Dokumentasi Pekan Keenam Matrikulasi NAK-ID Batch 3


Kisi-kisi Video Pekan Keenam

﷽‎ 

Materi pekan keenam ini datang dari kisah di masa Nabi Musa alaihissalam, dimana di masa itu ada seorang jendral yang berani berdiri untuk mengatakan kebenaran di depan pertemuan parlemen kerajaan dari seorang raja yang zalim. Tidak mudah untuk berbicara hal yang sangat bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku di tengah-tengah kerajaan, tetapi kalimat Allah-lah yang tertinggi.

Yang kita butuhkan adalah orang-orang beriman yang mengatakan kebenaran di tengah-tengah kebatilan. Bagi orang beriman, tidak diperlukan apapun, hanya perlu apa yang telah dimiliki untuk berdiri berkata benar. Tidak ada senjata apapun yang dibutuhkan untuk berkata benar selain lisan.

Di akhir khutbah, Ustaz Nouman merujuk akhir surat Ghafir bahwa mereka yang diam terhadap kemungkaran mendapat balasan yang sama dengan pelaku kemungkaran. Sebaliknya, mereka yang tegas mengatakan kebenaran, Allah akan lindungi dari segala bentuk kejahatan.


Referensi Video Pekan Keenam

Berani mengatakan kebenaran (25 menit)


QnA Diskusi Pekan Keenam

CARA MENYAMPAIKAN KEBENARAN

Q1. Ustaz Nouman mengatakan kalau kita belum paham betul kebenarannya, pelajari lagi. Bagaimana caranya menyampaikan kebenaran dengan jelas dan cerdas kalau semakin mempelajarinya justru semakin merasa tidak tahu apa-apa?

Answer: 

Merasa tidak tahu apa-apa coba dipahami merupakan kondisi “mengosongkan gelas” ketika menerima sesuatu dalam konteks untuk belajar meningkatkan keilmuan dimana dengan mengosongkan gelas ini kita siap menerima akan apa-apa yang kita terima sehingga ilmu-ilmu yang sebelumnya kita peroleh meski kita terima lagi ketika proses belajar kembali maka akan mendapatkan sesuatu yang baru dalam pemaknaan terhadap ilmu yang sama. Sehingga hal ini akan memperkaya pemahaman dan memberikan sudut pandang yang baru. 

Hal ini bisa kita simak kembali dari kisah Imam Ali bin Abi Thalib yang menjawab jawaban berlainan ketika ditantang untuk menjawab pertanyaan yang sama yakni mana yang lebih utama antara ilmu dan harta ketika yang ditanyakan oleh 10 orang khawarij. 

“Andai kata semua orang Khawarij bertanya kepadaku tentang pertanyaan di atas, maka akan aku jawab dengan masing-masing jawaban yang berlainan pula sepanjang hidupku.” ujar Imam Ali. 

Sehingga dengan konsep gelas kosong (merasa tidak tahu apa-apa) dalam menerima ilmu ini maka akan memperkaya khazanah wawasan (semakin tercerdaskan) dalam menjawab setiap pertanyaan sama yang ditanyakan oleh objek dakwah yang berbeda-beda.

Q2. Apakah ada adab tertentu yang harus diperhatikan dalam menyampaikan kebenaran?

Answer:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 125)

Ayat di atas merupakan salah satu surat yang mengajarkan tentang adab yang diajarkan untuk menyampaikan kebenaran. 

Poin-poin yang bisa didapatkan dalam surat ini diantaranya sbb:

  1. Penyampaian dengan hikmah, dimana hikmah disini maknanya bisa sangat luas
  • Hikmah adalah sebuah ungkapan tentang bagaimana menyelesaikan setiap masalah dengan ilmu yang benar.
  • Hikmah identik dengan fiqh dan pemahaman. 
  • Hikmah digunakan juga untuk berbagai makna, seperti as-Sunnah, akal, kebijaksanaan dan lain-lainnya. 
  • Hikmah juga bisa berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya dan mengerjakan sesuatu pada momentum yang tepat. 
  • Hikmah juga berarti menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah lain atau masalah yang lebih besar lagi merupakan bukti ketiadaan hikmah.

Adab hikmah ini salah satu output yang bisa dirasakan adalah objek dakwah yang merasa nyaman dengan kita. 

  1. Pengajaran yang baik (Mauizotin hasanah) 

Dalam konteks pengajaran ini bisa jadi ada beberapa objek dakwah yang tidak memiliki nalar berpikir dibanding yang menyeru, sehingga bi lisani kaumihi (bahasa kaum) sangat related dengan penggalan ayat ini, karena bahasa kaum ini bisa jadi menggunakan bahasa yang sama dengan objek dakwah sehingga mengerti apa yang kita sampaikan dan bisa jadi penyesuaian istilah-istilah sesuai dengan kemampuan dalam berfikirnya.

Contohnya istilah-istilah yang biasa digunakan dengan formal yang biasa digunakan untuk  profesi bisa jadi perlu disesuaikan dengan istilah gaul ketika objek dakwahnya anak-anak milenial. 

Output dari pengajaran ini biasanya berimbas pada berkesannya pada pemahaman yang disampaikan sehingga menempel ilmu-ilmunya. 

Contohnya bisa kita ambil hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan ayahnya. Ketika Nabi Ibrahim mau mengingatkan ayahnya yang pertama diucapkan adalah yaa abati. Adanya huruf “ta” artinya seperti “Dad, i love you…” bukan cuma “Dear, Father… ” 

  1. Debatlah dengan cara yang baik

Tentu saja debat merupakan opsi yang perlu dihindari namun di satu sisi untuk beberapa objek dakwah bisa jadi ketika penyampaian yang standar tidak akan masuk ke dalam dirinya sehingga diperlukan debat, namun di dalam surat ini ditekankan untuk mendebat dengan cara yang baik. 

Hal ini bisa dilakukan dengan  seolah-seolah setuju atas apa-apa yang dia pegang dengan kokoh kemudian dibelokkan secara halus ketika momennya pas tanpa ada amarah dan tanpa ada trauma ketika bertemu kita kembali.

Menurut Syekh Abdul Aziz bin Fathi as- Sayyid Nada dalam Ensiklopedi Adab Islam Menurut Al-Qur’an dan as-Sunah: 

  1. Meluruskan niat.
  2. Memiliki kompetensi dan kapasitas keilmuan yang mumpuni juga dengan wawasan kontemporer
  3. Memiliki kemampuan membaca situasi, kondisi dan kesiapan objek dakwah, metode, dan cara penyampaian dakwah. 

“Maka, berbicara lah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaaha [20] :44).

  1. Memperhatikan waktu dakwah.

Q3. Bagaimana kita sebagai seorang muslim mampu dengan tegas menyatakan sebuah kebenaran apalagi ketika kita berada dalam posisi yang lemah?

Answer:

Prinsipnya jangan pernah sendiri, berkelompoklah, kalau tidak ada, buat sendiri, ajak mulai dari lingkungan pergaulan terdekat/keluarga. 

Rasulullah Muhammad ﷺ ketika menyerukan kebenaran tidak sendiri tapi bersama para sahabatnya dengan menyambung tali silaturahim, eratkan ukhuwah, rapatkan shaf sesuai QS Al Ashr ayat 1-3.

Selain berkelompok, untuk menghadapi kezaliman kita tidak berhenti qiyamul lail dan meminta doa ibu. Sebelum menghadapi pertemuan apapun yang menjadi representasi perlawanan, selalu qiyamul lail pada malam harinya. Selain itu, apapun target yang dimiliki, selalu disampaikan kepada ibu untuk didoakan. 

Q4. Bagaimana cara agar kita bisa tetap konsisten menyuarakan kebenaran meskipun mendapat hujatan?

Answer:

Bisa diingat-ingat terus kisah Mukminu ali firaun, bahwa pada akhirnya “Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka.” (QS Ghafir: 45). 

Ini tipu dayanya malah sudah sampai akan dibunuh menurut menurut riwayat Ibnu Abbas. Yakini bahwa Allah juga akan memelihara kita dari hujatan yang kita terima.

Sambil pelan-pelan kita ubah sudut pandang tentang hujatan yang kita terima. Hujatan disebut hujatan karena rasanya tidak menyenangkan saat menerimanya. Kalau kita yakin betul bahwa apa yang kita katakan adalah kebenaran, coba kita anggap hujatan itu sebagai penghapusan dosa bagi kita. 

“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”. (HR. Muslim)

Hakikatnya kita perlu senantiasa menjaga cara pandang bahwa penilaian Allah lah yang terbaik dan penilaian manusia hanyalah hal semu semata, sehingga ketika berpegangan pada cara pandang ini maka setidaknya prasangka-prasangka buruk perihal ketakutan akan hujatan akan menghilang seiring dengan pengokohan hati untuk menyampaikan kebenaran. 

Seperti ayat dalam surat Ali Imran: 139 

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, kamulah orang-orang yang lebih tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

Q5. Bagaimana cara agar menjadi sosok pemberani dengan konsekuensi yang besar? Apakah ada doanya?

Answer:

Doa Nabi Musa bisa kita jadikan contoh bagaimana kita memohon kepada Allah sebelum menghadapi Fir’aun. 

Doanya terdapat dalam Surah Thaha ayat 25-28 dan sudah familiar di telinga kita.

(قَالَ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِی صَدۡرِی ۝  وَیَسِّرۡ لِیۤ أَمۡرِی ۝  وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةࣰ مِّن لِّسَانِی ۝  یَفۡقَهُوا۟ قَوۡلِ)

“Ya Rabb ku lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”

Ketika kita sudah menyuarakan kebenaran pun, dan kita diancam untuk tunduk, kita bisa mencontoh doa Nabi Yusuf, dalam QS Yusuf ayat 33

قَالَ رَبِّ ٱلسِّجۡنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِۖ وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ

Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.”

Sebenarnya ini kasusnya sudah yang berat hingga diancam dimasukkan ke dalam penjara tapi sebagai orang yang beriman Nabi Yusuf yakin dengan menghindari perbuatan keji dan mengejar kebenaran (pursuit of truth) hatinya menjadi tenang.

Belajar juga dari kisah ketika orang-orang beriman pasukan Thalut dan Nabi Daud muda (yang sudah berkurang jumlahnya akibat desersi), akan menghadapi pasukan Jalut (Goliath), yang lebih banyak, lebih besar, dan kuat. (QS. Al-Baqarah: 250-252)

Q6. Bagaimanakah caranya agar tetap teguh dan istiqomah untuk terus menyampaikan kebenaran?

Answer:

Selain surat Al-Ashr yang menjadi motivasi dalam dakwah agar tidak menjadi manusia yang merugi, ada hadis mengenai gambaran orang yang bangkrut di yaumul akhir kelak. 

Rasulullah bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca ini (seseorang), menuduh orang (berzina), memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. (Orang) ini diberi (amal) kebaikannya dan yang ini diberi dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Mengapa hadis ini bisa jadi motivasi, karena bisa jadi amal-amal yang dilakukan secara individual oleh kita sendiri akan habis di timbangan nanti atas setiap perbuatan yang lupa kita mintakan maafnya ke manusia yang pernah disakiti oleh kita sehingga kita membutuhkan amal dakwah yang akan menjadi amal jariyah yang pahalanya akan terus-terusan mengalir meski kita sudah tidak di dunia ini. 

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya (pahala) seperti orang yang melakukan (kebaikan itu).“ ( HR. At-Tirmizi, hadist Hasan Shahih) 

dan 

“Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu setelahnya dicontoh (orang lain), maka akan dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka yang mencontohnya. Dan barangsiapa mencontohkan perbuatan buruk, lalu perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, maka akan ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi mereka yang menirunya. (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah ra).

Yasmin Mogahed menyarankan doa:

Rabbana arinal haqqa haqqan warzuqnattiba’a wa arinal bathila bathilan warzuqnajtinabah

“Ya Tuhan kami, tunjukilah kami yang haq adalah haq dan berikan kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kami yang batil adalah batil dan berikan kami kekuatan untuk menjauhinya.”

Q7. Bagaimana cara Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan kebenaran dengan penyampaian yang dapat diterima agar pesannya dapat diterima? Apa saja tips-tips agar kita bisa menyuarakan kebenaran dengan berani dengan narasi yang menyejukkan?

Answer:

Semua tentang Rasul ﷺ selalu menyejukkan. Rasul ﷺ benar-benar menjaga kepercayaan orang-orang sehingga beliau masyhur dengan julukan Al-Amin. 

Di masa mudanya sering menghadiri Majlis para pemimpin Quraisy. Beliau pernah berdagang. Beliau juga menggembala hewan-hewan ternak dan pada kesempatan tersebut sering memanfaatkannya untuk tafakur. 

Pada masa kecilnya, beliau dibesarkan di kalangan Bani Sa’d yang lebih indah bahasanya dibandingkan dengan penduduk Mekah. Beliau pun merasakan menjadi seorang yatim yang kemudian menjadi piatu juga. 

Beliau bergaul dengan semua kalangan, dan ini memperkuat kemampuan empati beliau. Semua pengalaman beliau itu turut membentuk beliau menjadi pribadi agung yang bijak.

Yang bisa dirangkum dari sirah Rasulullah ﷺ adalah bahwa beliau:

  1. Memiliki kemampuan berbahasa yang baik
  2. Gemar tafakur
  3. Bergaul dengan banyak kalangan
  4. Memiliki kemampuan berempati yang tinggi
  5. Menjaga kepercayaan orang lain

Dengan segala kualitas yang beliau miliki, ketika beliau ﷺ menyampaikan kebenaran, mestinya orang-orang yang berpikir dapat menerimanya. Tapi kenyataannya tidak begitu. Banyak yang tidak bisa menerima apa yang beliau sampaikan. Bahkan dari kalangan orang-orang yang cerdas. Maka ini bukan berarti dakwah beliau narasinya kurang menyejukkan, tapi Allah lah yang membuka hati siapa saja yang Ia kehendaki. 

Sebagai tambahan, ayat-ayat makkiyah isinya kebanyakan adalah kisah. Mungkin bisa dicoba untuk menyampaikan kebenaran melalui kisah. Dari kisah, kita bisa menyampaikan kebenaran tanpa terkesan menggurui. Sambil terus memperbaiki akhlak kita agar kita mencerminkan apa yang kita sampaikan.

Q8. Bagaimana cara mengalahkan diri sendiri yang kadang lebih memilih diam daripada menyampaikan kebenaran karena rasa tidak enak dengan lawan bicara atau malas berdebat panjang?

Answer:

Pertanyaan ini terkadang sering terlintas dalam pikiran bagi diri pribadi, karena terasa zona nyaman ketika memilih untuk diam dibanding menyampaikan kebenaran ditambah prasangka-prasangka lain yang terlintas. 

Mencoba melakukan di awal adalah dengan memaksakan diri untuk mendobrak hal ini, karena bagaimanapun zona nyaman akan senantiasa membuat seseorang tidak akan pernah berkembang, apalagi yang dengan berdakwah, sebenarnya potensi diri berkembang yang dari awalnya sesuatu yang mustahil menjadi sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan serta mendobrak prasangka-prasangka di awal. 

Jadi kunci terpenting untuk bisa mengalahkan diri sendiri di awal adalah mau memaksakan diri dengan sungguh-sungguh untuk meninggalkan zona nyaman meski terasa berat di awal.

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

(QS. At-Taubah 9: Ayat 41)

Selain itu kita bisa selalu nanya ke dalam diri: apa yang akan terjadi kalau aku diam hari ini? kalau dengan diamnya aku keadaan bakal lebih baik, kebenaran bakal terungkap ya udah mendingan diam. Tapi dengan aku speak up bisa jadi jalan kebaikan buat orang, bisa jadi jalan buat kebenaran bisa terungkap. Kenapa gak? Mungkin dengan memberanikan diri (dobrak diri) dan mencoba bisa jadi jalan buat berani speak up

Ada salah satu artikel yang sempat menampar aku. Judulnya: Kezaliman terjadi karena diamnya orang-orang baik. 

“Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang baik.”

Tapi terkadang diam bisa jadi solusi. Masih di artikel yang sama ini penjelasannya

“Barangsiapa melihat kemungkaran maka ingkarilah dengan tangannya, jika tidak sanggup, maka dengan lisannya, jika tidak sanggup maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Ternyata tidak semua kemungkaran disikapi dengan 1 sikap, namun tergantung keadaan dan kemampuan, terkadang dengan tangan, terkadang dengan lisan dan terkadang hanya bisa dengan hati. 

Bahkan terkadang diam itu adalah sikap yang benar. Beliau bersabda:

من كان يؤمنُ باللهِ واليومِ الآخرِ فليقُلْ خيرًا أو ليصمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam” (HR. Bukhari-Muslim).

Jika melihat kemungkaran dan tidak mampu mengingkari dengan tangan dan tidak mampu berkata yang baik untuk menghilangkan atau mengurangi kemungkaran tersebut, maka diam adalah sikap yang benar. Ingkari dengan hati. Bahkan jika nekat mengingkari dengan lisan yang tidak baik, kemungkaran akan semakin menjadi.

Oleh karena ini beliau juga bersabda:

من صمَت نجا

“Yang diam, ia selamat” 

(HR. Tirmidzi, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Maksudnya diam dari berkata tanpa ilmu, berkata yang dusta, berkata yang menimbulkan mudarat lebih besar dari maslahatnya.

Q9. Bagaimana adab kita dalam menyampaikan kebenaran jika hal tersebut terkait dengan aib seseorang sementara Allah melarang kita membuka aib kita sendiri apalagi orang lain?

Answer:

Dalam menasehati tujuannya menyampaikan kebenaran. 

Hadits dari Tamim Ad Dariy radhiallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

الدين النصيحة قلنا : لمن ؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

“Agama adalah nasehat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 55)

Beberapa adab yang musti kita jaga adalah

  1. Nasehat Didasari Niat Ikhlas dan Kebaikan Bukan Menggurui atau Bermaksud Mempermalukan. 

Tertuang dalam hadist pertama dalam hadis arbain dari Umar bin Khathab radhiallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّما الأعْمالُ بالنِّيَّةِ، وإنَّما لِامْرِئٍ ما نَوَى، فمَن كانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللَّهِ ورَسولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إلى اللَّهِ ورَسولِهِ، ومَن هاجَرَ إلى دُنْيا يُصِيبُها أوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُها، فَهِجْرَتُهُ إلى ما هاجَرَ إلَيْهِ

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan seseorang mendapatkan ganjaran sesuai niatnya. Orang yang hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya maka ia mendapatkan ganjaran sebagai amalan hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya. Orang yang hijrah untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi wanita, maka hijrahnya sekedar yang untuk apa yang ia niatkan tersebut” (HR. Bukhari no. 6953).

  1. Menasehati dengan Cara yang Benar Sesuai Syariat. 

Hadits dari Abu Sa’id Al Khudhri radhiallahu’anhu, Nabi ﷺ memberikan tingkatan urutan dalam mengingkari kemungkaran. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده . فإن لم يستطع فبلسانه . فإن لم يستطع فبقلبه .وذلك أضعف الإيمان

“Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim, no.49).

  1. Gunakan Kata-Kata yang Baik. Sebagaimana yang Allah perintahkan kepada Nabi Musa dan Harun. 

Banyak dalil yang menyatakan dilarangnya membuka aib siapa pun, termasuk diri sendiri. Tapi, aib boleh dibuka dalam beberapa kondisi. Di antaranya untuk meminta pertolongan untuk menghentikan kemungkaran, atau menyelesaikan masalah. Dan berkaitan dengan adab. 

Berikut ini Hadist Rasulullah ,

“Barangsiapa ingin menasehati penguasa dengan sesuatu hal, maka janganlah tampakkan nasehat tersebut secara terang-terangan. Namun ambillah tangannya dan bicaralah empat mata dengannya. Jika nasehat diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak diterima, engkau telah menunaikan apa yang dituntut darimu” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani)

  1. Allah Ta’ala perintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam ketika akan memberi nasehat kepada Fir’aun, Allah berfirman: 

“Hendaknya kalian berdua ucapkan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan ingat atau takut kepada Allah” (QS. Thaha: 44).

  1. Tabayyun; Cross-Check Berita

Ini seperti yang di sampaikan Ust. NAK dalam videonya pahami dulu. Salah satunya adalah dengan memastikan kebenaran missal itu adalah berita. Terlebih di zaman 4.0 ini. Yang kadang ada di media itu tidak selalu benar. Maka wajib hukumnya mengkroscek sebelum menasehati.

  1. Jangan Memaksa Agar Nasehat Diterima

Ibnu Hazm Al Andalusi rahimahullah mengatakan:

وَلَا تنصح على شَرط الْقبُول مِنْك فَإِن تعديت هَذِه الْوُجُوه فَأَنت ظَالِم لَا نَاصح وطالب طَاعَة وَملك لَا مؤدي حق أَمَانَة وأخوة وَلَيْسَ هَذَا حكم الْعقل وَلَا حكم الصداقة لَكِن حكم الْأَمِير مَعَ رَعيته وَالسَّيِّد مَعَ عبيده

“Jangan engkau menasehati orang dengan mempersyaratkan harus diterima nasehat tersebut darimu, jika engkau melakukan perbuatan berlebihan yang demikian, maka engkau adalah ORANG YANG ZHALIM bukan orang yang menasehati. Engkau juga orang yang menuntut ketaatan bak seorang raja, bukan orang yang ingin menunaikan amanah kebenaran dan persaudaraan. Yang demikian juga bukanlah perlakuan orang berakal dan bukan perilaku kedermawanan, namun bagaikan perlakuan penguasa kepada rakyatnya atau majikan kepada budaknya” (Al Akhlaq was Siyar fi Mudawatin Nufus, 45).

Q10. Bagaimana jika kita berkata tentang suatu kebenaran tetapi akan mencelakai orang lain yang tidak ikut serta dalam tindakan kejahatan tersebut?

Answer:

Sesuatu yang sulit dilakukan atau dipikirkan, baiknya tetap dibawa dahulu dalam sajadah. Biar Allah yang akan selesaikan dengan caraNya. Kadang, tidak selalu harus kita sendiri yang maju untuk bertindak atau berkata, apalagi saat tidak tahu harus bagaimana. Kembalikan ke Allah, Biidznillah bisa saja Allah meminta kita yang menyelesaikan sendiri atau melalui orang lain, tapi sangat yakin, yang Allah izinkan terjadi pasti baik. Ada shalat hajat, ada istikharah, ada dzikrullah asmaul husna dan kalimat Allah lainnya yang bisa kita pakai untuk meminta petunjuk pada hal yang sulit kita pikirkan sendiri. Husnudzhon Allah akan selesaikan dengan cara terbaik menurutNya, lebih menenangkan hati.

KISAH PARA NABI TENTANG MENYAMPAIKAN KEBENARAN

Q11. Apakah “azab yang sangat buruk” yang dimaksud dalam video, setelah Fir’aun mengetahui bahwa Nabi Musa adalah orang yang beriman dan menyampaikan ajaran Allah?

Answer:

Menurut tafsir Ibnu Katsir, firman Allah سبحانه و تعالى  dalam surat Al-Mu’min ayat 45.

“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka.”

Yakni di dunia ini dan di akhirat. Adapun di dunia, Allah menyelamatkan­nya bersama Musa a.s.; dan di akhirat Allah menyelamatkannya (dan neraka) dengan dimasukkan ke dalam surga.

dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.* (Al-Mu’min: 45)

Yaitu dengan ditenggelamkan di laut, kemudian di akhirat dipindahkan darinya ke neraka Jahim, karena sesungguhnya arwah mereka di setiap pagi dan petang dihadapkan kepada neraka sampai hari kiamat nanti. Dan apabila hari kiamat telah terjadi, maka arwah mereka bergabung dengan jasadnya masing-masing di dalam neraka. 

Q12. Mukminu aali Firaun tidak langsung memberitahukan Firaun jika dia beriman kepada Nabi Musa tetapi mengatakannya saat rapat. Kapan waktu terbaik menyampaikan kebenaran?

Answer:

Kalau melihat situasi yang saat itu sedang berlangsung, beliau memilih bicara ketika forum mulai mengarah pada rencana pembunuhan Nabi Musa AS. Mu’minuu aali Fir’aun tau setelah rapat tersebut Nabi Musa akan dibunuh. Apabila Nabi Musa dibunuh, dinasti Fir’aun akan mengalami seperti yang dialami kaum Nuh, ‘Ad dan Tsamud. Jadi untuk menghindari mudharat yang lebih besar, ia menyampaikan seperti yang tercantum di surah Ghafir. 

Prinsip yang bisa ambil hikmahnya, menghindari mudharat itu lebih diutamakan dibanding manfaat. Dan ketika kita tahu kita bisa menghindari mudharat yang lebih besar, itulah saat yang tepat untuk mengatakan kebenaran.  

Dan jika kita mempelajari kembali bagaimana pola Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan kebenaran yang tentunya ada bimbingan dari Allah, dimana fase awal bersembunyi-sembunyi kemudian terang-terangan disana bisa diambil ibrahnya di setiap fase tersebut ada strategi dakwah yang digunakan melihat dari kekuatan massa yang Rasulullah ﷺ miliki dan situasi masyarakat quraisy yang menjadi objek dakwah sejalan dengan sifat Rasulullah ﷺ yang Fathanah, sehingga dalam menyampaikan kebenaran maka seorang da’i bisa menjadi dinamis menyesuaikan dengan momen, situasi dan strategi dakwah yang hendak digunakan kepada objek dakwah. 

Q13. Saya pernah mendengar cerita bahwa Rasulullah ﷺ pernah berbohong demi menyelamatkan seseorang. Apakah ada yang tahu mengenai cerita tersebut ?

Answer:

Hadis Rasulullah Muhammad ﷺ.

-صلى الله عليه وسلم- أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَقُولُ « لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا ». قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِى شَىْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ الْحَرْبُ وَالإِصْلاَحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا.

Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin ‘Abi Mu’aythin, ia di antara para wanita yang berhijrah pertama kali yang telah membaiat Nabi . Ia mengabarkan bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda, “Tidak disebut pembohong jika bertujuan untuk mendamaikan dia antara pihak yang berselisih di mana ia berkata yang baik atau mengatakan yang baik (demi mendamaikan pihak yang berselisih).”

Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara, “Peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).” (HR. Bukhari no. 2692 dan Muslim no. 2605, lafazh Muslim).

Namun yang dilakukan Nabi Muhammad ﷺ bukanlah berbohong, yang dimaksud tawriyah adalah menampakkan pada yang diajak bicara tidak sesuai kenyataan, namun dari satu sisi pernyataan yang diungkap itu benar. 

Saat itu Nabi ﷺ yang duduk di bawah sebuah pohon ditanya, apakah dia melihat seorang berlalu di dekatnya. “Sejak saya berdiri di sini, saya tak melihat siapa-siapa kecuali Anda,” jawab Rasulullah ﷺ yang menyambut si pembunuh dengan berdiri. Karena itu beliau tidak berbohong. Beliau adalah orang yang maksum. Yang Allah jaga dari dosa dan perbuatan tercela.

KONSEKUENSI TIDAK MENYAMPAIKAN KEBENARAN

Q14. Apakah orang yang diam namun mengingkari dalam hati akan masuk neraka?

Answer:

Masuk surga atau neraka itu hak prerogatif Allah سبحانه و تعالى . 

Berdasarkan Hadist Rasulullah riwayat Muslim, diam tapi mengingkari adalah selemah-lemah iman. Jadi yang terpenting adalah mengingkarinya. 

Nabi ﷺ bersabda.

 “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah/mencegah dengan tangannya (kekuasaannya). Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubah/mencegahnya dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka hendaklah ia merubah/mencegahnya dengan hatinya (yakni merasakan tidak senang dan tidak rela). Dan yang demikian itu adalah selemah-lemah Iman”.

Q15. Jika kita diam saja terhadap pemerintah yang diktator (nggak melawan) demi anak/keluarga kita selamat, tapi kita hanya mengingkari dalam hati (selemah-lemahnya iman), apakah ada konsekuensi dari perbuatan ini?

Answer:

Firaun digambarkan sebagai pemimpin diktator yang dzolim dan menentang bahkan menantang Allah. Mungkin nanti akan membuat timbangan amal menjadi berbeda. 

Buat orang-orang yang mengorbankan banyak hal untuk membenahi kemungkaran tentu timbangannya akan jauh berbeda dengan yang hanya diam saja.

“Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang).” (QS. Al Qori’ah 6-7)

Sepertinya akan selalu ada konsekuensi dari semua pilihan yang kita ambil, termasuk kalau kita mengingkari dalam hati saja. 

Konsekuensi terdekat di dunia, kezaliman pemerintah akan terus berjalan. Bisa jadi saat ini diri dan keluarga tidak terkena, tapi siapa yang jamin besok tidak akan terkena imbasnya juga? 

Dan lambat laun kezaliman itu bisa dianggap wajar karena tidak ada yang melawan. Kata ustaz Nouman, satu orang stand up bisa menghentikan penindasan.

Kewajibannya menjadi gugur bila tidak bertentangan dengan syariat Allah. Terlebih dalam case ini kan menghadapi pemerintah yang dzalim, dimana kita tidak diperbolehkan memberontak, kita diharuskan bersabar dalam menghadapi mereka, kita berusaha mengadakan perbaikan tapi tidak boleh mengadakan pemberontakan. Tetap kita taat kepada mereka dalam perkara-perkara yang ma’ruf, kalau perkara-perkara yang tidak ma’ruf maka tidak boleh taat. 

MENYAMPAIKAN KEBENARAN KEPADA PENGUASA

Q16. Akhir akhir ini banyak orang mengkritik pemerintah/pejabat melalui media sosial. Apakah hal tersebut diperbolehkan dalam rangka menyampaikan kebenaran?

Answer:

“Barangsiapa ingin menasehati penguasa dengan sesuatu hal, maka janganlah tampakkan nasehat tersebut secara terang-terangan. Namun ambillah tangannya dan bicaralah empat mata dengannya. Jika nasehat diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak diterima, engkau telah menunaikan apa yang dituntut darimu.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani)

Sesungguhnya menyampaikan pada pemerintah dewasa ini susah kalau kita tidak punya koneksi. Coba memberi surat satu-satu pejabat, barangkali ada yang mau membalas. Tapi kalaupun tidak direspon, boleh saja sepertinya menyampaikan lewat sosmed tentu dengan memperhatikan adab-adabnya juga.

Karena dari kisah Mukminu aali firaun, ustaz Nouman menyampaikan bahwa beberapa orang yang mendengarnya mulai memikirkan tentang kebenaran yang beliau katakan. Ini juga penting sebenarnya.

Harapannya kalau kita sampaikan melalui medsos, ada orang-orang lain yang juga membacanya. Mana tahu salah satu dari mereka, Allah jadikan jalan untuk menyampaikan pada yang bersangkutan.

Mungkin kasus yang paling mudah, kalau ada demo di depan gedung parlemen, biasanya akan ada perwakilan yang diajak masuk dan diskusi. Bisa memanfaatkan kesempatan tersebut. 

Seperti kisah Simon Kuznets yang saat great depression 1930 an membuat penelitian tentang GDP yang akhirnya hasil penelitiannya dipakai untuk memberi solusi pada pemerintah dan memulihkan kondisi negara-negara barat saat itu.

Jadi, untuk prakteknya di zaman sekarang, selain menulis surat, bisa dengan membuat suatu ide atau mekanisme yang solutif lalu diajukan secara resmi pada pemerintah. Sejalan dengan Ust. Nouman saat berkata tentang miliki ilmu tentang itu, lalu speak up.

Diperbolehkan asal didalamnya mengandung Aaspirasi/kritik/saran/komentar bisa dilakukan tanpa ujaran kebencian..

Aspirasi kebenaran bisa disampaikan dengan objektif, menggunakan data yang bisa dipertanggungjawabkan, data loh ya.. bukan asumsi/prasangka/dzon.. Ini yang jadi PR anak Indonesia dalam literasi, bukan ditarget bisa calistung di usia dini tapi harusnya paham konteks dari apa yang dibaca.. sehingga tidak banyak hoax yang beredar…

Kebenaran yang disampaikan juga dikemas agar tidak menyalahi undang-undang ITE, Al-Qur’an dan hadits.

Q17. Bagaimana cara menghadapi penguasa yang anti kritik jika berkata benar malah dianggap berseberangan dengan penguasa?

Answer:

Bahwa pemimpin yang kita pilih itu tidak terlepas dari bagaimana kondisi rakyatnya. Seperti apa pemimpin yang sedang berkuasa ya seperti itulah rakyatnya, tidak jauh berbeda. Maka ketika ternyata yang berkuasa pemimpin yang zalim, gak bisa dikritik dll.

Sarannya rakyat gak boleh banyak protes ke Allah atau sampai menjelekkan pemimpin. Tapi kita diminta perbanyak taubat dan istighfar dan doa pada Allah minta yang baik-baik, karena terpilihnya dia gak luput dari campur tangan kita.

Untuk kondisi seperti ini memang sulit tapi kita dituntut untuk sabar dan berikhtiar menyampaikan secara benar. Jangan sampai ikut mengkritik dengan cara orang jahiliyyah. 

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, Nabi bersabda,

“Barangsiapa membenci tindakan (kebijakan) yang ada pada penguasanya, hendaklah dia bersabar. Karena siapa saja yang keluar dari (ketaatan) terhadap penguasa (seakan-akan) sejengkal saja, maka dia akan mati sebagaimana matinya orang-orang jahiliyyah.” (HR. Bukhari no. 7053 dan Muslim no. 1849. Lafadz hadits ini milik Bukhari.)

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Q18. Bagaimana mengimplementasikan ayat ini dalam menghadapi pemerintahan di Indonesia?

Answer:

Kita jangan antipati terhadap politik. Mu’minuu aali fir’aun dari lingkaran dalam Fir’aun. Kadang, kalau yang mengingatkan dari dalam itu lebih mengena.

Kalau konteks zaman sekarang mengingatkan pemerintah dari luar saja, tapi berperan aktif memperbaiki pemerintah dari dalam juga perlu bukan hanya mengingatkan.

Nabi Musa pun inner circle firaun, jadi kesempatan berdialog dengan Firaun terbuka lebar. Walaupun ada kasus yang luar circle seperti Ashabul Kahfi dengan raja yang berkuasa saat itu.

Dan ashabul kahfi yang di highlight Allah adalah pe-mu-da nya. Jadi memang pemuda yang punya semangat mengingatkan dari luar circle pemerintahan.

Dalam Al-Qur’an ada contoh mengingatkan pemerintah dari luar dan dari dalam. Dua duanya bagus dan Allah memberi bantuan kemudian bisa diambil hikmahnya sampai Yaumil Akhir.

Ustaz Nouman meminta kita menyuarakan kebenaran..sebagai rakyat biasa pemerintah nggak bisa dengar langsung suara kita. Kalau ada yang salah pada pemerintahan tetap ikuti apa kata ulama yang benar, tetap jadi pribadi yang baik dan mendukung bahkan bisa ikut menyampaikan pesan kebaikan dari mereka yang punya power lebih besar supaya pemerintah bisa dengar.

Untuk menyampaikan kebenaran sebenarnya ada banyak cara, jika tak bisa dilakukan secara langsung melalui pihak yang berwenang dalam hal ini, maka bisa disampaikan melalui propaganda media (tentunya dengan cara yang baik dan benar). 

Jika masih tak bisa tetaplah berusaha dan bersabar, jangan sampai kita ikut kehilangan moral menghadapi kezaliman ataupun kebatilan yang terjadi.

CONTOH KASUS

Q19. Apakah dalam Islam, membunuh anak-anak secara non fisik (mental/psikologis) sama dengan membunuh secara fisik ? Bagaimana dengan genosida zaman modern (membuat kematian massal tanpa harus membuat tangan berlumuran darah secara langsung)? Misalnya di Suriah, karena perang bertahun-tahun, anak-anak mereka dianggap sebagai ‘lost generation’. Karena mereka tinggal di tenda-tenda, berpindah-pindah, serta tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Atau kebijakan embargo, atau juga percobaan kedokteran pada manusia di masa lalu dengan tahanan sebagai kelinci percobaan.

Answer:

Di dalam Islam syariat yang tidak boleh dilanggar ketika berperang salah satunya adalah tidak boleh membunuh anak-anak (dan bisa jadi termasuk ke ranah mentalnya) dan terkait dengan tawanan perang pun diperlakukan dengan sangat manusiawi layaknya bab ma’rifatunnas sehingga banyak yang tertarik untuk belajar islam dari sana. 

Sehingga jika ada hal-hal yang aneh seperti kondisi yang disebutkan pertanyaan perlu dikritisi apakah ada syariat yang dilanggar disana.

yoqotilu abna’akum wa yas tahyu na nisaakum” dalam konteks kisah firaun dan Musa, pada esensinya adalah upaya bangsa superpower (mesir firaun), mencoba mempertahankan hegemoninya atas bangsa yang terbelakang (ummat islam bani israil) dari segala potensi perlawanan ataupun kebangkitan di masa depan yang membahayakan.

Strateginya dengan melenyapkan potensi munculnya generasi pemimpin masa depan yang kuat, yang dapat memberontak/ menggulingkan kekuasaan firaun (disimbolkan dengan cara membunuh anak laki-laki), serta mengembangkan sebanyak-banyaknya generasi pemimpin masa depan yang lemah, yang menurut Firaun tidak akan memberontak/menggulingkan kekuasaannya (disimbolkan dengan cara membiarkan hidup anak perempuan).

Dalam konteks modern, bisa jadi tujuan yang dicapai bukan hanya dengan cara membunuh secara fisik saja yang bisa terlihat tapi bisa juga dengan cara yang tidak terlihat, seperti pembunuhan secara pemikiran, ekonomi, mental, kebudayaan, dll (bahkan dalam kasus khusus termasuk juga fisik). 

Teknis berbeda namun secara esensi sebenarnya adalah sama yakni melahirkan generasi yang lemah. Ini yang lebih berbahaya.

Pembunuhan secara psikologis dan mental lebih parah dari pembunuhan fisik, karena sejatinya anak-anak masih hidup tapi seperti sudah dianggap mati. Maka sama seperti dikubur hidup-hidup, mereka adalah orang tua yang tidak pernah mendengar kemauan anaknya..diktator terhadap anak. Mereka akan dimintai pertanggung jawaban atas perlakuannya yang semena-mena terhadap anaknya 

Dalam Islam apapun bentuk kezaliman, penganiayaan, dan pembunuhan tidak pernah dibenarkan. Jangankan pada manusia pada hewan saja tak dibolehkan dan tetap ada aturannya terkait tentang memanfaatkan hewan.

Membunuh manusia secara mental dan secara fisik langsung memang sama-sama menimbulkan dampak serius. Tapi meski begitu tetap ada perbedaan secara hukum syariahnya. Seperti antara pembunuhan (fisik) dan fitnah (mental), meski sama-sama parah efeknya tapi cara menyikapi dan mengadili tindakan fitnah tak sama dengan pembunuhan dalam syariat.

Tapi kedua perbuatan ini sama-sama tindakan kezaliman yang diharamkan agama.

Q20. Terjadi suatu kondisi dimana kita ‘terpaksa’ mengatakan hal yang tidak benar seperti melakukan manipulasi dalam pekerjaan, sementara kita dalam kondisi lemah dan atasan kita terancam tidak mendapatkan proyek kalau kita tidak melakukan manipulasi atau kemungkinan tidak dibayar oleh klien. Apakah kita berdosa telah membuat sesuatu yang tidak benar?

Answer:

Niat yang baik harus dilanjutkan dengan cara yang benar. Kalau dari kisah Ammar bin Yasir, beliau disiksa demikian rupa, dan pada akhirnya tidak sadar sempat memuja berhala, lalu beliau sangat menyesal. Kemudian Rasul ﷺ menenangkan beliau dengan surat An-Nahl ayat 106.

Semoga yang dimaksud ‘terpaksa’ di pertanyaan ini belum se-terpaksa Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, sehingga kita dimudahkan untuk tetap memilih yang haq.

Memang berat jika diuji dalam kondisi ini di satu sisi ada kebutuhan untuk memenuhi menyelesaikan proyek di sisi yang lain jika tidak menuruti kehendak klien maka proyek tidak dibayar klien. 

Sebelum menjawab bagaimana hukumnya yang perlu kita perlu amati lebih jauh setiap perbuatan yang memanipulasi akan ada kerugian bagi yang tidak mengetahui bahwa proyek tersebut dimanipulasi dan apalagi jika proyek tersebut skalanya sangat luas dan menyangkut khalayak umum maka akan menzalimi pihak yang banyak dan tentunya nanti hisabnya di yaumul akhirat membuat merinding karena dituntut oleh banyak orang dan kisah tentang orang-orang yang bangkrut nanti di yaumul akhirat bisa juga jadi pengingat. 

Sehingga sebaiknya hal tersebut sangat dihindari karena selain ada konsekuensi dosa kepada kita tapi juga akan menyangkut dengan amal sholeh kita yang akan dituntut/diminta oleh pihak yang merasakan kerugiannya di yaumul hisab kelak. 

Dan sebaiknya jika memang tetap diminta manipulasi tersebut oleh pihak klien sebaiknya disebutkan mudharatnya terhadap kepentingan banyak pihak dan tetap berdoa kepada Allah agar hati klien/atasan dilembutkan dan diberikan hidayah supaya tidak perlu melakukan manipulasi dalam pekerjaan. 

Q21. Bagaimana pandangan teman-teman terkait adanya perdebatan dalam lingkup sesama muslim (perdebatan terkait fiqih misalnya), sementara hal tersebut bisa jadi salah atau bisa jadi benar?

Answer:

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” 

Walaupun sebenarnya kita bisa menang dalam berdebat akan tetapi, bisa jadi dia menolak kebenaran karena gengsi kalah, padahal dia mengakui kebenaran telah datang. 

Terkadang dakwah ditolak bukan karena materinya yang salah atau orang yang menyampaikan, tetapi cara dakwah yang tidak dapat diterima. Salah satunya adalah dakwah dengan debat kusir yang tidak bermanfaat.

Imam Syafi’i, beliau berkata

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا إِلا عَلَى النَّصِيحَةِ

“Tidaklah aku mendebat seseorang melainkan dalam rangka memberi nasihat.”

Selama pemahaman fiqih tersebut tidak melanggar hukum syara dan memiliki dalil yang jelas tidak masalah berbeda, berbeda tidak harus salah dan benar. Jika sudah menyimpang baru diluruskan. Fokus kita pada mempersatukan umat, bukan pada hal yang cabang.

Hal tersebut sudah dicontohkan ulama-ulama terdahulu bagaimana legowonya antara satu dan yang lainnya dan bisa jadi tidak termasuk ke ranah yang tidak diperlukan perdebatan selama ada landasan yang bisa dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan kaidah ushul fiqihnya. 

Dan yang perlu dipertimbangkan adalah sebenarnya perbedaan fiqih adalah masalah furu (cabang) dan jangan sampai jika sudah terjadi perdebatan merusak hal yang pokoknya yakni ukhuwah antar sesama muslim karena hakikatnya perbedaan merupakan karunia yang Allah berikan untuk bisa lebih mengenal satu dan lainnya dan mengokohkan ukhuwah. Yang penting, ukhuwah tetap terjalin dan tauhid tetap tegak.

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, 

“Para sahabat dahulu biasa meninggalkan pendapat pribadi mereka, meskipun pendapat itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka meninggalkannya apabila hal itu menyebabkan tercerai-berainya persatuan. Lihatlah, bagaimana sikap Abdullah bin Mas’ud seorang sahabat yang mulia -semoga Allah meridhainya- tatkala Amirul Mukminin Utsman radhiyallahu’anhu menyempurnakan sholat (tidak mengqashar) di Mina. Padahal, Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berpendapat qashar di Mina. Meskipun demikian, apabila beliau sholat di belakang Utsman radhiyallahu’anhu maka beliau menyempurnakan (tidak qashar). Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, ‘Wahai putraku, perselisihan itu buruk.’ (HR. Bukhari dan Muslim).” (dinukil dari al-Ishbah, hal. 97). Lihatlah, bagaimana Ibnu Mas’ud mengalah dan mengikuti pendapat Amirul Mukminin demi mempertahankan kesatuan umat.

Perbedaan itu wajar, perbedaan juga menjadi rahmat apabila tidak berujung pada pertengkaran.

Apalagi dalam hal fiqih, kita mengenal ada empat imam. Belum lagi ijtihad-ijtihad di masa kini, “Barangsiapa berijtihad, dan ternyata ijtihadnya benar. Maka baginya dua pahala. Dan barangsiapa berijtihad, dan ternyata salah. Maka baginya tetap ada satu pahala” (HR. Bukhari)

Dalam Islam kita diperintahkan untuk meninggalkan dan menjauhi debat (terutama debat dalam hal yang tak bermanfaat) karena hanya akan menimbulkan perselisihan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.”

(Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138)

Islam lebih menganjurkan diskusi/musyawarah dalam memecahkan permasalahan dan menghargai perbedaan pendapat secara bijak. Terkadang orang tak mau terbuka menerima Hal yang benar karena ego semata, dakwah ditolak bukan karena materinya yang salah atau orang yang menyampaikan, tetapi cara dakwah yang tidak dapat diterima. Salah satunya adalah dakwah dengan debat kusir yang tidak bermanfaat.

Q22. Dalam menyebarkan agama Islam pastinya kita selalu mencoba menyampaikan kebenaran yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadits. Bagaimana kita menanggapi muslim yang tidak percaya dengan kebenaran itu dan berdalih dengan “Orang-orang jaman dulu semua menggunakan cara tersebut, kenapa sekarang gak boleh?”

Answer:

Approach yang hendak dilakukan dari pertanyaan ini adalah bagaimana mengingatkan objek dakwah akan suatu budaya yang tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan hadis. Dan ketika merespon demikian dari objek dakwahnya, dirinya saat ini belum menerima landasan landasan quran / hadis sebagai bentuk belum mau meninggalkan budaya tersebut. 

Sehingga approach yang mungkin tepat adalah tidak melalui pemberian pemahaman dalil dan hadis tetapi mungkin bisa didekati dengan pendekatan untung dan rugi atau logika dari sisi mudharatnya. 

Misalnya diajak untuk berpikir jika masih melakukan budaya tersebut kita bisa rugi secara waktu atau harta yang dikeluarkan tidak tepat guna dan ketika dirinya menyadari bahwa objek dakwah tersebut menyadari bahwa lebih banyak mudharat yang akan diterima ketika masih menjalankan budaya tersebut maka setelahnya baru bisa secara bertahap diberikan nasehat menggunakan landasan dalil yang cocok sesuai dengan kondisi dan situasi yang dinasehati.

Kita jawab sesuai pengetahuan kita dengan memperhatikan adab-adab menyampaikan kebenaran yang sebelumnya sudah pernah kita bahas.

Jika sudah menyampaikan dan mereka masih tetap dalam jalannya, tetap tenang saja, ada saatnya Allah membuka hatinya dan jangan lupa tugas kita untuk selalu mendoakan.

Dalam menyampaikan kebenaran/dakwah, hal-hal yang harus diperhatikan setidaknya ada dua hal yaitu memastikan kita cukup paham tentang kebenaran yang akan disampaikan, dan cara penyampaian yang tepat. Bisa jadi mereka menolak karena penyampaian yang kurang baik atau kurang dipahami oleh mereka. 

Kita harus mampu menjelaskan pada mereka alasan kenapa “tradisi belum tentu benar” dengan berbagai pendekatan dan perspektif, sehingga mereka bisa diajak untuk memikirkan kebenarannya. Jadi bagi para pendakwah kita perlu memiliki wawasan luas dan kaya perspektif untuk menjelaskan kebenaran tersebut, jangan hanya dari sudut pandang sempit saja.

TOPIK LAINNYA

Q23. Apa yang dimaksud Ust. NAK dengan integrity sebelum berbicara?

Answer:

Menurut cambridge dictionary, integrity adalah the quality of being honest and having strong moral principles that you refuse to change.

Mungkin ustaz ingin menyampaikan bahwa, tiap kali sebelum kita berbicara, pastikan bahwa kita jujur, menyampaikan kebenaran, dan memegang teguh prinsip Islam. Sebagai seorang muslim, kita berbicara atas dasar Al Qur’an dan sunnah.

Pendapat lainnya: – Integrity sebelum berbicara, artinya kita sendiri harus punya atau berpegang sama kebaikan itu sendiri sebelum kita sampaikan kepada orang lain. Jadi kita tidak hanya asal menyampaikan, selain harus paham makna tentang sesuatu yang mau disampaikan. Kita juga harus pegang prinsip kebaikan itu di diri kita pribadi.

Q24. Kejadian seperti apa yang membutuhkan kita untuk memperjuangkan kebenaran?

Answer:

Untuk memperjuangkan kebenaran tak harus menunggu hal-hal khusus dulu. Kita bisa memperjuangkan kebenaran di setiap apa yang kita lakukan apalagi jika melihat kebathilan dan kesalahan di depan mata. Mulai dari hal-hal sederhana hingga hal-hal besar kebenaran perlu diseru dan ditegakkan.

Kejadian yang memang kita paham bahwa disitu ada sesuatu yang tidak benar dan mungkin kita paham tentang hal itu dan bisa menyampaikan kebenaran dengan baik

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, 

“Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Ketika kita melihat kemungkaran maka itulah saatnya untuk kita memperjuangkan kebenaran.Yang dimaksud mungkar adalah segala istilah yang mencakup segala hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah. Kejadian apa saja yang sekiranya itu tidak benar dan bisa kita cegah dengan tindakan/berbicara menginfokan kebenaran. Kalau sekiranya kita kurang power, bisa dengan doa.

Ada sepuluh hal yang Allah sangat benci yang tidak seharusnya kita terjerat di dalam perangkapnya :

  1. Kikirnya orang-orang kaya
  2. Takabburnya orang-orang miskin
  3. Rakusnya para ulama
  4. Minimnya rasa malu para wanita
  5. Suka dunia orang-orang yang sudah tua renta
  6. Malasnya para pemuda
  7. Kejinya para penguasa
  8. Pengecutnya para tentara perang
  9. Ujubnya para zahid

Riya’nya para ahli ibadah: (https://www.eramuslim.com/oase-iman/Ustaz-samson-rahman-10-perkara-yang-allah-benci.htm)


Quotes Diskusi Pekan Keenam

Merasa tidak tahu apa-apa yang saya coba pahami di sini adalah merupakan kondisi “mengosongkan gelas” ketika menerima sesuatu dalam konteks untuk belajar meningkatkan keilmuan dimana dengan mengosongkan gelas ini kita siap menerima akan apa-apa yang kita terima sehingga ilmu-ilmu yang sebelumnya kita peroleh meski kita terima lagi ketika proses belajar kembali maka akan mendapatkan sesuatu yang baru dalam pemaknaan terhadap ilmu yang sama. Sehingga hal ini akan memperkaya pemahaman dan memberikan sudut pandang yang baru. (Reza Aditya Suseno)

Al-Qur’an adalah pembeda yang haq dan bathil, tidak ada abu-abu dalam Islam. Jadi diamnya kita ketika tidak mengetahui benar tidaknya suatu perkara, benar tidak bisa dianggap netral. (Safira Tausikal)

Niatkan bahwa tabayyun ini untuk saling memperbaiki dan mengingatkan satu sama lain sebagai muslim, sebagai saudara, bukan untuk menghakimi, menjelekkan yang bersangkutan, apalagi permusuhan. Dengan niat baik, insyaa Allah, yakin Allah akan tuntun perbincangan tersebut menjadi perbincangan yang semoga Allah ridho untuk saling menolong satu sama lain. Dan sebaiknya sebelum berbicara dengan orang yang mau kita ajak tabayyun, mencari ilmu kepada guru lebih baik, supaya lebih tahu sikap dan kata yang akan disampaikan. (Alesha Iin Maylani)

Tips berdakwah yang efektif adalah menggunakan pendekatan yang bisa menyentuh hati dan pikiran/membuat orang-orang yang didakwahi ikut berpikir. Kalau caranya bisa sangat relatif tergantung pada siapa kita berdakwah, jadi perhatikan dan pahami dulu orang-orang yang akan didakwahi. Selain itu, semakin bagus pemahaman kita akan topik dakwahnya, maka akan memudahkan kita juga untuk mencari berbagai alternatif lain untuk mengemas dakwah supaya lebih sesuai. (Rifka Afwani)

Pembunuhan secara psikologis dan mental lebih parah daripada pembunuhan fisik, karena sejatinya anak-anak masih hidup tapi seperti sudah dianggap mati. Maka itu sama seperti dikubur hidup-hidup. Siapa yang melakukannya? Mereka adalah orang tua yang tidak pernah mendengarkan kemauan anaknya, bersikap diktator terhadap anak. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas perlakuannya yang semena-mena terhadap anaknya. (Neni)

Aspirasi kebenaran bisa disampaikan dengan objektif, menggunakan data yang bisa dipertanggungjawabkan. (data loh ya… bukan asumsi/prasangka/dzon..) Ini yang menjadi PR anak Indonesia dalam literasi, bukan ditarget bisa calistung di usia dini tapi seharusnya memahami konteks dari apa yang dibaca. Sehingga tidak banyak hoax yang beredar…

Kebenaran yang disampaikan juga dikemas agar tidak menyalahi undang-undang ITE, Al-Qur’an, dan hadits. (Diana Kholifatul Qudsi)


Resume Diskusi Pekan Keenam

Ada adab yang harus diperhatikan saat menyampaikan kebenaran, yaitu dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan jika perlu berdebat maka dengan cara yang baik pula.

Jika kita merasa di posisi yang lemah untuk menyampaikan kebenaran maka berkelompoklah, sambung silaturahim, eratkan ukhuwah, rapatkan shaf!

Cara agar tetap konsisten dalam menyampaikan kebenaran meskipun mendapat hujatan adalah dengan mengingat terus kisah Mukminu ali firaun (orang-orang yang beriman di masa Firaun) dan senantiasa menjaga cara pandang bahwa penilaian Allah lah yang terbaik dan penilaian manusia hanyalah hal semu semata.

Salah satu cara agar tetap tegas dan istiqomah dalam menyampaikan kebenaran adalah menjadikan surat Al-Ashr sebagai motivasi dalam dakwah agar tidak menjadi manusia yang merugi.

Tips dalam menyampaikan kebenaran dengan penyampaian yang dapat diterima agar pesannya dapat diterima adalah belajar dari sosok Rasulullah ﷺ yang sejak dini merupakan pribadi yang dapat dipercaya dan terbiasa bergaul dengan semua kalangan sehingga memperkuat empati beliau.

Cara mengalahkan diri sendiri yang kadang lebih memilih diam daripada menyampaikan kebenaran karena rasa tidak enak adalah dengan memaksakan diri untuk mendobrak zona nyaman meski terasa berat di awal.

Jika kita ingin menyampaikan kebenaran tetapi akan mencelakai orang lain yang tidak ikut serta dalam tindakan kejahatan tersebut maka baiknya tetap dibawa dahulu dalam sajadah. Biar Allah yang akan selesaikan dengan caraNya.

Waktu terbaik dalam menyampaikan kebenaran adalah ketika kita tahu kita bisa menghindari mudharat yang lebih besar, itulah saat yang tepat untuk mengatakan kebenaran.


Semoga Allah kuatkan hati kita untuk bisa memperjuangkan kebenaran.

Wallahu a’lam bish-shawabi 

-Tim Panitia Matrikulasi NAK-ID Batch 3-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s