[MFA 2020] Maafkan Anakmu – NP


Bisimillahirrahmanirrahim

Aku sempat bingung dengan perasaanku sendiri. Bingung untuk sekadar menilai bahwa apa yang saat itu kurasakan adalah sesuatu yang wajar dan tidak apa-apa. Setidaknya itu bukan keinginanku. Untuk mengingatnya sebagai seseorang yang pernah melukai. Namun nyatanya hatiku tidak bisa melupakan. Tapi sungguh mana mungkin aku bisa memaafkan. 

Bertahun-tahun aku menekan ego dengan apa yang yang kuyakini selama ini, bahwa birrul walidain adalah sebuah kewajiban. Aku mencoba tak peduli dengan perasaanku sendiri, yang sudah kukesampingkan jauh sekali, hingga aku tak sadar bahwa secara psikis, kondisi ini tak baik untukku. Lebih jauh, fisikku ikut terpengaruh. Mudah lelah, imunitasku menurun, dan sistem pernapasanku memburuk. Ternyata aku psikosomatik saat itu. Saat di mana aku berkata sudah memaafkan namun diriku terus menyalahkan diri sendiri yang tak bisa melupakan setiap hal buruk yang pernah dilakukan oleh orang terdekatku.

Sampai hari ini, aku masih belajar. Berkali-kali memohon pada Allah untuk kembali menguatkan hati, karena memang kuakui itu tidaklah mudah. Ketika aku harus tetap menjalankan kewajibanku sebagai seorang anak dengan mengingat luka-luka pengasuhan di masa lalu. 

Sampai akhirnya Allah izinkan aku bertemu dengan klip video singkat Ustaz Nouman Ali Khan tentang memaafkan namun belum melupakan. Ayat ini mungkin sudah berkali-kali kubaca namun belum benar-benar kupahami bahwa Allah sedang menyampaikan ayat itu ke hatiku.

وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَٰبِلِينَ 

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS Al-Hijr, 15:47)

Ghill. Perasaan ini terkadang seperti paku yang ditancapkan pada baju perang, sangat mungkin membuat terluka. Baju perang harus tetap ada sebagai pelindung dari orang-orang yang menyakiti. Jika lengah sedikit saja, maka sangat mungkin kembali disakiti oleh musuh.  Namun paku itu justru menjadi self-defense mechanism yang kita miliki.

Aku pernah membawanya kemanapun, perasaan yang membuatku sangat tidak nyaman itu. Perasaan yang membuatku seperti orang jahat, anak yang durhaka. Perasaan yang hampir membuatku berkali-kali menyalahkan diri sendiri. Duhai Rabb, berkali-kali aku menyesali diri dan menangis karena rasa ini. Namun Allah katakan bahwa ghill ini akan Allah cabut. Maka hadirlah harapan baru, doa-doa baru untuk hati yang lebih baik. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah, karena hanya Allah yang berkuasa atas perasaan ini dan Allah akan mempertemukan kita kembali dengan orang yang sama di surga nanti, hingga kita benar-benar lupa dengan perasaan menyakitkan yang dulu pernah kita rasakan di dunia.

“Allahu Akbar, sesungguhnya Allah maha berkehendak atas segala sesuatu.” 

__

Video referensi: https://www.youtube.com/watch?v=aLhGAFleFns

Ditulis oleh: NP 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s