Sebongkah Batubata yang Rindu Penghargaan


Oleh: Heru Wibowo

Story resume of When Muslims Work Together

***

Perkenalkan: si Fulan, the Goatfather. Maksudnya, dia pakar urusan per-kambing-an. Sebenarnya urusan sapi, dia canggih juga. Tapi di setiap Idul Adha, jumlah kambing qurban kan lebih banyak dari sapinya. Makanya dia lebih dikenal sebagai Goatfather, bukan Cowfather.

Lalu, apa sih hebatnya? Dia pintar nyari rekanan yang tepat. Sehingga Panitia Qurban bisa mendapatkan hewan qurban terbaik. Kambing yang aman dan sehat. Dengan harga yang paling kompetitif. Masjidnya selalu mendapatkan jumlah mudhahhy alias shahibul qurban terbanyak. Dibandingkan masjid-masjid lainnya.

MUKJIZAT DUA PERSEN (5)

Kehebatan sang Goatfather ternyata menyembunyikan sebuah bahaya. Siapapun yang terlibat dalam kegiatan keislaman, dalam kepengurusan atau kepanitiaan apapun, bisa terkena bahaya ini.

Seperti halnya anak-anak muda yang aktif di masjid. Mereka suka berkumpul untuk membahas program kerja masjid. Untuk merencanakan berbagai events. Dan ketika berhasil menyelenggarakan sebuah perhelatan yang besar, godaan itu mulai muncul.

“Kepanitiaan kita memang keren.”

“Banyak banget selebriti yang hadir.”

“Pak Gubernur sendiri berkenan membuka acara kita.”

Godaan berikutnya makin parah: membandingkan.

Yes, program kita lebih semarak dibandingkan masjid sebelah. Pengisi materinya jauh lebih bagus. Kualitas kepanitiaan sepertinya berpengaruh.” Dan seterusnya. Dan sebagainya.

Hasrat untuk merasa lebih hebat, begitu menggoda. Hasrat ini begitu berbahaya. Karena membangun animosity. Rasa benci dan permusuhan.

Yang seharusnya terjadi adalah: rasa hormat dan saling menghargai. All Islamic efforts have to be respected. Semua bentuk kegiatan, kepengurusan, kepanitiaan, dan berbagai usaha untuk mendakwahkan Islam, harus dihormati dan dihargai.

Seseorang dari Australia menelpon Ustadz Nouman. Dia ingin memulai Arabic program. Tapi takut melanggar hak cipta Bayyinah.

Ustadz merespon, “Bro, lakukan aja. Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan. Lakukan dimana saja. Makin banyak makin bagus.” Artinya, Ustadz menjamin bahwa tidak akan ada tuntutan dari Bayyinah atas pelanggaran hak cipta.

Tapi kenapa Ustadz bisa ‘ikhlas’ seperti itu? Apa Bayyinah ga rugi?

Wa ta’aawanuu ‘alal birri wattaqwaa. Wa laa ta’aawanuu ‘alal itsmi wal ‘udwaan. (QS Al-Ma’idah 5:2).

Ya. Kita memang harus tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Dan kita tidak tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Ini menjadi semacam aturan emas (golden rule) bagi siapa saja yang bekerja secara kolektif, apalagi sebagai Muslim yang sedang mendakwahkan nilai-nilai keislaman. Kita harus bekerjasama dalam semua hal yang baik. Kita harus melupakan label kita. Kita harus memprioritaskan dakwah keislamannya. Loyalitas kita bukan kepada organisasi. Kita berjuang di jalan-Nya melalui organisasi, tapi kita tidak akan pernah menyembah organisasi.

Loyalitas kita adalah kepada Allah dan segala aktivitas yang mendekatkan kita kepada-Nya. Allah tidak akan nanya, dulu ikut Muhammadiyah atau NU. Madzhab Syafi’i atau Hanafi. Penggemar Mufti Menk atau Yasir Qadhi. Kita akan ditanya siapa yang kita sembah. Kita akan ditanya niat kita. Kita akan ditanya ketulusan kita.

Jika kita begitu bergantung kepada bendera. Jika kita begitu bergantung kepada sosok tertentu. Jika kita begitu bergantung kepada logo. Jika kita begitu bergantung kepada nama organisasi. Jika kita begitu bergantung kepada proyek besar yang sangat-sangat sukses. Maka kita telah menciptakan sebuah budaya. Yang mengarah kepada rasa dendam dan permusuhan. Yang mengarah kepada kompetisi yang tidak sehat. Yang mengarah kepada sikap membanding-bandingkan yang tidak perlu. Subhanallah.

Arah aktivitas keislaman seharusnya tidak seperti itu. Komunitas yang sehat tidak tumbuh dengan cara seperti itu.

An aqiimuddiina wa laa tatafarroquu fiihi (QS Asy-Syuro 42:13). Tegakkanlah agama dan janganlah berpecah-belah di dalamnya.

Menegakkan nilai-nilai keislaman bukan perjuangan satu orang. Menegakkan nilai-nilai keislaman bukan perjuangan satu organisasi. Menegakkan nilai-nilai keislaman adalah perjuangan sejuta umat. Menegakkan nilai-nilai keislaman adalah perjuangan sejuta proyek.

Seperti membangun sebuah gedung. Masing-masingnya menyumbang satu batubata. Maka sumbangan itu harus dihormati dan dihargai. Meski hanya satu batubata. Maka jangan pernah meremehkan satu batubata. Karena satu batubata itu telah ikut membangun gedung. Karena satu usaha dakwah itu telah menjadi bagian dari gambar yang lebih besar.

Dan saat ini kita mungkin belum melihat gedungnya jadi. Tapi kita yakin, makin banyak orang yang bekerja, makin banyak yang menyumbangkan fikirannya, tenaganya, dananya, makin kokoh dan kuat bangunannya. Makin kokoh dan kuat nilai-nilai keislaman yang kita bangun.

Satu buah batubata, nilainya bisa tak terkira. Karena ia menyumbang tegaknya bangunan secara keseluruhannya. Satu demi satu batubata tertata. Progress-nya memang begitu. Perlahan-lahan. Bertahap. Seperti orientasi yang Allah berikan kepada kita. Tentang keseluruhan Islam itu sendiri.

Laa ilaaha illallaah itu seperti sebuah pohon.

(أَلَمۡ تَرَ كَیۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلࣰا كَلِمَةࣰ طَیِّبَةࣰ كَشَجَرَةࣲ طَیِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتࣱ وَفَرۡعُهَا فِی ٱلسَّمَاۤءِ)

Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. (QS Ibrahim 14:24)

Pohon itu, apakah tiba-tiba langsung jadi dan langsung tinggi menjulang? Ga mungkin. Butuh waktu. Bertahun-tahun. Akarnya harus dalem banget. Cabang-cabang pohonnya tumbuh ke segala arah. Ya. Cabang-cabang pohonnya tumbuh ke segala arah. Bukan ke satu arah. Itulah kebhinekaan umat.

Cabang-cabang pohon itu. Setiap cabang itu harus dihormati dan dihargai.

#nakindonesia

#matrikulasinakid

Ditulis oleh Heru Wibowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s