ‘alam.

Perbedaan Standar

Al-Qur’an memiliki keunikannya sendiri. Tidak ada buku yang menyerupai Al-Qur’an. Buku lain memiliki chapter, section, atau bab, sedangkan Al-Qur’an memiliki surat. Dari sini standarnya saja sudah berbeda. Al-Qur’an punya standarnya sendiri.

Ketika kita membuat sebuah esai. Seorang guru akan mengoreksi dan meminta kita untuk memperbaikinya, baik paragraf, kalimat, dan kata yang tidak sesuai dengan standar, misalnya standar Ejaan yang Disempurnakan (EyD). Apa yang kita susun tidak sesuai dengan standar sehingga perlu perbaikan. Standar seperti ini tidak dapat digunakan untuk Al-Qur’an karena ia punya standarnya sendiri. Al-Qur’an memiliki unit satuan berupa surat, sedangkan buku memiliki unit satuan berupa chapter.

Jadi, sebuah kekeliruan jika ada orang-orang yang mencoba mengkritisi Al-Qur’an dengan  menganggapnya seperti buku biasa. Karena standarnya sudah tidak sama, unit satuan Al-Qur’an adalah surat, sedangkan unit satuan buku adalah chapter.


Materi LBP Hari ke-11 Siang | Pengantar Tentang Al-Qur’an (Part 2)

Ditulis oleh: Icha Farihah

Ayat Tidak Sama dengan Verse

Surat tersusun atas kumpulan ayat. Dalam Bahasa Inggris, kata ini sering diterjemahkan sebagai verse.

Ustadz Nouman mengatakan bahwa ini juga menjadi sebuah masalah.

Dalam konteks Bahasa Inggris, terutama Amerika dan mungkin juga Eropa. Kata verse digunakan dalam 2 hal:

1️⃣. Verse sering digunakan sebagai syair, poetry. Verses of song, verses of poem, dan lain-lain.

Kita tidak boleh menyamakan ayat dengan syair. 

Allah ta’ala sendiri yang mengatakannya di dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada kaitan antara Al-Qur’an dengan syair,

وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ وَقُرۡءَانٞ مُّبِينٞ

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas (QS. Yasin: 69)

وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٖۚ قَلِيلٗا مَّا تُؤۡمِنُونَ

dan ia (Al-Qur’an) bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. (QS. Al-Haqqah: 41)

أَمۡ يَقُولُونَ شَاعِرٞ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ

Bahkan mereka berkata, “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.” (QS. At-Tur: 30)

وَٱلشُّعَرَآءُ يَتَّبِعُهُمُ ٱلۡغَاوُۥنَ

Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat (QS. Asy-Syu’ara: 224)

Jadi, menggunakan verse sebagai terjemah dari ayat adalah sebuah kesalahan.

2️⃣. Verse dalam Al-Kitab.

Verse bagi kalangan orang Amerika, Australia, Eropa, dan beberapa daerah lainnya juga sering berkaitan dengan Al-Kitab.

Tentu kita tidak mau bukan, ketika membicarakan ayat Al-Qur’an yang dipikirkan malah Al-Kitab?

Beberapa orang membuat dugaan bahwa Al-Qur’an mencuri informasi dari Al-Kitab. Mereka mengatakan bahwa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Salam dulu pernah bepergian saat berdagang ke beberapa daerah seperti Suriah. Kemudian saat melakukan perjalanan tersebut, beliau (Shallahu ‘Alaihi wa Salam) mendengar cerita-cerita yang ada di Al-Kitab dan menaruhnya di dalam Al-Qur’an. Naudzubillah..

Hal ini tentunya menambah alasan untuk kita agar tidak menyamakan ayat dan verse

Ayat Tidak Sama dengan Kalimat

Menurut sebagian orang lainnya, ayat di dalam Al-Qur’an bisa diibaratkan sebagai sebuah kalimat. Padahal argumen ini sangat tidak tepat. 

Kita ambil contoh, ayat pertama Surat Al-Baqarah: Alif lam mim. Apakah ini kalimat? Kita tidak tahu, hanya Allah yang tahu maknanya. 

Contoh lain, ayat pertama Surat Ar-Rahman adalah Ar-Rahman. Ayat ini hanya mengandung satu kata. Satu kata tidak sama dengan kalimat. Ayat bukan kalimat.

Jadi, ayat itu terkadang hanya sebuah kata, kadang beberapa ayat baru menjadi sebuah kalimat, misalnya alhamdulillahirabbil alamin, ar-rahmanir rahim, maliki yawmiddin. Tiga ayat pertama Surat Al-Fatihah baru menjadi satu kalimat ketika digabung. Selain itu, satu ayat juga dapat terdiri dari beberapa kalimat, seperti Ayat Kursi, ada 9 kalimat dalam 1 ayat.  

Lagi-lagi, ayat bukan kalimat.

Lalu apa yang tepat? 

Menurut ustadz nouman panggilan yang tepat untuk ayat adalah AYAT. 😄


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-11 Siang | Pengantar Tentang Al-Qur’an (Part 2)

Wahyu:

Istilah2 kunci di Islam Tampaknya emang jangan ditranslate 🤔


Materi LBP Hari ke-11 Sore | Pengantar Tentang Al-Qur’an (Part 3)

Ditulis oleh: Icha Farihah

Definisi Ayat

Menurut Ustadz Nouman Ali Khan, selama mempelajari Al-Qur’an, ayat menjadi salah satu kata yang paling menakjubkan baginya. Kalau masih ingat pembahasan Divine Speech pekan lalu, kita telah membahas tinjauan mikro dan makro dalam mempelajari Al-Qur’an. Nah, ayat adalah bagian dari tinjauan mikro, sedangkan surat termasuk tinjauan makro.

Pada sesi pertama ini, Ustadz Nouman membahas dari tinjauan mikro, kita akan membahas ayat dengan lebih rinci dan detail.

Kita tinjau ayat dari dua perspektif, yaitu:

1️⃣. Perspektif Al-Qur’an

2️⃣. Perspektif bahasa

Ayat dari Perspektif Al-Qur’an

Arti ayat di dalam Al-Qur’an yaitu:

1. Al-Qur’an itu sendiri 

بَلۡ هُوَ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ فِي صُدُورِ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَۚ وَمَا يَجۡحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا ٱلظَّٰلِمُونَ

Sebenarnya, (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zhalim yang mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. Al-Ankabut: 49)

2. Nabi Isa Alayhis Salam 

قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٞۖ وَلِنَجۡعَلَهُۥٓ ءَايَةٗ لِّلنَّاسِ وَرَحۡمَةٗ مِّنَّاۚ وَكَانَ أَمۡرٗا مَّقۡضِيّٗا

Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.” (QS. Maryam:21)

3. Nabi Yusuf Alayhis Salam dan saudara-saudaranya.

۞لَّقَدۡ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخۡوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٞ لِّلسَّآئِلِينَ

Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda/ayat (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya. (QS. Yusuf:7)

Ayat bukan hanya tentang Al-Qur’an, tetapi ayat sebenarnya juga meliputi apa yang orang pikirkan, sejarah, seseorang seperti Nabi Isa Alayhis Salam, dan sebuah keadaan yang terjadi seperti pada Nabi Yusuf Alayhis Salam dan saudara-saudaranya.

Ayat juga dapat berarti:

4. Langit dan bumi 

وَفِي ٱلۡأَرۡضِ ءَايَٰتٞ لِّلۡمُوقِنِينَ

Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. (QS. Adz-Dzariyat: 20)

5. Apapun yang ada di dalam tubuh, hati, dan perasaan kita.

 سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَلَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fussilat: 53)

6. Tidur-bangun, pernikahan, cinta antara suami-istri, wahyu.

7. Semua yang ada di alam semesta

Allah menggambarkan semua realita sebagai ayat. Semua pengalaman yang dirasakan manusia, semua kebenaran dan keberadaan kita adalah ayat.

Ketika belajar Al-Qur’an, jangan bertanya tentang yang mana saja yang termasuk ayat. Coba tanyakan, yang mana yang bukan ayat? Maka jawabannya adalah tidak ada.  

Semua yang ada di sekitar kita dan di dalam tubuh kita merupakan ayat. 

Pengertian inilah yang akan mengubah perspektif kita terhadap ayat.

Menurut Al-Qur’an, definisi ayat begitu luas. 

Jadi, kalau kita kembali ke pembahasan sebelumnya, setarakah makna ayat dengan makna verse yang terbatas? Tentu tidak.

Allah katakan,

وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ذَرۡوٗا

Demi (angin) yang menerbangkan debu (QS. Adz-Dzariyat: 1)

Pada ayat ini, Allah bersumpah atas angin. Apa maknanya? 

Ustadz Nouman mengajak kita untuk keluar rumah dan merasakan hembusan angin. 

Kita harus ingat bahwa hembusan angin yang menyentuh saraf-saraf sensoris di kulit kita adalah tafsir dari Surat Adz-Dzariyat ayat 1.

Kita mendapatkan pengalaman sebuah ayat hanya dengan berdiri di depan rumah dan merasakan hembusan angin. Itulah ayat. 

Penafsiran terbaik dari Surat Adz-Dzariyat ayat 1 bukan dari sebuah buku tafsir, tapi ketika kita merasakan hembusan angin.

Begitu juga dengan ayat,

أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ إِلَى ٱلطَّيۡرِ فَوۡقَهُمۡ صَٰٓفَّٰتٖ وَيَقۡبِضۡنَۚ مَا يُمۡسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحۡمَٰنُۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءِۭ بَصِيرٌ

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu (QS. Al-Mulk: 19)

Tafsir terbaik ayat ini juga bukan melalui buku, melainkan dari pandangan yang kita tujukan pada burung-burung yang berterbangan di sore hari.

Ayat melingkupi semua tempat, ia ada di dalam dan di luar Al-Qur’an.

Ayat dari Perspektif Bahasa

Akar kata dari ayat adalah hamzah, ya, & ya (أ ي ي)

Ada beberapa arti dari akar kata ayat ini:

1. Sesuatu yang berharga

Seperti sebuah karavan yang bepergian dan beristirahat di padang pasir. Mereka membuat kemah, menyalakan api, memasak, dan tidur di sana. Kemudian setelah beristirahat, mereka akan melanjutkan perjalanan. Semua yang tidak penting akan mereka tinggalkan misalnya kayu bakar yang menghitam, batu-batu yang tertumpuk, dan makanan sisa yang mulai bau, semua itu tidak ada harganya. Sedangkan barang-barang yang berharga akan mereka bawa ke tempat tujuan. Ketika ada orang yang datang ke tempat itu, tentu orang-orang ini tahu bahwa telah ada orang yang berkemah dan mereka juga tahu bahwa tidak ada barang-barang berharga yang tertinggal. 

خَرَجَ القَومُ بِآيَاتِهم

Orang-orang membawa segala sesuatu yang berharga. 

Dari analogi ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ayat juga adalah sesuatu yang berharga. Ayat juga sebuah realita. Maka semua realita yang kita alami adalah berharga. Semua masalah, kesulitan, tantangan, dan ujian semuanya berharga. Setiap hari dan setiap malam adalah berharga. 

2. Sesuatu yang membuat ingin tahu (أدوة استفهام)

Tujuan dari ayat adalah membuat kita bertanya dan menghadirkan keingintahuan. Ayat menginspirasi kita untuk menjadi seseorang yang curious.

3. Sebuah arah (الجها)

Point to direction. Setiap ayat Allah memiliki arah dan arah itu menuju ke Satu, yaitu Allah ta’ala. Semua ayat kembali menuju Allah dan mengarahkan kita kepada-Nya. 

4. Sesuatu yang menakjubkan (تَعَجُّب)

Ayat membuat kita takjub. Orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan dan agama, mereka sangat depresi. 

Ketika ada seseorang yang mengatakan, “Coba lihat matahari pagi itu. Subhanallah ya sangat indah.” Mereka hanya akan menjawab datar, “Hmm ya, sangat terang, sangat panas.” 

Seorang yang beriman saat melihat ciptaan Allah akan sangat kagum dan terpesona, sedangkan seorang yang tidak mempercayai Allah tak akan memiliki kesan apapun terhadap realita hidup. Sangat menyedihkan.

5. Mendapatkan perhatian

Pada ayat-ayat dengan يا أيهَا (Yaa ayyuha…)

Kata aiy (أي) di sini artinya an-nida wa tanbiih 

(النداء و تنبيه)

Secara sederhana, bagian ini digunakan agar mendapat perhatian. Setiap ayat memanggil dan mencoba untuk mendapatkan perhatian dari kita. Artinya, manusia harus memperhatikan semua realita yang ada di sekitarnya. Dari realita ini, kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran.

6. Iya yang paling yakin. (إِي)

Dalam Bahasa Arab, kita tahu na’am (نعم) juga artinya iya. 

Bedanya adalah kata iy (إِي) digunakan untuk iya yang absolut dan meyakinkan. “YES, ABSOLUTELY!”

Ayat membawa kita kepada kepastian. Ayat membuat kita yakin.

Dari pandangan filosofis, Al-Qur’an tersusun dari ayat-ayat yang memberikan kita keyakinan bahwa ini semua dari Allah. Al-Qur’an juga mengajarkan tentang penciptaan bumi dan langit yang ditujukan kepada manusia tidak hanya untuk dipikirkan, melainkan juga untuk diyakini. 

Semua ayat yang ada, baik di dalam Al-Qur’an, langit, maupun bumi harus membuat kita yakin kepada Allah ta’ala.

7. Makna (ayyi, أَي)

Allah mengatakan bahwa semua yang ada di alam semesta punya makna. It’s meaningful.

Orang yang tidak percaya Allah, mereka mengatakan alam semesta itu sia-sia. Hidup ini tidak ada artinya. Tidak ada tujuan dalam kehidupan. Padahal nyatanya, ayat sendiri adalah sebuah makna yang memberikan tujuan. 

8. Tanda (Al-‘Alaamah, علامة)

Salah satu arti ayat yang biasa kita dengar adalah tanda.

Ustadz mengulang kembali pertanyaannya di awal, 

“Jadi, apakah adil menyamakan ayat dengan verse atau kalimat?” 

Al-Qur’an memang unik. Terminologi yang digunakan khas dan tak dapat digantikan. Tidak ada perbandingan untuknya.

Hanya satu kata yang patut untuk menyebut sebuah ayat, yaitu AYAT. 

Begitu juga dengan surat, istilah yang sesuai untuk surat adalah SURAT.


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-11 Sore | Pengantar Tentang Al-Qur’an (Part 3)

Faiza:

Sebenernya ini yang dimaksud quran terdiri atas ayat kauniyah dan qauliyah bukan ya?

Heru:

Dulu guru agama saya memang ngajarin itu. Bahwa ayat qauliyah adalah yang difirmankan oleh Allah swt. Di dalam Al-Qur’an. Dan bahwa ayat kauniyah adalah tanda yang ada di sekeliling kita, dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya.

Yang saya baru ngeh setelah belajar Divine Speech adalah, bahwa ayat kauniyah itu sendiri ternyata disebutkan di Al-Qur’an.

Ini yang dulu saya sempat mikir dua kali waktu dibilang “Al-Qur’an sendiri yang minta kita untuk berhenti baca Al-Qur’an.” Belakangan baru ngeh bahwa maksudnya justru supaya memahami, merasakan dan menjiwai Al-Qur’an. 

Untuk merasakan angin sepoi yang diceritakan Al-Qur’an, kita “berhenti” baca Al-Qur’an untuk keluar rumah dan merasakannya. 

Untuk bisa memahami tentang gunung yang diceritakan Al-Qur’an, kita “berhenti” baca Al-Qur’an (sejenak) untuk melihat gunung.

Jadi Al-Qur’an itu benar-benar komplit. Ayat qauliyah, sudah pasti. Tapi juga ada ayat yang endorse kita untuk “membaca” ayat kauniyah.

Wallaahu ta’aala a’lam.

Faiza:

Masya Allah..👍🏽👍🏽 

Jadi ngebayangin Al-Quran sebagai kurikulum. Teaching method-nya holistik. Bukan hanya sebatas kitab yang dibaca, tapi meliputi komponen praktikal (melakukan dan merasakan).

Penasaran banget untuk denger lanjutan post-nya.. 😊 Kalau boleh saran, apa mungkin topik nya dibahas sampai selesai. Sehingga bisa menyerap dan mendalami pelan-pelan.

Heru:

Wah terima kasih inputnya.

Btw, to check my understanding, apakah maksudnya Divine Speech dikupas tiap hari sampai habis? Yang berarti, materi Parenting, Leadership, Pearls from Al-Fatihah/Juz ‘Amma, Al-Baqarah, Ali ‘Imran, Al-Kahfi dibahas belakangan, setelah Divine Speech “khatam” lebih dulu?

Faiza:

Iya Pak Heru. Diibaratkan seperti kajian di kelas.. Yang dibahas satu kitab dulu. Satu-satu.. Baru berganti topik. Sehingga bisa lebih dalam.

Heru:

Baik, mbak Faiza. Kami catat dulu sebagai satu masukan.

FYI sudah kami rencanakan untuk melakukan survei. Untuk perbaikan/penyempurnaan program. Salah satunya adalah terkait materi.

Mungkin jawaban sementara yang semoga cukup melegakan adalah bahwa “Kelas Divine Speech” memang digelar setiap hari Kamis. Dan tidak akan diganti dengan materi lain sampai Divine Speech dibahas tuntas. Setiap hari Kamis.

At the same time, kami juga belajar dari dinamika yang ada di semua grup. Alhamdulillah grup LBP 5 baru saja kami buka hari ini dan sudah langsung terisi 100 lebih. Dari semua grup itu, belajar dari komentar yang muncul sejauh ini, ada yang mendukung materi-materi yang lain, termasuk Pearls from Al-Kahfi yang di-deliver setiap Jumat. Demikian juga tanggapan positif untuk materi-materi yang lain. Yang kami pelajari dari komen-komen di semua grup.

Semuanya akan lebih terjawab setelah survei yang insya Allah kami lakukan setelah program ini berjalan satu bulan. Dari survei itu nanti, kami akan bisa mempelajari preferensi grup, maupun juga preferensi semua grup secara keseluruhan. Hasil survei juga insya Allah kami informasikan secara terbuka ke semua grup. Dan insya Allah kami akan melakukan tindak lanjut yang diperlukan berdasarkan hasil survei itu nantinya.

Afwan.

 

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,
The Miracle Team
Lessons from Bayyinah’s Production

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s