[Transkrip] Fahuwa Yasyfin Episode 1: Hati adalah Panglima (Ustaz Budi Ashari & dr Zaidul Akbar)


“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS Asy-Syu’ara: 80)

Percakapan antara Ustaz Budi Ashari, Lc. & dr Zaidul Akbar

Ustaz Budi Ashari: Assalaamu’alaykum Warahmatullaahi Wabarakatuh. Alhamdulillah, saudara-saudara yang dirahmati Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى). Kita sapa ini ada bersama dokter Zaidul Akbar. Sangat istimewa hari ini, duduk ngobrol dengan dr. Zaidul Akbar. Assalaamu ‘alaikum, ustaz.. Terima kasih banyak.

dr. Zaidul Akbar: Alhamdulillah.

Ustaz Budi Ashari: Apa kabarnya nih?

dr. Zaidul Akbar: Luar biasa.

Ustaz Budi Ashari: Meja kita ajaib hari ini.

dr. Zaidul Akbar: Oh, iya. Bakal seperti ini terus meja kita.

Ustaz Budi Ashari: Begitu, ya?

dr. Zaidul Akbar: Insya Allah.

Ustaz Budi Ashari: Ini isinya ada macam-macam ya.

dr. Zaidul Akbar: Macam-macam ustaz. Ini ada yang pertama ada Ruthob, Masya Allah, salah satu makanan kegemarannya Nabi. Kemudian ada kurma Ajwa juga, dan ada makanan kegemarannya perut kita, ustaz,

Ustaz Budi Ashari: Tempe.

dr. Zaidul Akbar: Tempe. Dan ada 3 jenis rimpang atau rempah. Ada kunyit, ada jahe, ada sereh, yang Subhanallaah luar biasa banget manfaatnya. Nanti saya akan jelaskan, insya Allah. Dan ada coklat juga, dan ada garam, ada madu, dan ini ada satu produk terbaiknya Allah, yaitu susu kambing.

Ustaz Budi Ashari: Susu kambing.

dr. Zaidul Akbar: Masya Allah.

Ustaz Budi Ashari: Luar biasa. Hari ini kita ternyata bersama dr. Zaidul Akbar dibawakan banyak makanan. Karena saya tidak mengerti meramu, makanya saya bawakan kitab.  Siapa tahu di kitabnya ada, ya kan? Bicara ini semua.

dr. Zaidul Akbar: Kayaknya ada disitu.

Ustaz Budi Ashari: Kita seimbangkan itu (ilmunya). Pagi-pagi alhamdulillah, kita sudah dikasih ramuan sama dr. Zaidul Akbar. Ide baru, ya?

dr. Zaidul Akbar: Ide baru. Baru ditemukan tadi pagi. Isinya,tuh kopi ya, kopi… Karena kalau selama ini kan orang minum susunya, eh minum kopi kan kopi pakai susu, atau kopi susu, gitu kan? Kalau sekarang susunya kita pakai susu kambing, ustaz.

Ustaz Budi Ashari: Masya Allah.

dr. Zaidul Akbar: Kemudian pemanisnya kita pakai madu. Jadi ini minuman yang sangat luar biasa.

Ustaz Budi Ashari: Kopi, susu kambing sama madu. Kita coba dulu ini.

dr. Zaidul Akbar: Kita coba… bismillah…

Ustaz Budi Ashari: Ini menarik kayaknya buat ide… ide kafe berikutnya.

dr. Zaidul Akbar: Ide kafe berikutnya, yang susah dijelaskan dengan kata-kata.

Ustaz Budi Ashari: Waduh…

dr. Zaidul Akbar: Kalau bahasa kita mah speechless…

Ustaz Budi Ashari: Speechless.

dr. Zaidul Akbar: Speechless…

Ustaz Budi Ashari: Masya Allah, alhamdulillah… Kita memang mau berbicara tentang kesehatan, ya dok ya…

dr. Zaidul Akbar: Insya Allah.

Ustaz Budi Ashari: Kesehatan, tapi kita ingin bicara yang komprehensif, yang lengkap tentang kesehatan.
Karena Islam juga bicara kesehatan.

dr. Zaidul Akbar: Betul.

Ustaz Budi Ashari: Bukti paling gampang kan Qur’an sendiri bicara tentang Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim saja, ketika sekelas Nabi Ibrahim abul anbiya, bapaknya para nabi itu… di antara kalimat yang beliau sampaikan itu ternyata ada juga bicara tentang masalah kesehatan. Tentang tema… وَاِ ذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ

“Kalau aku sakit maka Dia (Allah) yang menyembuhkanku.” (QS Asy-Syu’ara: 80)

Itulah rangkaian dari kalimat. Tetap kalimat pertamanya adalah hidayah. Penciptaan dan hidayah.

الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ (QS 26: 78)
وَالَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ (QS 26: 79)
وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ (QS 26: 80)
وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (QS 26: 81)

Jadi artinya bahwa Nabi Ibrahim ((عليه سلم))  juga membicarakan, di antara pembicaraan Beliau adalah tentang masalah kesehatan. Selain bicara tentang hidayah,  “Dia menciptakan aku (Nabi Ibrahim (عليه سلم)), dan memberiku hidayah.”

“Dia yang memberiku makan, dan juga memberiku minum.”

“Dan kalau aku sakit, Dia yang mengobati.”

وَالَّذِيْ يُمِِتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِ (QS 26: 81)

“Dia yang nanti mematikan aku, kemudian menghidupkan aku di Hari Kebangkitan.”

Jadi Nabi Ibrahim (عليه سلم) saja bicara tentang kesehatan.

dr. Zaidul Akbar: Masya Allah.

Ustaz Budi Ashari: Itu begitu penting berarti, ya?

dr. Zaidul Akbar: Betul. Sangat penting.

Ustaz Budi Ashari: Kita akan bicara, Nabi Ibrahim (عليه سلم) bicara kesehatan. Kita juga akan bicara kesehatan.  Nanti juga kita akan buka-buka di kitab-kitab kita ini.  Karena ternyata luar biasa, maka kita akan mencoba mencari pengobatan فَهُوَ يَشْفِنِ.  Ini mengingatkan saya kalimat Imam Syafi’i itu dok….

Imam Syafi’i mengatakan.. Ketika…. disebutkan ketika beliau sakit itu, kemudian beliau bersyair.

طَلَبُوا لِي طَبِيبَ الوَرَى
وَطَلَبْتُ أنَا طَبِيبَ السَّمَاء
طَبِيباَن هذا يُعْطِي الدَوَاء
وَذاكَ يَجْعَلُ فِيْهِ الشِّفَاء

Jadi, mereka mencarikan untukku dokter manusia,  Ah, saya cari ‘dokter langit’.

Saya cari ‘dokter langit’. Ini ada dua dokter, yang satu memberi obat, yang satu menjadikan pada obat, kesembuhan.  Jadi kalau obat tidak menyembuhkan…

dr. Zaidul Akbar: Salah siapa itu? Ada masalah berarti. Ada masalah…

Ustaz Budi Ashari: Gitu ya? Insya Allah, makanya kemudian karena فَهُوَ يَشْفِنِ Karena Dia (Allah) yang menyembuhkanku, ya…  Kita tidak hanya bicara obat.

dr. Zaidul Akbar: Ya.

Ustaz Budi Ashari: Dan ternyata Islam bicara banyak hal, nanti akan kita lihat di kitab-kitab para ulama. Dan ternyata memang karena manusia ini Allah ciptakannya… kalau para ulama mengatakan ada 3 unsur; ada hati, atau kita suka sebut jiwa, ada akal, dan ada fisik.  Ketiga-tiganya itu perlu seimbang, kan, dok?

dr. Zaidul Akbar: Betul.

Ustaz Budi Ashari: Nah itu kalau di… kalau misalnya di ilmu kedokteran…

dr. Zaidul Akbar: Seperti apa? Ya mungkin kalau dasar utamanya itu, kita harus mengembalikan kepada Islam, ustaz. Kalau saya sih… Selama ini kan adalah suatu… suatu konsep tentang kesehatan yang…  Mungkin kita sempat paham bahwa ada konsep kesehatan, “Mens sana incorpore sano”.  Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.

Ustaz Budi Ashari: Ya.

dr. Zaidul Akbar: Ya, itulah… Jadi mereka kalau dalam konsepnya barat yang digaung-gaungkan selama ini, memang ada, kalau kita pahami itu kayaknya benar.  Kayaknya… tapi waktu saya pikir-pikir… kayaknya salah ini.

Ustaz Budi Ashari: Lalu siapa yang menafsirkan ini?

dr. Zaidul Akbar: Yang menafsirkan kita. Ya banyak orang, siapapun…

Ustaz Budi Ashari: Dulu kita sekolah kita bilang benar itu.

dr. Zaidul Akbar: Betul! Jadi di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.  Berarti konsepnya… Sehat dulu badannya…

Ustaz Budi Ashari: Iya.

dr. Zaidul Akbar: Luar dulu baru ke dalam. Kan gitu, kan?

Ustaz Budi Ashari: Terbalik itu.

dr. Zaidul Akbar: Terbalik.

Ustaz Budi Ashari: Rumusannya juga terbalik itu.

dr. Zaidul Akbar: Jelas terbalik. Nah itu langsung dibantah sama hadis itu kan, yang kita sering dengar itu, bahwa Nabi bilang itu kan yang kita sering dengar,

إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ

“Apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh jasad.” (HR Bukhari & Muslim)

Itu dulu dibenerin. Hati, qalb dulu. Qalbunya dibenerin, kalau qalbunya bermasalah… seluruh hormon, enzim, fisiologis, metabolisme, semuanya pasti bermasalah. Itu dulu konsepnya.  Makanya Ibnu Qayyim (رحمه الله) berkata bahwa raga yang kuat, bermula dari jiwa/qalbu yang kuat.

Ustaz Budi Ashari: Ini mengingatkan kalimatnya… dinukil juga oleh Ibnul Qayyim, Ada di sini, ada di bukunya.

dr. Zaidul Akbar: Ada disitu?

Ustaz Budi Ashari: “Tibbul Qulub Ibnul Qayyim…

dr. Zaidul Akbar: Masya Allah.

Ustaz Budi Ashari: Menulis buku, ya… Tibb itu pengobatan ya. Pengobatan… Alqulub, itu qalb (hati/jiwa). Beliau Ulama’ tapi kita juga tahu, Ulama’ dulu kan tidak satu ilmu. Multi talenta.

dr. Zaidul Akbar: Multi disiplin.

Ustaz Budi Ashari: Di muqoddimah beliau menulis tentang… Kalimatnya… kalimat sahabat, Abu Hurairah (رضي الله انه),  seperti dokter sampaikan barusan, setelah menyampaikan hadis Nabi tentang Qalb itu..

أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ (HR Bukhari & Muslim)

Setelah itu beliau menukil bagus kalimatnya Abu Hurairah رضي الله انه Beliau mengatakan bahwa kata Abu Hurairah: “Al Qalbu Malik”. Raja itu, eh… hati itu adalah raja kita, “Wal a’dhou Junud” dan anggota tubuh ini tentaranya saja, “In thobal malik thobal junud”.

Jadi kalau baik panglimanya, baik rajanya, maka baik juga tentaranya, Tapi “in khobusa al malik khobutsal junud”. Jadi kalau buruk dan jahat hatinya, maka buruk juga… Ternyata begitu. Berarti terbalik tadi ternyata ya?

dr. Zaidul Akbar: Terbalik. Itu bukan terbalik lagi, tapi sudah.. sudah salah kaprah, bukan terbalik lagi…

Ustaz Budi Ashari: Gitu ya…

dr. Zaidul Akbar: Terbalik. Dan akar muakar…. asal muasal, dari segala macam penyakit-penyakit modern saat ini, kembalikan pada hadis tadi saja..

Ustaz Budi Ashari: Termasuk kesehatan fisik juga kembali ke situ?

dr. Zaidul Akbar: Kembalikan ke situ.

Ustaz Budi Ashari: Berarti tepat ya.. tadi ya… Dan tema Al Qalb itu kan juga Iza sholahat,  Kalau segumpal daging itu baik, sholahal-jasadu kulluhu, semua badan menjadi baik.

dr. Zaidul Akbar: Benar.

Ustaz Budi Ashari: Berarti bukan “Mens sana incorpore sano”?

dr. Zaidul Akbar: Yah, sudah lah.

Ustaz Budi Ashari: Gantinya apa, gantinya?

dr. Zaidul Akbar: Tidak tahu.. Tidak tahu. Mens sana wis karepmu…

Ustaz Budi Ashari: Mens sana sakarepmu, itu bahasa baru, nanti kita promosikan di Fahuwa Yasyfin.

dr. Zaidul Akbar: Cuma ada yang menarik, ustaz, kalau diteruskan.. Jadi, pertanyaannya bagaimana Qalbu itu bisa terpengaruh? Sebelumnya kita pakai terminologi bahasa, jiwa, saja deh. Bagaimana jiwa itu bisa terpengaruh sehingga menyebabkan gangguan fisik?  Kan, tadi konsepnya dari dalam ke luar.

Ustaz Budi Ashari: Dari dalam dulu..

dr. Zaidul Akbar: Dalam dulu, baru keluar.

Ustaz Budi Ashari: Oke…

dr. Zaidul Akbar: Nah berarti kalau saya mengumpamakan begini, ustaz. Misalnya gini, kita lagi mau setel parabola, nih. Setel parabola… Katakanlah ustaz mau ambil channelnya, misalkan channel Mekkah lah, gitu kan… Lagi di Masjidil Haram, gitu kan.. Lagi orang tawaf, segala macam… Katakanlah channel itu Channel 12.

Jadi kalau channel 12 itu masuk, sesuai harapan.., ustaz bahagia, tenang. Karena memang mau lihat orang tawaf sekarang… pengen lihat orang sa’i segala macam… Nah sekarang tiba-tiba channel itu nangkap channel… katakanlah channel nomor misalkan 35, misalnya… Ternyata Channel 35 itu channel berita perampokan, channel berita korupsi…

Pas ustaz nggak sengaja lihat… Tiba-tiba lihat Channel 35.  Apa yang terjadi?  Pasti stress. Ya, kan? Walaupun sekilas cuma lihat.. misalkan itu ada polisi lah… Lagi pasang police line lah… Ada orang berdarah-darah lah… Atau mungkin lagi gambar korupsi… Macam-macam lah tangkap-tangkap gitu… Pasti pusing, stress…

Ini bukan yang saya inginkan ini. Channel ini… Apa yang terjadi? Nah ini yang terjadi, ustaz… Ini menarik… Nah ternyata dalam Islam… nah ustaz mungkin bisa lebih jelaskan ustaz…  Ternyata Qalbu itu punya reseptor. Dia punya satelitnya, punya parabolanya. Coba kalau ustaz lihat, kalau kita mungkin bahas tentang Qalbu itu selalu dikaitkan dengan 2 hal.

Ustaz Budi Ashari: Persis, persis.

dr. Zaidul Akbar: Apa itu, ustaz?

Ustaz Budi Ashari: Persis, itu bahkan disebut dalam Qur’an itu… tidak kurang dari 20 ayat. Cukup banyak.

dr. Zaidul Akbar: Cukup banyak, masya Allah.

Ustaz Budi Ashari: Ketika hati itu digabungkan selalu dengan 2 hal. Yang satu adalah As-Samaa’. Pendengaran kita. Yang kedua adalah Al-Bashar. Penglihatan kita itu.  Banyak ayatnya. Umpamanya gini..,  Nah kita ketika Allah berikan As-Samaa’,  kemudian Al-Bashar dan Al-Fu’ad.  Itu ada ayat yang ujungnya supaya kalian bersyukur. Ada yang…  Ketika Allah menyampaikan tentang As-Sama’, Al-Bashar dan Al-Fuad, pendengaran, penglihatan dan hati…  Itu ujungnya adalah nanti semua dimintai pertanggungjawaban dari Allah.

dr. Zaidul Akbar: Dua hal tadi itu?

Ustaz Budi Ashari: Tiga ini kan.

dr. Zaidul Akbar: Semua, tiga itu.

Ustaz Budi Ashari: Semua ini… Semua akan dimintai pertanggungjawaban dari Allah. Ada yang hubungan antara qalb, kemudian penglihatan dan pendengaran, ternyata begitu salah menggunakan… ujungnya jadi kayak binatang kita.

dr. Zaidul Akbar: Salah channel…

Ustaz Budi Ashari: Nah itu.. Kalau secara Qur’an begitu. Nah itu kalau penjelasan kesehatannya gimana itu?  Jadi ada hati/jiwa, kita ini, kemudian hubungannya dengan pendengaran dan penglihatan.

dr. Zaidul Akbar: Jadi memang dari sisi kesehatan, apa yang orang itu lihat, apa yang orang itu dengar… Karena manusia,, jadi kalau kita kembalikan lagi ke konsep tentang Qolbu tadi, maka… Subhanallaah, manusia itu kalau boleh saya katakan… dia makhluk hormon, ustaz.. Makhluk hormon. Kalau kita kembalikan kepada bahasa Arab, ini kan… Qalbu itu kan sesuatu yang berubah-ubah…

Ustaz Budi Ashari: “Yataqallab”

dr. Zaidul Akbar: Berubah-ubah terus.. Setiap perubahan itu tergantung dari apa yang dia lihat, apa yang dia dengar.

Ustaz Budi Ashari: Begitu ya?

dr. Zaidul Akbar: Begitu.

Ustaz Budi Ashari: Berarti memang kuat sekali hubungannya. Jadi apa yang masuk ke pendengaran kita, ke penglihatan kita, itu yang membuat hati ‘yataqallab” (berubah-ubah)?

dr. Zaidul Akbar: Akhirnya, apa? Contoh gini… Saya sekarang ambil contoh gampang aja… Saya sekarang melihat jeruk nipis. Mata saya melihat jeruk nipis, Lidah saya punya memori bahwa jeruk nipis itu asam. Pendengaran saya sering mendapatkan informasi dari orang atau mendapatkan info bahwa jeruk nipis itu asam.

Maka, ketika lihat… Jadi kalau kita kembali ke konsepnya.  Jadi kenapa manusia itu atau kita orang beriman ini, hidup itu harus mengikuti kehendaknya Allah untuk menerima apa yang Allah perintahkan, atau apa yang Allah kehendaki, maka aman semua kita.

Contoh saya bilang begini, “Ini jeruk apa sih? Asam, bikin sakit lambung, bikin apa… bikin apa… segala macam.”

Kata-kata dia tadi, muncul dari apa yang dia dengar, dia lihat, dan dia rasakan. Dan dia merasa itu tidak nyaman, tidak baik untuknya.Maka otomatis saat itu juga, ketika kata itu keluar… langsung adrenalin, atau nor-adrenalin keluar dari kepalanya.

Jadi kalau saya bilang itu… ini kayak parabolanya.  Padahal sebenarnya, dia cukup mengatakan ini, “Masyaallah ya… jeruk nipis ini banyak sekali manfaatnya.” Meskipun dia tidak suka.

Ketika dia mengatakan, “Subhanallah! رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً”(Qs Al Imron 191)

“Itu luar biasa jeruk nipis ini! Dia bisa untuk penyedap, dia bisa untuk segala macam…” Meskipun dia tidak bisa makan, tapi memaknai itu dengan positif, yang keluar nanti endorfin.  Endorfin itu cara kerjanya sama kayak orang yang lagi…

Jadi di dunia kedokteran, ustaz, ada obat namanya Morfin. Morfin ini ada morfin sintetik (buatan). Jadi tubuh kita punya morfin alami, namanya Endorfin, Endogenous Morphine. Prinsip kerjanya sama.  Nanti hubungan sama ini, sama ini, sama ini nanti saya jelaskan.

Ustaz Budi Ashari: Dahsyat.

dr. Zaidul Akbar: Masyaallah. Kenapa? Waktu Maryam رُطَبًا جَنِيًّا (QS Maryam : 25) kata Allah. Suruh goyangkan pohon kurma itu. Dan yang turun kan ini (kurma).

Ustaz Budi Ashari: Ya, betul.

dr. Zaidul Akbar: Nah, itu menarik.

Ustaz Budi Ashari: Masyaallah.

dr. Zaidul Akbar: Jadi ternyata ketika dia memaknai, “Ah, masya Allah ini jeruk nipis ini banyak sekali manfaatnya ya? ya meskipun saya juga belum bisa terlalu banyak makan jeruk nipis ini…”

Kata-kata itu keluar, maka tenang, bahagia, syukur aja. Lihat.. Tadi kata-kata itu tadi… Dan akan muncul dari ini, sehingga dia memaknai sesuatu itu dengan positif. Dengan kehendak-Nya Allah menciptakan ini, sehingga yang keluar itu morfin terus… Endogenous Morphine tadi.  Yang morfin yang dari dalam diri kita itu.

Tadi kalau Adrenalin atau Nor-Adrenalin yang keluar, itu dia 6 kali,… jadi Adrenalin-nya atau Nor-Adrenalin-nya kata seorang ahli Jepang dikatakan 6 kali lebih berbisa dari bisa ular. Bushh… dia bisa… Meskipun jumlahnya tidak banyak, jumlahnya tidak banyak, dia bisa menyebabkan kenaikan tensi, tekanan darah. Gula darah naik. Pembuluh darah menyempit. Sesak napas..  Ngeri kan manusia itu…

Ustaz Budi Ashari: Ya, ya, ya… Itu kenapa, ini ya…. Itulah kenapa Rasul itu,…

Nabi sendiri Shollallaahu ‘alayhi wasallam mengatakan, ” وَكَانَ يُعْجِبُ لِي الْفَأْلُ”

dr. Zaidul Akbar: Ya, benar.

Ustaz Budi Ashari: “Aku itu orang yang sangat kagum dengan optimisme.”

Ketika sahabat bertanya, “الْفَأْلُ, itu apa ya, Rasul?”

Kata Nabi, “الْفَأْلُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ” (HR Bukhari 10/181, Muslim 2224)

Kata-kata yang baik.

dr. Zaidul Akbar: Betul.

Ustaz Budi Ashari: Ya kayak tadi deh.. ini asam… memang asam tapi manfaatnya banyak.

dr. Zaidul Akbar: Betul.

Ustaz Budi Ashari: Begitu, ya. Berarti besok harus diubah nih ya? Karena gini, dok… Orang, anak-anak sekarang pun makan kurma, banyak yang tidak suka juga ini.

dr. Zaidul Akbar: Ya, karena tadi. Info dari penglihatan dan pendengaran mereka. Dari pikiran, jiwa segala macam, akhirnya menyebabkan… Contoh gini, tidak usah jauh-jauh…. Kemarin kan kita sudah coba tuh..,  Ada seorang ibu-ibu… Coba suruh dia makan tempe…

Ustaz Budi Ashari: Iya betul.

dr. Zaidul Akbar: “Itu kan kan tempe mentah.”

Ustaz Budi Ashari: Iya betul… ini tempe mentah ya?

dr. Zaidul Akbar: Nah ini tempe mentah, saya sudah bilang…

Ustaz Budi Ashari: Ini matang ini…

dr. Zaidul Akbar: Padahal matang bu… “Kok matang?”

“Lha iyalah, Waktu bikin tempe kan direbus dulu kedelainya,” saya bilang.

Ustaz Budi Ashari: Iya, betul.

dr. Zaidul Akbar: Coba campur sama madu. Gitu kan?… Ternyata habis satu piring.

Ustaz Budi Ashari: Itu yang mengubah cara pandang kita, ya… dan itu… itu kan “الْفَأْلُ” Optimisme itu kan… Kalau kita bicara optimis kan pasti di hati.

dr. Zaidul Akbar: Betul

Ustaz Budi Ashari: Kemudian nanti mengejewantahkannya keluar lewat lisan.

dr. Zaidul Akbar: Betul.

Ustaz Budi Ashari: Sehingga yang keluar itu kalimatnya positif, kalimat baik. Jadi kalau disimpulkan tadi berarti begitu ya,… penangkap, jendela penangkapnya itu ada As-Sama’ (pendengaran).

dr. Zaidul Akbar: Betul.

Ustaz Budi Ashari: Pendengaran, kemudian Al-Bashar (penglihatan). Begitu masuk itu… Ulama mengatakan ada yang namanya akal.  Para ulama mengatakan… Antara akal dan “Al-Qalb.” Kenapa juga Qur’an mengatakan “Qalb itu digunakan untuk memahami.” Selama ini kita bicaranya, kalau untuk memahami itu pakai akal.

dr. Zaidul Akbar: Betul.

Ustaz Budi Ashari: Qur’an mengatakan, “لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا” (QS Al-A’raf: 179)

Jadi ada hati itu yang tidak bisa paham. Tidak bisa dipakai untuk memahami faq. Faqih itu kan kedalaman pemahaman.  Kemudian ulama’ mengatakan begini, “Akal itu…, otak kita ini adalah alat.”

Alat untuk mengolah informasi yang masuk lewat pendengaran dan penglihatan. Masuk diolah oleh otak kita. Setelah diolah, informasi dikirim ke hati, dikirim ke Qalb. Nah, Qalb terserah… mau dia terima informasi itu, mau dia tolak, mau apa… mau dijadikan apa… Setelah itu dia akan perintahkan seluruh tentaranya. Ini kan tentara (tubuh)…

dr. Zaidul Akbar: Betul.

Ustaz Budi Ashari: Nah itulah yang tadi berarti ya… Kalau ini dibilang asam, tidak manfaat, jadi tidak manfaat.

dr. Zaidul Akbar: Dan tubuh akan merespon itu. Jadi, saya pernah mencobanya, ustaz. Jadi memang Subhanallaah… Kenapa Nabi menyuruh kita, menyikapi sesuatu itu dengan positif.  Mau menurut kita baik, menurut kita tidak baik… yang kata Nabi, “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin.” Kata Nabi gitu ya…

Kalau dapat nikmat, syukur. Dapat ujian, sabar. Maka penyikapan-penyikapan itulah yang akan membuat tubuh itu seimbang sebenarnya. Seimbang.  Jadi dia, tadi katakanlah rajanya itu bisa benar-benar kerja.Simpang limanya itu butuh Qalbu-nya itu betul-betul bisa melaksanakan perintahnya. Ini udah yang dimakan bermasalah, yang dipikir bermasalah. Semua bermasalah. Akibatnya apa?

Tubuhnya tidak bisa melakukan fungsinya. Jadi tentaranya sudah bingung. Presiden (katakanlah) dapat informasi dari menteri. Menterinya dapat dari ajudan segala macam. Info yang diberikan sama semua, semua salah. Maka tadi, saya sampaikan di awal tadi bahwa, manusia itu kalau dia hidup menurut kehendak Tuhannya seperti apa, aman hidupnya ini pasti damai, tenang.

Ustaz Budi Ashari: Jadi kembali ke kalimat Nabi Ibrahim tadi, “وَاِ ذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ”

dr. Zaidul Akbar: Dan manusia, ada seorang dokter di Jepang, dokter bedah, dia mengatakan… “Endorfin itu adalah cara Tuhan,” kata dia.  “Memaksa manusia untuk hidup bahagia.”Cara Tuhan…

Ustaz Budi Ashari: Cara Tuhan memaksa manusia untuk bahagia. Dengan Endorfin.

dr. Zaidul Akbar: Dengan Endorfin. Sebab… Jadi dia bilang… Jadi kalau dikembalikan ke ayat tadi.

“لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا” (QS Al-A’raf: 179)

Memang, bukan mata yang buta.. Lihat matahari, cuma sekadar lihat. Trus apa? Matahari itu ngapain?  Kok tiba-tiba muncul di timur, tenggelam di barat.  Lihat bintang di malam, lihat bulan di malam, lihat awan bergerak, lihat gunung, lihat pohon. Cuma lihat doang… Trus apa maknanya?

Nah itu ustaz. Pemaknaan itulah yang membuat, kalau semua orang… Jadi doa Nabi Ibrahim juga itu,

“رَبِّ هَبْ لِى حُكْمًا وَأَلْحِقْنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ” (QS Asy-Syuara: 83)

Pemaknaan. Pemaknaan, jadi… Mau dia lihat kunyit kayak apa, mau dia lihat… kalau dia tidak ngerti maksudnya Tuhan menciptakan ini untuk apa, tidak paham dia. Itu letaknya di situ, jadi…  Sama juga kenapa Maryam (عليه سلم) ketika beliau itu, Subhanallah. mau melahirkan Nabi Isa (عليه سلم), Allah suruh beliau, “Goyangkan pohon kurma.”

Ustaz Budi Ashari: Jatuh kurmanya.

dr. Zaidul Akbar: Yang jatuh bukan rambutan, mangga, katakanlah anggur, atau apa lagi lah…

Ustaz Budi Ashari: Kenapa ruthob.

dr. Zaidul Akbar: Kenapa ruthob? Disuruh mikir.

Ustaz Budi Ashari: Jadi ini kalau dilihatin saja, trus tidak tidak tahu maknanya, tidak ada artinya berarti.

dr. Zaidul Akbar: Tidak ada artinya. Endorfin tidak akan keluar.

Ustaz Budi Ashari: Endorfin tidak keluar.

dr. Zaidul Akbar: Tidak keluar. Yang keluar itu cemas.

“فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصَٰرُ وَلَٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ” (Al-Hajj: 46)

(Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati di dalam dada)

Ustaz Budi Ashari: Jadi tidak buta matanya. Saya lihat ini ada kunyit, ada jahe. Ya, kan? Tapi kalau al-qulub nya buta… hatinya buta, ternyata ini tidak ada manfaatnya. Padahal ini manfaatnya luar biasa…

dr. Zaidul Akbar: Luar biasa.

Ustaz Budi Ashari: Luar biasa ini… Ini di sekeliling kita ini ya?

dr. Zaidul Akbar: Di sekeliling kita… Dan yang menariknya lagi ustaz… nah ini menariknya lagi…  Jadi si hormon-hormon tadi itu, endorfin, apa segala macam… atau katakanlah hormon-hormon tadi, ada satu bahan pembentuk hormon, namanya asam amino.

Ini menarik. Ternyata asam amino itu paling tinggi kita dapatkan di 2 produk ini, sama ini…. Ruthob, kurma, madu.  Kenapa orang makan ini bisa bahagia?  Karena dia membentuk asam amino.  Tapi masalahnya begini…  “Hahh… manisnya…” (perasaan negatif) Begitu toh? Memang begitu toh?

Ustaz Budi Ashari: Ya, ya, ya….

dr. Zaidul Akbar: Ini tidak akan dapatkan kebahagiaan dari situ.

Ustaz Budi Ashari: Endorfinnya tidak keluar.

dr. Zaidul Akbar: Justru malah adrenalin yang keluar. Meskipun ini baik.

Ustaz Budi Ashari: Wah, ini PR nih buat semua kita PR. Karena ini Tuhan memaksa kita bahagia (bersyukur), ya kan?

dr. Zaidul Akbar: Betul.

Ustaz Budi Ashari: Tetapi kita memilih sengsara, ya? Kita milih susah ini… Ini semua untuk membuat kita bahagia.

dr. Zaidul Akbar: Secara scientific, kita memang… kayak mungkin kita bicara… endorfin saja. Endorfin itu… dia butuh asam amino essential, Asam essential itu tidak bisa dibuat tubuh. Harus dari sesuatu di luar tubuh. Kalau kita baca dalam kisahnya Maryam (عليه سلم). Itu kan beliau lagi apa… sedih. Takut. Waktu lagi sedih, waktu takut, Allah suruh makan… Ruthoban janiyya.

Ustaz Budi Ashari: Ruthoban janiyya. Artinya memang benar ya… Itulah kenapa kita di acara Fahuwa Yasyfin ini…

dr. Zaidul Akbar: Fahuwa yasyfin.

Ustaz Budi Ashari: Dialah yang menyembuhkanku.

dr. Zaidul Akbar: Betul.

Ustaz Budi Ashari: Dialah Allah yang menyembuhkanku, itu… Ternyata memang, kesehatan itu pertama kali justru dari dalam diri kita. Karena qalbu itu dalam diri kita.  Masalahnya, ia sangat dipengaruhi oleh apa yang di luar diri kita,  Tapi Allah sudah kasih, semuanya ini ternyata ada di sekeliling kita, yang memaksa kita bahagia tadi itu, Hanya kemudian salah terjemahan tadi.  Bukan mata yang buta, tapi hati yang buta (tidak bisa memahami).

dr. Zaidul Akbar: Makanya kalau saya pernah bilang, Indonesia saja misalnya, kalau penduduk negeri ini…. jikalau penuh suatu negeri itu bertakwa, akan kami limpahkan berkah dari langit dan bumi, kata Allah gitu kan? Seandainya orang Indonesia makan kayak begini, tiap hari mereka minum, bikin lauk segala macam, ada rasa pedasnya di jahe, ada rasa agak pahit di sini, ada rasa hangat di sereh ini. Rasa-rasa ini kan dibuat Allah atau diciptakan Allah untuk manusia.  Jahe katakanlah hangat untuk pencernaan, kunyit buat pembuluh darah, seperti itu…

Ustaz Budi Ashari: Semua rasa ini ada manfaatnya, ya? Kopi tadi pahit, kan?

dr. Zaidul Akbar: Ini kopi bahagia, ustaz. Minum dulu…

Ustaz Budi Ashari: Kalau kopi pahit, ya? Ada manfaat juga ternyata pahitnya? Orang tidak suka pahit lo… Anak-anak, banyak yang tidak suka pahit.

dr. Zaidul Akbar: Kenapa orang selalu berpikir seperti itu?  Padahal kalau diberi obat oleh dokter, rasanya pahit, dia tetap mau minum. Kenapa? Karena ada janji dokternya. Obat ini dapat menyebabkan ini dan itu. Kalau kita membahas kopi, ini salah satu.. “fat burner”, pembakar lemak. Kopi itu membakar lemak. Dan kopi adalah stimulus jantung. Dia menguatkan jantung. Jadi meningkatkan denyut jantung.

Itu baru kopi saja. Dicampur dengan susu kambing, dan madu. Masyaallah. Jadi ada asam amino-nya, ada penguat jantung-nya dan ada penguat pencernaan.  Kalau jantung sudah bagus, maka otak pun akan sehat.

Ustaz Budi Ashari: Saya jadi berpikir sederhana tentang kesehatan, dok. Ternyata di sekeliling kita tersedia lho.  Kan mudah kalau saya dikasih bahasa… Pahit itu ternyata bagus bagi jantung, umpamanya… Kemudian susu begini, madu begini, kurma… Asam amino bagus sekali dari kurma dan madu dan itu sangat bagus buat hormon kita. Jadi mudah sekali bagi saya untuk memahami kesehatan…  Karena kalau saya dengarkan penjelasan ilmiah kesehatan itu, tidak mengerti saya… Bahasanya tidak paham. Bahasanya tidak paham, apalagi ini nih…

dr. Zaidul Akbar: Tidak apa-apa, tidak usah dipahami, ustaz, Jalani saja. Yang penting kan sehat.

Ustaz Budi Ashari: Iya ya ya ya….

————–

Credit Video: YouTube AlFatih.TV https://www.youtube.com/channel/UCzeaZzRd3Y99zIpQ3L9lxEg
Credit Transkrip: Komunitas Subtitle Darul Arqam Studio https://t.me/volunteersubtitledasindonesia

Subtitle/Transkrip sudah dikirim ke tim AlFatih.TV

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s