Merasa takut dan sedih (karena Virus Corona), bolehkah?


Allah menciptakan kita di dunia bukan untuk bersantai dan bersenang-senang.

Ada perjuangan yang harus kita jalani.

Ustadz Nouman mengingatkan, karena kita adalah orang beriman bukan berarti kita tidak menghadapi masalah atau kita tidak sedih atau kita tidak takut. Bukan.

Buktinya?

Tidak kita ragukan bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang menghadapi begitu banyak kesedihan, kesulitan, tekanan, dan tantangan dalam hidupnya.

Bukankah beliau memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Sang Pencipta?

Kenapa tidak Dia hilangkan saja segala masalahnya?

Karena sesungguhnya keimanan dan kedekatan kita pada Allah SWT bukan untuk menghapuskan masalah dalam hidup kita, tapi agar Allah menguatkan kita.

Agar kita berusaha dengan sholat dan do’a agar lebih terhubung pada-Nya.

Ustadz Nouman mengambil contoh kisah Ibunda Nabi Musa saat baru saja melahirkan.

Di luar, prajurit Fir’aun sedang berpatroli untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru saja lahir.

Bisakah kalian bayangkan bagaimana perasaan Ibunda Nabi Musa?

Begitu panik. Begitu takut. Begitu cemas. Begitu kacau hati dan pikirannya.

Lalu dengan seizin Allah, Ibunda Nabi Musa terpikirkan untuk memasukkan bayinya ke dalam keranjang lalu dilemparkan ke sungai yang alirannya deras.

Bagi orang normal, itu ide yang tidak masuk akal.

Tapi ia melakukannya karena iman di hati.

Bahkan ia harus menahan diri agar tidak berteriak untuk menyelamatkan bayinya, ia hanya boleh melihat dari jauh.

Semakin dalamlah kesedihannya.

Lalu Allah mengingatkan dalam QS. Fussilat: 30,

أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

Allah menghibur hati Ibunda Nabi Musa.

Allah menguatkan hatinya agar tidak hancur berkeping-keping.

Allah menenangkan hatinya yang awalnya terasa hampa karena kesedihan yang mendalam.

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah itu (dalam menghadapi pandemi Virus Corona)?

Wajar kita merasa sedih, merasa takut, merasa cemas.

Itu semua Allah munculkan agar kita mengingat-Nya.

Kita tidak bisa mengontrol emosi kita. Allah-lah yang mengontrol emosi kita.

Realitas tidak akan berubah. Kita harus menghadapinya. (Pandemi Virus Corona ini nyata.)

Tapi kondisi hati kita bisa berubah dengan campur tangan-Nya.

Jadi, libatkan Allah dalam menghadapi kondisi sekarang.

Allah akan menolong kita sehingga kita tidak tenggelam dalam ketakutan dan kesedihan.

Kita harus memperbaiki hubungan kita dengan Allah.

Kita harus menghadirkan hati kita saat sholat dan berdo’a.

Semoga Allah kuatkan hati kita.

Catatan: Pada video Khutbah Jum’at ini, Ustadz Nouman tidak menyebutkan tentang Virus Corona. Tapi sengaja kami tambahkan untuk merefleksikannya dengan kondisi sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s