Makin Berisi, Makin Rendah Hati


Oleh: Heru Wibowo

Story Resume of Intellectual Humility

***

Pilih mana: dapat nasihat yang panjang lebar dan lama, tak satupun mengena, atau nasihat yang singkat tapi melekat erat?

Nasihat ini aslinya singkat. Ditujukan untuk anak-anak muda yang sangat cepat menyerap ilmu. Anak-anak muda yang punya semangat yang tinggi untuk berkontribusi. Menyumbangkan sesuatu untuk masyarakat.

Nasihat ini, intinya, adalah supaya anak-anak muda itu tetap rendah hati. Jangan sampai merasa ilmunya tinggi. Sebentuk kerendahan hati yang berkaitan dengan kecendekiawanan mereka (intellectual humility).

Mengapa anak-anak muda itu perlu untuk tetap rendah hati? Karena mereka perlu menyadari bahwa ‘di atas langit masih ada langit’. Bahwa tidak ada orang yang paling pintar di dunia ini.

Al-Qur’an juga bilang begitu. Jadi, nasihat ini adalah nasihat qur’ani. Allah bilang, fawqo kulli dzii ‘ilmin ‘aliim. (QS Yusuf 12:76)

Fawqo itu over atau ‘di atas’. Kulli adalah every atau ‘setiap’. Dzi artinya possessor atau ‘pemilik’. ‘Ilmin adalah knowledge atau pengetahuan. ‘Aliim artinya the All-Knower atau ‘yang lebih mengetahui’.

Jadi, jangan kita merasa bahwa diri kita lah yang paling tahu. Karena di atas seseorang yang punya pengetahuan, ada seseorang lagi yang punya pengetahuan lebih banyak lagi. Dan orang yang lebih mengetahui ini, juga masih ada orang lain lagi yang pengetahuannya lebih banyak. Yang ilmunya lebih tinggi. Terus seperti itu. Dan tentunya, di atas semuanya ada yang Maha Mengetahui: Allah subhanahu wa ta’ala.

Dapat nasihat itu sebenarnya enak loh. Karena ada orang yang sudah melakukan napak tilas di jalan yang akan kita lalui. Orang itu tahu lubangnya di mana, di kilometer berapa. Bahkan mungkin dia pernah terperosok masuk lubang. Dan dia tidak ingin kita terperosok di lubang yang sama. Nasihat seperti ini berasal dari kemuliaan hati.

***

Ustadz Nouman pernah terperosok ke lubang itu. Dulu, saat masih jadi ‘anak muda’. Saat bersama teman-temannya rajin ikut kajian. Mencatat poin-poin yang diajarkan. Sehingga merasa tahu (baca: paling tahu) soal agama. Mulai ‘mendekat ke lubang’ saat mulai berdebat dengan yang lain. Mulai mengomentari orang lain.

“Dia ga paham sebenarnya.”

“Dia ga tahu ayatnya.”

“Dia salah ayat.”

“Dia ga punya dalil untuk membuktikannya.”

“Aku punya ayat-ayat yang bisa membuktikannya. Tap dia ga tahu.”

“Ada kok ayat yang mengatur soal itu. Tapi dia ga paham.”

“Dia jelasinnya ga enak. Biar aku aja yang jelasin.”

“Hadeeeuuuhhh. Ini yang ceramah sama aja sama yang kemarin. Tunggu aja ntar di sesi tanya jawab.”

Kita merasa bahwa Google, Wikipedia, Encarta, semuanya sudah pindah ke kepala kita. Kita gunakan semua referensi itu untuk menghujani mereka. Padahal mereka juga sedang kehujanan memasuki bulan Januari ini. Bulan yang akrab dengan plesetan singkatan ‘hujan sehari-hari’.

Kita memperlakukan mereka seperti musuh. Forum halaqah berubah menjadi ring tinju. Kita tonjok musuh kita itu dengan bukti-bukti di kepala. Rasanya puas kalo mereka tersungkur terkapar. Dan kita menang TKO. Sambil menunggu seseorang yang mau mengambil peran bak wasit tinju yang mengangkat kedua tangan kita tinggi-tinggi.

Jadi, buat apa ya, kita belajar agama? Biar bisa mengalahkan yang lain saat berdebat Jadi, buat apa ya, kita menambah pengetahuan? Biar kita berubah menjadi monster yang angkuh dan sombong?

Sayang 1001 kali sayang. Sayang 2020 kali sayang. Jika pengetahuan yang kita dapat tidak membuat kita makin rendah hati. Jika pengetahuan yang kita dapat justru membuat benih kerendah-hatian di dalam diri kita hilang sirna.

Siapa sih yang sedang kita ikuti? Siapa sih yang sedang kita tiru? Orang yang tak beriman? Oh, pantas kalo begitu. Orang yang tak beriman itu, dia belajar, dia kuliah, dia dapat gelar, dan itu lah yang dia kejar. Supaya ada yang ditambahkan bersama namanya. Titel dijadikannya berhala.

“Aku adalah Doktor Fulan bin Fulan.”

“Aku adalah Fulan bin Fulan, Ph.D.”

“Aku adalah Profesor Fulan bin Fulan.”

Ketika dia dapat undangan, dan namanya disebutkan hanya nama, tanpa imbuhan titel atau gelar kehormatan, dia kembalikan undangan itu. “Tolong diperhatikan yach. Nulis nama itu yang lengkap. Profesor Doktor Fulan bin Fulan!”

Ini masih lumayan sih, masih pake kata ‘tolong’. Tapi ga bisa lepas dari gelarnya itu loh. Berasa ingin nunjukin banget bahwa ilmunya lebih banyak dari yang lain.

Rasulullah tidak pernah minta dipanggil Al-Amin. Orang-orang yang memberi gelar itu. Dengan senang hati, dengan sukacita, tanpa dipaksa.

Pengetahuan agama seharusnya membuat kita rendah hati. Atau, makin rendah hati. Makin banyak kita tahu, makin kita rendah hati.

Pergantian tahun seperti ini adalah saat yang tepat untuk kita melakukan audit diri. Apakah kita termasuk orang yang, ketika makin ilmu bertambah, jadi makin suka menghakimi orang? Makin suka memvonis bahwa orang lain menyimpang? Bahwa orang lain salah? Bahwa orang lain keluar dari Islam?

Pergantian tahun seperti ini adalah saat yang tepat untuk kita bercermin. Melihat ke dalam diri kita sendiri. Seberapa tinggi sih ilmu kita dibandingkan mereka? Kita punya hak ga sih, kasih komen negatif ke mereka?

Ini bukan hanya tentang teman-teman kita yang kita buat terkapar di sudut ring tinju karena dahsyatnya pukulan berupa bukti-bukti argumentatif yang keluar dari kepala kita.

Ini bukan hanya tentang mereka. Tapi juga tentang imam di komunitas kita. Tentang para sesepuh tetangga kita. Tentang orangtua kita. Tentang om, tante, pakde, bude, di keluarga kita.

Jika kita tidak setuju dengan apa yang mereka bilang atau katakan. Jika kita tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan. Maka yang pertama-tama harus kita sadari adalah bahwa kita tidak berada dalam posisi untuk mengeluarkan fatwa tentang mereka. Kita tidak punya kualifikasi untuk itu.

***

Masih ingat komentar seorang ustadz influencer tanah air tentang Ustadz Nouman saat IDW November lalu? Beliau menganggap bahwa Ustadz Nouman itu ilmu Al-Qur’an dan ilmu Bahasa Arab-nya tingkat tinggi. Tapi, pada saat yang sama, beliau melihat kehebatan Ustadz Nouman justru terletak pada keberhasilan Ustadz Nouman untuk memposisikan diri sebagai pemula.

Di nasihat yang aslinya singkat ini, Ustadz Nouman juga mengemukakan hal yang sama. Bahwa beliau adalah pelajar pemula. Pake sumpah segala. Wallaahi.

Kerendah-hatian Ustadz Nouman adalah kerendah-hatian yang asli. Bukan KW satu, KW dua, atau KW yang kesekian kali. Bukan artificial humility. Kita semua sudah tahu perjuangan Ustadz Nouman. Kerja keras dan kerja cerdas beliau. Menelaah 28 atau 29 tafsir hanya untuk memahami satu ayat Al-Qur’an. Ayat Al-Qur’an ya, bukan hadits.

Makanya ketika ada diskusi tentang hadits, Ustadz Nouman tutup mulut. Karena tidak punya kualifikasi untuk itu.

Ilmu hadits adalah ilmu yang melibatkan banyak ulama. Sebelum menarik kesimpulan dari sebuah hadits Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam. Banyak hal yang harus diperhatikan. Mulai dari masalah isnad, masalah konteks, masalah bagaimana hadits itu dipahami dari konsensus para sahabat, masalah bagaimana hadits itu dipahami oleh para fuqaha dari agama ini. Jadi memang ada banyak hal yang perlu diperhatikan di seputar hadits Nabi.

Jika kita hanya mengambil sebuah kitab Bukhari, lalu membaca terjemahan hadits-nya, apalagi kalo bacanya salah dalam pemenggalan kata, lalu berbekal itu saja sudah berani berargumentasi dengan seseorang, yang seperti ini tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Belum lagi, kita bahkan tidak paham bahasanya. Kita cuma baca terjemahannya. Berani-beraninya kita!

Masuk ring tinju, harusnya kita yang jadi sasaran samsak pihak lawan. Boleh jadi, mereka itu ilmunya justru sangat tinggi. Saking tingginya, sehingga mereka memilih untuk tidak meladeni kita. Mereka udah petinju kelas berat. Kita masih di kelas layang ringan. Sekali pukul, kita melayang. Untungnya mereka menahan diri. Kitanya aja yang tak tahu malu.

Kita gempur mereka dengan serangan kelas teri. Mereka cuma tersenyum, itu pun mungkin dalam hati. Karena bahkan untuk menjadi murid mereka pun, kita belum tentu diterima.

Seperti halnya Imam Syafi’i rahimahullah. Yang suatu hari didatangi seorang murid. Ingin belajar hadits. Imam Syafi’i itu ilmunya tinggi. Beliau paham tentang muridnya. Juga tentang kapasitasnya.

Makanya kita jadi maklum saat Imam Syafi’i menyampaikan petuahnya, “Innama akhsya ‘alayya thaalibal ‘ilm. Alladzii lam yata’allam min nahwa.”

Yang paling menakutkan buat Imam Syafi’i adalah pelajar, penimba ilmu, yang bahkan tidak belajar ilmu kalimat (syntax). Tidak punya pemahaman yang dalam tentang tata bahasa (grammar).

Imam Syafi’i itu ilmunya tinggi. Pengorbanannya juga tinggi. Sepertiga hartanya dihabiskan untuk belajar bahasa Arab. Lalu dua pertiga hartanya dihabiskan untuk belajar hadits. Sebuah keteladanan yang luar biasa.

Rasanya kita tak sanggup meniru beliau. Sepertiga aja mikir, apalagi ini akhirnya tiga pertiga loh.

Oke, katakanlah di level kita, sepuluh persen aja deh, misalnya. Sepersepuluh dari harta kita, untuk menuntut ilmu agama, ini misalnya ya. Nah apakah komposisinya harus seperti itu? Sepertiga dari 10% untuk belajar bahasa Arab, dan dua pertiga dari 10% untuk belajar hadits?

Bentar. Sabar.

Saat itu mungkin belum ada correction pen atau correction tape tapi Imam Syafi’i meralat pendapatnya, “Andai saja kuhabiskan dua pertiga yang untuk belajar hadits itu, bahkan juga untuk belajar bahasa Arab.”

Jadi, tiga pertiga dari 10% untuk belajar bahasa Arab. Itu rekomendasi Imam Syafi’i. Rekomendasi yang lahir dari begitu besarnya perhatian beliau untuk mendalami pengetahuan bahasa Arab. Bahasa, yang luar biasa kaya itu.

Sampai di sini, seharusnya kita sadar betul, ilmu hadits itu seperti apa.

So, hanya karena sudah mengambil dua kursus tentang beberapa kitab dalam bahasa Arab, dan menghadiri halaqah mingguan tentang tata bahasa, kita tidak punya kualifikasi untuk mengomentari sebuah hadits.

That’s not our cup of tea. Itu adalah pekerjaan para Muhadditsuun dan para ulama. Mereka lah yang paling berhak untuk kasih komen.

Sampai di sini, seharusnya kita sadar betul, belajar agama itu seperti apa.

So, jika hanya dengan membaca sebuah artikel, sebuah paper, dan beberapa kutipan, yang nyaris tidak kita pahami, bahkan kita tidak mengerti makna istilah yang ada, lalu tetiba saja kita membombardir orang lain, itu sungguh menggelikan.

Menggelikan sekaligus memalukan, jika kita menyadarinya.

Ada apa sih dengan kita ini, sebenarnya? Begitu kok ngaku-ngaku umat Muhammad shallallaahu ‘alayhi wasallam! Pribadi yang lembut dan halus tutur katanya. Merayakan Maulid Nabi begitu berapi-api. Urusan meneladani akhlak, masuk ke lorong yang sepi.

Jadi, ngomelin orang, mengomentari hadits tanpa ‘jam terbang’ yang tinggi, itu merupakan perbuatan yang merugikan (disservice) sunnah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam.

Orangtua kita sering menasihati kita dengan yang satu ini, “Jaga diri baik-baik, Nak.”

Sebuah nasihat relevan sepanjang masa. Menjaga diri. Menjaga pikiran. Menjaga ucapan. Menjaga tindakan. Terlebih lagi dalam konteks ini adalah menjaga ucapan. Menertibkan kata-kata yang keluar dari lisan.

Termasuk berhati-hati untuk bicara atas nama Beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Demi Allah, kita ini ilmunya sedikit. Sangat sedikit. Kita pikir kita tahu, padahal sebenarnya tidak. Tidak pantas kita mengumbar komen yang menjatuhkan seseorang.

***

Dulu waktu kelas 3 SMA, setidaknya saya punya tiga disiplin harian. Berusaha punya catatan yang selengkap-lengkapnya, menyalin ulang catatan ke dalam bentuk yang rapi dan enak untuk dipelajari kembali, dan mempelajari materi yang akan diajarkan esok hari.

Suatu hari guru matematika saya menjelaskan tentang bentuk parabola. Rumusnya, dan asal muasal rumus tersebut. Tapi beliau membuat kesalahan. Sehingga akhirnya bingung sendiri. Berhenti menjelaskan. Berdiri menatap tulisan beliau sendiri. Membelakangi murid-muridnya yang ikut diam terpaku.

Disiplin harian yang ketiga membuat saya tahu di baris ke berapa beliau membuat kesalahan. Tapi tentu saja saya tidak berani bilang, “Bapak salahnya di situ!” Alih-alih, saya ‘bertanya’ tentang baris kedua. Seolah-olah saya ga paham. Tapi dari situ beliau akhirnya ‘sadar’. Dan akhirnya pelajaran kembali berjalan lancar dan normal.

Kita harus rendah hati kepada mereka yang berilmu. Fas’aluu ahladz dzikr. Kita harus bertanya kepada mereka yang berilmu. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah (people of rememberance, people of knowledge). “In kuntum ta’lamuun.” Apalagi jika kita sendiri tidak tahu.

Oh ya, rendah hati itu tidak berarti kita berhenti belajar, ya.

“Biar lebih mantap, biarkan ilmu saya tetap rendah aja, biar lebih mudah juga untuk rendah hati.”

Stupid. Hehehe. Maaf. Ga boleh gitu. Ga boleh ngata-ngatain orang bodoh. Tapi ga boleh juga berhenti belajar dengan dalih supaya tetap rendah hati. Termasuk mempelajari kutipan Imam Syafi’i selanjutnya. Karena kutipan yang tadi belum selesai.

“Alladzii lam yata’allamin nahwa an yadkhula fii qowlihi shallallahu ‘alayhi wasallam an kadziba ‘alayya muta’ammidan.”

Imam Syafi’i takut dengan pelajar yang tidak mempelajari bahasa Arab secara mendalam. Dan ini, belajar bahasa Arab ini, hanya satu dari banyak persyaratan untuk mempelajari hadits Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Luar biasa ya, Bahasa Arab. Imam Syafi’i bahkan menyebutkan bahasa Arab secara khusus. Jika sang murid Imam Syafi’i tadi tidak memenuhi syarat ini, maka Imam Syafi’i takut akan mengajarinya hadits, di mana dia akan jadi korban peringatan Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam, ketika beliau bersabda, “Siapa yang dengan sengaja berdusta tentang aku, dia telah memastikan sebuah tempat bagi dirinya sendiri, di neraka.”

Imam Syafi’i takut mengajarinya hadits, karena, orang Arab ini, yang tahu bahasa Arab, dia sebenarnya hanya merasa tahu bahasa Arab. Imam Syafi’i bilang, dia tidak tahu bahasa Arab. Tidak cukup tahu. Jadi Imam Syafi’i tidak bisa mengajarinya hadits. Subhanalllah.

Saya jadi membayangkan diri saya sendiri. Baru mau jadi murid saja, saya belum tentu diterima. Bukan ‘lulus tanpa tes’, tapi ‘tidak diterima tanpa tes’.

Anak-anak muda jaman now memang perlu mendengarkan nasihat Ustdaz Nouman yang aslinya singkat ini.

Sarapan mereka ada dua. Yang tak pasti dan yang pasti. Yang tak pasti bisa nasi goreng, bubur ayam, roti bakar, sop jagung, atau mie instan. Atau yang lain. Namanya juga tak pasti. Emang ada sarapan yang pasti? Ada. Medsos dan Google.

Melalui Google, anak-anak muda ini bisa mempelajari sebuah hadits dalam Bahasa Inggris, meskipun sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa tentangnya. Tapi yang dikhawatirkan adalah, barusan googling lima sampai sepuluh menit, mereka sudah merasa layak untuk bicara atas nama Sunnah.

Tindakan itu adalah tindakan yang arogan. Tindakan itu bukanlah tindakan atas nama agama. Tindakan itu dilakukan bukan demi agama.

Anak-anak muda jaman now memang perlu mendengarkan nasihat Ustadz Nouman yang aslinya singkat ini. Supaya mereka tidak memperdayai diri mereka sendiri. Karena mereka masih muda. Dan dunia ini hitam putih bagi mereka. Segalanya sangat jelas bagi mereka.

Anak-anak muda jaman now memang perlu mendengarkan nasihat Ustdaz Nouman yang aslinya singkat ini. Sehingga mereka tidak masuk kubangan. Sehingga mereka tidak merasa heran. Sehingga mereka tidak gampang terbawa perasaan. Kenapa sampai ada orang yang tidak setuju dengan mereka. Padahal mereka punya semua ilmunya.

Anak-anak muda jaman now memang perlu mendengarkan nasihat Ustadz Nouman yang aslinya singkat ini. Sekaligus juga perlu didoakan. Semoga, dengan umur mereka yang kian bertambah, kedewasaan juga mengikuti. Jangan sampai menjadi tua, tapi tak kunjung dewasa.

Yang bagus adalah menjadi dewasa, dan menyadari betapa bodohnya mereka dulu saat masih muda. Saat berkali-kali masuk kubangan. Saat tak bisa berhenti untuk memancing perdebatan.

Anak-anak muda jaman now memang perlu mendengarkan nasihat Ustadz Nouman yang aslinya singkat ini. Supaya mereka tidak terlanjur membentur tembok. Supaya mereka tidak terlambat untuk menyadari, setelah begitu banyak melakukan kesalahan kepada orang lain dan diri sendiri. Supaya mereka menyadari hal itu sekarang.

Supaya mereka tidak ikut-ikutan terjatuh ke dalam perangkap yang pernah menjebak orang lain, yang telah mengalami hal ini. Dan supaya mereka terhindar dari belajar melalui pengalaman yang tidak mengenakkan. Termasuk pengalaman dari Ustadz Nouman sendiri.

Ustadz Nouman dulu juga seperti itu. Sering menganggap bahwa beliau tahu tentang sesuatu. Namun ketika beliau mulai belajar dari para ulama, beliau menyadari, “Aduh, saya tidak paham apa yang sedang saya bicarakan.”

Kalo menyangkut sesuatu yang beliau tidak tahu, beliau memilih diam. Orang-orang bertanya tentang fiqh atau hadits. Beliau diam. Beliau tidak tahu. Beliau merasa bahwa beliau tidak layak membahas masalah itu. Beliau merasa bahwa beliau tidak punya kualifikasi untuk membahasnya.

Bahkan, jika mereka bertanya tentang Qur’an, beliau jawab, “Saya carikan dulu, saya pelajari dulu apa kata ulama.”

Beliau merasa punya sedikit kemampuan untuk meneliti Qur’an. Namun jika yang dibicarakan sudah topik yang lain, beliau tidak bisa buka mulut. Termasuk masalah teologi.

Kita bisa mempelajari teologi kepada seorang ulama. Tapi jika kita berpikir bahwa kita cukup layak untuk mendebat seseorang tentang teologi, kita harus pikirkan 2020 kali lagi!

Setiap ilmu dalam agama ini punya persyaratan yang belum kita penuhi.

***

Jika kita serius mau belajar, kita harus serius mempelajarinya. Jika kita hanya belajar untuk berdebat dengan orang lain, kita harus melakukan introspeksi diri! Karena mungkin kita bisa menyembunyikannya dari orang lain. Tapi kita tidak bisa menyembunyikan arogansi kita dari Allah.

Seseorang berjualan miras di toko mirasnya. Yang dia lakukan adalah jelas. Sesuatu yang haram. Tindakan haram ini terbuka dan nyata. Dan kita tidak setuju dengan itu.

Namun jika kita punya arogansi di dalam hati. Meski orang tak melihatnya. Meski tak terbuka dan nyata. Tapi Allah takkan menerimanya meski arogansi itu sekecil mikroba.

Kita bisa saja berkata kepada si penjual miras, “Kenapa sih kamu jualan miras? Gitu kok ngaku muslim!?”

Sebaiknya lihat juga ke dalam diri kita sendiri. Apakah kita punya masalah ego? Apakah ego itu membuat kita arogan secara intelektual? Buat apa kita belajar agama? Biar bisa menentang, mendebat, dan merendahkan orang lain?

Pergantian tahun seperti ini adalah saat yang tepat untuk kita melakukan introspeksi diri. Bersungguh-sungguh mengawasi diri kita sendiri!

Anak-anak muda jaman now memang perlu mendengarkan nasihat Ustadz Nouman yang aslinya singkat ini. Supaya mereka tidak mengoceh tentang ulama lain.

Jika kita tidak setuju tentang apa yang para ulama itu katakan, lakukan kebiasaan dari orang-orang yang berilmu. Biasanya, orang-orang yang berilmu, berdoa untuk mereka. Setelah itu, barulah mereka menyatakan ketidaksetujuannya. Dengan penuh rasa hormat dan menjunjung martabat. Itulah yang mereka lakukan.

Kita tidak tahu posisi para ulama tersebut di mata Allah. Pengetahuan kita tentang ranking ulama di sisi Allah adalah nol besar. Termasuk para ulama yang telah wafat. Yang kadang suka kita bicarakan. Astaghfirullahal’azhim.

Allah tahu kedudukan para ulama itu di sisi-Nya. Yang mungkin jauh di atas kita. Mereka mungkin rankingnya puluhan. Sementara kita mungkin puluhan ribu. Tapi kalo kita ngomongin mereka, para ulama, ranking kita bisa turun ke puluhan juta.

Lupakan dosa mereka, lupakan kesalahan mereka. Bisa jadi dosa dan kesalahan mereka sudah diampuni Allah semuanya. Berani-beraninya kita bicara tentang dosa dan kesalahan para ulama!

Para ulama adalah hamba-hamba Allah. Allah menginginkan kita supaya kita rendah hati kepada orang beriman yang lainnya.

***

Ada sebuah ungkapan: practice makes perfect. Seorang kolega asal Australia yang saat itu ditugaskan di Cilacap, punya sedikit usulan. Ungkapannya dia revisi menjadi: perfect practice makes perfect. Kita harus terus belajar. Belajar hal yang tepat.

Ilmu dunia, iya. Ilmu agama, apalagi.

Kita juga harus belajar tentang sikap setelah belajar. Jangan sampai belajar membuat kita merasa paling pintar. Jangan sampai belajar membuat kita merasa paling benar.

Kita bahkan harus belajar dari yang kita ‘makan’ setiap hari. Padi. Makin berisi, makin merunduk.

#nakindonesia

#matrikulasinakid

Ditulis oleh Heru Wibowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s