[BMW2020] Parenting Bukan Autopilot Part 1


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Seperti biasa, Ustadz Nouman membuka kajian dengan membaca sebuah ayat. Kali ini, ayat yang dibaca adalah ayat pertama dari surah An-Nisa’.

Jarang saya mendengar ayat ini dibaca dalam konteks parenting. Jadi saya bersyukur. Akan ada ilmu baru sepertinya. Karena ayat ini pasti akan dibedah Ustadz Nouman, entah di menit ke berapa nanti.

Sebelum membahas parenting, Ustadz Nouman ingin berbagi motivasi, mengapa parenting itu perlu.

Selain itu, Ustadz Nouman juga ingin berbagi cerita, tentang perjalanan menyusuri materi parenting di Bayyinah TV. Apa yang bisa dilakukan, dan apa yang akhirnya dipilih untuk dilakukan.

Melihat bagian-bagian Al-Qur’an yang berhubungan dengan parenting, atau menyusuri “ayat-ayat parenting“, adalah sesuatu yang mudah dilakukan. Ayat tentang percakapan Ibrahim ‘alayhis salam dengan putranya. Ayat tentang Ya’qub ‘alayhis salam. Ayat tentang Luqman dan nasihatnya kepada anaknya. Ayat tentang percakapan Nabi Yusuf dan ayahnya.

Materi parenting yang disusun Ustadz Nouman juga membahas hal-hal itu. Tapi itu tidak cukup, setidaknya untuk Ustadz Nouman sendiri.

Mengapa tidak cukup? Karena parenting jaman now beda dengan parenting jaman old.

Kita hidup di era yang tak biasa.

Apa yang tak biasa dengan jaman ini?

Kita tidak bisa lagi menggunakan cara yang sama dengan cara yang orang tua kita gunakan di jaman old.

Dulu parenting itu seperti autopilot.

Orang tua kita, tanpa perlu terlalu serius mikirin parenting pun, proses parenting itu jalan dengan sendirinya. Berjalan otomatis. Kita bahkan bisa “terdidik” tanpa campur tangan orang tua kita.

Mengapa bisa begitu?

Karena kita dulu hidup di lingkungan yang islami.

Ada kesopanan di sana-sini.

Wanita dan laki-laki tak bebas berinteraksi.

Cara berpakaian, cara berbicara, dijaga dengan teliti.

Saling menghormati dan menghargai.

Ketika senior bicara, yang junior tak buru-buru menimpali.

Dekat dari rumah, setiap orang berkumpul di masjid.

Jauh dari rumah, adzan pun masih terdengar.

Di mana-mana, khutbah dan ceramah Islam adalah hal yang biasa.

Anak-anak sudah akrab dengan suasana dan simbol-simbol Islam.

Atau, Islam menjadi bagian kehidupan yang menyatu dengan budaya.

Memang, tidak semuanya seperti itu.

Kadang yang terjadi malah sebaliknya.

Seperti yang dituturkan seorang pemuda dari Irak.

Generasi kedua yang tinggal di Amerika.

Yang sekarang menetap di Minneapolis.

Kakeknya bilang, kondisi sekarang justru lebih baik.

Di jaman kakeknya dulu, banyak yang pakai rok pendek (mini skirt).

Sekarang malah lebih bagus dan lebih sopan.

Kakek sang pemuda justru melihat bahwa Islam sedang bangkit kembali (resurgeon).

Mungkin satu atau dua dekade terakhir ini kita menghadapi situasi yang sulit terkait parenting.

Kencan (dating), facebook, film (movies), PG-13 (film yang mengandung hal-hal yang tidak pantas untuk anak-anak usia di bawah 13 tahun) menjadi hal yang biasa.

Begitu juga homoseksual (gay).

Dulu mungkin kita tidak melihat atau mendengar hal-hal ini.

Jadi sekarang ini memang jaman edan (insane).

Dan “hal yang biasa” itu lama-lama menjadi norma yang berlaku (the norm).

Sebagian besar orang mengikuti agama (religion) tertentu.

Sebagian besar orang mengikuti pola hidup (lifestyle) tertentu.

Kebiasaan atau pola itu mudah untuk diteruskan ke generasi berikutnya.

Tapi terutama ketika Anda adalah minoritas.

Dan sebagian besar nilai-nilai hidup Anda tidak tercermin di komunitas atau masyarakat tempat Anda tinggal.

Maka Anda tidak dapat berasumsi bahwa agama Anda pasti akan diteruskan ke generasi berikutnya.

Segala hal tentang komunitas yang tidak Islami, yang menurut kita tidak baik, justru bisa membuat anak-anak kita berpikir, “Ada apa sih dengan keluarga kita ini? Aneh deh! Kenapa kita tidak bisa seperti mereka?”

Lihat saja diri Anda sendiri.

Saat ke masjid Anda memakai baju muslim, peci atau kopiah, dan sarung.

Tapi Anda tidak berpakaian seperti itu di tempat-tempat lainnya. Selain di masjid.

Jadi kita ini “aneh” saat ke masjid.

Lalu kita menjadi “normal” saat berkegiatan di tempat-tempat yang lain. Selain di masjid.

Ada yang memakai hijab saat pergi ke masjid.

Lalu saat bepergian dan berada di mobil, dia berpikir, “Oke, sekarang aku bisa berpakaian “normal” kembali.” Maksudnya, kembali tidak pakai jilbab.

Sebentar. Ini tujuannya tidak untuk menyalahkan atau menurunkan harkat dan martabat wanita yang memiliki kebiasaan seperti itu.

Sama sekali tidak.

Yang sedang dibicarakan di sini adalah: ada budaya yang dominan. Atau yang lebih dominan.

Ada kekuatan di luar sana, yang memengaruhi kita semua.

Sulit untuk menjadikan apa yang normal buat kita, menjadi normal juga buat anak-anak kita.

Kita harus melakukan sesuatu yang lebih.

Lebih dari orang tua kita dahulu.

Yang mungkin tidak begitu “memperjuangkan” keislaman kita karena budaya di masa lalu sudah begitu kondusif untuk menjaga utuhnya keislaman kita.

Kita harus “berjuang” untuk menjadi “orang tua” buat anak kita.

Yang dulunya autopilot sudah tidak bisa autopilot lagi sekarang.

Itulah motivasi utamanya.

Motivasi yang membuat kita makin merasakan pentingnya membahas parenting dan Al-Qur’an.

Menggali pedoman apa saja yang bisa kita petik dari Al-Qur’an, atau dari Allah ‘azza wa jall, untuk kita sebagai parents.

Ini adalah tugas besar kita.

Membesarkan anak-anak kita sesuai tuntunan-Nya.

Motivasi tadi juga mendorong kita untuk memiliki sikap (attitude), mentalitas (mentality), serta harapan (expectation) yang tepat.

Seorang anak hadir dalam sebuah keluarga. Sang ibu memberinya asi. Sang ayah kadang membantu membersihkan popok. Orang tua menyekolahkannya begitu saatnya tiba. Itu semua adalah contoh tanggung jawab yang “alami”.

Di luar itu, masih ada “tanggung jawab” yang lain terhadap anak-anak kita.

Mungkin kita kurang ngobrol sama mereka.

Mungkin, mungkin, dan mungkin, masih ada berapa “mungkin” yang lain selain itu?

Materi parenting di Bayyinah TV disusun dengan pendekatan yang cukup unik.

Agak aneh, tapi begitulah ceritanya.

Ustadz Nouman membaca Al-Qur’an dalam kapasitas sebagai seorang parent.

Sambil berdoa.

Minta tolong sama Allah.

Supaya Allah menunjukkan “hidayah parenting“.

Dan Ustadz Nouman juga mencatat.

Yang dicari bukan satu hal, tapi banyak hal.

Apa saja dari Al-Qur’an yang bisa membantu Ustadz Nouman sebagai seorang parent.

Dan memang seperti itulah cara yang pernah diajarkan oleh salah satu guru Ustadz Nouman.

Butuh panduan, buka Al-Qur’an, baca.

Butuh bantuan, buka Al-Qur’an, baca.

Akan ketemu bantuan itu.

Ustadz Nouman tidak sendirian.

Beliau dibantu murid-murid dan para volunteers.

Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua.

Mereka lah yang mendokumentasikan catatan-catatan Ustadz Nouman tadi.

Ada sekitar 80 halaman ayat.

Setelah diperiksa ulang dan “dibersihkan”, masih ada sekitar 45 halaman ayat.

Dari 45 halaman ayat itu, setelah direnungkan ulang, akhirnya diputuskan oleh Ustadz Nouman untuk dibagi-bagi menjadi beberapa bagian.

Tepatnya: ada tujuh bagian. Apa saja tujuh bagian itu?

Sumber:

Bayyinah TV > Parenting > 01. Introduction Part 1 – Parenting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s