[LBP2020] Tiada hari tanpa petunjukNya


Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-1

Topik: Last Ayahs of Fatiha (to be continued with Juz Amma)

Senin, 22 Juni 2020

Materi LBP Hari ke-1 Pagi | Tiada hari tanpa petunjukNya

Assalaamu ‘alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Bismillaah walhamdulillaah washshalaatu wassalaamu ‘alaa rasuulillaah.

Terdapat di banyak tempat di Al-Qur’an di mana Allah menyebut kata Rabb dan guidance secara berdampingan. (26:62)(37:99)(6:161)

Secara definisi, yang namanya hamba (slave) itu butuh petunjuk (guidance). Dari mana? Dari Rabb-nya (from his Master). 

Mungkinkah, masuk akalkah jika ada yang mengatakan bahwa petunjuk itu sebenarnya tidak ada? Tidak mungkin. Karena Rabb itu ada. Dan hamba, seperti kita-kita ini, terbukti ada. Hamba terhubung dengan Rabb melalui petunjuk-Nya. 

Ihdinaa akar katanya adalah هدى. Noun form-nya adalah hudan (هُدًى) atau hidaayah (هِدَايَة). Artinya, petunjuk atau guidance

Sebagian berpendapat bahwa hudan (هُدًى) juga berhubungan dengan hadyan (هَدْىً) atau hadiah (gift). Jika kita mengamati dua jenis manusia: yang satu tersesat (lost), dan yang satunya lagi mendapat petunjuk (guided), maka akan teramati, ada kontras diantara keduanya.

Untuk orang Arab, tersesatnya di mana? Di gurun. Saat tersesat di gurun, hadiah apa yang paling penting? Apakah air? Bukan. Bukan air. Tapi petunjuk. Dapat air, tapi kalo masih berputar-putar di gurun, enggak ada artinya juga. Jadi petunjuk adalah hadiah yang lebih berharga. Hadiah yang lebih bermakna. 

Kita bisa melakukan refleksi. Bertanya pada diri sendiri: sudah berapa lama kita hidup tanpa petunjuk? Sudah berapa lama kita hidup tersesat? Mungkinkah kita tersesat tanpa sadar? 

“Aku tidak ingin melewatkan satu hari pun dalam hidupku, tanpa petunjuk. Tiada hari tanpa petunjuk.” Pernahkah kita menancapkan tekad seperti itu?

Ditulis oleh: Heru Wibowo

Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-1 Pagi | Tiada hari tanpa petunjukNya

Heru: 

Apa yang rekan-rekan rasakan saat mengucapkan kata ihdinaa di dalam shalat?

Kata ihdinaa kan bukan “beri aku petunjuk”, tapi “beri kami petunjuk”. 

Terasa beda gak sih mengucapkan kata ihdinaa saat shalat sendirian dengan saat shalat berjamaah di masjid?

Wening:

Saya mbayangin suami dan anak-anak saya saat mengucapkan itu…

Nadia:

Kalo saya sering ngerasa kayak gak ada daya upaya🥺

Bella:

Kalau kata Ihdina secara bahasa kurang tahu.

Tapi keinget pernah nonton video pendek Ustaz Nouman, doa yang pasti dikabulkan itu doa meminta petunjuk.

People are stuck, you’re stuck, I’m stuck. In some situations, we don’t see a way out. Those difficult situations are actually Allah’s way of giving us the most valuable gift we can ever earn. His way of guarding our hearts. If we can just use those situations to find Allah in those situations. To talk to Allah in those situations, and you don’t have to know Arabic to do that. You don’t have to know a lot of the Quran to do that. You just turn to Allah, and you say,

“Ya Allah, YOU’re the best planner,

Ya Allah, nobody loves me like YOU do, nobody cares me like YOU do.

I know this situation is the best for me, guide me, I need YOUR guidance.”

There’s no way that you will turn to Allah and you are really asking Him for guidance and He will turn you away.

You’ll ask Allah for a car, He may not give you. You can ask Allah for a house, He may not give you. You might ask Allah to cure your disease, He might not. Maybe He will, maybe He won’t. Cause He knows what’s better for you.

But one thing guaranteed He will give you when you ask Him sincerely is His Guidance.

-Nouman Ali Khan

Wisti:

Saat mengucapkan ihdinaa, saya merasa, ngobrol langsung dengan Allah, Allah sedang menyimak saya.

Saya juga merasa, takut karena pasti saya hilang arah (gak bisa balik ke Allah dengan keadaan baik) kalau tanpa Allah kasih hidayah ke saya. 

Tapi di lain sisi, saya juga sangat gembira, karena Allah masih membuat saya mampu mengucapkan kata itu, yang mungkin itu artinya Allah memilih saya untuk menjadi hambaNya yang Dia senantiasa beri hidayah.

Karizmarindu:

“Jangan ngebiarin saya lepas dari petunjukMu ya, wahai Allah”. Gitu pak rasanya

Medayu:

Partikel naa disini kan menunjukkan pronoun kami ya pak Heru, waktu dalam kelas tafsir dengan Ustadha Taimiyyah Zubair kemarin jadi kesentil karena sebenarnya kita minta guidance itu bukan cuma buat diri sendiri tapi juga buat orang tua atau keluarga. 

Pun ketika sholat berdua sama ibu (karena bapak ke masjid) itu kayak bilang ke Allah, “Ini ya Allah aku beribadah berdua sama ibuku, please guide us”. Dan possibilitynya lebih besar buat dapat guidancenya karena juga berdoa untuk banyak orang. Itu yang saya rasakan pak Heru 🙏🏼

Heru:

Mantap 👍🏻

At the same time, ketika kita berada dalam situasi sedang shalat munfarid, misalnya, kita tidak bisa lepas dari merasakan bahwa “Ya Allah, saat ini memang sepertinya aku shalat sendirian, tapi bersama aku saat ini, sedang shalat pula mushalliin yang lain di tempatnya masing-masing, berilah “kami” petunjuk ….” 🙏🏻

Anisa:

Beda banget sih.. kalo saya, lebih ngejleb pas sholat sendiri. soalnya inget keluarga, temen-temen, apalagi kalo abis ada yang curhat punya masalah 😔

Musyafa:

Bahwa berjuang mendapatkan petunjuk perlu dilakukan bersama-sama ya?

Heru:

Menarik ini. Yang saya maksudkan/tanyakan lebih ke “merasakan” petunjuk.

But it’s okay that we enrich the discussion to “mendapatkan” petunjuk.

Kalo untuk “mendapatkan” petunjuk harus bersama-sama, bagaimana dengan Nabi Adam (ini contoh yang hidup di zaman old), dan bagaimana pula dengan Robert Davila (ini salah satu contoh yang hidup di zaman now)? Btw, bahkan Rasulullah pun, beliau SAW bukannya harus “menyendiri” di gua ya, untuk “mendapatkan” petunjuk?

Ike:

Apa petunjuk baru diberikan Allah kalau kita bersama-sama membentuk jamaah terlebih dahulu lalu memohon pertolongan Allah?

Heru:

Berjuang untuk “mendapatkan” petunjuk is a personal thing. 

Tapi “merasakan” petunjuk bisa personal, bisa jamaah 🙏🏻

Ike:

Berarti maksudnya “merasakan” petunjuk secara jamaah ini contohnya saat sholat berjamaah dan imam beserta makmumnya sama-sama tersentuh sama ayat yang dibacanya, misal jadi nangis berjamaah gitu ya pak? 

Tapi kalau contoh lain selain shalat, misal diadakan kajian, dan materi kajian yang sedang membahas Al-Qur’an atau hadits membuat tersentuh hati baik pembicaranya atau jamaahnya.. ini sama juga pak?

Heru:

Allah knows best, tapi menurut saya, bisa. Sangat bisa.

Tapi tidak ada yang bisa memastikan, karena ini urusan hati, dan hati orang kita tidak tahu.

Ketika selepas kajian tadi, misalnya malamnya dia berdiri qiyamullail, renungan selama kajian masih membekas di hatinya, maka hati yang lembut itu mampu menggerakkan air mata mengalir di pipinya.

That’s why Ustadz Nouman bilang, the practical gauge of it is, on how much you are moved in your prayer. How much you’re moved in your du’a. How much you actually converse with Allah ‘azza wajall.

Saya tidak tahu, ini imajinasi yang bisa salah total, kalau saja Abu Bakar RA hidup di zaman now, mungkin beliau Radhiyallahu Anhu ganti masker at least lima kali sehari karena selalu basah oleh air mata setiap kali shalat.

Ike:

Saya menangkapnya jadi ibadah yang menggerakkan hati ya pak? 

Dan menggerakkan hati ini saya memahaminya bukan terbatas sampai menangis saja, namun juga menggerakkan hati untuk bersungguh-sungguh berjuang memperbaiki kekurangan diri baik dari segi ilmu, amal atau akhlak? 

Apa pemahaman saya benar pak? 🙏

Heru:

Menurut saya, iya. Maksudnya, yang seperti ini sudah berada di jalur yang tepat.

Rizka:

Iyaa setuju dengan ini Pak Heru , waktu itu aku juga sempat mendengar kajian Ust. Nouman saat membahas QS. Al Hadid,

Di kajian tsb ust. Nouman menjelaskan bahwa pembelajaran yang kita lakukan dengan Al-Qur’an misalkan belajar tajwid, tafsir, bahasa Arab, menghafalkan ayat Al-Qur’an, termasuk kajian Al-Qur’an, dsb adalah agar kita bisa lebih baik dalam melaksanakan shalat. Ustadz Nouman menyampaikan bahwa hubungan sesungguhnya Al-Qur’an dengan beliau adalah ketika Beliau berdiri dalam shalat dan membacanya

Kenapa shalat merupakan hubungan yang sebenarnya antara kita dan Al-Qur’an?

Karena ketika kita shalat kita berhenti berbicara dengan orang lain dan kita mulai berbicara kepada Allah swt. Saat shalat kita sedang berinteraksi dengan Allah dan kita berbicara kepada Allah menggunakan kata-kata yang Allah ajarkan (Al-Qur’an). 

Mohon koreksi jika ada yang salah.

Nisrina:

Pada saat berdoa, kadang saya merasa ada yang salah dengan kalimat saya ketika meminta Allah memberi kemenangan kepada ummat Islam, saya pikir lagi, pasti Allah akan berikan kemenangan. Islam ini adalah agama yang sesuai dengan fithroh, saya berpikir berarti yang terpenting adalah hidayah. Gimana sikap kita melihat kondisi seperti ini, dan bagaimana supaya bisa melakukan sesuatu. Alhamdulillah dengan pembahasan di sini, disampaikan tentang tinjauan makro dan mikro, tentang prasyarat mempelajari Al-Qur’an, dll.

Materi LBP Hari ke-1 Siang | Having Knowledge vs. Having Guidance

Sebenarnya enggak cuma ini. Punya pengetahuan dan dapat petunjuk, adalah dua hal yang beda. Tapi enggak cuma ini. Masih ada satu lagi: being muslim vs. having guidance. Menjadi seorang muslim dan mendapatkan petunjuk, itu juga dua hal yang beda.

Kita bisa ilmunya banyak, tapi nggak dapat petunjuk. Kita bisa menjadi muslim, tapi tidak mendapatkan petunjuk. Because guidance is actually not one act. Mengucapkan dua kalimat syahadat, bukannya itu berarti mendapatkan petunjuk? 

When somebody took the shahada (syahadah), they took their first guided act. 

Saat mengucapkan syahadat, iya, itu adalah sebuah aksi yang merefleksikan perolehan petunjuk. Tapi setelah itu? Kita tidak tahu. 

Every moment, we need to make a series of decisions. Perjuangan untuk mendapatkan petunjuk adalah perjuangan setiap waktu. Setiap keputusan yang kita ambil, bisa benar, bisa salah. Dan di setiap keputusan itu, kita perlu petunjuk. Tapi kita belum tentu berkonsultasi dengan Allah di setiap pengambilan keputusan itu. 

Pilihan-pilihan yang harus buat setiap hari, setiap menit, setiap jam, adalah pilihan-pilihan yang bisa berbasis petunjuk-Nya, atau tidak sama sekali. Tidak setiap kita bersungguh-sungguh untuk meraih petunjuk-Nya. 

Dan kita bisa terlihat religius. Tampak luarnya. Kita bisa mengenakan hijab. Berjenggot panjang. Membaca Al-Qur’an secara sempurna dan merdu mempesona. Punya pengetahuan tingkat dewa soal fiqh, syari’ah dan semua cabang ilmu agama lainnya. 

Kita bisa bicara di depan ribuan massa dan mereka mencatat kata-kata kita, berpikir bahwa mereka akan mendapatkan petunjuk dari apa yang kita katakan. Tapi itu tidak berarti kita punya petunjuk. Allah yang paling tahu siapa diantara kita yang mendapatkan petunjuk-Nya. Tidak ada satu titik di mana kita bisa bilang secara lantang, “Akhirnya oh akhirnya. Akhirnya aku telah mendapatkan hidayah.” Guidance bukanlah sesuatu yang bersifat permanen. Usaha untuk meraih guidance itu lah yang seharusnya permanen. 

Islam, ya, kita punya itu. Saat kita bangun tidur, lalu ada yang tanya, “You punya Islam?” Kita bisa bilang, “Alhamdulillah, aku seorang muslim.” 

Pengetahuan, kita bisa simpan. Kita belajar sesuatu, kemarin, dan pelajaran itu masih tersimpan hari ini. Pengetahuan juga bisa kita tingkatkan. Tapi guidance? Bisa datang dan pergi. Bisa Allah kasih, bisa Allah cabut. Ketika kita berhenti bersyukur, hidayah bisa dicabut. 

Bagaimana kita mengenali hidayah Allah? Kita bisa mengalaminya dengan mengamati seberapa terkoneksi perasaan hati kita ke Allah dalam shalat. 

Kan kadang-kadang terjadi, Imamnya lempeng aja. Makmum di sebelah Anda terisak-isak. Atau sebaliknya. Imamnya harus pause dulu sejenak, tidak bisa melanjutkan bacaannya, karena luapan perasaan hatinya ke Allah, tak terbendung. Sementara makmum di sebelah Anda setelah shalat malah merasa “terganggu”. Atau bisa juga terjadi resonansi, makmumnya ikut nangis saat imamnya nangis. 

The practical gauge for it is, on how much you are moved in your prayer. How much you’re moved in your dua. How much you actually converse with Allah ‘azza wajall. 

Kadang kita shalat tapi seakan-akan Allah sedang berada entah di mana, karena pikiran kita juga melayang tak tentu rimbanya. Tapi ketika memperjuangkan hidayah itu secara tulus, shalat kita jadi sebentuk percakapan di mana kita benar-benar ngobrol sama Allah. Setiap kata yang terucap menjadi bermakna.

Ditulis oleh: Heru Wibowo

Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-1 Siang | Having Knowledge vs. Having Guidance

Hafni:

I can’t agree more. MashaAllah.

wa man yu’min billah yahdi qalbah. QS 64 (11).

The word ‘ihdina’ has the same root as ‘yahdi’ and ‘hudan’.

In his video Light up Your Heart Ustadz NAK explains that ‘light’ is equivalent to ‘hudan’.

Iman dan hudan itu adanya pada hati/qalb.

Sedangkan sifat hati itu bolak balik. 

Makanya kita selalu berdoa, “Ya Maqaliba alqulub, tsabbit qalbi.”

Heru:

Di beberapa kali kesempatan, Ustadz Nouman mengemukakan visi beliau untuk melihat umat bisa menangis saat shalat. Orang kafir Quraisy aja menangis mendengar bacaan Al-Qur’an. Sehingga beliau menyebut situasi ini adalah ‘tragedi’ umat, karena “Alhamdulillah aku bukan kafir, tapi aku tidak menangis saat shalat.”

Dan di beberapa kesempatan seperti ketika berbicara di depan para aktivis atau volunteer MSA, beliau juga suka menekankan bahwa “the ultimate goal“-nya bukan semua event sukses terselenggara, tapi ketika panitia itu berdiri menghadap-Nya dan meneteskan air mata. Again, ini hanya salah satu “gauge” saja. Artinya, kalo ada yang tidak pernah menangis dalam shalat, tidak bisa kita klaim bahwa dia tidak pernah dapat hidayah. Belum tentu juga. Allah knows best.

Dulu guru tahsin saya pernah cerita. Suatu kali saat beliau menyimak bacaan Al-Qur’an dari muridnya yang masih SD, anak itu meneteskan air mata. Beliau terkesan. Lalu bertanya, apa yang membuatnya menangis.

Ternyata dia capek. Ingin istirahat. Tapi karena jadwalnya belajar tahsin, orang tuanya memaksanya. Dia kesel sama orang tuanya yang memaksanya. Makanya nangis. Hehehe. So, kita juga harus teliti lagi konteksnya.

Santi:

Saya menangkapnya, ibadah yang sangat mengharap ridho dari Allah. Ibadah yang benar-benar dari hati yang paling dalam. Koreksi kalo saya salah🙏🏽

Heru:

Yes. Ada mahabbah, ada khawf, ada raja’. Semuanya bercampur jadi satu. Sama itu, bacaan Qur’annya  kayak “nyetrum” gitu. Bacaan yang indah dengan tajwid yang sempurna, bagus. In syaa Allah lebih bagus lagi kalau kita yang mendengarnya “kesetrum”.


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team – Lessons from Bayyinah’s Production

2 thoughts on “[LBP2020] Tiada hari tanpa petunjukNya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s