Dokumentasi Pekan Kelima Matrikulasi NAK-ID Batch 3


Kisi-kisi Video Pekan Kelima

Alhamdulillah, pekan ketiga dan keempat atau “pekan ujian hidup” telah berhasil kita lewati.

Kita tidak ingin ujian hidup kita berujung tragedi. Seperti yang disinggung di video pekan kelima ini.

Tragedi itu bermula saat manusia gagal mengapresiasi Allah. Terjebak dalam ilusi materialisme yang lemah. Rela jatuh bangun dan tertatih-tatih mempersiapkan presentasi duniawi. Tapi abai mempersiapkan presentasi ukhrawi.

They didn’t appreciate Allah like He deserves to be appreciated.

(na’uudzubillaahi min dzaalik)

Kita tidak sadar bahwa kita adalah “pemegang mikrofon” yang diharapkan meneruskan pesan-pesan ilahiah ke masyarakat.

Kita tidak sadar bahwa agama ini bukan cuma tentang diri kita supaya menjadi pribadi yang lebih baik, tapi juga tentang diri kita sebagai “model” yang harum semerbak tutur kata dan perilakunya yang menjadi magnet buat orang-orang di sekitar kita untuk tertarik mendekati Al-Qur’an.

Kita tidak sadar bahwa kita tidak harus menjadi seorang penceramah, karena Nabi Yusuf pun tidak berceramah selama di lapas, cukup menjadi diri sendiri yang menebarkan pesona keindahan Islam.

Tiga jurus yang Allah pesankan di ayat ini adalah 

(1) become people of prayer, 

(2) become people of pure income, dan 

(3) become people that hold on to Qur’an. 

Ini sekaligus menjadi “senjata” buat kita, dan anak cucu kita, yang telah Allah pilih untuk misi menyebarkan harumnya wangi Islam, hingga Hari Penghakiman.

May Allah ‘azza wa jall makes us realize this responsibility,

carry it to the best of our ability in this life,

and pass this responsibility onwards with ihsaan to our coming generation.


Referensi Video Pekan Kelima

Tragedi Umat Manusia (28 menit) 


QnA Diskusi Pekan Kelima

DAKWAH

Q1. Bagaimana cara menyeimbangkan target kehidupan dunia dengan pelaksanaan tugas risalah yang diberikan oleh Allah سبحانه و تعالى?

Answer:

Supaya bisa seimbang mungkin kita bisa pakai pedoman: bekerjalah kamu seperti akan hidup 1000 tahun lagi dan beribadalah kamu seperti besok mau mati. 

Insya Allah bisa seimbang karena ingatan kita tentang dunia dibarengi ingatan akan maut juga. Dua-duanya gak bisa dilepas selama kita masih hidup tapi jangan sampai berat sebelah, harus punya prinsip yang kuat untuk dipegang

Niatkan segala aktivitas di dunia ini sebagai ibadah. Termasuk dalam bekerja. Sama seperti yang disebut Ust. Nouman, Nabi Yusuf berdakwah dengan menjadi diri sendiri. 

Misal pekerjaan kita, hakim (maka jadilah hakim yang amanah, adil, tidak KKN, tidak memihak yang punya uang lebih, jujur). Hidup di dunia dengan cara Islam juga merupakan jalan dakwah kita menunaikan tanggung jawab sebagai ummatan wasathon.

Q2. Disebutkan bahwa Bani Israil adalah contoh bahwa suatu kaum punya tugas untuk menyebarkan pesan dari rasulnya. Tapi kenyataannya, mereka gagal terus. Kenapa mereka bisa gagal terus, bahkan dikisahkan dalam waktu ratusan tahun? Bagaimana dengan umat Rasulullah Muhammad ﷺ? Pelajaran apa yang bisa kita pelajari tentang ini?

Answer:

Salah satunya karena sifat Bani Israil yang suka bertanya sehingga menyulitkan diri mereka sendiri. 

Contohnya: mereka disuruh untuk menyembelih seekor sapi betina, tetapi Bani Israil bertanya tentang umur sapi tersebut. Lalu, disampaikanlah bahwa usia sapi tersebut tidak tua dan tidak juga terlalu muda. Mereka pun bertanya lagi warna sapi. Disampaikanlah sapi itu berwarna kuning tua dan tidak pernah dipergunakan untuk membajak. Setelah semuanya ditanyakan, mereka akhirnya baru melaksanakan perintah tersebut. 

Mereka merasa kesulitan mencari jenis sapi yang dimaksud. Padahal, sebelumnya Allah menghendaki kemudahan bagi mereka, tetapi mereka sendiri yang mempersulitnya. Itulah sifat Yahudi. Lihat penjelasan lengkapnya dalam surah Al-Baqarah [2]: 67-71.

Selain diatas, sebenarnya Bani Israil ini dijelaskan panjang lebar dalam Al-Qur’an. Bukan hanya karena Nabi Musa, nabi yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, tapi di Al-Baqarah juga terdapat “Big Chunk” yang menjelaskan mereka, yaitu Al-Baqarah ayat 47 sampai 123. Dan uniknya si Big Chunk ini diapit 2 ayat di awal dan di akhir yang bunyinya sama:

“Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini”

“Dan jagalah diri kalian dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikit pun, dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan darinya, dan tidaklah mereka akan ditolong.”

Jadi kesalahan Bani Israil yang mayor itu ada beberapa:

1. Tidak mengingat nikmat yang Allah beri berupa kerasulan dari garis keturunan mereka terus menerus. Nabi malah disiksa bahkan dibunuh.

2. Lupa akhirat. Di kajian Deeper Look Al-Baqarah disebutkan kalau mereka kehilangan konsep akhirat bahkan sekarang pun ketika Rasulullah banyak membawa konsep Yaumil Akhir tercengang-cenganglah mereka.

3. Mereka menganggap mereka bisa selamat karena Nabi Musa akan menyelematkan mereka. Padahal itu tidak akan berguna kalau mereka tidak beriman. 

Q3. Apakah Bani Israil juga menjadi umat yang terpilih untuk mengemban risalah dakwah sebelum Nabi Muhammad ﷺ lahir?

Answer:

Imam At-Thabari – Syaikhul Mufassirin – menyimpulkan bahwa kelebihan yang Allah berikan kepada Bani Israil ini berlaku bagi para pendahulu Bani Israil, disebabkan mereka banyak yang menjadi ulama, memahami Taurat dan menjadi pengikut setia Nabi Musa dan para nabi lainnya.

Jadi terbatas hanya kepada kaumnya, tidak seluruh umat manusia. Contoh nabi Isa AS.

“Dan (Kami utus Isa sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. ” (QS. Ali Imron : 49)

Q4. Kira-kira, apa yang akan terjadi pada kita jika kita hanya melakukan kewajiban dan sunnah berupa amalan baik, namun tidak ikut menyebarluaskan agama Islam? Apakah itu ada ganjarannya?

Answer:

Menyebar kebaikan tidak harus melalui dakwah saja,karena ustad memberikan contoh pada kita lewat Nabi Yusuf. Beliau tidak berceramah di penjara atau tidak memasang papan iklan bisa menafsirkan mimpi. Tapi dari pribadi dan ibadahnya yang baik bisa menarik orang lain untuk percaya dan tahu beliau beda. 

Pribadi kita yang baik dengan ibadah-ibadah yang baik pula itu juga termasuk menyebarkan kebaikan Islam, karena dari situ orang bisa menilai dan tahu ternyata orang Islam kualitasnya sebaik ini, tanpa kita berceramah. 

Maka di surat Al-Hajj ayat 78 Allah perintahkan kita solat, zakat, dan berpegang teguh pada Allah. Inilah jalannya menyebar kebaikan sebelum kita mampu berceramah.

Selain itu yang terjadi apabila kita tidak ikut menyebarluaskan agama Islam adalah rugi seperti yang terdapat dalam surat Al-Ashr.

Allah سبحانه و تعالى bersumpah dengan menyebutkan bahwa manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, yakni rugi dan binasa.

{إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ}

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (Al-‘Asr:3)

Maka dikecualikan dari jenis manusia yang terhindar dari kerugian, yaitu orang-orang yang beriman hatinya dan anggota tubuhnya mengerjakan amal-amal yang saleh.

{وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ}

dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran. (Al-‘Asr: 3)

Yakni menunaikan dan meninggalkan semua yang diharamkan.

Ganjarannya apabila kita tidak ikut menyebarluaskan agama islam maka azab akan ikut datang menimpanya bersama-sama dengan orang zalim dan dia akan dihisab karena tidak memperingati orang di sekitarnya yang berbuat maksiat.

Q5. Bagaimana cara berdakwah pada keluarga sendiri? Saya merasa lebih mudah mendakwahi orang lain dibanding keluarga sendiri.

Answer:

Dengan meneladani dan mencontoh sikap dakwah Rasulullah ﷺ.

Menurut saya dengan keluarga bukanlah kita mendikte ini ayat nya atau ini haditsnya, ini dilarang kita sebut blabla hadits riwayatnya. Seperti demikian mungkin tidak akan digubris. 

Bagaimanapun di mata orang tua kita, kita adalah anak. Kalau kepada orang tua, maka cara dakwah kita adalah menerapkan dulu kepada diri sendiri, cara-cara hidup Islam, sunnah Rasulullah. Kemudian berlaku baik, memberi perhatian, dan hadiah kepada orang tua. Setelah itu baru mungkin diajak ke kajian, bisa nasihat. 

Tapi kalau saya lebih prefer nasihat itu sampai dari mulut orang lain ke orang tua. Dari ustad-ustad atau temannya orang tua. Biasanya lebih mengena daripada didakwahi oleh anak sendiri. Itu pendapat saya.

Opsi lain yaitu kalau mau mendekati keluarga, ada perjanjian ke diri sendiri yang harus diingat:

  1. Dakwah keluarga itu paling sulit, tapi bukan tidak mungkin. Dan dakwah keluarga itu lebih worthed dibanding ke orang lain. Karena perintah pertama itu ya menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Jadi jangan patah semangat untuk terus mencoba.
  1. Dakwah keluarga itu tentang teladan.
  1. Tanya diri sendiri dulu, berapa jam dalam sehari interaksi kita dengan keluarga? Kalau jarang, apalagi pulang seminggu sekali, wah susah ini mah. Kita hanya akan dicap “Kamu siapa? Ketemu aku tiap hari aja enggak, kok berani-beraninya kasih nasehat?” atau sesederhana “Kamu ga tahu bagaimana aku tumbuh (akademik, pola pikir, struggle nya), kok bisa menentukan mana yang baik dan menyenangkan buatku. Diskusi saja nggak pernah.” dsb.
  1. Hal konsisten apa yang sudah kita lakukan di rumah? Misal ini mah saya (tapi jangan ditiru ya). Ketika dengar diskusi online emak-emak karena harapan mereka sebagai orangtua terlalu aneh (menurut saya), saya suka ngomel, “Jangan menuntut anak jadi hafidzhlah, orang dirumah aja emak bapak jarang ngaji. Apalagi kasih contoh buat ngapalin Al-Qur’an. Mimpi boleh, tapi kalau ikhtiar ga ada, cuma mukjizat dari Allah yang bisa membuat keluarga sesuai harapan kita.

KEIMANAN DAN KETAQWAAN

Q6. Pada QS. Al-Hajj disebutkan bahwa hasrat manusia itu lemah. Apakah ini juga berhubungan dengan adanya futur pada manusia?

Answer:

Sifat lemahnya manusia yang disebutkan dalam QS. Al-Hajj ayat 73, mengenai sama lemahnya manusia dengan apa yang disembahnya selain Allah. Di sini Allah menggambarkan bahwa sifat makhluk itu lemah dan hanya Allah lah yang Maha Kuat dan Maha Perkasa (pada Al-hajj ayat 74).

Dalam ayat lainnya, Allah mendeskripsikan dua kelemahan manusia, yaitu lemah secara fisik dan lemah (dalam melawan) hawa nafsu buruk. “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah…” (QS. Ar-Rum: 54).

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa’: 28). Menurut Syekh Nawawi Al-Bantany, tafsir “lemah” dalam Surah An-Nisaa’ itu adalah lemah dalam melawan hawa nafsu.

Tabiat qalbu itu mutaqallib, mudah terbolak-balik. Kadang ingin ini kadang ingin itu. Jadi wajar sekali kalau hari ini berhasrat A, besok sudah hilang selera. 

Di sisi lain, manusia diciptakan dengan fitrah “memiliki tujuan”, ini juga yang membuat kata “galau” menjadi trend di kalangan anak-anak muda pada zamannya, ketika mereka tidak tahu tujuan hidupnya, hatinya tidak tenang.

Futur memang disebabkan karena fitrah penciptaan bahwa manusia itu makhluk yang lemah, baik dalam perkara fisik ataupun jiwa/hawa nafsu. Karena itu kita butuh Allah sebagai penjaga, pelindung dan penolong dari kelemahan tsb seperti yang disebut pada QS. Al-Hajj ayat 78. “…Dialah pelindungmu, Dia sebaik-baik pelindung dan penolong.”

Q7. Bagaimana semua manusia bisa mendengarkan seruan Allah dalam Al-Hajj ayat 73, sedangkan sebagian dari mereka tidak beriman pada Allah dan tidak juga mengimani Al-Qur’an sebagai kalamullah?

Answer:

Al-Qur’an sekarang tak hanya didengar oleh muslim bahkan non muslim banyak yang mempelajari untuk mengungkap fakta ayatnya. Karena Allah ungkapkan, mendekatlah dengan akal dan pikiran. 

Maka mereka yang berpikir sekalipun belum muslim pasti tertarik dengan Al-Qur’an. Hanya saja tidak beriman. Al Hajj ayat 73 ini contohnya dan penerapan kloning, bagaimana manusia mencoba menciptakan makhluk hidup. Secanggih apapun teknologinya tetap tidak bisa mengungguli ciptaan Allah سبحانه و تعالى.

Q8. Bagaimana mengimplementasikan Allah sebagai mathlub dalam pekerjaan kita?

Answer:

Dari kajian Ust. NAK menurut saya ada kata kuncinya, yaitu kesenangan Allah. Maka, dalam pekerjaan, bisa diimplementasikan dengan cara menimbang-nimbang apakah kira-kira yang dikerjakan ini Allah senangi atau tidak.

Ceramah di DT menyampaikan bahwa cara menjadikan Allah sebagai matlub dalam bekreja adalah dengan bekerja ikhlas untuk mencari penilaian Allah, bukan penilaian makhluk seperti atasan, rekan kerja, bawahan dll. Atau disebut juga dengan Ihksan. 

Insya Allah kalau kita sudah bersikap seperti itu justru malah hasli kerja kita akan terangkat dengan sendirinya dan Allah akan berikan balasan kepada kita lebih baik dari yang pernah kita idam-idamkan.

Q9. Kita pasti akan bertemu Allah سبحانه و تعالى? Apakah yang bertemu Allah hanya manusia yang masuk surga saja atau yang masuk neraka pun bisa bertemu setelah mendapat balasan terlebih dahulu?

Answer:

  • Setelah nyawa dicabut, ruh kita dibawa ke langit. Jika ia beriman maka pintu langit akan terbuka dari lapis ke lapis sampai ketemu Allah di langit teratas. Terus percakapannya itu pakai doa setelah solat yang Allhumma antassalam waminkassalam dst..
  • Ada percakapan Allah di Al-Qur’an dengan orang akan masuk neraka dengan latar tempat di Padang Mahsyar. Jadi wallahu ‘alam sepertinya mereka pun akan bertemu dengan Allah.

Q10. Apa yang harus dilakukan manusia agar tidak tersesat dalam belajar mencari Allah bila ilmunya masih sangat sedikit namun di masa kemajuan teknologi ini telah bermunculan berbagai ideologi yang tidak diketahui kebenarannya?

Answer:

  • Berdoa kepada Allah, menghayati surat Al-Fatihah. Meminta jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat.
  • Mencari guru yang kita tahu sanad keilmuannya. Guru yang benar. Memiliki aqidah yang lurus, mengajarkan sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  • Back to Al-Qur’an, belajar al qur’an, mencari guru al qur’an. Karena sumber referensi kita atau pedoman hidup kita adalah al qur’an dan sunnah, berdoa agar selalu dalam petunjuknya. 
  • Doa yang bisa di baca :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dari Nabi beliau biasa berdoa:

Allaahumma innii as-alukal hudaa wat tuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)”

(HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya)

  • Doa nabi Ibrahim Allah سبحانه و تعالى berfirman:

رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِا لصّٰلِحِيْنَ ۙ 

robbi hab lii hukmaw wa al-hiqnii bish-shoolihiin

“(Ibrahim berdoa), Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 83)

Q11. Bagaimana sebaik-baiknya muslim itu?

Answer:

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110).

  • Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat.

Mungkin ini juga bisa jadi motivasi kita, bahwa seorang muslim juga harus berusaha bermanfaat bagi sesama dan juga bagi alam semesta

  • Yang lain adalah, sebaik-baik manusia adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.

Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang mendedikasikan hidupnya karena Allah dan untuk Allah. Dengan niat seperti ini akan menghasilkan kepribadian yang benar dan lurus dengan akhlak yang mulia

  • Orang-orang yang mengamalkan amar ma’ruf nahi mungkar. Amar ma’ruf nahi mungkar (menolong agama Allah, berdakwah, dll), adalah salah satu prinsip karakter Muslim. (QS. Ali Imran: 52 dan QS. Fussilat: 33)

Q12. Kita menyembah Allah hanya sebagai satu-satunya sesembahan. Tujuan kita pun adalah mencari ridho Allah. Apa tandanya bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang Allah ridhoi?

Answer:

Sesungguhnya Allah ridha terhadap kalian pada tiga hal dan memurkai kalian karena tiga hal. Allah meridhai kalian jika,

  1. Kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya
  2. Kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah serta tidak berpecah belah
  3. Kalian saling memberi nasihat dengan orang yang Allah kuasakan padanya urusan kalian

KIAT-KIAT DAN PENGALAMAN PESERTA

Q13. Adakah yang pernah merasakan tragedi seperti yang disampaikan Ustadz Nouman? Kalau ada, gimana cara memperbaikinya?

Answer:

Waktu itu pernah kepengen banget beli buku yang isinya tentang pendidikan anak, harganya lumayan mahal dan kepikiran terus gimana buku itu bisa kebeli. Karena saking merasa buku itu adalah panduan dan solusi pada saat itu, secara gak langsung jadi mengandalkan metode yang dipaparkan dalam buku. Lalu, setelah buku itu didapat hanya bertahan sebentar dan sementara. Malah lebih sering bertahan di rak buku daripada dibuka lembarannya.

Memang lemah banget ternyata yang dicari dan yang mencari. Tanpa pertolongan dari-Nya, isi sebagus apapun buku itu gak akan menjadi petunjuk. Sayangnya, memang saat itu jadi lebih mengandalkan buku dan sedikit sekali melibatkan pertolongan Allah.

Cara memperbaikinya, kedepannya lebih di cek lagi niatnya, balik ke Al-Qur’an dulu gimana soal mendidik anak, dan jangan lupa berdoa karena itu penting. Apalagi doa orangtua untuk anaknya, doa orangtua selama mengasuh dan mendidik yang terkadang suka lupa dan lebih mengandalkan teknik dan metode.

Q14. Agak di luar materi, saya mau nanya buku rekomendasi buku tadabbur yang bagus apa ya?

Answer:

  • Ada buku yang mungkin bisa membantu untuk tadabbur Al-Quran, judulnya Al-Alfaazh – Buku Pintar Memahami Kata-Kata dalam Al-Quran (932 halaman), isinya mencakup kosa kata yang digunakan dalam Al-Quran.
  • Tafsir Buya Hamka, meskipun jauh tahun 1960-an tapi itu tidak sejauh Ibnu Katsir, jadi carilah yang sesuai konteks dan cukup dekat jarak tahunnya dengan kita.
  • Ada juga buku rangkuman 114 surat, yaitu Journey through the Qur’an karya Syarif Hasan al-Banna, rangkumannya disajikan dalam bentuk mind-map. Terjemahan dari bahasa Inggris.
  • Selain itu ada buku Tadabbur Al-Qur’an, karya Syaikh Adil Muhammad Khalil, penerbit Al-Kautsar. Best seller Timur Tengah.

Semakin dekat jarak tahun antara penulisan tafsir dengan kita insya Allah lebih terasa hubungan dengan kita.

UMAT PERTENGAHAN

Q15. Apa kaitan umat pertengahan ini dengan surat Ali-Imran ayat 110?

Answer:

Kalau dilihat dari terjemahannya Ali-Imran ayat 110 berkaitan dengan Al-Hajj ayat 74 dan 78. QS. Al Hajj ayat 78 berisi tentang kewajiban jihad, umat Islam adalah umat terpilih, dan juga tentang kesaksian.

Q16. Masih kurang jelas dengan penjelasan umat pertengahan dan hubungannya dengan Nabi Muhammad sebagai nabi/rasul terakhir. Mohon jika ada yang bisa menjelaskan.

Answer:

Kata wasathan terdiri dari huruf wau, sin, dan tha’ dasar pertengahan atau moderat yang memang merujuk pada pengertian adil. 

Ar Raghib seperti yang dikutip Ali Nurdin, mengartikan wasathan sebagai sesuatu yang berada di pertengahan yang kedua ujungnya pada posisi sama. Ummathan wasathan adalah masyarakat yang berada di pertengahan.

Kata ummatan wasathan para ulama tafsir telah menafsirkannya di antaranya adalah Sayyid Quthb, beliau mengatakan bahwa umat Islam adalah umat pertengahan, yaitu umat yang adil dan pilihan serta menjadi saksi atas manusia seluruhnya, maka ketika itu umat Islam menjadi penegak keadilan dan keseimbangan di antara manusia. 

Abdullah Yusuf Ali mengartikan wasathan sebagai justly balance maksudnya bahwa esensi ajaran Islam adalah menghilangkan segala bentuk ekstremitas dalam berbagai hal. Kata wasathan juga menunjuk pada letak geografi yaitu letak geografi tanah Arab berada di pertengahan bumi.

“Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu wahai umat islam ummatan wasathan (pertengahan) moderat dan teladan, sehingga dengan demikian keberadaan kamu dalam posisi pertengahan itu, sesuai dengan posisi Kakbah yang berada di pertengahan pula.

Umatan wasathan setidaknya mempunyai tiga ciri utama yaitu tidak berlebih-lebihan (QS. Al A’raf: 31 dan QS. Al-Furqan: 67), selalu berada di jalan yang lurus (QS. Al-Fatihah: 6-7 dan QS. At-Taubah: 31) dan tidak melakukan hal yang sia-sia (QS. Al-Mu`minun: 3).

TOPIK LAINNYA

Q17. Saya mengamati setelah melakukan berapa task dan project tadabbur, bahwa ada perbedaan kecil dalam terjemahan bahasa Indonesia dan Inggris. Misalkan saja dalam tugas pekan ini, terjemah surat Al-Hajj menggunakan kata ‘appreciate’, sedang bahasa Indonesia ‘mengenal’. Walaupun kecil, impactnya lumayan dalam mendalami maknanya. Bagaimana sebaiknya bersikap akan perbedaan ini? Terutama ketika ingin sharing dalam bahasa Indonesia, namun kajiannya bahasa Inggris.

Answer:

Seandainya kita ragu dengan peralihan bahasa, ada baiknya coba cek dulu secara peristilahan Bahasa Arab-nya. Dari sini akan ada penjelasan tentang kata atau kalimat yang dimaksud secara lebih detail. Bisa lihat kamus Bahasa Arab nya ataupun tafsir dari ayat tersebut.

Kaidah gramatikal bahasa arab memang lebih nyambung kalau menggunakan bahasa inggris. Karena terkadang kalau menggunakan bahasa indonesia tidak ada padanan katanya jadi bisa menggunakan alternatif kata lain yang sesuai.

Q18. Adakah doa khusus untuk meminta agar kita sepenuh hati menjadikan Allah sebagai prioritas utama dalam hidup? Karena terkadang, hati masih condong dengan kehidupan dunia.

Answer:

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (QS Ali-Imran:8)

Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah berdoa; ‘Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu! ” (HR. Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda pada Mu’adz, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir shalat (sebelum salam):

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih)

Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik.

“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Allahumma mushorrifal quluub shorrif  quluubanaa ‘ala tho’atik.

“Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.”


Quotes Diskusi Pekan Kelima

Mulianya umat Islam adalah dengan dakwah. Tegak dan eksisnya umat Islam adalah dengan menjalankan konsep amar ma’ruf nahi munkar. (Indah Wati Dewi Yusman⁩)

Satu lagi yang tidak kalah penting: doa. Kalau sudah memberikan keteladanan, doakan keluarga agar dilembutkan hati untuk menyambut hidayah dan agar bisa berkumpul di surga. Kalau keluarga jauh karena kita merantau, silaturahim yang perlu diperbaiki. Biasanya anak yang berpendidikan dan menjaga silaturahim sering dipercaya sebagai teman untuk mengambil keputusan penting. Setelah timbul percaya, mereka akan berani bertanya tentang agama, baru praktik dakwah dapat dilakukan secara langsung. (Linda Handayani)

Jika mengamalkan amal pribadi namun dirinya tidak menjadi da’i maka terdapat kebolongan dari jiwanya yakni dirinya tidak memiliki kesan terhadap apa yang diimani dan apa-apa yang dirinya amalkan. Karena salah satu indikator dirinya berkesan adalah dirinya mau menyebarkan apa-apa yang diimani dan dirinya lakukan untuk amal sholeh kepada manusia lainnya. Dan konsekuensi logis dari tidak menyebarkanluaskan Islam, maka akan termasuk ke dalam manusia yang dimention dalam Al-ashr sebagai orang yang merugi, Naudzubillah hi mindzalik. (Reza Aditya Suseno)

Menyebar kebaikan tidak harus melalui ceramah saja,karena ustad memberikan contoh pada kita lewat Nabi Yusuf. Beliau tidak berceramah di penjara atau tidak memasang papan iklan bisa menafsirkan mimpi. Tapi dari pribadi dan ibadahnya yang baik bisa menarik orang lain untuk percaya dan tahu beliau beda. Pribadi kita yang baik dengan ibadah-ibadah yang baik pula itu juga termasuk menyebarkan kebaikan Islam, karena dari situ orang bisa menilai dan tahu ternyata orang Islam kualitasnya sebaik ini, tanpa kita berceramah. Maka di surat Al-Hajj ayat 78 Allah perintahkan kita solat, zakat, dan berpegang teguh pada Allah. Inilah jalannya menyebar kebaikan sebelum kita mampu berceramah. @Neni

Memang lemah banget ternyata yang dicari dan yang mencari. Tanpa pertolongan dariNya, isi sebagus apapun buku itu gak akan menjadi petunjuk. Sayangnya, memang saat itu jadi lebih mengandalkan buku dan sedikit sekali melibatkan pertolongan Allah. Cara memperbaikinya, kedepannya lebih di cek lagi niatnya, balik ke Al-Qur’an dulu gimana soal mendidik anak, dan jangan lupa berdo’a karena itu penting. Apalagi do’a orangtua untuk anaknya, do’a orangtua selama mengasuh dan mendidik yang terkadang suka lupa dan lebih mengandalkan teknik dan metode. @Fadiyahul Haq

Syekhnya itu kemudian berpesan, “Jangan singgung perkara agama di rumah. Jangan di singgung dulu. Pelajari saja bagaimana Rasulullah bersikap pada istri-istrinya, kemudian lakukan apa yang Rasulullah lakukan.” Setelahnya, suami ini mengikuti saran Syekh tersebut. Ia mempelajari bagaimana keseharian Rasulullah. Ia tidak lagi menyinggung agama, tidak lagi mengajak istrinya untuk memeluk islam. 3 tahun kemudian, ketika sholat maghrib, tiba-tiba istrinya ikut sholat di belakangnya. Suaminya kaget. Bahagia, dan sedikit ga percaya. Ternyata Istrinya luluh dengan sikap suaminya yang amat baik itu hingga akhirnya hidayah masuk dalam hatinya. @Peny


Resume Diskusi Pekan Kelima

Salah satu tugas manusia berkehidupan di dunia, sebagai khalifah di bumi, adalah untuk menyebarkan kebaikan dalam dakwah. Tugas dakwah pertama kali Allah bebankan kepada para nabi dan rasul sebagai the messenger of God atau pembawa pesan Tuhan, yang kemudian dilanjutkan kepada umatnya sebagai the messenger of messenger setelah tidak adanya nabi yang ditunjuk setelah Rasulullah ﷺ.

Dakwah adalah mengajak orang lain dalam kebaikan. Niat awal yang harus ditanamkan adalah mengingat Allah dalam beramal sehingga keikhlasan ketika berbuat baik akan kita dapatkan. Ketika ketika memprioritaskan dan berorientasi pada Allah, maka dakwah yang kita sampaikan akan memiliki pesan kuat tanpa ada pamrih. Memprioritaskan Allah juga berarti apa yang kita kerjakan sesuai dengan apa yang Allah sukai, dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Untuk mencapai tujuan ini, kita berdoa untuk dijauhkan hati kita dari kesesatan dan dicondongkan kepada ketaatan.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (QS Ali-Imran:8)

“Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu! ” (HR. Muslim)

Setelah memiliki niat yang lurus dengan Allah sebagai prioritas utama, dakwah harus dimulai dari uswatun hasanah atau teladan yang baik. Sebelum menyampaikan, kita perlu memberi contoh dari perilaku-perilaku kita yang sejalan dengan tuntunan islam. Tujuannya adalah ketika orang lain melihat apa yang kita kerjakan, ini menjadi pembuktian bahwa kita telah melaksanakan apa yang kita ucapkan sehingga pesan yang tersampaikan tidak hanya sekadar omongan yang bisa menimbulkan penolakan.

Sebagai penyampai dakwah, kita tidak ingin menjadi umat pendahulu yang dianggap gagal dalam berdakwah, contohnya bani israil di jaman Nabi Musa alaihissalam. Allah memilih bani israil sebagai umat terpilih (the chosen nation) kelebihan yang Allah berikan kepada mereka. Di antara mereka banyak yang menjadi ulama, memahami Taurat dan menjadi pengikut setia Nabi Musa dan para nabi lainnya. Kegagalan mereka dalam berdakwah, salah satunya karena sifat bani israil yang suka bertanya sehingga menyulitkan diri mereka sendiri dan menyebabkan kebingungan. Ketika mereka diperintahkan untuk menyembelih seekor sapi betina, bani israil bertanya tentang umur sapi tersebut. Lalu, disampaikanlah bahwa usia sapi tersebut tidak tua dan tidak juga terlalu muda. Mereka pun bertanya lagi warna sapi. Disampaikanlah sapi itu berwarna kuning tua dan tidak pernah dipergunakan untuk membajak. Setelah semuanya ditanyakan, mereka akhirnya baru melaksanakan perintah tersebut dan mereka mendapati kesulitan untuk menemukan sapi yang sesuai dengan yang disebutkan Nabi Musa. 

Menyampaikan dakwah memanglah tidak mudah. Manusia akan menerima penolakan karena pesan yang disampaikan bertentangan dengan nilai dan norma yang telah berlaku di masyarakat. Salah satu contoh kasus kesulitan dalam berdakwah adalah ketika menyampaikan kebenaran kepada orang-orang terdekat, terutama mereka yang menjadi bagian dari keluarga. Kesulitan bermula pada keengganan hati untuk menerima penolakan karena itu bisa merusak hubungan silaturahim dengan keluarga sendiri. Kemudian dalam keluarga, norma bahwa yang muda tidak bisa menasehati yang tua masih banyak ditemukan, sehingga menasehati dianggap sebagai bentuk perlawanan.

Lalu bagaimana penyampaian dakwah terbaik? Ide terbaik adalah dengan meneladani dan mencontoh sikap dakwah Rasulullah ﷺ, seperti pada konsep uswatun hasanah yang telah disebutkan. Menerapkan sunnah Rasulullah sebelum menyampaikan sejalan dengan konsep islam bahwa dakwah terbaik adalah dengan hikmah daripada dengan lisan. Ketika menyampaikan secara lisan dalam contoh kasus mendakwahi keluarga, kita tidak bisa mendikte dengan ayat atau hadist, atau setidaknya perlu cara-cara yang hati-hati dalam menyampaikan ayat atau hadist. Hal ini karena, meskipun bermaksud baik, ayat dan hadist bisa menyalahpahamkan persepsi antara dua orang yang saling berdebat dengan niat dibaliknya yang kurang ikhlas untuk memperbaiki. 

Termasuk ketika kita menyampaikan kebaikan kepada orang-orang terdekat, pesan akan diterima dengan lapang oleh siapapun dengan didahuli dengan hikmah berupa teladan yang baik, biidznillah.


Wallahu a’lam bish-shawabi 

-Tim Panitia Matrikulasi NAK-ID Batch 3-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s