[LBP2020] Kalam Ilahi


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-4
Topik:
Divine Speech
Kamis, 25 Juni 2020

Materi LBP Hari ke-4 Pagi | Pengantar Kalam Ilahi

Oleh: Heru Wibowo

Maaf, jangan disingkat ya. Pengantar Kalam Ilahi adalah versi Bahasa Indonesia dari Divine Speech Introduction. 

Divine Speech adalah sebuah seminar yang pertama kali diadakan di Bayyinah Institute di Texas. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada masyarakat tentang aspek literer dari Al-Qur’an. 

Bertahun-tahun yang lalu, saat Ustadz Nouman memulai perjalannya sendiri mendekati Al-Qur’an, banyak pertanyaan yang berputar-putar di pikiran beliau. Setelah membaca terjemahannya. 

Ini dia pertanyaan-pertanyaannya.

“Mengapa banyak hal yang diulang-ulang di Al-Qur’an?”

“Yang ini sudah disinggung, kenapa disinggung lagi di bagian yang lain?”

“Kenapa Al-Qur’an tidak disusun secara kronologis? Sesuai urutan waktu?”

“Kenapa ada surah yang panjang banget dan ada yang pendek banget?”

“Kenapa Al-Qur’an juga tidak disusun topik per topik?”

Kenapa ada cerita sedikit di sini, sedikit di sana, lalu cerita itu masih ada lagi di situ?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus meletup-letup di pikiran Ustadz Nouman sembari beliau membaca terjemahan Al-Qur’an. 

Al-Qur’an itu tidak seperti buku apapun yang lain yang pernah dibaca Ustadz Nouman. 

Lalu Ustadz Nouman mulai melakukan penjelajahan. Bereksplorasi untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Hingga Ustadz Nouman sadar. Bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi, membuat Al-Qur’an unik. Tidak cuma itu. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi, juga membuat Al-Qur’an benar-benar istimewa. Hebat. Indah. Super keren. Tidak mungkin dibuat oleh manusia.

Luar biasa ya. Sekaligus juga merasa hina. Bahwa Ustadz Nouman memulai perjalanannya dengan mengkritik Al-Qur’an. Tapi justru dari situlah keyakinan Ustadz Nouman menjadi sangat-sangat kuat. Bahwa Kitab ini, Al-Qur’an, hanya mungkin berasal dari Allah.

Inilah yang menginspirasi Ustadz Nouman untuk menyelenggarakan seminar Qur’an yang pertama. Yang diberi nama Divine Speech. Ustadz Nouman berkeliling dunia untuk mengajarkannya. Dan sebenarnya, yang Ustadz Nouman rasakan, Divine Speech perlu diikuti. Sebagai bagian dari perjalanan mendekati Al-Qur’an. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Dan juga pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Tujuan dari Divine Course ada dua:

Pertama, tentu saja, Anda mempelajari hal-hal tertentu, tentang Al-Quran, yang mungkin belum Anda ketahui sebelumnya. 

Kedua, Anda selesai mempelajarinya dan bergumam, “Wow! Ini enggak mungkin buatan manusia. Ini pasti ciptaan Ilahi.”

Divine Speech akan menguatkan keimanan Anda. Dan Anda pun makin yakin akan keindahan dan kekuatan Al-Qur’an.

Oleh karena itu, mari kita mulai perjalanan ini: Divine Speech.


Divine Speech Introduction (original speech)

Many years ago when I started my own journey into the Qur’an, I found myself having a lot of questions as I read the translation. 00:07

How come there’s so much repetition in the Qur’an. 00:09

This was already talked about, why is being talked about again. 00:11

How come there is no chronological order. 00:13

How come some chapters are long and some are short. 00:15

How come they’re not some sort of subject order. 00:18

And, how come, you know, there is a story, and it’s only a little bit over here, and then some little bit over there, and some little bit over there again. 00:24

And questions like these, kept popping up in my mind as I read the text. 00:27

It wasn’t like any other book that I had (Google Translate rekomen ‘have’ tapi saya ulang-ulang tetap terdengar ‘had’, secara grammar tidak masalah dan secara makna lebih tepat ‘had’) ever read. 00:29

And so, as I started exploring the answers to these questions, I realized that not only were these, the answers to these questions, something that makes the Qur’an unique, but it actually is something that makes the Qur’an truly Divine. 00:41

It’s incredible and it’s humbling that was started off as criticism, became the very reason that I was strengthened in my faith that this Book can only be from Allah. 00:50

This is what inspired me to create my first ever Qur’an course called Divine Speech. 00:55

I traveled around the world teaching it, and actually what I feel, this is the second step that I would like you to take in your journey into the Qur’an, going through that course that I created to answer these and more questions. 01:06

The purpose of it, by the end of this course, is two things. 01:09

One, you learn of (‘learn of’ means ‘become informed of’) things about the Qur’an that you might not have known before, of course.

And two, that you’re gonna come out saying, “Wow! This can’t be from a human being. This has to be Divine.” 01:19

It’ll reinforce your faith and confidence in the Divine beauty and power of the Qur’an. 01:24

So let’s begin this journey: Divine Speech. 01:26


Materi LBP Hari ke-4 Pagi | Al-Qur’an dari Perspektif Literer (Part 1)

Oleh: Heru Wibowo dan Icha Farihah

Divine Speech dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah tinjauan mikro (micro studies). Bagian kedua adalah tinjauan makro (macro studies). Dua istilah ini memang istilah teknis. Susah dibayangkan. Karena belum dijelaskan. 

Mari kita masuki penjelasannya. 

Tinjauan mikro artinya kita ingin mencoba memahami sesuatu tentang ayat Al-Qur’an. Atau bagaimana Allah menggunakan kata-kata tertentu. Tinjauan mikro artinya kita melakukan zoom in. Melihat Al-Qur’an “dengan mikroskop”. Memperhatikan sebuah ayat dari jarak dekat.

Tinjauan makro artinya kita sedikit menjauh. Melihat gambaran yang lebih besar. Melihat bagaimana sebuah surah tersusun. Bagaimana sebuah kisah tersebar di berbagai bagian Al-Qur’an. Mengapa Allah bersumpah di Al-Qur’an. Mengapa Allah mengulang-ulang menyebut Diri-Nya begitu banyak di Al-Qur’an. 

Biar lebih enak memahaminya, bayangkan saat kita ada di kebun. Anda sedang leyeh-leyeh di dalam kebun. Berbaring. Tiduran. Melepas lelah. Lalu Anda menatap sekuntum bunga. Anda melakukan zoom in. Anda ambil kamera dan Anda zoom in. Jadi Anda seolah-olah memotret bunga itu dari jarak dekat. 

Saat Anda melakukan zoom in itu, dan berada di dalam kebun itu, pandangan Anda terbatas. Anda tidak menyadari bahwa Anda sedang berada di tengah-tengah sebuah lembah. Ada pohon-pohon. Ada sungai-sungai. Dan berbagai pemandangan lainnya. Tapi Anda tidak bisa melihat itu semua itu karena Anda sedang berada di dalam kebun itu. Karena Anda sedang fokus memandang kecantikan sekuntum bunga. 

Tapi ketika Anda berada di dalam helikopter. Terbang di atas kebun itu. Atau Anda berada di pesawat. Atau Anda berdiri di atas sebuah gunung. Lalu Anda melihat ke bawah. Anda melihat keindahan jenis yang lain. Bukan keindahan sekuntum bunga. Tapi keindahan dari pemandangan alam yang terhampar di depan mata. Ada danau, pohon, air, sungai, matahari terbenam dan sinarnya yang temaram. Ada satu paket panorama yang indah. 

Dua-duanya indah. Keindahan mikro saat Anda zoom in. Keindahan makro saat Anda menjauh untuk melihat lukisan alam atau gambaran besarnya. 

Seperti itulah Divine Speech terbagi dua. Bagian-bagian yang akan dibahas, tidak seperti bagian-bagian dalam sebuah buku. 

Divine Speech itu, apa referensinya? Dari mana sumbernya? Daftar bibliografinya sangat panjang. Hasil penelitian selama beberapa tahun. Ada sekira lima puluh sumber yang berbeda. Jika Anda memiliki buku Divine Speech, Anda bisa memeriksa daftar pustakanya satu per satu. Di halaman 283, 284, dan 285. 

Bicara begini kok terkesan akademis banget ya. Ustadz Nouman tidak ingin kajiannya jadi kayak materi kuliah di kampus. Jadi academic lecture. Tidak ingin penjelasannya jadi terkesan terlalu ilmiah. Tidak ingin disampaikan in a scholarly way. Kenapa begitu?

(bersambung ke Part 2 in syaa Allaah ba’da zhuhur)


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-4 Pagi | Al-Qur’an dari Perspektif Literer (Part 1)

Muhammad:

MasyaAllah jadi pengen punya akun, dan saksikan langsung 😯

Nana:

Bayyinahtv bisa free, ngisi form gift gitu😊

https://my.bayyinah.tv/sponsorship-form

Monggo dicoba pak.

Aditya:

Kalau akses reguler biayanya berapa ya sekarang?

Hain:

Kalau perbulan kalo gak salah $11, pak.


Materi LBP Hari ke-4 Siang | Al-Qur’an dari Perspektif Literer (Part 2) 

Oleh: Heru Wibowo dan Icha Farihah

Pertama, karena Ustadz Nouman mengaku bukan akademisi (scholar).

Kedua, karena ga jelas manfaatnya buat audiens.

Saat menyampaikan materi ini, Ustadz Nouman berhadapan dengan audiens yang sudah mendapat materi sehari sebelumnya. Maka Ustadz Nouman ingin mengetes pemahaman audiens tentang materi sehari sebelumnya.

Yaitu tentang ar-rahmaan dan ar-rahiim

“Berapa hal yang perlu diingat tentang ar-rahmaan?” Jawabannya, ada tiga. 

“Berapa hal yang perlu diingat tentang ar-rahiim?” Jawabannya, ada dua.

Pertanyaan lanjutannya, “Apa ketiga hal yang perlu diketahui tentang ar-rahmaan?” Jawabannya, pertama, sesuatu yang melimpah. Sesuatu yang extreme.

Kedua, sesuatu yang terjadi sekarang juga. Sesuatu yang happening right now.

Ketiga, sesuatu yang bersifat sementara. Sesuatu yang temporary

Ada yang bertanya kepada Ustadz Nouman. Bukan tunjuk jari. Pertanyaannya tertulis. “Buktinya apa? Kok bisa ada tiga seperti itu (extreme, right now, dan temporary) itu, dapatnya dari mana? Dalilnya apa?”

Berikut adalah penjelasan Ustadz Nouman. Silakan dilakukan cek n ricek jika perlu. Karena mengandung konten teknis Bahasa Arab. Ustadz Nouman bercanda, bahwa penjelasannya ini kali ini, dijamin, akan bikin bengong. Bikin enggak paham. Tapi gapapa. 

Ar-rahmaan punya wazn fa’laan. Fa’laan disebut juga shiratul mubalaghah. Shiratul mubalaghah adalah bentuk mubalaghah dari ism faa’il. Faa’il punya hudud di dalamnya. Hudud berarti terjadi saat ini. Sehingga fa’laan berarti terjadi saat ini juga. Fa’laan, ada alif dan nun di akhir, menunjukkan bentuk yang paling kuat (extreme) dari mubalaghah. Fa’laan punya hudud, mubalaghah, dan tidak berlangsung selamanya. 

Jika Ustadz Nouman menjelaskan ini hari sebelumnya, Ustadz Nouman bercanda, akan ada orang yang nyebur ke danau (jumping into the lake). 🙂 Gara-gara stres ga paham penjelasan. Diskusi tentang fa’laan sendiri menghabiskan empat halaman. Belum yang lain-lain.

Teacher itu job-nya bukan untuk memberi informasi. Tapi membantu memahamkan informasi. Membuat yang rumit menjadi simpel. Membantu muridnya supaya lebih mudah mencerna. 

Suatu hari nanti, murid-murid Ustadz Nouman justru lebih canggih Bahasa Arabnya. Lebih hebat dari Ustadz Nouman dalam hal tafsir maupun bahasa Arab Alquran. Ustadz mendoakan hal itu terjadi. Dan ketika itu terjadi, murid-murid Ustadz Nouman akan bilang, “Ini rasanya kekanak-kanakan banget. Biarkan aku baca buku Bahasa Arabnya langsung. Lebih nikmat baca asli bahasa Arabnya.” Doa Ustadz menyertai. Ustadz juga mendoakan supaya murid-muridnya mendapatkan manfaat yang dahsyat dari proses berenang di samudera bahasa Arab. 

Tapi untuk saat ini, belajarnya yang simpel-simpel aja dulu. Yang penting paham dan bermanfaat. 

Bagaimana jika diantara murid Ustadz Nouman ternyata ada yang sudah ulama? Jika memang ada, maka yang dipelajari dari Ustadz Nouman mungkin adalah metodologi mengajar. Bagaimana caranya mengubah yang kompleks jadi simpel. 

Ustadz Nouman sangat menyukai Divine Speech. Apakah ada cerita di balik itu semua? Bagaimana asal usul dari seminar ini?

Dulu Ustadz Nouman mengajar Bahasa Arab. Kelas Bahasa Arab itu sangat membosankan. Apalagi durasinya tiga jam. Untuk memotivasi murid-muridnya, di akhir tiga jam pelajaran itu, Ustadz Nouman berbagi sesuatu dari Alquran, sesuatu yang mengagumkan. Sesuatu yang membuat murid-muridnya terpesona.

Tapi Ustadz Nouman tidak membeberkan contoh yang mengagumkan itu kecuali kepada mereka yang belajar Bahasa Arab sampai akhir sesi tiga jam. Jadi kalo ada yang mau cabut duluan sebelum pelajaran berakhir, ada perasaan, “Aduh tapi gimana ya, aku kan ingin denger contoh yang biasanya disampaikan di akhir sesi! Sayang kalo hari ini ga update bagian itu!” Akhirnya ga jadi cabut. Bertahan sampai akhir tiga jam 🙂

(bersambung ke Part 3 in syaa Allaah ba’da ashar)


Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-4 Siang | Al-Qur’an dari Perspektif Literer (Part 2)

Heru:

Sedikit koreksi.

Yang tepat adalah shiigatul mubaalaghah, bentuk hiperbolis,

صيغة المبالغة

dan huduuts, terjadi saat ini,

حُدُوث

Terima kasih atas perhatian dan koreksinya, 

Mas Andry dan Kang Irfan 🙏🏻🙏🏻

Eny:

Nah iya makanya saia agk bingung secara hudud pan artinya hukuman 😊

Tilka ḥudụdullāh, wa may yuṭi’illāha wa rasụlahụ yudkhil-hu jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, wa żālikal-fauzul-‘aẓīm Terjemah Arti: (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.

Surat Annisa ayat 13.

Faiq:

Jadi penasaran, apakah buku Divine Speech ust NAK isinya sama dengan seminarnya? Ada yg sdh baca mungkin?

Heru:

Beda, Pak.

Lebih enak ikut seminarnya.

LBP setiap Kamis in syaa Allaah menghadirkan seminar itu di sini 🙏🏻🙏🏻


Materi LBP Hari ke-4 Sore | Al-Qur’an dari Perspektif Literer (Part 3) 

Oleh: Heru Wibowo dan Icha Farihah

Kiat Ustadz Nouman untuk membuat murid-muridnya stay dari awal hingga akhir adalah: ada satu contoh menarik di awal pelajaran, dan satu contoh menarik di akhir pelajaran. Yang telat, ga dapet hiburan di awal. Yang pulang duluan, ga kebagian entertainment di akhir. Itu lah cara Ustadz memastikan kehadiran murid-muridnya di kelas. Secara utuh tiga jam. 🙂

Jadi ada contoh-contoh yang menghibur dan mengagumkan. Tentang apa yang membuat Al-Qur’an luar biasa, dahsyat sekaligus penuh keindahan. Murid-murid menyukainya. Lalu ada yang mengusulkan: kenapa ga dibikin kelas yang isinya khusus tentang contoh-contoh menakjubkan itu saja? Tanpa pelajaran Bahasa Arab? 🙂 Mereka yang bertanya seperti ini tidak satu dua. Banyak.

Ustadz akhirnya bikin kompilasi. Mengumpulkan cukup banyak contoh mengagumkan dari Al-Qur’an. Sampai akhirnya jadilah sebuah program. Awalnya dari pertanyaan atau usulan murid-muridnya. Akhirnya menjelma menjadi sebuah seminar.

Kita bisa melihat bagaimana orang belajar Al-Qur’an saat ini. Ada yang mempelajari tajwid. Ada yang mempelajari tafsir. Ada yang mempelajari ‘ulumul quran. Ada yang mempelajari qiraat. Quran dipelajari dari berbagai sudut yang berbeda (different angles)

Ada satu sudut yang hilang. Padahal sangat penting. Yaitu kita tidak mempelajari Al-Qur’an sebagai literatur. 

Apa yang ada di benak orang tentang Al-Qur’an? Diskusi yang kompleks. Diskusi yang religius. Diskusi yang filosofis. Diskusi yang bersifat akademis. Semua itu membuat kita jauh dari fakta bahwa Al-Qur’an itu penuh mutiara. Penuh dengan hal-hal yang indah. Al-Qur’an adalah literatur yang indah. 

Yang juga menjadi maksud (intention) dari program ini adalah, untuk memperkenalkan kembali Al-Qur’an, bukan untuk semata-mata dipelajari tafsirnya, bukan untuk semata-mata dipelajari ‘ulumul quran-nya, meskipun hal-hal itu juga akan dicakup nantinya, tapi lebih kepada yang satu ini: memandang Al-Qur’an sebagai sebuah literatur.

Itu lah yang akan kita lakukan. Sebuah analisis literatur (a literary analysis) terhadap Al-Qur’an.

Ustadz sendiri sangat yakin, sesuai pengalaman beliau di Amerika Serikat, kajian Al-Qur’an sebagai literatur sangat penting dilakukan saat ini. Kenapa?

Jika kita melakukannya cukup banyak, melakukan studi Al-Qur’an sebagai literatur, maka Al-Qur’an tidak akan diajarkan hanya di fakultas atau jurusan studi agama. Di seluruh universitas di seluruh dunia. Al-Qur’an juga bisa diajarkan di fakultas atau jurusan studi literatur. 

Memang ada bedanya, jika Al-Qur’an diajarkan di jurusan studi literatur? Tidak cuma ada. Tapi beda banget.

Ketika non muslim mengambil studi Al-Qur’an di program studi agama, mereka mempelajari Al-Qur’an untuk mengkritiknya. Untuk menyerangnya. Untuk melakukan dekonstruksi terhadapnya. Mencabik-cabik dan mencari-cari kesalahannya. 

Di fakultas atau jurusan studi literatur, orang tidak belajar untuk mengkritik Al-Qur’an. Tapi untuk memberikan apresiasi. Untuk menghargai Al-Qur’an. 

Dengan kata lain, kita menciptakan peluang kepada dunia untuk mempelajari Al-Qur’an tanpa konfrontasi. Membangkitkan rasa ingin tahu (curiosity) dunia kepada Al-Qur’an. Percakapan-percakapan manusia yang membicarakan tentang Kitab Allah yang terakhir ini, akan berubah total. 

Berikut referensi yang diambil dalam penyusunan buku Divine speech nya Ustadz Nouman.

Screenshot_20200628-225012_1
Screenshot_20200628-225037_1
Screenshot_20200628-225053_1

Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-4 Sore | Al-Qur’an dari Perspektif Literer (Part 3)

Irfan:

Literer mungkin bisa diganti dengan kata sastra

Heru:

Terima kasih feedback-nya Kang Irfan.

Kami bahas juga soal ini di divisi khusus LBP yang in charge untuk materi/konten.

Kata “sastra” memang sempat akan saya gunakan tapi niat itu saya urungkan. Google Translate tidak selalu tepat. Literary adalah adjective, sedangkan sastra adalah kata benda. Literary bukan “sastra”, tapi “berkenaan dengan sastra”.

Dari tim konten juga ada usulan penggunaan kata “literasi”. Tapi, again, literasi adalah versi Bahasa Indonesia untuk “literacy“. Padahal “literacy” beda dengan “literary“. Dari jenis kata juga beda karena “literacy” itu noun, sedangkan “literary” itu adjective.

Jadi akhirnya kembali untuk menggunakan “literer”. Sebuah kata yang saya sendiri merasa aneh, tapi diakui oleh Google Translate dan KBBI. Dan memang itu yang paling tepat, meski terdengar tak biasa.

Demikian penjelasannya, Kang Irfan.

Irfan:

Kalau sastrawi?

Heru:

Bisa, Kang Irfan.

Sama-sama kata sifat. 

Literer bisa, sastrawi bisa.

Secara KBBI, oke.

Google Translate juga mendukung.

Mau kita pasang “literer” atau “sastrawi”, hasilnya adalah “literary“.

Ini kita diskusi judul ya, Kang, he-he-he.

🙏🏻🙏🏻


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Lessons from Bayyinah’s Production

One thought on “[LBP2020] Kalam Ilahi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s