[BMW2020] An Excellent Example | Part 3


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Excellent Example is Excellent Leadership

Rasulullah SAW adalah contoh terbaik. Dan kepemimpinan di masa Rasulullah SAW adalah kepemimpinan terbaik. Kita tinggal mengikuti sunnah beliau SAW sebagaimana yang Allah titahkan di Al-Qur’an, di beberapa tempat, salah satunya:

 

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah (Al-Hasyr, 59:7).

 

Sebagai leader, Rasulullah SAW melayani semuanya. Perhatiannya tertuju ke umat. Beliau tidak melayani hanya a small elite. Beliau menggunakan metafora shepherd atau penggembala. Yang bertanggung jawab terhadap sekelompok atau sekawanan kambing yang ia gembalakan. “All of you are shepherds and each of you is responsible for his flock. The amir (leader) of a people is a shepherd and he is responsible for his flock.” (Shahih Al-Albani ; Al-Adab Al-Mufrad 206)

 

5 Atribut Pemimpin Efektif

Alsweedan (ini kalau yang baca ngantuk bisa kebaca Anies Baswedan hehehe) dalam bukunya “Making the Leader” menyebutkan ciri-ciri pemimpin yang efektif, yang bersumber dari ajaran Islam, yang berisi sekitar 30 traits atau lebih, lalu mengelompokkannya menjadi lima atribut umum. Kelima atribut ini, menurut Alsweedan, sangat berkontribusi terhadap keberhasilan setiap pemimpin, tanpa memandang agama atau kepercayaan. Tapi kelimanya bersumber dari nilai-nilai Islam.

 

Atribut pertama adalah having a clear guiding vision. 

Pemimpin yang efektif sangat termotivasi oleh sasaran jangka panjangnya. Dan visinya yang jelas di masa depan. Pemimpin yang efektif sangat paham dua hal ini: (1) masa depan dirinya, dan (2) masa depan organisasinya. Pemimpin yang efektif mendengung-dengungkan visinya dan pemahaman atas visi tersebut ke para pengikutnya. 

Kehidupan Rasulullah Muhammad SAW adalah sebuah contoh nyata tentang hal itu. Beliau SAW punya sasaran jangka panjang, sangat-sangat panjang, untuk kehidupan akhirat. Beliau SAW juga punya sasaran, visi, dan keyakinan yang jelas, tentang keberhasilan hidup di dunia.

Contohnya jelas terlihat saat Madinah dikepung di Perang Khandaq. Rasulullah SAW dan umat Islam berada dalam situasi tertekan. Tapi Rasulullah SAW tetap penuh semangat (in an energetic state). Beliau SAW berhasil memotivasi para sahabat. Beliau SAW menanamkan, di dalam diri mereka, a sense of hopefulness dan mengingatkan mereka bahwa mereka pasti berhasil. 

 

Atribut kedua adalah balance. 

Yang dimaksud di sini adalah menyeimbangkan keempat kebutuhan/kapasitas manusia: pikiran (mind), tubuh (body), perasaan (emotions), dan jiwa (soul). Setiap pemimpin harus terampil dalam mengelola penyaluran energi sehingga keempat kapasitas itu terjaga keseimbangannya. 

 

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ قُلْتُ بَلَى قَالَ فَلَا تَفْعَلْ قُمْ وَنَمْ وَصُمْ وَأَفْطِرْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّكَ عَسَى أَنْ يَطُولَ بِكَ عُمُرٌ وَإِنَّ مِنْ حَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا فَذَلِكَ الدَّهْرُ كُلُّهُ قَالَ فَشَدَّدْتُ فَشُدِّدَ عَلَيَّ فَقُلْتُ فَإِنِّي أُطِيقُ غَيْرَ ذَلِكَ قَالَ فَصُمْ مِنْ كُلِّ جُمُعَةٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَ فَشَدَّدْتُ فَشُدِّدَ عَلَيَّ قُلْتُ أُطِيقُ غَيْرَ ذَلِكَ قَالَ فَصُمْ صَوْمَ نَبِيِّ اللَّهِ دَاوُدَ قُلْتُ وَمَا صَوْمُ نَبِيِّ اللَّهِ دَاوُدَ قَالَ نِصْفُ الدَّهْرِ

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur. Telah menceritakan kepada kami Rauh bin ‘Ubadah. Telah menceritakan kepada kami Husain dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abdullah bin ‘Amru. Dia berkata, “Rasulullah ﷺ menemuiku, lalu beliau bersabda, “Aku memperoleh berita bahwa kamu bangun di malam hari dan berpuasa di siang hari, benarkah itu?” Aku menjawab, “Benar.” Beliau bersabda, “Jangan kamu lakukan itu; namun tidur dan bangunlah, berpuasa dan berbukalah. Karena tubuhmu memiliki hak atas dirimu, kedua matamu memiliki hak atas dirimu, tamumu memiliki hak atas dirimu, istrimu memiliki hak atas dirimu. Sungguh, semoga panjang umur dan cukup bagimu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, dan suatu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya, itulah puasa Dahr.” Abdullah bin ‘Amru berkata, “Aku bersikap keras dan beliau pun bersikap keras kepadaku, lalu kataku, “Sungguh aku masih kuat melakukan lebih dari itu?”. Beliau bersabda, “Berpuasalah tiga hari setiap Jumat.” Abdullah bin ‘Amru berkata, “Aku bersikap keras dan beliau pun bersikap keras kepadaku, lalu kataku, “Sungguh aku masih kuat melakukan lebih dari itu?” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berpuasalah seperti puasanya Nabiyullah Daud.” Aku bertanya, “Bagaimana puasa Nabiyullah Daud?” Beliau bersabda, “Yaitu puasa setengah zaman (sehari puasa sehari berbuka).” 

(Shahih Bukhari No. 5669 versi Al-Alamiyah, No. 6134 versi Fathul Bari)

 

Ada tiga langkah penting yang bisa dilakukan setiap pemimpin untuk mempertahankan balance ini, menemukan kesegaran dan kebaruan hidup setiap hari, dan mengelola energi secara efektif. Tiga langkah ini dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan merupakan bagian dari nilai-nilai Islam. 

● Langkah pertama: mengembangkan pola pikir (mindset) yang menekankan kebebasan memilih (freedom of choice) dan mengajarkan mereka (para sahabat, para pengikut) untuk berpikir kritis supaya pikiran mereka selalu tercerahkan pikiran mereka dan untuk menumbuhkan kapasitas mereka.

● Langkah kedua: membaca serta mendidik diri sendiri secara terus-menerus dan memotivasi para pengikut untuk membaca. Ayat yang pasti tak asing lagi adalah ayat yang pertama turun. 

 

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (96:1).

 

Nabi Muhammad ﷺ pernah berkata, “Para nabi tidak mewariskan Dinar atau Dirham tetapi mereka mewariskan pengetahuan. Orang yang mengambilnya, mereka telah mendapatkan harta yang tak terkira.”

● Langkah ketiga: mendahulukan hal-hal yang paling utama. Pemimpin yang gagal melakukannya, telah memboroskan waktunya. Pemimpin harus menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang terbaik untuk organisasi, karena itu bukan pekerjaan yang mudah. Sama tidak mudahnya dengan membedakan antara apa yang penting dan apa yang kurang penting. 

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Orang bijak bukanlah orang yang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Orang bijak adalah orang yang dapat membedakan yang terbaik dari dua yang baik dan yang terburuk dari dua yang buruk.” Hidup ini penuh dengan sistem yang kompleks yang membutuhkan keseimbangan, seseorang tidak bisa hanya memperhatikan satu bagian saja sementara mengabaikan bagian-bagian yang lain.

 

Atribut ketiga adalah having interaction and communication skills. 

Keterampilan yang dimaksud di sini terdiri dari empat keterampilan utama. 

● Keterampilan pertama: understanding and connect, yang meliputi tiga aspek yakni mendengarkan (listening), mampu berpikir dan merasakan seperti apa yang dipikirkan dan dirasakan teman bicara (empathy), dan punya hasrat untuk menolong setelah berempati (compassion).

● Keterampilan kedua adalah high influence yang mencakup lima aspek: 

  1. kemampuan untuk mengubah perasaan orang seperti yang ditunjukkan Rasulullah SAW di banyak kesempatan, 
  2. pendekatan yang penuh perhatian dan kehangatan kepada umat/pengikutnya, 
  3. persuasion skills atau kemampuan untuk menggerakkan pendengar dan membawa mereka untuk memahami sudut pandang Anda, untuk mendukung misi, dan untuk percaya sepenuhnya kepada Anda, 
  4. loyalitas, dan 
  5. affability atau sikap yang menyenangkan dan enak diajak bicara.

 

Tentang loyalitas, Nabi ﷺ mengatakan bahwa “kesetiaan yang kuat berasal dari iman.” Diriwayatkan oleh Al Hakim, bahwa sebelum Abubakar menjadi khalifah, ia biasa membantu memerah susu sapi milik tetangganya. Kemudian ketika dia terpilih menjadi khalifah, seorang wanita mendatanginya dan berkata, “Jadi sekarang ternak kita tidak akan diperah lagi?” Mendengar hal ini, Abubakar menjawah, “Masih tetap akan saya lakukan! Saya bersumpah, saya akan terus memerah susu ternak untuk Anda. Saya berharap posisi yang saya pegang sekarang ini tidak akan mencegah saya melakukan perbuatan baik yang pernah saya lakukan sebelumnya.”

Tentang affability, tak dapat dipungkiri banyak orang yang stres dan mengalami emotional problems dalam hidup mereka dan butuh seseorang disamping mereka untuk melumpuhkan perasaan mereka yang terluka dan membuat mereka merasa lebih lega dan nyaman berada di samping seseorang yang menyenangkan dan enak diajak bicara. Seseorang yang bersedia menjadi saluran got emosi mereka yang patah hati. 

● Keterampilan ketiga adalah motivasi (motivation), yang mencakup hal-hal berikut: 

  1. memberikan positive energy terutama di saat-saat situasi tim sedang lemah atau melemah, 
  2. membuat orang lain merasa aman, umat/pengikut merasa bahwa mereka memiliki pemimpin yang peduli dengan mereka, mengajari dan membimbing mereka, sehingga sebaliknya, mereka percaya dan merasa nyaman menemani atau mendukung pemimpinnya, 
  3. memberikan delegasi, yang membuat umat/pengikut menghargai dan menikmati kebebasan untuk melaksanakan tugas sesuai cara mereka, sepanjang tujuannya atau ekspektasi yang diharapkan oleh pemimpinnya, jelas, 
  4. memberikan insentif emosional dan/atau yang bersifat materi. 

 

Tentang perasaan nyaman, Ibnu Mas’ud RA pernah bercerita, seseorang menemui Rasulullah SAW. Dia bicara dengan Rasulullah SAW, dan mulai gemetar saking kagumnya sama Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW pun bilang, “Santai aja mas. Aku bukan raja. Aku hanyalah seorang laki-laki yang ibundanya makan daging kering. Maksudnya, wanita miskin (Sunan Ibnu Majah Vol. 4, Hadits 3312).

Tentang delegasi, kisah Mu’adz bin Jabal saat Rasulullah SAW mengirimkannya ke Yaman adalah sebuah contoh kepemimpinan Islam yang baik. 

● Keterampilan keempat adalah membangun hubungan yang kuat dengan 

  1. senyum yang tulus, 
  2. mengakui kesalahan karena berbuat kesalahan atau karena telah mengabaikan orang lain, 
  3. self abnegation atau pengabaian diri, dan 
  4. bank emosional.

Hubungan emosi antara pemimpin dengan yang dipimpinnya adalah seperti rekening bank. Saldonya naik bersama dengan kata-kata yang baik dan ramah. Saldonya turun akibat kata-kata yang kasar dan melukai hati.

 

Atribut keempat adalah control. 

Pemimpin yang pintar mengendalikan, termasuk mengendalikan dirinya sendiri, yang memiliki kepribadian yang kuat, terus mencari kebenaran dan memegangnya erat-erat saat dia menemukannya. Kontrol yang kuat membantu pemimpin untuk tetap fokus dalam keadaan krisis atau situasi yang sulit bahkan jika sang pemimpin ditinggal sendirian. Untuk memiliki kontrol yang kuat, sang pemimpin harus mengikuti empat aturan utama.

● Aturan pertama: awareness. Mengetahui rincian pekerjaan saat diperlukan. Memiliki pengalaman dan pemahaman yang mendalam. Pengetahuan adalah kekuatan. 

● Aturan kedua: good management., yang meliputi kemampuan untuk 

  1. menetapkan sistem reward dan punishment yang adil, 
  2. meletakkan kepentingan tim di atas kepentingan diri sendiri, 
  3. fokus pada tujuan, senantiasa mengingatkan umat/pengikut tentang visi dan sasaran yang akan dicapai, 
  4. memiliki keteguhan hati, tetap tabah dan melangkah maju saat badai melanda, 
  5. tidak lemah atau cenderung mudah diatur oleh pengikutnya, 
  6. merencanakan dengan baik, memiliki strategi yang jelas dan rinci, seperti saat Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah.

● Aturan ketiga: guiding, yang meliputi 

  1. syura atau konsultasi, membangun kader yang mampu berpikir kritis, melakukan analisis dan berdiskusi, sehingga tidak hanya Rasulullah SAW yang mampu memengaruhi, tapi juga para sahabat, dengan kepribadian yang kuat, 
  2. kemampuan untuk membangun rasa percaya (building trust) diantara para sahabat, 
  3. firmness atau keteguhan hati dalam konteks membantu orang lain supaya menjauh dari sikap tak teratur atau sikap tak bertanggung jawab, 
  4. keadilan atau justice yang dapat kita pelajari dari kisah Sawwad yang terkena tongkat Rasulullah SAW saat beliau SAW menertibkan barisan dan menuntut balas, 
  5. mengembalikan ke jalan yang benar secara bertahap, terutama jika umat/pengikutnya harus mengubah kebiasaan yang salah yang sudah berlangsung lama, 
  6. mendahulukan investigasi sebelum bereaksi.

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS Al-Hujurat, 49:6)

 

● Aturan keempat: pengaruh yang kuat untuk membolehkan apa yang tampaknya tidak boleh, atau sebaliknya, melarang sesuatu yang tampaknya boleh. Contoh yang pernah diceritakan oleh Ustadz Nouman tentang seseorang yang masuk Islam dan menyatakan hanya sanggup shalat dua waktu, adalah contoh yang baik terkait hal ini. 

 

Atribut kelima adalah understanding followers. 

Seorang pemimpin harus memahami orang-orang yang dipimpinnya. Tidak memberi label “baik” atau “buruk” kepada seseorang. Setiap orang memiliki potensi tak terlihat yang harus ditemukan dan digunakan secara tepat. Rasulullah SAW tahu persis sahabat-sahabatnya sampai ke hal-hal yang detail. Tahu kekuatan dan kompetensinya. Dan secara tepat mengalokasikan kekuatan dan kompetensi yang berbeda-beda itu untuk kemaslahatan komunitas muslim. 

Prinsip-prinsip dasar untuk memahami umat/pengikut adalah: hidup dan berinteraksi dengan mereka, memahami kapabilitas masing-masing dan menggunakannya secara tepat, menaruh perhatian dengan penuh empati, mampu memprediksi reaksi yang akan muncul dan menanganinya secara tepat, memenuhi kebutuhan dan hasrat mereka, memotivasi mereka untuk menunjukkan kompetensi dan kapabilitas mereka. 

 

Ditulis oleh: Heru Wibowo

Sumber:

Bayyinah TV > Quran > Surahs > Concise Commentary > 2 Surahs 21-40 > 13 Al-Ahzab > 02. Al-Ahzab (Ayah 19-27) > Ayah 21
Bayyinah TV > Quran > Surahs > Concise Commentary > 01. Al-Ahzab (Ayah 1-18) – A Concise Commentary
Buku “The Great Story of Muhammad” karya DR. Ahmad Hatta, MA.
“Exploring the Islamic Principles on

Leadership”, master thesis dari Mohammad Alabed, Chalmers University of Technology, Sweden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s