[MFA2020] Menjadikan Syukur Bagian Besar Hidup Kita – Siti Nur Hardiani


Ada yang nampak berbeda di Ramadan tahun ini. Masjid kini nampak kosong, tak terdengar lagi lantunan surat-surat al-Qur’an di sepanjang shalat tarawih berjemaah. Tak terdengar lagi wacana buka bersama yang biasanya sudah direncanakan jauh hari.

Perbedaan yang telah terasa dan terjadi selama beberapa bulan belakangan ini. Perbedaan yang diakibatkan Covid-19. Sebuah pandemi yang mempengaruhi segala sisi kehidupan kita semua; spiritual, ekonomi, pendidikan, dsb. Tak hanya Indonesia, namun dunia pun merasakan efeknya.

Allah saat ini sedang menguji kita dan sedang ingin menaikkan keimanan kita, saat dimana kita hidup di tengah ketidakpastian. Hal ini mengingatkan saya sebuah khutbah ustaz Nouman Ali Khan yang membahas sebuah potongan cerita Nabi Musa ‘alaihi salam yang diabadikan dalam QS. Ibrahim (14) ayat 7, yang berbunyi:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Ayat ini menjadi salah satu ayat favorit saya karena ayat ini senantiasa mengingatkan saya akan pentingnya bersyukur. Selain itu, dalam ayat ini pula ada janji Allah yang menjadi pegangan saya dan menguatkan saya.

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, dimana Allah swt. menyelamatkan Nabi Musa dan masyarakat Israel dari kepemimpinan tirani Firaun. Namun, setelah bebas dari Firaun, kini mereka dihadapkan dengan ujian lain; yakni mereka harus bertahan hidup di tengah gurun pasir tanpa makanan dan minuman ataupun tempat berlindung. Mereka menghadapi ketidakpastian.

Dan di tengah ketidakpastian itu, ada satu hal yang Allah sampaikan melalui Nabi Musa  kepada masyarakat Israel: bersyukur. Sebuah pesan timeless yang mengingatkan kita akan kesungguhan mengamalkan syukur.

Berapa kali kita menggunakan kalimat Alhamdulillah sebatas ucapan, tidak seiring dengan isi hati atau pikiran kita? Kita mengucap Alhamdulillah, namun kita masih mengeluh. Kita mengucap Alhamdulillah, namun kita masih menghabiskan waktu untuk memikirkan kekhawatiran dan ketakutan kita.

Padahal di dalam ayat tersebut, Allah SWT menekankan bahwa jika kita mau bersyukur, maka Allah swt. akan menambahkan bagi kita. Ustaz Nouman dalam khutbahnya menjelaskan bahwa apa yang Allah tambahkan dalam ayat ini tidak spesifik. Maknanya Allah akan menambahkan apapun yang memang kita butuhkan di situasi sulit. Allah Maha Mengetahui atas apa yang kita butuhkan. Allah mungkin saja menambahkan kesabaran bagi kita untuk menghadapi kesulitan. Allah mungkin menambahkan kekuatan kita. Allah mungkin menambahkan malaikat untuk menjaga kita. Allah juga menambahkan banyak hal lain, tidak ada batasan apa yang mungkin Allah tambahkan untuk kita. Namun, di sisi lain, Allah juga mengingatkan bahwa jika kita memilih untuk tidak bersyukur, maka sesungguhnya azab Allah pedih.

Satu hal yang membuat saya tersentuh adalah saat ustaz Nouman menjelaskan bahwa saat menyampaikan tentang bersyukur, Allah swt. menggunakan sebab-akibat. Jika kita bersyukur maka Allah akan tambahkan. Namun, saat mengingatkan kita tentang azab, Allah tidak menggunakan sebab-akibat. Allah swt. hanya mengingatkan bahwa azab-Nya memanglah pedih, namun Allah tak mengazab kita hanya karena kita memilih untuk tidak bersyukur saat kita berada di situasi sulit, seperti yang di alami oleh masyarakat Israel tadi.

Hal ini mengingatkan saya kembali bahwa rahmat Allah sangat besar, lebih besar melebihi azab-Nya. Lantas apakah masih pantas untuk kita tidak bersyukur, padahal Allah berjanji untuk menambahkan apapun yang kita butuhkan?

Satu hal lain yang perlu kita ingat, Allah tidak membutuhkan ucapan syukur kita. Saat kita memilih tak bersyukur, hal itu tidak berpengaruh apa pun terhadap ke Maha Esa-an Allah. Saat kita tak bersyukur, hal itu tidak berpengaruh apa pun terhadap ke Maha Besar-an Allah. Kita bersyukur untuk kebaikan kita sendiri, untuk diri kita sendiri.

Semoga wabah COVID-19 segera Allah angkat dan semoga akan selalu ada pelajaran dan pesan yang bisa kita ambil dan amalkan dari ujian Allah ini. Juga semoga kejadian ini membuat kita mampu untuk benar-benar bersyukur, dan menjadikan syukur bagian besar dari hidup kita. Amiin ya Rabb.

__

Video referensi: https://youtu.be/MVAgSbxxfEU

Ditulis oleh: Siti Nur Hardiani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s