Mukjizat Dua Persen


Oleh: Heru Wibowo

Story Resume of Final Miracle

Awal yang Menggemaskan

Yang paling menggemaskan di dunia adalah anak kucing (kittens). Disusul anak anjing (puppies), lalu penguin yang masih bayi (baby penguins). Itu menurut thetoptens.com.

Untuk anak-anak muda pecinta Al-Qur’an, apa yang paling menggemaskan? Mungkin bukan kucing. Bukan pula anjing. Buat mereka, yang paling menggemaskan mungkin adalah sesama anak muda.

Sesama anak muda, yang ga mau dekat-dekat dengan Qur’an. Sesama anak muda, yang ga mau mempelajari Qur’an. Apalagi kalo ada yang sampai meragukan Al-Qur’an. Mungkin yang terakhir ini yang paling menggemaskan.

Kalo cuma gemas aja, itu masih oke. Tapi ada yang melangkah lebih jauh: mengajak berdebat. Katanya, dalilnya ada di Qur’an. Wuihhh. Yang mana ya?

(وَإِن كُنتُمۡ فِی رَیۡبࣲ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُوا۟ بِسُورَةࣲ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُوا۟ شُهَدَاۤءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِینَ)

[Surat Al-Baqarah 2:23]

Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

“Tuh kan! Al-Baqarah 23 aja ngajarin kita untuk menantang! Untuk mengajak berdebat!”

Hmmm. Bentar. Benarkah begitu? Coba kita teliti lagi yach. Al-Baqarah 23, ayat itu turun di mana? Di Madinah. Padahal Rasulullah memulai dakwah Beliau di mana? Di kota Mekah, sebelum hijrah ke Madinah. Jadi, apakah Rasulullah memulai dakwah Beliau dengan berdebat?

Dengan mempelajari fakta bahwa ayat tadi baru turun belakangan, baru turun setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, jawabannya sudah jelas: tidak. Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam tidak memulai dakwah beliau di Mekah, dengan berdebat.

Jadi, kalo kita ketemu dengan orang yang baru kita kenal, yang meragukan Al-Qur’an, jangan langsung ‘ditembak’ dengan, “Bisa ga kamu bikin surat yang seperti surat di Al-Qur’an?”

Ntar yang ditanya malah bingung. “Surat? Apa itu? Aku tuh laper. Ke sini mau makan pecel pincuk. Kalo perutku laper, aku ga bisa mikir. Apalagi mikirin surat!”

MUKJIZAT DUA PERSEN (1)

Tertarik dengan Pesannya

Melipir dulu ke SPBU. Indikator bahan bakar sudah makin jauh dari F. Makin mendekati E. Terbaca, tinggal 25% bahan bakar yang mengisi tangki. Sekalian ngisi angin. Diisi berapa banyak? Sampai tekanannya 29 psi. Biasanya nambah berapa? Sekitar 1 atau 2 psi. Artinya, sebelum diisi angin, kondisi tekanan ban adalah sekitar 27 atau 28 psi.

Pernahkah pas ngisi angin, bukannya nambah, tapi malah mengurangi? Pernah. Kok bisa? Karena ngisi anginnya dalam keadaan panas. Misalnya abis perjalanan jauh di siang hari yang menyengat. Kondisi awal tekanan ban adalah 30 psi. Jadinya justru dikurangi 1 psi. Makanya direkomendasikan untuk ngisi angin dalam keadaan dingin.

Rekomendasi dari siapa itu? Dari buku manual kendaraan. Semua yang tadi dibahas itu, semuanya ada di buku manual. Dari dulu aku memang tertarik dengan buku manual. Tertarik dengan pesannya. Yang ada di buku manual. Biar bisa ngoperasiin kendaraan sesuai panduan dari yang bikin kendaraannya.

Tertarik dengan pesannya. Biar ga salah operasi. Biar ga salah jalan. Oke. Well noted.

Kembali ke anak-anak muda pecinta Al-Qur’an. Salah satu yang membuat mereka mencintai Al-Qur’an adalah karena tertarik dengan pesannya. Begitu juga dengan Ustadz Nouman. Awalnya, yang membuat Ustadz Nouman tertarik dengan Al-Qur’an adalah pesan, nasihat, petunjuk yang terkandung di dalamnya.

Karena hidup ada manualnya. Allah sudah membuat aku. Allah juga memberiku manual. Untuk menuntun jalan hidupku. Maka aku ingin terus dekat dengan Al-Qur’an. Karena tertarik dengan pesannya.

Terkesima dengan Keajaibannya

Sejak ada Windows Spotlight di Windows 10, kedua pasang mata ini serasa dimanjakan. Dibuat terkesima melihat berbagai pemandangan alam karya indah Sang Maha Pencipta. Ada Biogradska Gora National Park di Montenegro. Yang mengingatkan saya pada danau Lido Lakes Resort di Bogor. Ada Kauai di Hawaii. Dengan buih ombak yang putih bersih yang membelah daratan dan lautan. Kemarin, 8 Januari, ada yang baru. Lake Tekapo di New Zealand. Ingin berlama-lama melihatnya pagi itu. Tapi ga bisa, karena harus kerja. Alam memang menebar keindahan dan kecantikan. Menyimpan keajaiban.

Kalo Al-Qur’an, gimana ya? Hanya pesan? Atau juga punya keajaiban? Jawabannya ada di sebuah perjalanan. Perjalanan Ustadz Nouman. Berawal dari keinginan untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an. Maka Ustadz Nouman mempelajari bahasa Arab dengan penuh keseriusan.

Tahun 2003. Ustadz Nouman mendengarkan ceramah dalam bahasa Arab. Tentang I’jazul Qur’an. Saat itu bahasa Arab beliau belum begitu bagus. Mungkin hanya paham 30 persen saja. Tapi tetap dipaksakan untuk mendengar. Dan mencatat. Dan di akhir ceramah, Ustadz Nouman seperti berteriak-teriak sendiri. Meski dalam hati, “Ternyata, ada ya! Al-Qur’an ternyata tidak hanya menyimpan pesan! Tapi benar-benar penuh dengan keajaiban!”

Memangnya Al-Qur’an sendiri di dalamnya bilang tentang keajaiban. Tentang mukjizat?
Kata mukjizat itu sendiri tidak ada di Al-Qur’an. Kata yang digunakan adalah i’jaz.

I’jazul Qur’an. Berasal dari kata ‘ajaz. Yang berarti: sedang berlutut. On bended knee. Tidak mampu bangkit.

Seperti halnya dalam pertandingan gulat. Yang di atas angin, yang menginjak lawannya, itu disebut Mu’jiz. Yang diinjak sehingga tidak mampu bangkit, itu disebut Mu’jaz. Keajaiban Al-Qur’an seharusnya membuat orang menjadi seperti si Mu’jaz. Atau seperti orang yang menyeberang jalan. Orang yang lagi super galau. Lupa lihat kanan dan kiri. Telinga seperti tersumbat, tidak mendengar telolet berkali-kali. Tahu-tahu truk sudah berjarak 30 senti. Sekian detik sebelum ditabrak, sebelum jadi keripik, orang itu merasakan sesuatu yang disebut i’jaz. Seperti itu juga perasaan kita seharusnya terhadap keajaiban Al-Qur’an.

Saat menyimak I’jazul Qur’an, Ustadz Nouman tidak cuma mencatat. Kadang berhenti dulu. Mencari tempat di pojok ruangan. Menyendiri. Bertekuk lutut. Membiarkan air mata mengalir. Membasahi kedua pipi. Meneropong kembali perjalanan hidup selama ini, “Kok bisa ya, saya tidak pernah tahu tentang mukjizat ini.”

Ustadz Nouman mengumpulkan catatan-catatan itu. Mengubahnya menjadi sebuah program. Menamainya “Divine Speech”. Program ini sudah diajarkan di USA sekitar 60-70 kali. Juga di London, Inggris.

Aku jadi ingin tahu, seperti apa sih contoh mukjizat Al-Qur’an itu?

LDR

Kenapa Raisa harus dilibatkan dalam urusan Mukjizat Dua Persen ini? Bukan. Ini tidak ada hubungannya dengan Long Distance Relationship. Yang dimaksud di sini, kepanjangannya bukan itu. Harus ada hubungannya dong! Ini urusan hablun minallaah kan? Dari singgasana-Nya di atas ‘Arsy, turun ayat-ayat-Nya ke bumi yang kita diami, itu long distance juga kan? Kalo itu, iya. Tapi yang dimaksud LDR di sini, bukan itu.

Aku tertarik dengan Al-Qur’an karena pesan yang terkandung di dalamnya. Pesan dari yang menciptakan kita. Merespon pesan itu, aku siap melaksanakan.

Aku juga akhirnya mempelajari bahwa Al-Qur’an menyimpan keajaiban. Sehingga aku bisa merasakan keindahannya.

LDR itu Laksanakan Dan Rasakan. Ini tentang komitmen diri. Untuk melaksanakan isi pesan Al-Qur’an. Dan sebagai bonusnya, aku juga bisa merasakan keindahannya.

KW1 dan KW2

Rangkaian prosesnya memang menarik: belajar, mencatat, terinspirasi, mojok, nangis sesenggukan, belajar lagi, mencatat lagi, terinspirasi lagi, mojok lagi, nangis lagi, terus seperti itu. Dari proses ini, ditemukan hal-hal yang luar biasa. Yang membuat Ustadz Nouman sangat suka dengan Al-Qur’an. Sangat suka dan sekaligus bertekuk lutut. On bended knee.

Jadi, bisakah kita bilang, karena hal-hal yang luar biasa, sebagai hasil proses belajar dari Ustadz Nouman itu lah, makanya Al-Qur’an adalah mukjizat? Tidak. Kita tidak bisa bilang begitu. Kenapa? Karena itu berarti membatasi kemukjizatan Al-Qur’an. Hal-hal yang luar biasa itu adalah sebatas pemahaman Ustadz Nouman. Tapi kemukjizatan Al-Qur’an adalah lebih dari itu. Jauh lebih luar biasa lagi. Sangat-sangat jauh lebih luar biasa lagi.

Pemahaman Ustadz Nouman bisa salah. Dan jika ada yang bisa buktiin bahwa pemahaman Ustadz Nouman adalah salah, apakah berarti Al-Qur’annya salah? Tidak. Kita tidak bisa bilang begitu. Pemahaman manusia itu terbatas. Tapi kalo Al-Qur’an, sempurna.

Al-Qur’an adalah ori. Ori-nya ori. Pemahaman Ustadz Nouman adalah KW1. Meski saya seharusnya minta izin dulu untuk berpendapat seperti ini. Sedangkan tulisan saya ini, maksimal adalah KW2. Meski begitu, saya berdoa, semoga upaya Ustadz Nouman, maupun upaya saya ini, diterima-Nya sebagai amal shalih, dan dimasukkan ke dalam golongan KW yang Super Premium atau Grade Ori.

The Why

Aku punya rasa ingin tahu. Untuk tahu seperti apa mukjizat Al-Qur’an. Untuk merasakannya juga, dengan izin-Nya. Tapi cukupkah itu? Cukupkah ‘rasa ingin tahu’ itu menjadi motif untuk mengetahui dan merasakan mukjizat Al-Qur’an?

Aku harus belajar dari sebuah dialog yang ada di Al-Qur’an.

(وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ٰ⁠هِـۧمُ رَبِّ أَرِنِی كَیۡفَ تُحۡیِ ٱلۡمَوۡتَىٰۖ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَـٰكِن لِّیَطۡمَىِٕنَّ قَلۡبِیۖ قَالَ فَخُذۡ أَرۡبَعَةࣰ مِّنَ ٱلطَّیۡرِ فَصُرۡهُنَّ إِلَیۡكَ ثُمَّ ٱجۡعَلۡ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلࣲ مِّنۡهُنَّ جُزۡءࣰا ثُمَّ ٱدۡعُهُنَّ یَأۡتِینَكَ سَعۡیࣰاۚ وَٱعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِیزٌ حَكِیمࣱ)

[Surat Al-Baqarah 2:260]

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Ah, itu dia. Saat melihat mukjizat, hati Nabi Ibrahim ‘alayhis salam menjadi tenang dan tenteram. Ah, itu dia. Aku pun sama. Aku ingin mempelajari mukjizat Al-Qur’an. Supaya hatiku tenang dan tenteram.

Mukjizat adalah soal hati. Intelektualitas kita, tahu betul bahwa Al-Qur’an memang mukjizat. Tapi ayat ke-260 tadi bicara soal hati. Yang mencari ketenangan dan ketenteraman.

Pikiranku melayang. Membayangkan dua orang yang sedang melafalkan takbir. Sepintas tampaknya sama saja. Dari luarnya. Padahal tampak dalam, jauh beda. Yang satu, belum paham mukjizat Al-Qur’an. Yang satunya lagi, sudah mempelajari dan merasakannya. Yang belum merasakan mukjizat dengan yang sudah merasakan mukjizat, beda.

Orang-orang yang ada bersama Nabi Musa saat laut terbelah, beda dengan kita. Mereka merasakan mukjizat itu di depan mata. Kita? Cuma dapat ceritanya.

Al-Qur’an bukan hanya pesan. Tapi juga mukjizat, keajaiban. Semoga kita bisa ikut merasakan. Semoga hati kita menjadi makin tenang dan tenteram.

Mukjizat Dua Persen

Fashion Runway Cake adalah kue ultah termahal di dunia. Siapa yang bikin? Debbie Wingham. Harganya? Satu triliun rupiah. Boleh ngicipin ga? Boleh, tapi cuma dua persen. Dua persen dari satu triliun adalah 20 miliar. Not bad.

Al-Qur’an adalah mukjizat yang tak ternilai harganya. Ustadz Nouman ingin membantu kita untuk merasakannya. Tapi cuma dua persen. Mau ga?

Dua persen dari sesuatu yang tak ternilai harganya alias infinity, hasilnya adalah infinity. Sesuai kaidah berhitung: any number multiplied by 0 is 0, any number multiplied by infinity is infinity or indeterminate.

Jadi ini jauh lebih hebat dan lebih dahsyat dari fashion runway cake.

Kenapa ini dibahas? Karena, kata orang-orang, Al-Qur’an itu mukjizat. Al-Quran itu sempurna. Katanya! Tapi aku kok ga pernah paham.

“Al-Quran itu luar biasa.”

“Kenapa?”

“Karena bahasa Arab itu luar biasa.”

“Wow! Tapi saya kan ga bisa bahasa Arab.”

Nah. Apakah kita harus belajar bahasa Arab dulu 6 tahun? Atau mungkin 6 bulan? Untuk bisa merasakan mukjizat Al-Qur’an?

Ustadz Nouman mewajibkan dirinya untuk membantu kita. Yang bahasa Arab-nya pas-pasan. Atau bahkan tidak bisa sama sekali. Supaya kita bisa ikut merasakan mukjizat itu. Meski tidak 100 persen. Meski cuma 2 persen saja. Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Bahkan jauh lebih baik dari ikut ngicipin fashion runway cake yang ‘cuma’ 20 miliar nilainya.

Dan yang akan dijelaskan adalah mukjizat Al-Qur’an dari sudut pandang bahasanya. Bukan dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Bukan dari sudut pandang hukum. Bukan dari sudut pandang teologi. Tapi dari sudut pandang tata bahasanya.

Super Plural

Cinta. Satu kata berjuta rasa. Dan kita semua sudah tahu bahasa Inggrisnya. Love. Cinta. Cinta itu Bahasa Arabnya, apa ya? Bisa hawa, ‘alaqa, ishq, shaghaf, huyum, atau hubb. Kalo diteruskan, bisa 11 kata atau lebih. Bahasa Arab memang bahasa yang sangat kaya. Kekayaan Bahasa Arab juga merambah di sektor multiplikasi kata. Mungkin kita sudah familiar dengan contoh-contoh sederhana ini.

Apa bentuk jamak dari kafir? Bisa kafiruun, bisa kuffaar.

Apa bentuk jamak dari nabi? Bisa nabiyyuun, bisa anbiya’.

Coba kalo bahasa Inggris. Apa bentuk jamak dari buku (book)? Cuma books.

Apa bentuk jamak dari mobil (car)? Hanya cars.

Kalo bukunya buanyak banget, satu perpustakaan, atau semua buku di Gramedia Matraman, tetap aja books. Tidak ada itu booksss. Kalo mobilnya buanyak banget, satu pool taxi Blue Bird Kramat Jati yang kemarin terendam banjir itu, tetap aja cars. Tidak ada itu carsss.

Bahasa Arab dari tangkai adalah sunbulah. Itu kalo satu, tunggal. Bentuk jamaknya bisa sunbulaat, bisa juga sanaabil.

Konsepnya sebenarnya sederhana. Bahasa Inggris cuma punya plural. Bahasa Arab punya plural dan super plural.

Kata sunbulah adalah bentuk tunggal. Alias singular. Bentuk plural-nya adalah sunbulaat. Bentuk super plural-nya adalah sanaabil. Bentuk super plural ini adalah bentuk yang lebih dahsyat.

Sekarang kita tengok kata-kata sunbulah, sunbulaat, dan sanaabil di Qur’an. Ada di QS Al-Baqarah 2:261.

(مَّثَلُ ٱلَّذِینَ یُنفِقُونَ أَمۡوَ ٰ⁠لَهُمۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِی كُلِّ سُنۢبُلَةࣲ مِّا۟ئَةُ حَبَّةࣲۗ وَٱللَّهُ یُضَـٰعِفُ لِمَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ وَ ٰ⁠سِعٌ عَلِیمٌ)

Di situ ada kata-kata sab’a sanaabil. Masuk kategori apa yach ini tadi? Singular, plural, atau super plural?

Ya. Itu masuk super plural.

Sekarang kita beralih ke surah Yusuf.

(وَقَالَ ٱلۡمَلِكُ إِنِّیۤ أَرَىٰ سَبۡعَ بَقَرَ ٰ⁠تࣲ سِمَانࣲ یَأۡكُلُهُنَّ سَبۡعٌ عِجَافࣱ وَسَبۡعَ سُنۢبُلَـٰتٍ خُضۡرࣲ وَأُخَرَ یَابِسَـٰتࣲۖ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡمَلَأُ أَفۡتُونِی فِی رُءۡیَـٰیَ إِن كُنتُمۡ لِلرُّءۡیَا تَعۡبُرُونَ)

[Surat Yusuf 12:43]

Di sini kita ketemu dengan kata-kata sab’a sunbulaatin. Kalo yang ini masuk kategori apa?

Ya. Itu masuk plural.

Bentar ya. Ini asik kalo kita lakukan komparasi tiga bahasa. Diurutkan dari bentuk singular, plural, lalu super plural.

Sunbulah, sunbulaat, sanaabil.

Ear (of grain), ears, ears.

Tangkai, tangkai, tangkai.

Kembali ke Al-Baqarah 261 dan Yusuf 43. Apa yang beda?

Di Al-Baqarah, yang digunakan adalah super plural. Di surah Yusuf, plural biasa.

Ada hal yang lebih gila sebenarnya. Di Al-Baqarah, yang dibahas adalah sab’a sanaabil alias tujuh tangkai. Di Surah Yusuf, yang dibahas juga sab’a sunbulaat alias tujuh tangkai. Sama-sama tujuh jumlahnya. Kok bisa ya, yang di Al-Baqarah pakenya super plural? Mikiiiiiiir!

Kalo ada Cak Lontong, boleh juga tuh diajak mikir. Cak Lontong kan insinyur yach, matematikanya pasti oke lah. Sama-sama tujuh, harusnya sama-sama plural dong! Kecuali kalo yang satu tujuh ratus, baru boleh tuh yang 700 pake super plural. Kita bikin komparasi lagi yuk, versi tiga bahasa.

Sab’a sanaabil (Al-Baqarah), sab’a sunbulaat (Surah Yusuf).

Seven ears of grain (Al-Baqarah), seven ears of grain (Surah Yusuf).

Tujuh tangkai (Al-Baqarah), tujuh tangkai (Surah Yusuf).

Kembar identik, di versi bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kenapa di Al-Qur’an bisa beda? Lihat konteksnya.

Pelajari lagi Al-Baqarah 261.

Infaq itu seperti sebutir biji. Yang menumbuhkan tujuh tangkai. Tiap tangkainya ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Satu kali tujuh kali seratus sama dengan tujuh ratus. Itu perhitungan manusia. Kalkulasi Allah mungkin lebih banyak lagi dari itu. Terserah Allah Yang Maha Luas dan Maha Mengetahui.

Jadi konteks ayat ini bagaimana: plural yang biasa aja atau plural yang dahsyat? Ya, plural yang dahsyat. Makanya super plural digunakan di sini.

Sekarang kita ke Surah Yusuf 43: bagaimana konteksnya?

Sang Raja bermimpi. Tujuh tahun yang subur dan tujuh tahun kemarau panjang. Ini tentang rizki berkelimpahan atau masa-masa sulit yang penuh keterbatasan? Ya. Raja harus mastiin rakyatnya belajar hemat. Supaya siap menghadapi tahun-tahun yang sulit di depan. Jadi konteks ayat ini bagaimana: plural yang biasa aja atau plural yang dahsyat? Ya, plural yang biasa. Bahkan plural yang ngirit. Makanya cukup pake plural aja.

Hebatnya lagi, surah Yusuf turun di Mekah. Surah Al-Baqarah turun di Madinah. Jadi kedua ayat tadi jaraknya bertahun-tahun saat disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Terpisah bertahun-tahun. Saat Rasulullah mengucapkan sab’a sunbulaat (surah Yusuf), kata-kata itu diucapkan bertahun-tahun yang lalu. Saat Rasulullah mengucapkan sab’a sanaabil (surah Al-Baqarah), kata-kata itu diucapkan bertahun-tahun kemudian.

Pernah ga sih, kita membayangkan seorang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam mikir kayak gini,

“Seingatku, bertahun-tahun yang lalu, aku pernah ngomong sab’a sunbulaat. Sekarang, kayaknya lebih bagus kalo pake sab’a sanaabil.”

Emang manusia mampu berpikir seperti itu? Apakah manusia seteliti itu? Terpisah jarak dan waktu? Subhanallah.

Allah sudah menurunkan ayat-ayat-Nya. Kita cukup merenungkan satu kata saja. Cuma satu kata. Hanya satu kata. Tangkai.

Kisah Profesor Wang

Kuliah ekonomi makro di Amerika. Yang ngajar seorang profesor keturunan Cina. Dia dapat Ph.D. di New York City. Seorang profesor ekonomi makro. Cuma, Bahasa Inggris dia agak sulit dipahami. Bahasa Inggris yang tak biasa, dengan logat Cina yang kental.

Ada 300 mahasiswa yang ikut kuliahnya. Mahasiswa yang ikut kuliahnya, dapat apa? Dapat waktu tidur terindah dan terbaik sepanjang masa. Mahasiswanya ga ada yang paham. Meski sudah berjuang keras untuk mendengarkan. Mencatat. Mencoba lebih berkonsentrasi. Mantengin sang profesor. Duduk di kursi paling depan. Tetap ga ngaruh.

Sampai suatu hari. Profesor Wang bilang, “Besok ujian.”

Semua mahasiswa terbangun dari tidurnya. Tiga ratus pasang mata terbelalak. Ga percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Tepatnya, ga mau percaya. Maka mereka beramai-ramai protes ke badan pengawas. “Oom Profesor itu selama ini ngocehin apa, kami ga ada yang paham! Ga bisa mendadak ujian begini! Ga masuk akal ada ujian kalo mahasiswa ga ada yang paham!”

Tentu saja feedback mahasiswa ini akhirnya nyampe juga ke Profesor Wang. Tentu saja Profesor Wang sangat kesal mendengarnya. Tentu saja Profesor Wang menumpahkan kemarahannya ke semua isi kelas. Pas datang kuliah berikutnya, Profesor Wang menyiapkan presentasi. Pake PowerPoint. Diproyeksikan ke layar di depan kelas. Judul presentasinya terpampang dengan jelas. “Professor Wang’s List of Complaints Against English.

“Kalian mengeluhkan bahasa Inggris aku. Sekarang, aku juga mau komplain. Yang akan aku keluhkan bukan kalian. Tapi, bahasa Inggris,” Profesor Wang membuka kuliahnya hari itu.

Kata Profesor Wang, bahasa Inggris itu tidak masuk akal. Di Amerika ada ungkapan. “You park on a drive way. And you drive on a park way.

Bahasa Inggris itu tidak masuk akal.

Bentuk jamak dari mouse adalah mice. Tapi kenapa bentuk jamak dari house bukan hice?Bentuk jamak dari tooth adalah teeth. Tapi kenapa bentuk jamak dari booth bukan beeth?

Profesor Wang memaparkan daftar semua keluhannya. Tentang Bahasa Inggris. Semuanya. Kata-kata, pola, yang menurutnya aneh dan ga masuk akal. Dibahas satu per satu. Dia paparkan semua keluhannya tentang bahasa Inggris selama 45 menit. Hari itu, kuliah ekonomi makro benar-benar beda. Tak akan pernah terlupakan. Menjadi kelas terbaik di dunia pendidikan ekonomi makro yang pernah ada.

By the way. Ini udah? Begini doang? Buat lucu-lucuan aja? Ga ada hikmahnya? Memang begitu. Story telling dari Ustadz Nouman barusan memang buat ice breaker. Bahkan sebelum memulai cerita, Ustadz Nouman ngomong terus-terang kalo beliau memang mau ngasih cerita lucu. Pake garansi segala. Bahwa ceritanya memang lucu.
If you don’t laugh then you have to leave.

Biar audiens terhibur. Tapi kalo mau diambil hikmahnya, ada juga sih. Bahwa bahasa bukan perkara yang main-main. Karena ujian di kampus bisa ditunda gara-gara bahasa yang tak dipahami.

Hikmah untukku? Harus tertata kalo ngomong. Salah pilih kata urusannya bisa panjang.

Kalo ga ketemu hikmah apa-apa, gimana? Cuma senyam-senyum doang ngebayangin Profesor Wang? Ya gapapa juga. Tujuannya memang untuk itu. Melemaskan otot sejenak. Sebelum masuk ke contoh mukjizat Al-Qur’an berikutnya.

Unapparent Favors

Bisa melihat adalah nikmat. Kita mungkin baru menyadarinya saat kita sakit mata. Punya pekerjaan adalah nikmat. Kita mungkin baru menyadarinya saat kita ga punya pekerjaan. Bisa berjalan adalah nikmat. Kita mungkin baru menyadarinya jika kita ga punya kaki. Bisa makan lesehan pake tangan adalah nikmat. Kita mungkin baru menyadarinya jika kita ga punya jari-jari tangan. Bisa ngoceh lancar adalah nikmat. Kita mungkin baru menyadarinya jika kita ga punya lidah yang bisa digerakkan.

Mata, yang baru saja disebut-sebut, adalah satu contoh nikmat. Dari satu contoh nikmat ini saja, yuk kita eksplor, apa saja manfaatnya buat kita. Mata bikin wajah kita makin cantik dan indah. Mata bikin kita melihat dunia, lalu kita pun memahami dunia. Mata bikin kita selamat. Kita ga berani menyeberang jalan tanpa mata. Ini baru satu nikmat saja. Dan baru tiga hal saja yang kita eksplor. Kalo kita bedah terus, kita tak mampu lagi untuk menghitung manfaatnya.

Pantas saja Allah bilang,

وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُۚ
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَاۤۗ
إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَظَلُومࣱ كَفَّارࣱ
[Surah Ibrahim 14:34]

Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

Pertanyaan untuk diriku sendiri. Untuk satu nikmat mata ini saja, sudah melimpahkah rasa syukur-ku atas pemberian-Nya?

Ayat ini bicara tentang satu nikmat saja. Bentuknya tunggal. Bahasa Inggris untuk nikmat adalah favor. Bahasa Arab untuk nikmat adalah ni’mat atau ni’mah. Itu bentuk tunggalnya.

Loh, memang ada bentuk jamak-nya? Kalo bahasa Indonesia, ya tetap aja ‘nikmat’. Nikmat mata, berarti satu nikmat. Di bagian awal tulisan ini, ada lima contoh nikmat. Kita menyebutnya tetap lima nikmat. Bukan lima nikmat-nikmat.

Kalo Bahasa Inggris, bentuk jamak dari nikmat adalah favors. Satu nikmat, berarti one favor. Lima nikmat, berarti five favors.

Kalo Bahasa Arab, bentuk jamak dari ni’mah adalah an’um. Dan an’um ini keren. Karena, Al-Qur’an cuma sekali menyebutkannya. Di surah An-Nahl 16:121.

شَاكِرࣰا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ

Dia (Nabi Ibrahim ‘alayhis salam) mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.

Nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim itu, diantaranya:

  • Menjadi pemimpin seluruh manusia (Al-Baqarah 124).
  • Maqam beliau dijadikan tempat shalat (Al-Baqarah 125).
  • Diperlihatkan cara-Nya menghidupkan orang mati (Al-Baqarah 260).
  • Keturunannya, (Ishaq dan Yakub atau Israil) diangkat menjadi Nabi (Maryam 49).
  • Diselamatkan dari api (Al-Anbiya’ 69).
  • Diabadikan pujian untuk beliau di kalangan orang-orang yang datang kemudian (Ash-Shaffat 108).

Kita semua adalah saksi. Karena kita termasuk ‘orang-orang yang datang kemudian’ itu. Kita membaca sholawat untuk Ibrahim ‘alayhis salam dan keluarganya, juga mendoakan keberkahan buat mereka, di tiap tahiyat akhir kita.

Hebat ya, Nabi Ibrahim. Ayat tadi adalah sebuah testimoni, dari Allah loh ini, atas rasa syukur Nabi Ibrahim yang tak bertepi.

Ada favor, ada favors. Ada ni’mah, ada an’um. Ada nikmat yang singular, ada nikmat yang plural. Lalu, adakah nikmat yang super plural?

Ada. Di surah Luqman 31:20.

أَلَمۡ تَرَوۡا۟ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَمَا فِی ٱلۡأَرۡضِ وَأَسۡبَغَ عَلَیۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَـٰهِرَةࣰ وَبَاطِنَةࣰۗ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یُجَـٰدِلُ فِی ٱللَّهِ بِغَیۡرِ عِلۡمࣲ وَلَا هُدࣰى وَلَا كِتَـٰبࣲ مُّنِیرࣲ

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.

Di sini kita ketemu dengan kata ni’am. Bentuk super plural dari nikmat. Kata ni’am ini juga keren karena hanya sekali digunakan di Qur’an.

Allah menyempurnakan ni’am-Nya untuk kita. Nikmat yang dahsyat. Yang bisa kita lihat. Dan yang tak bisa kita lihat. Yang apparent dan yang unapparent. Zhaahiratan wa baathinatan.

Kita ga bisa selalu paham kenapa peristiwa demi peristiwa terjadi. Termasuk nikmat apa yang Allah sembunyikan (baca: berikan) kepada kita di balik peristiwa-peristiwa tadi. Nikmat yang tunggal berupa mata aja, misalnya, rasa syukur kita masih jadi tanda tanya.
Apalagi nikmat yang dua dimensi, lahir dan batin, seperti ini. Nikmat yang dahsyat yang Allah lukiskan dengan kata ni’am. Sebuah bentuk super plural dari nikmat.

Sekarang, kita urai sisi mukjizat-nya. Ayat yang menggunakan kata an’um, dan ayat yang menggunakan kata ni’am tadi, bukan ayat yang berdekatan turunnya. Berselang bertahun-tahun lamanya. Bagaimana mungkin Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam bisa menjaga konsistensi ketelitian kata an’um vs. ni’am ini? Mungkinkah kesempurnaan bahasa lisan ini berasal dari Rasulullah sendiri?

#nakindonesia

#matrikulasinakid

Ditulis oleh Heru Wibowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s