[LBP2020] Teruslah Berprogres


Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-8

Topik: Last ayahs of Fatiha (to be continued with Juz Amma)

Senin, 29 Juni 2020

Materi LBP Hari ke-8 Pagi | 05. Al-Fatihah – A Deeper Look (Part 1)

Oleh : N Anbarsanti

Apa arti dari Shirath (صِرَاطٌ)

Sekarang, kita akan membahas tentang shiratal mustaqim, insya Allah. Apa arti dari shirath? Nah, sebenarnya, bahasa Arab punya beberapa kata untuk ‘jalan’. Ada shirath (صِرَاطٌ), thariq (طَرِيْقٌ), fajj (فَجّ, yang artinya cara berjalan mengangkang, red), dan sabiil (سَبِيلٌ) . Nah mereka ini kata-kata berbeda yang digunakan untuk ‘jalan’ ( the road)

Sebenarnya shirath adalah jalan yang lurus. shirath itu jalan yang lurus, bukan jalan yang belok-belok. Shirath juga adalah jalan yang lebar, sehingga banyak orang bisa masuk ke dalamnya. shirath juga adalah jalan yang panjang, bukan jalan yang pendek. Shirath adalah jalan yang panjang. Inilah beberapa sifat dari shirath.

Berbagai Macam Orang di ‘Jalan

Ketika kita meminta petunjuk kepada Allah dengan doa ini (yaitu doa اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ , red) maka kita meminta kepada Allah untuk berada dalam sebuah perjalanan. Dan kita tahu, ketika kita berada di ‘jalan’, kita dapat lihat di sekitar sudut jalan, bagaimana situasinya dan tidak merasa bingung. 

Lalu, (misal) ada banyak orang lain di ‘jalan’ yang sama bersama kita. Di jalan yang kita ingin berada di atasnya tersebut, bisa jadi kita bersama orang-orang yang ada di belakang kita, bisa jadi ada juga orang yang di belakang kita lalu maju menyusul melampaui kita. Ada orang-orang yang di belakang kita dan ada orang-orang di depan kita. Ya itu tidak apa-apa. Kita tetap harus maju terus, kan?

Kenapa kita meminta ditunjukkan ke ‘jalan’, bukan ditunjukkan ke tempat tujuan

Ada yang hebat di dalam bahasa Al-Qur’an, dan bukan hanya penggunaan kata untuk ‘jalan’. Dalam kenyataannya, kita tidak pernah tanya kepada orang lain “Ke mana arah menuju jalan”, kan? Biasanya kita tanya, “Bagaimana cara menuju tempat tujuan?” atau “Ke mana arah menuju tempat tujuan?”. Biasanya, “Tolong tunjukin dimana hotel dong”. “Tolong tunjukin bandara di mana ya?”. “Tolong tunjukin gimana cara ke kampus?”. “Gimana caranya ke rumah kamu?”. Tidak ada orang yang bilang “Tolong tunjukkin aku ke jalan dong”. Karena ‘jalan’ bukanlah tujuan akhir, ‘jalan’ adalah cara untuk mencapai tujuan akhir, ya kan? 

Jadi, unik sekali ketika kita berdoa kepada Allah ﷻ memohon petunjuk, bukannya kita bertanya bagaimana cara ke tempat tujuan, yaitu ke Surga; kita malah meminta dan kita malah dianjurkan untuk meminta petunjuk menuju ‘jalan’. Benar-benar beda, unik dan powerful.

Nah, jadi, dalam kehidupan ini, tujuan hidup kita adalah ke ‘jalan’ (the road). Tujuan hidup kita adalah berada di atas ‘jalan’ itu sendiri.

Maju dan Berkembang Terus (keep going)

Artinya, dalam hidup ini, kita harus selalu berprogres atau berkembang secara kontinyu. Selama kita menunjukkan progres (dalam Islam), kita berada di ‘jalan’ ini. Jika dalam surat Al Fatihah Allah ﷻ menyebut sebuah destinasi atau ‘tempat tujuan’ tertentu, kita bisa saja mencapai destinasi tersebut; dan begitu kita telah sampai di sana, kita berhenti – kita tidak harus bergerak atau berkembang lagi – karena kita sudah sampai di tempat tujuan. Tapi, karena dalam surat Al-Fatihah kita meminta untuk berada di ‘jalan’, maka berdasarkan definisi ini, kita tidak akan berhenti di ‘jalan’. Kita akan terus maju, terus berprogres.

Maka, hidup sebagai seorang muslim sebenarnya bukan tentang bagaimana menjadi perfect. Bukan tentang, “Oh harus sampai di level tertentu”, dan kalau sudah sampai, “Ya sudah deh alhamdulillah sudah sampai”. Hidup sebagai seorang muslim adalah tentang perbaikan terus-menerus. Berkembang terus-menerus. 

Itulah mengapa kita tidak harus merasa terintimidasi atau baperan ketika orang melihat kita negatif karena kita tidak sempurna. Toh kita tidak akan pernah bisa menjadi sempurna. Kita harus terus berkembang.

Ini adalah hadiah dari Allah. Ini adalah hadiah dari Allah, karena jika Allah meminta kita untuk mencapai suatu tujuan tertentu, ketika ada orang yang cepat duluan sampai sana, kita akan mudah berpikir “Ah saya gak akan sampai sana”, “Udah lah lupakan aja”, “Ah jalan ini bukan buat saya”. “Liat tuh, liat orang-orang super sudah sampai sana duluan”. Rasanya semua orang sudah sampai duluan. Pikiran-pikiran ini lah yang mungkin muncul kalau kita fokus pada destinasi tertentu.


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-8 Pagi | 05. Al-Fatihah – A Deeper Look (Part 1)

Nana:

Brother and sister, syukran untuk materi yang sudah di share🙏 Terbersit saat membaca apakah “jalan” itu bisa kita artikan atau definisikan sebagai “proses”? Apakah betul di dalam Islam yang difokuskan adalah “proses” bukan “tujuan akhir”?

Andry:

Dalam Al-Qur’an terdapat kalimat tegas/jelas dan kalimat halus.

Kalimat tegas/jelas misalnya

وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ    القصص: ٨٧

Dan serulah kepada Rabbmu

Destinasi di sini disebutkan dengan tegas/jelas yaitu Rabb. Kalimat tegas biasanya digunakan ketika Nabi saw menghadapi pertentangan atau misalnya berhadapan dengan orang yang jelas kafir.

Kalimat lembut/simbolis misalnya

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ     النحل: ١٢٥

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik

Destinasi disini disebutkan secara halus yaitu jalan/سبيل

Kalimat lembut biasanya digunakan ketika Nabi saw berhadapan dengan kelompok muslim atau manusia secara umum.

Bagaimana dengan Al-Fatihah?

Al-Fatihah adalah doa yang dipanjatkan oleh orang muslim.

Al-Fatihah adalah fitrah manusia.

Di dalamnya tidak ada pertentangan.

Maka sangat tepat jika yang digunakan adalah kalimat yang lembut.

Cocok banget dengan menyebut destinasinya yaitu صراط. 

Subhanallah.

Pemilihan kata صراط pun punya beberapa faedahnya seperti yang telah dijelaskan di atas.

Wallahu a’lam 🙏🙏

Syamil Tech:

Sama dengan sabar & usaha ya. Kita gak perlu nuntut hasil, yang penting dijalanin dulu saja.

Proses pendidikan, dari pengajar 25%, 75% dari pelajar. Pengajar hanya menunjukkan jalan yang benar, yang membuka jalan dan melangkah pelajar. Disini ada proses berpikir karena manusia makhluk berakal. Usaha, sabar, doa dan terus belajar.

Tapi kalau proses salah tujuan akhir otomatis salah

Antara jalan awal proses dan tujuan akhir yang ingin dicapai harus sinkron. Menurut saya, cmiiw 👍🏻

Anggar:

IMHO, jalan di sini merupakan “tujuan” akhir sebenarnya, dimana dalam menuju ke dan tetap berada di “jalan” tersebut banyak “proses” yang kita lalui. Dalam kacamata manusia yang dilihat adalah hasil akhir, tetapi dalam kacamata Allah yang dilihat adalah proses/quality dari usaha kita. Hal ini dikarenakan setiap manusia ditakdirkan dalam keadaan yang berbeda-beda, ada yang ditakdirkan mempunyai kelebihan harta dan ada yang kekurangan. 

Contoh dalam urusan sedekah tidak dinilai seberapa besar harta yang dikeluarkan, Si A punya uang didompet 1jt disedekahkan 100rb. Si B hanya punya uang 10rb tapi disedekahkan 5rb. Secara nominal mungkin Si A yang lebih besar dari Si B. Tapi dalam kualitas Si B lebih besar karena men sedekahkan 1/2 hartanya. Hal ini yang dimaksud proses/quality tadi.

Wallahu a’lam bisshowab


Materi LBP Hari ke-8 Siang | 05. Al-Fatihah – A Deeper Look (Part 2) 

Oleh : N Anbarsanti

Jangan membandingkan diri dengan orang lain.

Dalam perjalanan kita dalam berislam, kita akan menyadari bahwa banyak orang ada di ‘jalan’ ini. Ada orang yang ketinggalan sekali, ada orang yang benar-benar terdepan, ada orang yang maju pelan-pelan dan ada orang yang maju dengan cepat. Semuanya itu tidak apa-apa selama kita semua berada di atas ‘jalan’ ini. Kita akan baik-baik saja selama terus berprogres dalam Islam.

Misal, anda lagi duduk di kelas, lalu ada orang di sebelah anda mencatat, dan ternyata catatannya dalam bahasa arab, anda kaget 😲 “OMG“, lalu anda merasa bodoh. Atau misal anda duduk dalam sebuah khutbah atau kuliah, lalu setiap khatib mengutip ayat, orang di sebelah anda selalu bisa meneruskan ayatnya dengan lengkap. “Woow” lalu anda merasa minder, merasa tidak tahu apa-apa. 

Lalu misal anda sedang di dalam halaqoh, dan seseorang di sebelah membaca Al-Qur’an seperti Syekh As Sudais 😱 (karena saking hebatnya). Lalu giliran anda membaca, “Ee.. aa.. ee.. aa..” (terbata-bata) lalu anda pun berekspresi 😫😩, “Duh gimana bisa masuk surga nih”, “Duh gw pasti jadi cadangan, dia yang masuk surga duluan”.

Apa yang biasanya kita lakukan? Kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Dan kita mungkin sering berpikir jika mereka punya knowledge yang lebih banyak dari yang kita punya, maka mereka punya guidance yang lebih banyak juga dari kita. Padahal, itu kebingungan kita saja. Kita mencampur adukkan knowledge dengan guidance. Keduanya bukanlah hal yang sama. Jadi, berhentilah membandingkan diri kita dengan orang lain. Bandingkan diri anda dengan diri anda yang kemarin. Apakah anda telah membuat progres di atas ‘jalan’ keislaman atau tidak.

Kecepatan (pace)

Dan juga, janganlah membandingkan kecepatan kita dengan kecepatan orang lain. Fokus saja pada kecepatan kita, pada apa yang kita lakukan. Begitulah caranya bagaimana kita berpikir tentang progres keislaman kita. Allah tidak menciptakan semua orang sama. Allah tidak menciptakan anda supaya anda sama seperti saya, atau supaya saya bisa seperti anda. Tidak begitu. 

Jika kita ‘terlalu terinspirasi’ oleh orang lain secara berlebihan, misal “Wah dia sudah mulai dari sini, lalu sudah jalan sejauh ini dan secepat ini, tapi aku masih jauh untuk mencapai progres dia”, maka akan terjadi hal yang buruk pada diri kita. Sesuatu yang buruk sekali. Itu terjadi juga pernah terjadi pada Ustadz Nouman, berdasarkan penuturannya.

Mencari Knowledge Sembari Terus Meminta Guidance

Ketika kita sedang menuntut ilmu, kita mungkin saja mulai bingung, sebenarnya apa yang kita cari? Kita mencari knowledge atau mencari guidance? Dan ternyata kita malah lebih sibuk mencari knowledge, bukan guidance. Itu juga hal yang kurang baik.

Tuntutlah ilmu, tapi jangan lupa, apa tujuan kita dalam mencari knowledge? Knowledge bukanlah tujuan utama kita, namun tujuan kita adalah mencari guidance atau hidayah. Terus belajar, sambil terus meminta kepada Allah, ya Allah, aku sudah belajar ini, dan melalui pengetahuan ini, tunjukilah aku. Aku telah belajar ini, melalui pengetahuan ini, berilah aku petunjuk.

Jangan Arogan

Kita bisa dengan mudah melupakan perbedaan tersebut, karena memang mudah terlupakan. Kita bisa menjadi orang yang sangat knowledgeable, tetapi lupa tentang guidance. Dan apa yang akan terjadi? Pengetahuan itu, bukannya membuatmu semakin terarah, malah membuatmu semakin tersesat karena membuatmu menjadi arogan. Kita mulai menjadi arogan ketika kita mulai berpikir bahwa semua orang tidak tahu apa yang kita tahu. Dan ketika kita mulai menganggap manusia lainnya itu ‘kurang’, maka kita menjadi arogan. (Naudzubillahi min dzalik)

‘Hamba’ (slave) secara definisi artinya adalah humble. Itulah definisi dari hamba. Seorang hamba tidak punya sesuatu apapun yang pantas dibanggakan. Karena begitulah seorang hamba. Posisi dengan jobdesc yang paling rendah. Jadi, ketika kita mulai arogan, maka kita kehilangan penghambaan kita kepada Allah.

Mengapa menggunakan kata mustaqim (المُسْتَقيْمُ)

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ.

Ini indah sekali. Tadi kita sudah membahas apa arti shirath ya? Shirath itu jalan yang bentuknya bagaimana? LURUS. Kata shirath artinya sudah lurus, lalu kata mustaqim sendiri artinya juga lurus. Kalau begitu, buat apa ada kata mustaqim di sini? Jika ditambahkan kata mustaqim nanti artinya menjadi “Tunjukanlah kami ke jalan yang super lurus”.

Mustaqim artinya hal yang lain dari itu. Istiqomah (اِسْتِقَامَةٌ) dalam bahasa Arab, artinya bukan sekadar lurus, tapi tegak lurus. Lurus ke atas 👆🏼. Ini berasal dari kata قَامَ atau ٌقِيَام. Berdiri. Jalan yang vertikal. 

Dengan kata lain, ketika kita sedang travelling menggunakan kata mustaqim, kita sedang berjalan ke mana? Ya, jalan ke atas. Ke atas lho. Ini perumpamaan yang penting sekali di dalam Al-Qur’an. Kita tahu Allah sering berfirman tentang menaikkan derajat orang-orang mu’min. Jadi, secara harfiah atau secara penggunaan bahasa, artinya menjadi “Ya Allah, tunjukkanlah aku jalan yang lurus, jalan ke atas.”


Materi LBP Hari ke-8 Sore | 05. Al-Fatihah – A Deeper Look (Part 3) 

Oleh : N Anbarsanti

Perjuangan untuk Naik ke Atas

Berjalan ke atas itu membutuhkan perjuangan yang lebih kan ya? Bahkan untuk sedikit naik saja membutuhkan effort yang besar. Namun ketika kita mulai berupaya ke atas, kira-kira apa yang terjadi? Kita mulai tertarik ke bawah kan ya? Iya, karena gravitasi mulai menarik kita secara konstan. 

Gravitasi itu datang dari bumi. Jadi, dunia ini dan godaannya akan terus menerus menarik kita ke bawah. Apakah gravitasi bisa hilang? Sayangnya tidak. Sepertinya harus pergi dari dunia deh kalau kita tidak mau terkena gravitasi. Kita harus hidup dalam gravitasi. Gravitasi tidak pernah hilang. Gravitasi akan terus membuat kita tertarik ke bawah, kecuali jika kita berada di atas ‘jalan’ keislaman ini. Pastikan kita berada di ‘jalan’ ini.

Jadi, berapapun jumlah tahun yang telah kita tempuh untuk naik di ‘jalan’ ini, gravitasi akan tetap ada. Kerakusan akan tetap ada. Godaan akan tetap ada. Kemunafikan akan tetap ada. Syahwat akan tetap ada. Semua ujian duniawi akan tetap ada. Dengan melakukan banyak progres ke atas, itu tidak membuat ujian duniawi akan hilang. Kita tidak akan pernah aman dari godaan dunia. Itulah mengapa, ya Allah, tunjukkanlah kami ke ‘jalan’ ini. Dan kita harus terus maju dan maju dan maju.

Berbahaya Jika Jatuh

Ngomong-ngomong, semakin tinggi yang kita bisa capai, maka semakin berbahaya kan?

Mungkin kita heran mengapa para ulama yang sudah sangat berilmu mengapa masih saja menangis, sedangkan kita tidak menangis. Satu kaki mereka sudah menginjak surga, tapi mereka masih saja menangis. Mereka menyadari betapa ‘di atas’ nya mereka. Ketika mereka melihat ke bawah dan menyadari akan jatuh, itu akan menjadi jatuh yang parah. Mereka lebih menyadari itu. 

Coba bayangkan ada orang yang baru naik sedikit, kalau jatuh ya paling sakit sedikit. Tetapi ketika kita sudah naik tinggi, lalu jatuh dari ketinggian seperti itu, maka anda bukan hanya jatuh, tapi tenggelam ke dalam tanah. Kekal di dalam bumi. Tenggelam dan terbenam ke dalam keduniawian.

Seperti kita tahu, ada kisah-kisah tragis dari orang-orang yang sudah pernah menapaki Diin Islam ini, sudah melaksanakan Islam dengan sangat bagus, bahkan sudah menjadi teladan bagi orang lain. Lalu mereka terpeleset, jatuh, dan…  berada di titik terburuk dalam hidupnya. Mereka berubah menjadi orang yang lebih buruk dari orang-orang yang masih jahiliyyah. Mereka menjadi terpuruk dan tersesat di dunia. Hal yang tragis. Jadi, pada kenyataannya, ‘jalan’ ini adalah ‘jalan’ yang berbahaya jika terjatuh, sehingga kita harus selalu berhati-hati berada di atasnya. 

Wallahu a’lam. ✨

To be continued ان شاء الله 


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team – Lessons from Bayyinah’s Production

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s