[Transkrip] Apakah Kemenangan Itu? – Nouman Ali Khan


(اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ)
(أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ)
(بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ)
(إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا) (QS Al Fath: 1)
(لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ) (QS Al Fath: 2)
(وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ) (QS Al Fath: 2)
(صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا) (QS Al Fath: 2)
(وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا) (QS Al Fath: 3)
(رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي) (QS Taha: 25-26)
(وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي) (QS Taha: 27-28)
(الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)
(وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ)
(وَعَلَى أله وَ صَحْبِه وَ مَنِ اسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ إلى يَومِ الدِّين)
(اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْهُمْ وَ مِنَ الّذِيْنَ أّمَنُوا)
(وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَ تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَ تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)
(آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ)

Insya Allahu ta’ala hari ini kita bahas suatu topik rahasia, saya bilang kepada panitia, rahasia, karena saya masih memikirkannya. Sebenarnya topik ini sudah saya pikirkan dalam dua bulan terakhir ini. Saya merasa, di antara umat, banyak terjadi kebingungan.

Kita amati dunia di sekitar kita, dan berpikir tentang realita di seputar kita, apakah itu realita politik, sosial, atau ekonomi, atau realita yang terkait dengan kehidupan pribadi kita. Kita harus mencari tahu apa makna semua itu. Kita harus mengerti hal-hal seperti berita, atau paham dengan tantangan hidup kita sendiri. Tapi saya makin merasa bahwa kita belum memandang realita di seputar kita melalui kitab Allah.

Dengan kata lain, cara terbaik untuk memahami realita adalah dengan memahami konsep tertentu dari Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى). Begitu memahaminya, pandangan, perspektif, dan opini Anda akan berubah.

Saya akan memberi contoh sebelum mulai dengan pembicaraan khusus ini. Dan itu adalah… Bayangkan Anda menggunakan kacamata atau Anda memiliki penglihatan yang sangat lemah. Anda memiliki penglihatan yang sangat lemah. Dan Anda lupa mengenakan kacamata, oke.

Jadi Anda tetap bisa melihat, tapi tidak jelas, atau ada sesuatu yang hilang dari penglihatan Anda. Anda mungkin melihat ada rambu-rambu, tapi mungkin tidak bisa membaca yang tertulis. Anda paham maksud saya? Begitu Anda pasang lensa, atau kacamata yang cocok, sekarang Anda bisa melihat dengan jelas.

Coba pikirkan Al Qur’an seperti sebuah kacamata. Begitu dipasang, begitu Anda berpikir melalui Al Qur’an, realita menjadi jelas. Anda seperti mulai melihat dengan sudut pandang yang berbeda, Anda tidak lagi melihat dengan cara seperti sebelumnya, oke…

Ukuran Sukses Dunia

Saya beri contoh kecil sebelum… saya membahas ayat yang ingin saya sampaikan kepada Anda.

Sebenarnya, menurut saya, saya mungkin akan menghabiskan waktu enam bulan hingga setahun atau lebih untuk mempelajari satu surat ini sebelum bisa membahasnya secara menyeluruh, namun saat ini saya hanya menyampaikan beberapa konsep singkat.

Sebelumnya, sebuah perumpamaan… Jika saya naik bus dengan sekelompok pemuda dan pemudi, lalu kami melewati sebuah gedung megah. Sebuah rumah yang indah di puncak bukit, di sebelahnya, ada pantai. Sebuah rumah yang menarik perhatian saking indahnya.

Di jalan masuknya, ada sebuah mobil mewah yang parkir. Di belakang rumah, ada taman yang sangat cantik, dilengkapi kolam renang dan semua fasilitas lainnya. Apapun yang kita angankan ada. Bagaikan sepotong surga di bumi.

Seraya melewati rumah itu, kami melihat seorang lelaki, pemiliknya masuk ke rumah itu. Lalu saya bertanya kepada para pemuda-pemudi ini, “Apakah menurut kalian lelaki itu sukses?”

“Apakah menurut kalian dia sukses?”

Kira-kira seperti apa jawaban kebanyakan mereka?

“Ya, dia cukup sukses.”

“Lihat saja apa yang telah dicapai dalam hidupnya.”

“Dia orang yang cukup sukses.”

“Baiklah.”

Ketika Anda mengambil foto seseorang yang baru lulus kuliah, mereka berjabat tangan dengan rektor, ijazah diserahkan kepada mereka. Lalu seseorang bertanya kepada Anda, “Apakah menurut Anda itu sebuah kesuksesan?”

Seperti apa jawaban orang-orang? Baik Muslim atau non-Muslim, semuanya akan menjawab bahwa itu adalah…? Sukses!

Kita akan… saya akan menyelamati anak-anak saya suatu hari, saat mereka lulus kuliah, karena itu semacam kesuksesan.

Jika seseorang memperoleh pekerjaan, apakah itu juga termasuk kesuksesan? Tentu!

Kita ucapkan selamat ketika orang memperoleh pekerjaan. Ketika seseorang membeli rumah, memulai usaha, membeli sebuah mobil baru, menikah, ketika orang mencapai sesuatu dalam hidupnya, kita merayakannya. Karena ini termasuk kesuksesan meski kecil atau besar. Betul?

Cara Muslim Berpikir Tentang Kesuksesan dan Kegagalan Seharusnya Berbeda

Bus terus berjalan, lalu kami melihat seorang lelaki, seorang tunawisma yang tinggal di kotak karton di pinggir jalan. Sepertinya dia memakai baju yang sama beberapa tahun ini. Anda tidak ingin dekat-dekat dengannya karena baunya.

Saya bertanya kepada siswa-siswi saya, “Apakah menurut kalian lelaki ini sukses?”

Apa jawaban mereka? Menurut mereka dia tidak sukses.

Sekarang bayangkan saya mengendarai bus ini dan di dalamnya bukan pemuda pemudi Muslim, tetapi pemuda pemudi Kristen, atau Yahudi, atau ateis, atau agnostik, atau Budha, dan saya tanyakan pertanyaan yang sama.

Menurut Anda apakah jawaban mereka akan sama? Ya, jawaban mereka akan sama.

Itulah masalahnya. Masalahnya cara kita menilai sebuah kesuksesan dan menilai kegagalan, bagi umat Muslim seharusnya berbeda.

Jika semua manusia lain melihatnya dengan cara yang sama, tidak masalah. Mereka memandang kesuksesan dan kegagalan dari apa yang tampak. Namun kita umat Muslim, Allah telah memberi kita kacamata yang lebih tajam. Begitu kacamata itu kita gunakan untuk melihat realita. Kita melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

Jadi begitu Anda pasang kacamata itu, serta merta Anda berpikir tentang kitab Allah, dan menyadari bahwa salah satu rumah yang paling indah, paling menawan, rumah termegah yang pernah ada adalah istana Fir’aun. Sebuah rumah termegah yang pernah dibangun.

Al Qur’an Mengajar Saya: Keberhasilan Tidak Berhubungan Dengan Kekayaan. Kegagalan Tidak Ada Hubungannya Dengan Kemiskinan

Dan andaikan bus kami melewati istana Fir’aun, sementara dia sedang berjalan masuk ke rumahnya, lalu saya bertanya kepada siswa-siswi Muslim saya, “Apakah itu sebuah kesuksesan?”

“Apakah lelaki itu sukses?”

Kira-kira apa jawaban mereka? Fir’aun tidak sukses, dia salah satu pecundang kelas kakap dari seluruh sejarah manusia. Bukankah demikian?

Orang kedua yang kita lewati seperti apa dia? Lelaki yang satu sedang berjalan masuk ke gedung mewah, bagaimana dengan yang satunya? Lelaki tunawisma. Oke.

Ibrahim (عليه السلام) diusir dari rumahnya, dia disuruh pergi dari rumahnya, jadilah dia tunawisma. Namun apakah dia seorang yang sukses? Iya. Sebenarnya dia bahkan salah satu manusia paling sukses yang pernah ada.

Jadi Al Qur’an mengajari saya bahwa seorang tunawisma itu sukses, sedang seorang lelaki yang sangat kaya dianggap apa? Seorang pecundang.

Anda mengerti apa yang diajarkan Al Qur’an kepada saya? Al Qur’an mengajari saya bahwa kesuksesan itu tidak ada hubungannya dengan kekayaan. Dan kegagalan tidak ada hubungannya dengan kemiskinan. Sukses dan Gagal adalah konsep yang berbeda bagi umat Muslim ketimbang konsep yang dimiliki orang lain.

Sebagian Anda ingin anak-anak Anda memperoleh pendidikan yang baik. Coba renungkan ini. Para orang tua yang hadir. Anda ingin anak Anda memperoleh pendidikan yang baik. Mengapa Anda ingin anak Anda memperoleh pendidikan yang baik? Karena Anda ingin mereka sukses. Bukan begitu?

Anda ingin mereka bekerja, memiliki karir yang bagus, memiliki kehidupan yang baik. Anda tak ingin mereka menyewa apartemen, namun mampu membeli rumah. Anda ingin mereka memiliki profesi bergaji bagus, Anda ingin mereka menjadi pengacara atau dokter, Anda ingin mereka menjadi insinyur. Inilah yang Anda inginkan bagi anak-anak Anda. Sebuah kehidupan yang baik.

Sekarang beritahu saya, kadang kita masukkan anak kita ke sekolah, ke sebuah negara, atau negara bagian yang berbeda, atau kota yang berbeda. Bahkan sebelum meninggalkan rumah menuju sekolah ini, Anda sudah melihat bahwa mereka mulai membantah. Mereka mulai tidak patuh kepada Anda, mereka menjadi semakin tidak peduli dengan salatnya.

Jauh di pikiran Anda, Anda mengira mungkin saja, mungkin saja jika mereka pergi kuliah ke kota lain, segalanya akan semakin memburuk. Mereka akan semakin membangkang, semakin mandiri, dan semakin ceroboh. Tapi Anda juga berpikir, jika mereka tidak kuliah, di kota lain, mereka takkan sukses. Mereka takkan sukses.

Jadi Anda tahu apa yang dilakukan sebagian besar orang tua? Keputusan apa yang mereka ambil? Biarkan mereka pergi. Biarlah mereka berangkat. Empat tahun berlalu, saya memperoleh sebuah email. Saya mendapat email – Anak saya tidak mau bicara dengan saya. Anak saya tidak mau tahu dengan saya. Anak saya kabur dan menikahi seorang non-Muslim. Anak saya mengatakan bahwa dia sudah tidak percaya dengan Islam. Atau hal-hal lainnya.

Itu tidak terjadi dalam semalam, prosesnya telah dimulai beberapa tahun yang lalu. Tahukah Anda? Bahkan para orang tua Muslim yang peduli pun, mungkin tidak berpikir tentang kesuksesan dan kegagalan bagi diri mereka sendiri, dan anak mereka dengan cukup jelas, sehingga memungkinkan mereka membuat keputusan yang tepat. Karena menurut pikiran mereka, selama anak lulus kuliah, mereka pasti apa? Berhasil.

Pengorbanannya sangat mahal. Yang harus ditanggung tidak hanya uang kuliah, bukan sekedar membayar uang kuliah, pada beberapa kasus Anda bahkan mengorbankan tuntunan. Biaya yang terlalu mahal. Banyak hal serius yang harus kita pikirkan sebagai sebuah keluarga ketika kita mengambil keputusan.

Ini hanya sebuah contoh bagi Anda, sekedar konsep tentang kesuksesan dan kegagalan. Bagaimana kita memandangnya melalui kacamata iman, dari kacamata Al Qur’an, maka pandangan kita akan berubah. Kita tidak lagi bisa memandangnya seperti orang lain memandangnya.

Perang Al-Ahzab

Sekarang kita masuk pada contoh berikutnya, yang sudah cukup lama saya pikirkan, seperti saya katakan enam bulan hingga setahun, saya masih butuh waktu sebelum benar-benar merumuskan pemikiran dan riset saya terkait hal ini.

– Setelah Rasulullah (ﷺ) – Saya sampaikan sejarah singkat dulu oke? Bersama Rasul (ﷺ)… kita menangkan perang Badar di bawah kepemimpinannya, lalu kita menderita kekalahan berarti dalam perang Uhud. Ada dua perang yang telah terjadi antara kita dan Musyrik Makkah. Muslimin ada di Madinah, dan mereka di Makkah. Bentrokan keras sudah terjadi dua kali.

Kali ketiga, Quraisy berkata, “Kita tidak suka dengan rasio menang kalah 50:50 ini.”

“Kita ingin ada garansi kemenangan 100%.”

Jadi kita akan kumpulkan semua suku di Arab, dan memastikan bahwa mereka semua mendukung kita, sebanyak mungkin yang kita bisa yakinkan. Kita datangi mereka masing-masing dan berkata, “Dengar… Muslim adalah musuh kita bersama, menurut kami, jika mereka semakin berkuasa, mereka akan mengejar kalian, jadi jika kalian ingin semua baik-baik saja, bergabunglah dengan kami!”

“Mari kita selesaikan masalah ini, sekarang ini adalah masalah kita bersama.”

“Tapi jika kalian tidak mau menolong kami, tidak menjadi Serikat Negara-Negara Arabia, Serikat Suku-Suku Arabia, maka ini akan menjadi masalah kita semua.”

“Kita harus melenyapkan ancaman Islami ini. Kita harus melakukannya.”

Lalu mereka mendatangi semua suku, mereka berkata, “Kalian harus bergabung dengan kami, kita maju bersama, alih-alih menunggu munculnya sebuah medan perang. Kita akan bergerak ke Madinah, pasukan kita akan sangat besar, karena terdiri dari semua suku, kita akan berjalan ke Madinah, dan membunuh setiap lelaki, wanita, dan anak-anak Muslim.”

“Kita habisi mereka semua, kita sudahi ceritanya hingga di sini, sudahi masalah ini, karena sementara ini masalah ini sudah makin serius.”

Maka banyak di antara suku-suku yang dulunya netral, mereka tidak membenci Islam, bukan musuh Nabi (ﷺ), namun ketika dicekoki alasan terkait keamanan nasional ini. Mereka bisa diyakinkan, mereka berkata, “Baiklah!”

“Jika ini menyangkut perlindungan terhadap cara hidup kita, dan melestarikan apa yang ada,kami akan ikut kalian.”

Jadi sekarang ada legiun raksasa yang disebut Al-Ahzab, dari kelompok yang berbeda, pasukan yang luar biasa banyak, menuju Madinah. Di pihak lain, kaum Yahudi Madinah yang telah menandatangani perjanjian damai dengan Muslim Madinah, membuat perjanjian rahasia dengan suku Yaman, dan beberapa suku Kristen tanpa sepengetahuan Muslim, mereka berkata, “Dengar, jika Muslim diserang, dan kami tidak punya cukup kekuatan, kalian bisa menyerang mereka dari arah yang berlawanan.”

“Kalian bisa menyerang mereka dari arah yang berlawanan.”

“Jadi dari atas Quraisy akan datang dan menyerang mereka. Dari bawah, kalian akan datang dan menyerang mereka. Mereka akan hancur.”

“Kami akan menolong kalian dari dalam.”

Sekarang Muslim menghadapi tiga musuh. Yang satu dari atas, yang satunya dari bawah, dan satunya lagi dari mana? Dari dalam. Semua akan berakhir. Sampai di sini saja.

Allah (عَزَّ وَ جَلَّى) menggambarkan semua skenario ini di dalam surat Al-Ahzab. Seluruh adegan ini dilukiskan di dalam surat ke-33.

(إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ) (QS Al Ahzab: 10)
(وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ) (QS Al Ahzab: 10)
(وَإِذْ زَاغَتِ ٱلْأَبْصَـٰرُ) (QS Al Ahzab: 10)
(وَبَلَغَتِ ٱلْقُلُوبُ ٱلْحَنَاجِرَ) (QS Al Ahzab: 10)
(وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠) (QS Al Ahzab: 10)
(هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ) (QS Al Ahzab: 11)
(وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا) (QS Al Ahzab: 11)

Ayat-ayat yang luar biasa. Ketika musuh datang dari atas, dan dari bawah kalian, dan ketika mata kalian melotot seperti ini. Kalian bahkan tak mampu berkedip, karena sangat takut. Hati kalian seakan bergerak naik mencapai tenggorokan. Dan kepala kalian dipenuhi berbagai pikiran. Maka dan disanalah Muslim diuji. Dan bumi yang mereka injak bergetar.

(وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا) (QS Al Ahzab: 11)

“Oh bumi itu bergetar dengan kuat.”

Mereka diguncang dengan hebatnya, uff! Begitulah gambaran perang Ahzab. Kita semua tahu saran dari Salman Al-Farisi (رضي الله تعالى عنه) adalah untuk menggali lubang, sebuah parit di sekeliling kota, sehingga pasukan berkuda mereka tidak bisa menembus masuk kota. Mereka akan jatuh ke parit, mereka takkan bisa naik ke atas, dan itulah satu-satunya yang bisa menyelamatkan kota, satu-satunya.

Dalam kondisi genting ini, Allah (عَزَّ وَ جَلَّى) tetap melindungi Muslimin, musuh menunggu di luar, karena kota tidak punya cukup persediaan makanan, dan tidak ada cukup ransum di dalam kota. Pada akhirnya mereka akan kehabisan pangan. Pada akhirnya mereka akan kehabisan persediaan makanan. Pada akhirnya mereka harus menyerah.

Jadi pasukan itu memutuskan untuk menunggu di luar parit. Baiklah! Kita takkan berperang! Kami takkan turun ke parit, kami akan menunggu di luar sini. Setelah lima-enam minggu, mereka yang di dalam akan mati juga karena kelaparan, atau mereka terpaksa keluar dan menyerah.

Maka Allah (عَزَّ وَ جَلَّى) mengirimkan,

(إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ ٱلرِّيحَ) (QS Adz-Dzariyat: 41)

(وَجُنُودًۭا لَّمْ تَرَوْهَا) (QS Al-Ahzab: 9)

“Kami kirimkan angin untuk melawan mereka.”

Bayangkan perkemahan pasukan. Teman-teman, bayangkan gambaran ini. Ada prajurit, dan mereka punya – wow, darimana datangnya itu? Allah mengirimkan angin,dan seseorang mengirim sebuah balon. –

Baiklah, jadi ada banyak tenda. Pasukan, prajurit memiliki tenda. Bagaimana mereka memasak? Mereka panggang makanan di luar, di atas api bukan? Mereka tidak punya microwave di kala itu.

Jadi mereka harus menyalakan api, dan memasak makanannya. Lalu angin datang, dan pancinya terbalik, dan itu menyulut api pada tenda. Jika tenda terbakar, kuda-kuda akan mengamuk dan lari. Api menyebar sehingga tiga, empat, lima tenda sekarang terbakar.

Dengan kata lain angin ini terus bertiup dan menimbulkan banyak masalah bagi pasukan di luar sana, pada akhirnya mereka mengatakan, “Kami tidak bisa tinggal di sini lagi.”

Mereka pergi! Mereka pergi! Alih-alih menunggu Muslimin keluar, mereka tidak mampu mengendalikan situasi di luar, Allah membela Muslimin menggunakan angin. Dengan menggunakan angin, dan mereka pergi. Mereka gagal dalam serangannya.

Mimpi Nabi: Pergi Haji

Enam bulan kemudian. Saya percepat sejarahnya untuk Anda. Pelajarilah sirah secara mendalam karena ini peristiwa penting dalam kehidupan Nabi (ﷺ). Saya ingin membahas ayat ini, jadi saya ceritakan versi yang dipercepat saja. Enam bulan berlalu dan setelah enam bulan, Nabi (ﷺ) mengatakan, “Aku bermimpi dan di dalam mimpiku…”

Ngomong-ngomong, mimpi seorang Nabi adalah wahyu, petunjuk. Jadi apa saja yang beliau lihat, harus kita lakukan.

“Aku bermimpi bahwa kita akan memasuki Kakbah, kita akan memasuki Kakbah dengan damai.”

“Kita bahkan tidak akan berperang. Kita akan pergi ke sana dan berhaji.”

Jika pergi haji, bolehkah Anda membawa senapan berburu? Bolehkah Anda membawa pedang? Bolehkah Anda membawa trisula? Bolehkah Anda membawa busur dan panah? Tidak! Tidak! Anda tidak boleh membawa senjata ketika berhaji. Oke? Anda tidak boleh membawa senjata ketika berhaji.

Mimpi itu mengatakan bahwa Anda akan pergi, apakah Anda akan pergi berperang atau dalam keadaan damai? Anda akan pergi dalam keadaan damai. Dan ke mana Anda akan pergi? Saya kembali bertanya, agar tahu Anda masih bangun.

Jadi ke mana Anda pergi? Anda akan pergi ke Makkah. Dari mana asal kaum Quraisy? Makkah!

Ke mana mereka pergi? Ke Madinah.

Mengapa mereka datang ke Madinah? Untuk membunuh semua Muslim.

Sekarang Nabi bermimpi, enam bulan kemudian kita harus pergi ke Makkah. Dan kita harus pergi tanpa senjata untuk berhaji. Dan tidak ada yang akan terjadi, karena aku telah bermimpi. Dan Muslimin percaya kepada beliau.

Ayo berangkat! Jika engkau telah bermimpi, ayo kita pergi!

Jika Anda tanya orang lain, untuk ikut ke kota yang haus dengan darah Anda. Akankah Anda pergi ke sana dan berhaji? Anda yakin? Anda yakin begitukah mimpi Anda? Tidak, tidak, tidak. Ayolah kita pergi.

(قَالَ رَسُولُ الله ﷺ),
(لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ) (QS Al Fath: 27)

“Dia mengatakan kebenaran, mari ikuti dia.”

Maka mereka berangkat. Sekarang jika Anda berhaji atau umrah. Dari sini, berapa lama penerbangannya? Saya tidak tahu, beri tahu saya. 14 jam? Allahu Akbar! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un! 14 jam!

Saya yakin perjalanan mereka dari Madinah ke Makkah tidak sampai 14 jam, kurang dari itu. Tunggu dulu! Mereka jalan kaki. Mereka berjalan dari Madinah ke mana? Makkah.

Jadi akan memakan waktu beberapa minggu, bahkan bulan sebelum sampai ke sana. Mereka tidak seperti Anda yang pergi ke bandara, lalu menunggu di ruang tunggu dua jam, lalu masuk ke pesawat yang ber-AC, dengan layar TV di depan Anda yang membantu persiapan haji Anda, oke… Dan di sana Anda duduk di atas sofa – aaa… Ini sangat tidak nyaman, punggungku, iiiih, ahahaha. 14 jam, apa delay satu jam? Astaghfirullah!

Mereka berjalan kaki. Apakah ada AC? Apakah ada ruang tunggu, seperti ruang tunggu klub di mana Anda disuguhi makanan ringan? Tidak? Apakah ada yang berkeliling menawari mereka headphone, atau handuk, atau..? Tidak.

Apakah ditawarkan makanan ringan tiap beberapa jam? Tidak.

Semakin dekat dengan tujuan, semakin dekat pula mereka dengan kematian. Maksud saya, jika Anda pikirkan, siapa yang ingin membunuh mereka? Penduduk Makkah.

Dan Anda datang ke kotanya, masuk ke kandang singa itu sendiri tanpa senjata? Anda akan terbunuh.

Jadi mereka berjalan bersama Rasul (ﷺ), mereka pergi ke Makkah. Mereka sudah cukup dekat. Ada sebuah cerita menarik, Anda harus tahu sisi lain cerita itu. Kembali karena saya mempercepatnya, saya harus melewati beberapa bagian. Quraisy mengetahui bahwa Muslimin akan datang.

Jadi mereka -Apa itu? Perkelahian di belakang sana? Apa yang terjadi? Tidak apa-apa. Bukan sesuatu yang menarik. Jika ada yang menarik, saya beritahu Anda.-

Jadi apa yang tadi saya katakan, sesuatu tentang Islam? Ingatkan saya. Oh ya, kaum Quraisy! Quraisy tahu bahwa Muslimin dalam perjalanan. Mereka juga tahu bahwa Muslimin tidak bersenjata. Mereka datang tanpa senjata.

Mereka berkata, “Jika Muslimin cukup dekat, akan timbul masalah, jadi mari kita bunuh mereka sebelum semakin dekat.”

Maka mereka mengirim Khalid bin Walid (رضي الله تعالى عنه) karena dia punya batalyon yang gesit, dia dan anak buahnya gesit. Mereka penunggang kuda yang tangkas, untuk pergi dan menangkap Muslimin dengan cepat, bahkan mungkin di sekitar wilayah Badar, sigap menangkap dan membunuh mereka. Bunuh mereka semua, sebelum dekat dengan Makkah.

Saya akan jelaskan mengapa mereka tidak ingin kaum Muslimin dekat dengan Makkah Saya akan jelaskan alasannya nanti.

Hudaibiyyah

Rasul (ﷺ) mengetahui, karena beliau telah mengirimkan beberapa mata-mata. Beliau tahu bahwa Khalid sedang menuju ke sini. Jadi kaum Muslimin mengambil jalan lain, dan akhirnya tiba di suatu tempat bernama Hudaibiyyah. Mereka tiba di Hudaibiyyah.

Sekarang… saya akan jelaskan mengapa Quraisy tidak mau kaum Muslimin mendekat? Apa yang dimiliki kaum Quraisy di sekitar Kakbah? Anda tahu? Apa yang mereka miliki di sekeliling Kakbah? Berhala-berhala.

Masing-masing berhala ini berasal dari suku yang berbeda-beda. Jadi tidak semuanya berhala Quraisy. Beberapa di antaranya milik orang Ta’if, beberapa yang lain adalah miliki kaum lainnya. Seperti kaum Huda dan sebagainya, bukan? Berhala dari berbagai suku itu, semuanya ada di Makkah.

Mengapa setiap orang menghormati Makkah? Mengapa setiap orang menghormati Quraisy? Karena merekalah yang memegang berhala-berhala, juga karena mereka menjaga mereka yang datang untuk tawaf dan berhaji.

Mengapa mereka dihormati? Karena jika seseorang datang tanpa senjata ke Makkah, untuk berhaji, meski hanya haji syirik, meski hanya untuk itu, apakah penduduk Makkah akan menjaga atau menyerang mereka? Mereka akan menjaganya, dan itulah satu-satunya alasan seluruh Arab menghormati Makkah.

Jadi jika Muslim datang untuk berhaji, dan tanpa senjata, dan Quraisy menyerang mereka, maka mereka akan kehilangan rasa hormat dari seluruh orang Arab, padahal seluruh Arab sudah marah kepada Makkah karena Makkah, Quraisy mengatakan kepada mereka untuk meninggalkan rumah mereka, keluar dan membunuh semua Muslim.

Tapi apakah mereka bisa membunuh semua Muslim? Tidak.

Dan apakah mengumpulkan sebuah pasukan itu murah atau mahal? Sangat mahal.

Jadi semua suku menghabiskan banyak uang untuk datang dan mencoba menyerang Muslim, tapi gagal. Dan setelah mereka pergi, apakah mereka siap untuk mendengarkan Makkah kembali? Mendengarkan Quraisy kembali?

Tidak! Ibaratnya kalian sudah membuang waktu dan uang kami dengan percuma! Kami datang ke sana untuk sesuatu yang nihil! Kami takkan mendengarkan kalian lagi.

Sekarang para Muslim datang lagi, dan jika kalian mencoba membunuh mereka ketika sedang berhaji – tidak semua suku senang dengan Makkah saat ini – Jadi untuk Quraisy ibaratnya; jika kita serang Muslim setelah sampai ke Miqot, dan jika mereka sampai di Hudaibiyyah, maka semua suku Arab akan berkata, “Lupakan saja orang-orang Makkah ini, mereka sudah menghabiskan uang kita, dan sekarang mau membunuh para Hujjaj?”

“Tinggalkan saja orang Makkah itu. Mari kita bunuh mereka sendiri.”

Sekarang kaum Quraisy tidak bisa lagi membunuh kaum Muslimin. Mereka mengalami kebuntuan. Mereka tersudut. Namun kaum Muslimin tidak tahu hal itu. Kaum Muslimin berangkat saja, sambil berpikir bahwa Quraisy masih akan mencoba apa? Membunuh mereka.

Rumor Utsman (رضي الله عنه) Terbunuh

Mereka berhenti di Hudaibiyyah. Rasulullah (ﷺ) mengirimkan seseorang masuk ke Makkah. Beliau mengirimkan Utsman (رضي الله عنه) ke Makkah sebagai utusan. Kami datang untuk berhaji, bukan untuk berperang. Kami hanya datang untuk berhaji.

Ini cukup luar biasa. Kalian mencoba membunuh kami, dan sekarang kami akan masuk ke rumah kalian, “Jadi apa yang akan kalian lakukan?”

Dan kami akan berjalan mengelilingi rumah kalian, lalu kembali pulang. Anda tahu apa artinya itu? Itu sama seperti meludahi muka musuh sambil mengatakan, “Apa yang akan kalian perbuat ha? Apa yang akan kalian lakukan ha?”

Quraisy tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi mereka menangkap Utsman. Mereka panik, tidak tahu apa yang akan diperbuat…

“Apa… orang ini… apa yang dilakukannya di sini?

“Apa maksudnya mereka punya seorang duta?”

“Apa maksudnya mereka sampai di Hudaibiyyah?”

“Tangkap dia! Tahan dia! Tawan dia!”

Mereka menangkapnya, sedangkan rumor yang menyebar adalah bahwa mereka telah menghabisinya. Rumor yang tersebar bahwa Quraisy telah membunuh siapa? Utsman (رضي الله عنه).

Di mana posisi Nabi (ﷺ) serta semua Muslim lainnya? Di mana mereka? Katakan pada saya! Mereka di Hudaibiyyah.

Jadi Muslim yang ada di Hudaibiyyah, mereka menerima kabar, mereka menerima rumor bahwa Utsman telah terbunuh, namun kenyataannya Utsman belum dibunuh. Dia hanya diapakan? Ditangkap.

Ketika Nabi mendengar bahwa Utsman (رضي الله عنه) telah dibunuh. Beliau menjadi sangat gusar, lalu mengumpulkan semua Muslim, dan meminta mereka semua untuk bersumpah setia di bawah sebuah pohon.

Beliau memanggil mereka dan berkata, “Kalian harus berikrar kepadaku bahwa kita akan membalas dendam atas terbunuhnya Utsman.”

“Kita akan pergi ke Makkah, dan kita akan membalas apa yang mereka lakukan terhadap Utsman.”

Sekarang, apakah beliau mengambil sumpah dari orang-orang yang datang untuk berperang atau berhaji? Jadi apakah mereka punya senjata atau tidak? Tidak.

Mereka hanya punya pisau kecil yang mereka pakai untuk menyembelih hewan. Hanya itu. Mereka tidak punya perisai, busur dan panah, ataupun trisula, padahal mereka akan masuk ke kota gudangnya senjata di Arab, yakni Makkah.

Mereka akan masuk ke Makkah untuk membalas dendam bagi Utsman. Dan Rasul (ﷺ) berkata, “Kalian harus berikrar kepadaku bahwa kalian akan setia kepadaku, dan bahwa kalian akan berangkat karena kita akan membalas dendam bagi Utsman.”

Apakah para Muslim setuju? Mereka setuju. Semua Muslim yang setuju, apakah mereka juga tahu bagaimana kans mereka? Apakah kita akan menang atau terbunuh? Jadi kita siap untuk terbunuh, kita siap untuk mati,

Saya ingin Anda memahami sesuatu. Tetapi belum saatnya. Saya katakan nanti saja. Sekarang Muslim siap untuk berangkat dan membunuh. Ketika Quraisy mengetahui bahwa Muslim siap untuk berperang.

Mereka berkata, “Tidak, tidak, tidak. Kami tidak membunuh Utsman.”

“Kami hanya menahannya, kalian boleh mengambilnya kembali.”

“Ambil dia kembali, bawa dia kembali. Tenanglah.”

Padahal saat ini Muslim siap berperang, tapi mereka harus bagaimana? Tenang kembali.

Mereka berkata, “Baiklah, ayo kita berhaji saja.”

“Tidak, tidak, tidak, kalian tidak bisa berhaji. Kalian tidak bisa berhaji.”

“Ayo kita buat perjanjian.”

Apa nama perjanjian ini? Hudaibiyyah, Sulh Hudaibiyyah.

“Jadi ayo kita buat perjanjian.”

Jika Anda tahu sesuatu tentang perjanjian ini, Anda akan melihat semua pasalnya merugikan Muslim. Setiap pasalnya merugikan Muslim dan setiap pasalnya menguntungkan kaum Quraisy. Lalu mereka serah perjanjian itu kepada Nabi (ﷺ).

“Ini perjanjiannya, bagaimana pendapat Anda?”

Apakah Nabi (ﷺ) menandatanganinya atau tidak? Beliau menandatanganinya. Dan itu berarti kalian tidak akan berhaji tahun ini, kalian boleh kembali tahun depan. Kalian tidak boleh berhaji tahun ini, tapi tahun depan.

Saya beritahu sesuatu. Jika Anda membayar paket haji Anda, lalu Anda terbang ke Madinah, sesampainya Anda di bandara di Madinah setelah terbang selama 14 jam ditemani beberapa McDonald halal. sesampainya di kantor paspor, petugasnya menatap Anda dan berkata, “Kembalilah tahun depan… Pergi!”

“Apa yang akan Anda lakukan?”

“Apa maksudmu teman?”

“Anda tidak boleh begitu kepada saya.”

“Saya datang untuk berhaji! Apa maksudmu saya harus kembali?!”

“Ya, kembalilah! Kembali dalam keadaan damai.”

“Anda tidak bisa berbuat begini pada saya. Saya sudah terbang ke sini 14 jam!”

“Saya sudah bayar tiket! Saya punya visa, punya persetujuan, punya paket haji!”

“Tidak! Kembalilah!”

Dari mana orang-orang ini datang? Mereka datang dari Madinah. Muslim datang dari Madinah.

Apakah mereka terbang ke Makkah atau berjalan kaki? Mereka berjalan kaki ke Makkah.

Apakah mereka berharap bisa berhaji? Ya. Dan sesampainya mereka di sana. Rasul (ﷺ) berkata beliau telah menandatangani perjanjian dan apa?

“Baiklah semuanya, ayo kita berjalan pulang ke Madinah!”

Pahamilah bahwa manusia memiliki emosi. Kita semua manusia. Sahabat juga manusia. Manusia mempunyai emosi. Terkadang sangat sulit untuk mengendalikan emosi kita. Dan terkadang ketika emosi kita di luar kendali, kita menjadi kalut, kalut. Ketika sekelompok besar orang tersulut emosinya, mereka bisa berbuat onar. Benar ‘kan?

Karena sedang emosi, bisa terjadi kerusuhan. Bukankah demikian yang terjadi?

-Apa semua baik-baik saja? Apa saya melakukan kesalahan? Tidak? Oke.-

-Anda berusaha melakukan serangan menyelinap, tapi saya menangkap basah Anda.-

-Saya harus me -reset permainan dan mengulangnya kembali.-

-Seperti permainan video, saya harus ahhhh…-

-Anda tahu, memulai dari pos pemeriksaan terakhir.Namun demikian…-

Apa yang saya bahas? Islam atau sesuatu yang lain? Emosi.

Mari kita sedikit kembali ke kisahnya. Saya belum menyampaikan simpulan, hanya baru bercerita. Saya belum memberi simpulan. Segera, saya sampaikan. Bersabarlah. Oke.

Enam bulan yang lalu Rasul (ﷺ), bersama dengan semua Muslim hampir saja terbunuh. Benar? Emosi apa yang timbul ketika kita hampir terbunuh? Ketakutan! Kengerian! Benar? Oke.

Setiap lelaki, wanita, dan anak-anak. Ketakutan itu digambarkan di dalam surat Al-Ahzab. Kita berada dalam ketakutan. Oke.

Enam bulan kemudian Nabi (ﷺ) berkata, “Aku telah bermimpi, kita akan pergi ke mana?” Makkah!

Ada sebuah kekhawatiran.

“Benarkah? Kita akan pergi ke Makkah?”

Bahkan ada sebuah keraguan. Tapi tidak, beliau mengatakan begitu, “Kita harus pergi!”

Dan bahkan lebih kepada ketakutan karena waktu itu pembunuh yang mendatangi kita, sekarang kita yang mendatangi mereka. Pembunuh yang datang ke kita, sekarang kita mendatangi si pembunuh.

Jadi bisa saja ada lebih banyak ketakutan. Lalu pada akhirnya mereka sampai di Hudaibiyyah, sesampainya di Hudaibiyyah, ada secercah harapan. Karena sekarang kita tidak bisa lagi diserang. Jadi ada harapan bahwa kita akan bisa melakukan apa? Melaksanakan Haji.

Ngomong-ngomong apakah pergi haji itu murah? Anda harus menghabiskan banyak waktu dan Anda harus menghabiskan banyak uang. Anda harus menghabiskan banyak waktu dan uang. Bahkan pergi haji juga tidak murah bagi para Sahabat. Naik haji tidak murah.

Emosi Muslim

Jadi sekarang mereka penuh harap. Lalu datanglah berita bahwa Utsman (رضي الله عنه) telah terbunuh dan para Muslim dipenuhi oleh apa? Kemarahan!

Lalu mereka bersumpah akan membalas dendam, mereka dipenuhi keberanian dan semangat. Anda tahu sebelum perang dimulai, sebelum jenderal memerintahkan, “Serang!!”

Sebelum mengatakan itu, apa yang dilakukan para prajurit? “Gggrrrrrhhhh.”

Seperti pria yang ada di pertarungan tinju sebelum bunyi “ting ting ting”, atau sebelum pertarungan UFC. “Oke, dilarang menarik telinga lawan, dilarang menggigit lawan. Mulai!!”

Sebelum dia berkata mulai, apa yang dilakukan orang-orang? Apa yang dilakukan kedua petinju? “Ggggrrrrhhhh.”

Anda dipenuhi oleh keagresifan bukan? Apakah itu emosi yang tenang atau menggelegak? Itu adalah emosi yang menggelegak.

Jadi kita bicara tentang kengerian yang besar, harapan yang tinggi, agresi yang besar, serta kemarahan yang hebat. Orang-orang ini telah mengalami banyak sekali emosi yang berat. Anda bisa mengikuti sejauh ini?

Sekarang Rasulullah (ﷺ) menandatangani sebuah perjanjian dan mereka merasa perjanjian ini sangat merendahkan mereka.

“Apa?! Kita tidak bisa berhaji?!”

“Apa?! Jika salah satu dari kita kabur dari Makkah, kita harus menyerahkan dia kembali ke Makkah?!”

“Apa?! Kita harus kembali?! Kita tidak boleh menyerang mereka?!”

“Kita sudah siap untuk balas dendam sekarang juga!”

“Gggrrrrhhhh!!”

“Sekarang kita harus pulang saja?!”

Kecewa. Frustrasi. Emosi bercampur aduk di dalam diri mereka. Dan ini bukan tentang satu orang, tapi banyak orang.

Sekarang saya beritahu sesuatu. Jika ada seorang pemuda yang sangat marah, luar biasa marah. Apakah mudah untuk menenangkannya kembali? Tidak.

“Tenang, tenang, tenanglah.”

“Santai, santai, santailah.”

“Baik, baiklah, santai saja, santai.”

Mungkin akan menghabiskan setengah jam sebelum pemuda ini yang lubang hidungnya penuh, bengkak, seperti (bernafas dengan keras). Akan butuh beberapa lama untuk menenangkannya. Anda paham?

Itu baru satu pemuda yang sedang gusar. Apakah mereka (para sahabat) berjumlah ribuan? Jika ada ratusan, bahkan ribuan lelaki yang gusar. Apakah mudah untuk menenangkan mereka? Tidak.

Rasulullah (ﷺ) berpaling ke arah mereka, beliau berkata, “Kita takkan berhaji tahun ini, ayo kita kembali.”

Mereka berkata, “Kami pikir Anda bermimpi, kita akan berhaji?”

Dan Rasul (ﷺ) menjawab, “Aku tidak mengatakan tahun ini.”

[Hadirin Tertawa]

“Apa maksud Anda bahwa Anda tidak mengatakan tahun ini?”

“Jika bukan tahun ini, mengapa kita datang ke sini?”

Tapi mereka tidak mengatakan apa-apa. Rasul (ﷺ) berkata, “Semua, buka pakaian ihram kalian.”

Karena begitu memakai pakaian ihram, Anda telah berniat untuk berhaji. Dan Rasul (ﷺ) berkata, “Semua, buka pakaian ihram kalian.”

Mereka tidak melepaskannya. Mereka tidak membukanya. Mengapa tidak? Katakan pada saya, mengapa tidak?

Emosi satu orang lelaki yang sedang gusar sulit dikendalikan. Apakah lagi massa lelaki yang sedang gusar? Itu tidak mungkin. Tidak mungkin.

Jika Anda semua marah kepada saya dan saya berkata, “Tenanglah, tenanglah.”

“Saya bisa mati.”

“Selesai. Saya tidak mampu. Anda akan membunuh saya.”

Anda paham?

Kita tidak bisa mengendalikan massa.Itu tidak mungkin. Sangat mustahil.

Jika terjadi keributan di… kadang Anda melihat berita sekelompok orang dan seseorang menembakkan pistol ke udara. Apa yang terjadi dengan kerumunan massa? Semua orang berlari ke arah yang berbeda, mereka menabrak satu sama lain, terjadi kekacauan, lalu seseorang berkata, “Semuanya, berhenti!”

Apakah mereka berhenti? Tidak!

Anda tidak bisa mengendalikan mereka lagi. Emosi mereka terlalu tinggi.

Sekarang Rasulullah (ﷺ) kembali ke tenda beliau, dalam keadaan syok. Karena ini pertama kalinya beliau tidak mendengar, “Sami’na wa ato’na.”

Ini pertama kalinya. Yang pertama kalinya!

Ibunda orang-orang beriman menatap beliau dan berkata, “Jangan khawatir, buka saja pakaian ihrammu dulu, mereka akan tenang.”

Maka beliau melepas pakaian ihramnya dan Ibunda orang-orang menambahkan, “Lalu cukurlah kepalamu.”

Lalu beliau keluar dan apa yang mereka lakukan? Mereka marah, gusar, mereka…

“Aku tak percaya kita takkan berhaji, apa kita harus berjalan sejauh itu dan kembali pulang sekarang?”

“Mengapa harus datang sejauh ini… Baiklah, baik!”

“Kita akan melepaskannya, kita buka pakaian ihram, kita pulang.”

Ini adalah peristiwa yang cukup penting. Maka Allah memutuskan untuk menggambarkan peristiwa ini. Sekarang sampai kepada apa yang ingin saya sampaikan. Sejauh ini saya telah melukiskan sebuah peristiwa sejarah kepada Anda. Apa yang terjadi di dalam sejarah.

Kemenangan Terbesar

Sekarang saya ingin Anda memahami bagaimana Allah menggambarkannya. Bukan bagaimana saya menggambarkan peristiwa ini, bukan bagaimana Anda menggambarkan peristiwa ini, bukan apa yang dipikirkan sahabat tentang peristiwa ini, bahkan bukan bagaimana Rasulullah (ﷺ) memandang peristiwa ini, tetapi bagaimana Allah memandang peristiwa ini.

Ayat yang diturunkan untuk menggambarkan keseluruhan peristiwa ini dan ayatnya menjelaskan:

(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ)
(إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا) (QS Al Fath: 1)

“Tiada keraguan tentangnya, Kami pada kenyataannya telah, Kami telah menghadiahkanmu sebuah kemenangan yang jelas, tanpa embel-embel, terbuka, bersih.”

“Kalian sudah dianugerahi dengan pertolongan yang istimewa yang paling hebat di antara semua kemenangan yang pernah ada.”

Itulah yang digambarkan Al Qur’an tentang apa yang terjadi. Ini sesungguhnya adalah kemenangan yang paling agung.

“Apa?”

“Ini kemenangan yang paling agung?”

Jika Anda bertanya kepada seorang anak Muslim, “Kapan hari kemenangan umat Islam?”

Di dalam sirah Nabi Muhammad (ﷺ), “Kapan hari kemenangan?”

“Apa jawaban mereka?”

Ketika Makkah berhasil dikuasai. Benar? Saat Makkah dikuasai adalah hari kemenangan.

(اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ) (QS Al Fath: 1)

Tidak diturunkan ketika Makkah dikuasai.

(اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ) diturunkan, diturunkan ketika kita tidak jadi berhaji, Ketika kita menandatangani perjanjian yang merugikan kita. Ketika kita benar-benar kecewa.

Mana kemenangan itu? Saya tidak melihatnya. CNN juga tidak akan melihatnya. Ahli sejarah tidak akan melihatnya, bahkan para Sahabat tidak melihatnya.

Para sahabat tidak menganggapnya begitu. “Bagaimana bisa itu disebut kemenangan?”

Ooo, ngomong-ngomong, Allah tidak berkata,

(اِنَّا فَتَحْنَا لهُم فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ).
(اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ يا رسولَ الله فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ)

Saya ingin Anda pahami ini. Menurut Allah, menurut Allah, kemenangan terbesar Nabi (ﷺ), karena ini bukan kemenangan bagi Muslim, ini bukan kemenangan untuk Islam, di dalam ayat itu, ini adalah kemenangan bagi Rasulullah (ﷺ).

Kemenangan terbesar di dalam sirah Nabi (ﷺ) adalah para sahabat, yang meskipun sedang sangat emosi, mereka masih mematuhi Rasulullah (ﷺ). Itulah kemenangan terbesar.

Kerumunan massa ini, yang mampu mengontrol emosinya, karena saat ini emosi mereka sangat tinggi, namun kesetiaan mereka kepada utusan Allah bahkan lebih tinggi, dari kesetiaan itu. Mereka mampu menjaga kedisiplinannya. Tak akan ada kemenangan yang lebih besar dari ini. Selamanya!

Bukan tentang Hudaibiyyah. Tapi tentang para Sahabat! Tentang para Sahabat. Orang-orang melupakan poin ini. Mengapa saya ceritakan kepada Anda? Karena dewasa ini kita berdoa untuk memperoleh kemenangan. Kita berdoa untuk memperoleh kemenangan, iya atau tidak?

Kita menyaksikan Muslim berada dalam kondisi yang sulit di antara umat, kita berdoa agar Allah memberi mereka dan kita kemenangan.

Jika kita tidak paham apa arti kemenangan yang dimaksudkan Al Qur’an, mungkin kita tidak paham apa yang kita mohonkan. Kemenangan karena menguasai suatu negeri, kemenangan karena mengusir orang kafir, kemenangan karena merebut sebuah wilayah. Anda tahu disebut Allah apa kemenangan itu?

(وَأُخْرَىٰ لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللَّهُ بِهَا) (QS. Al Fath: 21)

Itu tidak penting. Allah sebut penaklukan sebuah negeri tidak penting. Allah sebut penaklukan hati orang beriman penting. Itu bukan deskripsi saya, itu bukan deskripsi ahli sejarah. Perhatikan, sesiapa saja yang membaca kisah Hudaibiyyah, mereka akan menganggapnya sebuah kekalahan. Namun Allah menggambarkannya sebagai sebuah kemenangan. Dia menggambarkannya sebagai sebuah kemenangan.

Satu hal yang perlu Anda pikirkan, dan insya Allah, saya akan sampaikan manfaat lainnya sebelum saya tutup, mari kita perhatikan satu ayat ini saja. Jika kita bahas ayat berikutnya, kita akan di sini hingga subuh, padahal saya harus mengejar pesawat, jadi itu tidak mungkin.

Hanya pada satu ayat pertama ini, akan saya jelaskan sesuatu kepada Anda. Anda tahu, ada manfaat lain dari (اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ). Akan saya jelaskan.

Perjanjian ini mengatakan kalian tidak akan berperang dengan kami, dan kami takkan memerangi kalian. Namun jika seorang Muslim kabur dari Makkah, apa yang akan kita lakukan? Kirim dia kembali.

Kita akan mengirim dia kembali, ini di antara poin yang merugikan Muslim.

Baiklah. Saya takkan menjelaskan sejarah dulu, tapi tentang politik internasional. Negara-negara besar di dunia mengatakan, “Kami takkan bernegosiasi dengan para teroris.”

Pernah dengar? Pemerintah berkata kita takkan bernegosiasi dengan para teroris. Jika Anda bernegosiasi dengan mereka, artinya Anda telah menerima bahwa kedudukan mereka sah. Iya atau tidak?

Karena Anda menandatangi sesuatu dengan mereka, berjabat tangan dengan mereka, melakukan siaran pers dengan mereka, Anda melakukan perjanjian dengan mereka, artinya Anda menganggap mereka sebagai pemerintahan yang sah. Jadi kita menandatangani sebuah perjanjian dengan mereka, bukti bahwa mereka sah di mata kita. Oke.

Jika pemerintah mengira bahwa kelompok, musuh mereka itu kecil dan bisa dihancurkan dengan mudah. Mereka berkata, “Kami tidak perlu membuat perjanjian dengan orang-orang ini. Kami mampu menggilas mereka. Mereka penjahat! Mereka bukan siapa-siapa!”

Tapi jika sebuah kelompok semakin kuat, begitu kuatnya sehingga tidak mudah menghancurkannya, maka Anda melemah dan harus menerima bahwa kita harus menandatangani apa? Sebuah perjanjian!

Kemenangan politik di dalam ayat ini adalah untuk pertama kalinya, Quraisy yang hingga saat ini, menganggap Muslim sebagai apa? Mereka menganggap Muslim sebagai sebuah sekte. Mereka menganggap Muslim sebagai pengkhianat. Bisa dianggap sebuah kelompok teroris. Istilah zaman dahulu. Namun sekarang mereka menandatangani sebuah perjanjian dengan Muslim.

Artinya kaum Quraisy telah menerima Kekuasaan dan Otot, serta Kekuatan Muslim, Allah membuat mereka menerima kekuasaan Muslim, bahkan ketika Muslim tidak punya senjata di tangan. Mereka tidak mengakui kekuasaan Muslim di Ahzab. Tidak juga di Badar, di Uhud, dan di Ahzab, tapi mereka mengakui kekuasaan Muslim ketika mereka datang dalam pakaian ihram.

(Takbir! Allahu Akbar!)

Saya ingin Anda memahaminya. Kekuasaan itu bukan soal senjata! Dalam ayat ini, cara kita memahami, “Kapan orang kafir akan mengerti kekuasaan Muslim?”

“Kapan mereka akan paham kekuasaan Muslim?”

Kita emosi tentang hal itu. Namun sirah dan Al Qur’an punya pemahaman yang dalam mengenai hal ini. Keduanya punya pemahaman yang kuat, ini adalah realita yang dahsyat bahwa Quraisy harus menandatangani perjanjian ini.

Sekarang seluruh Arabia, suku-suku yang ada; mereka tidak senang kepada Quraisy. Anda ingat sebabnya? Karena Quraisy telah memaksa mereka ikut hingga Ahzab.

Sekarang semua suku melihat, “Tau nggak, Quraisy, yang katanya mau membunuh para Muslim enam bulan yang lalu, sekarang siap untuk menandatangani perjanjian.”

“Muslim ini benar-benar kuat bro.”

“Wah, Muslim ini serius.”

Mereka bahkan lebih kuat dari siapa? Dari Quraisy. Karena Quraisy dipaksa menandatangani perjanjian, bahkan meski Muslim tidak punya senjata apapun. “Gila bro!”

“Politik kesukuan yang luar biasa.”

Dan di masa ini kita damai selama 10 tahun. 10 tahun gencatan senjata. Tebaklah! Sudahkah Anda cek peta selama masa pemilu? Partai ini biru, partai itu merah, bukan? Jadi yang biru sebesar ini, yang merah sebesar itu, bukan?

Sekarang coba pikirkan begini. Kita beri Quraisy warna ungu. Ungunya besar. Muslim putih, putihnya sangat kecil. Sangat kecil. Khususnya di perang Ahzab, perang berparit, semua suku memerangi siapa? Muslim.

Jadi peta ungu sangat besar dan peta putih sangat kecil. Sekarang peta putih imut ini pergi ke tempat Quraisy dan memaksa mereka menandatangani perjanjian.

Sekarang bintik putih menjadi sedikit lebih besar, sedangkan sisa peta ungu telah menjadi netral. Mengapa mereka menjadi netral? Karena mereka sudah tidak suka lagi kepada Quraisy.

Jadi apa yang dilakukan Muslim selama masa damai? Mereka mengunjungi setiap suku dan berkata, “Hai, kalian ingin tetap netral? Baiklah.”

“Tapi jika kalian ingin memihak kami, boleh-boleh saja, karena sekarang kami sudah besar. Kami sudah berotot.”

“Lihat saja apa yang sudah kami lakukan terhadap Quraisy.”

Beberapa suku berkata, “Tidak, kami takut kepada kalian berdua.”

“Kami tidak ingin apa-apa. Kami ingin jadi Swiss saja.”

Suku-suku yang berkata, “Siap! Kami ikut kalian.”

Dan apa yang terjadi? Yang seharusnya 10 tahun, bahkan tidak sampai 10 tahun. Hanya beberapa bulan, peta wilayah itu berubah, bintik putih semakin besar, dan terus membesar, dan mana yang mengecil? Ungu mengecil, orang-orang malang itu tertekan, sangat tertekan, dan ketakutan, karena salah satu poin perjanjian adalah – jika kami menyerang atau kalian yang menyerang, jika ada serangan yang terjadi – maka semuanya batal. Maka semua perjanjian batal.

Ternyata Quraisy menyerang secara tidak sengaja. Mereka tidak berniat menyerang, tapi akhirnya masuk di kancah peperangan, dan beberapa orang Muslim terbunuh.

“Oh, tidak!”

Jika perjanjiannya batal, apa yang akan dilakukan Muslim? Mengambil alih dan sekarang karena putih sangat besar, dan ungu sangat kecil, mereka tak punya kekuatan lagi.

Jadi Abu Sufyan, yang saat itu bukan Muslim, salah satu pimpinan tinggi Quraisy, datang ke Madinah, dia harus datang ke Madinah.

Bayangkan biasanya Muslim mereka anggap nyamuk. Mereka biasa menganggap Muslim bukan siapa-siapa. Sekarang mereka harus datang ke Madinah, dia harus menemui dan rapat dengan Rasulullah (ﷺ).

Abu Sufyan datang ke rumah Rasulullah (ﷺ). Ngomong-ngomong, putrinya menikah dengan Rasulullah (ﷺ). Jadi dia pergi ke rumahnya, bertemu dengan anak perempuannya sendiri. Dia masuk ke dalam rumah, ketika mau duduk.

Anak perempuannya berkata, “Ayah tunggu dulu,” dan digulungkannya karpet.

“Engkau boleh duduk di lantai.”

Abu Sufyan menjawab, “Maaf, apakah aku terlalu mulia untuk karpet ini atau karpet yang ini terlalu bagus untukku?”

Anaknya menjawab, “Sebenarnya itu karpet Rasulullah (ﷺ).”

“Karpetnya terlalu bagus untukmu.”

Deg! Sekarang setelah diberitahu, apa lagi yang akan dinegosiasikannya? Putrinya sendiri sudah menempatkannya pada posisi yang sebenarnya. Kita tidak memperlakukan seorang duta seperti itu.

Bayangkan seorang duta mengunjungi pemerintah Anda, dia datang ke gedung DPR, dia baru mau duduk di kursi, mereka pindahkan kursinya.

“Silahkan duduk di lantai.”

Itu penghinaan bukan? Artinya duta ini tidak berharga di mata kita.

“Kamu bukan apa-apa bagi kami sekarang.”

“Kamu dulu menganggap kami bukan apa-apa.”

“Sekarang kami anggap kamu bukan apa-apa.”

Jadi tiada tempat baginya untuk bernegosiasi.Dia meminta dan memohon, “Mohon jangan serang kami. Maaf, kami memang salah.”

“Saya tahu perjanjiannya telah batal, tapi tolonglah diperbaharui?”

“Tolong, kami minta dengan sangat…”

Apa yang dikatakan Muslim?

“Aaa, Tidak!’ Tidak!”

Dan kita pergi, kita berhaji, berhaji dengan damai. Kita tidak membawa senjata, kita hanya pergi haji. Kita taklukkan Makkah tanpa satu senjata pun. Kita telah menaklukkan Makkah. Namun semua itu terjadi pada saat semua Muslim frustasi, dan tidak bisa berperang, dan kemarahan mereka sangat besar.

Mereka berkata, ” Ayo, kita balas dendam untuk Utsman.”

Tapi kemudian berkata, “Ya sudah! Mari kita berhaji!”

“Ayo! Kita di sana bersama musuh, Allah bersama kita, ayo kita serang mereka!”

“Mengapa kita harus menerima negosiasi yang melecehkan ini dari orang kafir?”

“Kita seharusnya memerangi mereka!”

“Allah bersama kita, malaikat bersama kita.”

“Ayo kita serang sekarang!”

Pada saat itulah Allah menenangkan mereka, sehingga mereka mau mendengar Rasulullah (ﷺ), dan mau belajar untuk mundur sejenak karena juga dalam tahun yang sama, kalian tidak perlu memanggul senjata apa pun, cukup berangkat saja. Dan semua itu dimulai oleh jatuhnya batu domino pertama, yaitu Perjanjian Hudaibiyyah.

Allah simpulkan semuanya dalam satu ayat;

(اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ).

“Jelaslah, bagi kalian telah Kami berikan sebuah kemenangan yang istimewa.”

“Kami telah berikan sebuah kemenangan yang istimewa.”

Wallahi, saya sampaikan sesuatu. Dalam bahasa Arab yang lazim ditemukan adalah, (اِنَّا فَتَحْنَا فَتْحًا مُّبِيْنًا لَكَ).

Jar majrur seharusnya berada di bagian belakang, jika dikedepankan (muqaddam), ia akan menjadi mukhtash (khusus). Yang berarti; teristimewa untuk kalian, Kami telah memberikan kemenangan yang bersih.

Anda tahu apa maksudnya? Ini komentar terakhir yang akan saya sampaikan. Ingat, ini bukan kuliah utuh tentang topik ini, ini hanya pemikiran yang saya miliki sejauh ini.

Insya Allah ta’ala doakan saja, agar saya mampu menuntaskan studi ini, dan memberikan kuliah komprehensif karena secara pribadi saya yakin Muslim harus memahami surat Al Fath dengan sangat jelas karena ini adalah surat kemenangan. Saya sendiri yakin bahwa banyak kesimpangsiuran di antara kita tentang apa arti kemenangan.

-Apakah sudah masuk waktu salat?-

Jadi yang terakhir tentang (اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ).

Bagaimana biasanya negara-negara memenangkan perang? Dengan membom, membunuh, berperang, menaklukan kekuasaan yang ada, atau mengirimkan tank ke kota. Bukan demikian?

Dan bahkan ketika mereka mengambil alih, ketika militer mengambil alih sebuah negara, apakah itu sepenuhnya berarti bahwa penduduknya telah menyerah? Sudah pernahkah terjadi di masa ini bahwa militer dari negara lain, mengambil alih, menyerbu, namun penduduk belum menerima mereka.

Apakah itu terjadi? Jadi kita tidak bisa menyebutnya kemenangan bersih. Itu kemenangan militer, bukan memenangkan hati penduduknya. Bahkan bukan kemenangan militer yang utuh. Bahkan bukan kemenangan yang bisa dimaknai dengan apapun. Mungkin itu memang kemenangan melawan pasukan, tapi bukan kemenangan terhadap penduduknya. Tidak bisa dimaknai dengan cara apapun. Anda paham?

Jadi sangat sulit untuk mengatakan dalam peperangan bahwa sebuah kemenangan itu benar-benar bersih. Paham? Di dalam Fathuh Makkah, Allah berfirman, (اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا).

Bukan hanya fathan, tapi (فَتْحًا).

(اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ).

Kemenangan itu bersih. Kemenangan yang paling bersih di dalam sejarah manusia adalah kemenangan yang diberikan kepada Rasulullah (ﷺ), dan kemenangan itu bahkan bukan dari hasil peperangan. Bukan dari hasil peperangan.

Muslim Harus Disiplin

Tapi hasil dari strategi. Buah dari kesabaran. Yang terpenting dari semuanya, ia buah dari disiplin. Hasil dari disiplin. Para sahabatlah yang merupakan pemenang utama, bukan karena mereka pergi ke medan perang, tapi karena mereka mematuhi Rasulullah (ﷺ) tanpa syarat.

Ketika beliau menyuruh mereka memasang pakaian ihram, mereka pasang.

Ketika beliau melepasnya, mereka lepas.

Ketika harus berjalan ke Makkah, mereka berjalan ke Makkah.

Ketika harus berbalik pulang, mereka berjalan pulang.

Tidak ada keluhan. Tiada keluhan.

Kita menginginkan kemenangan. Allah memberitahu kita syaratnya. Kita harus berdisiplin. Kita harus bisa mengontrol emosi. Kita tidak bisa menjadi massa yang marah, yang tidak bisa berpikir jernih. Kita harus menjadi orang yang paham definisi kemenangan dari kitab Allah. Kita harus seperti orang-orang yang bijaksana ini.

Disiplin adalah hal terakhir yang bisa kita nilai dari umat dewasa ini. Sangat miris. Jika disiplin adalah hal terakhir yang bisa dinilai dari kita. Kita tidak punya disiplin dalam memarkir kendaraan di luar masjid. Ngomong-ngomong, ketika salat dimulai, itu memang disiplin yang indah.

Kita bisa berada di mana saja, anak kita bisa saja sedang sangat bandel. Ketika (قَدْ قَامَتِ الصَّلاة قَدْ قَامَتِ الصَّلاة). Kita semua berbaris sempurna. Bukankah demikian? Semua melihat ke kakinya. Semua berbaris sempurna? Segera setelah salat usai, kita kembali kepada kesemrawutan.

Salat lima waktu, apa yang diajarkannya pada kita? Disiplin. Sebenarnya itu bukti bahwa Muslim mampu luar biasa disiplin. Anda tidak bisa menemukan agama lain yang ketika seruan sederhana dikumandangkan.

(اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ)
(اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الفَلاح)

Qad qama… dan semua percakapan dihentikan. Semua hape dimatikan, semua layar menghitam, semua berhenti bermain, semua bangkit dari duduknya, semua berdiri sempurna seperti sebuah pasukan.

Meski tak kenal satu sama lain, tidak pernah dilatih bersama. Bahkan tidak tahu siapa jenderalnya, siapa pimpinan salatnya. Mereka tidak tahu apa-apa tapi mereka segera berbaris. Di manapun selain di agama ini, itu tidak mungkin. Kita orang yang disiplin.

Namun sayangnya di luar salat, apa yang dipelajari dalam salat, seharusnya tercermin di luar salat. Kita harus menjadi orang yang berdisplin.

Penutup

Inilah beberapa pemikiran yang saya sampaikan kepada Anda. Khususnya kepada generasi muda di sini. Sekedar menggambarkan banyak hal yang harus direnungkan di dalam kitab Allah. Banyak hal yang harus direnungkan di dalam agama ini. Banyak hal untuk dimengerti, dipahami.

Jika kita mulai dengan menjadi orang yang benar-benar dalam, sangat memahami kitab Allah, maka kita akan berada di posisi yang lebih baik untuk bisa bertindak berdasarkan kitab Allah.

Jika Anda ingin bertindak berdasarkan kitab Allah, pertama harus paham dulu kitab-Nya. Jika Anda tidak punya pemahaman yang baik, Anda tidak bisa bertindak dengan baik. Anda tidak bisa mengimplementasikan kitab Allah dengan baik.

Kitab ini tidak seperti majalah. Tidak seperti artikel di sebuah blog. Anda tidak bisa sekedar membaca, lalu merasa paham.

(أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ)

“Tidakkah mereka merenungkan Al Qur’an dengan dalam.”

Setiap ayat harus Anda pikirkan. Harus Anda renungkan. Anda harus mempelajarinya. Anda harus menyelaminya seperti menyelam di samudera. Maka setelahnya Anda akan memperoleh kebijaksanaan dan bertindak atasnya. Anda tidak bisa sekedar menelusurinya. Ini bukan bacaan santai. Anda tidak bisa membaca Al Qur’an sepintas saja untuk bisa memperoleh mutiaranya.

Anda paham? Sayangnya saat ini kita memiliki penghargaan yang begitu dangkal terhadap Al Qur’an. Kita harus merubahnya di dalam budaya kita. Kita harus menumbuhkan budaya yang merayakan tadabbur Al Qur’an. Tafakkur Al Qur’an. Ta’allum Al Qur’an. Mempelajari tafsir Al Qur’an hingga dalam. Mempelajari bahasanya. Memahaminya dan merenungkannya. Membahasnya dengan dalam. Sehingga kita bisa bertindak atasnya dengan selayaknya.

Ini doa saya bagi umat ini. Bahwa semoga Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى)sungguh akan menjadikan kita, orang yang terhubung dengan kitab-Nya dengan semestinya. Memahaminya dengan cara yang paling murni, beradab, dengan cara yang semestinya dia dipahami.

Semoga Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menjadikan kita manusia Qur’ani yang tidak menjadi lalai dalam hubungannya dengan Al Qur’an. Bulan Al Qur’an masih segar di dalam hati kita. Kita baru saja melewati Ramadan, jangan biarkan ia mengering dengan cepat. Pelajarilah kitab Allah, teman-teman.Pelajarilah kitab-Nya.

Jika Anda habiskan malam untuk debat politik dan tidak ada yang berubah. Bagaimana jika Anda gunakan waktu di malam hari untuk menghafal satu atau dua surat. Bagaimana jika Anda gunakan waktu di malam hari untuk lebih banyak mempelajari kitab Allah. Jika dunia takkan berubah, setidaknya Anda akan berubah. Setidaknya Anda bisa berubah.

Dan Wallahi, jika Anda berubah, maka dunia akan berubah. Hingga Anda berubah, dunia takkan berubah. Dunia tidak akan berubah.

Para sahabat adalah contoh perubahan yang terhebat. Mereka membawa transformasi yang menakjubkan di dalam diri mereka sendiri melalui kitab Allah. Dan karena perubahan dalam diri mereka tersebut, Allah berikan kemenangan di tangan mereka. Kemenangan dengan penaklukan tidak berharga. Bukan apa-apa. Tidak signifikan.

Dunia ini diciptakan untuk kita. Ia diciptakan untuk kita. Kita harus membuktikan kepada Allah bahwa kita hanya untuk-Nya. Jika kita telah membuktikan bahwa kita hanya untuk-Nya, maka Dia akan memberi kita dunia. Bukan hal sulit bagi-Nya. Itu mudah bagi-Nya. Subhanallah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s