[MFA2020] Kesenangan Dunia Yang Menipu – M Daffa RI


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭا ۖ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۭ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”(QS Al Hadid [57] ayat 20)

Saya mendengar ceramah dari Ustaz Nouman Ali Khan tentang Happiness, Fun, and Pleasure sekitar satu sampai dua tahun yang lalu. Ketika pertama kali melihat Ustaz menjelaskan surah Al Hadid ayat 20 saya merasa begitu tercerahkan. Beberapa pertanyaan yang ada di benak saya mampu dijawab seketika lewat penjelasan satu ayat tersebut. Meski sudah begitu lama saya mendengar ceramah tersebut, tapi hikmah yang terkandung di dalamnya adalah pelajaran yang abadi bagi saya.

Sejak dulu saya selalu menempatkan kesenangan dan kebahagiaan sebagai prioritas utama dalam hidup, dan mungkin banyak orang yang juga setuju dengan hal itu. Kebahagiaan adalah tujuan utama bagi mayoritas manusia, hanya saja dengan cara yang berbeda-beda.

Ada yang tujuan hidupnya mencari kekayaan, ada  yang mencari hiburan, ada yang mencari pengakuan. Apapun hal yang kita kejar, semuanya berujung kepada mengejar kebahagiaan. Tetapi pertanyaannya, adakah orang yang sudah mendapatkan kekayaan lalu menjadi bahagia? Adakah orang yang sudah mendapatkan hiburan lalu menjadi bahagia? Atau adakah orang yang mendapatkan pengakuan orang lain lalu menjadi bahagia? Menurut Al-Qur’an khususnya dalam ayat ini, tidak ada orang yang bahagia setelah mendapatkan hal yang mereka kejar tersebut. Semua jalan pintas menuju kebahagiaan adalah sia-sia. Segala hal yang kita anggap sebagai kebahagiaan hanyalah fatamorgana.

Di dalam ayat ini, Ustaz Nouman membagi kepada beberapa bagian, dan setiap bagian merepresentasikan hal yang paling kita inginkan dalam satu fase kehidupan kita. Bagian pertama adalah permainan. Satu-satunya hal yang paling kita kejar selama menjadi anak kecil adalah permainan. Lalu ketika mulai masuk 6-7 tahun, kita mulai ingin sesuatu yang lebih dari sekedar permainan. Kita mulai menginginkan hiburan (lahwu). Kita mulai menonton acara televisi anak-anak, kita mulai suka mendengarkan cerita, kita mulai menyukai hiburan-hiburan yang berbeda dari sekedar permainan.

Lalu ketika kita sudah beranjak remaja, kita mulai memperhatikan penampilan kita (perhiasan). Kita mulai menyukai hal-hal yang memperindah diri kita di mata orang lain. Sebelumnya hanya peduli dengan apa yang diinginkan oleh diri sendiri, namun setelah remaja kita menjadi peduli pada apa yang orang ingin lihat dari kita, karena kita mulai menginginkan pengakuan dari orang lain. 

Masuk ke tahap selanjutnya adalah bermegah-megahan, di tahap ini kita mulai memikirkan tentang gengsi dan prestise serta selalu ingin merasa superior dari orang lain. Kita semua ingin memamerkan pencapaian yang kita raih, seberapa pintar kita, atau sekadar pamer telah masuk ke universitas yang bergengsi. Berlomba-lomba untuk saling merasa superior sudah menjadi hal yang kita kejar dalam tahap ini. Tahap yang terakhir adalah ketika kita menjadi dewasa. Ada dua hal yang menjadi prioritas ketika dewasa, yaitu kekayaan dan anak. 

Ayat ini ditutup dengan sebuah perumpamaan dan pernyataan. Dalam ayat ini, diumpamakan segala hal yang kita kejar di dunia ini bagaikan tanaman yang mengagumkan para petani karena mendapatkan hujan yang sempurna, tetapi tanaman itu menjadi kuning dan kering hingga hancur.

Tanaman ini adalah hal yang kita kejar, dan kita bagaikan petani dalam perumpamaan tersebut. Tanaman yang kita pikir akan membawa hasil yang mengagumkan, tiba-tiba berubah menjadi layu dan hancur. Hal-hal yang kita pikir akan membawa kebahagiaan, sejatinya adalah hal yang rapuh dan tidak bernilai.

Itulah yang kita dirasakan oleh anak kecil ketika ingin membeli mainan, mainan tersebut terasa sangat menggiurkan hingga merajuk agar dibelikan. Lalu ketika sudah dibeli dan dimainkan, ternyata dengan sekejap merasa bosan. Tidak peduli seberapa banyak film yang kita tonton atau musik yang kita dengar, kita akan selalu merasa bosan dan berpikir untuk menghilangkan kebosanan itu dengan menonton film lagi dan mendengarkan musik yang lain. Kita tidak bisa mencapai titik yang kita anggap sebagai kebahagiaan. Yang kita peroleh hanyalah keinginan untuk mendapatkan yang lebih dan lebih lagi, dan itulah kesenangan yang menipu.

Ayat ini membahas mengenai betapa temporer dan dangkalnya hal-hal yang kita kejar di dunia ini. Ayat ini juga berisi pernyataan bahwa di akhirat akan ada azab yang keras, pengampunan, serta keridaan (ridhwan). Ketiga hal inilah yang kekal, dan hal-hal inilah yang seharusnya selalu kita perhatikan dalam hidup. Yaitu selalu mencari pengampunan dari Allah, agar terhindar dari azab-Nya, dan mencapai kebahagiaan sejati di akhirat. Di saat itulah kita tidak mencari hal-hal lain lagi, dan di saat itulah kita mencapai kepuasan

Ayat ini tidak memaksa kita harus menghindari kesenangan atau mengharuskan kita tidak lebih bahagia dari orang lain. Justru sebaliknya, kita akan mengejar hal-hal yang lebih memberi manfaat dan bernilai bagi kehidupan kita di dunia dan akhirat. Karena ayat ini menyadarkan kita bahwa tidak ada yang bisa membuat kita merasa puas dan bahagia di dunia ini. Karena itu, kita sebaiknya berhenti mengejar kesenangan dunia yang semu dan fokus mengejar hal yang lebih berharga dan bernilai di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sebuah penelitian bahkan menyatakan bahwa orang yang memfokuskan energinya untuk mengejar kesenangan di dunia ini akan menjadi pribadi yang lebih cemas, lebih tidak stabil secara emosi, dan lebih depresi. Kesenangan adalah sebuah bentuk kepuasan yang dangkal, dan akan hilang dengan cepat. Tidak ada orang yang selalu bahagia di dunia ini. Sebaliknya, dunia ini dipenuhi orang-orang yang kehilangan arah karena mencari kebahagiaan dengan cara yang keliru.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya merasa ayat ini mendeskripsikan kehidupan manusia dengan sangat tepat. Tentang hal-hal yang biasanya manusia kejar dalam hidup. Hal-hal yang kita pikir akan membawa kebahagiaan dalam hidup. Juga penegasan dalam bentuk perumpamaan bahwa semua itu merupakan kesenangan yang menipu. Dan bahwa kebahagiaan yang sejati hanya kita dapatkan di akhirat.

Di setiap titik kehidupan, ayat ini menjadi pengingat penting untuk tidak terlalu berlebihan menginginkan kesenangan, dan selalu fokus untuk mengejar hal-hal yang sejatinya lebih bernilai untuk kita lakukan dalam hidup.

__

Video referensi: https://www.youtube.com/watch?v=QrOXQ2ycU50

Ditulis Oleh: M Daffa RI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s