Resume Quran Talk | Yang Tak Tersentuh Api Neraka — Abu Bassam Oemar Mita, Lc


Alhamdulillah, pada hari Sabtu, 27 Juni 2020, 10:00 WIB — selesai, Bayyinah Indonesia bersama Syameela dan Komunitas Muslim yang ada di Malaysia, Kuwait, Singapore belajar bersama-sama dengan tema “Yang Tak Tersentuh Api Neraka”, dengan guru kita Abu Bassam Oemar Mita, Lc.


Sering sekali kita takut dosa zina dan pembunuhan. Ini sebuah tanda yang bagus.

Tetapi ironisnya tanpa kita sadari, kita juga melakukan dosa yang setimpal dengan dosa di atas.

Apakah itu?

Dosa akhlak yang buruk.

Saking lembutnya dosa itu sering sekali tidak kita sadari.

Dosanya dalam beberapa sisi bisa menyamai dosa zina dan pembunuhan.

Dan seperti yang kita tahu Rasulullah ﷺ diturunkan ke bumi ini untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak.

Akhlak yang buruk dosanya luar biasa besar.

Akhlak yang buruk dapat menambah kadar kebencian Allah سبحانه و تعالى pada yang melakukan.

Kenyataannya akhlak buruk itu bukan saja pemberat keburukan dosa, tetapi sejatinya ada efek dominonya yaitu bisa menghilangkan sebagian pahala ibadah yang telah susah payah dilakukan.

Bersabda Rasulullah ﷺ,

وَ إنّ سُوءَالخُلُقِ يُفسِدُ العَمَلَ كَماَ يُفسِدُ الخَلُّ العَسَلَ“

“Dan sesungguhnya akhlak tercela merusak amal sholeh sebagaimana cuka merusak madu” (HR Thabrani)

Hadist yang seharusnya membuat kita sangat khawatir, karena kita tahu betapa sulitnya suatu amal ibadah diterima oleh Allah سبحانه و تعالى.

Jangan sampai menguap karena akhlak kita yang buruk.

Identitas penduduk neraka = mereka yang meninggalkan sholat, melakukan zina, memakan barang haram tapi tidak bertobat.

Bukan hanya itu saja, tapi sejatinya ada di hadist ini:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ ؟ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ ؟ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Dari Haritsah bin Wahb radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian siapa penghuni surga? Merekalah orang yang lemah lagi diremehkan orang lain. Namun jika dia bersumpah dengan menyebut nama Allah, pasti Allah akan mengabulkannya. Maukah aku kabarkan pada kalian siapa penghuni neraka? Merekalah orang yang kasar, tak sabaran lagi sombong.” (HR. Al-Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853)

Dari hadist itu terlihat bahwa penduduk neraka tidak hanya kaum syirik dan munafik tapi juga mereka dengan akhlak yang buruk.

Bahkan orang yang berilmu belum tentu memiliki akhlak yang baik.

Penuntut ilmu terbagi menjadi 3 kelompok:

  1. Fokus kepada ilmu tapi disertai akhlak yang buruk (ada orang yang menyakiti orang lain dengan ilmunya bahkan dia tidak merasa bahwa itu adalah akhlak yang buruk, ini termasuk ekstrim kanan)
  2. Fokus kepada akhlak tapi disertai kualitas ilmu yang minim (ada orang yang akhlaknya baik tapi bersikap dingin tidak mau belajar Al-Qur’an dan sunnah, ini termasuk ekstrim kiri)
  3. Konsentrasi kepada ilmu dan akhlak (seimbangkan keduanya, ini merupakan salah satu kriteria orang yang berjalan di shiratal mustaqim)

Kelompok 1 dan 2 jangan dijadikan pilihan.

Sunnah itu komitmen mengikuti Rasul dengan memadupadankan antara ilmu dan akhlak.

Ibarat burung dengan kedua sayapnya, salah satu sayap rusak maka tak akan sempurna sunnah dalam diri seseorang.

Kalau ada manusia dibenci karena akhlak itu musibah. Kalau ada manusia dibenci karena kebenaran itu anugrah. Yang parah itu kalau ada manusia dibenci karena akhlak tapi ia merasa dibenci karena kebenaran maka itu dobel musibahnya.

Makanya generasi pendahulu kita sangat fokus dengan akhlak dalam mencari ilmu.

Karena mereka tahu di balik kitab-kitab itu tak ada faedahnya jika tanpa disertai akhlak.

Para generasi pertama dalam Islam bisa belajar adab selama 20 tahun, 30 tahun, karena mereka menyadari betapa mulianya balajar akhlak.

Mereka belajar sangat detail karena tahu akhlak sangat menentukan selamat tidaknya mereka dalam kehidupan dunia-akhirat.

Di antara perhatian sunnah dalam akhlak adalah mengatur bagaimana hubungan interaksi manusia sesama manusia.

Karena di sinilah pentingnya meninggalkan jejak kebaikan di hati serta sanubari orang lain (fungsi akhlak). Ini besar keutamaannya. Akan diingat setelah kita meninggal.

Rasul ﷺ itu diberkahi dakwahnya karena sukses meninggalkan jejak kebaikan di hati para sahabat.

Karena para sahabat sudah jatuh cinta dengan keindahan akhlak Rasulullah ﷺ maka apa yang Rasulullah ﷺ sampaikan langsung diterima, apapun konsekuensinya.

Apa yang seharusnya kita khawatirkan sekarang?

Jika kita sudah belajar, banyak ikut taklim ke sana sini, mengaku dekat dengan Ustad itu ini, mengaku kelompoknya paling benar, tapi ternyata kita meninggalkan jejak keburukan di hati orang-orang terdekat kita.

“Kadang-kadang orang itu lari dari kebenaran bukan karena ia benci dengan kebenaran yang disampaikan kepadanya tapi bisa jadi karena mereka kecewa, melihat orang-orang yang mengaku berada di jalan kebenaran tapi justru tidak menunjukkan akhlak yang baik.”

Ada sebuah kisah nyata:

Seorang wanita yang berada di titik terendah dalam hidupnya, lalu ia merasa ada dorongan ingin pergi ke masjid. Biasanya ia ke pub dan diskotik. Tapi ia tidak paham harus menutup aurat dan aturan lainnya. Ketika masuk ke masjid, ia mendapat perlakuan kasar karena penampilannya. Sehingga ia semakin kecewa dan sedih. Akhirnya ia kembali ke diskotik, di sana ia mendapat senyuman ramah dan perlakuan hangat dari seorang bartender. Sampai akhirnya ia merasa nyaman. Sehingga ia menulis di medsosnya: “Apa yang salah? Ketika aku datang ke masjid mendapat perlakukan kasar tapi ketika aku datang ke diskotik malah mendapat perlakuan yang baik.”

Tentunya yang salah bukan masjidnya.

Di sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kadang-kadang ada orang yang menjauh dari kebenaran bukan karena ia yang mau menjauh, tapi itu karena kita tidak memperlihatkan komitmen akhlak yang baik.

Jangan sampai semakin banyak orang tidak mendapat cahaya-Nya, karena kita yang menutupi itu.

Untuk menyelamatkan diri dari jilatan api neraka, setidaknya kita harus memiliki 4 perhiasan.

· Empat ini sebenarnya ringan

· Empat ini tak butuh materi yang banyak

· Empat ini tak harus begadang

· Empat ini tak harus meneteskan darah

Tapi efeknya luar biasa!

Apa sajakah itu?

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Maukah kalian aku tunjukkan orang yang Haram baginya tersentuh api neraka?” Para sahabat berkata, “Mau, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab: “(Yang Haram tersentuh api neraka adalah) orang yang Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl.” (HR. At-Tirmidzi & Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani).

(1.) Hayyin

Setidaknya memiliki 4 sifat:

· Tenang

Kita harus berdoa kepada Allah سبحانه و تعالى untuk meminta jiwa yang tenang. Orang akan tenang ketika ia memiliki ilmu, ilmu dari Allah. Allah sangat senang dengan orang-orang dengan karakter tenang. Tenang ketika apa yang didapatkan tidak sesuai ekspektasi. Ketenangan ada yang merupakan pembawaan sejak lahir dan ada juga yang harus diusahakan. Ketenangan insya Allah akan selalu membawa kebaikan.

· Tidak emosional

Rasulullah mengingatkan, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6116]. Bukankah kita sering merasakan bahwa marah itu meninggalkan bekas-bekas penyesalan. Kita harus cek, apakah marah kita karena nafsu atau karena Allah سبحانه و تعالى?

· Tidak mudah memaki atau melaknat

Kalaupun ada yang memaki, menghujat, mencela, ia bahkan tidak dendam dan tetap mengucapkan salam damai. Seperti kisah Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya.

· Penuh pertimbangan

Seorang mukmin itu ketika ingin mengambil suatu keputusan maka ia melakukan 2 hal: istikharah kepada Allah سبحانه و تعالى dan bertanya kepada yang ahlinya.

(2.) Layyin

Setidaknya memiliki 4 sifat:

· Lembut kata-katanya

Allah سبحانه و تعالى sangat lembut, contoh: Dia menyebut “pendosa” = orang-orang yang melampaui batas.

Kalimat yang baik adalah sedekah. Kata-kata yang tidak menyudutkan orang lain.

Pada dasarnya setiap kata-kata yang baik maka kebaikan itu akan kembali kepada kita.

· Lunak bersikap

Bersikap fleksibel, tidak mudah kecewa atau langsung menjauh terhadap satu atau dua perkara.

· Menghormati orang lain

Memandang orang lain lebih baik daripada dirinya. Ada bentuk tawadhu dalam dirinya.

· Sangat simpati dan penuh empati

(3.) Qarib

Setidaknya memiliki 3 sifat:

· Murah senyum

Efeknya bisa membuat orang menjadi tenang. Senyum itu selalu membawa kebaikan. Senyuman itu bisa menghilangkan hasad dan dengki, bisa menghilangkan jutaan kejahatan. Senyuman itu merupakan dasar kebaikan.

· Cepat akrab

Selalu berprasangka yang baik. Banyak memberikan udzur kepada saudaranya.

· Tawadhu

Menempatkan orang lain merasa senang ketika diajak berbicara dengannya.

(4.) Sahl

Setidaknya memiliki 2 sifat:

· Mudah menolong

· Mempermudah bukan mempersulit


Semoga Allah jadikan kita orang yang memiliki keempat sifat tersebut, hayyin, layyin, qarib, dan sahl.

Semoga Allah سبحانه و تعالى memberikan kita akhlak yang mulia.

اَللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي

“Ya Allah, Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka baguskanlah akhlakku.”


والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Jazakumullahu khairan katsiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s