[MFA2020] Belum Tentu yang Kita Suka itu Baik – Amanda Nurshadrina


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

MFA2020 - Belum Tentu yang Kita Suka Itu Baik - 01

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh  jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu  menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak  mengetahui (QS Al-Baqarah, 2:216) 

Ayat tersebut sudah menemani hidup saya selama hampir 10 tahun. Pertama kali, ayat ini diperkenalkan sebagai tugas hafalan prasyarat bergabung dalam organisasi sekolah. Awalnya, saya bingung mengapa memasuki organisasi sekolah saja harus menghafal? Tapi sepertinya, Allah ingin memberikan petunjukNya kepada saya.

Setelah membaca berulang-ulang  terjemahannya, saya baru paham bahwa maknanya begitu besar. Secara tidak langsung, ayat ini  memberi kesan mendalam kepada saya. Ayat ini pun akhirnya menjadi kata-kata motivasi yang  menjadi pegangan saya dalam menjalani hari ke hari. Untuk selalu meyakini bahwa Allah lebih  mengetahui apa-apa yang tidak saya ketahui. 

Dalam penjelasan Ustaz Nouman Ali Khan, ayat ini terbagi dalam tiga frasa. Frasa pertama merujuk kepada peperangan. Sebenarnya, hal ini kontradiktif dengan sifat alami manusia, yaitu menjaga kedamaian. Wajar saja jika banyak yang tidak menyukai. Namun, ternyata Allah punya maksud lain. Peperangan yang dimaksud dapat diartikan secara harfiah, maupun konotasi, di mana kita mengalami perang setiap hari. Allah ingin kita untuk terus berperang atau memperjuangkan segalanya, bahkan mempertaruhkan diri kita di atas nama Islam. Apakah kita siap?

Padahal sadarkah kita? Mempertaruhkan diri di atas nama Islam merupakan konsekuensi dari pengucapan syahadat. Artinya, sebagai bukti kita seorang muslim, seharusnya kita akan melakukan apapun demi Islam. Tapi apa benar sudah seperti itu? Mengerjakan perintah-Nya  saja kadang masih setengah hati. Buat saya pribadi, mungkin saya belum sepenuhnya berani untuk bertaruh. Saya masih harus belajar agar dapat mencontoh para sahabat Rasulullah dan pengikut pada zaman tersebut. Mereka rela mempertaruhkan nyawa untuk membela Islam, apakah kita juga sudah seperti itu? Biasanya manusia hanya ingin mendapatkan apa yang disukainya, tanpa memperhatikan dampaknya pada Islam. Yap, sungguh ironis sebenarnya.

Frasa berikutnya, disebutkan bahwa apa yang kita sukai bisa jadi buruk untuk kita dan apa yang tidak kita sukai mungkin baik untuk kita. Kita sering mempertanyakan keputusan Allah ketika tidak memberikan apa yang kita inginkan. Padahal bisa jadi itu tidak baik untuk kita. Kita bahkan sering mempertanyakan keputusan Allah ketika memberikan hal yang tidak kita sukai. Padahal mungkin dengan berat hati Allah melakukan itu karena pada dasarnya, Allah tidak suka hamba-hambaNya berada dalam situasi sulit. Justru terkadang, dari situasi yang tidak menyenangkan tersebut, kita belajar untuk menjadi lebih baik lagi.

Situasi ini diibaratkan dengan perjuangan seorang ibu ketika anaknya sakit. Jika ingin anaknya sembuh, anak harus minum obat. Si anak tidak suka minum obat. Ia akan menangis menjerit-jerit jika diberikan obat. Ibu pasti tidak suka melihat anaknya menjerit-jerit, tetapi ibu tahu bahwa semua yang dilakukan untuk kebaikan anaknya. Yap, Allah tahu bahwa kesulitan yang kita alami adalah untuk kebaikan kita. Dan biasanya kita baru menyadari kebaikan tersebut di akhir. 

Pada frasa terakhir, disebutkan pula bahwa Allah mengetahui hal-hal yang tidak kita ketahui. Kita diingatkan untuk selalu memegang janji Allah. Jangan sekali-sekali mendahului pengetahuan Allah karena kita tidak benar-benar mengetahui diri kita sendiri. Allah yang tahu bagaimana diri kita. Hal ini merupakan fakta yang tidak dapat diganggu gugat. Allah tahu yang terbaik untuk diri kita. 

Mungkin dalam kehidupan ini, kita lebih sering merasa diberikan suatu hal yang tidak kita sukai. Saya pribadi sering mengalaminya. Berat pasti pada awalnya untuk menerima keputusan Allah. Bahkan seringkali kita marah dengan keputusan tersebut, padahal manusia tidak benar-benar tahu yang terbaik baginya.

Contohnya Allah melarang adanya sentuhan fisik antara lawan jenis, namun pada umumnya, kita masih sering melakukan jabat tangan dengan lawan jenis. Lalu, pada situasi pandemic ini, baru kita ketahui, bahwa tidak melakukan sentuhan fisik merupakan cara terbaik untuk menghindari pandemi. Itu baru satu contoh. Masih banyak contoh lain yang tidak disukai oleh kita, justru merupakan yang terbaik bagi kita.

Kehidupan seorang muslim di dunia kan seperti memegang bara api. Tidak mudah, dan kita mungkin tidak menyukainya. Namun kelak akan kita mendapatkan kebaikan jika kita menuruti perintah Allah.

MFA2020 - Belum Tentu yang Kita Suka Itu Baik - 02.jpg

Konsep dari ayat ini akan membuat hidup lebih mudah jika kita menginternalisasikannya. Saya pun masih belajar untuk menginternalisasikannya. Berjuang di atas nama islam, serta percaya dengan keputusan Allah karena Allah Maha Tahu. Jika kita ikuti maka hidup kita akan lebih nyaman, lebih ringan, karena kita yakin jalan hidup yang Allah tunjukkan untuk kita. Walaupun sulit, semua untuk kebaikan kita.

__

Video referensi : https://youtu.be/8cdPuduj3Ho 

Ditulis oleh: Amanda Nurshadrina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s