The Disbelievers (Part 2)


Masih tentang Buddhism.

Bayangkan Anda bisa mewawancarai setan. Anda ingin tahu komen setan terhadap orang yang betah berjam-jam di depan patung.

“Ya saya biarkan. Ngapain harus diusik. Sana. Konsentrasi aja terus. Sepuasnya. Berjam-jam, berhari-hari kek. Seterah. Aku ga bakal ganggu dia.”

Mungkin maksudnya adalah ‘terserah’. Tapi Anda enggan mengoreksi kata-kata setan yang tidak standar. ‘Seterah’ itu tidak ada di KBBI.

Setan kan memang ngaco. Suka ganggu orang. Terutama yang ingin dekat sama Allah. Makanya dia datang mengganggu saat kita sholat. Saat kita menyembah Allah. Kalo yang disembah bukan Allah, setan ya cuek aja.

Ketika kita mendekati Allah, kita jadi musuh setan. Setan ga rela, “Aku pasti ganggu kamu!”

Jadi fakta bahwa kita sulit berkonsentrasi saat sholat adalah indikasi bahwa kita sedang melakukan hal yang benar. Sedang menyembah Allah. Bukan yang lain.

Kafir Quraisy juga mirip setan. Terus menggoda Rasulullah, “Pasti ada yang baik lah ya dari sisi kami. So kamu boleh kok ambil yang baik itu untuk peribadatan kamu.”

Fa anzalallaahu ‘azza wa jall, qul yaa ayyuhal kaafiruun.

Maka Allah menurunkan ayat Qul yaa ayyuhal kaafiruun.
Yang dihadapi Rasulullah saw adalah the most noble, respected people. Mereka adalah leaders, elders of Quraish. 

Dan mereka sekarang mendengar ucapan dengan bahasa yang merendahkan (condescending): kafirun.

Sebuah kata yang sangat ofensif.

Mereka tidak pernah menyebut diri mereka sendiri kafir, denier, ingrate, disbeliever. Ga pernah. Malah mereka menyebut diri mereka champions of faith. Jawara di bidang keimanan.

Dipanggil kafir, itu sama saja artinya Allah menyebut mereka have no faith. Ga punya iman sama sekali.
Padahal mereka memposisikan diri, dan selalu memberi impresi bahwa mereka adalah the ambassador of faith.
Mereka punya iman. Iman kepada ‘tuhan’. Makanya mereka adalah the custodians of the religious house. Pemelihara rumah peribadatan.

Panggilan ‘kafirun’ benar-benar tajam (sharp). Bikin mereka seperti disayat-sayat. Yang kena silet bukan tangan, tapi harga diri. Benar-benar unapologetic. Benar-benar politically incorrect. Benar-benar sebuah criticism yang dideklarasikan secara terbuka!

“Kamu submissive ga usah ke semua deh, Muhammad. Ga usah ke semua idols. Ke some idols aja. Ga usah banyak-banyak. Ga usah semuanya.”

“Atau cukup tunjukkan rasa hormat kamu kepada satu atau dua idols aja deh. Kamu cukup respek sama satu atau dua idols itu. Maka kami akan terima kamu sebagai Nabi.”

Lalu Jibril datang bersama surah ini.
Sebagai respon atas mereka yang berharap bisa bernegosiasi.
Rasulullah pun membaca keseluruhan surah Al-Kafirun.

Dan kita semua tahu di surah ini ada pengulangan. Kalimat yang diulang dua kali. Makin mencekik leher mereka. Udah jatuh, ketimpa escalator. Udah dipanggil kafir, diulang-ulang lagi sampai dua kali.

Membuat mereka benar-benar putus asa.

Di benak mereka, apa yang mereka pikirkan tentang Rasulullah? “Orang ini adalah domba yang tersesat.”
Beda jauh memang ama kita.
Kita sangat menghormati Rasulullah.
Kita disiplin mengucapkan shallallahu ‘alayhi wasallam.

Mereka? Sama sekali tidak.

Mereka pun mulai menyiksa Rasulullah. Dan para sahabat beliau saw.

Al-Qurtubi berkomentar tentang alif lam di qulyaa ayyuhal kaafiruun. Alif lam di al-kaafiruun adalah untuk specific group of disbelievers. Bukan all disbelievers.

Alasannya, Allah secara jelas mengatakan di surah ini, “Tell them, I’m not gonna be converting, and you’re not gonna be converting.” Tidak mungkin al-kafirun itu berubah jadi muslim. Mereka akan mati sebagai disbelievers.

Allah tahu bahwa orang-orang ini adalah orang kafir yang keras kepala (stubborn disbelievers), mereka akan mati sebagai disbelievers, dan oleh karenanya Allah memakai istilah itu: al-kafirun.

Makanya istilah al-kafirun tidak bisa digunakan sebagai label untuk semua orang. Selain mereka.
Definisi al-kafirun mempersyaratkan kepastian bahwa orangnya tidak akan menyembah apa yang kita sembah. Kafir permanen. Pasti, saat ini dan sampai mati. Kafir abadi.

Ada orang-orang yang awalnya tidak beriman, lalu hijrah dan menjadi beriman. Saat mereka belum beriman, kita tidak boleh menyebutnya kafir, atau al-kafirun. Karena akan ada kontradiksi dengan isi surah ini.

Surah ini menegaskan bahwa yang namanya al-kafirun itu tidak akan pernah berubah menjadi orang yang beriman. Tidak akan pernah menerima Islam sebagai agamanya. Tidak akan pernah.

Tambahan lagi, kafir atau al-kafirun, yang boleh bilang begitu, yang boleh memberi cap kafir, yang boleh memberi label al-kafirun, hanya Allah. Manusia ga boleh mengkafirkan manusia yang lain.

Kenapa?

Karena Allah tahu apa yang tersimpan di dalam hati.
Karena Allah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Sedangkan manusia tidak.

Sehingga manusia tidak boleh bilang ke yang sekarang belum beriman, “Kamu tidak akan pernah menjadi muslim.”

Manusia tidak bisa begitu.
Tapi Allah bisa.
Allah bisa memberi jaminan seperti itu.

Kita? Ga bisa.

Kemahabisaan Allah ini berlanjut di surah setelahnya. Yaitu di surah Lahab.
Sayashlaa naaron dzaata lahab (QS Al-Masad 111:3).

Allah bisa menjamin bahwa Abu Lahab pasti masuk neraka.

Saat Abu Lahab masih hidup?
Ya. Saat Abu Lahab masih hidup.
Karena Allah tahu, Abu Lahab tidak akan pernah berubah.
Allah sudah tahu.
Allah sudah menjatuhkan putusannya.

Soal nasib Abu Lahab.

Ustadz Nouman pernah berdiskusi soal konsep al-kafirun ini.
Dan ‘asiknya’, ada orang-orang yang tidak bisa menerima konsep ini.
Sampai-sampai ada yang bilang bahwa Ustadz Nouman adalah kafir jika mempertahankan konsep ini.

That’s cool.
🙂

Tapi, ya, itulah hasil studi Ustadz Nouman tentang kufr.
Siapapun boleh tidak sependapat dengan Ustadz Nouman tentang konsep ini.
Konsep tentang kufr termasuk konsep yang halus (subtle) di Alquran.

Kenapa sampai ada reaksi yang ekstrim soal kufr?

Karena, di tataran muslim pada umumnya, secara rata-rata, segala sesuatunya seperti ingin dinyatakan secara hitam-putih.

Istilah kafir di Alquran tidak sama dengan istilah non muslim yang kita gunakan akhir-akhir ini.

Siapapun yang non muslim, temanmu yang Yahudi, temanmu yang Kristen, temanmu yang agnost, mereka kita anggap apa? Ya, non muslim. Nah, itu oke.
Tapi orang sering menganggap bahwa istilah Arabnya adalah kafir.
Itu yang tidak oke.

Istilah Alquran sepertinya tidak seperti itu.
Apakah benar, opsinya hanya dua: Islam dan kufr?

Tidak.

Opsinya bukan cuma dua.
Bahwa agama yang diridhai Allah adalah Islam, ya. No doubt about it.

Di luar Islam, ada beberapa kemungkinan, ada rentang. Ada kisaran. Jadi, di luar Islam, masih ada beberapa opsi.

Opsi yang terburuk adalah kufr.
Tidak ada yang lebih buruk dari kafir.

Ya. Di Alquran, tidak ada yang lebih buruk dari kafir.

Seorang kafir adalah seseorang yang, ketika kebenaran datang kepadanya, dia mengubur kebenaran itu, dia tidak mau menerima kebenaran itu, dia menolak kebenaran itu.

Karena kesombongannya. Karena kebanggaannya akan sesuatu.
Karena apa lagi?
Karena dia terlalu banyak uang.
Atau karena pertimbangan-pertimbangan yang lain.
Intinya mereka menyangkal kebenaran itu.

Kafara artinya mengubur.

Dan secara figuratif, artinya adalah menyangkal, atau tidak tahu berterima kasih (to be ungrateful).

Nah, sekarang hayuk kita pikirkan ini.

Jika seseorang tidak pernah mengenal Islam.
Belum ada yang memperkenalkan Islam kepadanya.
Apa yang dia sangkal?

Itu pertanyaannya.

Lalu, jika dia belum pernah mengenal Islam, apa yang dia sembunyikan? Apa yang dia kubur?

Yang kafir tadi tahu tentang kebenaran Islam, dan menyembunyikannya dalam dirinya.
Tapi yang kita bahas ini, mereka bahkan tidak tahu tentang Islam, apa yang mereka sembunyikan? Apa yang mereka kubur?

Kepada mereka belum pernah ditunjukkan, kepada siapa atau kenapa mereka harus bersyukur. Adilkah jika kita sebut mereka, kita kasih mereka label, tidak tahu berterima kasih?

Di awal surah Al-Baqarah sebenarnya Allah sudah menjelaskan konsep ini.
Di surah Al-Kafirun, istilah yang digunakan adalah al-kaafiruun.
Di surah Al-Baqarah, istilah yang digunakan adalah alladziina kafaruu (QS 2:6).

Innalladziina kafaruu sawaa-un ‘alayhim a-andzartahum am lam tundzirhum laa yu’minuun.

Mereka yang tidak beriman, ga masalah, kamu ingatkan mereka atau tidak, mereka tidak akan beriman.

Jaminan Allah untuk orang kafir, di Alquran adalah, apapun yang terjadi (no matter what), bahkan Rasulullah saw sendiri, mencoba mengundang mereka, mencoba melunakkan hati mereka untuk mendekat ke Islam, apa yang terjadi? Mereka tidak mau beriman.

Apakah ayat ini bicara tentang semua non muslim?
Istilah kafir dalam Alquran adalah spesifik.
Berlaku untuk kelompok orang tertentu.

Ustadz Nouman bahkan berpendapat bahwa istilah kafir ini berlaku hanya untuk mereka yang terang-terangan menolak dakwah Rasulullah saw. Saat dulu Rasulullah hadir di tengah-tengah mereka. Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang telah dipelajari oleh Ustadz Nouman.

Jadi tidak semua orang yang tidak beriman, akan seperti itu.

Diulangi yach, yang tidak beriman, dan masuk kategori sekelompok tertentu yang menolak dakwah Rasulullah, mereka itu lah yang kafir.

Nah, yang tidak beriman, selain mereka, berarti masuk surga?
Ga juga.

Hehehe. Ada orang-orang yang buru-buru ambil kesimpulan (jump to conclusion) bahwa dengan Ustadz Nouman bilang kalo yang di ayat itu adalah sekelompok tertentu dari orang yang tidak beriman, maka orang yang tidak beriman selain itu, masuk surga.

Ustadz tidak bilang begitu.

Yang Ustadz maksudkan adalah, menggunakan kata kafir untuk semua orang yang tidak beriman, adalah ofensif. Karena Alquran lebih sensitif lagi akan hal itu, terhadap mereka yang belum beriman. Kafir adalah istilah yang paling buruk.

“Oh, saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa mereka itu orang-orang yang buruk. Mereka mungkin orang baik-baik. Tapi yang jelas mereka itu kafir.”

Wah wah wah. Boleh tunjukkan di Alquran, di bagian mana Alquran mengatakan bahwa kafir itu tidak buruk? Tunjukkan satuuu saja ayat di Alquran, yang bilang bahwa kafir itu oke. Ga ada itu.

Punya tetangga yang beda keyakinan? “Dia orangnya baik kok. Tapi masih kafir dianya.”
Oh ya? Di Alquran, kuffar itu, Allah sangat kecewa sama mereka. Sangat keras kebencian-Nya.

Dan kita harus belajar membedakan label kafir dengan perilaku kufr. Itu dua hal yang berbeda.

Kafir itu identifikasinya adalah orang yang mengingkari kebenaran luar dalam. Hatinya mengingkari. Mulutnya terang-terangan menyuarakan keingkaran.

Perilaku kufr adalah perilaku menentang kebenaran sampai di titik tertentu. Perilakunya tidak membuat dia serta-merta jadi kafir.

Sebuah perilaku tidak berterimakasih (an act of ungrateful) tidak serta-merta membuat pelakunya dicap sebagai orang yang tidak tahu berterimakasih (an ingrate).

Sebuah perilaku sabar tidak serta-merta membuat kita terkenal sebagai orang yang sabar.
Sebuah perilaku yang ramah tidak serta-merta membuat Anda terkenal sebagai orang yang ramah.

Apakah perilakunya baik atau buruk, tapi cuma satu kali, hanya sekali saja perilaku itu ditunjukkan oleh seseorang, itu tidak menentukan siapa diri orang itu sebenarnya.

Nah. Kadang-kadang Allah menyoroti perilaku kufr. Dan orang-orang yang disorot perilakunya ini tidak serta-merta diberi label kafir. Contohnya?

(bersambung)

Source:
Bayyinah BTV > A Deeper Look > Al-Kafirun

Resume oleh Heru Wibowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s