[MFA2020] Menangis di Tempat Terbaik – Masrifatun Nida’


Dear all our brothers and sisters, pandemi ini begitu menyita perhatian kita. Dunia menjadi lumpuh dengan hadirnya makhluk Allah yang tak kasat mata ini. Ia telah memporak porandakan berbagai sektor kehidupan umat manusia (jika kita melihat secara pandangan makhluk). Kita menjadi sedih dan berduka atas musibah yang datang ini.

Berjuta manusia terpaksa kehilangan pekerjaan sehari-harinya. PHK di mana-mana. Ada yang menjerit sebab ekonomi keluarga hancur berantakan. Ada yang kecewa sebab rencana ibadah umroh/hajinya tertunda. Ada yang menangis sebab rencana studi atau wisudanya ditiadakan. Ada pula yang ingin berkumpul keluarga pada Ramadhan dan lebaran kali ini terhalang derita.

Al-Qur’an adalah cahaya bagi perjalanan kehidupan, ia bak mutiara yang menyimpan berjuta hikmah. Setiap ayatnya penuh dengan kisah dan juga untaian petunjuk. Pada saat seperti ini, ayat yang begitu menusuk sukma adalah QS. Yusuf (12) ayat 86. Ayat favorit ini rahasia di balik perasaan sedih kita semua.

QS. Yusuf (12) ayat 86 ini mengingatkan, kepada saya khususnya dan umum saudara seiman semuanya, bahwa kesedihan dan tangisan kita itu wajar adanya. Bolehkah kita menangis? Jawabannya boleh. Ustaz Nouman Ali Khan menjelaskan kisah ketika Nabi Yaqub berkomunikasi dengan anak-anaknya. Mereka kesal kepada Nabi Yaqub yang masih sedih dan tak bisa melupakan Nabi Yusuf.

Anaknya bertanya apakah ayahnya, “Mau mengingat Yusuf sampai mati? Tidak bisakah dilupakan saja?”

 

Nabi Yaqub pun menjawab.

 إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”

Satu-satunya yang memahami adalah Allah.

 وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Dan Allah memahami daripada Orang lain. Allah memahami situasimu, curahkan keluh kesah pertama kali kepada Allah.

Nabi Yaqub bersedih selama bertahun-tahun. Ketika anak-anaknya berkata, “Bisakah kamu melupakannya?” Nabi Yaqub menjawab “Aku hanya menangis kepada Allah” Nyatanya Allah tak menyalahkan. Nabi saja memiliki perasaan ini dan diceritakan di dalam Al-Qur’an. Karena itu, tidak apa-apa jika kamu bersedih dan ingin menangis.

Bersedih, menangis dan berkeluh kesah kepada Allah akan memberikan efek tenang. Jika kau dekat dengan seseorang, pada saat kau tertimpa musibah, maka kau curahkan semua kepadanya hingga air mata pun mengalir. Bercerita kepada Allah jauh lebih dari itu. Sifat lega akan muncul melebihi cerita kepada siapapun.

 

Saya jadi ingat, saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas dahulu. Ketika memasuki waktu ujian tengah ataupun akhir semester, pasti ada perasaan was-was, sedih dan juga pasrah. Bukan karena takut dengan soal ujian, tapi saya takut tidak bisa mengikuti ujian sebab tidak mampu membayar uang SPP yang menunggak beberapa bulan. Benar saja, hari itu datang dan apa yang saya khawatirkan pun benar terjadi. Surat panggilan datang.

Setelah saya ceritakan kepada orang tua, rasanya tak kuasa melihat bapak memikirkan. Tak tahan rasanya, hingga air mata membasahi pipi. Saya masuk kamar dan menangis. Bapak saya mengetahui, beliau berkata. “Jangan nangis, kamu punya Allah.” Di situ saya menjadi tambah menangis. Lalu, ketika saya salat, tangisan saya menjadi-jadi pada rakaat pertama. Di kalutnya segala kemungkinan buruk terjadi, setelah semuanya saya pasrahkan pada Allah, isak saya semakin berat, “ALLAAAH…”

Esoknya, ketika usai salat Zuhur berjamaah di sekolah, saya dan beberapa teman dipanggil guru bidang kesiswaan ke kantor. Tiba di sana, saya diminta menandatangani beberapa kertas lalu menyampaikan, “Alhamdulillah ada rezeki buat kamu untuk melunasi SPP yang menunggak”. Setelah pulang ke rumah, saya ceritakan kebahagiaan saya tersebut. Alhamdulillah syukur saya tak terkira.

Pun saat ini, di tengah wabah saya diuji merawat ibunda yang sakit. Ia membuat saya sedih sebab tidak mau makan hingga badannya semakin lemas. Semalam, saya menangis panjang di atas sajadah yang terbentang. Saya percaya Allah mengetahui betapa rindunya saya melihat ibu yang sehat kembali.

Begitulah rencana Allah. Sebelum ada hasil, seakan Allah berpesan kepada kita lewat firman-Nya surat Yusuf ayat 86, “Bersedihlah, menangislah! Hanya kepada Allah yang Maha Mendengar dan pasti Allah Maha Mengetahui segala gundahmu.” Allah akan memberikan solusi. Kelak akan Allah akan menjawab segala rintihan di setiap tangisan kita.

Jika pandemi ini membuat segalanya terhenti, coba sampaikan kepada Allah, sebab Allah sebaik-baik pendengar dan pemberi solusi. Tumpahkan air matamu pada tempat yang tepat, yaitu Allah.

 

 

Sumber: https://youtu.be/zPc8VM5tuWY

Penulis: Masrifatun Nida’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s