Resume Khutbah Jumat Ustaz Nouman Ali Khan di Masjid Telkom


Bismillah

بسم الله الرحمن الرحيم

Tulisan dari rekaman khutbah Jumat dari Ustadz Nouman Ali Khan di Masjid Telkom November 2019 lalu dan juga sebagian dari Buku Revive Your Heart nya beliau. Semoga bermanfaat.

Keteladanan Kepemimpinan Rasulullah (ﷺ) Dari Kisah Perang Uhud: Sunnah Yang Sangat Berat

Bapak Ibu mungkin pernah mendengar kisah Perang Uhud yang terjadi di zaman Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam?



Perang yang terjadi di Bukit Uhud, tak jauh dari kota Madinah, dimana dalam perang itu umat Islam kalah dari kaum kafir. Mungkin Bapak Ibu juga mengira penyebab kekalahannya adalah karena akibat pasukan pemanah yang turun dari gunung untuk mengambil harta rampasan perang, lalu kaum kafir kembali dan memenangkan perang? Begitu kan ya kira-kira yang kita dengar?

Bapak Ibu, tadabbur ayat 159 Surat Ali Imran ini benar-benar up close and deep inside kejadian di Uhud kala itu … Ayat ini turun setelah Perang Uhud selesai. Ada 60 ayat tentang perang Uhud di Surat ini, namun kali ini kita bahas 1 ayat saja secara mendalam, yang isinya adalah petunjuk الله kepada Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam dalam mensikapi turunnya pasukan pemanah dari bukit Uhud, padahal Rosulullah sudah peringatkan mereka 10-12 kali sebelumnya agar jangan turun. Ini adalah suatu kesalahan prosedur yang serius, … kira-kira bagaimana sikap Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam terhadap mereka?

Sungguh peristiwa dan kondisi yang sangat tidak mudah, oleh karena itu Allah menurunkan ayat ini sebagai petunjuk bagi Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam, bagaimana beliau harus bersikap. Memang semua isi Al-Qur’an itu adalah segala hal yang tidak bisa kita pikirkan. Ngga ada ayat tentang mendesain arsitektur rumah, bikin HP, atau menjahit baju misalnya. Karena hal-hal seperti itu bisa manusia bikin dan pikirin sendiri gimana caranya. Tapi Al-Qur’an, semua isinya adalah petunjuk bagi ketidaktahuan kita, bagi kegelapan yang kita alami, termasuk Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam dalam kasus ini, dalam menyikapi kesalahan fatal pasukan pemanah ini.

Surat Ali-Imran (3) Ayat 159

فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan pada Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam untuk:

  1. Bersikap lembut pada mereka! Bersikap l-e-m-b-u-t. Kata-katanya di sini pakai istilah lin dari kata layyin … itu adalah tahap kematangan buah kurma yang masih lembut dan sangat manis. الله perintahkan Nabi sollAllaahu ‘alaihi wasallam agar bersikap lin terhadap mereka. Jangan membuat mereka merasa tidak nyaman berada di dekatmu

Waduhhhhh… apa kita bisa ya seperti itu … Kalau ada bawahan kita, entah itu istri kita, anak kita, pembantu kita, pegawai kita bikin kesalahan yang sudah kita peringatkan sebelumnya, yang akibatnya fatal pula… apa yang akan kita katakan pada mereka? Ini bukan waktunya berlembut-lembut!

Perang Uhud ini serius lho parahnya, Bapak Ibu mau tahu separah apa?

Sudahlah kalah perang, pasukan banyak jadi korban, paman Nabi, Hamzah, dimutilasi oleh musuh yang kesumat dendam, tak terhitung sahabat yang syahid, materi rugi banyak, hanya gara-gara pasukan pemanah turun gunung padahal di awal Rosulullah sdh katakan jangan turun gunung apapun yang terjadi, meski kalian lihat sahabat kalian dimakan burung, jangan turun gunung karena jika kalian turun, mereka akan datang dari belakang kalian … sebenarnya sudah cukup jelas ya.. Tapi toh kejadian juga, mereka pemanah turun gunung, lalu Kholid bin Walid (yang waktu itu masih kafir dan jadi panglima nya Quraisy) setelah lari jauh kok ya pas melihat ke belakang, trus melihat pasukan pemanah turun … dia jadi ngeh, ooh di situ toh posisi pemanahnya… lalu memerintahkan pasukannya untuk bergerak ke belakang bukit dan mengepung kaum muslimin… habislah pasukan muslim yang jumlahnya hanya 1/3 pasukan kafir,…

Rosulullah kala itu juga sedang tidak dalam pengawalan yang cukup, hanya berenam saja di sekeliling Rosulullah… kebayang kan Bapak Ibu, kecewa berat dong pastinya, lalu setelah kejadian harus tetap bersikap lembut? Subhanallah, sungguh ini sunnah yang sangat berat. Kalau sekedar sunnah harus makan pakai tangan kanan, makan sambil duduk, masuk kamar mandi dengan kaki kiri, keluar kaki kanan, masuk masjid dengan kaki kanan, keluar kaki kiri.. mudah… kebayang nggak sunnah Rosulullah yang satu ini Bapak Ibu? Berat banget!!! Kalau kita di posisi beliau, pasti akan sangat marah,… kamu gimana sih, denger ngga sih apa yang saya bilang, kok masih dilakukan juga, kamu dihukum! Kurang lebih kata-kata itu yang akan keluar dari mulut kita kan? Ini waktunya menerapkan disiplin! Apalagi ini urusan perang!

Ternyata … tidak demikian sikap Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam setelah Allah perintahkan, “Bersikap lembutlah pada mereka” … linta la hum … Jangan sampai mereka merasa tidak nyaman berada di dekatmu. Subhanallah, tidak hanya kata-kata yang الله suruh jaga, tapi keseluruhan sikap. Bapak Ibu, kalau kita lagi marah, meski lisan belum keluar, tapi muka kita udah ngga enak dilihat kan pastinya. Itu saja Rosulullah dijaga الله agar tidak bersikap begitu!

Lembut dan tetap manis perintahnya. Jangan sampai mereka jadi jauh, jadi tidak nyaman dan lari darimu. Mungkin mereka masih akan datang untuk solat. Mungkin kau juga masih akan membacakan Al-Qur’an bagi mereka, mungkin semua akan tetap berjalan seperti biasa, tapi kalau sikap kamu pahit begitu, hati mereka padamu tidak akan sama lagi seperti dulu. Mereka mencintai kamu karena kamu berikan cintamu pada mereka. Kalau sekarang sikap kamu begitu, hati mereka akan tercerai berai ibarat vas pecah berkeping-keping, ngga bisa kembali utuh lagi perasaan cinta mereka terhadapmu.

Para sahabat pemanah memang tetap datang untuk solat Jumat di Masjid Nabawi keesokan harinya setelah perang berakhir. Perang berakhir karena musuh mengira Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam sudah wafat. Mereka melihat Mus’ab bin Umair, yang wajahnya memang mirip Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam, beliau kala itu mengenakan baju perangnya Rosulullah, juga membawa bendera, terbunuh. Saat khutbah solat Jumat itu, sahabat ketar ketir juga akan dimarahin dan disalahkan oleh Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam, atau akan turun ayat dari Allah tentang mereka. Tapi saat khutbah Jumat itu, meski masih terluka, Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam tetap bersikap lembut terhadap mereka. Maa syaa Allah…

Tidak cukup sampai di situ… perintah الله berikutnya Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam adalah:

  1. Doakan mereka, mintakan ampun untuk mereka kala kau sendiri… Astaghfirullah.. Bapak Ibu, kita kalau lagi sendiri, mungkin banyakan doa buat kita sendiri ya? Minimal diri dan orang-orang yang kita sayang aja. Pernah terpikir nggak untuk mendoakan orang-orang yang bikin kita kesel?

Allah juga secara khusus menyebutkan “kala kau sendiri”… karena, kalau lagi kesel sama orang, di muka umum mungkin kita bisa aja mendoakan orang itu dengan kata-kata “Semoga الله mengampuni mu”. Bapak Ibu, meski itu doa, tapi kalau diucapkan di depan banyak orang, itu bikin malu! Allah benar-benar menjaga Rosulullah agar bersikap yang terbaik. Haduh.. haduhhh… yaa Allah, mampukan kami bersikap seperti beliau.

Perintah berikutnya:

  1. “Maafkan mereka.” Istilah yang dipakai adalah afw … memaafkan dan melupakan, menganggap tidak ada! Maaf tingkat tinggi yang harus diberikan. Maaf yang benar-benar melupakan. Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam benar-benar melakukan petunjuk الله. Coba kalau kita: “inget ngga kamu, baru kemarin saya maafin, udah bikin ulah lagi…, baru Romadhon kemarin saya maafin lho padahal, meski hati tu rasanya keseelll banget… nggak gitu. Afw itu benar-benar melepaskan. You let it go…

    Padahal Bapak Ibu kebayang nggak, akibat perbuatan mereka, Paman yang Rosulullah sangat sayang padanya, Hamzah, mati syahid dan dimakan jantungnya oleh musuh, Mus’ab bin Umair mati syahid, dan ratusan sahabat syahid. الله perintahkan maafkan dan lupakan kesalahan mereka! Panah menembus pipi Rosulullah hingga giginya patah. Pipi satunya lagi dihantam batu besar. Rosulullah berdarah-darah dari pipi kanan dan kirinya! A’isyah sampai ngadon tanah dan daun-daunan obat dibikin pasta seperti lem dan menempelkannya di pipi Rosulullah karena darahnya nggak berhenti keluar.

    Dalam keadaan seperti itulah Rosulullah berkhutbah Jumat di depan para sahabat, termasuk pasukan pemanah itu dan disuruh الله untuk memaafkan mereka! Coba kalau kita, mungkin kata-kata yang keluar adalah “Liat nih pipi gue luka gara-gara elo!”

Satu lagi, tak kalah berattttt… Allah juga perintahkan

  1. “Tetaplah meminta pendapat mereka”… Kalau الله suruh bermusyawarah kan berarti tukar pendapat ya, duh aduhhhhh… kita mah boro-boro dehhhh… yang ada mungkin “Stop, diem, ngga usah ngomong lagi. Udah bikin salah masih berani ngomong” … atau “Not even a word, shut up”. … intinya kita ngga mau denger lagi dari mereka. Tapi tidak dengan sikap Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam pasca perang Uhud ini. الله perintahkan “tanya dan ambil pendapat mereka”. Subhanallah, mereka itu kan udah bikin salah besar ya… Meski sudah berbuat kesalahan besar, mereka tetap dijaga perasaannya bahwa mereka masih seperti yang dulu, masih manusia berharga, masih harus kau dengar pendapatnya.

    Yaa Allah.. padahal Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam kan kalau mau bertindak, segala arah langkahnya cukup minta petunjuk الله saja. Tapi الله perintahkan “Minta pendapat mereka”… tobaaatttttt dehhh…. Kalau kita lagi evaluasi hasil perang, mungkin yang pertama kita tanya: “siapa yang kemaren turun gunung, angkat tangan… trus kita inget-inget banget orangnya mungkin ya. Atau orang lain jadi tahu juga. Oh si anu toh orangnya yang nggak nurut perintah Rosulullah … enggak, Rosulullah ngga gitu. Ngga ada acara suruh angkat tangan segala. Rosulullah udah tahu orangnya. Ngga ada perlunya suruh angkat tangan. Itu hanya akan mempermalukan mereka di muka umum, trus akan membuat mereka merasa tidak lagi berharga di mata masyarakat karena kesalahan mereka. Rosulullah diharapkan tetap menjaga harkat dan martabat mereka sebagai sahabat.

Ya, mereka, para pemanah itu, semuanya sahabat Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam. Kenapa ya udah jelas salah kok nggak diperlakukan tegas. Minimal dapat teguran lah… Bapak Ibu, inilah alasan mengapa الله perintahkan untuk menjaga perasaan mereka meski mereka bikin salah.

Ya betul mereka bikin salah, salah yang sangaaaat besar. Tapi lihat juga, mereka dari awal ngga punya niat buruk, mereka dari awal ingin ikut Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Uhud. Perang yang direncanakan dalam 2 jam, sementara pasukan Quraisy merencanakannya dalam 1 tahun.

Saat solat Jumat perang diumumkan, dan sebelum Ashar pasukan sudah siap berangkat. Mereka sangat bersemangat minta ikut, bahkan banyak di antara mereka ada yang usia nya masih 10-15 tahun. Mereka bergabung dalam 1000 personil yang berangkat dari Madinah, padahal mereka tahu pasukan Quraisy berjumlah 3000 orang, tapi mereka tak gentar, padahal resiko matinya tinggi. Mereka tidak termasuk dalam golongan yang 300 orang munafik yang pulang kembali ke Madinah sehingga pasukan tinggal 700 orang, lawan 3000.

Mereka mendaki gunung seterjal Uhud untuk sampai di posisi mereka yang ditentukan oleh Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam. Itu pun berresiko. Mereka sangat ahli memanah dan terbukti panahan mereka jitu dan pasukan muslim sempat menang sehingga musuh lari tunggang langgang. Mereka mematuhi perintah Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam. Itulah karakter para pemanah Uhud itu. Mereka ikut berperang karena ingin menyertai Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam, karena iman mereka dan komitmen mereka terhadap agama ini… mereka begitu mencintai Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam.

Yang terjadi saat mereka turun gunung itu bukanlah pembangkangan terhadap komando Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam. Yang terjadi adalah: perbedaan pendapat. Ya, simply hanya perbedaan pendapat di kalangan sahabat pemanah. Mereka menaati perintah Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam sejak awal, tapi begitu musuh lari tunggang langgang, dikisahkan sampai musuh meninggalkan para wanitanya di belakang, sampai pasukan muslim dapat melihat telapak kaki wanita-wanita yang lari ditinggal lari oleh prianya yang lebih cepat larinya! Ini adalah murni perbedaan pendapat.

40 dari 50 pemanah mengatakan perang ini sudah selesai! Musuh sudah lari, mari kita selamatkan teman-teman kita di bawah, juga mengamankan harta kaum musyrikin untuk dibawa ke Madinah. Tidak ada niat mereka mengambil harta itu untuk mereka sendiri. Itu maksud mereka. Mereka mungkin mengecewakan, tapi coba bandingkan dengan kesalahan-kesalahan orang-orang berikut ini:

Orang yang ngga mau ikut perang, nggak pergi meninggalkan Madinah sejak awal? Banyak. Orang munafik yang meninggalkan medan perang untuk merusak strategi perang Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam? Banyak ada 300. Mereka semua juga salah! Kita semua punya salah! Pemanah juga salah, tapi الله tuntun sikap Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam pada mereka… nggak sama. Terhadap pemanah ini berlaku perintah-perintah الله di atas, linta la hum… lembut dan pemaaf terhadap mereka, … bersikap keras hanya terhadap yang jelas-jelas musyrikiin, kaafiriin, dan munaafiqiin saja.

Maa syaa Allah… demikian Bapak Ibu, sunnah yang sangat ekstrem sulitnya tapi mudah-mudahan kita dapat meneladaninya dalam kehidupan kita… Dalam kepemimpinan kita… kadang untuk kerugian yang ngga seberapa aja kita bisa marah-marah ngga keruan pada orang yang kita cintai dan mencintai kita, pada bawahan yang loyal sama kita, nggak pantes kita marah-marah sama mereka… makanya contoh perang Uhud ini, dimana kerugian perang Uhud sungguh extreme besar, dan peristiwa menata hatinya Rosulullah sollAllaahu ‘alaihi wasallam benar-benar extremely difficult…. Semoga, untuk kehidupan kita sehari-hari dan selanjutnya, yang in syaa Allah nggak akan seberat kasus Uhud, teladan ini bisa kita ikuti. Lagipula kata الله : menang dan kalah perang itu ngga ada urusannya sama perbuatan mereka, ini sudah menjadi KetentuanKu. Subhanallah.

Demikian tadabbur yang bikin saya banyak menahan nafas saat mendengar dan menulisnya. Semoga الله ridho pada kita semua.

آميــــــــــــــــــــن يَا رَبَّ العَالَمِينْ

Ditulis oleh Miranti Widjoko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s