[MFA2020] Ketika Al-Quran Berkisah tentang Pendidikan Terbaik – Syarifatun Nisa NH


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Berbicara tentang pendidikan, ada satu episode dalam Al-Qur’an yang memberikan banyak sekali pelajaran untuk saya, dari kisah seorang Maryam.

Kenapa kisah Maryam ini sangat membekas dalam hati saya?

Pertama, karena Allah karuniakan saya seorang anak perempuan dan kisah Maryam dalam Al-Qur’an ini memberikan banyak inspirasi bagi saya dalam mendidik anak.

Kedua karena ketertarikan saya dalam dunia pendidikan islam, ketertarikan ini yang  membawa saya untuk terus berusaha mencari bagaimana Al-Qur’an menjelaskan tentang konsep mendidik yang sesuai dengan apa yang Allah kehendaki dalam ayat-ayat-Nya. 

Sebelumnya, saya ingin bercerita tentang pengalaman saya tinggal di sebuah pondok pesantren. Qadarullah di pesantren itu saya diamanahi menjadi guru dan wali kamar santri. Amanah tersebut membantu saya untuk mengenal para santri lebih dekat dan mendalam. Dari sekian banyak interaksi bersama mereka, saya menemukan fenomena bahwa ada beberapa santri yang sama sekali tidak tahu kenapa orang tuanya ‘menitipkannya’ di pondok pesantren. Sebagian ada yang merasa terpaksa, dan kondisi ini sangat mempengaruhi bagaimana sikap mereka di pondok. 

Saya sebagai guru paham apa yang diharapkan para orang tua saat mengamanahkan buah hatinya di pesantren. Orang tua ingin menyediakan lingkungan yang baik untuk pendidikan anak-anaknya. Tapi cukupkah hanya sampai disitu?

Di sisi lain saya juga bertemu dengan beberapa santri yang terlihat semangat  dan menikmati sekali setiap proses pendidikan di pondok dengan segala tantangannya. Attitude mereka bisa dikatakan sangat baik. Setiap kali bertemu santri seperti ini saya selalu penasaran dengan satu pertanyaan, bagaimana orang tua mereka mendidiknya? Dan saya hampir selalu menemukan pola yang sama, ada komunikasi yang terbangun dengan baik antara orang tua dan anak tersebut. Para orang tua ini memberikan ruang diskusi kepada anaknya sehingga keputusan yang diambil tidak sepihak. Setidaknya kekuatan inilah yang membantu para santri untuk memiliki kesadaran untuk menjalani proses pendidikan di pondok dengan baik. 

Fenomena ini mengingatkan saya pada satu ayat favorit yang juga menjadi pijakan saya saat mendidik anak-anak. 

­

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا ٱلْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَٰمَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ 

“Maka Rabb nya menerimanya dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS Ali-Imran [3]: 37)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Zakaria diamanahi untuk mengasuh Maryam. Allah memilih kata ambataha yang berarti Zakaria mengasuh maryam. 

Kebiasaan bangsa Arab saat ingin membicarakan tindakan tertentu dan ingin memberikan penekanan pada tindakan tersebut, maka mereka akan mengulangi tindakan yang sama sebagai kata benda pada akhirnya. Contohnya “dharabtuhu dharban” dalam bahasa Indonesia artinya kira-kira seperti ini “Aku memukuli (kata kerja) pukulan (kata benda)”, antara kata kerja dan kata benda harus berhubungan satu sama lain.

Ambata (kata kerja) secara bahasa berarti ketika kita menumbuhkan sebuah pohon maka kita berusaha mengurus kebunnya, menyediakan pupuknya, dan lain-lain. Dan kata benda  dari ambata ialah imbatan.

Dalam ayat ini disampaikan bahwa Zakaria membantu Maryam tumbuh dewasa. Tapi jika ini sepenuhnya hanya Zakaria yang mengasuh dengan sebaik-baiknya maka seharusnya kalimatnya menjadi “ambataha imbatan hasana”  yang artinya dia benar-benar mengasuhnya dengan pengasuhan yang paling baik. Tapi Allah justru berfirman “ambataha nabatan hasanan” (mengasuhnya dengan pertumbuhan yang paling baik), bukan asuhan tapi pertumbuhan. 

Sekarang coba bedakan dua kalimat ini, “Aku melihat pohon itu tumbuh.” dengan “Aku menumbuhkan pohon itu.”  Apa yang bisa kita pelajari? Pada kalimat pertama kita melihat pohon itu tumbuh, artinya pohon itu tumbuh dengan usahanya sendiri tanpa intervensi dari kita. Sementara pada kalimat kedua pohon itu tumbuh karena usaha kita merawatnya. Maknanya berbeda bukan?

Dalam ayat ini, ambataha bermakna “Zakaria mengasuh Maryam” artinya ada usaha Nabi Zakaria dalam mengasuh Maryam, sementara “nabaatan” bermakna “pertumbuhan yang paling baik”, makna dari kata ini adalah usaha Maryam sendiri untuk bertumbuh, tidak ada kaitannya dengan pengasuhan yang dilakukan Nabi Zakaria kepada Maryam. Di bagian ini, Al-Quran seolah melanggar aturan baku bahasa Arab, tapi ternyata menurut Ustaz Nouman Ali Khan, ada hikmah mendalam yang ingin Allah sampaikan dari perbedaan ini.

Seperti yang kita ketahui, Nabi Zakaria begitu berupaya untuk menjaga Maryam berada dalam lingkungan yang sangat baik, beliau dirikan mihrab untuk Maryam agar ibadah Maryam tidak terganggu. 

Melalui ayat ini Allah ingin menekankan bahwa, mendidik itu tidak cukup dengan hanya memberikan lingkungan, asuhan dan perawatan yang baik. Kita membutuhkan dua faktor, faktor dari luar diri sang anak dan yang lebih penting adalah faktor dari dalam diri sang anak.

Selain diberi pengasuhan dan lingkungan yang baik, dia  harus punya keinginan dan kesadaran dalam dirinya sendiri untuk tumbuh juga. Dan ketika dua hal ini bertemu, maka dengan izin Allah keberhasilan pendidikan pun akan tercapai. Seperti halnya Nabi Zakaria yang mendidik Maryam dengan baik, serta Maryam yang memiliki kesungguhan untuk tumbuh dan melalui proses pendidikan dengan baik pula.

Bercermin dari cerita para santri dan orang tuanya, juga pengasuhan Nabi Zakaria dan Maryam salamun ‘alaiha, saya jadi belajar dan merasa diingatkan tentang bagaimana seharusnya mendidik anak-anak. Betapa kami masih jatuh bangun dalam menanamkan kesadaran atas setiap kebaikan yang kami harap dapat anak-anak lakukan. 

Ada harapan, suatu saat kami bisa melihat mereka tumbuh menjadi anak-anak yang selalu menegakkan shalat tanpa harus diminta, mentadabburi Qur’an tanpa harus dipaksa, dan menjaga amalan shalih lainnya atas kesadaran bahwa Allah sebaik-baik sandaran. Dan semua harapan itu tidak bisa kami capai hanya dengan mengandalkan diri kami sendiri sebagai orang tua. 

Mungkin kami bisa berusaha mengendalikan lingkungan mereka dengan membangun suasana yang mendukung di rumah, mencarikan sekolah yang baik, mencarikan teman yang baik, membangun komunikasi yang baik. Namun kami tidak bisa sepenuhnya mengendalikan hati anak-anak. Ada Allah yang lebih berkuasa atas hati mereka. 

Maka atas setiap kekurangan dalam proses mengasuh dan mendidik anak-anak, kami selalu berharap Allah menolong dan melengkapi kekurangan itu, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi seseorang yang Allah ridhai setiap langkahnya.

__

 

Video referensi : https://youtu.be/EWZTUtwWZ1c

Ditulis oleh: Syarifatun Nisa NH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s