[BMW2020] Parenting Bukan Autopilot Part 2


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Bagian pertama: anak-anak kita adalah berkat buat kita. 

Anak-anak kita adalah hadiah dari Allah.

Ayo berhenti sejenak membacanya.

Bayangkan tentang anak kita.

Atau anak-anak kita.

Pikirkan tentang Allah yang Maha Baik.

Yang telah menganugerahkan anak-anak itu kepada kita.

Rasakan kebaikan Allah kepada kita.

Dan tentu saja, kepada anak-anak kita.

Ya, kita sudah tahu itu.

Kita sudah tahu bahwa anak-anak kita adalah anugerah Allah.

Tapi tahukah kita, apa kata-kata Allah tentang penganugerahan anak kepada kita?

Yang benar-benar akan menyadarkan kita bahwa anak-anak kita adalah hadiah-Nya?

Pikirkan kembali (rethink), pulihkan kembali (rejuvenate) ingatan kita, betapa anak-anak kta adalah hadiah-Nya.

Bagian kedua adalah apa yang seharusnya kita perhatikan sebagai parents.

Al-Qur’an sendiri juga memuat parents.

Maka kita akan belajar dari apa yang diperhatikan oleh para parents di Al-Qur’an.

Apakah Allah bicara tentang concerned parents di Al-Qur’an?

Dan apa concern mereka?

Concern mereka pastilah valid dan tepat sehingga Allah memasukkannya di Al-Qur’an yang merupakan permanent Book atau eternal Book.

Sehingga concern tadi menjadi timeless concern. Menjadi concern yang tak lekang oleh waktu.

Bagian ketiga adalah bagian yang paling panjang.

Yaitu bahwa anak-anak bisa menjadi cobaan (trial).

Anak-anak bisa menjadi tantangan (challenge), bisa menjadi ujian (trial).

Ada sejuta cerita di dalamnya.

Tentang anak-anak yang “sulit”.

Tentang macetnya komunikasi dengan anak-anak.

Tentang “hilang”-nya seorang anak.

Tentang anak yang “sakit”.

Tentang anak yang tak beriman.

Tentang anak yang bermasalah.

Semua jenis cobaan.

Semuanya jadi satu di bab ini: children and trial.

Yang intinya, pada dasarnya anak-anak bisa menjadi cobaan.

Bagian keempat, Ustadz Nouman ga bilang “keempat” sih, cuma bilang “bagian berikutnya” :-). Bagian keempat adalah tentang kita dan anak-anak kita di hari penghakiman.

Bagian ini penting karena memberi kita perspektif tentang apa yang akan terjadi terhadap kita dan anak kita di yawmil akhir.

Mau kita pikirkan atau tidak, “hari itu” akan datang.

Di saat yang akan datang itu, kita tidak pernah tahu, apakah kita akan berada di sisi anak kita atau tidak.

Apa yang Allah katakan tentang hal itu, sudah seharusnya menjadi perhatian kita.

Di titik ini, Ustadz Nouman bertanya, “Jadi, sudah ada berapa bagian nih, sejauh ini?”

Nah, kan! Sudah kuduga. Ustadz bakalan nanya ini. Pantesan tadi ga bilang “bagian keempat” tapi sengaja bilang “bagian berikutnya”.

Sepertinya Ustadz sedang ngetes audiens. Benar-benar menyimak atau tidak. 🙂

Rupanya Ustadz serius ngetesnya. Beliau masih melanjutkan pertanyaannya, “Oke, sudah ada empat bagian. Apa saja itu?”

Maka jamaah pun melakukan tinjauan ulang bersama.

Bagian pertama: anak-anak kita adalah berkat buat kita. (children are blessings).

Bagian kedua adalah apa yang seharusnya kita perhatikan sebagai parents (what should be our concerns).

Bagian ketiga, anak-anak bisa menjadi cobaan (child can be a trial).

Bagian keempat, kita dan anak kita di hari penghakiman (we and our children on judgment day, on yawmul qiyaamah).

Bagian kelima yang mungkin adalah bagian yang paling menarik buat Ustadz Nouman adalah psikologi parenting dari surat Yusuf dan suratul Qashash.

Seputar apa kontennya?

Memahami emosi anak, komunikasi, membesarkan anak dengan sangat menyadari (cognizant) tentang emosi mereka.

Itulah bagian kelima. Parental psychology.

Terinspirasi oleh dua surat: Surat Yusuf dan Surat Al-Qashash.

Bagian berikutnya (bagian keenam ya, cataaat) 🙂 adalah beberapa pelajaran penting untuk diajarkan ke anak-anak kita.

Oke, mungkin aku telah mengajari anak-anakku semua ayat-ayat Qur’an.

Tapi bagian mana dari Al-Qur’an yang sungguh-sungguh penting yang harus mereka pahami?

Ada beberapa poin penting.

Seperti misalnya: sikap terhadap non muslim, rasisme dan pelajaran tentang rasisme. Fanatisme (bigotry), kesabaran (patience) juga penting.

Bagaimana kita sebagai parents bicara ke anak-anak kita tentang kesabaran (patience), kemarahan (anger), kecemburuan (jealousy), ketamakan (greed), egoisme (selfishness).

Hal-hal seperti itu. Hal-hal yang kadang-kadang kita amati dari anak-anak kita sendiri.

Bagaimana kita bicara dengan mereka tentang kebohongan (lying) dan ketidakjujuran (dishonesty).

Anak-anak bisa berbohong.

Dan bisa terus-menerus berbohong.

Para guru pun kadang dikelabui, tidak sadar atas kebohongan mereka.

Dapat nilai C tapi ngotot atau ngaku bahwa seharusnya dapat nilai B.

Anak kita bilang, itu adalah kesalahan gurunya.

Atau, dia merasa mendapatkan guru yang salah.

Dan anak-anak itu terus membawa kebohongan seperti itu dalam hidupnya.

Yang seperti itu bisa bikin orang tua depresi.

Gimana nih caranya berurusan dengan situasi seperti ini?

Gimana caranya supaya mereka bilang apa adanya?

Gimana caranya supaya mereka bilang yang sejujurnya?

Orang tua merasa seperti ada yang macet.

Dalam interaksinya dengan anak-anaknya.

Hal-hal seperti itu.

Bagaimana kita mengajarkan kepada anak-anak nilai-nilai tertentu?

Dan nilai-nilai apa atau ayat-ayat yang mana, yang bisa menjadi sumber inspirasi untuk didiskusikan dengan anak-anak kita?

Itu adalah bagian keenam.

Dan bagian finalnya, bagian ketujuh: Allah mendorong kita untuk membaktikan anak-anak kita untuk melayani Islam.

Di titik ini, Ustadz Nouman seperti agak terbata-bata. Seperti meneteskan air mata yang tak terlihat. Atau setidaknya yang menulis ini lah yang meneteskan air matanya sendiri.

Tapi memang iya. Memang sepertinya begitu. Ustadz Nouman seperti bicara sambil menahan air mata. Mungkin kalau sedang tidak di depan kamera sudah tak terbendung lagi air mata itu.

Allah mendorong kita tentang hal ini di beberapa ayat Al-Qur’an.

To devote our children to the service of Islam.

Itu seharusnya berpengaruh terhadap cara aku membesarkan anak-anakku.

Seperti, bagaimana caranya aku mempersiapkan anak-anakku untuk melayani agama ini.

Bagaimana caranya mereka melayani agama ini?

Itulah yang Allah inginkan aku untuk melakukannya.

Kita bisa lebih memahami hal ini setelah kita menyadari bahwa kita sendiri sudah berada di dalam perjalanan untuk melayani Allah. Untuk melayani agama-Nya.

Apapun yang kita miliki harus kita manfaatkan untuk melayani Allah.

Anak-anak kita secara teknis bukanlah anak-anak “kita”.

Anak-anak kita adalah hadiah Allah buat kita, supaya “digunakan” sebaik-baiknya untuk melayani agama-Nya.

Itu bisa mengubah mentalitas kita dalam membesarkan anak-anak kita: what we want them to do dan what we want them to think.

Sekarang, tentang nilai.

Maksudnya, untuk apa kita perlu mempelajari parenting ini

Dan tentang ayat yang tadi dibaca saat memulai kajian ini.

Itu adalah ayat pertama dari surah An-Nisaa’.

Yaa ayyuhannaas. Mankind. Humanity.

Ittaquu rabbakum. Be cautious of your Master. Bertakwalah kepada Rabbmu.

Alladzii khalaqakum min nafsin waahidah.

Who created you out of single nafs. Yang telah menciptakanmu dari satu nafs, yakni Adam ‘alayhis salam.

When Allah called humanity, He talked about parenting.

Because our relationship with Adam as and all humanity’s creation is a result of this.

Humanity does not exist unless this parenthood.

So the first parent is mentioned.

Jadi saya baru tersadar bahwa ayat ini ternyata juga tentang parenting. Menyebutkan Adam ‘alayhis salam sebagai parent yang pertama.

Wa khalaqa minhaa zawjahaa. From that nafs He made his spouse. Dari nafs yang satu tadi, Allah menciptakan pasangannya.

Wa batstsa minhumaa rijaalan katsiiran wa nisaa-aa. He spread many-many men and women out from them. Allah lalu mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.

Cerita tentang manusia adalah cerita tentang parenting. Dari satu parent ke parents berikutnya. Begitu seterusnya, sampai sekarang.

Di awal ayat ini Allah memberikan kemuliaan kepada Adam ‘alayhis salam.

Min nafsin waahidah.

One single nafs.

Itu adalah asal muasal dari kita semua.

Our noble father. Ayah kita yang mulia. Adam ‘alayhis salam.

Bagaimana dengan kemuliaan ibu kita?

Itu ada di akhir ayat.

Wattaqullaah, alladzii tasaa-aluuna bihii wal arhaam. Bertakwalah kepada Allah.

Nama yang kamu gunakan ketika saling meminta satu sama lain.

For God’s sake let me out of here.”

“Come on for Allah’s sake fii sabiilillaah.”

You invoke His name when you ask each other a thing.

Lalu Allah bilang wal arhaama.

Artinya, be cautious and careful and protective of the wombs.

Di awal ayat, ada nafs.

Pointing to the father. Isyarah ilal ab. Merujuk kepada Adam ‘alayhis salam.

Ketika Allah bilang be cautious to the womb.

Merujuk kepada siapa womb itu?

Ibu.

Be cautious of the mother.

Bertakwalah kepada Allah.

Takwa artinya apa?

Protect yourself from violating Allah’s rights.

Protect yourself from making Allah angry.

Protect yourself from crossing the line in your relationship with you and Allah.

Allah bilang, bukan hanya takwa kepada Allah.

Bertakwalah atas hubungan yang datangnya dari rahim sang ibu.

Jadi hubungan seperti itu harus dilindungi.

Dan hubungan mendasar dari rahim itu adalah parenting.

Kita terikat ke orang tua kita oleh rahim.

Jadi kita harus memiliki takwa atas hubungan itu.

Kita harus melindungi hubungan itu.

Dan orang tua harus melindungi hubungan itu untuk anak-anak mereka.

Karena bukan hanya anak-anak yang terikat ke orang tua mereka.

Orang tua juga terikat ke anak-anak mereka.

Lalu Ini ada hal lain

Biasanya dalam ceramah-ceramah Islam, topik yang sering dibahas adalah tentang the rights of parents. Hak-hak orang tua.

That’s a big deal in Islam, no doubt about it.

Dan parents memang sangat dimuliakan dalam Islam.

Cara Allah menekankan kemuliaan parents itu luar biasa.

Dan ceramah-ceramah tadi, karena membahas hak-hak parents, rasanya semakin menambah kemuliaan kita.

Tapi sayangnya, kita sering mengabaikan sisi yang satunya lagi. Bukan hak, tapi tanggung jawab. Parents juga punya tanggung jawab.

Parents don’t just get this honor, this title, this respect.

Parents juga punya responsibilities.

Faktanya, kemuliaan selalu seiring dengan tanggung jawab.

Seperti Rasulullah yang mulia shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Beliau punya martabat. Dignity. Wa rafa’naa laka dzikrak.

We raised, we elevated your mention.

Allah meninggikan sebutan nama Muhammadurrasuulullaah.

Tapi pada saat yang sama beliau punya responsibility yang besar, lebih besar dari manusia manapun.

So your honor is tied to your responsibility.

Parents are really being honored.

That must mean parents have a huge responsibility.

Kita tidak bisa cuma bicara tentang kemuliaan dan hak-hak parents.

Kita juga harus bicara tentang tanggung jawab parents.

Karena sebenarnya dari tanggung jawab itulah kemuliaan itu berasal.

Sumber:

Bayyinah TV > Parenting > 01. Introduction Part 1 – Parenting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s