[LBP2020] Gelombang Keterkejutan dalam Surat Al-Baqarah


Lessons from Bayyinah’s Production (LBP) Hari ke-2

Topik: Pearls of Al-Baqarah

Selasa, 23 Juni 2020

Materi LBP Hari ke-2 Pagi | Gelombang Keterkejutan dalam Surat Al-Baqarah

Astaghfirullaah.
Subhanallaah.
Walhamdulillaah.
Walaa-ilaaha-illallaah.
Wallaahu akbar.
Walaa hawlaa walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim.
A’uudzubillaahi minasysyaithaanirrajiim.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
In syaa Allaah kita akan mulai hari ini sesuai dengan jadwal Distribution of Material.
Hari ini hari Selasa, berarti kita akan memulai pembahasan Pearls from Al-Baqarah.

Kali ini Ustadz Nouman menyebut prosesnya sebagai proses yang “kreatif”. Bukan kasih intro di awal Al-Baqarah. Tapi intronya langsung menyusup masuk di ayat yang dibahas.

Al-Baqarah adalah surah terbesar di Qur’an. Al-Baqarah adalah Madani Surah. Diturunkan setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Di paruh akhir misi Rasulullah SAW. Sekitar 30-35 persen dari Qur’an. Mayoritasnya, yang 65-70 persen, sudah turun duluan di Makkah.

Punya style yang unik. Ayatnya cenderung lebih panjang. Temanya sedikit berbeda.

Saat Rasulullah SAW menerima Al-Qur’an di Makkah, beliau SAW adalah bagian dari kaum minoritas. Kaum tertindas. Sehingga ayat-ayat Makkiyah banyak diawali dengan “yaa ayyuhannaas” (wahai manusia). Atau “yaa ‘ibadii” (wahai hamba-Ku). Atau, Allah bicara secara tidak langsung seperti misalnya “qul yaa ayyuhal kaafiruun”. Atau “qul lilladziina kafaruu” (bilang ke mereka yang enggak beriman). Tapi kita tidak menemukan “yaa ayyuhalladziina aamanuu” (hai orang-orang yang beriman).

Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, terbentuk komunitas baru. Meski masih ada riak-riak ketegangan antara Makkah-Madinah, tapi setidaknya situasi di Madinah sendiri aman terkendali. Ada perjanjian dengan komunitas Yahudi dan Kristen. Beberapa dari mereka bahkan sudah masuk Islam. Meski anggota keluarga mereka masih memeluk Yahudi dan Kristen.

Ketiga komunitas ini – Yahudi, Kristen, dan Muslim – hidup bersama dalam ikatan perjanjian. Bersatu mempertahankan Madinah. Di situasi ini, salah satu surah yang paling awal turun adalah Al-Baqarah.

Tapi Makkah enggak happy melihat Madinah yang damai. Kafir Quraisy Makkah tidak sabar untuk memerangi Madinah. Sekitar satu setengah tahun kemudian terjadilah Perang Badar. Perang besar pertama dalam Islam. Beberapa ayat di surah Al-Baqarah berkaitan dengan persiapan mental untuk Perang Badar. Di satu setengah hingga 2 tahun pertama setelah hijrah. Tapi ada juga ayat dari surah ini yang turunnya belakangan. Di akhir kepemimpinan Rasulullah SAW. Jadi surah ini turunnya benar-benar berangsur-angsur. Selama beberapa tahun.

Dan tidak semua ayat di surah ini turun di Madinah (Madani). Dan tidak juga di Makkah (Makki). Madani adalah jika ayat itu turun dari langit ke Madinah. Makki jika turun dari langit ke Makkah. Tapi dua ayat terakhir Al-Baqarah tidak dua-duanya. Rasulullah SAW menjemput dua ayat itu di ketinggian singgasana-Nya. Saat Mi’raj. Jadi dua ayat ini fiturnya spesial. Kualitasnya pun unik.

Orang Arab mengenal perkataan ini, “Bicaralah dengan orang dengan memperhatikan tingkat pemahamannya. Memperhatikan latar belakangnya.” Bicara dengan anak kecil, beda dengan kalo kita bicara dengan remaja, beda dengan kalo kita bicara dengan orang dewasa. Bicara dengan muslim, beda dengan kalo kita bicara dengan non muslim. They are different audiences.

Audiens Madinah itu beda. Karena mereka punya latar belakang ahli kitab. Mereka juga mendengarkan Al-Qur’an. Jadi Al-Qur’an tidak hanya dibacakan kepada kaum muslim. Sekarang, kalo saya baca Al-Qur’an, orang-orang enggak paham itu maksudnya apa. Tapi dulu, ketika Al-Qur’an dibacakan, orang-orang langsung paham. Entah muslim atau bukan, mereka paham. Seperti radio broadcast saja.

Jadi beda dengan penduduk Makkah karena mereka tidak punya latar belakang terkait turunnya ayat suci. Mereka adalah orang musyrikun. Mereka menyembah berhala. Mereka telah melupakan agama Ibrahim dan Ismail AS. Ribuan tahun berselang.

Mereka masih berkurban. Tapi mereka lupa mengapa mereka berkurban. Mereka memelihara Ka’bah. Tapi mereka lupa untuk apa tujuan Ka’bah itu. Gagasan tentang akhirat, tentang turunnya ayat, mereka sudah lupa semua itu. Madinah tidak seperti itu. Audiens-nya beda.

Muslim punya khutbah Jumat. Kristen punya ibadahnya sendiri. Yahudi punya Sabbath di synagoge. Mereka mendengar khutbah, seperti umat Islam mendengar khutbah. Di khutbah itu, pemimpin mereka adalah “ulama” versi mereka. Tapi Al-Qur’an menyebut mereka Al-Ahbar. Bukan Ulama. Al-Ahbar berasal dari kata hibr, yang berarti tinta. Artinya, orang-orang ini banyak membaca dan banyak menulis. Sampai-sampai jari-jari mereka terlihat seperti selalu tercelup di dalam tinta.

Bandingkan dengan Baginda Nabi SAW. Al-Qur’an sendiri bilang An-Nabi Al-Ummi. Artinya, buta huruf (unlettered). Kata ummi berasal dari umm. Artinya pendidikan formalnya adalah seperti bayi yang baru keluar dari kandungan sang ummi. Tapi Rasulullah SAW mengajarkan agama ini. Padahal orang-orang yang mengajar agama di Madinah adalah “ulama”. Yang belajar dari “ulama”, yang juga belajar dari “ulama”. Entah itu “ulama” Yahudi atau Kristen.

Luar biasanya, Rasulullah yang bukan “ulama”, yang nampaknya tidak belajar dari “ulama” atau “ulamanya ulama”, beliau SAW tidak sekadar mengajarkan agama, tapi juga kasih komen terhadap agama yang lain. Karena Al-Qur’an punya komen tentang Yahudi. Dan Al-Qur’an juga punya komen tentang Kristen. Dalam posisi, sang komentator, Rasulullah SAW, dipandang tidak punya latar belakang “ulama” sama sekali.

Kata “ummii” yang Allah bilang “huwalladzii ba’atsa fil ummiyyiina rasuulan minhum”. Beliau SAW adalah dia yang dipilih diantara “ummiyyiin”. The unlettered people. Diantara orang-orang yang buta huruf. Dan ini jelas dari sejarah kerasulan beliau SAW, yang Allah tugaskan untuk “dinas” ke Makkah dulu, sebelum ke Madinah. Menjadi seorang rasul diantara mereka yang buta huruf tadi.

Sehingga muncullah penghinaan itu. “What?! Dia?! Dia itu ngajar? Kok bisa ya? Baca aja enggak bisa. Nulis enggak ngerti caranya. Mau ngajar apa coba?!”

Kenapa Ustadz Nouman perlu menjelaskan latar belakang ini? Karena kata pertama yang meluncur adalah alif lam mim. Tiga huruf. Satu-satunya alasan kenapa orang bisa mengenal huruf adalah karena orang itu sudah belajar membaca. Dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, sama saja.

Contoh: mobil atau car atau sayyaarah. Yang tidak pernah belajar membaca, tidak akan bisa mengeja em-o-be-i-el. Yang tidak pernah belajar membaca, tidak akan bisa mengeja si-ei-ar. Yang tidak pernah belajar membaca tidak akan pernah bisa mengeja sin-ya-alif-ra-ta(marbuthah).

Yang tak pernah masuk bangku sekolah, ini maksudnya juga tidak pernah ikut homeschooling sama sekali atau apapun, dia hanya akan bengong kalo mendengar a, b, c, d, e, f, g dan seterusnya. By the way “bengong” menurut KBBI adalah termenung (terdiam) seperti kehilangan akal. Yang tak pernah belajar, huruf-huruf a, b, c, d, e, f, g tidak punya arti. Bukan tidak kenal ya, karena kan ada lagunya. Jadi mereka mungkin saja ikut-ikutan temannya menyanyikan lagu a, b, c, d, e, f, g dan seterusnya. Nyanyi doang. Tapi enggak ngerti maksudnya.

Alhamdulillah ya, kita itu melek huruf. Bersyukur lho kita, bisa melek huruf. Allah bikin kita melek huruf aja sebenarnya sudah luar biasa, apakah kita menyadarinya? Untuk bisa melek huruf, kita harus belajar mengeja. Untuk bisa belajar mengeja, kita harus belajar menulis dan membaca. Jadi melek huruf adalah indikator bahwa kita sudah lulus belajar menulis, membaca, dan mengeja.

Rasulullah SAW tidak pernah punya akses untuk belajar menulis, membaca, dan mengeja. Maka ketika beliau SAW bilang alif lam mim, itu sesuatu banget, itu kejutan banget. Ustadz Nouman bilang, it sends shockwaves to the community. Masyarakat Madinah, khususnya yang sudah punya “tradisi ulama” tadi, baik Kristen maupun Yahudi, terkejut-kejut. Atau, mengalami “gelombang keterkejutan”.

Diskusi dan Tanggapan LBP Hari ke-2 Pagi | Gelombang Keterkejutan dalam Surat Al-Baqarah

Sulvya:

Assalamualaykum Mas, mohon maaf ijin bertanya.. apakah diperkenankan jika saya share lagi tulisan inspiring yang telah dibagikan di group ini? Tentunya dengan disertai kredit. Terima kasih sebelumnya.

Heru:

Wa ‘alaykum salaam. Silakan.

Ahmad:

Alhamdulillah 🙏🙏
Afwan ustadz, berarti sambungan ini selasa depan lagi ya?

Heru:

ان شاء الله

Nina:

MasyaAllah 😭😭 shock wave. 🙏🙏🙏

Indira:

Masya Allah … TabarakAllah … Paragrap 16 dan 23. Terbaik 👍👍

Andi:

Alhamdulillaah.
Grup seperti ini, sejauh ini, mirip dengan sarang tawon.
Ini tips makan sarang tawon.
Kunyah dan isep-isep, telan madunya, ampasnya disingkirkan dan semoga berguna untuk makhluk lain.
Yang coba saya lakukan:
1. Pakai jatah waktu yang tetap, misal _gak boleh lebih dari 10 menit sehari untuk baca perkembangan grup_. Disiplin yaaa 😁
2. Bintangin yang wow. Scan n skim aja lainnya.
3. Akhiri 10 menit itu dengan clear all. Kecuali starred message.
Wis. Gitu aja…. 😄
Wallaahu a’lam”

Vivin:

Alhamdulilah rezeki bisa bergabung di grup ketiga. Semoga menjadi amal jariyah unt bpk dan tim🤲🏻

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya. 🤲 Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Lessons from Bayyinah’s Production

3 thoughts on “[LBP2020] Gelombang Keterkejutan dalam Surat Al-Baqarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s