[BMW2020] An Excellent Example | Part 2


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

Rasulullah sebagai Uswah

Perbedaan kata Teladan dan Uswah

Ustadz Nouman pernah punya ide brilian. Setiap bangsa punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. So, setiap bangsa seharusnya bisa belajar dari bangsa lain untuk memperbaiki kekurangannya. Apa yang masih kurang bagus dari sebuah bangsa, bisa dipelajari dari bangsa lain yang lebih bagus. Tentunya, dalam hal-hal tertentu. 

Setiap bangsa bisa belajar dari Perancis, misalnya, yang rendah tingkat kematiannya akibat penyakit jantung (low heart disease mortality). Atau belajar dari Vietnam, negara dengan tingkat obesitas paling rendah di dunia (lowest obesity rate in the world). Atau belajar dari Finlandia, negara di peringkat atas World Happiness Report 2020. 

Dalam konteks individu, masing-masing dari kita juga berhak untuk merasa haus akan continuous improvement. Ingin supaya diri ini menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Belajar dari individu-individu yang lebih baik dari diri kita. Dan melakukan perbaikan itu perlu benchmark. Perlu contoh, dari individu yang sudah baik. Dari individu yang pantas diteladani. Dan contoh terbaik itu sudah ada. Contoh yang unggul (excellent example) itu adalah Muhammad Rasulullah SAW.

Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanah. (33:21) 

No doubt about it, in the messenger of Allah SAW and especially in the messenger of Allah, there has always been a great model for you. 

Rasulullah SAW adalah model terbaik untuk kita.

Tentang uswatun atau uswah, kata mu-aasaat dalam Bahasa Arab berarti to have compassion and feeling for one another. Memiliki kasih sayang, welas asih, dan perasaan satu sama lain. Rasulullah SAW bisa merasakan apa yang dirasakan para sahabat. Dan para sahabat bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Rasulullah SAW.

Masih terkait uswatun atau uswah, kata aasii juga digunakan dalam Bahasa Arab untuk dokter yang merawat luka atau membantu persalinan atau menghentikan pendarahan. Intinya, seseorang yang sangat perhatian dan peduli dengan Anda. Uswah bukan sekadar role model. Manusia biasa seperti kita bisa menjadi role model dalam hal-hal tertentu, tapi tidak bisa menjadi uswah.

Dalam Bahasa Arab, selain uswah, dikenal juga kata qudwah, yang sangat mirip dengan uswah. Tapi uswah itu beda dan sangat spesial karena uswah setidaknya memiliki komponen-komponen ini: semangat atau gairah untuk berbuat baik (passion), welas asih (mercy), kesopanan (courtesy), kepedulian seperti perawat terbaik yang merawat pasiennya (taking care).

Kata qudwah (qaf, dal, waw, ha) ada di kamus, tapi tidak ada di Al-Qur’an. Artinya adalah contoh, model, atau teladan. Kata uswah juga ada di kamus. Artinya juga sama: contoh, model, atau teladan. Allah SWT telah memilih kata uswah untuk diabadikan di Al-Qur’an. Pasti kata uswah mengandung mukjizat atau keistimewaan, dibandingkan kata qudwah. 

Apakah hanya Rasulullah SAW yang telah Allah tetapkan bahwa di dalam dirinya terdapat uswatun hasanah? Terdapat tiga tempat di Al-Qur’an di mana uswatun hasanah disebutkan.

  1. QS Al-Ahzab, 3:21
  2. QS Al-Mumtahanah, 60:4
  3. QS Al-Mumtahanah, 60:6

Yang pertama, merujuk kepada Rasulullah SAW. Yang kedua dan ketiga, merujuk kepada Nabi Ibrahim AS dan para pengikutnya.

Rasulullah SAW telah, dan selalu, menjadi uswatun hasanah yang peduli sama kita. Beliau mengkhawatirkan kita. Beliau SAW memiliki passion, concern, dan consideration yang menunjukkan bahwa beliau SAW bukan hanya seorang jenderal perang, tapi juga merangkap seorang prajurit yang terjun langsung di medan pertempuran sambil memberikan instruksi. Beliau sendiri SAW berada di tengah-tengah umatnya. He is struggling himself. Beliau SAW sendiri turut berlelah-lelah dan berpayah-payah berjuang.

Sungguh tidak sopan pihak yang menuduh bahwa Rasulullah SAW menginginkan penguasaan duniawi dari setiap peperangan dengan menimbun harta rampasan perang untuk diri Rasulullah sendiri, shallallaahu ‘alayhi wasallam, na’uudzubillaahi semoga kita tidak dijauhkan dari perbuatan tidak menghormati Rasulullah seperti itu. 

Rasulullah tidak mungkin seperti itu. Bahkan dengan keluarganya sendiri pun, beliau SAW tidak pernah memanjakan keluarga beliau sendiri. Seperti saat suatu hari Fatimah RA, putri beliau sendiri, putri yang sangat dekat dengan beliau SAW, datang, dan menunjukkan tangannya yang melepuh (blistered). Karena digunakan membuat roti. Itu pun sebenarnya Fatimah awalnya malu untuk datang dan meminta Rasulullah. 

Dan Rasulullah tidak punya apa-apa. Maka Rasulullah hanya “memberi” Fatimah dengan subhaanallaah 33 kali, alhamdulillaah 33 kali, dan allaahu akbar 34 kali. “Just take that home with you.” Rasulullah meminta Fatimah untuk membawa pulang kalimah-kalimah thayyibah tadi.

Subhaanallaah. Bisakah kita bayangkan betapa sulitnya hal itu untuk seorang ayah? Ini lah yang dialami Nabi SAW. Untuk anak-anak beliau sendiri. Sudah begitu masih dituduh menyimpan rampasan perang lagi. 

Urusan dunia, urusan akhirat, sama saja. Tidak ada korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Seperti yang tercermin di salah satu hadits yang menurut Ustadz Nouman termasuk salah satu yang paling keras. 

Yaa Faathimaatu binta Muhammadin (Ahmad 702, Ahmad 8372, Tirmidzi 3109). “I won’t be able to help you against Allah, at all.” The messenger of Allah, doesn’t even have, he says, doesn’t even have connection to help his own daughter. You better have your own taqwa, then I can help you. You don’t have your own taqwa, I can’t help you. I won’t have the authority. Li amliku laki minallaahi syay-aa. “Aku tidak mampu menolong kalian sedikitpun dari Allah.” (Nasa’i 3588) 

Subhaanallaah. That messenger is a great role model. In every sirah conference, every sirah program, convention. Hampir di setiap kegiatan Islam yang membahas sirah, ayat ini dibaca. 

The Prophet is the best role model for you. Meski mungkin banyak orang yang hafal ayat ini, tidak semuanya tahu ayat itu ada di surah apa.

Ayat ke-21 dari surah ke-33 ini hadir di tengah-tengah ujian yang paling sulit. Dan di saat-saat setiap orang sedang berpikir untuk meninggalkan Islam. Karena, “jika mereka menemukan atau mendapati kita adalah muslim, mereka akan membunuh kita!” Di titik itu lah Allah bilang, Rasulullah SAW adalah contoh terbaik untuk umatnya.

Rasulullah SAW berjuang untuk Islam dan bersedia untuk mempertaruhkan segalanya. Beliau SAW mengajarkan kepada kita, sebagai sebuah umat, bahwa kita harus berani berkorban. Kita punya misi untuk disampaikan (we have a mission to deliver). Kita memiliki pesan untuk disampaikan kepada umat manusia (we have a message to be delivered to humanity). Itu tanggung jawab kita semua.

Kita juga tidak bisa hanya mengambil satu contoh dari Rasulullah SAW, mengamalkannya sebagai sunnah Beliau SAW, tapi mengabaikan sunnah-sunnah lainnya yang luar biasa. Kullu hizbin bimaa ladayhim farihuun. Tidak bisa kita mengambil hanya sepotong dari kehidupan Rasulullah SAW, lalu setiap golongan yang hanya mengambil sepotong itu, merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (30:32)

Kita seharusnya mengambil keseluruhan contoh Rasulullah SAW, bukan potongan-potongannya saja.

Uswah untuk Siapa?

Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatun. Liman kaana yarjullaaha wal yawmal aakhira wadzakarallaaha katsiiran. (33:21) For anyone who was hopeful for Allah. If you are hopeful for more riches, jika Anda berharap untuk lebih banyak kekayaan. Victories, kemenangan. Wealth coming your way, kekayaan yang kau tunggu-tunggu datang kepadamu. That’s something else. Itu adalah sesuatu yang lain. Itu bukan yang diajarkan Rasulullah SAW.

Tapi orang yang berharap untuk berjumpa dengan Allah. Maka tidak akan ditemukan seorang pemimpin dengan welas asih (compassionate leader) yang lebih baik dari Rasulullah SAW.

Wal yawmal aakhira. Dan hari akhir. Wadzakarallaaha katsiiran. Dan seseorang yang banyak menyebut Allah. Akan menemukan the best role model pada diri Rasulullah SAW.

Beliau SAW bahkan mengajarkan how to remember Allah properly. 

Di titik ini penulis berpikir tentang an excellent example tapi yang female version. Kira-kira ada ga ya, wanita atau wanita-wanita yang ditetapkan sebagai wanita teladan? Ternyata ada empat, seperti dinarasikan di hadits Ahmad 11942. Empat wanita teladan itu adalah Maryam, Khadijah, Fatimah, dan ‘Asiah. Mungkin menarik untuk dipelajari secara terpisah, kira-kira kualitas apa yang bisa ditiru dari keempat wanita mulia itu. 

Bagaimana dengan uswatun hasanah untuk Nabi Ibrahim AS dan pengikutnya (walladziina ma’ahuu atau those with him di ayat 4 dan fiihim atau in them di ayat 6) yang ada di QS Al-Mumtahanah, 60:4 dan QS Al-Mumtahanah, 60:6? Dari Concise Commentary, tidak ada special remark ataupun pembahasan yang lebih dalam (namanya juga bukan Deeper Look) kecuali pernyataan bahwa, selain punya musuh (para pembuat dan penyembah berhala), ternyata Nabi Ibrahim AS juga punya pengikut. Yang, tentu tidak mudah menjadi anti-mainstream di zaman itu, zaman masyarakat menyembah berhala di mana-mana. 

Konteks Uswatun Hasanah Al-Ahzab 21 dari Sirah Nabawiyyah

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, masyarakat Madinah terbagi menjadi beberapa kelompok:

  1. Penduduk Makkah yang telah memeluk Islam dan hijrah bersama Rasulullah SAW (Muhajirin).
  2. Kaum yang menolong dan menyambut hijrahnya Rasulullah yang mayoritas terdiri dari Bani Khazraj dan Bani ‘Aus. Militansi kesukuan yang sempit telah berganti menjadi ikatan iman dan islam dalam ukhuwwan islaamiyyah (Anshar).
  3. Sekelompok orang Yahudi yang bertetangga dengan kaum muslim di Madinah. Hidup damai dengan kaum muslim dan saling menolong meski tetap ada karakter jahat dan ingin membunuh Rasulullah SAW (Bani Nadhir).
  4. Kaum Yahudi pertama yang mengkhianati Piagam Madinah dengan menggoda seorang wanita Arab yang datang ke tempat perdagangan Yahudi hingga tersingkap auratnya (Bani Qainuqa’).
  5. Komunitas Yahudi yang seharusnya membela dan mempertahankan kota Madinah dari serangan koalisi orang kafir (pasukan Ahzab) tapi justru membantu mereka (Bani Quraizhah).

Kedamaian sedang menyelimuti Madinah. Kaum muslim tenang hidupnya. Hidup tenang tanpa perang yang selalu menyita stamina dan pikiran. 

Tapi situasi ini bikin iri orang Yahudi. Khususnya yang terusir dari Madinah di Perang Bani Nadhir. Pemimpin dan pemuka Yahudi Bani Nadhir (YBN) mendatangi kaum Quraisy di Makkah. Mengajak menyerang Nabi SAW. Quraisy menyambut gembira. 

Tidak cukup sampai di situ. Gerombolan YBN juga mengajak orang-orang Ghathafaan. Disambut baik juga. Maka jadilah koalisi itu: YBN, Quraisy dan Ghathafaan alias pasukan Ahzab. Mereka sepakat akan bertemu di waktu yang ditentukan. Meeting point atau titik kumpulnya adalah di pinggiran Madinah.

Konspirasi mereka akhirnya terdengar oleh Rasulullah SAW yang segera mengumpulkan para sahabat untuk sebuah rapat darurat. Dalam musyawarah itu, ada peserta rapat yang jago strategi perang. Dia mengusulkan, karena Madinah akan diserang dari luar, dilakukan penggalian parit di sekeliling kota untuk membendung serangan itu. Dia adalah Salman al-Farisi. Usulan ini disetujui oleh Rasulullah SAW. 

Jadi, disepakati untuk menggali parit, bertahan di dalam kota. Anak-anak, wanita, dan orang-orang jompo, diungsikan, dicarikan tempat yang aman. Penggalian parit dilakukan beregu. Satu regu 10 orang dengan “jatah” menggali 40 hasta. Rasulullah SAW juga ikut menggali parit. Penggalian berlangsung beberapa hari di bawah teriknya sengatan matahari. 

Tidak ada fried chicken. Kalau lapar, makannya gandum sepenuh telapak tangan yang dicampur dengan lemak. Jangankan untuk kita di Indonesia dan di zaman ini. Untuk mereka yang menggali parit di zaman itu pun, makanan itu sangat sulit masuk ke kerongkongan.

Rasa lapar sudah pasti mendera. Para sahabat menunjukkan satu batu yang sengaja dipasang untuk mengganjal perut mereka. Kepada Rasulullah SAW. Maksudnya, sahabat mau curcol. Tapi Rasulullah SAW gantian menunjukkan apa yang mengganjal perut beliau SAW. Bukan satu, tapi dua buah batu. 

Menggali parit itu butuh energi banyak. Apalagi di tanah yang tidak lunak. Sama sekali tidak lunak karena yang sedang kita bicarakan adalah batu. Dan benar-benar kejadian. Saat itu Jaabir dan beberapa sahabat yang lain menjumpai sebongkah batu yang sangat keras. Lalu Rasulullah SAW memukulnya dengan cangkul. Hingga bongkahan batu itu hancur. Berkeping-keping dan menjadi pasir (Hatta, 2011, hal. 355).

Penggalian parit adalah bagian dari persiapan kaum muslim. Yang dipersiapkan harus dua-duanya: fisik dan mental. Jangan sampai fisik kelelahan. Jangan sampai mental down. Apalagi ketika perang makin dekat. Suasana Madinah makin mencekam. 

Berapa banyak sih, kekuatan musuh yang akan dihadapi Madinah? Sepuluh ribu orang. Semuanya berkumpul di pinggiran kota Madinah. Mereka bukan turis. Mereka bukan penonton sebuah konser musik. Mereka bukan jamaah umrah. Mereka adalah pasukan yang siap berperang. Mereka adalah ancaman yang besar dan sangat menakutkan. Situasi yang mencekam itu dilukiskan di Al-Ahzab, 33:10-11. 

 

اِذْ جَاۤءُوْكُمْ مِّنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ اَسْفَلَ مِنْكُمْ وَاِذْ زَاغَتِ الْاَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوْبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ الظُّنُوْنَا۠ ۗ

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. (33:10)

 

هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَزُلْزِلُوْا زِلْزَالًا شَدِيْدًا

Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat. (33:11)

 

Apakah hati orang-orang mukmin terguncang? Apakah mental orang-orang mukmin jadi lemah? Apakah nyali orang-orang mukmin jadi ciut? Jawabannya ada di ayat ke-22, yang in syaa Allah akan dibahas lebih jauh nanti. Allah telah memantapkan hati kaum mukmin.

 

وَلَمَّا رَاَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْاَحْزَابَۙ قَالُوْا هٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَصَدَقَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ ۖوَمَا زَادَهُمْ اِلَّآ اِيْمَانًا وَّتَسْلِيْمًاۗ

Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka. (33:22)

 

Oh ya, kalau di barisan musuh ada 10 ribu orang, prajurit muslim berapa banyak ya? Tidak ada sepertiganya. Hanya 3 ribu orang. Mereka bersiap siaga di sepanjang parit. Di bagian utara Madinah. Parit terhampar di depan mereka. Sementara di belakang mereka ada Gunung Sala’. Gunung yang dapat dijadikan sebagai pelindung. 

Pasukan musuh tidak menyangka kalau akan bertemu parit. Mereka geram. Apa yang bisa mereka lakukan? Mereka mencari-cari celah. Siapa tahu bisa menerobos masuk Madinah dari celah itu. Dan sesekali mereka melepaskan anak panah ke arah pasukan muslim. 

Mereka akhirnya terpaksa memutuskan untuk menyeberangi parit. Di siang hari. Sambil menunggu lengahnya kaum muslim. Yang ternyata di luar dugaan mereka. Karena kaum muslim pengawasannya super ketat. Tidak hanya ketat, tapi juga berlapis-lapis. Rasulullah SAW juga ikut mengawasi. Sampai-sampai Rasulullah SAW terlambat shalat ‘Ashar (Hatta, 2011, hal. 357).

Pasukan Muslim kalah jumlah. Terkepung dari segala penjuru. Kondisi makin kritis. Persediaan makanan dan minuman menipis. Tidak ada yang bisa belanja keluar. Rasulullah SAW dan penduduk Madinah terisolasi selama 24 hari. 

Makin lama makin kontras. Kondisi musuh makin kuat. Kondisi muslim makin lemah. Kondisi ini diperparah dengan penemuan sebuah celah yang mereka cari-cari selama ini. Musuh serasa mendapat angin. Beberapa orang musuh melesat dengan kudanya memanfaatkan celah tersebut. Ali bin Abi Thalib melihat gerakan mereka. Langsung menghadang mereka. Supaya tidak bisa memasuki Madinah. 

Waktu itu Ali bin Abi Thalib berusia 26 tahun. Keberaniannya luar biasa. Sempat Rasulullah SAW tawarkan diri beliau SAW untuk menghadapi penyusup celah itu tapi Ali tidak bergeming. Maka Rasulullah SAW memberikan pedang milik beliau SAW kepada Ali RA. Selanjutnya Rasulullah SAW memanjatkan doa untuk keselamatan Ali.

Yang dihadapi Ali RA adalah ‘Amr bin Abdu Wudd. Saat ‘Amr menggertaknya, Ali justru berkata dengan penuh percaya diri, “Aku berikan tiga pilihan untukmu. Pertama, ucapkanlah dua kalimat syahadat. Kedua, kembalilah ke negerimu dan jangan perangi kami lagi. Atau jika kamu tidak tertarik dengan kedua pilihan itu, masih ada pilihan ketiga: aku akan membunuhmu.”

Ini kalau dibikin film, bagus ya. Hadirin mungkin akan bertepuk tangan mendengar ucapan Ali yang penuh determinasi.

‘Amr naik pitam, turun dari kudanya, menghunus pedang berkilat bagai cahaya api. Pedang ini menggoreskan luka di kepala Ali. Tapi serangan itu dibalas Ali dengan tebasan yang mematikan. Tepat mengenai urat leher lawan duelnya. ‘Amr ternyata memilih opsi ketiga. Tubuhnya roboh ke tanah. Terhempas. Debu-debu beterbangan. Takbir bergema bersahutan.

Rasulullah SAW tidak perlu dikirimi pesan WhatsApp untuk mengetahui apa yang terjadi. Karena beliau mendengar teriakan “Allahu Akbar” bersahut-sahutan. Takbir demi takbir itu sudah cukup untuk membuat Rasulullah tahu bahwa Ali telah membunuh lawannya. Kematian ‘Amr di tangan Ali membuat pasukan Ahzab panik. Mereka ketakutan. Yang sudah ada di dalam parit, lari terbirit-birit. Sampai meninggalkan tombaknya. (Hatta, 2011, hal. 359)

Tapi pertempuran belum selesai. Pasukan Ahzab membujuk Bani Quraizhah. Saudara Yahudi mereka. Supaya mengkhianati kaum muslim. Dibujuk untuk melanggar perjanjian damai. Bani Quraizhah luluh. Termakan bujukan. 

Lagi-lagi Rasulullah SAW mendengar kabar pengkhianatan itu. Beliau menugaskan Zubair bin ‘Awwam untuk check and recheck. Untuk memastikan kebenaran berita itu. Dan ternyata berita itu benar. Padahal Bani Quraizhah ada di selatan Madinah. Sedangkan pasukan muslim sedang berada di bagian utara Madinah.

Maka Rasulullah SAW mengirimkan 500 prajurit untuk menjaga keluarga kaum muslim di bagian selatan Madinah (Hatta, 2011, hal. 360). Sementara itu, Bani Quraizhah berusaha merobek bagian belakang pertahanan kau muslim yang berisikan kaum wanita dan anak-anak. Namun usaha ini digagalkan oleh Shafiyyah binti ‘Abdul Muthalib, bibi Rasulullah SAW dan ibu dari Zubair bin ‘Awwam.

Kisah peperangan ini berakhir indah. Nu’aim bin Mas’ud dari Bani Ghathafaan, sahabat orang Quraisy dan Yahudi, datang di tengah malam mendekati Rasulullah SAW. Dengan pedang di tangan. Nu’aim mengucapkan dua kalimat syahadat. Dia telah masuk Islam. Tapi kaumnya tidak mengetahui tentang keislamannya. Nu’aim meminta maaf. Dan juga meminta instruksi untuk dilaksanakannya.

Usai bertemu Rasulullah SAW, Nu’aim mulai beraksi. Menemui Bani Quraizhah, temannya semasa jahiliyah. Meyakinkan mereka, bahwa mereka tidak memerlukan peperangan ini. Nu’aim juga menemui orang-orang Quraisy (Hatta, 2011, hal. 363). Nu’aim juga menemui orang-orang Ghathafaan. Singkat cerita, move dari Nu’aim ini membuat koalisi terpecah. Semangat mereka turun. Mereka saling curiga. 

Pada saat yang sama, Allah mengabulkan doa Rasulullah SAW dengan mengirimkan angin puyuh. Pasukan musuh kocar-kacir. Mereka meninggalkan Madinah. Di dalam kota Madinah, yang berhembus justru angin yang begitu lembut. Para sahabat melaksanakan shalat dengan tenang. Dan juga membaca Al-Qur’an. Suasana berubah menjadi suasana ibadah. Hingar-bingar peperangan tak lagi terdengar. 

Rasulullah SAW menugaskan Hudzaifah untuk menyelidiki keadaan musuh. Dan Rasulullah mewanti-wanti supaya Hudzaifah tidak melakukan tindakan apapun. Sampai-sampai ada kesempatan untuk membunuh Abu Sufyan, Hudzaifah teringat nasihat Rasulullah SAW. Itu terjadi saat Abu Sufyan mengajak pasukan untuk meninggalkan Madinah. Setelah ajakan itu, Abu Sufyan pun melangkah pergi, berjalan melewati Hudzaifah. Tapi Hudzaifah berhasil menahan diri. Pasukan pun mengikuti ajakan Abu Sufyan, meninggalkan Madinah.

Hudzaifah kembali ke Rasulullah SAW. Melaporkan semua yang diamatinya. Menceritakan semua yang terjadi. Rasulullah mengangkat kedua tangan beliau SAW. Berdoa untuk Hudzaifah. Dan malam itu Hudzaifah tidur di samping Rasulullah SAW (Hatta, 2011, hal. 365).

 

Ditulis oleh: Heru Wibowo

Sumber:

Bayyinah TV > Quran > Surahs > Concise Commentary > 2 Surahs 21-40 > 13 Al-Ahzab > 02. Al-Ahzab (Ayah 19-27) > Ayah 21
Bayyinah TV > Quran > Surahs > Concise Commentary > 01. Al-Ahzab (Ayah 1-18) – A Concise Commentary
Buku “The Great Story of Muhammad” karya DR. Ahmad Hatta, MA.
“Exploring the Islamic Principles on

Leadership”, master thesis dari Mohammad Alabed, Chalmers University of Technology, Sweden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s